Final Destination

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

By: Uzumaki PuTiLiciOUs

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Naruto © Masashi Kishimoto, the movie Final Destination © Jeffrey Reddick

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter #2. The Street

Seminggu setelah kecelakaan kapal Poseidon I, halaman depan SMU Internasional Konoha. Seluruh warga sekolah bergabung di sana, di depan sebuah tugu peringatan yang akan diresmikan hari ini. Para hadirin memakai pakaian warna gelap, melambangkan gelapnya perasaan mereka saat ini.

Kedelapan calon penumpang kapal Poseidon I yang turun sebelum pelayaran dimulai duduk di barisan paling depan. Kurenai, Tenten, Neji, Hinata, Ino, Kankurou, Sakura, dan Karin dudukl berderet, wajah mereka menampakkan kesedihan yang mendalam. Terutama Hinata, yang belahan jiwanya turut tewas pada kecelakaan itu.

Kurenai menatap lurus ke depan dengan mantap. Sesekali dirinya menghela nafas, seolah berusaha untuk mengikhlaskan kepergian murid-muridnya, rekan-rekan gurunya, dan yang terutama, suaminya, Sarutobi Asuma yang turut menjadi korban kecelakaan itu. Hinata memejamkan mata, kepalanya bersandar ke pundak Neji, begitupun kepala Tenten. Sementara itu, Ino menggenggam tangan Hinata, mencoba memberikan semangat. Matanya sembab. Kankurou menatap lurus ke depan dengan tatapan hampa. Sementara itu, Sakura dan Karin sesekali melirik Hinata dengan tatapan bersalah, seolah ingin minta maaf karena telah meragukan peringatannya dan telah mengejeknya.

"Perhatian, seluruh warga SMU Internasional Konoha...," seru kepala sekolah, kakek Naruto, Namikaze Jiraiya. Semua orang sekarang memandang ke podium yang ada di depan, tempat dimana Jiraiya berada.

"Selamat pagi. Di pagi yang suram ini, kita semua hadir untuk memperingati seminggu kecelakaan naas yang menimpa sahabat-sahabat dan guru-guru kita di Laut Konoha. Mereka telah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya. Namun, kenangan kita akan mereka tak akan pernah pergi dari benak kita," tambah Jiraiya. Suaranya sedikit bergetar, mungkin teringat akan mendiang cucunya.

"Untuk mengenang mereka yang menjadi korban, maka didirikanlah tugu peringatan bernama 'Poseidon' di halaman sekolah kita yang tercinta ini. Dengan diresmikannya tugu ini, kita harap, arwah mereka yang telah pergi bisa diterima dan tenang di sisi-Nya," lanjut Jiraiya lagi, yang disambut oleh perkataan 'amin' dari para hadirin.

"Bagi yang ingin memberikan penghormatan... dipersilahkan untuk maju ke depan tugu. Selamat pagi," tambah Jiraiya, yang setelah itu langsung turun dari podium.

Kurenai, Tenten, Neji, Hinata, Kankurou, Sakura, dan Karin bangkit. Mereka lalu maju ke depan tugu sambil membawa sekuntum bunga anyelir. Tanpa banyak bicara, mereka lalu meletakkan bunga itu di depan tugu sambil berdoa.

"Sensei...," panggil Hinata pelan seusai mereka memberikan penghormatan di tugu.

"Ya, Hinata?" balas Kurenai, tenang seperti biasanya.

"Maafkan saya... karena tak sempat memberitahu bus-bus lain kalau akan terjadi kecelakaan," ujar Hinata lemah. Kepalanya menunduk, takut kalau Kurenai akan marah. Namun, apa yang terjadi berkebalikan dari bayangannya. Kurenai justru tersenyum, lalu memeluknya sejenak.

"Sensei justru berterimakasih kepadamu, Hinata... meski Asuma dan yang lain tak selamat, yang penting nyawa Sensei dan nyawa keenam temanmu terselamatkan. Iya kan," balas Kurenai. Hinata tersenyum kecil, lalu mengangguk. Kurenai melepaskan pelukannya.

"Sensei harus ke bank, ada yang harus diurus. Sensei pergi dulu, ya," kata Kurenai sambil berjalan pergi.

"Sensei!" panggil Hinata.

"Ya?" jawab Kurenai sambil berhenti dan berbalik.

"Hati-hati...," ujar Hinata. Kurenai tersenyum, lalu mengangguk dan pergi.

"Hei, Hinata... aku menemukan fakta-fakta menarik mengenai apa yang kau alami," panggil Ino. Neji dan Tenten pun ikut nimbrung dengan mereka.

"Apa?" tanya Tenten. Mereka berempat berjalan beriringan menuju tempat parkir.

"Aku lihat di internet... ternyata Hinata bukanlah orang pertama yang mengalami hal seperti ini," jawab Ino. Air mukanya serius. Dahi Neji berkerut.

"Benarkah? Lalu, siapa yang pernah mendapat pengelihatan juga?" tanya Neji.

"Pertama, pada tahun 1999. Dalam sebuah acara study tour kelas Bahasa Perancis sebuah SMU di New York, sebelum pesawat berangkat, seorang murid mendapat pengelihatan bahwa pesawat yang mereka tumpangi akan meledak. Beberapa orang turun dari pesawat, dan saat pesawatnya berangkat, pesawat itu benar-benar meledak (1). Beberapa bulan setelahnya, orang-orang yang turun dari pesawat itu mulai mati dengan cara yang mengenaskan, sesuai dengan urutan jika mereka masih berada di atas pesawat, kecuali jika ada yang menghalangi, maka orang yang urutannya setelah orang itu mati," cerita Ino. Neji, Tenten, dan Hinata tercengang.

"Lalu... bagaimana...," sahut Tenten, namun Ino mengangkat tangannya, pertanda jika ia belum selesai bercerita.

"Lalu, beberapa tahun kemudian, seorang gadis mendapat pengelihatan bahwa akan terjadi kecelakaan di jalan tol yang sedang dilaluinya. Beberapa orang menyingkir, lalu kecelakaan itu benar-benar terjadi. Orang-orang yang menyingkir memperoleh nasib yang sama dengan orang-orang yang turun dari pesawat di New York tadi," lanjut Ino getir. Hinata bergidik.

"Terakhir... pada tahun 2005 yang lalu, seorang gadis di kota McKinley, Amerika Serikat, mendapat pengelihatan bahwa roller coaster yang akan ditumpanginya akan mengalami kecelakaan. Sembilan orang turun, lalu kecelakaan itu juga terjadi. Kesembilan orang yang turun mengalami nasib yang sama dengan orang-orang yang turun dari pesawat di New York tadi. Pada akhirnya, tersisa tiga orang, dan ketiga orang itu pun mati lima bulan setelah kecelakaan roller coaster itu di dalam sebuah kecelakaan subway," cerita Ino. Ekspresi wajahnya getir sekali. Jelas, ia sudah tahu kalau mereka akan mengalami nasib yang sama dengan orang-orang yang diceritakannya.

Hinata tiba-tiba teringat sesuatu. Di pengelihatannya, di antara delapan orang yang turun dari kapal Poseidon I, Kurenai-lah yang pertama meninggal.

"Aku mau pulang secepatnya," kata Hinata tiba-tiba. "Ada yang harus kukerjakan," tambahnya, menjawab pandangan penuh tanya dari Neji, Tenten, dan Ino.

"Oke... kuantar dulu kau pulang, lalu kuantar Ino, dan yang terakhir, Tenten," sahut Neji. Kebetulan, hari itu hanya ia yang membawa mobil di antara keempat bocah itu.

"Aku dan Tenten mau mampir ke rumah Hinata. Boleh kan, Hinata?" tanya Ino sambil mengerling Hinata. Hinata mengangguk.

"Baiklah... aku juga mampir," sahut Neji. Mereka berempat, yang sudah berada di dalam mobil Chery QQ milik Neji, langsung duduk manis, dan Neji pun menjalankan mobilnya ke rumah Hinata.

Perjalanan mereka lalui tanpa ada yang berbicara. Masing-masing kepala sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun, semuanya memikirkan satu hal: kematian semua orang yang turun dari kapal Poseidon I. Mulai dari kematian Kurenai, sampai kematian diri mereka sendiri.

Sesampainya di rumah Hinata, mereka berempat langsung masuk ke kamar Hinata. Hinata ingin menunjukkan sesuatu kepada mereka.

"Ini," kata Hinata sambil memperlihatkan foto Naruto yang ada di komputernya, "Aku melihat ada yang janggal dari foto ini. Foto ini kuambil saat kita masih ada di pelabuhan."

"Apa?" tanya Ino sambil mendekatkan kepalanya ke layar monitor.

"Lihat... Naruto berdiri di depan sisi kiri kapal. Naruto meninggal karena tertiban sisi kiri kapal, kan?" tanya Hinata sambil mengarahkan kursor komputer ke kepala Naruto.

"Ya, ia tertiban sisi kiri kapal. Kepalanya hancur," jawab Tenten getir.

"Lalu lihat ini, tulisan 'Poseidon'-nya. Tulisan 'Pos' tertutup kepala Naruto, sementara tulisan 'on' tertutup kepala orang lain," tambah Hinata. Kursor komputer diarahkannya ke kepala Naruto dan kepala orang lain itu.

"Yang tersisa... 'eid'...," sambung Ino.

"Yang kalau dibaca dari belakang jadi kata 'die'," tambah Neji.

"Mati," sahut Tenten dengan ekspresi horor. Dalam sekejap, suasana di kamar Hinata berubah menjadi suasana horor.

"Kurenai-sensei," ujar Hinata tiba-tiba, mengagetkan ketiga sahabatnya.

"Hah? Ada apa dengan Kurenai-sensei?" tanya Ino heran.

"Di pengelihatanku... kulihat... Kurenai-sensei adalah orang yang pertama meninggal," jawab Hinata.

"Coba lihat, ada foto Kurenai-sensei, tidak? Mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk," sahut Neji sambil menekan-nekan tombol navigator pada keyboard komputer Hinata. Ia lalu berhenti pada foto close-up Kurenai yang diambil Hinata di pelabuhan. Foto itu hanya memperlihatkan Kurenai yang sedang berdiri dengan gaya anggunnya, juga tersenyum anggun.

"Tak ada petunjuk apa-apa pada foto ini. Setidaknya, aku tidak bisa melihatnya," ujar Tenten sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku juga tidak lihat," sahut Ino.

"Begitupun aku. Neji, kau lihat ada petunjuk?" tanya Hinata. Neji menggeleng.

"Coba lihat, ada foto Kurenai-sensei yang lain?" tanya Tenten sambil menjulurkan tangannya, menekan-nekan tombol navigator. Ia tiba-tiba berhenti pada fotonya dan Neji di pelabuhan.

"Itu fotomu dan Neji, Tenten. Bukan foto Kurenai-sensei," tegur Ino.

"Tidak... lihat ini. Di samping Neji, ada Kurenai-sensei sedang menelepon, dan ia berdiri di depan truk. Seperti...," kata-kata Tenten terputus.

"Seperti akan ditabrak truk," tambah Hinata.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Sementara itu, di Starbucks Cafe cabang Bank Nasional Hi...

Yuuhi Kurenai sedang menunggui pesanannya di meja tunggu untuk take away. Ia baru saja selesai mengurusi pembalikan nama tabungan Asuma atas namanya, dan ia rasa ia butuh kopi untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang selama seminggu ini. Dan di sinilah ia, sedang membeli espresso favoritnya.

Sebuah lagu slow diputarkan oleh Starbucks Café, untuk menambah suasana homey yang berusaha diciptakan oleh kafe kopi terkenal itu. Kurenai mengenal sekali lagu yang diputarkan itu. Salah satu lagu favoritnya. Lagu dari The Carpenters, Close to You.

Why do birds suddenly appear?

Every time you are near

Just like me

They long to be

Close to you

Seorang pelayan memberikan pesanannya. Ia mengambilnya, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan pergi. Baru saja ia sampai di depan pintu Starbucks Cafe, ponselnya berbunyi. Dari nomor yang ia tak kenal.

"Halo?"

"Halo? Kurenai-sensei?"

"Ya, ini Sensei. Ini siapa, ya?"

"Ini Hyuuga Hinata, Sensei."

Dia lagi, batin Kurenai. Ia lalu menyeruput espressonya, lalu berjalan keluar Starbucks. Ia melirik ke kanan dan ke kiri sebentar. Ia tidak sadar, jauh di ujung jalan, ada sebuah truk sedang melaju dengan kecepatan luar biasa. Kurenai langsung menyeberang menuju mobilnya yang diparkir di seberang jalan raya.

"Ada apa, Hinata?" tanya Kurenai, berusaha untuk terdengar ramah.

"Sensei... saya mohon, dimanapun Sensei berada, tolong berhati-hati..."

"Memangnya ada apa sih? Kedengarannya kau panik sekali."

"Saya... merasa bahwa Sensei akan meninggal karena tertabrak truk."

Langkah Kurenai terhenti, tepat di tengah jalan.

"Apa maksudmu, Hinata? Kau mencoba untuk menakut-nakuti Sensei, hah?"

"Bu... bukan, Sensei... saya hanya memberikan peringatan..."

Tertabrak truk, hah? Batin Kurenai kesal sambil menolehkan pandangannya ke arah kiri. Tepat saat ia menengok, tubuhnya dihantam truk yang melaju dengan kecepatan luar biasa. Tubuhnya remuk. Darahnya berceceran dimana-mana. Barang bawaannya terhampar di jalanan. Ponselnya terlempar, dan hancur berantakan seperti pemiliknya.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

"Terputus... tapi, sebelum terputus, aku mendengar suara benturan keras," ujar Hinata sambil menjauhkan ponselnya dari telinganya. Tubuhnya gemetaran.

"Oh, Tuhan... mungkinkah...," bisik Ino ketakutan. Hinata, Neji, dan Tenten gemetaran, sama takutnya dengan Ino.

:::To. Be. Continued.:::

AUTHORESS' CORNER

Hiyah. Abis chapter super panjang, diapdetnya malah sama chapter pendek. Duh.

Nah, untuk kematian Kurenai ini... saia terinspirasi sama kematian Tracy di Final Destination I, yang dihantam bus abis jalan mundur sambil ngomong 'drop f*cking dead'. Huahahaha. –evil laugh- trus yang diomongin Ino itu, film Final Destination 1-3. hoho. Just for info... chapter 1 dan 2 saia bikin waktu saia masih liburan di Padangpanjang, kampuang tercinto –maksa- . Ternyata saia benar-benar butuh refreshing. Fuuiih.

Balas review dulu ah…

Lil-ecchan: hah, mau nangis kenapa? Terlalu serem ya? :3 Hihihi. Oia, makasih ya, Ecchan, udah ngevote saia di Infantrum ;)

sabaku no panda-kun: yup, mereka adalah author Annita Myuu, Sarugaki Sacchi, dan ASTK the Akatsuki maniac. Sasuke nggak ada :P saia bosen ngeliat mukanya –dikejar2 FG sasuke-

The Law of Gege: haha, makasih buat fave-nya! Hihi. Soal rating, saia juga masih bingung… kalo menurut standar saia sih ini gak sadis-sadis amat :P

Helen Lautner: yeah, saia suka banget sama Final Destination! Yang ada roller coasternya emang FD 3, tapi ceritanya nggak gitu kok. Liat di wikipedia aja ya! saia nggak mau jadi spoiler :3 insyaallah saia ikut, tapi nggak tau kalo si triplet.

MaNiMe PanRaPoRo: haha… makasih… namanya juga mystery… gak serem gak asik dong :P

Cha-chan.d-psychoholic: haha… makasih… iya, ada filmnya kok. Haha…

Wolfie von Mudvayne: Sekali lagi saia nyatakan, SAIA CINTA FD! Haha! Makasih!

TensaisBaka: Makasih… Naru udah mati, say –lho!- kan dia nggak turun dari kapal.

KAz3n4: kejadian-kejadian kematian di sini asli punya saia. FD 1 kan kecelakaan pesawat. Hihi, ini cukup sadis, nggak?

Uchietam: Benerr... ini penggabungan FD1 sampe 3. Nama kapal saia ambil dari nama dewa laut Yunani, Poseidon.

Ai miyano: hihi, thanks!

meL-chan toyama: naruto udah mati, say. Kan nggak turun dari kapal.

La aurteur Dani: Hihi... Naruto telah berpulang ke Rahmatullah, kak... uokeh! Kalo yang ini udah selese, insyaallah saia mo bikin sekuelnya! Hohoho!

Pamellaaa: haha... makasih... nama kapal dari nama dewa laut Yunani... saia nonton Poseidon aja blom TT_TT

Lunatic vanz: AYO NONTON FINAL DESTINATION! –promo- haha…

Anastasia Keehl: Bukan, itu lagunya The Carpenters yang Close to You. Pernah ada di iklan susu anak kecil.

Nita-chan lagi malay: review juga kau ;) di fic ini kau sudah tewas, sayang. Paling cuma kesebut dikit. Huahaha. Iya nih, Kotetsu penyebabnya! Panggil deh si nenek itu! Hahaha!

Review ya? Ya? Ya?

PuTiLiciOUs.

PS. Sekali lagi, jangan pernah nanya kapan fic ini diapdet!!! –ngacir-