Angel's Heart : Who Knows?

Chap 2 : The Last

"Brak!"

Suara menggema memenuhi ruangan itu. Suasana ruangan yang tadinya ribut menjadi sepi. Tidak ada seorangpun yang berani berbicara, bahkan bergerak. Tampak jelas raut wajah para malaikat tegang. Seorang malaikat kini berada di bawah kemarahan ayahnya. Malaikat itu tak lain adalah Naruto yang tertangkap basah pergi ke dunia manusia tanpa izin. Ayahnya yang adalah pemimpin dari semua malaikat sangat geram melihat putri satu-satunya melanggar hampir semua peraturan dunia malaikat. Sang ibu hanya bisa terdiam melihat putrinya saat ini menjalani hukuman yang akan bisa membuat nyawanya terancam. Pertemuan semacam ini biasanya hanya melibatkan malaikat biasa dan beberapa malaikat tingkat tinggi, tapi peristiwa kali ini melibatkan semua malaikat yang ada, bahkan "Angel of Death" alias malaikat pencabut nyawa yang biasanya dihindari sampai ikut terlibat.

"Naruto! Sudah berapa kali ayah katakan bahwa seorang malaikat dilarang pergi ke dunia manusia tanpa izin, apalagi kamu masih…!"

"Masih di bawah umur? Terserah ayah! Aku tidak peduli! Gaara-kun sedang dalam bahaya dan dia ketakutan, tapi tidak ada satupun diantara kalian mau menolongnya! Malaikat macam apa kalian?!"

"Plak!"

Tamparan sang ayah mengenai wajah mungil Naruto. Suasana kembali hening. Baik Naruto maupun ayahnya berhenti berbicara. Keadaan sudah mencapai titik puncak. Semua malaikat saling berbisik-bisik. Suasana kembali ribut. Kembali ibu Naruto menghela nafas, khawatir putrinya benar-benar kehilangan nyawanya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, sahabat baik Naruto, Sakura.

"Sakura, kamu sudah tahu ini akan terjadi?"

"Ya."

"Apa kamu sudah berusaha untuk memberitahu dia?'

"Ya, tapi aku gagal. Maafkan aku tante."

"Tidak, kamu tidak perlu meminta maaf. Begitulah Naruto,dia itu keras kepala, sampai saat ini belum ada yang bisa menghentikannya kalau dia sudah memulai sesuatu."

"Tapi, kali ini, dia benar-benar serius. Karena.."

"Aku tahu. Cinta pertamanya, Sabaku No Gaara, yang telah kembali ke dunia manusia. Naruto sedih sekali waktu tahu kalau Gaara lebih cepat kembali ke dunia manusia. Mereka sudah berjanji akan selalu bersama, tapi rupanya waktu Gaara untuk kembali lebih cepat. Naruto tidak bisa melupakannya, sedangkan Gaara yang sudah jadi manusia tentu sudah lupa."

"Ya, tante benar. Tapi Naruto terlalu semangat ingin bertemu dengannya. Sekarang kita tinggal menunggu keputusan ayahnya saja."

"Semoga keputusannya benar-benar baik"

"Semoga"

Suasana ruangan kembali diam. Ayah Naruto akhirnya memberi keputusan final untuk Naruto.

"Baiklah, ayah rasa kamu tidak akan mendengarkan kata ayah lagi. Sekarang keputusan ada di tanganmu. Kamu memilih untuk tetap hidup atau mati?"

"Tentu saja aku mau hidup!"

"Kalau begitu lupakan anak itu. Dan jangan pernah menemui dia lagi kalau kamu mau dia selamat."

"Apa maksud ayah?!"

"Menemuinya, itu berarti membunuhnya."

"Tidak mungkin ayah! Aku tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi!"

"Berarti kamu memilih untuk mati. Kamu tidak akan pernah jadi manusia lagi."

"…"

"Naruto, ayah ingin kamu memikirkan kembali apa yang akan kamu lakukan."

"Lebih baik aku yang mati, ayah." Belum sempat ayahnya menjawab, Naruto langsung menghilang dalam sekejap. Sakura dan ibunya Naruto hanya bisa menunduk pasrah.

"Neji! Lee! Cepat kejar Naruto!" Ayah Naruto langsung memanggil para "Guardian" alias malaikat penjaga.

Saat itu di dunia manusia..

"Nii-san! Nii-san baik-baik saja? Syukurlah!" Gaara tampak senang. Temari bisa kembali pulih setelah pingsan selama 2 hari.

"Gaara, jangan berisik, biarkan nii-san istirahat." Kankuro berlagak kayak orangtua. Gaara dan Temari tertawa melihatnya.

Tampaknya, tidak ada yang menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikan dari jauh. Seorang anak laki-laki yang tampak sangat kesal melihat kebahagiaan keluarga tersebut. Dia berjalan pelan menuju Gaara, tombak yang ada di tangannya mulai terayun tepat di atas kepala Gaara. Sebenarnya, bisa saja tombak itu langsung tepat mengenai sasaran, tapi ayunan tombaknya terhenti ketika melihat sesosok gadis yang menatapnya. Tubuh anak itu membeku seketika, tombak yang ada ditangannya jatuh. Mukanya tampak terlihat pasrah.

"Sasuke..Kenapa..?"

"Aku rasa aku harus segera pergi dari sini" Sasuke segera mengambil tombaknya dan hendak pergi tetapi tertahan oleh tangan lembut Naruto yang menggenggam erat tangan Sasuke. Muka Naruto tampak sedih, marah, dan yang terutama kecewa. Naruto memberi isyarat pada Sasuke untuk keluar dari ruangan tersebut.

"Sasuke, kenapa?"

"Apanya yang kenapa?"

"Sasuke, aku sedang serius, jawab aku, kenapa kamu melakukan hal itu?"

"…"

"SASUKE! Jawab aku!"

"Aku rasa jawabannya sudah ada di depan matamu."

"Apa maksudmu?"

"Naruto, harusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa kamu melakukan hal itu."

"Melakukan apa?"

"Merelakan diri demi anak itu" Sasuke menunjuk ke arah Gaara yang sedang tertawa.

"Tentu saja aku harus melakukannya!"

"Tapi kenapa?"

"Karena aku suka padanya! Sasuke, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi!"

"Jawabannya sama dengan kamu barusan." Seketika waktu seperti berhenti. Sasuke menunduk ke bawah, sedangkan Naruto tampak syok dan bingung.

"Aku juga menyukaimu Naruto, sejak pertama kali bertemu denganmu." Sasuke melanjutkan kata-katanya.

"Hari-hariku yang suram menjadi ceria berkat dirimu" Naruto tampak semakin bingung.

"Kamu juga telah membuka pintu hatiku yang sempat terkunci rapat" Naruto tak bisa berkata apa-apa.

"Kamu selalu membawa mentari kepada malamku yang gelap" Naruto semakin membisu.

"Kamu adalah jiwa bagi hidupku yang telah mati. Hidup tanpamu serasa seperti di neraka. Naruto, aishiteru.." Kali ini wajah Sasuke yang kaget, dia tidak menyangka akan berkata demikian. Sekarang keduanya terdiam. Sasuke pasrah menerima jawaban apa saja, sedangkan Naruto sangat bingung mau menjawab apa. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk bicara.

"Naruto, aku tidak akan memaksakan kamu untuk menjawab. Aku sudah tau sejak lama kalau kamu menyukai anak itu, aku juga sudah tau kalau hubungan kita tidak mungkin berlanjut."

"…"

"Jadi, aku hanya ingin mengatakan kalau kata-kataku tadi itu sungguh-sungguh." Sasuke tersenyum, senyuman yang belum pernah dilihat oleh orang lain.

"Sasu.." Naruto belum sempat mengatakan apa-apa sebelum kedua bibir itu bersentuhan. Sasuke lalu dengan perlahan memeluk Naruto. Naruto hanya bisa diam, merasakan seluruh tubuhnya dipenuhi rasa hangat. Sasuke melepaskan pelukannya kemudian berjalan pelan meninggalkan Naruto yang membisu.

"Sekarang, pergilah kepada anak itu, aku akan kembali." Sasuke langsung menghilang. Naruto hanya diam terpaku, lututnya lemas sampai dia jatuh.

"Naruto, apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu duduk di lantai?"

"Gaara.."

"Naruto? Naruto? Kok bengong? Kok nangis?"

"Ah, tidak, tidak apa." Naruto hendak berdiri ketika tangan Gaara menyeka air matanya. Spontan Naruto kembali terduduk. Wajahnya memerah ketika Gaara menatapnya.

"Naruto, jika ada masalah, katakan saja. Aku pasti membantumu." Gaara tersenyum. Senyuman yang menenangkan hati Naruto.

"Gaara, ada yang harus aku bicarakan." Naruto kembali menatap Gaara. Matanya menatap mata hijau Gaara.

"Bicaralah." Gaara menatap Naruto dengan wajah polos.

"Lupakanlah aku."

"Apa maksudmu?"

"Kita tidak akan bertemu lagi. Sekarang kamu sudah bahagia, kakakmu selamat."

"Tidak Naruto. Aku tidak bisa melakukannya."

"Gaara, kamu harus bisa! Kamu harus bisa.." Air mata Naruto turun. Dia sudah tidak sanggup untuk menahan tangisannya. "Aku mohon."

"Tapi, kenapa aku harus melakukannya?"

"Kamu harus melakukannya karena dia akan segera dimusnahkan." Neji dan Lee sudah sampai ke tempat Naruto. Mereka sudah bersiap melakukan upacara kematian bagi Naruto dan penghilangan ingatan untuk Gaara.

"Tunggu, biar aku sendiri yang melakukannya." Naruto menyeka air matanya. Sayapnya mulai terbuka. Kakinya meninggalkan tanah yang sejak tadi dipijaknya. Ketika akan terbang, tangan Gaara menahannya."

"Naruto, jangan tinggalkan aku. Aku butuh kamu."

"Maafkan aku Gaara, aku tidak bisa." Perlahan Naruto melepaskan genggaman Gaara.

"Naruto.." Gaara menatap Naruto dengan tatapan 'jangan tinggalkan aku'.

"Gaara, maafkan aku. Tolong lupakan aku." Naruto mengambil salah satu bulu sayapnya. Ditiupkannya tepat di atas kepala Gaara. Dari bulu sayap itu keluar sinar yang makin lama makin menyilaukan mata. Gaara yang melihatnya seketika tak sadarkan diri.

"Gaara, aishiteru." Langit seketika berubah, hujan turun dengan deras. Tubuh Naruto perlahan-lahan menghilang, satu persatu bulu sayapnya lepas, dan meleleh seperti air. Naruto meninggalkan sebuah bulu sayapnya yang masih utuh, yang jatuh diiringi air hujan yang seakan menangisi kepergiannya.

XOXOXOXOXOXO XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOX

Huaah!!!!!!

Akhirnya beres juga! Tadinya aku kira ga bakal beres loh! Dan yang bikin aku kaget, ini adalah chapter terpanjangku saat ini, dengan 1,244 kata! Yah, kemajuan gitu.

Setelah cerita Angel's Heart: Who Knows? ini, akan nada cerita barunya dengan title Angel's Heart: Angel for Angel. Ceritanya nanti nyambung dengan yang Angel's Heart: Who Knows? Trus, nantinya juga akan ditambahkan dengan cerita singkat mengenai hubungan Gaara & Naruto, juga kisah pertemuan Naruto & Sasuke. Pokoknya tunggu aja yah!

Waktu baca review, ada yang nanya punya YM atau gak. Jujur aja, aku gak punya internet, jadi numpang di tempat les (yah, authornya payah bangetzzz…). Jadi kalau mau chatting susah susah gampang. Trus ada lagi yang bingung mau manggil apa, nah karena aku juga gak tahu umur kalian, sekarang ini aku berumur 14 tahun, tepatnya 20 April mendatang, jadi jangan lupa kasih kado ya! (Jduak! Dilemparin ama sepatu. Punya sapa ya?) jadi panggil aku sesuai umur kalian.

Trus buat yang request Me Vs Mom! Ala Akatsuki, bersabarlah, karena author satu ini tidak punya bakat untuk membuat cerita komedi, jadi harus nunggu mood…(pembaca kecewa) tapi, ditunggu saja ya!

Oh ya, sebelum lupa, thanks dulu buat yang udah baca. And pliss di review!

CU 0