SEPERTI AYAH

Armageddon Disney's Touchstone Pictures

-o0o-

Langit cerah.

Itu tadi kuintip dari jendela. Saat aku baru menyadari kalau AJ tidak ada di dalam rumah.

Di tengah-tengah menyiapkan makan malam, aku mengintip lewat jendela, dan kulihat AJ ada di halaman belakang. Memandang langit. Langit cerah tak berawan. Penuh bintang. Dan bulan purnama.

Aku tersenyum sendiri. AJ tentu lelah sehabis membereskan rumah. Kami baru saja menikah dan pindah ke rumah ini.

Dan Truman yang membawaku ke altar. Aku tahu. Dad memberikan badge itu padanya agar ia menggantikan perannya hari ini. Semua teman Dad hadir saat itu, memberi selamat padaku dan AJ, tersenyum lebar atau bahkan tertawa, tapi bersamaan juga menitikkan air mata.

Aku juga menitikkan air mata. Tapi aku tahu, Dad sudah bahagia di sana. Mungkin ia sedang menggali di alam lain. Tak ada gunanya bersedih.

Nah, beres sudah. Kuletakkan hidangan terakhir di meja, kulipat celemekku, dan kususul AJ ke halaman.

Ia masih betah memandang ke langit.

Perlahan aku berdiri tepat di sampingnya, perlahan agar tak menganggunya. Namun ia merasakannya. Tanpa mengalihkan pandangan, tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya.

"Kau lihat, bulan purnama sekarang," sahutnya pelan.

Aku mengangguk. Kuperhatikan, wajahnya penuh emosi yang menyesak.

"Menangislah kalau kau mau," bisikku, merapatkan tubuhku padanya. Ia melepas tangannya dari tanganku, sebagai gantinya ia merangkulku lekat.

Dua butiran jernih meluncur turun dari sudut matanya, tanpa mengedip. Ia membiarkannya, tak mengusapnya.

"Harry yang mengatakannya padaku. Mengatakannya pada saat terakhir. Ia mengatakan, bahwa ia menyayangiku bagai anak," suaranya tercekat.

Aku mengangguk. Membiarkannya berkelana dalam lamunannya. Kenangan akan detik-detik terakhir Dad.

"Aku tak pernah menyadari. Aku tak pernah tahu. Tiap kali ia murka padaku, tiap kali ia menyuruhku berbuat lebih baik—tiap kali pula ia sedang berperan sebagai ayah, Gracie!" suaranya parau. "Ayah yang sedang berusaha melatih anaknya menghadapi kehidupan yang kejam ini. Bukan ayah yang memanjakan anaknya."

Aku mengangguk. "Dad memang tipe ayah yang begitu."

Ia mengeratkan pelukannya, "Bukan ayah yang pandai berkata-kata. Langsung saja tindakan. Ayah yang tak pernah aku punya—"

Aku menyelusup ke dadanya, dan merasakan detak jantungnya semakin tak beraturan. Rasa sedih, rasa galau … Aku tahu kalau AJ tak pernah merasakan punya ayah sejak kecil.

"Dan ia berhasil mendidikmu, AJ," sahutku, "ia bangga padamu. Kau tahu itu."

AJ mengangguk, "Kuharap demikian."

Ia memandang lagi ke langit, ke bulan purnama, "Aku akan menjaga Gracie, Harry. Tanggung jawab yang kau berikan. Kau takkan kukecewakan."

Jatuh lagi dua butir cairan dari wajahnya, langsung menitik di tanganku. Ia membiarkannya.

Beberapa saat berlalu sebelum aku berbisik padanya, "AJ."

Ia menggerakkan kepalanya, menoleh padaku.

"Makan malam keburu dingin," sahutku.

Ia memandang sekali lagi ke langit. Memelukku erat, dan berjalan bersamaku ke arah pintu.

Sebelum masuk, aku menoleh lagi pada bulan purnama, 'Dad. Jangan khawatir. Aku akan menjaga AJ sepenuh hatiku."

Dan kubiarkan pintu tetap terbuka. Siapa tahu bulan atau bintang ingin ikut bersama kebahagiaan kami.

FIN