-GOODNIGHT, MR. REDRUM!-

For Infantrum Black and White Challenge

Story © charlottecauchemar

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU. Bit OOC. Yaoi. Character Death. Pengulangan kata yang sedikit terlihat monoton.

Epilogue

Summary: Diiringi lantunan requiem sebagai pengganti lagu nina bobo, maka berakhirlah dongeng pengantar tidur abadi mereka. Selamat malam, semuanya.. Have a nice dream..


Bangunan bercat putih itu terlihat seperti rumah sakit kebanyakan, selain kenyataan bahwa beberapa orang yang memakai baju pasien terlihat sedang tertawa-tawa sendiri. Tapi memang rumah sakit itu memiliki pasien-pasien dengan masalah yang lebih kompleks. Tubuh mereka sehat, namun tidak begitu dengan jiwanya.

Rumah Sakit Jiwa Oto. Itu tulisan yang terpampang di atas gerbang masuk rumah sakit.

Dan saat ini, di salah satu kamar bangunan berlantai enam itu terdapat seorang pemuda yang duduk terdiam di tepi kasurnya sambil menatap kekosongan. Bibirnya terkatup rapat, seolah dijahit untuk tidak mengucapkan sepatah katapun. Mata birunya yang seindah langit pagi kini mulai meredup tergantikan dengan warna abu-abu yang kusam. Lingkar hitam di bawah matanya pun semakin jelas terlihat. Sedikit demi sedikit, tubuhnya kehilangan berat badan.

Seorang gadis yang sebaya dengannya mengintip dari balik kaca pintu ruangan serba putih itu.

"Tsunade-shishou.. apa Naruto-kun bisa sembuh?"

Tsunade menghadap gadis bermata hijau itu dengan tatapan sedih, sebelum akhirnya menarik napas panjang.

"Aku tidak tahu, Sakura. Sejak dia dibawa ke sini sebulan yang lalu, keadaannya sama sekali tidak menunjukkan kemajuan. Dia belum berbicara sepatah katapun, bahkan sama sekali tidak merespon panggilan dari kami. Sepertinya kematian Sasuke merupakan pukulan berat baginya," jelasnya panjang lebar. Wanita itu memberikan lirikan terakhir pada pemuda di dalam kamar sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan gadis berambut merah muda itu terpaku di depan pintu.

Kematian Sasuke sudah lebih dari sebulan yang lalu dan Naruto masih sering terbangun sambil berteriak tanpa suara karena mimpi buruknya setiap malam. Dia menangis, menyesali kelemahannya yang tidak bisa melindungi hal terakhir yang bisa dia lindungi. Bahkan yang lebih buruknya lagi, dialah yang menjadi malaikat pencabut nyawa bagi kekasihnya itu.

Polisi menemukannya di ruang makan apartemennya segera setelah mendapati mayat Hyuuga Neji di rumah keluarga Hyuuga. Di sana tertulis alamat yang menunjukkan keberadaan Redrum yang sebenarnya. Dan mereka memang menemukan pembunuh bayaran itu. Tapi dia sudah terbujur kaku dalam pelukan seorang pemuda berambut pirang. Butuh waktu berjam-jam hingga akhirnya Naruto mau melepaskan jasad pemuda itu untuk diautopsi.

Dan ketika dia ditanyai tentang kejadian yang sebenarnya, Naruto hanya bungkam. Tubuhnya memang berada di sana, tapi ruh yang mengisinya berkelana mencari belahan hatinya. Dan polisi memutuskan jiwa Naruto agak sedikit bermasalah sehingga mereka mengirimnya ke tempat ini.

Sakura membetulkan lipatan pada jas dokternya. Mulai hari ini, dia bekerja di rumah sakit jiwa ini untuk membantu proses penyembuhan Naruto, walaupun dia sendiri tidak yakin benar. Perutnya mulai tampak membesar, memperlihatkan dengan jelas harta berharga yang ditinggalkan suaminya tercinta.

Dia membuka dan menutup pintu besi itu dengan perlahan. Kemudian gadis itu berjalan menuju tempat Naruto yang sama sekali acuh terhadap kehadirannya.

Naruto sedikit tersentak ketika merasakan adanya tambahan berat di kasurnya, tapi kemudian kembali diam seribu bahasa. Sakura tersenyum kecil. Setidaknya pemuda itu masih mempunyai refleks akan hadirnya seseorang.

"Naruto-kun… aku Sakura, Haruno Sakura. Sahabatmu waktu di universitas dulu. Kau ingat?"

Naruto bergeming.

Senyum pahit mewarnai wajah cantik Sakura.

"Naruto-kun..." Tangannya meraih telapak tangan Naruto yang berada di atas pangkuannya dan membelainya perlahan. Persis perlakuan seorang ibu kepada anaknya.

Akhirnya mereka berada dalam posisi seperti itu selama beberapa jam. Sakura terus berbicara mengenai dirinya, Naruto, dan Sasuke ketika mereka masih kuliah dulu. Bahkan dia sempat menaruh tangan Naruto di atas perutnya untuk membuatnya merasakan gerakan yang berasal dari kehidupan baru di dalamnya.

Naruto masih tetap tidak memberikan respon. Sakura hanya bisa berharap paling tidak pemuda itu mendengarkan ceritanya.

"Aku hanya mencoba menolong, Naruto. Aku tahu ini berat, tapi… kau masih punya aku yang akan selalu membantumu."

Merasa sudah cukup untuk hari itu, Sakura beranjak meninggalkan ruangan.

"Sa... Sakura…"

Langkah Sakura terhenti di tengah ruangan. Barusan… suara itu...

"Ya Tuhan… kau bicara, Naruto?" Sakura langsung berbalik dan berlutut di depan pemuda itu. Naruto mengangguk kecil. "Aku harus memberitahu Tsunade-shishou, dia pasti..."

Sebuah genggaman lemah di pergelangannya menyadarkan Sakura dari euphoria sejenaknya.

"Ini... rahasia kita..." Suara Naruto terdengar sedikit kering dan serak. "… tidak bisa percaya... siapapun..."

Sakura menatapnya dengan tatapan bertanya. Jadi itu alasannya mengapa dia bungkam selama sebulan penuh dan membuatnya terpenjara di kamar rumah sakit jiwa. Hanya karena dia tidak percaya orang lain lagi.

"Naruto... aku akan membantumu. Karena itu, biarkan Tsunade-shishou…"

"Kalau kau... memang ingin membantuku… kumohon, biarkan aku bertemu dengan… Sasuke..."

Hati Sakura rasanya terkoyak mendengar kalimat itu. Apa Naruto lupa kalau Sasuke menghembuskan napas terakhir dalam pelukannya?

"Naruto..." Dia menghela napas panjang. "… Sasuke… dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia sudah pergi…"

Naruto menggeleng dengan lemah. "Sasuke cuma tidur, dia yang bilang begitu padaku. Katanya... kalau dia bangun... aku harus tersenyum untuknya…"

Dan tangis Sakura langsung pecah seketika. Dipeluknya tubuh ringkih pemuda itu erat. Bibirnya tak henti membisikkan nama Tuhan. Hatinya hancur. Melihat sahabatnya begitu rapuh... dia tidak sanggup.

Beberapa minggu kemudian, Sakura merasa dia hampir mencapai batasnya. Naruto semakin kurus. Tubuh yang seperti hanya dibungkus tulang itu akan mudah diserang penyakit.

Sejauh yang Sakura tahu, Naruto hanya mau berbicara dengan dirinya saja. Sebagai sahabat yang baik, Sakura mengerti jika Naruto tidak mau orang lain tahu. Tapi... Demi Tuhan! Sampai kapan Naruto mau membiarkan dirinya terkurung di balik tembok putih ini?

"Sakura... kau mau aku bahagia, bukan?"

"Naruto... kumohon… kita sudah pernah membicarakan hal ini. Dan aku tidak akan membiarkan kau mati demi 'kebahagiaan' yang kau bilang itu."

Naruto memandangnya dengan tatapan memelas. Bola mata biru itu benar-benar sudah kehilangan cahayanya. Semua yang ada di tubuh Naruto meneriakkan kematian. Bahkan mata yang dulu penuh dengan kehidupan itu.

"Sasuke… tadi malam datang… dia bilang, dia akan selalu menungguku..."

Sakura menggigit bibir bawahnya. Bahkan setelah kematiannya pun Naruto masih bergantung pada pemuda itu.

Melihat tidak ada respon positif dari Sakura, Naruto menuntun tubuhnya untuk turun ke lantai, kemudian bersiap mengambil posisi bersujud. Sakura yang melihat hal ini segera menarik Naruto ke atas kakinya sendiri.

"Apa yang mau kau lakukan, Naruto?"

"Aku akan lakukan apapun... untuk membuatmu mengijinkan aku bertemu dengan Sasuke. Apapun, Sakura... Walaupun harus merendahkan diriku seperti seekor anjing di hadapanmu."

Sakura tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Naruto... dia amat menyayangi pemuda itu seperti adiknya sendiri. Dan kalau bisa, dia akan melakukan apapun untuk membahagiakannya. Tapi kalau satu-satunya cara membuat pemuda itu bahagia adalah dengan membiarkannya menjemput malaikat mautnya sendiri…?

Sakura mendesah kemudian segera mendudukkan Naruto kembali di tepi tempat tidurnya. Dia kemudian berjalan ke arah pintu. Bola mata Naruto mengikuti setiap gerakannya.

Setelah membuka pintu, tanpa berbalik gadis itu berucap, "Sepertinya... aku kehilangan kunci kamar ini. Jadi... kamar ini tidak akan bisa terkunci untuk sementara waktu… bahkan pada malam hari." Kemudian dia menutupnya dengan perlahan.

Di balik pintu, Sakura menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dari sudut matanya terlihat butiran kristal yang siap meluncur kapan saja. Akhirnya... dia membiarkan Naruto mendapatkan 'kebahagiaan' yang dia cari.

Samar-samar, dia bisa mendengar suara Naruto yang begitu penuh dengan keceriaan.

"Terima kasih, Sakura-chan!"

~o~

Sekali lagi, Naruto memandang halaman samping rumah sakit yang berada sejauh 6 lantai di bawah kakinya. Pemuda itu berdiri di tepi atap rumah sakit pada malam hari.

Dengan bantuan Sakura, Naruto bisa meloloskan diri dari kamarnya dengan sangat mudah. Akhirnya... impiannya akan segera tercapai.

Dia tidak tahu apa yang akan dipikirkan Sasuke tentang dirinya kalau dia sungguh-sungguh melakukan hal ini. Sepertinya julukan 'Dobe' akan tercantum sebagai gelar resminya.

"Lihat Sasuke... bintangnya indah, ya?"

"Tak pernah seindah kamu, Naruto."

"Gombal..." Naruto terkekeh kecil.

Naruto kembali melangkah, hingga kini jaraknya dengan tepi atap hanya beberapa milimeter saja. Dengan sedikit hembusan angin yang agak kencang, tubuhnya pasti akan sukses menghantam tanah di bawah sana. Yah... memang itu yang diinginkannya, bukan?

Naruto memejamkan matanya, berusaha menikmati angin yang memainkan rambut pirangnya. Ketika dia membukanya kembali, sesosok tubuh sudah menunggunya di seberang sana. Berdiri di tengah udara dengan angkuhnya.

"Jangan membuatku menunggu terlalu lama, Usuratonkachi."

Naruto tersenyum. Dia sadar bahwa semua itu, sosok itu, suara itu, hanya khayalannya semata. Dan Naruto tidak bisa selamanya hidup dalam khayalan. Karena itu, dia memutuskan untuk mencari 'kenyataannya'.

Pemuda pirang itu mengangkat kaki kanannya perlahan, berusaha menginjak lantai imajinasi yang dibayangkannya berada di udara kosong di hadapannya. Dan setelah itu, semuanya terjadi dengan begitu cepat.

Tubuhnya meluncur, tertarik gaya gravitasi bumi. Cepat dan semakin cepat. Dan sebelum tubuhnya menghantam tanah, Naruto mengukir senyuman terindah di bibirnya. Senyuman terindah hanya untuk kekasih hatinya.

"Aku mencintaimu, Sasuke…"

"Aku juga mencintaimu, Naruto."

~o~

Sakura menatap nisan dengan tanah yang masih merah di hadapannya. Sesosok tubuh telah menjadi penghuni tetap liang itu. Nama Uchiha Naruto terpampang di nisan putih yang sederhana.

Tak ada upacara pemakaman layaknya seorang Uchiha. Pemakaman itu hanya dihadiri beberapa staff rumah sakit, termasuk Sakura dan Tsunade. Sungguh sangat biasa. Tapi Sakura tahu, tubuh yang telah terbaring di dalam sana bukanlah sosok yang biasa. Biarlah keistimewaan Naruto selalu hidup dalam hatinya.

Sakura mengalihkan pandangannya ke nisan di samping milik Naruto. Sedikit terlihat kotor karena tak ada yang berziarah ke situ. Padahal nisan itu baru dipasang sekitar dua bulan sebelumnya. Mata sea green-nya menyapu nama yang tertera di sana.

Uchiha Sasuke.

Dengan segala macam usaha keras yang dilakukan olehnya dan Tsunade, polisi membiarkan agar tubuh Uchiha 'Redrum' Sasuke dikuburkan di makam milik rumah sakit Oto. Dan sesuai dengan impian Naruto, mereka berdua dikuburkan berdampingan.

Pemakaman sudah bertambah sepi. Para staff sudah kembali ke tempatnya, termasuk Tsunade dengan sebotol sake di tangan. Selain itu, butir-butir air mulai menerpa orang-orang yang masih nekat berada di luar ruangan tanpa penutup.

Sakura meletakkan dua buah mawar di masing-masing nisan. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya.

"Selamat tidur, kalian berdua…" Lalu dia menghadap nisan di sebelah kanan. "Berbahagialah, Naruto…"

Diiringi tetesan air yang semakin lama semakin besar menerpanya, Sakura meninggalkan pemakaman itu dengan perasaan yang lebih ringan dari sebelumnya.

Tanpa ada yang menyadari, dua buah sosok yang kasat mata terlihat mengamati prosesi pemakaman itu dari awal hingga menghilangnya siluet Sakura di balik hujan yang semakin deras. Sepasang berwarna hitam, sedangkan yang lain berwarna biru langit.

"Ternyata mengerikan, ya, melihat pemakamanmu sendiri…" gumam pemilik mata sapphire itu.

"Hn, Dobe. Tumben kau punya pemikiran cerdas seperti itu." Sang pemilik mata onyx menampilkan seringaian di wajah tampannya.

Sang mata sapphire meleletkan lidahnya. "Kau pikir aku bodoh, Teme?"

"Karena itu aku memanggilmu Dobe."

Sang mata sapphire berusaha memukul sang mata onyx dengan kepalan tangannya. Namun gerakannya kalah cepat dengan pemuda satunya yang langsung menarik tubuhnya ke dalam sebuah pelukan yang bisa meremukkan tulang.

"Kau tidak tahu berapa lama aku menunggu untuk bisa memelukmu seperti ini lagi, Naruto…"

Pemuda yang dipanggil Naruto itu tersenyum. "Itu kata lain untuk 'aku merindukanmu', kalau begitu?"

Pemuda itu menyeringai. "Begitulah."

Kemudian, tanpa aba-aba, dia menyerang bibir pemuda dalam pelukannya itu. Perlu beberapa menit hingga akhirnya dia melepaskannya kembali.

"Dasar... manusia ataupun arwah kau tetap mesum, Teme…"

Dalam suara rendah, Sasuke berbisik, "Dengan begini, kita bisa melakukan apapun yang kita mau tanpa ada gangguan, 'kan?"

Naruto tersenyum. Tapi secepat munculnya, secepat itu pula senyumannya luntur. Alisnya bertautan, kelihatan sedang berpikir keras.

"Aku sedang berpikir..."

"Otakmu itu bukan buat berpikir, Dobe."

"... menurutmu, setelah ini aku masih bisa makan ramen, tidak?"

Sasuke tertawa, tawa renyah yang dirindukan telinga pemuda pirang itu.

"Secepatnya, Naruto... saat kita bereinkarnasi. Aku janji akan menraktir sebanyak yang kau mau…"

"Memangnya kau yakin kita akan bertemu lagi?"

"Kalau tidak, aku sendiri yang akan mencari sampai aku menemukanmu."

Dan Naruto kembali tersenyum, kali ini melempar dirinya ke dalam pelukan Sasuke lebih dalam. Mungkin... di kehidupan selanjutnya, mereka berdua akan lebih beruntung. Dan sampai saat itu tiba, sambil menunggu mereka bisa tetap bersama. Bersatu hingga waktu yang tidak diketahui…

"Jadi menurutmu... kira-kira di dunia arwah ada yang menjual ramen tidak, ya?"

"Dobe."

"Jangan panggil aku begitu, Teme!"

... sambil terus membuat kenangan-kenangan indah untuk membayar waktu yang telah mereka lewatkan sebelumnya.

Tak ada penyesalan di hati keduanya. Apalagi pemuda pirang itu. Karena dia telah pulang ke tempat seharusnya berada.

Kembali dalam pelukan sang Uchiha.

Ke 'rumah'nya

-OWARI-


And I'm planning to write the spin off of this story as well: Have A Nice Die and 1000 Lives.

Anyone interested?


Edited. Semarang, 110619.

.charlottecauchemar.