My Baka Kouhai

Inspiration By: Nisa's Baka Kouhai

NARUTO © Masashi Kishimoto

My Baka Kouhai © anak v.s bunda

Baka Kouhai © milik Allah. Bukan milik Nisa. :'( -akhirnya ngaku juga-

Warning :Sedikit OOC, AU, LIME (?)

A/N:

Para senior : Hyuuga Neji, Hyuuga Hinata, Rock Lee, Inuzuka Kiba, Tenten, Aburame Shino.

Para junior : Uzumaki Naruto, Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Yamanaka Ino, Nara Shikamaru, Akimichi Chouji.

Last Story:

Pemuda pirang itu kemudian menarik napas, mencoba memberanikan diri untuk memulai langkah awal, "Sakura…."

-

.

Hinata duduk di salah satu bangku di dalam kelasnya. Matanya menatap kosong papan tulis yang berada di depan kelas. Ingin rasanya ia melihat senyum khas Naruto yang biasa Naruto berikan kepadanya. Tak bisa dipungkiri, ia rindu akan kehadiran Naruto. Tanpa ia sadari, butiran air mata mulai berjatuhan dari mata lavendernya.

"Hei, Hinata!" seseorang menepuk pelan pundak Hinata. Membuatnya terkejut dan sedikit terlonjak dari duduk. Dengan refleks, ia menghapus air mata yang masih bersisa di pipinya, hingga menjadi jejak tipis yang mulai mengering.

Hinata menoleh dan mendapati pemuda dengan rambut cokelat berdiri di hadapannya, "Uhm.. Kiba.. errr- Kau mm…mmembuatku terkejut," gadis itu lalu membetulkan posisi duduknya.

Kiba mengernyit sejenak. Menelusuri wajah Hinata dan menemukan jejak air mata disana, "Apa yang kau tangisi, heh?" tanyanya lalu ikut duduk di sebelah Hinata.

Hinata menggigit bibirnya, "Errmm.. A-aku… Aku hanya sedikit ngantuk," ia menjawab lirih seraya mencoba tersenyum meski tahu yang muncul justru ringisan.

Kiba terdiam lalu menghela napas, "Kau nggak ke lapangan?"

"Mmm.. Aku sedikit nggak enak badan." Jawab Hinata sekenanya, menggeser sedikit duduknya dari Kiba.

Sekali lagi Kiba mengernyit. Tampak tak yakin dengan jawaban Hinata barusan, "Masa?" ia lalu menempelkan kepalanya dahi Hinata untuk memastikan. Kini, antara wajahnya dan Hinata hanya berjarak beberapa senti., membuat semburat merah mulai muncul di pipi Hinata. Gadis itu menunduk menyembunyikan rona di wajah dan itu membuat jaraknya dan Kiba kembali seperti semula. Mendadak, situasi jadi tak nyaman. Hening yang seharusnya damai, justru membuat mereka ingin lari dari tempat masing-masing.

"Hmm.. Mau ke taman, nggak? Disini sumpek, nih!" Kiba kemudian bersuara. Memecah kesunyian tak mengenakkan itu karena dia sudah merasa risih.

"Errr.. B-bolehh..," sahut Hinata menyanggupi. Masih dengan rona kemerahan bertengger manis di wajahnya.

-

Di waktu yang sama, Naruto berusaha berbicara kepada Sakura. Berkali-kali ia memanggil gadis berambut pink itu. Berharap kalau ia akan menoleh. Namun Sakura seolah tuli-atau menulikan telinganya- dan menganggap Naruto tak ada.

"Sakura…," kini Naruto berhasil menggapai pergelangan tangan Sakura. Ia baru akan bicara lagi ketika matanya menangkap pemandangan aneh yang mampu mengiris hatinya.

Gadis berambut indigo. Seorang remaja laki-laki dengan tato merah di kedua pipi. Bergandengan tangan. Dan sang gadis terlihat ceria sekali.

Mata Naruto terbelalak. Ia terpaku sejenak ditempatnya, bahkan saat Sakura sudah berbalik dan bertanya padanya, "Apa?"

Pemuda pirang itu masih tertegun, "Emm.. Nggak jadi, deh! Nanti saja!" dan ia pun segera berlari pergi meninggalkan Sakura. Meninggalkan kegiatan MOS yang baru saja akan dimulai untuk mencari mereka. Menyusul mereka dan melihat dengan mata kepala sendiri.

Hinata dan Kiba.

Ia terus berlari memeriksa sekitar. Namun tak ditemukannya juga apa yang ia cari. Meski begitu, Naruto terus mencari.

.

'Kemana perginya mereka?'

.

-

Hinata terduduk lesu di bangku taman belakang sekolah. Wajahnya penat, ia tak berminat berbicara pada siapa pun. Termasuk pada Kiba. Pertanyaan pemuda itu pun hanya ia jawab seadanya saja.

"Hinata.. Kau baik-baik saja, kan?" Kiba terlihat cemas saat menatap raut wajah Hinata yang lesu bukan main.

Hinata hanya mengangguk lemah. Kepalanya terasa pusing, pikirannya penat. Ia hanya ingin tenang…

Kiba menghela napas, "Apa kau punya masalah? Cerita aja.. Siapa tau aku bisa bantu kau..," ia bertanya seraya tersenyum pada Hinata. Berusaha meyakinkan kalau ia bisa dipercaya.

Hinata memejamkan matanya, "Aku tak apa.. jangan khawatir." Gadis itu kemudian bersandar kursi taman yang kini didudukinya. Merasakan angin sepoi-sepoi yang bertiup perlahan membelai wajahnya. Ia mulai merasa tenang sekarang.

Kiba mendengus, ia merogoh kantong jaketnya, "Ini makanlah. Siapa tahu bisa merilekskan pikiranmu," katanya sambil memberikan beberapa permen mint kepada Hinata. Gadis bermta lavender itu mengambil permen tersebut dengan harapan apa yang dikatakan Kiba bisa benar terjadi.

Angin kembali berhembus. Menerbangkan beberapa helai rambut sebahu Hinata, membuat poninya berantakan. Dalam diam Hinata membenarkan kembali posisi anak rambutnya. Dalam pikiran ia mulai menimbang-nimbang, apa ia harus bertanya atau tidak.

Tapi akhirnya ia memilih untuk bertanya. Ia pikir, Kiba bisa dipercaya.

"Kiba…," Hinata menepuk pundak Kiba yang terlihat termenung. "Apa kau tahu apa itu cinta?" ia melanjutkan.

Kiba mengerutkan alis. Tampak masih belum mengerti karena ia baru sadar dari pikirannya sendiri. "Maksudmu?"

"Yah.. Apakah kau tahu apa yang dimaksud cinta itu? Belakangan ini kata itu selalu menghantui pikiranku…," tutur Hinata memperjelas maksudnya.

Kiba terdiam sejenak. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata, "Kau ingin tahu apa yang dinamakan cinta itu?"

Hinata menjauh sedikit, "Ehmm.. Kalau kau tak keberatan," ujarnya perlahan. Sedikit jengah dengan kelakuan aneh Kiba yang tak seperti biasanya. Tiba-tiba sebuah firasat buruk entah kenapa mulai memenuhi hatinya.

Kiba sempat tersenyum-menyeringai, "Cinta itu…" Kiba memperpendek jarak di antara mereka-atau membuat jarak tak ada lagi di antara mereka.

Mata lavender Hinata terbelalak, "Kiba… Apa yang kau-hmmmpff…" ia tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena bibirnya telah dikunci oleh Kiba. Mata Hinata masih terbelalak lebar, sangat kaget dengan perlakuan Kiba. Ia hanya terdiam kaku ketika Kiba menekan bibirnya lembut. Dan entah kebodohan apa-ia justru memejamkan mata. Justru mulai menikmati apa yang Kiba lakukan. Tak ada rasa keberatan di hatinya seperti ketika Naruto mengecup pipinya.

Dan mereka terus dalam posisi seperti itu. Terus hingga membuat Hinata mulai merasa sesak di dadanya.

"Hhhh.. Aku tak bisa bernafas, Bodoh!" gadis itu mendorong Kiba cepat. Mengusap bibirnya dengan alis berkerut aneh. Napasnya terengah-engah karena beberapa lama tak melakukan proses respirasi itu.

"Tapi kamu suka, kan?" Kiba tersenyum menggoda. Ia lalu merengkuh Hinata ke pelukannya. Mengusap bibir Hinata pelan dan melakukan perbuatannya beberapa menit yang lalu sekali lagi.

.

Entah sejak kapan, sepasang mata telah menyaksikan panorama yang menyesakkan jiwa itu.

Amarah telah memburu batinnya.

Rasa sesak di dadanya sudah tak tertahankan lagi.

Ia tak tahu harus berbuat apa.

Ia hanya bisa melihat pemandangan itu dengan luka yang tertoreh di hatinya…

.

Sementara itu, Kiba tak memberikan kesempatan Hinata mendorongnya lagi. Tangan Hinata dikuncinya hingga tak mengganggu. Sementara tangannya sendiri mulai mencoba membuka kancing atas seragam Hinata. Entah setan apa yang sedang merasukinya-namun ia sama sekali tak memikirkan resiko apa pun. Tak berpikir akan apa yang ia lakukan.

"JANGAN, KIBA!" Hinata mencegah Kiba untuk membuka kancing kedua kemejanya. Bagaimana pun… bagaimana pun…

"Kenapa?" tanya Kiba bingung. Namun kebingungannya tak berlangsung lama. Karena ia kembali melakukannya, kali ini-sekali lagi- tak membolehkan Hinata bersuara, apalagi mencegahnya. Satu kancing lagi akan terbuka…

.

Sepasang mata itu sudah tak tahan lagi.

Darahnya sudah mendidih.

Luka yang tertoreh di hatinya sudah semakin melebar.

Ia ingin meluapkan segala amarahnya.

.

"HENTIKAAAANNN!!!" teriak Naruto keras. Mengagetkan Kiba dan Hinata yang sedang sibuk sendiri dengan urusan mereka. Tak menyadari kehadiran Naruto sama sekali.

Dengan penuh amarah, pemuda pirang itu setengah berlari ke arah Hinata dan Kiba. Hinata langsung salah tingkah. Ia cepat-cepat mengancingkan kembali seragamnya. Wajahnya memerah-antara malu, bingung, dan marah.

"Err- Naru.. Kamu.. Aku.. err- emh.." Hinata tiba-tiba menjadi gugup. Ia tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi. Yang keluar dari mulutnya hanya kata 'aku' dan 'kamu'.

Naruto hanya melempar pandang dingin pada Hinata. Kemudian ia beralih, "Kau…," Naruto memandang sengit ke arah Kiba. "Kau pikir karena dia lemah kau bisa seenaknya saja menciumnya? DASAR KAKAK KELAS NAPSUAN!" teriak Naruto kalap.

Kiba terdiam. Ia tak melakukan apa-apa sebagai respon berarti.

"KAMU JUGA!" kali ini Naruto menatap Hinata.

"AKU PIKIR. YA, TADINYA KU PIKIR, KAMU ITU CEWEK BAIK-BAIK YANG MENJAGA TATA KRAMA! MENJUNJUNG TINGGI SOPAN SANTUN!" ia berhenti sejenak, "Tapi sepertinya aku salah besar. Kamu tak lebih dari seorang cewek murahan! MURAHAN!!!" pemuda pirang itu mulai terlihat frustasi. Pancaran wajahnya tak lagi menunjukkan raut bersahabat.

Hinata terpaku mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Naruto. Rasanya apa yang dikatakan Naruto langsung menohok jantungnya. Hati nuraninya juga sedikit membenarkan kata-kata Naruto. Namun tetap saja… sakit…

Murahan? Apa itu benar kata yang pantas untuk dia? Murahan?

Dan air mata bergulir perlahan dari kedua mata bening Hinata. Makin lama makin deras, membuat bahunya terguncang.

"A-aku…," Hinata tak dapat melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya terasa kering, kakinya juga terasa tak berpijak lagi di bumi. Terasa lemas dan membuatnya jatuh bersimpuh ke atas tanah begitu saja.

"Hinata..," Kiba langsung bangkit dari duduknya untuk menghampiri Hinata. Mencoba membantu gadis itu kembali berdiri.

Namun belum sampai ia pada Hinata, Naruto dengan kasar mendorong tubuhnya menjauh dari Hinata. "Jangan sentuh dia!" pemuda bermata langit itu menarik Hinata menjauh dari jangkauan Kiba. Melindunginya. Ia lalu berbalik, "Aku benci kamu!" teriak Naruto tepat di depan wajah Hinata.

"Ya! aku benci kamu karena kamu udah bikin aku nggak tidur semalaman! Kamu udah bikin aku nggak makan seharian! Kenapa kamu selalu lari-lari di dalam kepalaku?? Padahal setahuku, kamu paling payah kalau disuruh lari!! Jangan nangis! Dasar cengeng! Kapan kau akan kuat, kalau kau terus menangis??"

Hinata tak dapat berkata apa-apa. Ia mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Naruto, dan sesegera itu juga, ia menekap mulutnya.

Naruto terdiam sebentar sebelum kemudian menyingkirkan tangan Hinata. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Melakukan apa yang sudah Hinata alami bersama Kiba tadi. Hanya sebentar.

"Maaf aku tak pandai mencium…," kata Naruto sambil berbalik pergi meninggalkan Kiba dan Hinata yang masih terpaku. Kiba karena bingung, dan Hinata karena kaget.

Tiba-tiba saja gerimis mulai turun membasahi taman itu. Membasahi kedua manusia yang masih terdiam di sana, tak beranjak sedikit pun untuk sekedar berlindung.

"Hinata, kau masih ingin kembali ke kelas?"

Hinata menatap mata Kiba lalu membuang mukanya. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, yang jelas… hatinya terluka.

.

.

.

-TBC-

From Nisa :

Aaaaarrrggghhh!! Aku nggak mau jadi Hinata!! Dia murahan bangeeettt!!! –di jyuuken- Huaa.. Padahal saya sendiri yang bikin lime itu. Tapi ternyata, pas di baca ulang, saya mau muntah. Jelek yah limenya? Kurang vulgar? Atau terlalu vulgar? O_O Ada yang request lemon? –dilindes traktor- Sori, nggak ada lemon di fic ini. Maaf buat anda yang menunggu lemon.. T_T –ngambil tisu di warung sebelah-

Oia, kritik, saran, ide, silahkan lewat review. Dan NO FLAME!! Cari ide itu susah tauk! –ngamuk gaje-

From Dilia :

Sumpah! Percaya sama saya! Saya nggak ikut ambil andil dalam lime itu! Saya nggak berdosa apa-apa! Saya malah berusaha bikin itu lime kagak keliatan! Ampuun!!! Jangan rajam sayaaaaaa~!!!! –mulai gila- Jadi maapin aja kalo Hinata terlihat OOC disitu. Jangan salahin saya! Saya nggak berdosa! Noh, salahin aja anak saya yang super-hentai! –nunjuk Nisa pake jari tengah-

.

Special thanks (and review reply for anonymouse) :

anak vs bunda (lha? O.o); ; la auteur Dani; kawaii-haruna; Kristi Tamagochi; pasangan yuri nisa (-ngeliat pen nem- XDDDD nggak papa kok. ^^); himura kyou; kakkoii-chan; meL de ann; Dani Shijou (O.O he?); sabaku no panda-kun; fans naruhina (maap ya, nak…); lil-ecchan; Haruno Rizuki-kun; Uchiha Yuki-chan;UchIha_kANAtaana-cHan;slepping-cute; Hyuuzu-chan.

Hoyo~ Ada kuis!! Tebak! Kepada siapa cinta Hinata berlabuh??

A. Naruto

B. Kiba

C. Rock Lee (?)

D. Tenten (??)

E. Kakuzu (???)

F. Tukang sampah (??????)

G. Pelabuhan (WTF????!!)

Nyo~ Tebak lewat review yah… Yang menang bakal dikasih jilbab ama Kakuzu, deh.. (?)

Sekali lagi, REPYUUU!!! –tereak pake toa-