S E C R E T

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Pairing: Neji x Gaara \(o^0^o)/

Rated: T—maybe… M? Ga' ga'!! T aja duluuuuuu!!!!!TT_TT

xoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxoxoxo

If music be the food of love, play on

- William Shakespeare -

oxoxoxo

E N J O Y

oxoxoxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxox

Kelopak sakura masih menjadi santapan lezat bagi setiap pasang mata yang memandang. Warna lembut yang indah itu menghiasi sepanjang jalan menuju ke sebuah kampus terkemuka di Tokyo. Jalanan itu kini dipenuhi beragam jenis mahasiswa yang datang dengan berbagai tujuan. Ada yang serius mengejar masa depan mereka, ada pula yang hanya sekedar datang untuk berkumpul dengan teman-teman mereka.

Diantara para mahasiswa itu, tampaklah seorang pemuda dengan perawakan yang bisa dibilang sempurna. Tubuhnya tinggi dan tegap, wajahnya—sudah dalam kategori yang bisa membuat seorang wanita bertekuk lutut tanpa syarat; kalau dilihat dari otaknya, selama 1 tahun dia kuliah nilainya tidak pernah turun dari peringkat pertama, dan ditambah penampilannya dengan rambut coklat panjang yang diikat seadanya, pemuda itu telak menjadi incaran mahasiswi yang sedang jomblo.

Hyuuga Neji adalah nama milik pemuda itu. Dari namanya saja seluruh kampus tahu kalau dia adalah putra dari keluarga pemilik perusahaan Hyuuga yang sudah punya nama di dunia. Itu jadi nilai plus-plus untuk para cewek matre. Tapi dasarnya mahkluk tampan yang satu ini memiliki sifat yang super cuek pada cewek, sampai sekarang belum ada yang bisa menaklukkan hatinya.

"Pagi-pagi sudah melamun," seorang gadis bercepol dua mendekatinya, dia adalah Ten Ten, satu dari sedikit gadis yang bisa dia ajak bicara dengan santai. Teman satu kampus di jurusan Ekonomi dan Politik, bidang yang saat ini Neji tekuni untuk kelak meneruskan perusahaan keluarganya.

"Bagaimana akhir pekanmu? Menyenangkan?" tanya Ten Ten.

"Setidaknya bisa membuatku lupa dengan tugas-tugas yang menanti kita minggu ini," Neji membenahi tas ranselnya.

Ten Ten tertawa, "masa iya sih, si jenius ini takut dengan tugas?"

"—Bukannya takut, tapi terkadang rasa malas itu datang juga 'kan? Jenuh apalagi."

Gadis bercepol itu mengangguk, "ya juga sih—padahal dulu waktu baru jadi mahasiswa baru, pikiran yang ada cuma berkisar kehidupan kampus yang menyenangkan. Tapi—sudah tingkat 2 begini… baru nyadar kalau kuliah itu ga gampang."

Mereka masuk ke sebuah gedung di kawasan universitas itu, gedung bertingkat 4 dengan gaya Eropa kuno yang menjadi rumah induk bagi para mahasiswa jurusan Ekonomi dan Politik seperti mereka.

"Aku ke kantor dosen dulu. Ada yang harus aku serahkan," Ten Ten pun memisahkan diri dari Neji di tangga.

Sendiri, Neji pun menaiki tangga batu itu dan terus sampai ke depan kelas yang akan digunakan untuk mata kuliah yang pertama. Karena masih ada banyak waktu, Neji duduk di salah satu meja yang dekat dengan jendela. Karena cuaca cerah, Neji pun membuka kaca jendela itu lebar. Dari sana dia bisa melihat halaman kampus yang penuh dengan aktivitas para mahasiswa.

Sedang enak-enaknya menikmati sakura yang tertiup angin, Neji terusik oleh lantunan sebuah nada gitar yang merdu. Mata lavendernya mencari darimana asal suara itu. Lalu dia melihat beberapa orang berkumpul di bawah pohon sakura yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berada sekarang. Ada 4 orang disana, 3 orang remaja putra dan seorang gadis. Tapi pandangan Neji terpaku pada sosok yang memainkan gitar dengan piawai.

Pemuda itu berambut merah bata, bertubuh sedang dan dikeningnya ada sebuah tato merah bertuliskan 'Ai', cinta. Jemari pemuda itu dengan lihainya mengalirkan nada demi nada dari senar gitar, dan begitu suaranya terdengar, Neji seolah melupakan keberadaan semua orang disana.

Alunan lagu The Day After Tomorrow dari Saybia, yang kebetulan adalah salah satu lagu favorit Neji, melantun dengan begitu merdu,

"Please tell me why do birds

Sing when you're near me?

Sing when you're close to me?

They say that I'm a fool

For loving you deeply

Loving you secretly"

Neji benar-benar terpesona dengan suara pemuda itu. Belum pernah dia mendengar seseorang bisa bernyanyi dengan indah seperti itu. Jadilah Neji menikmati lagu tersebut sambil menyandarkan kepalanya pada kisi jendela….

"OHAYOU!!!"

Sebuah sapaan penuh semangat plus sebuah tepukan maut mendarat di punggung Neji, membuat dunia indah yang sejak tadi dilamunkannya jadi buyar. Neji memandang sedikit sebal pada orang yang menyapanya, Rock Lee, orang yang terlalu banyak energi dengan dandanannya yang super norak. Neji belum habis pikir bagaimana temannya yang ajaib itu bisa dengan PDnya datang ke kampus dengan kaus super ketat dan celana panjang, yang juga ketat, berwarna hijau cerah. Belum lagi potongan rambut aneh ala The Beatles yang bisa membuat illfill siapapun yang melihatnya.

Lee nyengir pada Neji tanpa dosa, "apa yang kau lamunkan? Masa mudamu masih panjang, bung!!" serunya lantang.

Neji menghela nafas, "bukan urusanmu," sekilas dia melihat pada sekelompok remaja tadi. Tapi rupanya mereka juga sudah bubar. Ga heran sih, sebentar lagi kuliah jam pertama akan dimulai…. Neji pun duduk dengan benar dan mengeluarkan buku catatannya, bersiap untuk menerima mata kuliahnya yang pertama……….

Sepanjang karirnya sebagai mahasiswa… baru kali ini Neji tidak bisa konsentrasi dalam kuliahnya. Sepanjang mata kuliah Hukum Perekonomian, alunan nada yang dia dengar tadi terus terngiang di telinganya. Dan itu terjadi hingga mata kuliahnya yang ke tiga….

"Haaah—" Neji menghela nafas panjang. Itu menarik perhatian Lee yang sedang jalan dengannya menuju kantin.

"Kau kenapa, Neji? Sakit? Aku lihat dari tadi kamu ga semangat gitu."

"Aku ga apa," Neji memakai topinya.

Lee memandang tidak percaya pada temannya itu, "hari ini kau aneh deh. Seharian ga konsen sama kuliah. Padahal biasanya kau ini serius banget."

"—Entahlah. Mungkin lagi ga mood aja," kata Neji asal.

"Hee—rupanya kau ini bisa jenuh juga ya?" Lee memandang takjub, "—gimana kalo ikut aku jalan ke Shibuya? Lumayan buat ngilangin stress."

Neji berpikir sebentar. Memang dia jarang sekali jalan bareng teman-teman kampusnya. Tapi— Neji melirik Lee— kalau dengan dia, lewat deh… "sori, aku mau langsung pulang."

"Gitu ya? Ya sudah ga masalah," kata Lee tetap ceria.

Lalu mereka pun menuju ke kantin dan memesan makanan. Terkurung seharian di kampus cukup membuat suasana hati Neji semakin buruk. Satu-satunya hal bagus yang terjadi hari ini adalah lantunan lagu yang dia dengar pagi ini.

Selesai makan, Neji pun pamit duluan pada Lee yang masih menikmati porsi makanannya yang kedua. Mengacuhkan segala tatapan lapar dari para mahasiswi yang memandangnya, Neji keluar dari kantin dan menyusuri jalan setapak yang dipagari oleh deretan pepohonan sakura yang mekar dengan indahnya.

Saat Neji hampir sampai di gerbang kampus, sekali lagi telinganya menangkap suara yang dia dengar tadi pagi. Dia tidak akan salah, karena suara itu sudah terekam sempurna dalam ingatannya. Langkah Neji pun mengikuti arah suara itu berasal, dan tibalah dia di depan air mancur yang ada di sisi taman sebelah kiri. Disana dia melihat pemuda yang sama sedang memainkan gitarnya dengan banyak orang yang bergerombol di dekatnya.

Kali ini lagu All the Same dari Sick Puppies-lah yang mengalun merdu. Pemuda itu dengan fasihnya menyanyikan lagu berbahasa inggris itu,

"I don't mind where you come from As long as you come to me

I don't like illusions I can't see Them clearly

I don't care no I wouldn't dare To fix the twist in you

You've shown me eventually What you'll do

I don't mind... I don't care... As long as you're here"

Tak ada seorangpun yang bicara saat pemuda itu bernyanyi. Semua terhanyut dalam petikan gitar dan merdunya suara yang mengisi pertengahan musim semi itu. Tepuk tangan menggema saat nada terakhir dimainkan.

"Gaara memang hebat," pekik salah seorang penonton perempuan.

"Suaranya merdu, permainan gitarnya juga OK. Sayang dia tidak mau ikut dengan band-ku," kata seorang mahasiswa senior yang berdiri dekat dengan Neji.

"Hmm—jadi namanya Gaara?" batin Neji. Lalu dia melihat Gaara ngobrol dengan seorang temannya yang berambut pirang, "dia punya selera musik yang mirip denganku."

Saat itu Neji lihat Gaara sepertinya sedang menolak permohonan temannya, tapi akhirnya dia mengabulkannya. Kembali Gaara menyiapkan gitarnya, dan dia pun melantunkan satu lagu yang lagi-lagi adalah lagu yang Neji suka, Closer, dari Travis.

"I've had enough of this parade I'm thinking of the words to say

We open up unfinished parts Broken up its so mellow

And when I see you then I know it will be next to me

And when I need you then I know you will be there with me

I'll never leave you"

Neji jadi heran, apa ada kebetulan yang seperti ini? Dia jarang sekali menemukan orang yang suka lagu-lagu macam itu. Bahkan Neji sering diejek aneh oleh teman-teman seangkatannya karena suka tipe musik semi melankolis itu. Neji jadi makin penasaran pada sosok seorang Gaara itu.

.

~#~

.

"Waii—Gaara memang ueeebbbaaad!!!"

Gaara pasrah saat sobat karibnya sejak SMP itu memukul-mukul punggungnya.

"Hentikan, Naruto!! Kasihan Gaara 'kan?" seorang gadis menahan tangan si pemuda pirang itu.

"Sudahlah, Sakura. Percuma," kata seorang cowok cool di sebelah Sakura.

"Ga bisa gitu donk, Sasuke Kun!! Kalau begini terus, tulang punggung Gaara bisa patah mendadak tau!!" Sakura memiting tangan Naruto ke belakang.

"ADUDUDUDUH!! SAKURAA CHAAN!! KALO GINI SIH MALAH TANGANKU YANG PATAAAAH!!!" teriak Naruto merana hingga akhirnya Sakura melepaskannya. Dia merengut, "Sakura Chan ini kejam banget sih sama aku?" rajuknya.

Gadis berambut pink panjang terurai itu mendelik pada Naruto, "kau saja yang susah diatur. Ga usah hebih begitu kenapa sih? Kau kan juga sudah paham banget kalo Gaara jago nyanyi."

"Yee—muji temen sendiri kan ga dosa," kata Naruto ga mau kalah, "habis—dia udah serasa artis aja. Ga diminta, orang-orang pada ngumpul buat denger dia nyanyi. Mananya yang ga hebat coba?"

"Usuratonkachi—dia yang jago kok kamu yang bangga?" ujar Sasuke cuek.

"Sasuke Temeeee!! Jangan panggil aku Usuratonkachi terus!!!" protes Naruto, "panggil aku begitu lagi, ku hajar kau?" ancamnya.

Sasuke menyeringai jahil pada Naruto, "coba saja kalau kau bisa, Usuratonkachi. Kau akan terus ku panggil Usuratonkachi sampai kau tidak lagi pantas dipanggil Usuratonkachi. Dan itu tidak akan terjadi, Usuratonkachi."

Seperti ada semburan magma panas dari dalam kepala Naruto, wajahnya merah padam menahan amarah, "SASUKEEEE!!! KU BUNUH KAU!!!" Naruto mengejar Sasuke yang sudah jauh di depan mata.

Melihat itu Sakura cuma bisa geleng-geleng kepala, "ampun deh, dua anak itu. Taruhan 1.000 yen deh, pasti tidak akan ada yang menyangka kalau mereka itu pacaran. Udah kaya polisi sama buronan aja tingkahnya."

"Tapi tidak jelas mana polisi mana buronan. Mereka itu sama-sama kekanakan," Gaara memandang 2 sahabatnya yang sedang ribut sendiri.

"O ya, Gaara. Minggu depan kau jadi 'kan mengisi acara di pestaku?"

"Ya. Aku sudah janji 'kan?!"

Sakura tersenyum, "cuma mau memastikan. Nanti—lagunya yang special lho!!"

"Iya," jawab Gaara singkat.

Sejak masuk universitas, kegiatan menyanyinya ini jadi rutin Gaara lakukan. Pertama sih atas paksaan Naruto yang memintanya menyanyikan sebuah lagu saat hari pertama mereka kuliah bulan lalu. Tapi lama kelamaan, jadi kebiasaan buat Gaara. Dia sendiri tidak menyangka kalau akan banyak orang yang mendengarkannya.

Nada dering berbunyi nyaring dari ponsel yang Gaara simpan di sakunya. Dia pun menjawab panggilan itu, rupanya dari kakak tertuanya, Temari,

"Gaara, kau sudah selesai kuliah?"

"Ya."

"Bagus kalau begitu. Jemput aku di RS, ya?!"

"Periksanya sudah selesai?"

"Udah di RS sih— tapi pemeriksaannya baru nanti; kamu tunggu ya?!"

"Baiklah," Gaara menutup pembicaraan dan menyimpan lagi ponselnya, "sori—aku pulang duluan!"

"Kenapa?" tanya Sakura.

"Kemarin kaki Neesan terkilir lumayan parah, sekarang lagi periksa di RS," jawab Gaara sambil mencari kunci mobilnya. Lalu dia dan Sakura menghampiri Sasuke dan Naruto yang sepertinya sudah tenang lagi, "aku duluan," kata Gaara pada 2 pemuda itu.

"Eeeh—kenapa? Katanya mo makan di Shibuya?" Naruto memasang tampang melas.

"Aku harus jemput Neesan di RS. Besok saja, aku traktir kalian," kata Gaara.

Mendengar itu, Naruto sumringah lagi, "Oooh. OK deh—salam ke Temari Nee, yaaa!!!"

Gaara pun meninggalkan 3 temannya dan duluan ke lapangan parkir. Sebenarnya Gaara agak tidak nyaman juga sih harus membawa kendaraan pribadi ke kampus. Tapi apa boleh buat, karena sekarang dia bertindak sebagai kepala keluarga karena ayah dan pamannya bekerja di luar negri sedangkan kakak laki-lakinya kuliah di Hokkaido. Ibunya sudah lama meninggal, jadi cuma Gaara yang bisa jadi supir dalam keadaan darurat seperti ini karena dia hanya tinggal berdua dengan kakak perempuannya di Tokyo ini. Jadi—walau dia belum punya SIM, dia nekad saja membawa mobil demi untuk menjemput kakaknya di RS^^.

Gaara menuju mobil Honda Civic Mugen berwarna biru metalik. Saat akan membuka pintu, dia merasa kalau kakinya menyentuh sesuatu. Saat dia lihat, ternyata itu adalah sebuah MiniDisk Player. Gaara memungutnya.

"Punya siapa ini?" Gaara memperhatikan MD hitam itu. Tidak ada nama pemiliknya, "—Aku bawa sajalah. Besok bisa dilaporkan di papan pengumuman," Gaara pun membawa MD itu masuk ke dalam mobil sebelum meluncurkan kendaraan itu keluar dari wilayah kampus….

Sesampainya di RS, Gaara masih harus menunggu sekitar 30 menit sebelum check up kakaknyanya selesai. Gaara pun teringat MD yang dia temukan, dia pun menyalakan player itu. Gaara terkejut mendengarkan sebuah lagu dalam MD itu. Lalu—saat dia memutar lagu-lagu yang lain, dia benar-benar kaget. Hampir seluruh isi MD itu adalah lagu yang dia suka. Padahal—jarang sekali Gaara menemukan orang yang memiliki selera musik yang sama dengannya….

"I, I came here by day, but I left here in darkness

And found you, found you on the way

Now, it is silver and silent, It is silver and cold

You, in somber resplendence, I hold"

Satu lagu yang menjadi favorit Gaara, Silver & Cold dari AFI. Sampai sekarang, Gaara belum pernah tahu ada orang lain selain dirinya yang suka pada lagu ini. Kebetulan yang aneh ini menyulut rasa penasaran Gaara pada si pemilik MD ini. Siapapun dia—Gaara ingin mengenalnya.

"Sejak kapan kau punya MD?"

Gaara terkejut mendapati sosok kakak perempuannya yang berdiri dengan memakai kruk di depannya, "Neesan!! Jangan mengagetkan aku!" protes Gaara.

Temari tertawa, "maaf—habis kau ini sering melamun ga jelas begitu sih kalau sudah dengar musik."

Gaara berdiri dan menyimpan MD itu di saku jaketnya, "kakinya bagaimana?"

"Tulangku retak, jadi 4-5 hari aku harus pakai kruk ini."

"Kenapa bisa sampai retak? Katanya cuma jatuh saja," dia membantu kakaknya itu berjalan.

Temari cuma tertawa hambar.

Gaara lalu membawa kakak perempuannya ke mobil yang dia parkir tidak jauh dari pintu utama RS itu.

Gaara pun melajukan mobil itu dengan santai. Jalanan lumayan ramai, kalau sudah begini yang Gaara khawatirkan cuma kalau tiba-tiba ada pemeriksaan. Dia pasti bakal kena sangsi karena mengendarai mobil tanpa SIM. Mau bagaimana lagi, dia baru 18 tahun. Masih butuh 2 tahun lagi sebelum dia diizinkan untuk ikut ujian mengambil SIM.

Gaara pun membawa mobil itu menuju ke sebuah rumah yang lumayan besar diwilayah perumahan. Setelah memarkir mobil tanpa halangan, Gaara pun membantu kakaknya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang hanya ditempati mereka berdua itu.

Setelah memastikan kakaknya nyaman duduk di sofa di ruang keluarga, Gaara pun pergi lagi untuk membeli makanan, siang tadi dia tidak sempat makan, makanya sekarang perutnya keroncongan. Jalanan di daerah perumahan itu tidak begitu ramai, karena sore begini biasanya anak-anak dan juga warga sekitar memilih untuk berkumpul di taman. Dan benarlah, begitu melewati taman, arena bermain itu penuh dengan anak-anak yang berlarian ceria, ibu-ibu yang seru ngobrol, atau menggosip tepatnya, juga para penduduk lansia yang berbincang santai di bawah pohon.

Gaara jarang sekali ada di taman, kecuali kalau teman-temannya sedang bermain ke rumahnya mengajak untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Pemuda itu lalu melanjutkan langkahnya ke arah pertokoan dan mencari apa yang bisa dimakan. Saat itu dia teringat kalau MD yang dia temukan tadi ada dalam saku jaketnya, jadilah Gaara mendengarkannya lagi.

Sedang enak-enaknya mendengarkan lagu, tiba-tiba seseorang menabrak Gaara yang baru akan masuk ke sebuah kedai mie. Benturan tidak terduga itu membuat Gaara menjatuhkan MD yang dia pegang tadi.

"Ah—MD ku!!"

Mendengar itu, Gaara memandang orang yang menabraknya. Seorang pemuda berambut coklat panjang yang diikat. Saat memandang bola mata lavender itu, Gaara merasa ada yang mengusik sudut hatinya yang terdalam.

.

~#~

.

Neji memandang sepasang mata kehijauan yang sedari tadi tidak berkedip padanya. Tidak pernah dia sangka akan bertemu dengan Gaara di tempat seperti ini. Terlebih lagi—Gaara membawa MD miliknya yang sejak tadi tidak jelas keberadaannya.

Gaara mengambil MD itu, "—ini milikmu?" dia menyodorkannya pada Neji.

"Ya. Kau yang menemukannya?"

Gaara mengangguk.

Neji mengambil MD itu dari tangan Gaara, "—aku… melihatmu menyanyi di kampus hari ini. Suaramu bagus," katanya, "kebetulan sekali kau yang menemukan MD ini. Sebenarnya sejak tadi aku penasaran padamu, sepertinya selera musik kita lumayan mirip."

"…. Sori, sebenarnya tadi aku sempat mendengarkan isi MD itu."

Neji terkejut, "kau dengar? Pasti jarang ada yang kau suka ya?"

Gaara menggeleng, "sebaliknya—yang ada di MD itu… nyaris semua adalah lagu favoritku."

Ada gelitik aneh yang Neji rasakan dalam hatinya saat itu, "ah—keberatan kalau kita ngobrol sebentar? Kau mau makan, kan? Lebih baik pindah tempat saja, kedai ini sedang penuh sesak."

Gaara pun mengiyakan ajakan Neji. Akhirnya mereka berdua masuk ke sebuah kedai makan yang lain. Disana mereka pun saling memperkenalkan diri,

"Jadi kau seniorku? Aku harus memanggilmu 'Senpai' kalau begitu," kata Gaara.

"Tidak usahlah. Panggil saja namaku. Dan—aku boleh memanggilmu Gaara saja 'kan?"

Entah bagaimana, tiba-tiba Gaara sudah merasa begitu akrab dengan Neji. Begitu pun sebaliknya. Semakin mereka ngobrol, semakin mereka merasa akrab. Karena masing-masing jarang bertemu orang lain dengan hobi musik yang sama, obrolan itu pun berlangsung lumayan lama….

"Pantas kau masuk ke Jurusan Musik. Berniat jadi profesional?," Neji menghabiskan isi gelasnya.

Gaara menggeleng, "cuma hobi. Ga ada niat buat dijadikan profesi."

Neji melirik jam tangannya, "aku harus pergi. Thanks udah nemani aku ngobrol," dia memanggil pelayan dan meminta bonnya.

"Aku bayar bagianku," Gaara mengeluarkan dompetnya tapi ditahan oleh Neji.

"Aku yang traktir. Anggap saja salam perkenalan," Neji pun membayar apa yang mereka makan, "besok—kau main lagi di kampus?"

Gaara mengangguk, "aku selalu disana."

Neji tersenyum, "aku pasti datang besok. Semoga saja kuliahku tidak padat," katanya sambil menyandang tas ranselnya, "baiklah—sampai jumpa besok," Neji pun keluar dari kedai itu meninggalkan Gaara. Rasa penasarannya sedikit terobati, tapi itu malah membuat Neji makin ingin tahu tentang sosok seorang Gaara yang baru dia kenal hari ini.

Menyusuri jalanan padat itu, Neji menikmati alunan lagu dari MD kesayangannya yang baru saja pulang kembali ke tangannya…….

"Okaeri, Neji Niisan."

"Tadaima," Neji memandang pada adik sepupunya, Hinata. Gadis berparas manis yang kini masuk di Universitas yang sama dengannya.

"Hari ini Tousan tidak bisa pulang. Tapi besok lusa ia minta Niisan datang ke kantornya."

"Hmm—baiklah," Neji menyimpan sepatunya di rak, dan memakai surippa (slipper, sandal rumah), "dimana Hanabi?"

"Sedang mengerjakan PR di kamarnya," Hinata mengikuti Neji, "Niisan…" panggilnya lirih, "a—apa aku boleh keluar setelah ini?" tanyanya ragu.

Neji memandang gadis itu, dia sudah paham benar kalau Hinata akan pergi dengan Kiba, pemuda yang sudah akrab dengannya sejak SMA.

"Asal kau tidak lupa waktu," kata Neji.

Ada rona merah di pipi Hinata saat gadis itu tersenyum, "terima kasih, Niisan. Kalau begitu aku pergi dulu," dan Hinata pun meninggalkan rumah itu dengan semangat.

Neji pun menuju ke kamarnya di lantai 2. Baru saja dia hendak membuka pintu kamarnya, Hanabi muncul dari balik pintu di kamar sebelah. Gadis belia yang sangat mirip dengan Hinata itu langsung tersenyum cerah melihat Neji sudah pulang,

"Niisan sudah pulaaang!!" dia nemplok ke Neji, "ajari aku matematika…. Pliiis…" pintanya sungguh-sungguh.

Neji menepuk kepala Hanabi yang masih duduk di kelas 3 SMP itu, "tunggu sebentar. Nanti kita belajar bersama."

"Asiiik!!" mata Hanabi berbinar senang, "aku tunggu lho!! Di bawah yaaaa!!!" Hanabi pun masuk kembali ke kamarnya.

Sudah kebal dengan sifat Hanabi yang seperti itu, Neji tidak ambil pusing dan masuk ke kamarnya sendiri. Dia meletakkan ranselnya di bawah meja dan dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kembali terngiang suara Gaara yang tadi dengan suksesnya membuat dia terpesona. Belum pernah dia mendengar suara semerdu itu. Sejenak Neji kembali terbuai dalam lamunannya. Dia bisa merasa seolah Gaara sedang bernyanyi di sebelahnya…

"…. Aneh—padahal baru bertemu… kenapa aku merasa kalau aku sudah begitu lama mengenal dia, ya?" Neji bergumam sendiri, "haaah—" Neji memiringkan badannya, "aku aneh sekali…."

"NIISAAN!! AYO CEPAAAT!!!"

Lamunan Neji berantakan saat mendengar suara Hanabi, pemuda itu pun duduk sambil merapikan rambut panjangnya. Lalu secepatnya dia ganti baju dan mengambil tugas kuliahnya dari dalam tas, setelahnya dia langsung menyusul Hanabi ke ruang TV, tempat mereka biasa belajar bersama.

#

Sejak perkenalan mereka di kedai, Neji semakin sering bertemu dengan Gaara. Pemuda itu pun mengenalkannya pada 3 sahabatnya. Jadilah Neji kini lumayan sering nongkrong bareng dengan juniornya itu, seperti hari ini….

"Jadi Neji San libur kuliah tiap rabu? Sama, kami juga, kebetulan sekali, ya?" kata Sakura. Mereka bertiga mengambil kuliah di fakultas yang sama. Kesenian. Sakura di jurusan Lukis, sedangkan Gaara, Naruto dan Sasuke di jurusan musik.

"Tapi sepertinya Jurusan Ekonomi itu susah banget, ya? Ga seperti jurusan seni yang nyantai," kata Naruto yang sedang menikmati sebungkus yakisoba.

"Kalo kamu yang masuk sih pasti bakal keluar lagi dalam waktu 1 hari, Usuratonkachi," Sasuke berkomentar tajam tanpa mengubah ekspresi mukanya.

Neji melihat kelakuan 2 pemuda itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jujur dia kaget saat Gaara mengatakan kalau kedua sahabatnya itu bukanlah sekedar teman akrab saja, tapi Neji coba untuk mengerti. Lagipula kelakuan Naruto dan Sasuke malah bisa dibilang seperti musuh bebuyutan ketimbang kelakuan sepasang kekasih. Dan Neji pun tidak merasa kalau 2 pemuda itu berbeda.

Lalu dia beralih pada Gaara yang sejak tadi memetik senar gitarnya perlahan dan mengalunkan melodi yang ringan namun indah,

"sejak kapan kau bisa memainkan gitar?" tanya Neji ingin tahu.

Gaara mengangkat bahunya dan menjawab tanpa menghentikan gerakan jarinya, "mungkin kelas 5-6 SD. Terlalu banyak waktu luang… tanpa sadar jadi bisa."

"Bo'ong tuh!!" sela Naruto tiba-tiba, "apanya yang tanpa sadar? Gaara itu jenius memainkan alat musik. Gitar, piano, harmonika… kayaknya ga ada yang dia ga bisa," serunya bangga, "suara dia juga bagus banget," Naruto nyengir.

"Itu sih aku juga tahu," Neji menyingkirkan kelopak sakura dari kepalanya, "nah kalian berdua jagonya apa?" tanyanya pada Sasuke dan Naruto.

"Aku? Kalo aku sih cuman bisa gitar doank, meski ga sejago Gaara. Nyanyi juga ga jelek. Tapi aku jago bikin irama buat lagu. Sasuke yang jago bikin liriknya," jawab Naruto penuh semangat, sedikit mengingatkan Neji pada Lee, "Jadi kalian punya lagu nih?"

"Ada kok," kali ini Sakura yang angkat bicara, "Neji San mau denger?"

Neji mengangguk.

"…. Aku yang kena nih?" Gaara pasrah saat ketiga sohibnya memandang dia penuh harap. Merasa tidak bisa melawan, Gaara pun menyerah. Dia membenahi posisi duduk dan juga posisi gitarnya. Lalu sebuah lagu pun mengalun dengan merdunya,

"nagareru kisetsu no mannaka de futo hi no nagasa wo kanjimasu

sewashiku sugiru hibi no naka ni watashi to anata de yume wo egaku

sangatsu no kaze ni omoi wo nosete

sakura no tsubomi wa haru e to tsudzukimasu(1)"

Seperti biasa, orang-orang berkumpul di sekitar Gaara demi mendengarkan lantunan nada itu. Bukan hanya Neji yang terhanyut dalam lagu itu, tapi semua yang mendengar ikut terhanyut dalam cerita pada lagu itu,

"hitomi wo tojireba anata ga mabuta no ura ni iru koto de

dore hodo tsuyoku nareta deshou

anata ni totte watashi mo, sou de aritai(2)"

Tepuk tangan meriah menyambut akhir lagu itu. Naruto, yang entah kenapa bertindak seperti manager, membubarkan kumpulan orang-orang itu.

Gaara meletakkan gitar di sebelahnya dan memandang Sakura yang tiba-tiba saja menangis.

"Kamu kenapa, Sakura San?" tanya Neji heran.

Sakura menggeleng dan mengeringkan wajahnya, "—maaf…. Aku jadi teringat waktu kelulusan SMA."

Neji beralih memandang Gaara.

"Lagu ini kami ciptakan sebelum hari kelulusan kami," jelas Gaara, "ini kenangan kami bersama Sensei pembimbing kami di kelas 3."

Naruto yang sudah menyelesaikan tugasnya duduk di sebelah Gaara, "aku jadi kangen sama Iruka Sensei. Tapi—Kakashi Sensei rese sih, pake ngajak Iruka Sensei belajar ke luar negri segala, 'kan jadi susah kalo mau ketemu."

"Kalian ini—tingkahnya kaya udah pisah tahunan aja," Sasuke menjitak kepala Naruto, "baru juga 2 bulan."

Naruto menjulurkan lidahnya pada Sasuke, "dasar manusia es kamu itu."

Melihat polah 2 temannya, Sakura yang tadinya menangis kini sudah bisa tertawa lagi. Dan mereka semua pun berbincang santai hingga hari menjelang sore.

Naruto melirik jam tangannya, "GAWAT!! Sudah jam segini!! Aku harus kembali ke asrama!!" dia merapikan barang-barangnya yang berceceran di rumput yang sejak tadi menjadi alas duduk mereka, dan memasukkannya begitu saja dalam tas ransel besar miliknya.

"Kenapa sih? Seperti kebakaran jenggot begitu? Jam malam masih lama, 'kan?" tanya Sasuke heran.

"Bukannya gituuu!!!" Naruto berdiri dan menyandang tas di punggungnya, "hari ini tuh ada perbaikan pipa air. Jadi untuk sementara asrama 1, tempatku, akan bergabung dengan asrama 2. Aku belum nata barang, tau!!"

Sasuke menghela nafas, "hal penting kaya gitu kau bisa lupa," dia menyambar tasnya dan ikut berdiri, "aku temani si Usuratonkachi ini dulu. Ayo!!" dia menarik ransel Naruto dan menyeretnya pergi tanpa ampun.

Lalu tiba-tiba ponsel Sakura berbunyi nyaring, gadis itu pun mengangkatnya, bicara sebentar, dan wajahnya berubah sumringah, "wah—Itachi San sudah menjemputku. Aku duluan, ya?!" gadis itu mengambil tasnya dan berdiri, "sampai besok Gaara, Neji San," dan dia pun berlalu sambil bersenandung.

Dan—tinggallah kini Neji berdua saja dengan Gaara.

"Sudah pergi semua. Kita pulang juga, yuk?!" ajak Neji.

"Mau lama-lama di kampus juga percuma," Gaara berdiri, merapikan pakaiannya baru mengambil tas dan gitarnya.

Neji pun ikut berdiri, "aku lapar, mungkin aku mau ke Ichiraku dulu," katanya.

"—Aku ikut. Ku rasa Neesan masih belum bisa masak."

Neji teringat kalau Gaara cuma tinggal berdua dengan kakak perempuannya. Dan sepertinya—Gaara punya cukup banyak masalah di rumahnya, karena itu Neji menghindari topik mengenai keluarga.

Mereka berdua meninggalkan gerbang kampus dan menuju ke kedai ramen yang tidak jauh dari kampus mereka. Selama perjalanan, Neji sekali lagi berpikir tentang teman-teman Gaara. Mereka semua jenis orang yang jarang Neji jumpai.

Sakura, gadis manis yang tiba-tiba bisa berubah menjadi sosok yang super galak. Otaknya pintar dan jago melukis. Dia juga adalah tunangan Itachi, kakak kandung Sasuke yang kini bekerja di salah satu perusahaan bergengsi.

Sasuke, pemuda super cool yang cuek sama lingkungan sekitarnya. Meski sering bertengkar dengan Naruto, Neji tahu itu adalah ungkapan rasa sayangnya. Neji juga diberitahu kalau kedua orang tua Sasuke meninggal karena kecelakaan 3 tahun yang lalu. Sekarang, dia hanya tinggal berdua dengan kakaknya.

Dan Naruto—Neji benar-benar terkejut waktu tahu mengenai pemuda ceria itu. Sejak umur 3 tahun Naruto telah menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya tewas saat terjadi perampokan di rumahnya, dan sejak saat itu dia dibesarkan oleh orang yang dulu mendidik ayahnya sebagai seniman kaligrafi. Sejak masuk kuliah, Naruto memutuskan untuk tinggal di asrama yang memang disediakan sebagai fasilitas untuk mahasiswa yang berdomisili di luar kota, luar pulau bahkan. Tapi—melihat tingkah ceria Naruto, Neji jadi merasa salut dengan pemuda itu.

Akhirnya mereka berdua sampai ke kedai ramen terkenal itu. Untunglah kedai itu tidak seberapa ramai, mereka berdua pun duduk di dekat konter. Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menanyakan pesanan mereka….

"Lusa, benar bisa datang ke acara Sakura, 'kan?" tanya Gaara sembari menunggu pesanan mereka datang.

"Ya—aku ini termasuk mahasiswa dengan waktu luang yang banyak kok."

Gaara meminum teh yang menjadi welcome drink di kedai itu, "kenapa tidak kerja sambilan saja?"

Neji mengangkat bahunya, "aku punya tanggungan 2 gadis di rumah. Kalau aku tinggal kerja sambilan, siapa yang ada di rumah? Hiashi Jisan juga jarang bisa meninggalkan pekerjaannya di New York."

"—Sepertinya repot juga."

Neji hanya tertawa pelan. Obrolan mereka disela pelayan yang membawakan 2 mangkuk ramen pesanan mereka. Setelah menghidangkan mie beraroma sedap itu, si pelayan pun pergi lagi. Neji dan Gaara pun mulai menyantap ramen panas itu.

.

~#~

.

"Kau sudah pulang, Gaara?!" Temari melihat adik bungsunya di bawah tangga.

Gaara menaiki anak tangga itu, "kaki Neesan gimana? Sudah baikan?"

"Lumayanlah, sudah bisa dibuat jalan."

"Jangan memaksakan diri!"

"Aku cuma mau nonton TV di bawah, jangan perlakukan aku seperti nenek-nenek," kata Temari, "malam nanti kau mau makan apa? Biar aku yang masak."

"—Tidak usah. Aku beli di luar saja. Kalau Neesan tidak bisa diam, kakinya tidak akan sembuh," kata Gaara tegas.

Temari tersenyum, "iya iya…" ujarnya ringan sambil menuruni tangga perlahan.

Gaara pasrah saja pada sikap kakak sulungnya yang keras kepala. Dia pun masuk ke dalam kamarnya sendiri. Segera dia berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di kasur. Diraihnya sebuah buku yang tergeletak di sisi bantalnya, Gaara membalik badannya dan membaca buku itu sambil tengkurap.

Itu adalah buku dimana Gaara mencurahkan ide-idenya. Tulisan acak-acakan yang penuh dengan coretan. Dia memang tidak sejago Sasuke dalam menciptakan syair-syair yang indah, atau Naruto yang bisa dengan cepat menciptakan melodi yang indah. Tapi sebenarnya sejak dulu Gaara ingin menciptakan sebuah lagu…. Sebuah lagu yang hanya miliknya….

Lamunannya buyar saat ponselnya berbunyi nyaring. Sedikit malas, dia pun bangun untuk mengambil ponsel yang masih terjebak di suatu tempat di dalam tasnya. Setelah mengaduk-aduk isi ranselnya, Gaara pun menemukan ponselnya dan langsung mengangkatnya setelah membaca nama Naruto tertera di layar.

"Ada apa?" tanya Gaara langsung.

"Anu—besok kita 'kan mau beli kado buat Sakura Chan, kau sudah punya ide belum?"

Gaara diam sejenak, "…. Aku tidak ada ide. Lagi pula—bukannya kita sudah siapkan kado istimewa?"

"Iya sih—tapi emang gitu aja ga apa ya?"

"Terus maumu gimana lagi?"

Giliran Naruto yang diam.

"Sudahlah—aku yakin kado dari kita bertiga yang paling special. Besok malam latihan di rumahku!"

"Baiklah—nanti aku bilang ke Sasuke. Bye, Gaara," dan Naruto mengakhiri obrolan mereka.

Gaara meletakkan ponselnya di meja dan kembali berbaring di kasurnya. Lalu dia mengambil selembar kertas yang terselip di bukunya tadi. Lembar yang berisi lirik buatan Sasuke dan juga kunci-kunci nada yang mereka buat bersama. Lagu khusus yang akan menjadi kado spesial untuk acara ulang tahun Sakura. Sebenarnya lirik ini ditulis oleh Sasuke atas permintaan dari kakaknya.

Gaara sedikit berpikir… irama lagu ini cukup cepat, entah dia bisa apa tidak. Naruto sih selalu saja bilang kalau dia bisa, padahal Gaara lumayan tidak PD.

"—Apa aku tanya Neji saja, ya?"Gaara mengambil ponselnya lagi dan duduk. Saat akan menekan keypad ponselnya, Gaara mendadak berpikir, "kenapa aku jadi ingatnya sama dia?" sejujurnya Gaara juga tidak menyangka akan bisa akrab dengan Neji itu. Padahal selama ini dia jarang bisa dekat dengan seseorang dalam waktu yang singkat.

Gaara mengurungkan niatnya untuk menghubungi Neji, tapi—ini juga kali pertama Gaara merasa bimbang dengan lagu yang akan dia nyanyikan. Tidak mungkin juga dia minta pendapat Naruto atau Sasuke. Sakura apalagi.

Menyerah, Gaara pun akhirnya menelepon Neji juga.

… tut…

… tut…

… tut…

Dua kali Gaara mencoba, tapi tetap tidak diangkat. Gaara langsung down saat itu juga. Bingung sendiri. Dia pun melemparkan ponselnya ke kasur.

Sejenak ruangan itu menjadi sepi tanpa suara. Gaara memejamkan matanya dan menikmati kesunyian itu. Tak seberapa lama, dia mendengar suara dari bawah. Suara pintu terbuka dan suara percakapan. Gaara mengenali suara itu sebagai suara Shikamaru, mantan teman SMAnya dan juga—pacar kakaknya. Pertama Gaara kaget begitu tahu kalau kakak sulungnya jadian dengan pria yang Gaara kenal sebagai mahkluk termalas dimuka bumi. Tapi—Gaara juga tidak berniat untuk menghalangi atau apa, karena—Gaara menemukan sisi kakaknya yang lain setiap dia bersama si rambut nanas itu.

Gaara memiringkan tubuhnya, meraih sebuah bantal yang ada dalam jangkauan tangannya dan memeluk bantal itu. Sesekali dia melirik lembaran kertas yang jadi sumber masalahnya akhir-akhir ini. Dia menghela nafas panjang dan menenggelamkan mukanya pada bantal dalam pelukannya.

"Dorabojimalgo tteonagara, Tto nareul chatjimalgo saragara,"

Sepenggal lagu Korea yang menjadi pertanda ada panggilan masuk pada ponselnya, sedikit membuat Gaara kaget. Dia mengambil gadget berwarna hitam itu, dan begitu membaca nama siapa yang tertera di layaer, Gaara segera mengangkat panggilan itu,

"Moshi moshi…."

"Kau meneleponku sampai 2 kali. Apa ada masalah?" tanya Neji di sebrang sana.

Gaara sebenarnya malu juga untuk memberitahu apa masalahnya. Tapi—Neji sudah terlanjur membalas missed call-nya, jadilah dia menceritakan alasan kenapa dia menelepon tadi….

"—Sorry, pasti ini aneh buatmu," kata Gaara setelah dia menceritakan masalah lagu yang akan dia nyanyikan lusa di ultah Sakura.

"Enggak kok. Siapa bilang aneh? Cuma aku sampai kaget."

"…. Kenapa?"

"Tidak aku sangka kau minta masukan dariku."

Entah kenapa Gaara merasa aneh saat mendengar nada senang yang ketara dalam suara Neji barusan.

"Ok—tapi, aku tidak bisa berkomentar kalau aku tidak mendengarkannya dulu 'kan?"

"…. Kau minta aku bernyanyi di telepon? Mana mungkin."

"Benar juga," Neji mengambil jeda sebentar, "bagaimana kalau kita ketemu di taman yang dekat dengan konbini?"

"Tapi itu jauh sekali dengan rumahmu."

"Tidak masalah, kalau naik sepeda bisa sampai dalam 15 menit kok," kata Neji dengan cepat, "aku berangkat sekarang."

Tanpa bisa Gaara cegah, Neji keburu menutup teleponnya. Tidak ada pilihan lain, Gaara harus pergi ke taman yang jaraknya hanya 10 menit jalan kaki. Jelas sekali perbedaan jaraknya.

Gaara memakai jaketnya dan menyambar gitar yang bersandar di sisi lemari bukunya. Sedikit bergegas, dia menuruni anak tangga dan melongok ke ruang keluarga dimana dia lihat kakaknya masih berada bersama Shikamaru.

"Neesan—aku pergi dulu," lalu dia memandang tajam pada Shikamaru, "jangan berbuat masalah selama aku pergi," katanya singkat.

Shikamaru mengangkat kedua tangannya, "aku belum mau mencari masalah denganmu, Gaara," katanya.

"Bagus," dan Gaara pun meninggalkan tempatnya meski mendengar suara tawa kakaknya. Jarang sekali dia lihat Temari bisa tertawa seperti itu.

Mengambil sepatu pertama yang dia lihat di rak, Gaara pun meninggalkan rumahnya.

.

~#~

.

Neji mengerem sepedanya di pintu masuk taman. Malam itu entah kenapa taman yang biasanya ramai, kini begitu lengang. Dia turun dari sepedanya dan menuntunnya masuk. Hanya ada beberapa orang yang duduk berbincang di taman itu, Neji pun mencari sosok Gaara,

Akhirnya dia melihat pemuda itu duduk di salah satu kursi batu yang ada di taman itu. Neji pun segera menghampiri Gaara dan menyapanya.

"Hai, menunggu lama, ya?" Neji memarkir sepedanya di sebelah bangku panjang itu dan duduk di sebelah Gaara.

"Tidak juga," kata Gaara, "maaf—kau sampai jauh-jauh kemari."

"Tidak masalah. Kalau untuk mendengarmu bernyanyi sih, aku tidak keberatan," Neji melepas topinya, "nah—memang lagu macam apa yang akan kau nyanyikan?" tanya Neji langsung pada inti pertemuan mereka. Dan lagi di memang bukan tipe orang yang suka basa-basi.

Gaara memberikan secarik kertas padanya, Neji pun membaca isi kertas itu, "—Sasuke yang buat liriknya, melodinya aku dan Naruto," jelas Gaara singkat.

"…. Liriknya bagus… tapi…."

"Tapi apa?" Gaara memandang Neji.

"Boleh aku koreksi? Ada miss spell disana-sini."

Gaara mengangkat bahunya, "silahkan saja, kami juga ga begitu jago bahasa inggris."

"Oh ya?" Neji mengeluarkan ballpoint dari saku jaketnya, "tapi kamu fasih bernyanyi lagu barat," Neji mulai mengoreksi lirik di kertas itu.

"Bisa dan mengerti itu 'kan beda. Kalau bernyanyi hanya tinggal menirukan lagu aslinya. Tapi kalau mau mencipta lagu, harus mengerti dasar bahasanya juga."

"Kau benar," Neji memperbaiki beberapa kesalahan, "selagi aku membenahi ini, bisa kau mainkan melodinya? Aku ingin tahu."

Gaara mengangguk dan dia pun memainkan musik dari lagu itu.

Sejenak yang ada di antara mereka hanyalah suara petikan gitar dari Gaara dan suara goresan pena pada kertas. Tapi entah kenapa—mereka berdua merasa nyaman kala itu.

….

"Sudah selesai," Neji menyimpan lagi ballpointnya dan memberikan kertas itu pada Gaara, "memang lagu yang 'agak' lain dari yang biasa kau nyanyikan, tapi aku rasa tidak masalah untukmu."

"Tidak masalah apanya. Aku ini jarang sekali menyanyikan lagu dengan irama cepat. Tapi—di acara ultah seperti ini, ga lucu juga kalau aku nyanyi lagu balada."

Neji memandang wajah Gaara, baru sekali ini dia lihat pemuda itu tampak kebingungan. Biasanya Neji melihat raut wajahnya yang sedingin es dan tidak peduli pada masalah-masalah kecil. Tapi—ternyata dia bisa bingung juga kalau menyangkut teman-temannya.

Tanpa sadar Neji jadi tertawa, dan itu membuat Gaara meliriknya,

"kenapa kau malah tertawa?"

"Hmph—maaf maaf…. Habis ternyata kau ini bisa berubah jadi orang yang panikan," Neji kesusahan menahan tawanya. Tapi begitu melihat mata Gaara yang menatap tajam padanya, dia pun berdehem dan berusaha untuk tidak tertawa lagi, meski sangat sulit, "baiklah—aku juga tidak jauh-jauh kemari untuk mentertawakanmu kok. 'Gini aja, coba kamu nyanyikan, nanti aku yang kasih komentar, siapa tahu aku bisa kasih masukan juga."

Gaara sepertinya masih kebingungan, tapi dia sudah tidak punya pilihan lain. Jadilah dia memainkan lagu itu. Sedikit lebih pelan dari volume suaranya yang biasa.

Neji sendiri, dengan sepenuh hati mendengarkannya. Tidak ada pikiran untuk menyelanya. Sampai dia heran sendiri kenapa Gaara masih bingung meski bagi Neji, nyanyian itu sudah sempurna.

"Kau ini aneh. Padahal lagu itu cocok banget sama warna suaramu. Kenapa juga harus bingung?"

Gaara memandang sedikit sangsi pada Neji, tapi dia tidak membalas bicara.

"Sasuke pasti menciptakan lirik ini supaya sesuai denganmu," kata Neji lagi.

"—Kau pikir begitu?"

Neji mengangguk yakin, "sudahlah—kau PD saja nyanyinya," Neji menepuk-nepuk pundak Gaara, "aku tidak sabar menunggu kau tampil dengan lagu ini."

"Bukan cuma aku. Naruto dan Sasuke juga ikut. Ini kado kami untuk Sakura."

"Sakura pasti senang sekali. Kado macam ini tidak akan ada duanya."

Selaginya mereka sudah mendapat ritme yang enak untuk ngobrol, mendadak seseorang memanggil Neji dan membuat pemuda itu memalingkan mukanya.

"Ten Ten," Neji memandang kaget pada sosok teman satu jurusannya itu, "kenapa kamu disini?"

"Harusnya aku yang tanya kamu. Taman ini kan jauh banget dari rumahmu," gadis bercepol dua itu memandang Gaara, "lho—kamu ini Gaara 'kan? Adiknya Temari Senpai?!"

Gantian Gaara yang bingung, "kau kenal kakakku?"

"Aku satu klub dengannya di kampus."

Neji jadi heran sendiri, ternyatakalau dipikir—dunia itu sempit sekali, "terus kenapa kau disini?" Neji bertanya lagi.

"Aku mau ke rumah Lee, tentu saja. Kenapa pakai tanya."

Neji baru sadar kalau rumah Lee memang di sekitar wilayah ini. Dan pastinya itulah alasan kenapa Ten Ten berada di sini.

Gaara memandang Neji yang sepertinya akrab dengan Ten Ten itu. Mendadak dia jadi merasa kesal sendiri, "baiklah—kalau begitu aku pulang dulu," dia mendadak berdiri sambil membawa gitarnya, "sampai besok," Gaara mengambil jeda dan memandang Neji sebelum mengakhiri kalimatnya dengan kata, "Senpai!"

Neji bengong mendengar nada suara Gaara yang dingin itu. Perasaan selama ini Gaara ga pernah manggil dia Senpai dan hanya menambah 'San' didepan namanya, tapi Neji tidak keberatan dengan itu. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba….

Saking terpananya, Neji bahkan tidak sempat mencegah kepergian Gaara yang menghilang di kegelapan taman itu.

"Kenapa dia pergi?" tanya Ten Ten bingung.

Neji juga tidak punya alasan yang pasti, jadi dia hanya mengangkat bahu dengan wajah kebingungan.

Dan masih sambil bengong keheranan dengan sikap Gaara, Neji pun berpisah dengan Ten Ten di taman itu. Neji mengayuh sepedanya tetap sambil berpikir kira-kira apa yang membuat Gaara jadi bersikap aneh seperti barusan.

"Jangan-jangan…" gumam Neji. Tapi seketika dia langsung menghentikan pikirannya itu, "ah—jangan terlalu berharap," bisiknya pada hati nuraninya yang terdalam.

.

~#~

.

"GAARAAA!! TANGAN KAMU KENAPA?!!!" Jerit Naruto histeris saat melihat tangan kiri Gaara dibalut perban putih.

Sasuke ikutan kaget saat itu.

"Sorry—tadi malam aku keserempet mobil. Kayanya… ga bakal bisa pegang gitar dulu."

"Iiiih!! Ini sih ga kayanya lagi. Kamu beneran ga bakal bisa pegang gitar besok. Gimana dooonk!!" Naruto panik sendiri.

"Kan masih ada kamu sama Sasuke yang bisa ngiringin aku."

Naruto mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi, "tapi petikan gitar Gaara itu beda… kalo cuma aku sama Sasuke, pasti beda!!"

"Kau jangan mendesaknya begitu!" kata Sasuke meski sebenarnya dia setuju dengan Naruto. Pastiakan berbeda sekali tanpa permainan gitar dari Gaara, "kok bisa sih kau keserempet? Bukannya jalan di rumahmu itu lumayan besar?"

Gaara terdiam.

"Iya—tumben-tumbennya kamu bisa kecelakaan kaya gini. Kau ini 'kan orangnya waspadaan banget."

"Lagi sial, mungkin," kata Gaara enteng seolah tidak peduli pada raut pucat di muka kedua sahabatnya itu, "ya sudahlah—kalian saja yang iringi aku. Ga bakal beda banget kok."

Sasuke menghela nafas, "mau bagaimana lagi. Kalau begitu malam ini kita latihan sampai perfect."

Naruto hanya mengangguk pasrah.

Tepat saat mereka berhenti bicara, Sakura datang dan menyapa ketiga pemuda itu.

"Ohayou!!" gadis itu tersenyum lebar mengalahkan mentari, "lho, Gaara!! Tangannya kenapa?" raut wajahnya berubah saat melihat perban di tangan pemuda berambut merah bata itu.

"Kecelakaan kecil," kata Gaara," bukan cidera serius kok," lanjut Gaara segera sebelum Sakura mulai berceloteh tentang pentingnya pengobatan untuk luka macam apapun.

Sakura memandang lengan Gaara sebentar sebelum memandang Naruto dan Sasuke, "Oya, Sasuke," katanya, "malam ini aku pinjam kakakmu sebentar, ya?! Ada urusan sedikiiit."

"Hn—kau bawa dia terus juga aku tidak peduli," kata Sasuke cuek.

Naruto terkikik, "padahal dianya suka ngomel kalau Itachi Nii pulang telat."

"Usuratonkachi!!! DiaM, BAKA!!" warna muka Sasuke berubah merah.

Sakura tertawa bersama Naruto, sementara Gaara tidak bereaksi. Sejak tadi, pandangan matanya terarah ke luar gedung kampusnya.

"Hei—bengong aja," Naruto yang menyadari kebisuan Gaara mendekatinya dan menepuk pundak Gaara, "lihat apa sih?" si pirang itu melongok ke luar jendela, "aa—Neji San. Eh—dia sama siapa tuh?"

Mendengar itu, Sasuke dan Sakura ikut melihat ke luar jendela. Disana mereka melihat ada Neji yang sedang bicara dengan Ten Ten, sosok yang mereka tidak kenal. Karena penasaran, tanpa sadar 3 anak muda itu makin mencondongkan tubuh mereka, berusaha melihat lebih jelas.

"Sama cewek tuh," gumam Naruto.

"Sepertinya mereka akrab banget," sahut Sakura.

"Hm—pantes kalem, rupanya dia sudah punya pasangan," komentar Sasuke yang lumayan ga nyambung.

Selaginya 3 sohibnya itu asik berspekulasi, Gaara malah menjauh dari tempat itu, suasana hatinya yang sudah buruk makin memburuk melihat Neji bersama Ten Ten.

"Guys, ku rasa aku pulang saja. Percuma masuk kelas kalau tanganku ga bisa dipakai."

"EH?!!" Naruto langsung memalingkan wajahnya, "Gaara mau pulang?"

Gaara mengangguk, "sampai nanti," dan Gaara pun berlalu.

Sasuke ikut memandang Gaara yang kini berbelok ke arah pintu keluar gedung jurusan kesenian, "anak itu kesambet apa sih? Tingkahnya aneh dari tadi."

"Kamu juga merasa begitu ya, Sasuke?"

Sakura akhirnya tertarik juga, "memang dia kenapa?"

Naruto mmemperhatikan sosok Gaara yang kini menghilang diantara lautan orang di halaman yang tergopoh-gopoh untuk masuk ke kelas mereka, "ya—aneh aja gitu. Ini pertama kalinya dia kecelakaan ampe lumayan parah begitu kan? Gaara yang selalu jalan seperti punya mata di belakang kepalanya itu, bisa keserempet mobil? Nyaris mustahil rasanya."

Sakura mengangguk-angguk, "kau benar juga sih. Kira-kira apa yang membuat dia jadi aneh begitu ya?"

Sasuke tidak berkomentar, tapi saat itu dia sempat memandang sekilas ke arah Neji tadi yang kini sedang berjalan masuk ke gedung Ekonomi, "masa sih?" batinnya penuh dengan pertanyaan.

#

Kini Gaara bengong sendirian di stasiun subway. Pikirannya seperti buntu. Ditambah lagi dengan tangannya yang masih terasa nyeri akibat kecelakaan semalam. Sebenarnya Gaara sendiri tidak percaya kalau dia bisa sampai keserempet mobil. Kemarin malam memang murni kesalahan dia. Setelah dia meninggalkan taman itu, dia seperti boneka berjalan. Tidak memikirkan apapun sampai saat dia tersadar; sudah ada mobil yang berhenti di dekatnya yang terduduk di aspal, dengan seorang pria yang mengumpat-umpat padanya dari dalam mobil. Saat itu juga dia baru sadar kalau tangannya terluka dan gitarnya sudah hancur tidak berbentuk. Gaara bahkan sama sekali tidak ingat bagaimana dia jatuh.

Dia menghela nafas panjang, "aku ini sebenarnya kenapa sih?" Gaara menyentuh perban yang melilit bagian lengannya mulai dari siku hingga pergelangan tangan, "aku sudah buat semua jadi kacau."

Gaara beranjak dari posisinya yang sejak tadi bersandar pada tiang peron saat kereta datang. Kereta cukup lengang, karena jam sibuk sudah lewat. Dia pun duduk di salah satu bangku yang kosong. BT, dia mengeluarkan iPod hitamnya dari dalam tas dan mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.

Biasanya cara ini manjur setiap kali dia sedang tidak enak hati atau sedang banyak pikiran. Tapi kali ini—bahkan lagu pun tidak bisa membantu.

#

"You're every song and I sing along

Cause you're my everything"

"Oke!! Ku rasa sudah sempurna," Sasuke menurunkan gitarnya, "memang ada yang beda, tapi vokalmu bisa menutupi kok," katanya pada Gaara.

"Jadi grogi nih, besok tampil di acaranya Sakura Chan," kata Naruto sambil memeluk gitarnya, "mana besok banyak lagi yang dateng."

"Jelas saja, ibunya Sakura itu orang yang punya nama di dunia bisnis. Koleganya pasti banyak," Sasuke menyambar gelas berisi lemon tea yang tadi disuguhkan Temari untuk mereka.

"Tapi," Naruto tiba-tiba menyeringai, "hadiah dari Itachi San pasti tidak akan ada duanya 'kan?"

"Pastinya, siapa lagi yang bisa kasih hadiah macam itu ke Sakura kalau bukan Niisan," Sasuke menghabiskan minumnya. Sekali lagi dia melirik Gaara. Seperti dugaannya, temannya itu sedang berkelana di dunianya sendiri.

Naruto menyadari juga hal itu, dia pun berpandangan dengan Sasuke, mereka sama-sama angkat bahu, tidak mengerti.

"O ya, Gaara!!" celetuk Naruto yang paling anti dengan suasana sepi, "tadi Neji San nanyain kamu lho."

Gaara bereaksi mendengar nama itu, tapi dia tetap tidak bicara.

"Dia tanya kenapa kemarin kamu tiba-tiba pergi gitu aja. Aku kaget lho waktu tahu kamu ketemuan ama Neji San. Ga nyangka kalian bisa cepet akrab."

"Tidak begitu juga," kata Gaara datar.

Naruto menggaruk belakang kepalanya meski tidak merasakan gatal sama sekali. Dia memberi isyarat supaya Sasuke ikut bicara juga.

Sasuke mencari topik yang mungkin bisa membuat mood Gaara balik lagi. Meski dia tahu—tidak akan banyak perubahan dalam wajah sahabatnya yang satu itu, "—buat besok…"

Naruto langsung memandang Sasuke penuh terima kasih.

"Baju apa yang kita pakai? Ga lucu juga 'kan kalau kita manggung tapi bajunya ga kompak."

"Itu benar," Naruto menimpali penuh semangat, "kita belum cek kostum nih. Gimana donk?"

Gaara bangkit dari duduknya di kursi belajarnya, "yang simply formal sajalah. Terlalu ribet juga ga pantes," katanya menyahuti.

Merasa sukses, Naruto dan Sasuke pun mengajak Gaara dalam perdebatan seru untuk menentukan apa yang mereka pakai besok….

#

#

"Waah—banyak yang datang nih," Naruto drop duluan di dekat panggung. Seumur-umur dia ga pernah pentas di depan banyak orang. Meski biasanya dia adalah mahkluk yang paling bersemangat di muka bumi, kali ini dia benar-benar merasakan apa yang dinamakan 'grogi'.

"Santai saja, dobe!!" Sasuke membenahi kerah kemejanya. Setelah kemarin berdebat sampai larut malam dan berakhir dengan jadinya kamar Gaara sebagai tempat tidur mereka bertiga, akhirnya mereka memutuskan untuk memakai kemeja putih dengan jas semi formal berwarna hitam. Cukup casual, tapi pantas dipakai ke pesta macam ini.

Gaara sendiri sejak tadi duduk diam sambil sesekali melirik jam tangannya, lalu pandangan berpindah ke pintu masuk. Terus begitu berulang-ulang.

"Nungguin siapa sih? Mukamu sampai tegang begitu," tanya Naruto heran.

Gaara tidak menjawab.

Tapi bagi Naruto itu berarti Gaara sudah menjawabnya dengan 'aku tidak sedang menunggu siapapun'. Dia sudah terlalu hafal body language yang lebih sering dipakai Gaara daripada suaranya sendiri.

"Dia sudah datang tuh," Sasuke memandang orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan pesta di sebuah hotel yang ternama di Tokyo.

Naruto berdiri dan beranjak ke sebelah Sasuke, "Gaara—sini donk!! Kamu mojok begitu kaya setan tau!!"

Gaara pun akhirnya berdiri juga dan memandang ke arah Sakura yang sedang menerima tamu-tamunya, didampingi oleh Itachi. Lalu begitu melihat siapa yang tengah mengobrol dengan Sakura, Gaara langsung membeku.

Sekali lagi dia melihat Neji bersama dengan Ten Ten. Gadis itu mengapit lengan Neji dan mereka tampak begitu akrab.

"Wah—Neji San lagi-lagi sama gadis itu," Naruto berkacak pinggang, "mesra banget sih mereka. Jadi ngiri," Naruto melirik Sasuke.

"Ck—Usuratonkachi!!" gumam Sasuke pelan tanpa bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Naruto nyengir senang.

Mereka berdua sama sekali tidak menyadari perubahan yang amat langka terjadi di wajah Gaara. Pemuda itu berdiri diam bagai patung di belakang Naruto dan Sasuke yang sedang asik sendiri.

xoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxoxoxo

TO BE CONTINUED

oxoxoxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxox

Translate :

Sangatsu no Kokonoka (3rd March) by Remioromen *1 Littre of Tears OST*

(1) in the midst of flowing seasons, I suddenly feel the length of the days

in the midst of passing restless days, you and I are painting our dreams

place our feelings in the wind of March

where the sakura blossoms are going towards spring

(2) if i close my eyes, you are always behind my eyelids

isn't that what made me stronger?

I, too, want to be like that for you

A/N : Fic ini saia buat karena terpengaruh sama Fic karya gHee, yaitu SIG aka Sasuke is Gaara. Kaya'nya seru aja buat fic penuh dengan lagu^^. So—read en review yaaa m(_ _)m

.

PS: Ada yang tau gag, lagu apa yang jadi ringtone ponselnya Gaara? =)