SMA Destiny Island (SMA DI)

Disclamair : Kingdom hearts bukan punyaku lah...

Warning : OOC tingkat tinggi, banyak chara lain yang masuk, gaje parah, humor tapi gak lucu. Oh dan juga, Sora sama Roxas jadi anak kembar.

Pairing : Baca sendiri deh.

Setting : Di destiny island


Chapter 1

Indahnya masa SMA

Sora and the gank menjadi murid kelas 10 SMA Destiny Island. Banyak hal yang terjadi selama mereka sekolah disini

Cinta

Pacaran

Jealous

Persaingan

Persahabatan

Langsung saja kita lihat keadaan mereka

Sudah menunjukkan pukul 2 siang. Waktunya bubar sekolah di SMA DI. Tapi masih saja ada beberapa anak yang gak bosen-bosennya tetep stay di school. Salah satunya adalah 2 cowok ini.

Sora, cowok berambut coklat jabrik berantakan tampak sedang marah-marah di tempat favoritnya di DI, ruang UKS.

"Serius deh, dia cewek paling gak asik sedunia!!" Omelnya keras. Mumpung UKS lagi sepi, biasanya kan nih tempat penuh sama anak UKS lainnya. "Paling kolot, paling konservatif, paling gak toleran, paling galak, paling judes, paling gak punya perasaan.." Sora menumpahkan semua uneg-unegnya.

Sementara cowok satunya yang sedang asik membaca majalah terlihat cuek menanggapi omelan Sora.

"Roxaaas, lo dengerin gue gak sih?" Seru Sora sebal.

Roxas, cowok pirang adik kembar Sora yang punya tampang penuh derita (Sejenis tampang melas yang bisa bikin orang kasihan gitu deh) bergumam singkat "Hmm,"

"Ah, gak asik banget sih Lo." Sungut Sora sambil duduk di sebelah Roxas.

Akhirnya Roxas melepaskan pandangannya dari majalah dan ganti menatap Sora "Kenapa sih? Soal Kairi lagi?"

Sora memandangnya gemas seakan hendak memakan Roxas "Ya iyalah, emang dari tadi kita ngomongin siapa?" Sora mulai jengkel sambil menggebrak meja.

"Sorry, gue baru connect," Roxas berdehem singkat "Cerita dong, kenapa lo sampai bisa maki-maki Kairi kayak gitu,"

Sora mendesah dramatis "Jadi gini, gue kan disuruh guru naruh surat undangan rapat di ruang OSIS. Nah, namanya aja ruang OSIS pasti ada anggota OSIS kan di dalemnya?" Sora menyakinkan Roxas, dan ditanggepi dengan anggukan cowok itu. Sora kembali melanjutkan cerita "Terus gue ketemu Kak Yuffie (sekretaris OSIS) disitu, sendirian. Sebagai adik kelas yang baik gue negur dia dong, jadilah kita ngobrol-ngobrol. Eh terus pas kita lagi asik ngobrol, Kairi nongol. Dia langsung marah-marah gara-gara gue sama Kak Yuffie lagi berduaan di ruang OSIS dan tampak intim banget. Alhasil dia langsung narik gue detik itu juga, dan yeah lo bakal tau cerita selanjutnya," Sora mengakhiri ceritanya.

"Lo dimarahin lagi sama dia?" Tanya Roxas menahan geli.

Sora Cuma diam sambil tersenyum pasrah.

Roxas tertawa keras, tak mampu menahan kegeliannya pada Sora yang sudah coba dia tahan dari tadi. Padahal dia sudah bersumpah bakal bersikap lebih dewasa dalam menyikapi masalah antara kakaknya dan Kairi. Roxas sendiri gak habis pikir kenapa Sora selalu gak berkutik bila dihadapan ceweknya itu. Padahal aslinya Sora kan termasuk cowok kuat.

Sora cemberut melihat reaksi Roxas "Gak usah ketawa deh, emang sengsara banget ya jadi gue. Lo sih enak, Namine pengertian dan baik banget. Gak kayak Kairi!!" Sora memberi penekanan pada kata Kairi. Keliatannya Sora emang lagi bete kuadrat sama Kairi.

Sebenarnya Roxas ingin bilang 'Ya udah Lo putusin aja, repot amat' , gara-gara dia capek dengerin Sora berantem mulu sama Kairi, tapi jelas gak bisa semudah itu. Akhirnya Roxas Cuma menepuk-nepuk pundak Sora "Sabar aja deh,"


Selain Sora dan Roxas, masih ada segelintir anak yang masih betah di sekolah. Kebanyakan sih anggota klub, seperti anak futsal dan anak basket. Tapi di perpustakaan ternyata ada juga anak-anak yang ngumpul disana.

Di salah satu meja, Riku―cowok yang sama sekali gak punya tampang buat masuk perpus―menatap jengah cewek pirang di sampingnya yang sedang sibuk menggambar.

"Ngapain sih lo disini?" Tanya Riku menahan kesal sambil berbisik ke cewek itu.

Cewek pirang manis itu, Namine, Cuma tersenyum lebar ke Riku "Suka-suka gue dong,"

"Lo kagak pulang?" Riku pantang menyerah buat nyari alasan supaya Namine segera meninggalkan perpus.

Namine menggeleng "Males ah, gue pengen nungguin elo."

Riku mengerutkan kening "Sejak kapan lo pengen nungguin gue? Lo bahkan bukan anak perpus," Cecar Riku.

"Lo juga bukan anak perpus," Namine gak mau kalah.

"Eh sory-sorry aja ya, gue udah jadi anggota sejak seminggu lalu," Kata Riku merasa menang.

Namine Cuma geleng-geleng kepala.

"Lo pulang aja napa, ganggu konsentrasi gue tau." Riku mulai kesal.

"Gue pengen ngawasin elo," Gumam Namine singkat.

Riku memandangnya bingung "Apa?"

"Rik, lo pikir gue gak tau kalau lo demen sama penjaga perpus yang baru itu. Makanya lo langsung daftar jadi anggota kan? Terus elo pengen berduaan sama dia disini. Enak aja, gak bakal gue biarin," Kata Namine berapi-api.

Riku memerah, gak menyangka Namine tau semuanya. Tapi wajahnya kembali keras "Lah, apa urusan lo?" Balasnya.

"Gue gak mau aja lo deket-deket sama dia," Jelas Namine.

Riku mengerjap, tapi mendadak dia tersentak seakan baru dapat ilham "Na..Namine, lo gak boleh begini," Desisnya pelan.

"Gak boleh apaan?" Namine menghentikan tangannya yang sedang asik membuat sket.

"Gue ngerti perasaan lo ke gue, tapi gimanapun juga lo udah punya Roxas. Lo tega apa nge duain dia," Riku menjelaskan dengan tampang serius.

*bletakk* Namine langsung menjitak Riku "Dodol!!! Ge-er amat sih lo, siapa juga yang naksir sama elo. Turun kelas deh kalau gue nge duain Roxas sama cowok macam elo," Sembur Namine pedas.

Riku mengusap kepalanya sambil meringis, gila Namine kurus-kurus gitu tenaganya badak, batin Riku. "Ya terus maksud lo apa? Gak salah dong kalau gue mikir elo naksir gue?" Riku membela diri.

Namine berdecak sebal "Gue tuh gak suka sama penjaga perpus baru itu. Kecentilan banget, bukannya kerja malah sibuk dandan. Gue gak mau aja lo ikut-ikutan cowok lain buat ngedeketin dia, secara kita temen gitu looh,"

Riku mengangguk paham, yaelah gak jadi pdkt deh gue sama petugas baru itu, batin Riku

"Jadi elo gak naksir gue nih?"

*BLETAKK* sekali lagi Namine melayangkan jitakannya dengan sukses ke kepala Riku "Please

deh Rikuuuu, Roxas 1000 kali lebih baik dari elo. Ngapain gue jadi malah naksir cowok madesu macam elo,"

"Sialan, madesu kan masa depan sukses," Balas Riku jayus.

*BLETAKKKKK* Riku langsung pingsan di tempat.


Lapangan basket sedang kosong karena anak basket lagi istirahat dan jajan di kantin. Tapi ada seorang cewek yang lagi asik melempar bola. Cewek cantik berambut merah itu Kairi, it girl nya DI. Ngeliat Kairi lagi main basket *dan pake rok pula* , cowok-cowok termasuk anak basket langsung nontonin di pinggir lapangan dan gak berani ganggu.

Kairi melempar bola dengan asal-asalan, dia masih sebel gara-gara kejadian tadi siang. Dia gak sengaja mergokin Sora lagi sama sekretaris OSIS yang ganjen abis itu. Ukh kurang apa seh gue itu, batin Kairi, gue cakep, baik hati, ramah, tidak sombong, idola sekolah, tapi bisa-bisanya dia masih ngelirik cewek lain. dasar cowok kurang ajar. Kairi melempar bola lagi dengan sekuat tenaga.

"Hai Kairi," Sapa seorang cowok yang tau-tau sudah ada di sebelahnya.

Kairi menoleh memandangi cowok jangkung itu, "Hm, siapa lo? Kok tau nama gue? Jangan sok akrab ya," Entah kenapa Kairi jadi sensi begini.

Cowok itu tersenyum walau Kairi udah jelas nunjukkin rasa gak suka "Gue Strife, kapten basket," Jelasnya sambil mengulurkan tangan. "Satu sekolahan tau nama lo kali"

Kairi membalasnya dengan gak minat, "Ooh Strife, si bendahara OSIS itu?"

Strife mengangguk.

"Sorry ya, gue kesannya kurang ajar tadi. Ya udah, gue balik dulu. Lo mau latihan lagi kan?"

Kairi lalu melempar bola ke Strife dan melangkah pergi. Biar kesannya Kairi itu cuek, tapi dia paling gak mau bermasalah sama senior.

"Eh, kalau lo masih mau main, gabung sama kita aja," Tawar Strife.

Kairi berbalik, "Nggak deh, makasih tawarannya kak,"

Strife tertawa "Yaelah, jangan panggil gue 'kak' napa. Kesannya kan gak akrab, panggil gue Strife aja,"

"Ya terserah deh," Gumam Kairi asal sambil kembali berjalan.

Sementara itu Strife cume tersenyum dari jauh memandangi punggung Kairi, adik kelas yang sudah dia sukai sejak pertama kali liat itu.

"Gagal lo Strife, Kairi cuek banget tadi," Seru seorang anak basket mendekatinya.

Strife Cuma tersenyum, "Tunggu tanggal maennya man, liat aja nanti,".


Kairi menghabiskan waktu dengan bengong di kelas, jajan di kantin, gulin-guling, tidur, dengerin iPod, dan hal-hal gak penting lainnya. Setelah pukul 5, baru dia memutuskan untuk pulang.

Di tempat lain..

Sora dan Roxas berjalan keluar dari ruang UKS. Dari tadi mereka sibuk diskusi soal PR Fisika yang super sulit.

"Bete deh gue," Gumam Sora.

"Kenapa?" Roxas bertanya sambil matanya masih tertuju ke majalah.

Sora menghela nafas "Besok gue bakal ketemu dia lagi,"

Roxas menutup majalahnya dan menatap Sora tajam, "Lo tuh kenapa sih? Lo benci sama dia?"

Sebelum Sora menjawab, mereka berdua berpapasan dengan Riku dan Namine di tangga.

"Roxas," Seru Namine kaget, "Kamu belum pulang?"

Roxas nyengir sambil menggeleng, "Belom, dari tadi di ruang UKS. Kamu juga belum pulang?"

"Iya, ngawasin si Riku di perpustakaan dulu," Jawab Namine.

Riku mendekatkan diri ke Roxas, "Rox, cewek lo kayaknya ada hati sama gue,"

Namine yang mendengarnya langsung menyiapkan tinjunya, "Heh, lo pengen ngerasain jitakan maut gue lagi?"

Riku Cuma tertawa sedangkan Roxas tetep stay cool.

Sora yang keliatan uring-uringan menarik perhatian Riku, "Kenape lo Sor?"

"Gue berantem lagi sama Kairi," Jawab Sora malas.

Bola mata Riku membesar, "Ohya," Gumamnya. "Hm, terus gimana?"

Sora mengangkat bahu, "Tau ah, yang jelas gue capek."

"Ya udah, lo putusin aja, repot amat." Usul Riku semangat.

Roxas yang mendengarnya langsung kaget, "What?? Jangan ngaco deh lo Rik, Sora sama Kairi gak boleh putus. Mereka kan udah jalan 3 tahun,"

Riku belagak cuek. "Gue kan Cuma ngusulin,"

"Tapi ngaco dan gak menolong," Roxas memandang Sora sekarang. "Denger ya, lo sama Kairi gak boleh putus!!"

Sora terlihat berpikir. "Tapi usul Riku boleh juga, gue udah gak tahan sama Kairi."

"Enak aja pokoknya gak boleh!" Kata Roxas ngotot. "Namine, kamu ikut ngomong sesuatu dong,"

Namine memandang Sora lembut, "Sora, walau Kairi keliatannya judes, tapi sebenarnya dia itu sayang banget sama elo. Percaya deh, dia juga gak bakal mau putus."

"Tapi gue mau," Sora tetep kekeuh dengan keputusannya.

"Iya, terserah Sora dong." Tambah Riku.

"Gak bisa!!" Roxas makin ngotot.

Sora berdecak kesal, "Eh, yang pacaran kan gue, suka-suka gue dong. Kenapa malah elo yang sewot,"

Ketika Roxas hendak membalas, dari tangga muncul Kairi yang sedang memakai iPod.

"KAIRI???!!!!" Seru semuanya kaget.

Kairi melepas iPodnya dan memandang semuanya dengan heran, "Lho, kalian belom pulang?"

Semuanya menggeleng dengan memasang tampang bego.

Kairi mengangguk. "Oh okay, kalau gitu gue mau pulang. Namine, pulang yok." Ajaknya

sambil kembali memakai iPod dan berjalan menuju gerbang.

Namine mendesah, "Duluan ya Roxas, daah" Kata Namine mengikuti Kairi.

"Daah," Balas Roxas.

Sora Cuma diam mematung memandang Kairi yang jelas mengacuhkannya.

"Kita juga harus pulang nih, udah jam 5. sekolah bakal ditutup bentar lagi," Kata Riku.

Mereka bertiga lalu berjalan menuju gerbang.

SMA masa yang berat, satu masalah sudah terjadi. Tapi seperti chrisye bilang

"Tiada kisah paling indah kisah kasih di sekolah"

to be continued...


A/N : Sory kalau aneh dan gak jelas. review ya, please!!!!!