Disclaimer : Beauty Pop © 2004 Arai Kiyoko

o

*:..oO#..::oOo#..:*

Star Drop

by Kiri-chan

Twinkle 6 : Happiness

*:..oO#..::oOo#..:*

o

Kiri tersenyum.

Sungguh cantik. Tapi berbeda dengan senyum yang pernah diberikannya pada semua orang, juga berbeda dengan yang pernah dia berikan pada Shampoo, kucing kesayangannya, bahkan berbeda dengan yang pernah dia berikan pada sosok seorang kakak yang dia hormati, Seki Kennichirou.

Narumi terdiam.

Seorang Koshiba Kiri yang selalu datar, tak pernah mempedulikan apapun, dan terlihat tidak punya kelemahan apapun, bisa tampak begitu berbeda di hadapan seorang anak laki-laki bernama Minazuki Kakeru.

Jantung Narumi biasanya berdebar lebih cepat saat gadis itu tersenyum, tapi kali ini debaran itu terasa sakit, seolah akan mematahkan rusuknya.

Narumi ingin memalingkan wajahnya saat Kakeru meraih Kiri ke dalam pelukannya, dan iris matanya seolah robek saat melihat Kakeru mencium kening gadis itu.

Detik ini, Narumi Shougo baru pertama kali merasakan bagaimana rasanya melihat gadis yang disukai jatuh ke tangan orang lain.

###

PIPIPIPIPI!

Narumi terpaksa bangun dari tidurnya gara-gara dering ponsel yang terlalu keras. "Huh, siapa sih yang telepon pagi-pagi buta begini?" keluh Narumi, tapi pendapatnya langsung berubah saat melihat jam di samping tempat tidurnya, pukul 08.00 pagi.

Narumi mengecek ponselnya, ada sebaris nomor tak dikenal disana. Narumi mengerutkan alis. Nomor siapa ini? batin Narumi heran.

"Halo?" sapa Narumi.

"Halo? Narumi Shougo-san?"

"Ya, maaf ini siapa ya?" tanya Narumi heran.

Orang di seberang telepon tertawa. "Kemarin kau sendiri yang memberi nomor ponselmu padaku, sekarang kau lupa?"

Mata Narumi melebar. "Ah, Minazuki Kakeru! Ada apa tiba-tiba menelepon?"

"Aku sedang berdiri di depan gerbang mansionmu sekarang."

"APAAAAA?"

"Hei, kau tak perlu berteriak sekencang itu kan?" kata Kakeru yang baru saja menjauhkan ponsel dari telinganya.

"M-maaf, kau benar-benar mengagetkanku" balas Narumi.

"Haha… aku juga minta maaf datang mendadak, jadi bagaimana pendapatmu? Aku langsung menekan bel dengan konsekuensi Kiri-chan yang membukakan pintu, atau kau sendiri yang akan membukakan pintu untukku?"

"Baik, baik, aku turun sekarang, tunggu disana ya!" jawab Narumi cepat dan langsung bangkit dari tempat tidurnya.

###

"Eh, Aoyama."

"Ya, Komatsu?" Kanako menoleh.

"Bisa tolong taruh sampah ini di halaman depan?"

Kanako tersenyum. "Baik" dia langsung mengambil tong sampah kecil itu dan berjalan ke pintu depan.

Brak!

"Uwa!" Kanako tersentak, tempat sampah yang dipegangnya nyaris jatuh.

"Aoyama? Maaf! Maaf!" Narumi hanya menoleh sebentar lalu kembali tergesa menuju pintu.

Kanako menatapnya heran. Kenapa kak Narumi terburu-buru begitu? pikir Kanako, ada apa ya?

"Kau ini bikin aku kaget saja!" kata Narumi pada orang di luar pagar sana.

"Haha… maaf."

Kanako meletakkan sampahnya di sudut halaman, memandang penasaran ke arah Narumi yang sedang berbicara pada seseorang. Kanako tak dapat melihatnya dengan jelas karena orang itu tertutup bayangan tanaman dari arah pandang Kanako. Itu siapa ya? Kenapa kak Narumi bukannya cepat-cepat membuka pagar malah mengobrol dengan posisi seperti itu? Aneh sekali, batin Kanako heran. Awalnya mereka berdua berbicara dengan suara biasa, tapi lama-lama suara mereka menjadi pelan sehingga Kanako sama sekali tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Didorong oleh rasa penasarannya, Kanako cepat-cepat membereskan sampahnya dan bergegas mendekati Narumi.

"Ah, dia temanmu? Anggota SP juga?"

Narumi mengerutkan alisnya saat mendengar pertanyaan Kakeru, kemudian dia menoleh ke belakang dan terkejut mendapati Kanako berdiri tepat di belakangnya. "Hei, Aoyama? Ada apa?" tanya Narumi.

Kanako tak dapat mendengar satu katapun dari pertanyaan Narumi, dia hanya berdiri kaku, terlalu kaget. Saat dia berjalan mendekati Narumi tadi, Kanako masih belum dapat melihat wajah orang itu karena tertutup oleh Narumi, tapi tiba-tiba orang itu memiringkan kepalanya saat bertanya sehingga Kanako bisa melihatnya, wajah yang sama persis dengan Narumi, Kanako sampai merasa ada cermin di luar pagar.

"Aoyama?" tegur Narumi lagi.

"Ah, m-maaf" Kanako tersadar, tapi matanya masih menatap pias pada Kakeru, "di-dia itu…"

Kakeru menatap gadis canggung dan berkacamata di sebelah Narumi, kenapa rasanya aku pernah melihatnya ya? batin Kakeru heran, tapi kemudian dia memutuskan untuk tersenyum lebih dulu, "aku Kakeru Minazuki, kenalan Narumi, salam kenal."

###

"Kiri-chan, pagi…" sapa Kei sambil mengucek matanya, tampaknya dia masih mengantuk walaupun matahari sudah terbit dari beberapa jam yang lalu.

"Pagi" balas Kiri singkat, dia sedang berkonsentrasi pada deretan kotak juice di dalam kulkas, orange juice favoritnya sedang absent hari ini, jadi dia terpaksa memilih rasa lain walau itu memberinya waktu lama untuk memilih.

"Kau sudah sehat?" tanya Kei.

"Aku rasa begitu" jawab Kiri sambil terus memperhatikan kotak-kotak minuman dalam kulkas.

"Yang ini saja" Kei mengambil satu kotak dan menyerahkannya pada Kiri.

"Terima kasih" Kiri menerimanya, memutuskan untuk mengambil juice apapun rasanya itu dari tangan Kei.

"Aku suka rasa yang itu" Kei tersenyum.

"Bukannya kau suka semuanya?" Kiri menghela napas.

"Haha… iya sih" Kei nyengir, dia mengambil sebuah kaleng minuman dan berlalu pergi dari dapur.

"Aku duluan, Kiri-chan."

"Ya" jawab Kiri, kemudian dia memperhatikan juice pemberian Kei di tangannya.

Apel?

Kiri sedikit tersentak. Rasa kesukaan Kakeru, Kiri menggigit bibirnya. Jari-jarinya bergetar pelan, tapi saat itu Kiri memutuskan untuk meminumnya, walau lambat dan pikirannya mulai menerawang.

Sepertinya… sekarang aku benar-benar ingin bertemu Kakeru.

###

Kanako menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya benar-benar pucat sekarang, jantungnya berdetak keras. Dia benar-benar kaget dan belum bisa percaya kalau anak laki-laki di hadapannya ini adalah…

"Maaf? Kau baik-baik saja?" tanya Kakeru agak cemas melihat reaksi Kanako yang aneh.

"Ka-Kakeru…" Kanako terbata, "Kakeru?"

"Ya?" Kakeru heran mendengar gadis itu langsung menyebutkan nama depannya. Beberapa detik Kakeru mencoba memperhatikan Kanako, berusaha menembus dua bola mata di balik kacamata besar itu.

"Eh, Kanako-chan?" mata Kakeru melebar, tapi pertanyaannya terdengar agak kurang yakin.

"Ingatanmu ternyata masih bagus, Kakeru."

Kakeru, Kanako, dan Narumi langsung menoleh ke asal suara, Seki Kennichirou telah berada di dekat mereka entah sejak kapan, raut wajahnya tampak biasa-biasa saja.

"Ah, KAK KEN!" tiba-tiba Kakeru berseru gembira seperti anak kecil.

"Aku senang kau masih mengingatku" senyum Seki menular seperti biasa.

"Haha… mana mungkin aku lupa!" Kakeru tertawa.

"Jadi, bagaimana kau bisa datang kemari?" tanya Seki heran.

"Aku dapat alamat mansion ini dari Narumi" jawab Kakeru.

"Wah, kalian sudah saling kenal rupanya" Seki tersenyum.

"Ya, walaupun awalnya hanya kebetulan" kata Narumi.

"Gara-gara ayahku yang bodoh juga sih" tambah Kakeru.

"Haha… paman Toru bagaimana kabarnya?"

"Baik-baik saja, kak Ken. Masih menyebalkan seperti biasa" Kakeru nyengir.

"Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja. Eh, kenapa kau diam saja, Kanako?" Seki menoleh ke arah Kanako, seolah menyuruh Kanako untuk bersikap biasa.

"Ah, m-maaf" Kanako menganggukkan kepalanya kepada Kakeru.

"Haha… Aku yang minta maaf, karena terlambat mengenalimu tadi, kau banyak berubah sih" Kakeru tertawa.

"Aku tidak berubah!" tiba-tiba Kanako cemberut.

"Dulu kau kan tidak pakai kacamata" Kakeru beralasan.

"Hanya itu saja bedanya" bantah Kanako.

"Bagaimana Kiri-chan? Dia banyak berubah?"

Kanako dan Seki terdiam, apalagi Narumi, sungguh pertanyaan yang sensitif. "Sepertinya tidak banyak berubah" Seki menjawab dengan jawaban yang menurutnya paling aman.

"Ohh… begitu?" Kakeru tersenyum.

"Hei, kau ingin bertemu dengan Kiri-chan?" tanya Kanako pelan.

Kedua tangan Kakeru menggenggam erat jeruji pagar di hadapannya. "Apa… boleh?" Kakeru menatap Kanako, kemudian Seki.

Tiba-tiba Narumi menggeser kunci pagar dan membukanya lebar, "masuklah."

###

"Hei, Kiri, kau sudah sembuh?" tanya Komatsu.

"Kirity~ kau sudah sehat?" Iori ikut bertanya sambil menyemprotkan wewangian lavender, entah apa maksudnya. Kiri hanya menggangguk santai.

"Ohh… syukurlah kalau begitu" kata Ochiai lega, sambil terus mengetik artikel yang akan di upload ke website SP.

"Jadi apa kegiatan kita hari ini, Occhi?" tanya Kei sambil mengunyah permen coklatnya.

"Tumben kau menanyakan kegiatan, biasanya kau hanya peduli pada makanan dan tidur siangmu, Kei" Ochiai heran.

"Benar sekali, Osuchin~ Me tidak suka menganggur di mansion besar ini! Me ingin bertemu para beautiful ladies~" Iori mulai main drama.

"Hei, bagaimana kalau kita pulang saja?" Ochiai mengalihkan wajah dari layar laptopnya.

"Hah? Pulang?" Kei mengerjapkan matanya.

"Tentu saja, kita masih bertahan di Karuizawa ini karena Koshiba kemarin sakit kan? Sekarang dia sudah sembuh, jadi sekarang saatnya kita pulang, ayo berkemas" kata Ochiai.

"Ahh… aku malasss" Kei memasang tampang mengantuk.

"Me juga masih ingin main dengan para ladies di Karuizawa ini" Iori cemberut.

"Dasar kalian ini" keluh Ochiai kesal.

Kiri memainkan game dalam ponselnya asal-asalan. Kenapa rasanya aku sedikit belum siap meninggalkan kota ini? Apa karena aku belum sempat bertemu dengan…

"Kiri-chan!"

Kiri menoleh kaget, mendadak tersadar dari lamunannya, "kenapa, Kanako?"

"Ada yang ingin bertemu denganmu" kata Narumi.

"Siapa?" tanya Kiri heran.

###

"Kenapa, Kanako?"

Kakeru merasa jantungnya berdebar mendengar suara itu, suara Kiri. Setelah bertahun-tahun, baru kali ini Kakeru mendengar suara gadis itu lagi. Kakeru merasa… senang? Bukan, sepertinya lebih dari itu. Kalau ada kata-kata bahagia yang bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, tapi sayangnya Kakeru tidak dapat menemukannya.

"Ada yang ingin bertemu denganmu" ucapan Narumi membuyarkan lamunan Kakeru.

"Siapa?"

Siapa?

Kakeru berpikir sebentar. Sebenarnya dia ingin segera melangkah, menyapa Kiri, melihat wajah gadis itu setelah sekian tahun lamanya tidak bertemu. Tapi tiba-tiba terbersit rasa ragu dalam hatinya.

Bagaimana reaksi gadis itu nanti?

Apa masih sama seperti dulu?

Menatapku dengan ekspresi ketakutan dan rasa bersalah?

Menghindar dan tidak mau menemuiku lagi?

Kakeru mengepalkan tangannya pelan. Beberapa tahun telah berlalu, sikap Kiri pasti sudah berubah, pasti… walaupun sebenarnya Kakeru masih kurang yakin, tapi dia tetap berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

"Ayo" bisik Kanako pelan, menepuk bahu Kakeru, memberinya semangat.

Kakeru melangkahkan kakinya tanpa ragu, dan saat kedua matanya bertemu dengan mata milik Kiri, Kakeru tak dapat menahan senyumnya, "apa kabar, Kiri-chan?"

###

Ekspresinya terlihat datar, tapi bola mata coklat susunya tampak hangat, entah karena suasana hati gadis yang memilikinya memang sedang seperti itu atau hanya karena faktor warnanya saja. Saat sepasang bola mata coklat gelap menatap ke dalam warna itu, pemiliknya tak dapat menahan senyumnya.

"Apa kabar, Kiri-chan?"

Sepertinya kedatangan anak laki-laki itu memberi efek yang besar pada semua orang. Walaupun sebenarnya dia hanya menyapa dengan cara biasa saja, tidak ada yang aneh pada T-shirt abu-abu ataupun jaket hitam lengan panjang yang dikenakannya, senyumnya juga tampak normal, dan tidak ada seorangpun yang menyadari telapak tangan kanannya tidak muncul dari dalam salah satu lengan jaketnya.

Kiri menyadari hal itu tentunya, tapi bukan itu objek pandangnya kali ini. Kiri hanya memandang wajah Kakeru, senyumnya… tak peduli bertahun-tahun mereka tidak bertemu, Kiri dapat langsung mengenali Kakeru hanya dengan mendengar suaranya saja.

Mungkin saat ini semua orang di ruangan itu terdiam kaget karena melihat betapa miripnya wajah Kakeru dengan Narumi, kalau saja warna rambut Kakeru tidak lebih gelap, pasti tidak ada seorangpun yang dapat membedakan mereka berdua.

Tapi Kiri sama sekali tidak menyadari hal itu, saat ini dia bahkan lupa wajah Narumi Shougo itu seperti apa.

"Kiri-chan?" Kakeru memanggil sekali lagi, masih tersenyum seperti tadi.

Tangan Kiri mulai mendingin, tapi matanya tetap terkunci pada bola mata Kakeru. Mungkin karena kontak mata itulah, langkah Kakeru mulai mendekati tempat Kiri berdiri.

"Kau masih ingat padaku, kan?"

Pertanyaan bodoh. Mana mungkin Kiri lupa, mana mungkin.

Tangan Kakeru meraih bahu Kiri yang dingin. Kiri sama sekali tidak tersentak, tetap diam menatap anak laki-laki di hadapannya. Kakeru tersenyum semakin lebar, seolah meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Kemudian dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Sampai Kiri dapat mendengar bunyi detak jantung Kakeru yang semakin cepat di telinganya, Kiri sama sekali belum bereaksi, dia tidak mencoba untuk menghindar. Padahal sejak dulu dia tidak pernah merasa pantas untuk menemui Kakeru lagi, tapi rasa takut itu, rasa bersalah itu, sekarang tersingkirkan oleh keinginan untuk menemuinya, Kiri merasa dirinya egois, tapi sesungguhnya memang itulah yang diinginkan Kakeru selama ini, karena menurutnya rasa takut dan bersalah yang selama ini dirasakan Kiri memang seharusnya tidak pernah ada.

Suasana masih hening, tidak ada seorangpun yang berani bicara dalam ruangan itu. Setelah beberapa menit, Kakeru melepas Kiri dari pelukannya.

"Lama tidak bertemu ya?"

Entah mengapa pertanyaan yang terlalu biasa itu membuat Kiri tersenyum. "Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?" pertanyaan pertama Kiri untuk Kakeru setelah bertahun-tahun, pertanyaan yang masih menunjukkan kecemasan.

"Aku selalu baik-baik saja" Kakeru mengacak rambut Kiri, seolah gadis itu baru melontarkan pertanyaan paling bodoh yang pernah dia dengar.

"Syukurlah."

Kakeru menghela napas. "Aku selalu baik-baik saja, Kiri-chan" dia menarik Kiri ke dalam pelukannya lagi, "itu hal yang tidak perlu dipertanyakan."

"Dulu aku belum sempat mengatakan ini…" kata Kiri pelan.

"Eh, apa?" Kakeru mendorong Kiri untuk melihat wajahnya.

"Terimakasih" Kiri tersenyum, senyum yang benar-benar tulus dari hatinya, "terimakasih telah menyelamatkanku waktu itu."

Kakeru terpana beberapa saat, tapi kemudian dia tersenyum, menarik lengan gadis itu lagi dan mencium keningnya lembut. "Kau tidak perlu mengucapkan itu" kata Kakeru pelan.

"Dan… maaf."

"Itu lebih tidak perlu diucapkan!" Kakeru memasang ekspresi pura-pura kesal.

Kiri tertawa, semua bebannya selama ini seakan lenyap begitu saja. Kakeru juga merasakan hal yang sama, sekarang hanya rasa lega dan bahagia yang mengisi hati mereka masing-masing.

Seki menepuk bahu Kanako, tersenyum melihat gadis itu sampai meneteskan air matanya. Semua orang di ruangan itu mungkin memang tidak mengerti dengan masalah apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka semua tersenyum tipis, merasakan kebahagiaan yang berlangsung di depan mata mereka.

Hanya Narumi Shougo yang menatap mereka berdua dengan pandangan beku.

###

~ To Be Continued ~