AN: Ya ampun, fanfic perdana jika ada banyak kesalahan tata bahasa ataupun ketidak jelasan plot...saya sendiri masih merasa fifty-fifty untuk mem-publishnya, tapi ya sudahlah...sudah terlanjur ini...

Mohon bimbingannya ya, senpai-senpai sekalian*bow, bow*

Pairing: SasuNaru;SasuSaku

Warning: rated T for Yaoi and suggestive themes..ahem.

Disclaimer: If I own them, I wouldn't make a fanfiction.


Double Crosser

((When an ever lasting love isn't just a mere statement))

-

-

-


Mulanya tidak ada yang istimewa diantara mereka. Sang pemuda jatuh cinta pada si gadis, namun si gadis adalah pemuja fanatik pemuda lain, yang merupakan adalah rival sang pemuda. Kebetulan. Kedua pemuda itu tidak pernah mendeklarkan persaingan mereka secara gamblang, tetapi dalam jiwa masing-masing mereka tahu, dan mengakui adanya suatu daya kompetisi yang tinggi untuk mengalahkan satu sama lain.

Menyerah memang tidak pernah ada dalam kamus hidup sang pemuda, tetapi karena suatu sebab sang pemuda tak lagi berusaha untuk mengejar-ejar cinta si gadis. Singkat cerita, si gadis dan sang pemuda kini menjadi teman dekat, bahkan sang pemuda tidak segan-segan untuk membantu si gadis mencuri hati rival terbesarnya. Namun hati si rival pemuda itu terlalu dingin, terlalu sukar untuk diluluhkan. Perjuangan si gadis pun berhenti di tengah jalan, lagi-lagi karena suatu sebab yang tidak jelas.

Pada akhirnya sang pemuda, rival sang pemuda, beserta si gadis menjadi tiga sahabat dekat.

Tetapi dalam setiap kisah yang pernah ada, momen bahagia tak selamanya ada. Secara tiba-tiba, rival sang pemuda harus meninggalkan kedua temannya. Kedua temannya itu, sang pemuda dan si gadis, berusaha sebisa mungkin untuk mencegahnya pergi. Tapi rival sang pemuda tidak punya pilihan lain, ia harus pergi. Dan ketiganya, mau tidak mau, harus menutup lembaran kisah persahabatan mereka sampai di sini.


1-Prerequisite


Menara Sharingan, 20.50

Sasuke menutup laptopnya dengan tenaga sedikit berlebihan, guratan kekesalan terpahat jelas di wajah tampannya. Bagaimana tidak, proposal pembangunan proyek baru yang seharusnya sudah rangkap dan ditandatangani kakaknya belum juga selesai, padahal deadline-nya besok siang. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa, kelambanan bawahannya untuk menyelesaikan tugas atau ketidakprofesionalannya sebagai seorang atasan. Sekilas ia sempat melirik tumpukan map yang masih bertumpukkan tak jauh darinya, sedikit dari salah satu contoh kelalaiannya dalam mengembang tugas. Dialah Uchiha Sasuke, pemuda dua puluh satu tahun, usia yang cukup muda untuk menyandang nama wakil direktur hal itu tidak berlaku apabila perusahaan tersebut adalah perusahaan milik keluarga sendiri. Sasuke tidak pernah merasa keberatan untuk menjadi pewaris perusahaan, tapi jika tenaganya harus diforsir sebanyak ini, lama-kelamaan dirinya jadi malas juga. Bukan, bukannya tidak mau menjalankan amanat mendiang ayahnya, tetapi dengan keadaan seperti ini, tak jarang ia merasa Tuhan berlaku sedikit tidak adil terhadapnya. Di saat teman-teman seusianya—yang rata-rata masih menyandang stempel mahasiswa ataupun pekerja kantoran biasa masih bisa hura-hura maupun berkeliaran sana-sini dengan wajah sumringah, ia harus berkutat lebih dari dua belas jam di kantor. Sasuke masih ingat saat teman SMA-nya, Inuzuka Kiba, menawarinya free pass untuk menghabiskan malam minggu di salah satu klub ternama beberapa minggu lalu, ia hanya bisa menjawabnya dengan gelengan lemah dan langsung mencelos lesu, menatap tumpukan kertas penuh deretan angka di meja kerjanya dengan tatapan nanar.

Terkadang tidak enak juga menjadi anak konglomerat.

Ralat, terkadang tidak enak juga menjadi putra keluarga Uchiha.

Buktinya, rekan kerjanya yang lain—juga salah satu putra konglomerat—Sabaku no Gaara maupun Hyuuga Neji masih bisa asyik kelayapan di beberapa diskotik, sekalipun status mereka di kantor tidak berbeda dengan jabatan Sasuke sekarang.

Damn.

Sasuke memijit-mijit bagian pelipisnya sejenak, rasa nyeri di kepalanya tiba-tiba muncul dan mengganggu konsentrasinya. Pemuda berambut hitam itu refleks memejamkan matanya, lalu menenggelamkan tubuhnya di kursi sampai setengah badannya benar-benar melorot—kursi kulit itu berukuran super besar, bahkan untuk postur tubuh Sasuke yang bisa dibilang cukup mendadak di sakunya membuat Sasuke membuka kelopak matanya, tangannya merogoh saku kemeja abu yang dikenakannya. Sekilas ia sempat melirik si penelpon.

Haruno Sakura calling...

Tanpa pikir panjang, pemuda itu memencet tombol menerima telpon.

"Sasuke-kun?"

"Hn?"

"Masih di kantor?"

Well, isn't it obvious?

"Yaaa. Kerjaan numpuk." Sasuke menjawab dengan nada sedikit ogah-ogahan.

"Emang nggak bisa ditunda dulu? Kamu nyadar nggak kalau sekarang udah jam sepuluh?"

"Mau bagaimana lagi, deadline-nya besok, sudah tidak bisa ditunda lagi."

"Tapi kasihan kan badan kamu...nanti kalau kamu sakit gimana? Aku nggak mau ya kalau Mikoto-san nelpon aku lagi buat ngasih tahu kalau kamu kolaps atau apa. Pokoknya kalau kamu sampai sakit, aku nggak bakal jenguk kamu." Sasuke tersenyum sendiri mendengar ancaman secara tidak langsung yang dilontarkan Sakura.

"Lha...aku kan bisa nelpon dokter lain. Masih banyak kok dokter yang mau nanganin aku."

"Sasuke-kun!" Sepertinya tunangannya itu sudah mulai kehilangan kesabaran menghadapi tingkah Sasuke kalau lagi kambuh penyakit usilnya.

"Oke, oke. Aku bakal pulang, tapi nggak jamin jam berapa."

"Tapi—"

"Aku harus menyelesaikannya, Sakura. Sudah tidak ada waktu lagi."

Helaan napas. "Kamu tuh kalau dikasih tahu nggak pernah mau begitu maumu, ya sudah. Take care of yourself. Jangan sampai overwork lagi."

"Hn."

Sasuke menatap layar PDA-nya dengan tatapan lurus. Seseorang yang barusan menelpon adalah sahabat dekatnya semasa SMA, yang sekarang merupakan tunangannya. Sasuke tidak mengerti jalan pikiran ayahnya yang menyuruhnya bertunangan sebelum menjadi wakit dirut, terlebih lagi saat itu dirinya belum genap menginjak usia dua puluh tidak pernah dekat dengan wanita manapun selama hidupnya, jadi bertunangan dengan Sakura adalah jalan yang terbaik daripada harus memulai hubungan baru dengan wanita lain. Pribadinya yang dingin dan introvert membuatnya agak susah membaur dengan masyarakat, terlebih kaum lawan jenis. Mungkin hanya pembicaraan yang mengandung topik-topik tertentu yang bisa membuat Sasuke tetap vokal. Padahal, dengan wajah tampan dan aura memikat yang terpancar kemanapun kakinya melangkah, Sasuke bisa memikat siapa saja. Namun ia tetap memilih Haruno Sakura, mahasiswi kedokteran yang ramah dan cantik, walaupun sedikit galak menurut seleranya.

Sakura adalah sosok tunangan sekaligus sahabat yang mengaggumkan, gadis itu sudah mengerti

'isi perut' Sasuke, mulai dari sifat moody-annya yang susah dikendalikan sampai sifat romantis yang bisa ia perlihatkan pada momen-momen tertentu. Sasuke memang beruntung bisa mendapatkan Sakura, berhubung jaman sekarang agak susah bagi seorang bujang untuk mencari seorang istri idaman.

Basically, he's an Uchiha, and an Uchiha deserves the best.

Tetapi entah mengapa, Sasuke sering merasa kurang 'sreg' dengan pertunangan yang baru mereka jalani selama setahun ini. Sasuke merasa belum matang dan belum siap untuk membangun sebuah keluarga. Mengurus dirinya sendiri saja kadang-kadang dia merasa keteteran, apalagi harus menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Kalau bisa, Sasuke ingin membatalkan pertunangannya sejenak dan menunggu sampai usianya dua puluh lima tahun, paling tidak di usia ideal seperti itu mentalnya sudah siap untuk membina keluarga Uchiha yang baru.

Kalau ada satu hal yang Sasuke sesali sekarang adalah, mengapa ia tidak mengungkapkan isi hatinya itu pada ayahnya dulu. Sekarang ayahnya sudah meninggal dan otomatis ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Meminta hal tersebut pada ibunya? Bisa-bisa penyakit darah rendah Uchiha Mikoto kambuh lagi.


Apartemen Kisarazu, Shibuya.

Uzumaki Naruto tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan, tetapi ia merasa cukup bangga dengan aset yang dimilikinya. Rambut pirang keemasan yang menjuntai halus tidak melebihi pangkal leher, kulit sunkissed yang hangat, serta sepasang bola mata berlapis iris biru yang bisa memikat siapa saja. Dengan balutan t-shirt ketat berwarna oranye, suspender, serta celana pendek kargo yang dikenakannya, tidak heran jika banyak kaum wanita—maupun lelaki—yang mendeskripsikan sosoknya dengan kata manis, atraktif, maupun sensual.

Naruto melihat pantulan dirinya di cermin, lalu tersenyum lebar. Penampilan, beres.

Pemuda itu melihat jam dinding kamarnya, jarum jam menunjukkan pukul sebelas tepat. Sempurna. Tinggal menunggu beberapa menit sebelum—

Ting tong.

—seseorang menjemputnya.

Naruto bergegas keluar dari kamarnya, lalu membukakan pintu depan apartemennya dengan senyum yang terus mengambang.

"Sudah kuduga, kau tidak akan datang telat."

Pemuda yang ada di ambang pintunya itu hanya menjawab dengan pendek, "Tentu saja."

"Jangan cemberut terus kayak gitu dong, Gaara! Kita kan mau senang-senang!" seru Naruto sambil menarik tangan Gaara, mempersilahkan pemuda berambut merah itu masuk.

"Aku nggak cemberut, cuma lagi bad mood." balas Gaara reluctant.

"Kenapa?"

"Biasa, urusan kantor."

Naruto mendekatkan tubuhnya pada Gaara, lalu mengecup bibirnya lembut."Habis ini, aku jamin, kamu nggak bakal bad mood lagi."

"Aku yakin kamu udah bilang hal itu sama banyak orang." Gaara melengos sambil bersua pelan.

Naruto tidak memedulikan komentar temannya, dengan penuh semangat ia mengambil ponsel dan dompet yang tergeletak tidak jauh dari ruang tamu."Ayo kita berangkat!"

"Semangat bener." Lagi-lagi Gaara menjawab dengan nada sinis.

"Iya dong!" Naruto mencubit pipi Gaara playful, "Udah ah, kamu niatnya kan jemput aku ke sini buat senang-senang, bukan ngajak berantem."

"Hn."

Dengan cengiran lebar khasnya, Naruto mengait tangan Gaara dan memperlihatkan deretan gigi putihnya."Let's kill some boredom."

"Malam ini emangnya mau ke mana?" Akhirnya Gaara luluh juga. Siapa sih yang bisa tahan ngambek lama-lama sama bocah pirang itu?

"La Gateaux, kata Kimimaro, klub itu baru buka dua minggu yang lalu, tapi pengunjungnya nggak kalah banyak dari Clubhoppers. Sounds good, huh?"

"Kimimaro?" Dahi Gaara berkerut, sedikit penasaran dengan nama yang terdengar asing baginya.

"Sudahlah, itu gak penting. Ayo kita pergi!" Naruto berujar cuek, membuat Gaara kembali larut dalam pikirannya.

Tidak penting? Mudah sekali Naruto berkata hal itu?


La Gateaux Pool and Nightclub

"Afterdark's Rhythm"

Limited date: 08-09-09

Sasuke menatap flyer di tangannya dengan dahi berkerut. Di satu sisi, ia ingin segera pulang ke rumah karena badannya capek luar biasa. Tetapi di sisi yang lain, ia ingin mencicipi nikmatnya dunia malam. Sekali-kali tidak apa-apa, kan?

Sekarang sudah tanggal delapan, berarti hari ini hari terakhir dari tanggal yang ditentukan pada flyer tersebut. Apa yang harus ia lakukan? Dua pemikiran yang bertolakbelakang pun berdebat di benaknya.

Pemikiran pertama berkata satu hal logis yang langsung muncul di otaknya pertama kali:Besok masih ada rapat yang lebih penting daripada sekadar menghabiskan waktu di diskotik, jangan sampai kau menyesal jika besok kau datang ke kantor dengan kantong mata mirip panda Cina.

Namun pemikiran kedua, yang sebagian besar dilandasi nafsunya sendiri menolak habis-habisan logika tersebut dan mengusulkan hal yang lain.

Coba lihat teman-teman seusiamu, mereka masih bisa asyik goyang semalam suntuk sekalipun besoknya harus berada di ngantuk ataupun kurang tidur tidak usah terlalu dipikirkan, toh sudah terbiasa kerja lembur. Tinggal siapkan satu atau cangkir kopi dan beberapa butir aspirin, selesai , bukan?

Seakan mengetahui konflik batin yang sedang ia alami, terdengar sayup-sayup lagu yang mengalun indah dari tape radio mobilnya.

(*)Even heroes have the right to dream

It's not easy to be me

Up, up and away....away from me

Even heroes have the right to dream.

Heh.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, Sasuke menyalakan mesin mobilnya dan bersiap untuk membawa Lexus silvernya ke kawasan distrik Shibuya.


Next Chapter:

Promises

2-To Be a Slave to Nothing

©bellatheshrimp, 2009


(*) Superman, sang by Five For Fighting.

Gomen gomen gomen buat para UzumakiNaruto-lovers! I'm sorry to make your favorite guy into a hooker...emmm...gay hooker..! Waahh!!! Kejam sekali saya, membuat Naruto jadi kayak gini. Ampun bang. Di chapter depan, bersiap-siaplah para SasuNaru lovers, cos mereka akan berjumpa lagi setelah berpisah selama *ngitung jari* kira-kira lima tahun...and some stuff will .

Saya masih baru di FFN dan saya aware akan hal itu, jadi apabila ada kritik/saran/komen yang mau dilontarkan, saya akan sangat menghargainya*wink wink*

Terima kasih sudah membaca.