Disclaimer OK! Komik Naruto punya Tuan Masashi Kishimoto, tapi Naruto's ass punya Sasuke \\^_^/

Warnings yaoi ;3 OOC.

Setiap scene berbeda-beda bisa Naruto POV, Sasuke POV, dan Sai POV. Dan ada sedikit Lime.

Special thanks to Gretta, Poci-san, and everyone who love this story, yang menyemagati –dan mengancam^^- saya untuk manggerakkan tangan saya yang malas ini untuk mengetik. Walaupun butuh waktu yang lama –lagi-lagi sangat lama, benar-benar lama- untuk menyelesaikan ini. Thank you dears!

xXx

Can You Love Me Again?

By CaLL me rEd-Ew

xXx

Love, you know I always love you

So, believe me

"…Kau tak akan rugi dengan tawaranku…" kataku pelan. Benarkah cara ini, cara yang terakhir? Aku memegang tangan Naruto yang terus memegang bajuku. Aku menggenggamnya dengan kuat.

"… Baiklah, berapa bayaranku?"

Ini demi kamu Naruto, demi kita. Kau akan mengerti bukan? Kau akan memaafkanku kan?

Only you

Its love, isn't it?

"Ada apa, Sasuke?" Tanya Naruto kepadaku. Aku melihat dirinya yang kini menatap diriku.

"Tidak ada apa-apa," jawabku. Apakah perbuatanku ini benar? Apakah meminta orang lain menjadi diriku itu tindakan yang paling baik? Tapi, apakah bersamamu adalah pilihan yang tepat?

"Naruto, kita akan pindah rumah. Kita akan pergi kerumah kita yang berada di Suna" kataku pelan.

Mata biru Naruto menatapku. Mata itu, mata yang dulu membuatku jatuh cinta kepadanya.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

"Jika kita tetap berada disini kita akan dicari oleh ayahmu." Naruto terdiam mendengar perkataanku.

"Baiklah, kemanapun kamu mengajakku pergi, aku akan selalu berada disisimu," jawabnya. Naruto merangkulkan tangannya di leherku. Kami berpelukan.

Apakah dosa jika menikmati sentuhan ini? Kenapa hati ini tidak kembali seperti dulu? Cinta, aku mencintainya? Aku tidak tahu. Aku hanya tak ingin kehilangan cintanya. Berarti aku mencintainya bukan?

Aku balas memeluk dirinya. Aku peluk dengan erat.

"Sasuke, terima kasih telah kembali kepadaku…." Aku hanya mengeratkan pelukanku. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas perkataannya.

"Tidurlah…" Aku menyuruhnya untuk tidur, Naruto pasti sangat lelah hari ini. Aku memposisikan Naruto agar nyaman di tempat duduknya. Aku melihat matanya menutup dengan perlahan.

"Maafkan aku, Naruto." Bisikku pelan, sangat pelan hingga aku tak yakin apakah aku mengucapkannya atau hanya aku ucapkan dalam hati.

Aku menjalankan mobilku, ke tempat yang telah aku dan Sai setujui untuk bertemu. Tempat dimana aku akan menjalankan semua kebohongan yang tak termaafkan ini.

Love, it's my sin

Forgive me

Ting Tong

Bel rumah berbunyi, aku berjalan ke arah pintu.

"Dimana, laki-laki lumpuh itu?" Aku mendapati Sai ada di depan pintu dengan senyuman palsunya.

"Hati-hati jika berbicara," peringatku. Hal ini hanya membuat senyuman palsunya lebih lebar lagi.

"Kalau begitu, dimana laki-laki bodoh yang mau saja ditipu oleh suaminya sendiri?" tanyanya.

Aku hanya diam. Tanpa seizinku Sai langsung saja masuk ke dalam rumah. Dia berjalan mendekati meja yang berada diruang tamu itu, dia mengambil kertas dan pulpen. Tampaknya dia menulis sesuatu disana. Setelah selesai menulis dia memberikan kertas itu kepadaku. Aku melihat kertas itu yang hanya tertulis angka saja.

"Itu nomor rekeningku, tolong langsung kirim hari ini juga dengan harga yang telah disepakati tadi," katanya.

"Dia sedang tidur di kamar utama. Jangan kesana dulu, biarkan dia istirahat," kataku kepada Sai. "…lakukan tugasmu dengan baik," tambahku. Suaraku bergetir, aku merasa sangat bersalah. Aku takut ini akan membuat dia lebih terluka. Tapi jika aku lakukan ini, aku masih bisa bersamanya. Aku bisa bersamanya selamanya. Aku masih bisa melihat cintanya untukku.

"Kalau begitu pergilah, aku akan langsung melakukan tugasku hari ini juga. Kau lebih baik pulang saja ke tempat istri dan anakmu," kata Sai. Senyuman itu, rasanya aku ingin menghapusnya dari wajahnya. Senyuman yang sangat dingin, senyuman yang penuh arti.

Aku terdiam, aku tak yakin kenapa aku melakukan ini, aku berjalan pelan menuju kamar utama, dimana Naruto sedang tertidur. Aku membuka pintu dengan sangat pelan, aku tak ingin memnbangunkannya. Aku melihat kearah Naruto yang tertidur itu. Aku mendekatinya dan mencium dahinya. "…I am sorry, my love," bisikku di telinga Naruto.

Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, aku tak tahu kenapa air mata ini mengalir, kenapa hatiku sakit, dan kenapa aku ingin berada disisinya? Melihat wajah malaikatnya, melihat senyumannya, melihat tawanya, dan melihat cintanya kepadaku.

Aku berbalik dan melihat Sai telah berada di pintu, melihat kami. Aku berjalan mendekatinya.

"Jangan macam-macam terhadapnya," peringatku.

"Hai, apa kau sadar? Aku ini menjadi dirimu. Aku bebas berbuat apa saja," jelasnya sambil tersenyum, senyuman yang penuh dengan maksud jahat.

"Don't. You. Dare. Do. It." Peringatku lagi. Aku menggenggam kerah bajunya.

"Hahaha, kau memang sangat lucu Sasuke. Aku tak tertarik dengan orang lumpuh, aku tak mau lelah sendiri jika sedang bercinta, you know what I mean," bisiknya di telingaku dan melepaskan cengkramanku di bajunya . Dan ia berjalan keluar.

Sebelum aku menutup pintu kamar, aku melihat ke arahnya untuk yang terakhir kali dan berjalan pergi.

Love

You are so beautiful

Aku melihat Sasuke pergi, sekarang hanya tinggal aku dan si lumpuh itu saja di rumah ini. Aku berjalan menuju dapur dan melihat isi kulkas. Hmm, penuh, untunglah aku jadi tak harus pergi membeli makanan di swalayan terdekat. Aku mengambil sebuah apel yang berwarna merah marun itu dan memakannya.

Aku berjalan menuju ruang tengah dimana tas barang-barangku berada. Aku mengambil buku sketsa dan pensil. Aku mulai menggambar apel yang telah aku gigit itu.

Tak sempurna.

Sangat indah.

The art of love

So pathetic

Aku mendengar suara, sepertinya Naruto telah bangun. Aku beranjak dari posisiku dan berjalan menuju kamar utama. Aku membuka pintu kamar dan melihat Sosok Naruto yang sepertinya mencari Sasuke. Bodoh, dia tak tahu jika suaminya membohongi dirinya.

"Sasuke…." Panggilnya. Dia seperti ingin menangis, dasar cengeng. Pantas saja Sasuke ingin meninggalkannya.

"Sasuke….. Sasuke…. Kamu dimana?" Aku mendekati Naruto dan memegang tangannya dengan tanganku.

"…aku disini…" jawabku seadanya. Aku sekarang menjadi Sasuke. Sasuke Uchiha, yang mempunyai seorang suami yang lumpuh dan buta, seorang Sasuke yang membohongi pasangannya sendiri untuk bersama selingkuhannya. Haha, aku tertawa. Hidup ini sangat menarik. Membuatku ingin membuat lukisan tentang ini semua. Judulnya pun telah aku pikirkan.

The Truth.

Aku bisa membayangkan lukisanku nanti seperti apa, penuh arti kebohongan. Kebohongan yang disalah artikan menjadi cinta.

Jadi, cinta yang dipenuhi dengan kebohongan. Perfect.

Aku tersadarkan dari pikiranku oleh Naruto yang merangkulkan tangannya di leherku, dan memelukku.

Hei, aku tidak macam-macam, dia yang duluan memelukku, jadi aku tinggal menikmati saja tubuh ini. Aku bisa mencium aroma citrus dari tubuhnya. Tak kusangka ternyata dia memiliki aroma yang aku sukai.

Semakin menarik.

Aku jadi ingin sedikit bermain dengannya.

"Aku bermimpi buruk, bermimpi jika kamu meninggalkanku Sasuke. Meninggalkan aku sendirian…" katanya kepadaku, pelukan Naruto semakin erat. Aku bisa merasakan jika badannya gemetar.

"Tenanglah, aku ada disini Naruto…" tanpa aku sadari aku membalas pelukannya.

Your love so perfect

Would you mind give me your love

Aku melihat sosok di depanku yang telah tertidur lagi dengan pulasnya. Hari diluar tak lagi menampakkan mataharinya, sang bulan pun menampakkan diri. Aku jadi ingin melukis pemandangan ini.

Sepertinya dia telah tenang. Mau tak mau aku berada disampingnya, karena dia tak mau melepas genggaman tangannya dengan tanganku.

Aku tak tahu kenapa aku terima begitu saja tawaran ini. Tapi angka yang ditawarkan oleh Uchiha bersaudara, ya benar Itachi dan Sasuke, membuatku tak bisa menolak semua ini. Sasuke tak tahu jika kakaknya, Itachi, juga membayarku untuk melakukan semua ini. Karena dari awal ini semua adalah ide Itachi. Aku hanyalah alat untuk bisa melakukannya. Tapi tak masalah, menjaga orang ini sepertinya tak begitu merepotkan.

Sasuke akan kesini setiap akhir minggu dan membawakan obat dan perlengkapan rumah untuk kami. Dan aku hanya menikmatinya saja. Orang kaya memang serakah, kenapa dia tak menceraikan saja Naruto? Bukankah Sasuke telah jatuh cinta pada anak keluarga Hyuuga itu? Sudah memiliki anak dengannya lagi. Untuk apa lagi memiliki Naruto disampingnya? Bukan, bukan disampingnya tapi disamping orang yang berpura-pura menjadi dirinya.

Aku melepaskan dengan perlahan tangan Naruto agar dia tidak terbangun. Baru saja aku beranjak pergi, Naruto memanggil namanya.

"Sasuke…. Jangan pergi….." Aku melihat air matanya menetes. Sepertinya dia bermimpi buruk lagi.

Dasar bodoh, untung kau tak bisa melihat, melihat kenyataan yang sangat pahit ini. Ini bukan urusanku untuk ikut campur, tugasku hanya bersikap seolah-olah menjadi Sasuke.

Aku pun beranjak keluar untuk menyelesaikan lukisan apel ku yang tertunda.

Lukisan apel yang tak akan pernah sempurna itu.

You make me to betray him

I can betray his love

Ting Tong

Bel rumah berbunyi, aku melihat jam yang menunjukkan pukul 7.00 pagi itu, siapa yang datang ke tempat ini? Yang tahu tempat ini hanya orang yang mengetahui kebohongan ini.

Aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Disana telah berdiri Itachi. Aku memberikan senyumanku yang biasa aku lakukan.

"Kau tak usah memberikanku senyuman palsu itu, Sai," katanya kepadaku. Dia mendekatkan tubuhnya kepada tubuhku, mengeliminasi jarak diantara kami. Tangannya memegang wajahku. Itachi menciumku, tepat di bibir. Aku membalas ciumannya. Ini hanya sekedar ciuman, tak lebih.

"Tapi dari buku yang aku baca, dikatakan bahwa senyuman bisa membuat kita lebih akrab dengan orang lain," kataku sambil melepas ciuman ini dan membuka pintu lebih lebar agar dia bisa masuk ke dalam.

"Hn, tapi tidak dengan senyuman palsumu itu. Itu membuat orang muak," katanya pelan.

"Hahaha, kalau muak untuk apa datang kemari? Atau kamu ingin bercinta?" bisikku sambil menggigit telinganya.

"You are wrong, not make love, but fuck."

"Oh iya, maaf aku mencari kata yang sopan. Itu yang dikatakan buku yang aku baca."

"Kalau begitu lebih baik kau tak membaca buku itu lagi. Karna isi buku itu semuanya salah." Katanya pelan tapi tajam.

"Naruto dimana?" tanyanya kepadaku.

"Sedang tidur, setelah meminum obat dia pasti tertidur. Tapi bagus begitu, karna aku tak harus repot mengurusnya," jelasku.

"Baguslah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," katanya lagi.

"Apa itu? Membuatku penasaran saja sampai membuatmu memilih datang kemari dan tidak meneleponku?" Kami berjalan menuju ruang tamu.

"Ini tentang Naruto…." dia terdiam sebelum melanjutkan "…bisakah kamu 'menyentuh' Naruto pada saat Sasuke datang kemari?"

"Wah, ini tak seperti perjanjian yang kita buat Itachi-san…" jawabku sambil tersenyum.

"Aku akan menaikkan bayaranmu sepuluh kali lipat."

"Semakin menggiurkan, tapi aku punya hak untuk bertanya kan? Kenapa kamu menyuruhku melakukan itu? Bukannya itu akan membuat Sasuke semakin cemburu?" tanyaku.

"Lakukan saja perintahku."

"Baiklah-baiklah. Toh aku tak rugi, aku malah dapat tubuh gratis," senyumanku semakin lebar. Aku tak rugi, aku sama sekali tak rugi. Aku tak merasakan apa-apa pada Naruto, aku tak merasa kasihan padanya. Aku pasti bisa melakukannya, kan?

"Aku tau sifatmu Sai, aku kesini ingin kau tau jika ini bukan main-main. Kau taukan jika tak menuruti printahku apa yang akan terjadi pada kakak kesayanganmu itu," katanya pelan. Tapi langsung tepat ke intinya.

"Tenang saja…" kataku pelan sambil senyum penuh arti. Aku mengepalkan tanganku. Sial!

Dia menggunakan cara ini sepertinya. Baiklah jangan bermain-main denganku.

"Jika terjadi sesuatu pada kakakku, maka kuanggap semua perjanjian ini batal. Dan kau tau kan apa akibatnya?" jelasku. Kini aku tak tersenyum, aku menatap lurus mata sang Uchiha.

Dan sang Uchiha itu hanya menyeringai sambil keluar pergi.

Dia ingin bermain? Ayo bermain!

I am afraid

If I will love you

"Naruto… ayo bangun. Sudah siang," aku membangunkan Naruto yang sedang tertidur pulas.

"Sasuke…." Dia membuka matanya perlahan-lahan. Matanya yang berwarna biru langit itu membuatku terdiam. Warna yang sangat cantik. Aku tak menyadarinya kemarin, karena kemarin mata biru itu sedang menangis, menunjukkan mata yang kesepian. Tapi kini, terlihat sangat indah.

Dia tersenyum padaku, dia melingkarkan tangannya dileherku dan memelukku.

"Aku bahagia Sasuke…" katanya kepadaku. Bodoh, dasar bodoh. Sudah dikhianati seperti ini masih saja mencintai Sasuke.

Aku melepaskan pelukannya, " Ayo makan dulu, kamu belum makan kan?"

"Baiklah.." dia memberikan senyumannya. Kenapa hatiku berdetak kencang melihat senyumannya? Ada yang salah, ada yang salah!

"Sasuke…"

Harusnya tak begini! Kenapa tak berhenti juga?

"Sasuke…" aku merasakan tangannya menyentuh mukaku.

"Wajahmu hangat, suaramu juga agak berbeda. Apakah kamu sakit Sasuke?" tanyanya. Dia mendekatkan dahinya ke dahiku. Ingin mengecek panasku ku kira.

"Aku tidak sakit!" aku mendorongnya menjauh dariku.

"Aduh…" rintihnya. Aku mendorongnya terlalu keras hingga dia merasa kesakitan.

"Maafkan aku Naruto…" aku terdiam, "… aku tak ingin membuatmu tertular…" dalihku.

"Kau ini…" Naruto memberikan senyumannya lagi.

Deg!

Tolong jangan tersenyum, jangan memberikanku senyuman itu! Aku tak tahu kenapa jantungku berdebar dengan kencangnya. Aku mengalihkan pandanganku.

Ini tak benar! Aku segera beranjak dari kamar Naruto menuju keluar. Aku harus melepaskan emosiku ini, aku harus melukis agar perasaanku menjadi tenang kembali.

Aku meninggalkan Naruto sendirian yang memanggil namaku, bukan, bukan namaku, tetapi nama Sasuke yang dia panggil.

Love, you make me happy

If you are there with me

"Naruto… ayo bangun. Sudah siang," ada yang memanggil-manggil namaku. Aku membuka mataku perlahan-lahan, hanya kegelapan yang tampak, tak ada bedanya dengan menutup mata atau membukanya.

"Sasuke…." Kataku pelan, ini seperti suara Sasuke. Sasuke benar-benar berada disampingku. Dia benar-benar memilihku, memilih untuk berada disampingku.

"Aku bahagia Sasuke…" kataku lagi kepadanya. Sangat bahagia, hingga rasanya semua yang terjadi selama ini terasa seperti mimpi. Mimpi yang sangat menakutkan yang membuat Sasuke meninggalkanku untuk Hinata dan anaknya.

Aku memeluk Sasuke dengan erat, tapi dia melepaskan pelukanku.

" Ayo makan dulu, kamu belum makan kan?" katanya kepadaku.

"Baiklah.." aku memberikan senyumanku. Aku mencoba meraih dirinya.

"Sasuke…" panggilku, tapi tak dijawab.

"Sasuke…" aku memegang tangannya dan aku mencoba meraih wajahnya.

"Wajahmu hangat, suaramu juga agak berbeda. Apakah kamu sakit Sasuke?" tanyaku. Aku mendekatkan dahiku dengan dahinya. Aku ingin merasakan panas badannya.

Tapi Sasuke mendorongku menjauh darinya, "aku tidak sakit!" teriaknya.

"Aduh…" aku merintih, Sasuke mendorongku sedikit agak keras.

"Maafkan aku Naruto…" katanya pelan.

"… Aku tak ingin membuatmu tertular…" aneh. Sangat aneh, sikap Sasuke tidak seperti biasanya. Sangat berbeda! Tapi apa karena dia sakit? Makanya dia tak ingin dekat-dekat denganku? Apa begitu?

"Kau ini…" aku memberikan senyumanku lagi. Mungkin dengan senyumanku dia bisa sembuh?

Aku merasakan dia beranjak pergi.

"Sasuke?" tak ada jawaban.

"Sasuke?" tetap tak ada jawaban.

Tiba-tiba aku merasa sendiri. Takut. Sasuke dimana?

"Sasuke!" jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku sendiri. Kamu dimana? Apakah kamu sudah tak ingin bersamaku lagi? Apakah kamu menyesalinya bersamaku?

"Sasuke!" panggilku. Aku menjadi panik. Aku mencoba menggerakkan badanku. aku menggapai apa saja yang bisa aku jadikan sebagai peganganku.

PRANG!

Aku terjatuh, piring makanan yang Sasuke bawakan untukku ikut terjatuh dan pecah.

"Sasuke! Kamu dimana?" aku sendirian lagi, Sasuke yang telah berjanji akan bersamaku, kini tak ada disampingku. Air mataku mulai terbentuk dan akhirnya menetes dengan pelan.

Aku merasakan diriku diangkat oleh seseorang.

"Sasuke?"

"Aku disini… Lihat kamu jadi kotor begini," kata Sasuke. Ia meletakkanku ke atas tempat tidur. Dan sepertinya dia merapikan kekacauan yang aku buat barusan tadi.

"Kamu kemana saja? Aku kira kamu pergi meninggalkan aku lagi…" air mataku menetes lagi. Sekarang aku jadi gampang menangis, takut dia akan meninggalkanku lagi, takut semua ini hanyalah mimpi. Mimpi jika dia memilihku.

"Sudahlah jangan menangis, aku sudah berjanji kan akan selalu disisimu?" kata Sasuke untuk menenangkanku. Dia mencium pipiku yang telah basah oleh air mata, naik ke atas hingga ke pelupuk mataku.

"Jangan menangis lagi…" bisiknya pelan. Ciuman di pelupuk mataku membuat aku geli, dan membuatku tersenyum.

"Jangan tinggalkan aku lagi ya, bilang jika ingin pergi. Jangan tiba-tiba menghilang begitu saja."

"Maafkan aku, tidak akan begitu lagi. Tapi bajumu kotor, ayo kita bersihkan dirimu, setelah itu kita pergi makan. Ok?" katanya sambil mengangkatku.

Aku hanya tersenyum dan merangkulkan tanganku di lehernya sambil dia mengangkatku ke kamar mandi.

Dia mendudukkan aku di pinggir bath tub dan membuka bajuku. Aku hanya menikmati saja sentuhan-sentuhan kecilnya. Jantungku berdegup dengan kencangnya. Sentuhan ini sudah lama tidak aku rasakan. Satu persatu dia membuka kancing baju tidurku. Hingga sampai dikancing terakhir. Aku mendengar suara kran air dibuka, suara air yang mengalir ini membuat wajahku menjadi merah. Mungkin merah merona, seperti seorang gadis yang ditatap oleh sang pacar pada saat akan bercinta.

Aku merasakan tangan Sasuke membuka celanaku dan meninggalkanku dengan boxer yang ku pakai saja. Kini boxer yang ku pakaipun ikut di tanggalkan. Refleks aku langsung menutup 'barang'ku ini.

"Haha, apa yang kamu lakukan? Kamu bersikap seperti aku tak pernah melihatnya saja." Katanya sambil tertawa.

"Aku malu…" jawabku pelan. Aku menundukkan kepalaku ini. Entah mengapa aku merasa malu. Dia mengangkat badanku, aku merasakan air mulai membasahi tubuhku, air yang cukup hangat ini, membuat tubuhku nyaman menikmatinya.

Lalu dia menaruhku diatas tubuhnya. Di dalam bath tub yang cukup besar ini, aku duduk diatas pangkuannya. Aku merasakan Sasuke tidak memakai apa-apa. Sama sepertiku dia juga membuka bajunya. Semuanya.

"Aku kira, hanya aku yang perlu mandi, Sasuke…" kataku pelan. Tangan Sasuke mengusap-usap dadaku dengan spons mandi. Aroma sabun citrus tercium oleh hidungku, Sasuke memang tahu jika aku sangat menyukai wangi buah ini.

"Bajuku ikut kotor karena mengangkatmu tadi…" katanya pelan tepat dibelakang telingaku.

"Oh…" anggukku. Aku membiarkan Sasuke membersihkan setiap tubuhku. Setiap sela tubuhku.

Sasuke mencium leher jenjangku sambil membersihkan tubuhku. Dia membersihkan tubuhku dengan sangat pelan dan gerakkan yang penuh sensual menurutku.

Gerakan tangan Sasuke yang mengusap pelan, membuatku kegelian.

"Hentikan Sasuke, kau membuatku geli…" walaupun aku mengucapkan kalimat itu, tapi aku tak melakukan apa-apa untuk menghentikan gerakan tangannya maupun ciumannya dileherku. Jujur, aku menikmati semua ini.

Tangan Sasuke kini telah sampai di selangkanganku, aku mendesah saat dia megusap pelan daerah selangkanganku.

"Ah…. Hm…" aku menggenggam kuat pinggiran bath tub, untuk menahan sensasi yang sedang aku rasakan saat ini.

Tiba-tiba Sasuke menghentikan semua kegiatan yang dia lakukan. Dan mengangkatku berdiri keluar dari bath tub.

"Kau sudah bersih sekarang Naruto…" katanya pelan, sambil mengelapku.

"Loh?" kenapa dia berhenti? Aku bisa merasakan jika dia sekarang sedang menyeringai.

"Wah, sepertinya ada yang tidak puas disini…" bisiknya di telingaku sambil tangannya memegang 'barang'ku yang sudah menegang dari tadi ini.

"Temeeeeee!" teriakku. Dia sengaja melakukannya, kenapa aku tak sadar dari pertama. Dasar, teme!

You are my love

You are my sin

Aku menutup pintu kamar utama. Naruto telah selesai mandi, dan sudah ku beri makan. Dia juga sudah meminum obat dan sekarang sedang beristirahat.

"Have fun, Sasuke?" aku melihat ke asal suara itu. Disana Sai sedang asik melukis di ruang tamu itu. Sai menatapku dengan senyumannya yang penuh arti itu.

"Itu bukan urusanmu…." Aku berjalan menuju tempat dimana Sai berada. "…. kenapa kau meninggalkan Naruto begitu saja tadi?" tanyaku, aku menarik kerah baju Sai.

"Dia bisa saja terluka tadi!" teriakku, tapi tidak cukup kencang. Aku tak ingin membangunkan Naruto yang sedang beristirahat.

"Tapi dia tidak terluka kan? Jadi tenang saja…." Katanya tanpa merasa bersalah dan tetap tersenyum. Senyuman yang menyebalkan.

Untung, saat itu semua terjadi, aku baru tiba di rumah ini. Aku berencana ingin menjenguk Naruto, tidak, aku ingin bertemu dengan Naruto. Ingin melihat senyumannya, melihat cintanya padaku. Tapi aku mendengar bunyi piring pecah dan suara Naruto yang memanggilku. Aku yang mempunyai kunci cadangan segera membuka pintu dan mendapati Sai sedang melukis, dan wajahnya tampak sangat serius saat melukis. Dia melukis dengan penuh emosi.

"Jangan pernah meninggalkan dia seperti itu lagi, atau kau akan merasakan akibatnya!" ancamku. Aku menghempaskan Sai sehingga dia terjatuh di lantai.

Lukisan yang berada diatas meja ikut terjatuh, aku melihat lukisan itu, lukisan yang abstrak yang hanya diwarnai oleh warna biru muda dan orange. Warna yang sangat cerah. Sebenarnya lukisan yang baru dibuat itu terlihat begitu mengandung banyak arti, pewarnaannya juga sangat serasi

Aku melihat Sai untuk yang terakhir kali, dan beranjak pergi keluar. Tapi, aku tak menyadari jika warna dasar lukisan itu adalah warna hitam. Warna yang melambangkan pengkhianatan.

I want to touch you

Touch your love

Aku melihat Sasuke telah pergi. Aku berdiri dan merapikan lukisanku yang terjatuh akibat Sasuke mendorongku tadi.

Aku berjalan menuju kamar dimana Naruto sedang tertidur, aku membuka pintu itu dengan perlahan. Aku melihat Naruto telah tidur dengan nyenyaknya. Aku berjalan mendekatinya. Aku menatap wajah tidurnya. Seperti malaikat yang sedang tertidur, sangat indah. Ini bisa menjadi lukisan yang sangat indah. Wajah tidurnya yang polos membuatku ingin menyentuhnya. Menyentuh wajah itu. Aku menggerakkan tanganku menuju pipinya, aku mengelus garis-garis tipis di pipinya, seperti fox. Hewan yang sangat cantik.

Aku melihat bibirnya, merah muda dan sedikit basah. Sangat sexy. Tak terasa aku telah mendekatkan bibirku dengan bibirnya. Aku mengeliminasi jarak diantara kami. Perlahan tapi pasti, hingga tak ada lagi jarak diantara kami.

Bibirku menyentuh bibirnya. Aku merasakan sensasi yang tak biasa, beda saat aku sedang berciuman dengan orang lain, dengan Itachi. Ciuman dengan orang lain hanya sekedar nafsu dan hanya ciuman yang dingin, tak ada yang lain, tidak ada perasaan apa-apa, tapi kini kenapa berbeda. Kenapa ciuman ini terasa hangat? Hangat yang menjalar keseluruh tubuhku.

Aku menekan pelan bibir Naruto dengan bibirku. Aku ingin merasakan lebih. Lebih dari ini. Lidahku menjilati bibir Naruto, berharap dia akan membukakan gerbangnya untukku.

"Hn…." Sepertinya Naruto mulai terbangun. Aku segera menghentikan tindakanku. Tapi itu semua terhentikan saat Naruto melingkarkan tangannya dileherku dan menciumku.

Kini bibir kami saling bertaut. Ini membuatku gila, ini membuatku semakin ketagihan akan dirinya.

Aku memegang wajahnya sambil mencium bibirnya. Naruto membukakan mulutnya sedikit, sepertinya dia sudah kehabisan napas, dan aku segera menyelinapkan lidahku untuk masuk ke dalam.

Lidah kami saling bertaut, lidah kami saling bertarung untuk menjadi pemenang. Naruto kembali mendesah, aku menulusuri rongga mulut Naruto. Aku benar-benar dibuat ketagihan.

"Ah…. Hmmm. Sa…" erang Naruto.

Tanganku mulai turun dan perlahan-lahan membuka baju Naruto. Aku menyelinapkan tanganku masuk ke dalam bajunya. Badan Naruto terasa panas, badanku juga telah naik temperaturnya. Membuatku ingin lebih. Lebih dari ini.

"Sa…." Desah Naruto lagi.

Aku tak bisa menghentikan semua tindakanku. Kini tubuhku bergerak sendiri. Aku ingin berhenti, aku tahu ini semua salah, aku tak boleh memiliki perasaan apapun terhadapnya. Aku sedang menyamar menjadi suaminya, jika dia mengetahuinya pasti akan terluka. Dan sebelum aku memiliki perasaan khusus terhadapnya, aku harus cepat menghentikan semua ini.

Tapi badanku bergerak dengan sendirinya. Lebih, ingin lebih dari ini. Aku telah ketagihan akan dirinya. Kini aku membiarkan naluriku saja yang bekerja, apapun hasil akhirnya aku akan terima.

"Sa… Sasuke…." Erangnya.

Aku terdiam.

Ciumanku juga terhenti.

Apa yang aku pikirkan tadi? Aku segera melepaskan pelukanku dan menjauh darinya.

"Sasuke?" tanyanya.

Aku sudah gila!

Aku segera pergi keluar meninggalkannya. Aku berlari hingga ke kamarku.

Aku mencoba menghentikan debaran ini. Aku memukul-mukul jantungku agar segera berhenti berdebar.

"Berhenti! Berhenti berdebar!" perintahku.

Tak bisa berhenti juga. Perasaan apa ini. Kenapa hatiku jadi aneh seperti ini? Perasaan berdebar ini, tapi kenapa terasa sedikit hampa?

You love him

But I love you

Sudah seminggu semenjak perjanjian ini dibuat. Hari-hari menjadi Sasuke aku jalani sebisa mungkin bersikap seperti biasa, menjadi Sai yang dulu. Aku menjaga jarak terhadap Naruto, aku akan segera pergi menuju ruang lukisanku jika urusanku terhadap Naruto telah selesai.

"Sasuke….." panggil Naruto. Aku segera menuju tempat dimana Naruto berada.

Naruto menatap lurus kedepan dan tangannya memegang bingkai foto pernikahan dia dan Sasuke. Biasanya bingkai itu terletak di meja sebelah tempat tidur Naruto.

"Ada apa Naruto?" tanyaku. Aku berjalan mendekatinya.

"Kamu dari mana saja? Aku merasa kesepian," katanya. Naruto mengulurkan tangannya kepadaku. Sepertinya dia ingin aku meraihnya. Tapi aku membiarkan tangan itu. Aku tak meraihnya.

"Sasuke…" panggilnya. Dia menurunkan tangannya, dia menyerah, Naruto tahu jika aku tak ingin meraih uluran tangannya.

"Aku ingin keluar. Tolong bawa aku jalan-jalan ke taman," pintanya.

Aku mengangkat tubuh mungilnya dan meletakkan dia di atas tempat kursi roda ini. Aku mendorong pelan kereta kursi ini. Diam membisu, tak ada yang memulai pembicaraan. Dan akupun tak ingin memulainya.

"Ano….." mulainya.

Aku tak menjawab panggilannya.

"Sasuke…" aku tetap memilih diam.

"Sasuke, apakah kamu menyesal bersamaku?" tanyanya. Dia menatap ke bawah, dia menundukkan kepalanya.

"Apakah kamu merindukan Hinata?" tanyanya lagi.

Dasar bodoh, dia tidak tahu jika suaminya tidak berada disini, dan lebih memilih berada bersama selingkuhannya. Bahkan suaminya menyewa orang untuk menjadi dirinya. Jangan salahkan aku jika dunia ini begitu kejam Naruto. Salahkan dirimu yang begitu bodoh dan mau saja dibohongi oleh namanya cinta.

Di dunia ini tidak ada yang namanya cinta, yang hanya ada keegoisan saja.

"Sasuke…?" panggilnya. Aku menghentikan doronganku dan berjalan menuju hadapannya. Aku mengangkat wajahnya yang menunduk. Matanya merah, apakah dia ingin menangis? Aku bisa melihat matanya sudah berkaca-kaca dan siap menumpahkan isinya. Tapi Naruto menahannya, dia menahan dengan sekuat tenaga.

"Baka!" Kataku sambil menghapus air mata di pelupuk matanya.

"….Jika aku tak ingin bersamamu, mana mungkin aku bersamamu sekarang ini…" kataku pelan. Aku memeluk tubuhnya. Aku tak tahu kenapa aku melakukan ini. Bibirku bergerak sendiri mengucapkan kata-kata itu, dan tanganku bergerak sendiri memeluk tubuhnya.

Naruto membalas pelukanku, dia memelukku dengan erat.

"Jangan…. jangan acuhkan aku, Sasuke."

"Jangan menganggap diriku tak ada…. Jangan pergi dariku," tambahnya.

"Tak akan. Aku akan selalu disampingmu," kataku pelan dan menikmati pelukan ini. Pelukan yang membuat hatiku yang dingin ini menjadi hangat.

Dan aku membiarkannya melakukannya.

Don't make me betray him

Love is a miracle

Trtttt Trttt Trtttt

Aku melihat handphone yang bergetar. Aku melihat ke layar LCD nya dan melihat nama yang tercantum disana.

Itachi?

"Halo." Sapaku.

"Apa sudah dilakukan?" tanyanya. Seperti biasa Uchiha tidak ada berbasa-basi terlebih dahulu. Langsung ke topik.

"Wah, memang tanpa basa-basi seperti biasa. Sasuke sudah lama tidak kesini," kataku.

"Hari ini dia akan kesana, lakukan hari ini juga." Itachi langsung menutup telephonenya.

I just want you to look at me

Love, look at me, just me

Tok tok

"Masuk." Aku mendengar suara Naruto yang mengizinkan aku masuk. Aku membuka pintu itu.

"Kau aneh sekali, kenapa mengetuk pintu pada kamarmu sendiri?" tanyanya. Dia tertawa melihat sikapku. Dia memberikan senyuman malaikatnya. Hatiku selalu berdebar jika melihatnya. Tapi aku mengacuhkan perasaan aneh ini.

Ini bukan kamarku, aku tidak tidur di kamar ini, kamarku ada di sebelah. Aku hanya berpura-pura tidur disini, dan jika Naruto sudah tertidur aku akan pergi menuju kamarku. Karena aku tidak sanggup berada lama-lama di sampingnya.

Aku mendekati Naruto dan menyentuh tangannya, memberitahukan jika aku sudah berada disisinya. Aku berdiri disamping tempat tidurnya, dia mengalihkan pandangannya menuju diriku. Dia tersenyum lagi, senyuman ini terasa sangat berbeda dengan senyumanku. Padahal sama-sama menyunggingkan senyuman. Kenapa terasa berbeda?

Naruto melingkarkan tangannya di pinggangku, dan kepalanya bersandar di perutku. Aku membiarkannya melakukannya, aku tak mencegahnya, dan aku tak menarik diriku untuk menghindari sentuhannya.

"Aku mencintaimu, teme…" katanya pelan.

Aku terdiam, berpikir apa yang akan dikatakan Sasuke jika saat seperti ini.

"A-aku…" kataku terbata-bata. Aku hanya perlu mengucapkan kata 'aku juga mencintaimu, Naruto', tapi kenapa begitu berat. Aku memerintahkan bibirku untuk bergerak mengucapkan kata-kata itu.

Naruto menarik bajuku, sehingga aku menunduk menghadapnya. Naruto menciumku tepat di bibir. Dia menciumku dengan penuh perasaan. Aku bisa merasakan di setiap sentuhannya, terasa hangat. Terasa cinta.

"Aku tahu…" katanya pelan. Dia memelukku erat.

"Aku tahu…" ulangnya. Aku melihat tatapannya menjadi sedih. Jika dia tahu apa yang ingin aku katakan, kenapa tatapan pandangannya berubah? Mengapa menjadi sedih? Mata biru cerahnya, menjadi redup.

Apa yang kau tahu? Apa yang kamu ketahui? Katakan kepadaku!

Tolong jangan bermuka seperti itu, itu tidak cocok untuk dirimu. Tolong beri aku senyumanmu itu. Berikan senyumanmu yang selalu membuatku ingin memilikinya hanya untuk diriku. Senyuman hangatmu yang aku tidak ingin diketahui oleh orang lain.

Naruto perlahan-lahan melepas pelukannya.

"Maafka-!" belum sempat dia menyelesaikan ucapannya. Aku menarik dirinya, kini aku yang menciumnya. Mencium Uzumaki Naruto.

Aku memeluk erat-erat tubuh mungilnya. Pelukanku sangat erat, mungkin bisa meremukkan dirinya yang sangat lemah ini.

Aku melepaskan ciuman ini untuk mengambil napas, aku melihat Naruto juga sedang terengah-engah. Aku memeluk lagi dirinya dan berkata, "Aku mencintaimu…..".

Aku merasakan tangan Naruto kini memelukku, membalas pelukanku.

"Lihatlah diriku, hanya diriku…" kataku pelan. Aku bisa merasakan kepala Naruto menggangguk di dalam pelukanku. Pelukan kami.

Aku menatap wajah Naruto yang kini juga menatapku. Cinta? Kenapa aku mengucapkan kata cinta? Kenapa bibirku bereaksi sendiri mengucapkannya? Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibirku. Tapi aku tidak menyesalinya. Aku bersyukur bisa mengucapkannya.

"Sasuke…" aku mendengar Naruto mengucapkan namanya. Namanya, nama Uchiha Sasuke. Bukan namaku.

Aku tak tahu kenapa hatiku terasa tidak nyaman? Ya, terasa tidak nyaman. Aku merasakan ada sesuatu yang kosong di hatiku. Benar-benar membuatku tidak nyaman.

Aku mendorong tubuh Naruto keatas ke tempat tidur, dan menindihnya. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya.

"Sa…." Aku langsung membungkam mulut Naruto dengan bibirku. Aku tidak ingin mendengarnya menyebutkan nama Sasuke. Aku ingin mendengarnya menyebut namaku. Tapi jika aku mengatakan kebenarannya, dia akan membenciku. Kebenaran yang akan membuatnya terluka, aku tidak ingin melihat dia bersedih.

Kadang, kebohongan lebih baik dari kebenaran.

Aku mencium Naruto, aku mencium bibirnya yang lembut itu. Tubuhku menjadi panas akibat sentuhan-sentuhan ini. Aku menjilati bibir Naruto memintanya untuk membuka mulutnya agar aku bisa masuk ke dalam.

Naruto membuka bibirnya dan lidah kami saling bertaut. Aku memeluk Naruto erat, tanganku memasuki bajunya. Aku merasakan setiap tubuhnya. Tubuhnya yang seperti ganja yang membuatku ketagihan untuk merasakannya lagi dan lagi.

Kini bibirku turun ke lehernya yang jenjang. Aku menjilatinya dan menghisapnya. Aku memberikan tanda di lehernya. Tanda jika dia milikku, tapi hanya bisa dianganku. Karena aku tahu jika dia telah menjadi milik Sasuke.

Naruto mengerang saat aku mengigit pelan lehernya. Dia mendesah saat kuhisap tanda bekas gigitan dilehernya itu. Kau adalah ganja bagiku, yang membuatku menginginkanmu hingga merusak tubuhku. Menginginkan cintamu yang tak akan pernah bisa kau berikan kepadaku. Karena kau mencintai dirinya.

Aku mendengar bunyi suara pintu terbuka, aku merasakan ada seseorang. Tapi aku tetap melanjutkan aktivitasku ini.

Kini tanganku bergerak turun. Dari dadanya turun ke perutnya, turun ke pinggangnya, dan turun keselangkangannya. Tanganku masuk kedalam celana tidur yang digunakan oleh Naruto dan memegang bagian tersensitifnya.

"Ah…. Hm… Sa…" aku langsung menciumnya, aku tak sudi mendengar nama Sasuke keluar dari bibirnya. Aku menciumnya berkali-kali, agar dia tahu, jika aku berbeda dari suaminya yang tukang selingkuh itu. Aku berbeda dengannya.

Tidak, kami sama.

Kami sama-sama membohongi dirimu.

Naruto mengerang saat aku meremas 'barang'nya dengan tanganku. Lidahku menjilati dadanya yang telah terbuka dari tadi. Erangan Naruto dan desahannya semakin membuatku tak bisa berhenti.

Tak lama kemudian Naruto mengeluarkan cairan putih itu. Celananya kini menjadi basah.

Aku menatap Naruto yang kini sedang terengah-engah. Wajahnya merah merona, tubuhnya juga terasa hangat. Sedikit hand job tidak akan menyakitinya bukan?

Aku mengambil tisue di samping tempat tidur dan membersihkan dirinya. Naruto tampak sangat kelelahan. Matanya terlihat sangat lelah dan mengantuk. Aku membersihkan setiap bagian Naruto, setiap bagian tubuhnya. Setelah mengelap tubuhnya, aku memasangkan baju yang bersih ke tubuhnya.

"Mmmm, Sasuke terima kasih…" katanya, sebelum menutup matanya. Matanya tertutup secara perlahan-lahan. Warna biru yang sangat aku sukai itu kini mulai tertutup.

Aku encium dahi Naruto dan mengucapkan, "Stidur yang nyenyak…".

Aku beranjak dari posisi sambil membawa pakaian kotor, aku menutup pintu kamar dengan perlahan.

My sin will kill me

Your love is my cure

Aku melihat Sai keluar dari kamar Naruto sambil membawa pakaiannya.

"Kamu menikmati tontonan yang aku berikan bukan, Sasuke?" tanyanya. Aku mengepalkan tanganku. Aku berada disini karena mengantarkan obat untuk Naruto, tapi aku malah mendapatkan Sai sedang menindih Naruto. Aku tahu jika Sai sadar akan kedatanganku. Tapi dia tetap melanjutkannya. Beraninya dia bersikap seperti itu, padahal sudah kuperingatkan. Rasanya aku ingin menarik dan memukulnya saat itu juga. Tapi jika aku melakukan itu, ini semua akan terbongkar. Kebohongan ini.

Aku memperhatikan Sai mencium Narutoku, menyentuh Narutoku. Tak ada di dunia ini yang boleh menyentuh apa yang sudah menjadi milikku. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa.

Aku hanya bisa memperhatikannya, aku mengepalkan tanganku, ingin rasanya aku membunuh Sai. Kebencian dalam diriku akan diri Sai telah memuncak.

Aku berjalan menuju Sai, dan memukulnya. Dia terjatuh dan aku mencengkram bajunya.

"Sudah aku peringatkan jangan pernah menyentuh Naruto!" ancamku. Sai hanya tersenyum dan akhirnya tertawa.

"Kau lupa? Aku sekarang adalah Sasuke." Katanya sambil berusaha melapaskan cengkramanku.

"Jangan berisik, dia baru saja tertidur. Kau tak inginkan jika Naruto mngetahuinya…?" katanya sambil berusaha bangkit. Dia berdiri dan berjalan menuju meja, dan meletakkan pakaian yang dia bawa tadi.

"…mengetahui kenyataan yang begitu gelap ini," lanjutnya.

Aku mengerti maksudnya kenyataan yang dia maksud. Kenyataan jika selama ini yang berada disisi Naruto bukan diriku melainkan Sai. Kenyataan yang menyatakan jika aku telah menipu dirinya.

Tapi ini semua aku lakukan agar aku bisa terus bersamamu. Bersama dirimu. Bisa melihat senyumanmu, mendengar suaramu yang memanggil diriku, dan cintamu.

Aku terdiam mendengar kata-kata Sai. Benar, aku belum ingin Naruto tahu tentang kebenaran ini. Belum saatnya.

"Jangan pernah melakukan ini lagi, jika ini terjadi lagi, aku akan membunuhmu." Ancamku.

"Tapi, aku memegang kartu as mu, Sasuke…" katanya sambil tersenyum.

"Aku tak takut akan ancamanmu Sai…" aku tak akan takut untuk membunuhnya jika saat itu tiba. Tidak ada yang boleh menyentuh apa yang telah menjadi propertiku, properti Uchiha Sasuke.

I'm afraid

Don't hate me

"Aku tak takut akan ancamanmu Sai…" katanya kepadaku. Mimik wajahnya menunjukkan dengan sangat jelas jika dia sangat marah. Aku bisa melihat kepalan tangannya yang kapan saja bisa melayang ke wajahku.

Sepertinya dia sangat membenciku, tapi bukankah kau yang memulai semuanya ini? Jadi silakan merasakan apa yang telah kau tuai ini. Perih bukan rasanya? Sama seperti perasaan Naruto saat mengetahui jika Sasuke ternyata selama ini berselingkuh.

Tapi rasanya aku ingin mengakhiri semua ini. Aku takut untuk berada disampingnya lebih dari ini. Perasaanku bercampur aduk, hampa dan terasa hangat. Aku takut akan jatuh cinta pada dirinya. Takut, karena aku tahu jika cintanya tidak akan pernah menjadi milikku.

Senyuman yang biasanya Naruto beri, bukan ditujukan untuk diriku. Yang dia pikir dalam hatinya hanya Sasuke, aku tidak punya tempat dihatinya.

Aku hanya pengganti Sasuke, tidak lebih.

Aku memperhatikan Sasuke di depanku. Naruto mencintai dirimu. Apa yang kamu punya dan aku tidak punya Sasuke?

"Sampai kapan aku menjadi dirimu Sasuke…?" tanyaku. Aku sudah tidak sanggup menjadi dirinya lebih lama dari ini. Karena perasaanku telah berubah.

Dia terdiam, lalu berkata, "sebentar lagi…."

Sasuke berjalan menuju barang bawaan yang dia bawa tadi, mengambilnya dan memberikannya padaku.

"Kamu berikan saja obat ini secara teratur kepada Naruto," katanya pelan tapi tegas. Aku mengambilnya dan membuka bungkusan itu. Aku terkejut melihat isi di dalamnya. Ini….

"Obat ini…."

I just want you disappear from my life

But, I love you

To Be Continued.

*MAAF!*

Saia tahu! Benar saia tahu! Kalian jika ingin marah boleh kok, memang sudah sangat lama saia tidak meng-update-nya. Maafkan saia, sekali lagi maafkan saia. Padahal di chap yang lalu saia berjanji untuk segera mengapdet chap ini sesegera mungkin.

Tapi maafkan saia, karena kesibukan akhir-akhir ini dan authors blok saia kambuh, membuat saia tak bisa mengeluarkan ide-ide panpik untuk ditulis.

Saia juga sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah bersedia meluangkan waktunya mengirim saia message untuk segera meng-update panpik ini. Saia benar-benar terharu membacanya.

Terima kasih bagi kalian yang masih menunggu chapter ini dengan penuh rasa sabar. Sungguh saya terharu.. T_T

Sekali lagi saia meminta maaf atas keterlambatan ini. Saia akan mencoba untuk mengapdet chapter depan lebih cepat dari chapter ini, saia akan berusaha!

Saia sudah sangat lama tidak menulis panpik, jadi maafkan saia jika terdapat kesalahan disana-sini. Tapi saia tahu, jika itu tidak boleh dijadikan alasan. Ide di kepala saia benar-benar sudah saia kuras habis untuk menulis ini. Jika boleh bicara, saia agak kurang puas dengan chapter ini, saia merasa perjalanan cerita chapter ini begitu cepat (kemarin terlalu lamban dan sekarang terlalu cepat -.-"). Padahal saia ingin secara perlahan tapi pasti perkembangan perasaan Sai terhadap Naruto, dari merasa kasihan lalu timbul perasaan sayang. Apa ini hanya perasaan saia saja? Kalian bisa menilainya sendiri. Maaf jika chap ini kurang memuaskan amarah kalian -lagi-, maafkan saia T_T

Akhir-akhir ini saia sibuk menonton dan mendownload film kisah percintaan pria baik dari Korea maupun Jepang. Yang rata-rata di film itu akan membuat saia menangis. Kisah cinta mereka benar-benar menguras air mata. Apa hanya perasaan saia saja yang cepat tersentuh atau bagaimana? Saia tidak tahu, tapi menurut saia cinta yang penuh pengorbanan seperti itu harus dipertahankan, apapun rintangannya. –curcol-

Back to fanfic, di chap ini terdiri dari Naruto POV, Sasuke POV, dan Sai POV. Saia sengaja menulisnya agar kita tahu perasaan masing-masing dari character. Saia juga sengaja tak menuliskan tulisan Naruto POV, Sasuke POV, dan Sai POV pada setiap scene, karena menurut saia akan lebih menarik jika kita saja yang membayangkan ini POV siapa. Haha

Sebentar lagi panpik ini akan menuju akhir, mungkin kira-kira 4 chapter lagi (sudah termasuk flasback 2), tak terasa ternyata panpik ini akan segera berakhir, membuat saia sedih T_T

Jika memiliki pertanyaan, kritik, dan saran yang membangun sangat diperlukan. Feel free to ask me anything!

Sekali lagi terima kasih bagi kalian yang telah menunggu panpik yang apdetnya lama selangit ini =)

And the last Thanks all my dears!