S E C R E T

Disclaimer : Kishimoto Masashi

Pairing : Neji x Gaara \(o^0^o)/

Rated : M

xoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxoxoxo

If we cannot trust, neither can we find love or Joy

~Walter Anderson~

oxoxoxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxox

"Maafkan saya!" Neji membungkukkan badannya sepenuh hati pada Asuma saat mereka baru kembali dari pemotretan di Karuizawa. Tapi yang menunggu mereka di Tokyo adalah masalah besar karena foto mereka yang sedang berciuman di hutan Karuizawa kini muncul di sebuah majalah. Karena itu, hari ini ada Neji dan Gaara menemui Asuma secara pribadi untuk membahas persoalan ini.

"Ya—aku tidak sepenuhnya menyalahkan kalian atas kejadian ini," kata Asuma, "Yang aku tahu wartawan tidak diizinkan ada dekat dengan lokasi pemotretan." Pria itu bersandar di kursinya, "Kalau menyangkal pun, fotonya sudah tersebar luas, jadi sekarang... aku serahkan pada kalian berdua."

Neji dan Gaara saling berpandangan.

Asuma mengerti kalau ini bukanlah keputusan yang mudah, "Hari ini kalian istirahat dan pikirkan di rumah! Aku yakin wartawan pasti mengerubuti gedung mansion, jadi aku sudah meminta Genma untuk mengantar kalian ke kediaman keluarga Hyuuga. Ku rasa berada dekat dengan keluarga, bisa membuat kalian lebih tenang."

Dengan itu, Neji juga Gaara mengundurkan diri dari kantor Asuma. Mereka langsung menuju pintu belakang karena pintu depan juga dijejali oleh para wartawan yang memburu berita. Genma, yang selalu siaga sebagai supir plus bodyguard, langsung 'menggiring' Neji juga Gaara karena rupanya di belakang pun ada beberapa wartawan yang tetap ngotot. Setelah masuk dalam 'mobil dinas' mereka, Genma langsung menginjak pedal gas yang membuat mobil melaju kencang meninggalkan gedung Konoha. Meski begitu masih ada mobil wartawan yang berusaha mengejar, tapi jangan remehkan Genma yang dikenal sebagai supir nomor satu di Konoha PH. Dengan lihai dia menyalip dari satu mobil ke mobil yang lain, berbelok secara acak di tiap tikungan hingga akhirnya mereka lolos dari kejaran para pencari berita, walau itu harus dibayar dengan waktu tempuh Konoha PH sampai ke rumah keluarga Hyuuga, yang biasa ditempuh dalam waktu satu jam, kini memakan waktu dua jam lebih.

"Haaah— akhirnya sampai." Genma berhenti tepat di depan pagar rumah keluarga Hyuuga.

"Terima kasih banyak, Genma-san. Yakin tidak mau mampir dulu untuk makan malam?" tawar Neji.

"Tidak... tidak. Aku mau langsung pulang. Kalian beristirahatlah. Aku akan datang kalau kalian butuh." Dan Genma pun segera berlalu dari tempat itu.

Tak lama, pintu depan rumah terbuka dan muncullah Hinata, Hanabi dan juga Temari dengan wajah luar biasa cemas.

"Gaara... Kau baik-baik saja?" Temari langsung menghampiri adik bungsunya.

"Aku tidak apa-apa, neechan." Walau begitu, Gaara pasrah saja dipeluk Temari. Kemudian mereka semua pun masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruang keluarga. Yang tak tampak hanya Kankurou, Temari bilang kalau Kankurou sedang lembur, karena sekarang dia bekerja di perusahaan milik Hiashi.

Hinata lalu menyuguhkan teh hangat juga beberapa makanan ringan, "Kalian tidak apa-apa? Berita di media massa itu keterlaluan sekali."

Memang Hinata yang bicara, tapi yang terlihat kesal sekali itu Hanabi. Dia memang luar biasa jengkel karena koran, majalah bahkan situs-situs internet membahas dengan cara berlebihan. Tak jarang ada yang memakai kata-kata kasar di forum online. Ditambah lagi dengan statement ayah Gaara yang menyatakan kalau Gaara bukan lagi bagian dari keluarganya dan dia tak ada urusan apa-apa lagi dengan putra bungsunya itu. Hanabi tak habis pikir, kenapa seorang ayah bisa begitu kejam pada anak kandungnya sendiri.

"Bagaimana kata Asuma-san?" Tanya Temari.

"Dia menyerahkan semua pada kami. Menutupi atau mengungkapkan semuanya," Neji meminum teh yang disuguhkan tadi, "dan kami memutuskan untuk mengungkap semua."

Bukan keputusan yang mengejutkan memang, karena semua yang ada di sana tahu kalau Neji dan Gaara sama sekali tak pernah merasa malu akan hubungan mereka.

"Kau tahu kami selalu ada di sini untuk kalian..." Temari mengusap pundak Gaara dengan lembut, "Sekarang kalian mandi dan istirahat dulu, kami akan siapkan makan malam."

Akhirnya Gaara yang mandi duluan, sementara Neji mau rebahan sebentar di kamar. Hinata, Hanabi dan Temari mengerti kegelisahan dua pemuda itu, jadi mereka tak berusaha mengganggu.

.

Malam itu, Gaara dan Neji tak beranjak keluar dari kamar setelah makan malam. Mereka duduk di tatami dan bersandar pada tempat tidur. Neji merangkul pundak Gaara dan membiarkan pemuda berambut merah itu menyandarkan kepala di pundaknya.

"Jadi bagaimana? Kau benar siap mengatakan semua pada penggemarmu?"

Gaara mengangguk, "Aku tak mau lagi berbohong. Mereka yang selama ini mendukungku, rasanya salah kalau aku tidak jujur pada mereka."

"Kita pikirkan perlahan. Aku yakin semua akan baik-baik saja."

Lagi-lagi Gaara mengangguk.

"Kau pernah bilang, musikmu jauh lebih jujur dari hatimu. Penggemar setiamu pasti akan mengerti apa yang kau sampaikan dari lagu-lagu yang kau nyanyikan."

"Ku harap begitu."

Neji mengusap kepala Gaara, "Lebih baik kau tidur sekarang. Kita pikirkan lagi besok. Oke?"

Gaara mengangguk dan dia pun rebahan di tempat tidur, "Kau juga tidur!"

Neji tersenyum dan berbaring di sebelah Gaara, "Sudah lama tidak tidur di kamar ini." Dia memeluk Gaara erat, "Aku akan menjagamu, Gaara... selamanya."

Tahu kalau dia selalu aman jika Neji ada di sisinya, Gaara pun memejamkan mata dan membiarkan kegelapan yang nyaman menyelimutinya.

Yakin kalau Gaara sudah lelap, Neji perlahan melepaskan pelukkannya dan menyelimuti Gaara. Dia pun keluar kamar dan turun menuju ke ruang keluarga dimana tiga gadis di rumah itu plus Kankurou sedang berkumpul.

"Mana Gaara?" tanya Temari.

"Sudah tidur." Neji duduk di dekat Hanabi, "Maaf kami pulang di saat yang sulit begini."

"Neji nii ini kenapa? Ini kan rumah kalian juga, mau pulang kapan saja, kami pasti senang." Kata Hanabi, "Lagian kasihan Gaara nii, dia pasti sedih sekali. Jadi kalau bisa, aku ingin dekat dan menghiburnya."

Mendengar itu, Neji menepuk kepala Hanabi, "Perhatian dari kalian sudah sangat menghiburnya kok. Makanya dia bisa tidur nyenyak begitu meski sedang ada masalah."

Hinata memandang kakak sepupunya itu. Dia tahu, meski tampak tenang, kilau mata Neji tak bisa bebohong. Pemuda berambut coklat panjang itu sedang menyimpan satu kekalutan yang tak ingin dia bagi dengan siapapun.

"Mungkin kami akan tinggal 2-3 hari sebelum Gaara siap untuk membuat press conference. Yang dia butuhkan adalah ketenangan, dan selama ini rumah ini luput dari pemberitaan media."

"Jangan memaksakan diri," kata Temari, "pikirkan perlahan apa yang akan kalian sampaikan nanti. Kalian tahu sendiri kalau wartawan-wartawan tak semuanya bisa diajak bekerja sama. Pasti ada satu dua pertanyaan yang memojokkan kalian."

"Ya— Asuma-san juga sempat memperingatkan kami. Tapi kurasa, Gaara pasti bisa menjawab semuanya. Dia yang sekarang jauh lebih kuat."

"Dia kuat karena kau, Neji." Ujar Kankurou, "Menyebalkan memang, tapi aku dan Temari, kakak kandungnya, tak bisa berbuat banyak untuk menjaga dia. Tapi kau, Hinata dan Hanabi, kalian menyayangi Gaara dan menjaganya sepenuh hati. Ku rasa itu yang membuat dia menjadi lebih kuat."

"Tidak begitu juga. Kalian melindungi Gaara dengan cara kalian sendiri. Begitu juga dengan Naruto, Sasuke dan Sakura. Gaara tidak akan sampai sejauh ini tanpa dukungan kalian semua."

Saat itu Hanabi menempel dan memeluk lengan Neji, "Tentu saja aku akan mendukung kalian. Kalian kan kakak-kakak kebanggaanku."

"Makasih, Hanabi."

Mereka mengobrol untuk beberapa waktu sampai lewat tengah malam. Satu per satu mulai mengundurkan diri karena besok masih ada aktivitas. Neji yang terakhir beranjak ke kamar. Di sana, Gaara masih lelap dengan posisi yang sama sekali tidak berubah. Neji duduk di sisi tempat tidur dan menyibak poni Gaara.

"Ini pertaruhan terakhir kita, Gaara. Aku tahu kita bisa." Dikecupnya kening Gaara sebelum dia beranjak untuk menggelar futon sebagai alas tidurnya.

.

Keesokan harinya, lagi-lagi penghuni rumah itu tak mengusik Neji dan Gaara yang masih belum ada tanda-tanda akan segera turun. Hinata sibuk menyiapkan sarapan, karena hari ini gilirannya. Temari juga membantunya karena dia memang sedang ingin memasak untuk adik kesayangannya itu. Ya— sejak Temari tinggal di sini, dia dan Hinata berbagi tugas sebagai 'koki' di rumah. Hanabi masih sibuk menata rambutnya di ruang keluarga bersama Kankurou yang sibuk dengan berkas-berkas pekerjaannya. Setelah semua sarapan, Hinata dan Temari tak lupa meninggalkan pesan untuk Neji supaya menghangatkan dulu makanan di meja ke dalam microwave, lalu mereka semua pun meninggalkan rumah untuk menjalankan aktivitas mereka masing-masing.

Jam 10 lewat sekian menit, Neji yang pertama kali bangun. Agak kaget juga melihat angka yang ditunjuk jarum jam di dinding. Padahal selama ini dia jarang sekali bangun lewat dari jam 8 pagi. Pelan dia melipat futon dan menyimpannya ke dalam oshiire. Setelah itu, berusaha tak membuat suara apapun, Neji mengambil baju ganti dari lemari dan keluar ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.

Di dapur, dia menemukan pesan untuknya dan segera menghangatkan sarapan yang menunya merupakan gabungan menu kesukaannya dan kesukaan Gaara. Neji juga membuat dua gelas susu hangat untuknya dan Gaara, karena sebentar lagi pemuda itu pasti akan bangun.

Benar saja, tak sampai lima menit, terdengar suara orang menuruni tangga.

"Ohayou." Sapa Neji pada Gaara yang masih terkantuk-kantuk.

"-Ha-you..." Balas Gaara tak jelas. Dia langsung duduk di kursi meja makan dan menjadikan lipatan kedua tangannya sebagai bantal.

Neji meletakkan cangkir yang berisi susu panas plus madu, "Kalau mengantuk kan tidak usah memaksakan diri untuk bangun."

"... Aku lapar..." Gaara duduk tegak lagi dan meminum susu madu itu.

"Hinata dan Temari sudah membuatkan sarapan untuk kita." Neji duduk di sebelah Gaara, memandang makanan yang sudah dia hangatkan dan kini tersaji di meja makan, "Rasanya mereka berniat membuat berat badan kita bertambah."

Gaara mengambil mangkuk nasi dan sumpitnya, lalu dia pun mulai makan. Dia rindu sekali dengan masakan rumah ini. Hangat, dan penuh dengan kasih sayang. Rasanya tak akan bosan makan seberapa banyak pun. Neji sendiri menikmati makanan yang tersaji tanpa banyak bicara.

Selesai sarapan, Gaara duduk bersantai di ruang keluarga sedagkan Neji membersihkan mangkuk dan piring kotor. Ternyata mereka berdua bisa menghabiskan porsi makanan yang sebenarnya cukup untuk empat orang itu. Lalu Neji menyusul Gaara di ruang keluarga dan melihat Gaara bersandar di tembok sambil memejamkan matanya.

"Tidur saja lagi kalau masih mengantuk."

Gaara menggeleng, "Aku terpikirkan satu lagu. Mungkin akan aku buat nanti."

Neji memandang kaki Gaara, "Kakimu bagaimana? Sakit?"

"Sedikit."

"Lebih baik mandi berendam saja di ofuro. Air hangat pasti bisa meredakan sakitnya." Neji membantu Gaara berdiri, "Ayo! Jangan malas-malasan begitu."

Pasrah, Gaara mengikuti Neji ke kamar mandi dan membiarkan pemuda itu mengisi ofuro dengan air panas.

"Aku akan ambilkan pakaian ganti." Neji pun kembali ke kamar untuk mengambilkan pakaian Gaara. Meski sebagian besar sudah dibawa ke mansion, mereka tetap meninggalkan beberapa pakaian di sini, karena disinilah tempat mereka untuk bisa pulang kapanpun yang mereka mau. Di kamar, Neji menyempatkan mengambil ponsel juga laptop kerjanya. Setelah meletakkan barang-barang elektronik itu di ruang keluarga, Neji kembali ke kamar mandi dan ternyata Gaara sudah berendam nyaman di ofuro.

"Pakaianmu aku letakkan di sini." Neji menunjuk sebuah rak kecil di sudut depan kamar mandi dekat wastafel. "Kau mau mengerjakan lagumu di kamar atau di bawah?"

"Di bawah saja. Kalau di kamar... aku pasti tidur lagi."

Neji tersenyum, "Baiklah, aku turunkan semua perlengkapannya." Neji menutup pintu ruang ofuro dan keluar dari kamar mandi untuk mengambil keperluan Gaara untuk mencipta lagu.

.

Sampai sore, belum ada yang pulang. Tadi sempat ada telepon dari Naruto yang heboh menanyakan kabar Gaara. Sebenarnya Naruto dan Sasuke ingin ke sana, tapi mereka sedang ikut jamuan perusahaan Uchiha yang tahun ini diselenggarakan di Hokkaidou. Sakura juga sempat bicara sebentar dengan Gaara. Kalau dilihat dari wajah Gaara yang tampak bersalah, Neji mengasumsikan kalau Sakura pasti sedang menangis. Gaara itu lemah dengan airmata wanita. Hiashi juga tadi menelepon, mengatakan kalau dia akan pulang besok pagi. Neji jadi merasa tidak enak karena sudah membuat pamannya cemas.

"Gaara— berhenti dulu sebentar. Kau ini kalau sudah membuat lagu, lupa segalanya." Neji melepaskan headphone dari kepala Gaara dan juga mematikan laptop kerja Gaara. Dia tidak peduli Gaara yang memandang sebal padanya karena membereskan semua peralatannya begitu saja.

Beberapa menit kemudian, pintu depan rumah terbuka dan terdengarlah suara Hanabi, "Tadaima!" dan segera, sosok gadis belia itu muncul di ruang keluarga. "Aku belikan takoyaki dan okonomiyaki!" serunya. "Kalian pasti sudah jarang kan makan jajanan begini." Hanabi meletakkan enam bungkusan yang dia bawa di meja.

"Ya ampun... kau ini benar-benar mau membuat kami tambah gemuk ya?" Neji memandang bungkusan versi jumbo yang ada di meja.

"Tenang saja. kalian tidak akan jadi gemuk. Percaya padaku. Toh, Gaara nii makannya juga banyak, tapi tetap saja kurus." Hanabi mengambil satu bungkus takoyaki bertanda khusus, "Special untuk Gaara nii, yang banyak mayonaisenya."

Gaara menerima bungkusan itu dan membukanya. Semerbak wangi jajanan yang dia suka itu membuat selera makannya bangkit, "Itadakimasu." Memang dia sudah lama sekali tidak makan takoyaki sejak disibukkan dengan kegiatannya sebagai artis.

Hanabi tersenyum melihat Gaara mulai memakan jajanan berbentuk bulat itu. Dia sendiri mengambil jatahnya dan mulai makan.

"Omong-omong... biasanya kau ada klub kan?" tanya Neji yang akhirnya ikut makan juga.

Hanabi mengangguk, "Aku bolos. Lagipula kalian ada di rumah, ngapain buang waktu di klub?"

Cuma gelengan pasrah yang jadi komentar dari Neji. Sore itu, mereka menikmati jajanan yang dibawa oleh Hanabi. Meski porsinya besar, toh takoyaki dan okonomiyaki yang ada ludes tak bersisa. Neji jadi berpikir, memang mereka ini tidak ada bakat untuk kelebihan berat badan. Kalau dilihat, porsi makan Hanabi juga lebih 'normal' dibanding gadis-gadis lain yang suka heboh dengan ukuran tubuh mereka, tapi Hanabi tetap saja masuk dalam kategori ideal. Mungkin banyak juga yang iri pada Hanabi, bisa makan sesukanya tanpa takut menjadi gemuk.

Kemudian satu per satu penghuni rumah pun pulang. Hanabi ternyata pulang bersama Temari dan keduanya sudah membawa belanjaan di kedua tangan mereka. Bisa dipastikan kalau malam nanti meja makan pasti penuh dengan makanan –lagi-. Yang terakhir adalah Kankurou. Dia hanya sekedar menyapa sebelum akhirnya langsung menuju ke pavilliun belakang dan mengurung diri di sana. Sepertinya pekerjaannya makin banyak saja.

Neji sungguh bersyukur semua bersikap biasa saja dan tak mengungkit masalah yang sedang dihadapinya dan Gaara. Itu membuat pikiran mereka menjadi lebih santai dan bisa berpikir jernih tentang apa yang akan mereka lakukan nanti. Memiliki keluarga memang satu keajaiban yang tak akan bisa tergantikan oleh apapun.

Lepas makan malam yang lagi-lagi membuat perut terasa overloaded, semua berkumpul di ruang keluarga. Hanabi tadi sempat menyewa beberapa DVD film untuk mereka tonton bersama. Ditemani pie buatan Hinata, acara nonton itu pun makin seru saja. Karena yang disewa Hanabi adalah film humor, tak jarang ruangan itu jadi penuh dengan tawa. Malam yang sangat menyenangkan.

.

#

.

"GAARAAAA!" Satu pelukan maut diberikan Naruto pada sahabatnya itu. Dia, Sasuke dan Sakura plus si kecil Fuyuki, datang ke kediaman Hyuuga jam 10 pagi keesokan harinya. Mereka langsung kemari dari bandara, sementara Itachi langsung bekerja.

"Lepaskan aku, Naruto! Kau mau aku mati sesak nafas?" Gaara melepaskan diri dengan paksa dari Naruto.

Setelah itu Sakura yang memeluk Gaara, dengan cara yang lebih halus. Ibu satu anak itu juga mencium pipi Gaara, "Maaf kami baru bisa datang sekarang. Kau tidak apa-apa kan?

"Ya, Sakura. Aku baik-baik saja." Kata Gaara.

Mereka pun berkumpul di ruang keluarga, setelah sebelumnya Sasuke sempat memberikan oleh-oleh dari Hokkaidou berupa kepiting dan juga daging sapi yang terkenal enak.

"Aku benar-benar kaget melihat beritanya." Kata Sakura yang memangku Fuyuki yang tumbuh menjadi anak yang aktif dan sedang bermain-main dengan remote televisi. "Apa keputusan kalian?"

"Aku dan Gaara memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Disembunyikan juga hanya akan membuat hidup kami tidak tenang karena dibayangi wartawan yang haus berita." Neji menyuguhkan teh untuk teman-temannya. "Mungkin minggu depan kami akan melakukan press conference. Jadi sementara kami mengungsi dulu ke sini."

Sasuke meminum teh yang disuguhkan, "Kalian yakin siap? Maksudku... isu seperti ini masih tergolong masalah yang sensitif di masyarakat."

Neji duduk di sebelah Gaara, "Kami sadar itu, dan Gaara sepertinya memutuskan untuk menyerahkan semua keputusan pada para fans. Seandainya pun nanti kami harus berhenti, kami tidak keberatan."

Semua diam memandang Gaara yang memakan biskuit sebagai camilan. Rasanya tidak adil. Baru saja Gaara menemukan dunia yang sempurna untuknya berkarya... apa dunia itu juga akan terengut darinya?

Keheningan itu usai saat suara mobil terdengar memasuki garasi rumah. Pastilah itu Hiashi. Neji pun menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu, "Okaeri."

"Ah—" Hiashi yang baru saja keluar mobil pun membalas sapaan itu, "Tadaima. Sepertinya sedang ada tamu, ya? Pagar tidak terkunci.

"Iya. Sasuke, Naruto dan Sakura datang. Ada Fuyuki juga."

Hiashi pun masuk bersama keponakannya itu. Dia juga menyapa para tamu dan meminta semua tinggal untuk makan malam, lalu Hiashi berpamitan untuk tidur, karena dia menyetir sendiri dari Kyoto.

"Hiashi san kuat sekali menyetir dari Kyoto ke Tokyo. Padahal kalau naik shinkansen kan cuma butuh 2 jam saja." kata Sakura.

"Paman memang seperti itu. Lebih suka melakukan semuanya sendiri." Kata Neji yang kembali duduk di sebelah Gaara.

Akhirnya mereka pun mulai mengobrol santai karena ketiga sahabat Gaara itu tak mau menambah beban pikiran pemuda berambut merah bata itu. Sungguh— Neji sangat bersyukur dikelilingi orang-orang yang begitu mengerti mereka.

.

#

.

Tiga hari sudah Gaara dan Neji ada di rumah keluarga Hyuuga. Dikelilingi kasih sayang yang luar biasa seperti itu membuat Gaara bisa dengan lancar membuat satu lagu yang sejak kemarin menari-nari dalam benaknya. Hanya tinggal beberapa perbaikan di sana sini, dan lagu pun akan selesai sempurna. Gaara juga menolak tawaran Naruto dan Sasuke untuk menyelesaikan lagu ini. Dia bilang ini adalah satu lagu yang mengungkapkan apa yang dia rasakan, sejak dulu, hingga sekarang.

Pintu kamar terketuk saat Gaara sedang sendirian di kamar karena Neji sedang mengajari Hanabi untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Saat pintu terbuka, ternyata yang datang adalah Hiashi. Gaara spontan meletakkan gitar yang dari tadi dia mainkan dengan sembarang nada.

"Permainan gitarmu tetap saja memukau. Sudah lama tak mendengarnya langsung." Hiashi duduk di tatami bersama Gaara. "Bagaimana kemajuan lagu barumu?"

"Sudah hampir selesai." Ujar Gaara.

Hiashi tersenyum, "Kau tahu, banyak karyawanku yang menjadi penggemar Nightshade, dan aku pernah tidak sengaja mendengar kalau sebagian besar dari mereka tidak keberatan dengan pemberitaan yang sedang tersebar." Pria itu menepuk pundak Gaara, "Masih banyak yang mendukungmu. Mereka mencintai musikmu apa adanya... Dan kami mencintaimu apa adanya."

Setetes air mata yang telah ditahan entah sejak kapan, kini mengalir sunyi di wajah Gaara. Air mata yang menjadi wakil dari segala perasaan yang selama ini tersimpan rapat dalam hatinya.

Tanpa ragu, Hiashi mengulurkan tangannya pada Gaara dan memeluk pemuda itu, mememluknya seolah dia tengah memeluk anaknya sendiri. Sebisanya Hiashi ingin memberikan segala kasih sayang yang dia punya pada sosok yang tak pernah mendapatkan perhatian dan cinta dari ayah kandungnya, dari satu-satunya orang tua yang dia punya. Hiashi membiarkan Gaara menumpahkan semua yang terkumpul dalam hatinya. Hiashi hanya bisa memeluk dan berjanji pada dirinya untuk selalu menjaga, selalu melindungi sosok yang telah menjadi bagian yang penting dalam keluarganya.

.

"Paman Hiashi..." Neji berdiri tak jauh dari pintu kamarnya saat Hiashi keluar, "Gaara... bagaimana?"

Hiashi mendekati keponakannya, "Tidak apa-apa, dia sudah lebih tenang sekarang."

"... Maaf. Kami jadi merepotkan paman dengan masalah ini."

"Bicara apa kau ini?" Hiashi menepuk pundak Neji, "Kita keluarga, kan? Masalah kalian, masalah kami juga. Sekarang, bersiaplah untuk makan malam. Hanabi itu selalu saja manja kalau ada kamu di rumah, padahal dia sama sekali tidak pernah minta bantuan padaku kalau ada pekerjaan rumah."

Neji tersenyum dan membiarkan pamannya turun duluan sementara dia masuk ke dalam kamar di mana ada Gaara yang duduk diam di tatami. Wajah pemuda itu tampak sedikit sembab.

"Kau baik-baik saja?" Neji duduk di sebelah Gaara dan meraih jemari pemuda itu, "Sebaiknya kau cuci muka dulu sebelum turun."

Gaara hanya mengangguk.

Neji mengusap kepala Gaara, "Nah, ayo. Sebelum Hanabi menyeretmu turun untuk makan malam."

Sebelum turun, Neji mengantar Gaara ke kamar mandi untuk cuci muka. Lalu mereka pun bergabung dengan yang lain di ruang keluarga yang malam ini berfungsi menjadi ruang makan. Suasana makan malam yang seperti biasa. Semua berusaha membuat suasana yang nyaman dan hangat. Mereka tahu, semakin waktu berlalu, semakin berat beban yang dirasakan Neji juga Gaara.

Selesai makan malam, lagi-lagi Hanabi mengajak semua untuk menonton DVD yang dia sewa sepulang sekolah tadi. Akhirnya yang lain mengerti kenapa mendadak Hanabi jadi rajin menyewa DVD, itu semua untuk menghindari ada yang menonton televisi dan jadi tahu apa saja yang diberitakan media tentang Nightshade.

Lepas jam 11 malam, barulah yang lain bubar dan tidur. Neji menggelar futonnya dan berganti pakaian dengan piyama, "Lagumu sudah selesai?"

"Hampir. Hanya tinggal aransemen akhirnya saja." Gaara duduk di tempat tidur dan memeluk gulingnya.

"Boleh aku lihat liriknya?" tanya Neji.

Anggukan singkat menjadi izin bagi Neji untuk mengambil buku lagu yang tergeletak di meja. Neji pun membuka halaman yang ditandai dengan page marker berwarna hijau oleh Gaara. Di sanalah lirik lagu barunya tertulis, masih kacau dengan segala coretan dan perbaikan di sana sini. Neji membaca lirik itu dengan seksama.

"... Kenapa ya... kok rasanya lagu ini jadi pelampiasan rasa marahmu? Kau merajuk?"

"Tidak."

Neji duduk di futonnya dan terus membaca bait demi bait lagu itu. Apa yang tertulis di lirik itu memang seperti ungkapan dari apa yang dirasakan Gaara saat ini. Ada kemarahan, ada kesedihan, ada keputusasaan. Setelah selesai, Neji mengembalikan buku itu ke tempatnya semula, "Kau kosentrasi saja dengan lagumu. Tadi Asuma-san telepon menanyakan kabarmu. Dia cemas kalau kau sampai sakit. Kurenai-san juga. Bahkan Pein-san juga mengirimkan e-mail, menanyakan kabarmu."

Mendengar itu, Gaara langsung rebahan di kasur, "Aku sudah membuat semuanya jadi cemas, ya?"

"Itu benar. Karenanya kau harus cepat pulih, dan kita tunjukan pada semua kalau semua itu tak mempengaruhi kita." Neji berdiri dan mematikan lampu sebelum menghempaskan diri di futon, "Sudah larut, sebaiknya kita tidur. Oyasumi."

"Mm... oyasumi."

.

Pagi datang membawa satu kejadian yang mengejutkan. Belum lagi jam dinding menunjukkan waktu pukul 8 pagi, Genma sudah datang dengan membawa dua kardus besar yang berisi surat dan kartu pos. Dia bilang, semua ini adalah surat dari penggemar, masih ada tiga kardus lagi di dalam mobil. Kankurou pun membantu menurunkan semua kardus di mobil dan meletakkannya di genkan rumah.

"Banyak sekali. Kau yakin ini untuk Nightshade semua?" tanya Neji.

"Iya. Ini semua yang datang sejak kabar itu beredar," kata Genma, "Asuma-san bilang, tak semuanya berisi hal baik, mungkin juga ada yang mencaci, tapi kau perlu tahu apa yang dirasakan oleh para fans." Setelah menyampaikan pesan dari Asuma dan menolak tawaran Neji untuk sarapan, Genma pun undur diri dari kediaman Hyuuga itu.

Akhirnya, dengan sedikit susah payah, Neji, Kankurou dan Hiashi membawa kardus-kardus itu ke ruang keluarga. Karena hari ini akhir pekan, semua membantu membongkar surat-surat yang berjumlah ratusan itu. Berkaca dari berita-berita tentang artis lain yang sering mendapat surat 'ancaman' yang kadang berisi silet tajam, semua berhati-hati dalam membuka amplop.

Seperti kata Genma, tak sedikit surat yang berisi hal-hal menyakitkan. Tapi yang yang bereaksi heboh justru Hanabi. Gadis itu sepertinya siap merobek dan membakar surat juga kartu pos yang berisi nada hinaan. Gaara sendiri tenang saja membaca surat-surat macam itu, karena kemarahan Hanabi seperti menjadi perwakilan untuknya.

Namun, dari banyaknya surat-surat bernada negatif, masih ada surat penggemar yang menyatakan dukungannya pada Nightshade. Rata-rata mereka bilang kalau mereka menyukai musik milik Nightshade. Andaipun idola mereka itu memiliki satu hal yang tidak biasa, mereka akui mereka terkejut, tapi mereka juga sadari kalau setiap orang berhak memilih jalan mereka sendiri.

Surat-surat macam itulah yang membuat Gaara semakin yakin dan semakin siap untuk melaksanakan press conference. Maka setelah sarapan, Gaara pun meminta pada Neji supaya menghubungi Asuma untuk mempersiapkan semua.

"Yakin sudah siap?" Neji menemani Gaara ke kamar untuk 'bersemedi' sejenak.

"Semakin lama ditunda jadinya pasti semakin parah." Gaara duduk di tempat tidur, "Aku ingin menyelesaikan semua ini secepat mungkin."

Neji mengusap pipi Gaara dan memberi pemuda itu satu kecupan singkat, "Asuma san bilang dalam dua hari semua akan siap. Jadi besok Genma-san akan menjemput kita untuk kembali ke mansion."

"... Hanabi pasti kesal kalau kita kembali ke mansion." Gaara bersandar pada Neji, "Tapi aku tidak mau menyusahkan mereka lebih dari ini."

.

.

Sesuai dengan jadwal yang sudah di susun, hari ini Gaara, bukan, tapi Nightshade, siap untuk mengadakan press conference di hall utama gedung Konoha PH. Asuma selaku presdir pun ikut hadir bersama Pein sebagai penanggung jawab pengerjaan semua album Nightshade. Sebenarnya Asuma meminta Neji tak usah ikut ke depan, tapi Neji berpendapat lain. Dia tidak mau sembunyi dan membiarkan Gaara menyelesaikan semuanya sendiri dihadapan media dan juga perwakilan dari fans club Nightshade.

Maka jadilah mereka berempat menuju ke meja panjang yang sudah disiapkan lalu duduk berjajar. Kilatan lampu blitz dari kamera yang dibawa para wartawan membuat mata terasa panas.

Asuma pun segera membuka press conference itu dengan mengangkat sebelah tangannya untuk menenangkan para wartawan dan juga wakil dari penggemar Nightshade.

"Selamat pagi. Terima kasih atas kedatangan kalian semua kemari. Seperti yang kalian semua inginkan, hari ini, Nightshade akan menjawab semua pertanyaan yang kalian ajukan." Ujar Asuma, "Silahkan bertanya dengan mengangkat tangan kalian. Nightshade akan menjawanya secara langsung."

Maka satu persatu pertanyaan pun mulai diajukan oleh para wartawan, juga para fans. Gaara menjawab semua itu dengan lugas, tak ragu dan apa adanya tanpa menyembunyikan apapun. Tak jarang dia harus menjawab pertanyaan yang bersangkutan dengan keluarganya. Pertanyaan macam itu banyak datang dari para fans yang masih tak yakin kalau Nightshade adalah Gaara, putra pemilik Sabaku Corp. Masih ada sakit di hati Gaara tiap dia harus mengorek lagi ingatannya tentang ayah kandungnya. Ayah yang menganggapnya hanya sebagai beban dan kesialan. Tapi Gaara bisa menjawab semua dengan tenang, karena ada Neji di sampingnya. Karena selalu ada Neji yang menjaganya.

Namun bukan hanya pertanyaan-pertanyaan 'bersahabat' yang dia dapat. Banyak juga yang memojokkannya dengan pertanyaan seputar hubungan asmaranya dengan Neji.

"Dengan status yang seperti itu, apa anda tidak takut mengecewakan dan akhirnya ditinggalkan oleh para fans?" tanya seorang wartawan sebuah majalah.

Gaara menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan itu, "Aku sadar sudah mengecewakan banyak pihak. Para staff, teman-teman press, juga penggemar Nightshade. Tapi inilah jalan yang aku pilih. Neji telah memberi semua yang aku butuhkan. Cinta, perlindungan, rasa aman... dan yang terpenting, Neji memberiku alasan untuk terus bertahan hidup." Tangan Gaara menggenggam erat tangan Neji di bawah meja, "Aku tidak menyalahkan siapapun pada apa yang sudah terjadi padaku. Justru sebaliknya, karena semua yang telah menimpaku, aku tahu kalau masih ada orang yang mencintaiku. Aku jadi tahu, kalau hidupku ini masih berarti."

Jeda sejenak dalam keheningan saat Gaara vakum dalam suaranya. Neji memandang pemuda itu dengan cemas, terlebih saat dia merasakan getaran dari jemari Gaara yang bertaut dengan jemarinya. Asuma dan Pein juga memandang dalam diam, sosok pemuda yang telah memberi warna baru pada dunia musik yang mereka geluti sejak dulu.

Sunyi itu berakhir saat Gaara kembali bicara, "Aku... meski aku harus meninggalkan profesi ini, tapi aku tidak akan... tidak akan pernah bisa mengakhiri apa yang ada antara aku dan Neji."

Untuk beberapa saat, senyap kembali berdering di ruangan itu. Statement Gaara barusan ternyata cukup mengejutkan orang-orang yang hadir di sana. Tak banyak artis muda yang baru saja meraih kesuksesan, bersedia mundur begitu saja. Biasanya artis-artis yang sedang ada di puncak pasti akan melakukan apa saja untuk membantah berita yang merugikan mereka. Namun ternyata, Nightshade sama sekali berbeda.

"Tidak... jangan berhenti!" seru seorang gadis yang ada di bagian tengah dari tempat duduk yang tertata di ruangan itu, "Jangan berhenti bermusik. Kami menyukai musikmu, Nightshade."

Setelah satu suara itu, suara-suara lain yang mendukung mulai terdengar. Mereka tak ingin Nightshade berhenti. Mereka menyatakan dukungan supaya idola mereka itu tetap berkarya dan mencipta lagu yang luar biasa. Sungguh— dukungan itu membuat beban yang terasa begitu berat di pundak Gaara seolah hilang begitu saja.

Akhirnya press conference itu pun berakhir dengan selamat. Asuma menyatakan kalau Nightshade akan tetap menjadi bagian dari Konoha PH dan akan meneruskan semua jadwal yang tertunda, apapun yang terjadi.

Usai acara yang cukup melelahkan secara mental itu, Asuma memberi waktu istirahat beberapa jam pada Gaara dan Neji sebelum membahas langkah kedepan untuk proyek-proyek yang tertunda. Neji mengajak Gaara untuk bersantai di cafetaria Konoha, seperti usulan Pein, sebisa mungkin justru jangan hindari tempat ramai. Kalau mereka menghindar, artinya mereka takut. Pein juga memberi saran untuk sedikit 'mengerjai' para wartawan yang pasti masih berkeliaran di sekitar gedung ini.

"Tak percaya rasanya Pein-san bisa memberi saran seperti itu." kata Neji, menyeruput isi cangkir kopinya.

Gaara duduk bersandar dan mengeluarkan ponselnya.

"Mau kirim e-mail ke siapa?"

"Sasuke. Aku butuh bantuan dengan lagu baruku."

Neji memandang pemuda di hadapannya itu, "Lagu yang baru selesai kemarin itu?"

"Bukan." Gaara menyimpan lagi ponselnya, "Baru saja terpikir satu tema lagu."

Mendengar itu, Neji menghela nafas, "Kau ini— benar-benar pemusik sejati. Di mana saja bisa dapat ide lagu." Dia menghabiskan separuh isi cangkirnya, "Kau tahu..." dia mendekat pada Gaara dan berbisik padanya, "Memang masih ada wartawan yang memata-matai kita. Bagaimana kalau kita turuti kata Pein-san? Kita kerjai mereka sedikit?"

"... Terserah kau saja."

Jadi akhirnya Neji menggeser tempat duduknya hingga bersebelahan dengan Gaara, dan mereka berbincang dengan jarak yang kalau di lihat dari jauh, akan tampak sangat intim sekali.

Di pintu cafetaria, Asuma dan Pein berdiri memandang dua 'anak asuh' mereka itu.

"Tangguh, ya? Baru kali ini ada yang berani menantang wartawan seperti itu." kata Asuma sambil menyalakan sebatang rokok.

"Kalau tidak tangguh, sudah aku tendang mereka dari studio." Ujar Pein seraya melipat tangan di dadanya, "Aku yakin kita akan mendapat satu album yang menakjubkan setelah ini."

"Ya— itu harapan semua direktur yang bergerak di bisnis ini."

.

#

.

Setelah semua gosip dan berita yang berkaitan dengan Nightshade, entah itu masa lalunya atau tentang hubungan percintaannya, mulai dianggap dalam taraf 'tenang', Asuma dan Pein memutuskan kalau peluncuran photobook Nightshade akan segera dilaksanakan. Begitu juga dengan pembuatan album single baru yang berisi dua lagu. Semua jadwal memang melenceng 1-2 bulan dari waktu yang direncanakan, tapi bisnis tetap bisnis. Ada jatuh dan bangunnya. Kalau cepat menyerah, tidak akan sukses. Karena itu meski masih ada pemberitaan yang berkesan negatif, proyek Nightshade akan tetap dilanjutkan.

Maka hari-hari sibuk Gaara dan Neji pun kembali. Apalai sudah mulai ada panggilan show di beberapa televisi dan bahkan permintaan untuk mengadakan konser di beberapa daerah. Sepertinya setelah gosip yang melanda, fans Nightshade tak berkurang sama sekali.

"Ahh~ akhirnya selesai." Gaara bersandar di jok belakang mobil yang melaju mengantarnya pulang dari sebuah stasiun televisi tempatnya bernyanyi untuk mengisi sebuah acara. "Aku mau tidur..."

Genma tertawa, "Pekerjaan hari ini sudah selesai semua. Setelah ini tidurlah sampai puas."

Gaara menggerutu dan Neji tersenyum saat pemuda itu bersandar padanya, "Besok pagi kita tidak ada jadwal. Kau bisa tidur sesukamu. Tidak akan aku ganggu."

Tak ada jawaban.

"Dan selaginya aku bicara, dia sudah pulas."

Genma tertawa lagi.

.

Sampai di mansion mereka, Neji membantu Gaara, yang separo tidur, untuk duduk di sofa sementara dia kembali ke dekat pintu untuk menyalakan lampu. "Hei, tukang tidur. Ayo bangun! Kau belum makan malam! Makan dulu, baru tidur."

Gaara menjawab dengan gumaman tak jelas. Sepertinya dia benar-benar kelelahan. Neji mendekati sofa dan memeriksa suhu badan Gaara. Tidak demam. Jadi cuma lelah saja. Lalu dia melepas alat bantu yang dipakai Gaara.

"Mandilah dulu." Katanya sambil menepuk pipi Gaara, "Aku siapkan makan malam."

"... mau..."

"Ha?"

"Tidak mau... tidur..."

Neji memaksa Gaara berdiri, "Kau bisa sakit kalau tidur dengan perut kosong. Dan aku tidak mau Hanabi mengomeli aku lagi. Dia itu lebih cerewet dari Temari-san."

Akhirnya, Gaara pun menyerah dan memaksakan diri untuk bangun.

"Bagus. Mandilah dulu!"

Gontai, Gaara pun masuk ke kamar mandi. Sepertinya shower pilihan bagus untuk menyegarkan diri. Kalau pakai ofuro, yang ada dia pasti ketiduran lagi. Berdiri di bawah siraman air shower dingin membuat kantuknya perlahan menghilang. Seminggu ini dia seperti kerja rodi. Dari pagi sampai malam, ada saja kerjaan yang menunggu. Waktunya bersama Neji jadi berkurang. Dia tidak suka itu.

"Gaara— aku bawakan pakaian ganti. Kau sudah selesai atau belum?" suara Neji terdengar dari depan pintu ruang shower, "Aku letakkan di sini, ya?"

Gaara menyambar handuknya dan segera keluar. Itu membuat Neji sedikit kaget.

"Kau ini mendadak keluar begitu. Mengejutkan saja." Neji menyambar handuk kecil dari rak di depan ruang shower dan mengeringkan rambut Gaara, "Keringkan yang benar!"

Sudah begitu, Gaara malah bersandar pada Neji.

"Apa? Bertingkah seperti anak manja begini?"

"Biar saja. Aku memang manja."

Jawaban yang agak mengejutkan, mengingat Gaara paling tidak suka disebut anak manja. "Kau ini kenapa? Mencoba menggodaku?"

Gaara menjawabnya dengan memeluk Neji lebih erat lagi.

"Kesempatan langka. Sepertinya kalau besok aku ikut undian, aku pasti menang grand prize." Tak becanda lebih lama lagi, Neji pun mencium bibir Gaara dengan lembut, menikmati aroma pemuda itu yang selalu memabukkan baginya.

Gaara sendiri memejamkan mata dan membiarkan Neji terus menciumnya. Sejenak, mereka larut dalam sentuhan yang tarafnya masih ada di tingkat kasual bagi mereka. sentuhan biasa yang selalu mereka bagi dari hari ke hari.

Tapi mereka berdua tahu kalau mereka sama-sama mengingikan yang lebih dari ini. Maka keduanya pun menuju ke kamar tidur mereka untuk menikmati satu malam yang istimewa.

Sampai di kamar, Gaara membiarkan Neji menyingkirkan piyama handuk yang dia pakai. Gaara juga tak bersuara saat Neji membaringkannya di kasur yang empuk hingga dia merasakan setuhan bibir Neji di lehernya. Tubuh Gaara bereaksi dengan sendirinya merasakan tiap gerakan tangan Neji yang menyusuri permukaan kulitnya, membawa satu sensasi yang sangat Gaara suka.

Mata lavender Neji memandang sosok Gaara yang takluk dalam pelukannya. Dia tak bisa membayangkan sesuatu yang lebih indah dari ini, sesuatu yang lebih sempurna dari ini. Suara Gaara tetap menggema sebagai melodi terindah yang pernah dia dengar. Neji meleburkan jiwa dan raganya pada Gaara yang tak mungkin bisa dia lepaskan sampai kapanpun. Sosok dalam pelukannya ini adalah satu anugrah luar biasa yang pernah diterima oleh Neji.

Gaara mencengkram kemeja yang masih dikenakan Neji saat pemuda itu membawa dirinya melayang tinggi. Sentuhan Neji seperti belenggu nyaman yang menghimpitnya dalam kehangatan luar biasa. Membutakan mata dan melumpuhkan otaknya. Menyerah pada instingnya.

Mereguk semua yang ditawarkan oleh Gaara, akhirnya Neji menyingkirkan semua yang menghalangi mereka dan mulai meniti jalan menuju dunia yang hanya milik mereka. satu dunia yang tak bisa dimasuki oleh siapapun. Satu dunia yang sempurna, hanya untuk mereka.

Tak ada kata yang terucap karena mereka tak menemukan satu kata bermakna untuk mengungkap apa yang mereka rasa saat ini. Yang ada hanya kebersamaan mereka dalam kesatuan mutlak tak terbantah.

Jemari mereka bertaut saat gelombang dahsyat yang menghanyutkan mereka perlahan mulai surut dan membawa mereka kembali pada realita.

Neji tersenyum dan mencium bibir Gaara. Tak ada bisikan kata cinta atau rayuan, karena sel-sel tubuh mereka beresonansi dalam irama yang mengutarakan semua rasa yang tercipta di antara mereka saat itu.

.

"Kau masih bangun?" Neji mengusap rambut Gaara, "Makanannya jadi terabaikan."

Tak ada jawaban dari Gaara. Pemuda berambut merah bata itu hanya bergelung nyaman dalam pelukan Neji. Dia paling suka suasana seperti ini dimana dia bisa merasakan kehangatan Neji di sekujur tubuhnya.

"Yakin kau tidak mau makan malam?"

"Nanti saja. Lagian kan belum kau siapkan juga." kata Gaara, makin merapat pada Neji.

Neji memeluk Gaara dan mencium puncak kepala pemuda itu, "Hari ini kau tumben ssekali. Biasanya aku yang harus merayumu dulu."

"Ganti suasana." Kata Gaara.

Neji membenahi selimut Gaara, "Kau di sini dulu. Aku siapkan makan. Aku lapar sekali."

"... Aku mau makan takoyaki."

Oke, satu permintaan yang aneh dari Gaara seperti biasanya, "Kau pikir ini jam berapa? Ada-ada saja." kata Neji, "Besok aku belikan kalau sudah selesai rekaman."

Kemudian Neji pun beranjak dari tempat tidur, memakai pakaiannya sembarangan dan kemudian keluar kamar. Tak mau sendirian di dalam kamar, Gaara pun menyusul Neji keluar dengan memakai lapis selimut tipis sebagai 'pakaian'nya.

"Kau mau makan apa? Ada sup instan... pasta instan... emm... gyoza beku." Neji membuka kulkas, "Sepertinya kita cuma punya makanan instan saja."

"... Apa saja yang cepat. Ku rasa aku mau mandi lagi."

Maka setelah Gaara selesai mandi –lagi- dan Neji selesai membuat makan malam seadanya, mereka berdua menikmati santapan lewat tengah malam itu di sofa depan sambil menonton siaran televisi. Di luar jendela, tampak lampu-lampu menghiasi wajah kota Tokyo yang seolah tak tidur. Warna-warninya menghiasi kegelapan malam yang menyenangkan itu.

Televisi menyiarkan drama malam yang jalan ceritanya sama sekali tidak dimengerti oleh Neji dan Gaara, tapi tak ada yang berniat memindah chanel. Toh tak ada yang niat menonton, hanya sekedar untuk pengusir sepi saja.

"Setelah ini, kita bakal jarang dapat waktu santai seperti ini lagi." Neji meletakkan piringnya di meja dan merangkul pundak Gaara, "Rasanya ingin liburan beberapa hari sebelum melaksanakan semua jadwal konser dan pekerjaanmu yang lain."

"Kalau perlu beberapa bulan." Gaara masih menghabiskan pasta di piringnya, "Kapan ada hari kosong lagi?"

"Seingatku sekitar 3-4 minggu lagi."

Ada erangan protes dari Gaara, "Kenapa responnya meledak begini sih? Malah rasanya para fans perempuan itu makin histeria saja."

Neji tertawa pelan, "Bagus kan. Tandanya pesona Nightshade tetap tidak tertandingi. Bahkan penjualan album-album lamamu juga meningkat lagi, mengalahkan album baru di Moonlite itu."

"Bisa kan kalau kau tidak membahas dia. Bikin sebal saja." Gaara meletakkan piringnya bertumpuk dengan piring Neji, "Sudah begini, jadi tidak mengantuk lagi."

"Kau benar." Kata Neji, "Lagipula aku mulai gerah nih. Apa aku mandi saja, ya? Kau kan sudah mandi dua kali."

"Salah sendiri tidak mandi dari tadi."

Lalu Neji berdiri dan mencium bibir Gaara sekilas, "Karena kau yang menganggur, kau yang cuci piring, ya?"

Gaara hanya mengangguk dan membiarkan Neji ke kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup, barulah Gaara beranjak untuk mencuci piring. Dinginnya air membuatnya sedikit merinding karena ruangan itu dingin karena AC.

Setelah selesai di dapur, Gaara kembali ke depan sofa membawa sebungkus potato chip untuk cemilan. Besok rekaman terakhir lagu single Nightshade. Semoga saja sehari selesai, jadi dia punya waktu santai lagi.

Kemudian begitu Neji keluar dari kamar mandi, Gaara pun mematikan televisi dan menyusul Neji ke kamar. Mereka butuh tidur sekarang. Besok siapa yang tahu Pein akan 'menyiksa' mereka sampai berapa lama. Bisa-bisa sampai tengah malam karena jadwal Nightshade besok memang hanya rekaman. Tapi setidaknya besok ada Sasuke dan Naruto, jadi yang kena kritikan pedas dari Pein bukan dia saja.

Berbaring di sebelah Neji, Gaara pun memejamkan matanya, membiarkan Neji memeluknya erat dan membisikkan 'oyasumi' sebelum akhirnya mereka terlelap dalam mimpi yang indah.

.

#

.

Tell me what you want to hear

Something that delight those ears

Sick of all the insincere, I'm gonna give all my secrets away

This time, don't need another perfect lie

Don't care if critics ever jump in line

I'm gonna give all my secrets away

Gaara meletakkan gitarnya saat Pein memberi tanda OK dari balik bilik rekaman. Setelah hampir 6 kali take, akhirnya tanda OK keluar juga. Lama-lama pita suara Gaara bisa putus kalau bernyanyi marathon seperti ini. Dia pun keluar dari bilik kaca untuk menghampiri Pein.

"Yang ini sudah bagus. Sudah disimpan dan setelah istirahat kita lanjutkan lagu berikutnya." Kata Pein. "Jam berapa Sasuke dan Naruto akan datang?" tanyanya pada Konan.

"Sekitar 1 jam lagi. Kalau tidak terlambat."

"Aku buat mereka menyesal kalau berani terlambat." Kata Pein dengan nada serius. Lalu dia pun memberi istirahat untuk makan dan sekedar menghirup udara segar di luar.

Neji mengajak Gaara makan di cafetaria. Mau makan di luar pun malas karena pekerjaan belum selesai. Setelah memesan makanan dan juga camilan, mereka berdua duduk di dekat jendela kaca yang menghadap ke taman samping gedung Konoha.

Belum lagi pesanan mereka datang, dari pintu cafetaria, muncullah Sasuke dan Naruto yang langsung menghampiri mereka.

"Hei, cepat sekali kalian datang." Kata Neji, membiarkan dua sahabatnya itu duduk.

"Tidak mau dimarahi Pein-san." Kata Naruto sambil tertawa, "Lagipula si temee ini lagi coba motor barunya."

Gaara memandang Sasuke yang sedang melepas jaketnya, "Akhirnya kau beli motor juga? Itachi-san mengizinkan?"

"Diizinkan tidak diizinkan, aku tetap akan beli. Toh uangku sendiri." Kata Sasuke yang baru duduk setelah melesakkan jaketnya ke dalam ransel. "Bagaimana rekaman lagu pertamanya?"

"Sukses setelah 6 kali take." Jawab Neji, "Gaara bilang dia mau hemat bicara."

Naruto tertawa mendengar itu, "Gaara sih dari sananya memang sudah hemat bicara. Mau hemat gimana lagi?"

Saat pelayan datang mengantarkan pesanan, Sasuke memesan makanan untuknya dan Naruto. Mereka berempatpun menikmati santapan itu sambil mengobrol. Banyaknya sih membahas tentang Sasuke yang akhirnya mulai melirik pekerjaan di bidang hiburan seperti Gaara, meski dengan peran sebagai penulis lirik. Naruto juga sering menerima permintaan untuk membuat aransemen sebuah lagu dari artis-artis keluaran Konoha. Pekerjaan yang menyenangkan untuk mereka karena musik adalah hobi mereka. Lagi pula pekerjaannya termasuk santai dengan pendapatan yang lumayan.

Kemudian mereka pun kembali ke studio sebelum waktu istirahat habis. Di tengah jalan, Neji melihat sosok Nagato yang ada di resepsionis, Neji pun menghampiri penulis novel itu.

"Konnichiwa, Nagato-san." Sapanya.

Nagato lumayan terkejut dan memandang Neji, "k-Konichiwa."

Neji tersenyum, "Mencari Pein-san? Kami mau ke studio, ikut saja dengan kami."

Saat itu Nagato memandang Gaara yang ada tak jauh di belakang Neji, "B-baiklah. Terima kasih."

Akhirnya berlima mereka menuju ke studio. Sepanjang jalan, Gaara memperhatikan sosok Nagato, dia masih sedikit tidak percaya kalau nagatao adalah penulis novel Kaze no Koe yang sangat dia suka. Bagaimana mungkin dari orang pemalu dan kikuk macam Nagato ini bisa tercipta untaian kata yang begitu indah sarat makna. Namun setelah Gaara baca-baca lagi, ternyata kiasan dalam novel itu merujuk pada Nagato, Pein dan Konan. Tentang persahabatan dan kebersamaan mereka. Karena itulah Gaara selalu merasa hangat setiap membaca novel itu. mungkin bagi Nagato, menulis itu sama seperti mencipta lagu dan bernyayi bagi Gaara. Cara untuk menuangkan perasaan mereka.

Akhirnya tiba di studio dan seperti biasa, Nagato selalu ada di sudut ruangan, berkutat dengan laptopnya. Kadang ditemani Konan atau bahkan Pein kalau sedang break sebentar. Sampai sekarang, hubungan antara mereka bertiga tetap jadi misteri bagi Gaara.

Rekaman berjalan seperti biasa. Susah sekali mendapat approve dari Pein. Tapi tak ada yang megeluh, karena tak ada yang meragukan kemampuan Pein dalam memproduksi sebuah lagu yang layak diedarkan.

Neji sendiri sempat menyelinap keluar dengan niat membeli takoyaki untuk semua yang ada di studio. Entah karena terlalu serius mengerjakan lagu atau apa, tak ada yang sadar Neji keluar sampai dia kembali membawa dua plastik besar berisi banyak porsi takoyaki dan juga minuman.

Tak lama Hanabi menelepon dan mengatakan kalau Hiashi meminta mereka semua, Neji, Gaara, Sasuke dan Naruto untuk datang ke rumah untuk syukuran karena Hinata dan Kiba akan segera bertunangan dan menikah tak lama setelahnya. Kabar itu tentu saja menggembirakan karena akhirnya Kiba berani juga menghadapi Hiashi demi meminang gadis pujaannya.

Begitu Pein mendengar kabar itu, akhirnya dia memberi toleransi dan mengatur ulag jadwal rekaman menjadi esok hari dengan catatan semua akan bekerja full time sampai lagu terakhir selesai.

.

Di rumah kediaman Hyuuga, suasana benar-benar menyenangkan. Hinata berdiri bersanding dengan Kiba. Wajah gadis itu tersipu malu, membuatnya makin tampak manis. tak heran Kiba juga tampak malu-malu di samping gadis yang sudah dia kencani lebih dari 3 tahun itu. Hanabi antara rela tidak rela kalau kakak kesayangannya akan diambil oleh Kiba. Tapi karena ini demi kebahagiaan sang kakak, Hanabi pun mengalah.

Hiashi sendiri tak begitu banyak komentar, toh ini pilihan Hinata, putri sulungnya itu sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab pada keputusannya. Karenanya dia hanya bisa memberikan restu dan doa untuk kebahagiaan anaknya itu.

Malam itu menjadi malam pesta yang meriah. Temari bahkan dibebaskan dari tugas memasak karena Hiashi sudah memesan beragam jenis makanan dari restoran. Jadi malam itu mereka memanjakan diri dengan suasana ceria dan makanan enak. Dalam kehebohan pesta, Naruto sempat menggoda Temari, bertanya kapan dia akan menikah dengan Shikamaru. Itu bersambut dengan wajah Temari yang merah seperti apel matang. Tawa pun berderai riang di sana. Sungguh satu malam yang luar biasa.

Lepas jam 10 malam, Kiba mengundurkan diri dari kediaman keluarga Hyuuga. Tanggal pertunangan sudah ditentukan, minggu pertama di bulan Desember. Hanabi sudah memaksa pada Hinata supaya dia boleh memilihkan gaun yang akan dipakai untuk pesta pertunangan nanti.

Hari sudah berganti saat semua pamit tidur. Sasuke dan Naruto menempati ruang tidur tamu dan meminjam piyama Gaara juga Neji. Temari dan Kankurou juga sudah kembali ke paviliun mereka.

Gaara dan Neji duduk berdua di kasur di dalam kamar.

"Mengejutkan sekali ya. Ternyata Kiba punya nyali juga." Gaara memeluk bantalnya.

"Kalau tidak punya nyali, tidak akan aku akui sebagai adik ipar." Neji mengurai rambutnya, "Ayo tidur. Sudah larut sekali." Neji hendak berdiri untuk mengambil futon. Tapi Gaara menahannya, "Apa?"

"Disini saja, berdua."

Neji menghela nafas, "Kenapa kau jadi suka menggodaku begini sih?"

"Siapa yang menggodamu. Aku cuma mau tidur berdua. Kau saja yang mesum."

"Jadi sekarang aku ini orang mesum?" Neji berkacak pinggang, "kau menyebalkan sekali."

Tak peduli, Gaara pun berbaring di sisi kasur yang dekat dengan tembok, "Oyasumi."

Akhirnya Neji pun rebahan di sebelah Gaara dan memeluk pemuda itu, "Oyasumi."

Suara malam mengisi kesunyian yang nyaman di rumah itu. Semua terlelap dalam buaian mimpi indah. Semoga esok hari menjadi hari yang lebih menyenangkan hari ini.

"Neji..."

"Mmm?"

"Kalau megharapkan kebahagiaan yang lebih dari ini, rasanya bersalah, ya?"

Neji merapatkan pelukannya, "Kau bicara apa? Setelah ini masih banyak kebahagiaan yang menunggu kita. Jadi persiapkan dirimu."

Gaara tersenyum dalam pelukan Neji. Ya— dia selalu tahu kalau hanya Neji yang bisa memberinya kebahagiaan melebihi apa yang dia inginkan. Hanya Neji yang bisa membuatnya merasa aman meski masalah datang bertubi-tubi. Hanya Neji yang selalu bisa meyakinkan dirinya bahwa dia berharga, bahwa dia layak dicintai dan mencintai. Dan hanya bersama Neji, Gaara menemukan kebahagiaan yang sempurna.

Saat itu Neji menggenggam jemari Gaara, "Mungkin tak akan ada cincin yang melingkar di jarimu, atau upacara yang layak. Tapi kau bisa yakin, simbol macam itu tak akan pernah cukup untuk mewakili perasaanku padamu, Gaara."

"Aku yakin itu."

Satu ciuman manis mereka bagi dalam hening. Kemudian, bersama mereka memejamkan mata, meikmati kehangatan berada dalam pelukan orang yang mereka cintai.

Mungkin jalan ke depan tak semulus harapan. Mungkin masih ada kerikil dan duri tajam yang menyertainya. Tapi selama ada orang yang bisa kau percaya di sampingmu, semua akan menjadi satu kenangan yang tak terlupakan. Segala sakit yang terasa akan menjadi alasan untuk terus melangkah maju, karena kau tahu... kalau kau tidak pernah sendiri.

xoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxoxoxo

THE END

oxoxoxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxox

Akhirnya... setelah terabaikan sekian tahun, saya berani menamatkan fic ini. maaf kalau hasil akhirnya mengecewakan, maaf kalo lemonnya pendek (yakin kalo pasti banyak yg protes), maaf kalo cerita ini mulai nyerempet jadi sinetron #Orz

Makasih buat semua yang udah ngikuti serial ini mulai awal sampai akhir. Selalu memberi dukungan dan setia menteror saya, juga selalu memberi masukan kalau ada kesalahan yang saya lakukan #Peluksemua Bagi seorang author macam saya ini, reader adalah segalanya. Suer. Ga boong XDD

Sekali lagi, berat mengakhiri fic ini, tapi ada awal ada akhir. Dan semoga ini menjadi langkah awal supaya aku juga berani untuk meneruskan dan menyelesaikan hutang fic aku di fandom ini #Orz

(Lagu yang dipakai adalah lagu SECRET milik One Republic)