Chapter 3


Sementara itu di kantin, Sora and the gank lagi makan di meja paling pojok. Di sebelah meja mereka, Seifer, Squall dan Rinoa duduk disitu. Pemandangan ajaib sebenarnya, musuh bebuyutan bisa duduk bareng. Kalau bukan karena Rinoa, mana mungkin kedua cowok itu sudi deket-deketan.

"Sumpah ya, kok bisa-bisanya gue duduk semeja sama cowok pirang sinting yang hobi ngerebut cewek orang." Kata Squall sinis menyindir telak cowok disebelahnya.

Seifer mengepalkan tangan menahan emosi, "Gue juga gak nyangka, bisa-bisanya duduk sebelahan sama cowok coklat idiot yang kelewat posesif sama cewek orang." Balas Seifer.

Mereka saling pelotot-pelototan dalam waktu cukup lama.

"Rinoa tuh cewek gue!!" Desis Squall sebal.

"Dia juga cewek gue!!!!" Seifer gak mau kalah.

Squall ganti memandang Rinoa yang lagi asik makan bakso dengan tatapan kesal, "Kok mau-mau aja sih lo nge duain gue sama cowok stress kayak dia," Geram Squall seraya menunjuk Seifer dengan dagunya.

Seifer ikut-ikutan memandang Rinoa, "Kok lo belum juga mutusin cowok gak berguna kayak dia sih." Balasnya sambil menunjuk Squall.

Rinoa menghentikan suapannya dan memandang kedua cowoknya itu satu persatu. Okay, penjelasan singkat. Rinoa itu teknisnya adalah ceweknya Squall, tapi dia sering juga jalan bareng sama Seifer. Jadilah cinta segitiga antara Squall, Seifer dan Rinoa. Rinoa gak bisa milih satu diantara mereka, keduanya punya kelebihan sendiri-sendiri. Lagipula Seifer dan Squall toh cuek-cuek aja walau harus berbagi pacar, mereka malah menikmatinya untuk saling mengejek satu sama lain. yah secara musuh bebuyutan sejak kecil gitu lohhh.

"Ya ampun, kalian berisik banget sih. Ini tuh kantin, bukan ring tinju. Kalau mau berantem, sana cari tempat lain." Tandas Rinoa sebal. Dalam hati dia meratapi nasib sialnya, hiks sedih amat ya jadi gue, punya cowok dua, tapi dua-duanya pada sableng semua.

"Yaelah, gue juga tau kalau ini kantin. Please dehhh," Kata Squall.

Seifer ikut menimpali, "Yang bilang ini ring tinju siapa? Gimana sih lo?"

Rinoa Cuma geleng-geleng kepala melihat sikap kedua cowok itu.

Riku yang lagi bokek―selalu bokek lebih tepatnya―kebetulan duduk tak jauh dari bangkunya Seifer. Dia mencolek bahu Seifer.

"Hoi ketua kelas, traktir dong." Pintanya tanpa malu-malu. "Lagi seret nih kantong gue."

Seifer menoleh, lalu mengeluarkan dompetnya, "Hmm, nih 5 ribu. cukup kan?" Katanya sambil mengambil uang 5 ribuan dari dompet tebalnya.

"Huwaaa, Seifer, curang lo. Gue aja gak pernah lo traktir." Sungut Rinoa.

Riku tertawa, "Cukup kok, thanks ya." Katanya hendak mengambil uang itu.

Sebelum uang itu terambil, Squall tiba-tiba membuka dompetnya, "Eh, nih gue traktir lo 6 ribu. Jangan terima duit itu." Serunya kencang.

Seifer mendelik marah, mau nantangin ya nih bocah, okay gue layanin. "Gue traktir lo 10 ribu." Balas Seifer.

Riku Cuma melongo, sedangkan Squall merasa tertantang, "Gue traktir lo 15 ribu." Tandasnya.

"20 ribu."

"25 ribu."

"30 ribu."

"35 ribu."

Kairi memandang Riku bingung, "Kenapa lagi sih mereka?"

Riku nyengir, "Seifer sama Squall mau nraktir kita." Jawabnya santai.

Kairi, Namine, Sora dan Roxas mengangguk-angguk.

"Apa gak papa nih?" Gumam Roxas seraya memperhatikan Squall-Seifer yang masih sibuk pasang harga. "Kok kesannya jadi kayak lelang sih."

Sora mengibaskan tangannya gak peduli, "Udahlah, mereka kan emang dari dulu begitu. Asik kali kita bakal ditraktir." Ujarnya cuek.

"50 ribu...Hah, bisa gak lo nyaingin gue!!" Kata Seifer sambil mengleuarkan lembaran uang 50 ribu.

Squall tertawa licik, "55 ribu," Tawanya mengeluarkan uang 55 ribu. "Mampus lo!!"

Seifer langsung emosi, "60 ribu," Teriaknya.

"75 ribu." Balas Squall.

"80 ribu, nggak..90 ribu." Seru Seifer.

"CEPEEK." Tandas Squall menang.

Namine mulai panik, "Waduh, jelas ini gak baik. Mereka harus dihentikan." Katanya cemas.

"Iya, gila aja deh. Dengan duit segitu seluruh kantin bisa diborong." Tambah Kairi.

"Biarin aja." Kata Riku gak peduli yang sedang asik menonton pertarungan Seifer-Squall.

"Gak bisa gitu dong." Seru Kairi kesal, dia memandang Sora. "Sora, suruh mereka berhenti!" Perintahnya.

Sora mendesah, lalu memanggil mereka berdua dengan ogah-ogahan. "Woy, Squall, Seifer.

Udahlah, kita gak usah ditraktir juga gak papa kok."

Mereka berdua menoleh dan menghentikan sejenak adu lelang mereka. "Udah santai aja. Lo lo semua pasti bakal gue traktir setelah makhluk satu ini gue beresin." Kata Seifer tenang.

Squall merasa tersinggung, "Gue yang bakal traktir mereka, nih 150 ribu."

Seifer gak mau kalah begitu saja, "155 ribu."

Rinoa menutup mukanya karena malu, bisa gak sih sedetik aja mereka itu gak ribut dan gak bikin gue malu. Batinnya.

"Guys, gak usah gila gitu lah. Emang lo beneran punya duit segitu." Kata Roxas gak percaya.

Seifer memandangnya tersinggung, "Jelas gue punya lah. Lo mau menghina nama Almasy hah?" Serunya marah.

Seifer Almasy adalah putra pewaris Almasy group, sebuah perusahaan di bidang properti yang sudah terkenal se Destiny Island.

"Gue juga punya duit segitu, emangnya Cuma ngibul apa." Tambah Squall sebal, "Seorang Leonhart gak pernah kere tau,"

Squall Leonhart, terlahir di keluarga pengacara. Bokapnya adalah pengacara kondang yang sering masuk tv.

Tau-tau kedua tangan Rinoa sudah mendarat sukses di kepala Seifer-Squall.

"ADUH!!!" Jerit mereka.

"Gue kan udah bilang, ini kantin!! Kalau mau berantem cari tempat lain. Udah ayo kita ke kelas aja." Serunya kesal sambil menarik tangan kedua cowoknya pergi.

Riku mendengus, yah gagal ditraktir deh.

Namine mengelus dada, UNTUNG Roxas gak kayak gitu.

Kairi geleng-geleng kepala, ternyata Rinoa masih lebih parah dari gue, kedua cowoknya stress semua.

Roxas manyun, sialan, gue lupa kalau mereka lebih kaya daripada gue.

Sora sibuk menghitung, coba duit 155 ribu beneran dikasih, daripada buat makan di kantin

mending gue beli kaset PS .


To be continued

A/N : Gaje banget ya!!! terus gimana ceritanya tuh Rinoa bisa jadi sama seifer juga