Hari masih pagi dan tidak terlalu panas saat aku dan Sasuke tiba di villa. Di depan aku hanya melihat Deidara-san yang sepertinya sedang menikmati segarnya udara di pagi hari. Butuh waktu beberapa detik sampai dia menyadari kedatangan kami berdua setelah tidak kembali semalaman. Deidara-san seperti bergumam sesuatu dan sedetik setelahnya, dia langsung melesat ke dalam rumah, mungkin untuk memberitahu yang lain. Dan benar saja, beberapa saat kemudian Seya-san dan yang lainnya keluar bersama-sama.

"Sakura!" teriak Seya-san dan berlari ke arahku. Sasuke yang sejak tadi menggendongku di punggungnya langsung menurunkanku. Seya-san langsung saja memelukku, sepertinya terlalu bersemangat-atau terlalu senang- sampai-sampai aku hampir jatuh karena tidak bisa menahan pelukannya yang begitu tiba-tiba, sementara kakiku masih sakit-bahkan jika hanya dibuat berdiri.

"Ouch!" pekikku saat menahan sakit di kakiku.

"Kau baik-baik saja, Sakura?" tanya Seya-san setelah melepaskan pelukannya. Tubuhku sedikit oleng karena rasa sakit di kakiku rasanya semakin menjadi saja.

"Ti, tidak. Hanya sa-"

"Kakiknya terkilir," potong Sasuke.

"Benarkah? Maafkan aku kalau begitu. Masuklah Sakura, akan kuobati kakimu. Dan kau Sasuke," Seya-san menatap sengit pada Sasuke di sebelahku, "kau harus jelaskan ini semua." Sasuke tidak menjawab, melainkan hanya bergumam 'hn' pelan.

Saat berikutnya, aku sudah berjalan ke dalam villa dengan dipapah oleh Seya-san. Baru beberapa langkah saja kakiku rasanya seperti dipukul-pukul palu. Sakit sekali. Saat kurasakan kakiku sudah tidak kuat menahan berat tubuhku sendiri, aku merasa akan jatuh sungguhan. Tapi itu tidak akan terjadi jika Sasori-san dengan tiba-tiba menangkap tubuhku.

"Biar aku saja yang membawanya," kata Sasori-san. Dan detik berikutnya, dia sudah membawaku dengan, ehm, bridal style.

"Sa, Sasori-san! Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri," tindakannya barusan membuatku terkejut. Lagipula juga tidak enak jika dilihat oleh semuanya. Kurasakan mukaku memanas dan entah mengapa aku merasa aneh. Sepertinya jantungku sedang memompa darahku berkali-kali lebih cepat dari biasanya.

"Hn, dan aku akan menyelesaikan urusanku dengan Uchiha muda di sini," kata Seya-san dengan nada yang sedikit ketus.

"Dan kau tahu? Kurasa mereka berdua memang ada hubungan khusus, un," aku mendengar Deidara-san sedang berbisik keras pada Itachi-san. Kebiasaan buruknya-berbisik dengan suara keras, dan aku yakin semua orang disini bisa mendengar bisikannya barusan. Dan yang diajak berbicara-Itachi-san sepertinya tidak menanggapi hal ini. Dan saat berikutnya, aku merasakan ada hawa panas yang menyeruak.

Warning : OOC, AU, Gaje-ness, sedikit fluff gaje DX

Fiction Rated : T

Main Character : Sakura H.

Genre : Romance/Parody

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Blooming © Lauselle E. Granzchesta

Sasori-san mendudukkanku di kursi di ruang makan. Ruangannya sedikit gelap-mengingat hampir tidak ada cahaya matahari yang menerangi ruangan ini. Sasori-san beranjak untuk menyalakan lampu.

"Tunggulah di sini, aku akan mengambil kotak P3K dulu," katanya sambil berlalu. Aku hanya menjawab dengan sekali anggukan.

Dan tidak sampai lima menit, Sasori-san sudah dating dengan kotak P3K di tangannya. Dengan cekatan dia mengambil alkohol dan mengoleskannya di kakiku. Ada sensasi dingin yang menyentuh kulitku, dan disaat yang bersamaan, aku merasa darahku kian mendesir saat Sasori-san menyentuh kakiku. Dan sebuah tekanan kecil di sekitar memar di kakiku membuatku tersentak dan memekik pelan.

"Maaf, sakit ya?" katanya.

"Ti, tidak apa," kataku sambil meringis menahan sakit.

"Memangnya kenapa?" katanya.

"Huh?"

"Kenapa kakimu bisa seperti ini, eh? Dan apa yang kau lakukan dengan Sasuke sampai-sampai kau tidak kembali semalam, hn?" kata Sasori-san tanpa mengalihkan pandangannya dari kakiku. Dia sedang sibuk membebat kakiku dengan perban.

"Kami tersesat. Gara-gara si bodoh Sasuke itu, kukira dia tahu arahnya, jadi kubiarkan saja dia berjalan di depan dan aku mengikutinya dari belakang."

"Dan salahmu jika kau memepercayakan jalan di bukit-atau hutan yang gelap itu pada Sasuke." Sasori-san diam sesaat. Saat aku akan bertanya alasan Sasuke menjadi seperti itu, Sasori-san langsung angkat bicara lagi, "itu karena dia phobia akan kegelapan-ah atau bisa dibilang, dia phobia akan tempat itu," lanjutnya seakan-akan bisa membaca pikiranku.

"Eh?"

"Nah sudah selesai. Lain kali kau hati-hati kalau berjalan, dan lihat apakah jalan yang kau lewati itu aman atau tidak. Jangan sampai membuatmu terluka," aku terkesiap mendengar kata-kata Sasori-san barusan. Rasanya seperti… déjà vu.

-

-

Tanpa sadar aku jadi melamun. Hingga aku mengacuhkan semua pertanyaan Sasori-san yang dilontarkan padaku. Hingga sebuah sentuhan di lenganku membuyarkan semua lamunanku.

"Ma, maafkan aku Sasori-san," kataku terbata-bata.

"Kau… menangis, Sakura-chan?" tanyanya yang membuatku terkejut dengan sukses. Aku merasakan pipiku basah. Ternyata aku tidak sadar kalau air mataku jatuh dengan sendirinya. Ah, aku pasti terlihat sangat konyol di depan Sasori-san. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada badai, tidak ada salju, tiba-tiba aku menangis dengan sendirinya.

"A, aku.." aku mengusap pipiku yang basah dengan tanganku. "Maaf.." tanpa sadar aku jadi meminta maaf padanya. Bahkan aku tidak tahu kenapa aku minta maaf padanya.

"Untuk apa?"

"Aku pasti terlihat konyol, tiba-tiba menangis tanpa alasan," aku tertawa getir. Tanpa sadar, air mataku keluar lagi. dan detk berikutnya, aku sudah sesenggukan.

"Menangislah, kalau itu memang bisa meringankan bebanmu," katanya sambil membawaku ke pelukannya. "Terkadang seseorang juga butuh menangis untuk mengilangkan beban yang dialaminya," Sasori-san membelai rambutku. Entah mengapa orang yang ada di depanku ini bersikap sangat baik padaku-yang bahkan baru dikenalnya dalam waktu kurang dari sebulan. Dan beberapa detik ke depan, aku sudah menangis sesenggukan.

"Mungkin akulah yang harus meminta maaf padamu, Sakura-chan," katanya tiba-tiba.

"Eh?"

"Mungkin kata-kataku barusan ada yang menyakiti hatimu, jadi aku minta maaf," katanya sambil tetap memelukku dan membelai rambutku.

"Umm.." aku menggeleng pelan. "Tidak apa. Aku hanya teringat kedua orang tuaku yang sudah meninggal. Rasanya rindu sekali," kataku masih dengan beberapa bulir air mata yang tetap mengalir di pipiku.

"Kau boleh bercerita padaku-yah itupun jika kau tidak keberatan, mungkin bebanmu bisa sedikit terangkat setelahnya."

"Ayah dan Ibuku meninggal tiga tahun yang lalu. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan rasanya begitu menyakitkan. Dan itu terjadi tepat di depan mataku. Dan aku hanya diam dan berdiri terpaku di sana.

Seberapa kerasnya hatiku meyakinkan kalau ini semua hanyalah mimpi, tapi apa yang sudah kusaksikan dengan mata ini, membuatku terhempas, terhempas kembali pada kenyataan kalau ini semua benar-benar nyata," aku mulai menangis lagi, dan air mataku mengalir semakin deras. "Aku bahkan belum sempat membahagiakan mereka! Dan yang kulakukan malah sebaliknya!" teriakku yang kemudian mulai menangis.

"Aku tahu, itu semua pastilah sangat berat."

"Tapi aku telah melukai hati mereka disaat mereka akan pergi! Semua kebaikan mereka pun bahkan tidak sempat kubalas sedikitpun!" suaraku meninggi lagi. Aku mulai takut kalau saja ada yang mendengar ini.

"Kalau begitu, kau hanya harus berusaha sekali lagi. Berusaha untuk memberikan yang terbaik pada mereka. Walaupun mereka saat ini sudah tidak ada di sisimu lagi, mereka pastilah melihat dari atas sana."

"Hm, terima kasih banyah Sasori-san," aku melepaskan diri dari pelukan Sasori-san. "Dan maaf untuk bajumu. Jadi basah begitu."

"Hn, tidak masalah. Dan jangan menangis lagi, Sakura-chan. Tidak pantas," katanya seraya menghapus bekas air mataku yang masih tertinggal di pipi. Aku hanya mengangguk pelan.

"Hatchiih!"

"Kau kenapa, Sakura-chan?"

"Mungkin masuk angin. Kemarin kami kehujanan, bahkan Sasuke sempat pingsan. Hatchiih!" kataku sambil mengusap hidungku. Rupanya hawa di dalam villa lebih dingin dari hawa di luar sana. Kalau begini bisa-bisa aku demam.

"Gantilah bajumu. Ayo, kuantar kau ke kamar," katanya seraya mengulurkan tangan padaku. Sebelumnya aku tidak pernah sedekat ini dengan Sasori-san. Sejak pertama kali aku melihatnya bahkan mengenalnya, aku hanya bisa meihatnya dari jauh. Dan siapa sangka, sekarang aku bahkan menjadi sedekat ini padanya.

-

-

"Hueeee! Kaa-san, sakit sekali rasanya, hiks."

"Sakura, kau tidak apa-apa, sayang? Coba kemarikan lututmu." Kata seorang wanita yang wajahnya sudah tidak asing lagi bagiku. "Tahan sedikit ya, Sakura. Mungkin terasa sedikit perih," katanya sambil mengusap luka di lututku dengan sapu tangan. "Makanya, lain kali perhatikan langkahmu kalau kau berjalan, Sakura."

Ah iya. Itu Kaa-san.

"Dan pastikan kalau jalan yang kau lewati itu benar-benar aman untukmu, dan tidak akan membuatmu terluka." Seorang pria berumur sekitar kepala tiga menghampiri Sakura kecil dan Kaa-san. Itu Tou-san.

"Hiks, aku mengerti. Tapi ini perih sekali rasanya, Tou-san, hiks."

"Sudahlah jangan menangis lagi. Ayah tidak mau melihat putri kesayangan ayah menangis hanya karena hal seperti ini."

-

"Tidak mau! Aku benci Tou-san dan Kaa-san!" tanpa pikir panjang, aku langsung saja berlari tanpa melihat keadaan. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah kabur dari Kaa-san dan Tou-san.

"Sakura! Awas!"aku mendengar suara Tou-san yang berteriak. Dan sedetik kemudian aku bisa merasakan tubuhku didorong dengan keras, hingga aku sukses tersungkur di aspal sampai sebrang jalan. Dan bersamaan dengan itu terdengar bunyi decitan ban mobil dan suara 'BRAK' keras.

Aku merasakan perih pada siku dan lutut kananku. Sepertinya bergesekan cukup keras dengan aspal. Aku berusaha menahan perihnya luka di siku dan di lutut. Setelah aku yakin bisa berdiri, aku berdiri perlahan. Mataku menangkap segerombol orang, yang sepertinya sedang mengerubungi sesuatu. Aku terkesiap. Jantungku berdetak kencang. Tubuhku gemetaran.

Seketika tubuhku jatuh ke tanah saat aku melihat kondisi kedua orang tuaku yang bersimbah darah. Air mataku tiba-tiba jatuh tanpa dikomando. Hatiku benar-benar mencelos. Bagaimana bisa menjadi seperti ini? Kepalaku terasa berat, hatiku benar-benar tidak siap menghadapi ini semua. Hingga semuanya menjadi gelap.

-

"Kaa-san! Tou-san!!" aku bangun dari tidurku sambil berteriak.

Mimpi.

Jantungku berdetak kencang. Keringat dingin mengalir membasahi tubuhku. Nafasku terengah-engah.

Aku takut. Entah kenapa, rasanya aku sangat takut setelah mendapat mimpi barusan. Padahal aku sudah sering mengalami mimpi tentang kematian kedua orang tuaku. Aku merasa bahwa akan ada yang hilang. Lagi.

Mataku terasa panas. Air mataku tiba-tiba saja meleleh. Oh Tuhan, hal buruk apalagi yang akan Kau berikan padaku?

-

-

Aku berjalan menuju lantai satu. Niatku sih untuk mencari makanan. Karena hampir dua hari aku tidak makan. Dua hari? Yeah, saat baru pulang bersama Sasuke, aku tidur sehari penuh. Badanku benar-benar tidak enak. Saat ini kepalaku pun masih sedikit pusing.

Kakiku melangkah menuju dapur. Mungkin saja aku bisa menemukan makanan di sana.

Di dapur, aku melihat Seya-san sedang berkutat dengan makanan, err- kurasa itu tidak bisa disebut makanan, dan dapur yang amat sangat berantakan. Phew. Apa yang dia lakukan?

"Ah Sakura! Kau sudah bangun?" aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil. "Aku sedang mencoba membuat bubur untukmu," katanya dengan watados. Aku tercekat dengan "bubur" yang dimaksud oleh Seya-san. Err- kupikir itu tidak bisa dibilang bubur. Atau bisa disebut dengan monster bubur? Aku ngeri membayangkan apa jadinya kalau aku benar-benar memakan bubur itu. Koma tiga hari? Atau bahkan lebih parah? Operasi lambung? Ah yaa, aku berlebihan!

"Ti, tidak usah Seya-san. Mungkin aku err- bisa membuatnya sendiri?" kataku hati-hati.

"Apa itu? Monster bubur?" sahut sebuah suara di belakangku.

"Diam kau Deidara! Aku berusaha membuatnya untuk Sakura, bodoh! Tidak usah banyak protes kau!" kata Seya-san seraya memukul pelan sendok sup ke kepala Deidara-san.

"Untuk Sakura, un? Kau mau membunuhnya, un?" dan detik berikutnya beberapa helai rambut pirang Deidara-san jatuh ke tanah. "Kyaaa Seya, un! Apa yang kau lakukan, un!!" katanya sambil memegangi rambutnya yang kena potong oleh Seya-san.

"Terus saja kau bicara seperti itu, maka di makananmu benar-benar kuberi racun tikus!" kata Seya-san yang hawa membunuhnya benar-benar terasa.

"Iyaa maaf, un! Dasar Seya jelek, un!" Deidara-san langsung melesat keluar dapur setelah mengatai Seya-san. Kulihat Seya-san hanya menggeram menahan marah. Haha. Dasar mereka berdua. Mau tidak mau aku jadi sedikit menahan tawa.

"Kau mau di buburmu ini kuberi racun tikus, Sakura?"

"Ti, tidak," jawabku singkat. "Habisnya, Seya-san dan Deidara-san lucu. Hihi," kataku sambil tertawa. Seya-san hanya menghela nafas. Entah mengapa, perasaan takut setelah mendapat mimpi barusan menjadi hilang.

"Oh iya, besok kami akan ke pantai. Kau ikut kan?" tanya Seya-san.

"Pasti." Jawabku mantab. Akhirnya, pantai! Aku datang!

-

Setelah membersihkan diri, aku berjalan-jalan di sekitar villa. Hanya ingin melihat, ada apa saja di sekitar sini.

Setelah berjalan sekitar seratus meter dari halaman belakang villa, aku menemukan sebuah lapangan basket. Ada dua orang yang sepertinya sedang bermain 1 by 1. Sepertinya aku mengenali kedua orang itu.

Itu Sasori-san dan Sasuke. Sepertinya mereka berdua serius sekali.

Kulihat permainan basket mereka begitu memukau. Mataku tidak bisa melepaskan pandangan dari mereka berdua. Mereka terihat sangat keren. Ditambah lagi, entah mengapa aku jadi berdebar-debar jika melihatr Sasori-san.

Hingga akhirnya Sasuke berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang. Jika dilihat-lihat, sepertinya pemenangnya adalah Sasuke. Kulihat mereka sedang membicarakan sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya sampai di tempatku berdiri. Tapi kelihatannya serius sekali. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas aku tidak boleh ikut campur. Akhirnya kuputuskan untuk kembali berjalan menyusuri sekitar villa.

Aku menemukan penjual es krim di pinggir jalan. Tiba-tiba aku jadi ingin makan es krim. Kurogoh saku celanaku, ada 500 yen. Cukup untuk dua cone es krim. Akhirnya kuputuskan untuk membelinya satu. Untuk apa aku membeli dua? Masa kumakan semua?

"Es krim coklatnya satu, Nona -ah maaf..." saat aku berdiri di depan stand penjual es krim, ada seseorang yang menyenggol bahuku. Aku menoleh kepadanya, dan aku sedikit terkejut.

"Tenten?!"

"Maaf nona, aku tidak senga- Sakura?!"

"Hei! Lama tidak berjumpa. Aku rindu padamu. Bagaimana kabarmu?" tanyaku pada gadis berambut coklat bercepol dua di depanku seraya memeluknya.

"Aku baik. Bagaimana denganmu?" jawabnya. Ia balas memelukku.

"Sama. Well…" aku bercerita panjang lebar padanya. Tenten adalah temanku di SMA dulu. Dia salah satu sahabat baikku. Aku bercerita panjang lebar padanya. Begitu pula dengannya. Kami saling bertukar cerita tentang apa saja yang kami lakukan setelah kami lulus dari SMA. Tenten kuliah di sebuah Universitas yang cukup terkenal di Tokyo. Dia mengambil jurusan Astronomi.

"Kau tidak kuliah ya, Sakura?" saat mendengar pertanyaannya yang itu, hatiku mencelos lagi. Aku jadi teringat pada kedua orang tuaku lagi.

"Ah maaf, kalau pertanyaanku menyinggungmu," kata Tenten tiba-tiba. Sepertinya ia menyadari perubahan ekspresi pada diriku. Aku selalu sakit dan ingin menangis rasanya jika aku mengingat kedua orang tuaku yang sudah meninggal.

Aku menggeleng pelan padanya dan memaksakan untuk tersenyum simpul.

"Aku tidak mungkin kuliah tanpa biaya, Tenten. Sebenarnya aku ingin lanjut ke kedokteran. Tapi, tanpa kedua orang tuaku, aku tidak mungkin masuk ke sana. Biayanya cukup tinggi. Dan darimana aku bisa mendapat uang sebanyak itu?"

"Ah ya. Aku tahu. Kau memang berbakat sekali di bidang itu. Saat itu Anko-Sensei juga sampai terkesan dengan caramu memberi pertolongan pada Lee yang terjatuh dari lantai dua. Aku heran, kenapa sih si bodoh itu bisa sampai jatuh dari lantai dua? Merepotkan," kata Tenten. Aku mau tidak mau tertawa kecil mengingat insiden itu. Lee, padahal dia jatuh-err tidak bisa dibilang jatuh sih, dia mendarat ke lantai satu dengan kedua kakinya. Tapi setelah itu, ada yang melempar sesuatu ke bawah dan mengenai kepalanya. Orang-orang mengira dia jatuh dari lantai dua. Haha.

"Tapi sampai sekarang kau masih ingin masuk kedokteran?"

Aku hanya mengangguk ringan. Mataku menerawang pada laut yang sedikit terlihat dari tempatku berdiri. Aku terdiam cukup lama, sampai akhirnya suara Tenten mengejutkanku.

"Ah aku baru ingat kalau Neji menungguku! Maaf ya Sakura. Aku buru-buru. Jaga dirimu ya. Daah!" serunya sambil berlari. Ia melambaikan tangannya padaku.

Ahaha. Ternyata dia benar-benar bersama Neji sekarang. Kupikir dulu hanya gossip kalau dia sudah jadian dengan Neji.

-

-

"Sudah siap semuanya? Baiklah! Berangkaaat!" teriak Seya-san sambil mengepalkan tangannya ke udara. Diantara kami semua, yang terlihat paling semangat adalah Seya-san. Ia membawa keranjang pikniknya sambil berjalan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan permen loli.

"Oi Seya, un! Sial kau! Masa aku yang disuruh bawa semua ini, un?!" protes Deidara-san dari belakang. Terlalu banyak bawaannya. Speed boat, banana boat, dan lain lainnya. Wah, dasar orang-orang kaya. –Sakura sweatdrop berat-.

"Bodoh! Bawa saja pakai mobil itu!" teriak Itachi-san sambil menjitak keras kepala Deidara-san. Sepertinya dari awal, Deidara-san selalu jadi korban kekerasan, ya. Ahaha.

Hari ini pasti menyenangkan! Sudah lama aku tidak pergi ke laut. Dan hari ini, tujuan utama kami adalah laut! Ahh, pasti menyenangkan bernang di laut. Air laut yang dingin, sinar matahari yang hangat, ikan-ikan kecil berwarna-warni, ah membayangkannya saja sudah membuatku senang!

-

"Yahooo!" teriak Seya-san sambil berlari ke pantai dan meloncat setinggi-tingginya. Sepertinya Seya-san juga sudah lama tidak pergi ke laut. Haha. Cara mengekspresikan rasa senangnya seperti anak kecil. Sebenarnya aku juga ingin meloncat seperti itu. Tapi aku malu dilihat oleh Sasori-san dan yang lainnya.

"Sakura! Ayo kita berenang!" kata Seya-san sambil menarik-narik lenganku. Sedang semangat rupanya. Aku hanya tersenyum simpul melihat tingkah atasanku yang satu ini. Setelah beberapa lama memaksaku, akhirnya aku mengiyakan.

Kami berdua melepas baju dan menaruhnya di bawah payung yang kami letakkan di pasir. Dengan baju renang kami berdua bermain air di pantai. Aku melihat Itachi-san dan Deidara-san ikut menceburkan diri di laut juga. Aku terkikik melihat Deidara-san berenang dengan "bebek"nya. Di sebelahnya, Itachi-san menggoda Deidara-san terus.

Aku melihat dari kejauhan Sasori-san yang sedang mengendarai speed boat. Kecepatannya cukup mengerikan bagiku, tapi tetap tidak membuatku heran. Aku tahu kalau dia suka ngebut dengan mobilnya.

Dengan kecepatannya yang seperti itu, membuat rambutnya yang ikal tertiup angina. Wajah seriusnya saat memacu speed botany begitu cepat, membuatku terpesona. Sosoknya begitu berkilau di mataku.

Satu-satunya orang yang tidak ikut menceburkan diri ke laut adalah, Sasuke, si manusia kulkas. Kulihat, dia hanya enak-enakan tidur di bawah payung dengan kacamata hitamnya dan sepasang earphone yang terpasang di telinganya.

Hooo. Ternyata dia takut kulitnya terbakar ya? Dasar tuan besar!

Kami berempat bermain banana boat. Saat Deidara-san jatuh ke laut, dia seperti hampir tenggelam. Untung saja aku cepat menolongnya dan membawanya ke tepi. Kulihat matanya terpejam. Pingsan kah? Atau dia hanya pura-pura?

Untuk memastikannya, aku menaruh telunjukku di bawah hidungnya. Dan tidak ada udara yang keluar dari hidungnya! Gawat! Pasti ada sebagian air yang masuk ke paru-parunya. Mau tidak mau, aku haru memberinya napas buatan. Ah terpaksa!

Saat aku mulai mendekatkan bibirku pada Deidara-san, Itachi-san memegang pundakku dan memberiku isyarat untuk minggir. Ternyata Itachi-san membawa penjaga pantai. Badannya besar, kulitnya hitam, dan mukanya sedikit sangar. Aku sedikit berjengit kaget setelah melihat wajah sang penjaga pantai.

Sang penjaga pantai mengambil alih tugasku. Aku melihat dia memberi napas buatan pada Deidara-san. Aku heran, sepertinya Deidara-san juga menikmati napas buatan itu. Ah, atau hanya perasaanku saja?

Deidara-san sedar sadar. Mukanya sedikit terkejut saat melihat wajah penjaga pantai berada di atas wajahnya. Itachi-san terkikik.

"Deidara, ciumanmu panas sekali ya, hihi," kata Itachi-san sambil terus terkikik. Muka Deidara-san berubah horror.

"Ja- jadi, yang memberiku napas buatan… DIA?!" katanya sambil menunjuk penjaga pantai yang "sangar." Kami hanya mengangguk. Sementara Itachi-san terus saja tertawa. Kini ia terbahak-bahak. Sasori-san dan Seya-san pun terkikik. Ada apa sebenarnya?

-

-

Setelah aku puas berenang dan bermain, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Aku hanya memakai jaket yang menutupi badanku.

Tanpa kusadari, aku sudah berjalan cukup jauh. Aku melihat ada sebuah tebing yang cukup tinggi. Bagian bawahnya terkikis oleh ombak. Disekitarnya ada bebatuan yang menurutku tajam-tajam. Tapi, airnya bening sekali. Aku bisa melihat karang-karang dari atas, dan ikan-ikan kecil yang berenang disekitarnya.

Kemudian mataku tak sengaja menangkap sesosok anak kecil –menurutku- yang sepertinya tenggelam. Kenapa bisa ada anak kecil sampai disini?! Orang tuanya bodoh sekali tidak mau mengawasi anaknya dengan benar!, umpatku dalam hati.

Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung melepas jaketku dan mulai berjalan menghampiri anak itu –mengingat lautnya cukup dangkal-. Mataku tertuju pada anak itu dan tidak melihat ada apa di bawah.

Tiba-tiba kakiku terperosok. Aku berusaha kuat untuk melepaskan kakiku. Tapi tidak bisa. Sial! Tersangkut diantara karang! Ah sakit sekali kakiku! Aku harus melepaskan diri dan secepatnya menolong anak itu. Masalah kaki nanti saja!

Aku benar-benar berusaha keras untuk menarik kakiku dari himpitan karang. Karangnya begitu tajam. Aku merasa kakiku sedikit perih. Kurasa karang itu telah sukses membuat kulit kakiku sobek. Aku berusaha menarik kakiku lagi. Dan kali ini berhasil.

Aku berenang menghampiri anak itu –sekarang lautnya tidak dangkal lagi-. Rasa perih di kakiku kuhiraukan. Tapi tiba-tiba rasa perih dan sakit yang tak tertahankan membuat kakiku tidak bisa digerakkan. Ahh gila. Kakiku sobek cukup dalam, dan terkena air laut. Pantas saja rasanya menjadi seperti ini!

Kakiku tidak bisa digerakkan, dan aku tidak bisa bertahan di atas air. Perlahan aku tenggelam. Aku berusaha keras untuk naik ke permukaan, tapi tidak bisa. Sementara persediaan udara di paru-paruku yang semakin lama semakin menipis, membuatku tidak bisa bernapas. Ah sial! Apakah aku harus mati disini? Bagaimana dengan Sora?

Akhirnya aku menyerah. Aku membiarkan tubuhku tenggelam seperti laut menarikku untuk jatuh lebih dalam. Pandanganku semakin lama semakin gelap.

-

-

Aku membuka mataku dan melihat ada Sasori-san di atas wajahku.

"Kau sudah sadar rupanya." Katanya. Aku bangkit dan duduk. Aku tidak melihat yang lainnya ada disini. Kemana mereka?

"Kau baik-baik saja?" tanyanya. Aku hanya mengangguk pelan.

"Nah karena kau sudah sadar, aku harus pergi dan meninggalkanmu disini." Sasori-san bangkit dan berjalan menuju engg- kuda putih? Ada yang aneh dengan pakaian yang digunakan oleh Sasori-san. Seperti baju kerajaan.

"Tu- tunggu! Kau mau kemana?" tanyaku.

"Aku akan pulang ke istana." Jawabnya singkat dan ia sudah berada di atas kuda putihnya. He? Istana? Sepertinya Sasori-san sedang mengigau.

"A- aku ikut!" kataku.

"Tidak mungkin kau ikut dengan keadaan seperti itu kan, Nona?"

"Aku bisa. Aku bisa berdiri-huh? KAKIKUUU!" Gyaaaa! Ada apa dengan kakiku?! Kemana kaki indahku?! Kemana? KEMANAAA?! Kenapa jadi ekor duyung hah?! Tidaaaaakkkk!

-

-

"Kau sudah sadar, Sakura?" ahh lagi-lagi aku melihat Sasori-san. Pasti mimpi lagi. Sial sekali.

Aku bangkit dan duduk. Kepalaku rasanya sakit sekali. Aku cepat-cepat melihat kakiku. Masih utuh. Tapi, kaki kananku berlumuran darah. Ouch! Rasanya juga nyeri sekali. Sangat sempurna. Setelah terkilir, sekarang tersangkut di karang sampai berdarah-darah seperti ini. Haah. Sepertinya tempat ini tidak begitu menyukai kehadiranku.

"Ano.. apakah Sasori-san yang menyelamatkanku?" tanyaku pelan. Sasori-san tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Kurasakan wajahku memanas. Jika Sasori-san menolongku, berarti ia memberiku napas buatan? Uh. Semoga ini bukan mimpi.

Sasori-san terlihat berjongkok dan memunggungiku.

"Naiklah. Aku yakin kau tidak bisa berjalan dengan kakimu yang seperti itu," katanya. Ah pangeran –ma, maksudku, Sasori-san! Ternyata dia begitu baik. Kurasa aku jatuh cinta padanya.

To Be Continued


Kaleido Star © Junichi Satou


Well, entah kenapa aku jadi pake adegannya YuriSora di Kaleido Star. Tau adegan yang mana? Yang pas si Sakura tenggelam, trus ada Sasori yang tiba-tiba berubah jadi "pangeran berkuda putih" dan si Sakura jadi duyung. Itu kuambil dari adegan Kaleido pas Sora latihan buat pementasan "Little Mermaid" kalo ga salah sih. Si Sora gagal trus jatuh ke air, dan ditolong sama Yuri. Uohohoho.

Dan Deidara kayaknya ngarep banget dikasih napas buatan sama Sakura, yahahaha. Oh iya, gomen semuanya. Si Sascake di chapter ini muncul dikiiiiiit banget –ditakol-. Ini tuntutan cerita T.T . Tolong jangan bunuh saya!!

Satu chapter lagi yang panjaaaang. Panjang ceritanya, panjang juga waktu nge-updatenya, alias gak diupdate-update. Hahaha. Tiap kali mau ngetik rasanya maleeeees banget. Malah buat fic lain. Cih! =..= tapi untungnya, aku ngegarap chapter tujuh ini sambil dengerin lagunya Davichi – Accident, K. Will ft. Girls Generation Tiffany – Girls Meet Love, jadi bikin semangat! XD –padahal lagunya mellow-melow gimanaaa gitu. Bikin semangat dari hongkong?- tapi jujur, lagunya bagus. Buat yang suka K pop, silahkan dengarkan –ditampol gara-gara promosi-. WAKS! Bales review dulu deh XD

haha: iya tuh. Enak banget ngerape Sascake –ditendang Sakura-. Ini apdet X3 review jika anda membaca lagi XD

Uci: Gomen, SasuSakunya ga ada di chapter ini. Adanya SasoSaku. Semoga ga mengecewakan XD –ditakol- review lagi ya X3

sakufans: ahaha. Updatenya lama ya XD gomen deh! Ini udah apdet kok. RnR yah! ^^

Akira_Kirasawa: SasuSaku? Wah lihat nanti yaa XD ini udah apdet. Review lagi ya ^^

Kanade Otsuka: weks. Seya gak yuri kok. Hanya perasaanmu saja OwO. Review lagi ya! XD

Yosh! Akhirnya selesai. Chapter penuh perjuangan XD. Betewe, daya nggak tau lagi nih chapter 8 nya kapan mau di update. Huahahaha –ditebas-. Bener deh, sibuk banget! DX mulai sekolah, les, bim hmpphf –dibekep-. Ah jadi kebanyakan bacot. Ngehabisin halaman DX

REVIEW? *nyodorin permen loli asli coklat -?- + milk shake coklat + kue asli buatan Cake Factory*

.Lauselle E. Granzchesta.