K I T A B R E A K D U L U, Y A?

A U T H O R

Sleeping Forest

-Shinju Risa

D I S C L A I M E R

Masashi Kishimoto-Sensei

-Bondan Prakoso feat. Fade 2 Black

W A R N I N G S

Yaoi, Straight, OOC-ness, AU highSchool, Gaje-ness.

P A I R I N G S

SasuxNaru, NejixGaa, SaixSaku, ShikaxTem, ChouxIno, KibaxHina… SasuxDei (hehe) Pein-YahikoNaru (Hot!) Dan, Bla-blaaaa.

.

.

Setiap hari, ia selalu berusaha bangun pagi untuk membuat bekal sebab harga seporsi makan siang di sekolah sangat mahal. Dengan senyuman ia memotong tomat merah menjadi irisan tipis, ia sisipkan di antar telur dadar di dalam kotak bento.

"Dia 'kan suka tomat, He-he-he…"

Setiap hari, ia selalu berusaha membuat bento dengan sangat hati-hati… Mulai dari memasak nasi, ia bentuk menjadi segitiga onigiri , ia menentukan apa lauk yang paling cocok dan tidak pernah sama setiap harinya.

"Semoga dia tidak marah lagi hari ini."

Setiap hari, selalu begitu…

Tetapi tadi pagi… Dia salah menuangkan garam dengan gula…

Hanya sekali itu.

Tetapi tampaknya kesalahan itu telah merusak seluruh lembaran hubungan Uzumaki Naruto dengan Uchiha Sasuke.

"Ka-kau…"

.

.

Drap! Drap! Drap!

Naruto berlari meninggalkan kafe Shiroiko masih mengenakan pakaian pelayan, ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan manajernya, teman-teman sekerjanya termasuk teriakan Sasuke.

"Huwe…"

Tangis membanjiri mata, ia pun terus berlari membelah orang-orang di trotoar ramai malam hari di Asakusa. Kemeja putihnya menjadi kumal, ia tidak peduli sebab hati yang sakit mendominasi pikiran sekarang.

Kenapa? Kenapa Sasuke?!!

"Huwe… Padahal-padahal aku…"

Aku menyukai-mu…

Ia berlari dan berlari, sampai napas habis dan paru-paru berteriak meminta udara. Tangannya menutup mata, berusaha menghentikan air mata yang tidak mau berhenti mengalir.

"Huwe… Ak-aku… Padahal aku…"

Benar-benar menyukaimu…

Sangat menyukaimu…

Apakah kau tidak dapat merasakannya, Sasuke?

Ataukah selama ini hanya aku yang menyukaimu?

Jangan-jangan sebenarnya aku sudah seenaknya menganggapmu menyukaiku?

"Sasuke… Huweee…"

Apakah… Kau menyukaiku, Sasuke?

Gelap. Malam hari ini gelap tanpa bintang, Naruto mendongak menatap langit dengan mata merah. Ia berhenti di ujung pelabuhan Karasumaru, sangat sepi dan tentram seperti yang di harapkannya. Semoga tidak ada yang datang… Aku ingin menghilang, pikirnya sedih sambil menangis seengukkan.

Kukira… Kau menyukaiku Sasuke… Ternyata aku saja yang egois, ya… Memaksamu menjadi apa yang kuinginkan, seorang gay?!!

Kenapa tidak dari awal saja kau tolak aku?!

Kenapa harus sekarang, Sasuke?

Kenapa dengan seorang wanita?!!

"Kenapa…?"

Suara kapal yang berlabuh tidak mengejutkan batinnya, malah sedikit menenangkan. Di tambah alunan dawai gitar oleh pemain musik jalanan di sudut jalan, trotoar kosong melompong tiada apa pun selain beberapa anak jalanan yang menghangatkan diri di sebuah api unggun dalam tong. Naruto tidak menyadari bahwa malam memang sudah sangat larut, ia pun lupa pada orang-orang yang khawatir padanya sebab yang ia rasakan sekarang hanya kekalutan tiada akhir.

Hari-hari yang 'kan kujalani…

Kini semua 'kan terasa sunyi…

Walau hampa pasti kuhadapi…

Kuucapkan SELAMAT JALAN…

Seolah mengerti dengan perasaannya, pemain musik jalanan menyanyikan lagu R.I.P. dengan begitu syahduh. Semakin membuat hati Naruto tenggelam dalam pandangannya sendiri, tangisannya lebih banyak mengungkapkan perasaan dari kata-kata.

"Sasuke…" Dia bergumam kata-kata itu terus tanpa berhenti seolah hanya untuk saat ini dia hidup. Semakin larut malam, dingin pula menyentuh kulitnya yang hanya tertutupi oleh kemeja. Yang jelas, tidak bisa melindungi tubuhnya dari dingin angin di Pelabuhan Karasumaru… Naruto pun mengigil, tetapi tidak mengharapkan orang itu datang untuk menyelamatkannya.

"Hei! Sedang apa kau di sini?!" terdengar sebuah suara berat di depan Naruto.

Sasuke?

"Ahh…" Menatap mata orange di depannya dengan penuh kekaguman, seorang pria dewasa penuh kewibawaan yang kini mengulurkan tangan padanya, Naruto tergagap malu. "A-aku…"

"Kau bisa masuk angin, tahu!" Dia memberikan jubah panjang hitamnya di kedua bahu Naruto, "Ahh… Ti-tidak usah." Dia berusaha menolak pemberian si Pria, tetapi dia malah jadi begitu salah tingkah sampai tersipu-sipu malu. Namun, pria itu hanya tersenyum seraya mengulurkan tangannya di hadapan Naruto untuk membantunya berdiri.

"Sedang apa anak SMP di tempat seperti ini? Bahaya tahu!"

Mereka duduk di sebuah kafe 24jam, si pria memesankan Naruto segelas kopi panas. Awalnya Naruto menolak di ajak si pria pergi dari 'persembunyiannya' di tambah dengan tampilan yang begitu semerawut. Tetapi, pesona si pria begitu menyilaukan pandangan Naruto sampai membuat Naruto tidak bisa melakukan apa yang harusnya ia lakukan.

"Eh! Aku ini sudah SMA!!" Ujar Naruto marah, si pria cukup terkejut lalu tertawa nyaring.

"Ahahaha…" Tanpa meninggalkan wibawanya si Pria tertawa, cukup membuat Naruto kembali bersemu di bagian pipinya yang begitu lengket akibat menangis.

"Uhm… Tu-tuan? P-pak… Aduh, manggilnya apa nihh…" gumam Naruto, namun cukup besar untuk di dengar si pria, ia tersenyum simpul sambil berkata pelan. "Yahiko, panggil saja aku Yahiko. Kamu?"

"Naruto." Si pirang itu mengepalkan tangannya, duduk sedikit canggung di hadapan Yahiko, pria yang baru saja di kenalnya dan menolongnya tanpa basa-basi. "Jadi, Naruto~ Kau sedang apa di pelabuhan…? Malam-malam begini, dan menangis?"

Naruto menundukkan kepalanya sambil menatap gelas kopi di tangan, seolah bisa melihat refleksi wajah Sasuke di adukan air hitam. Yahiko hanya memiringkan kepalanya bingung, sambil menghela napas ia mengistirahatkan kepala di atas tangan kanannya.

"Masalah cinta?"

Mata Naruto sedikit berkaca-kaca, berusaha menyunggingkan senyumnya untuk menahan keperihan yang sekarang begitu menusuk hati. Ini bukan hanya karena pengkhianatan Sasuke, tetapi juga karena ia bingung dan terluka oleh cinta yang selama ini di anggapnya ada.

"Iya."

Alis coklat Yahiko terangkat, ia tersenyum pelan tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Naruto. "Orang itu… Pasti bodoh sekali, sampai mau melepaskan kamu."

*Blush* Naruto merasakan pipinya menghangat merah, mau tidak mau dia tertawa juga dalam pembicaraan ini. Yahiko begitu ceria dan bersemangat, meski baru bertemu, hubungan di antara mereka seperti teman lama. Lama-kelamaan Naruto mulai melupakan bayangan Sasuke, karena cahaya Yahiko begitu terang menyinari dunianya yang tadinya gelap.

Tengah malam, semalaman suntuk tepatnya, Naruto dan Yahiko tidak berhenti tertawa dan bercanda sampai tidak ada lagi yang bisa mereka tertawakan.

Yah, sekarang cinta di antara Sasuke dan Naruto tampaknya sudah meredup. Karena ikatan mereka mulai merenggang seiring berjalannya waktu, alasan untuk mereka bersama pun sudah tidak ada. Sasuke dan Naruto telah memilih jalan mereka masing-masing. Cinta yang awalnya memang di bangun di atas persahabatan sama sekali tidak bisa di pertahankan lagi, bagaimanapun juga persahabatan tidak mungkin berubah menjadi cinta. Cinta itu utuh, tidak bersyarat dan jika berlandaskan persahabatan… Pada akhirnya hanya akan ada rasa saling tersakiti dan persahabatan itu tidak mungkin kembali lagi seperti sedia kala.

.

.

"Sai… Apakah aku sudah berbuat salah?"

"Sasuke-sasuke… Kau bahkan tidak tahu mana yang salah mana yang benar, sekarang cukup kau lakukan apa yang kau yakini." Sai menatap Sasuke yang sedang duduk memandang langit malam kelam, hari ini mereka tidak pulang ke Kediaman Uchiha. Selain itu, kebiasaan ini selalu mereka lakukan setiap ada masalah… Menghitungi bintang dan tertawa di pinggir Sungai Moku-maru. Hari ini… Sasuke yang ada masalah, walaupun sudah bersenang-senang bersama Deidara… Dia tidak merasakan apapun, sebab pikirannya masih terhubung pada seseorang… Namun ia tidak yakin. Ini perasaan cinta ataukah kasihan?

"Sai… Menurutmu cinta itu apa?" Tanya Sasuke pelan, namun mata hitamnya tidak bisa lepas menatap langit, sementara Sai hanya tersenyum simpul lalu melayangkan pandangannya pada luasnya tirai berbintang malam.

"Cinta itu… Ilusi. Aku juga tidak terlalu mengerti… Cinta itu bisa menyakiti, dan juga menghancurkan hati dalam sekejab… Dari pada hal seperti itu… Bukankah masih bagus nafsu? Kita dapat kepuasan… Dan tidak ada persyaratan seperti cinta. Bukankah lebih bagus begitu, Sasuke?" Ujar Sai datar, lalu merebahkan dirinya di atas rumput kering di bawahnya seolah ingin melepaskan penatnya. Dalam pikiran Sasuke berkecamuk bermacam hal, namun setelah mendengar perkataan Sai… Ia memutuskan untuk… Sekali-kali egois dan bersikap pengecut… Tidak salah 'kan?

"…Iya…"

.

.

Bagi Naruto dulu, Sasuke bagaikan bulan… Selalu menemani malamnya yang gelap. Menuntunnya keluar dari kesendirian, keterpurukan dan kekosongan… Tangannya dulu seolah tiada batas, lebar sekali dan saat Naruto menggenggamnya ia merasa aman. Seolah tidak ada tekanan… Namun perlahan mereka merasakan kebosanan…

Apakah hubungan kami hanya sebatas saling melindungi? Apakah kami hanya sampai segini saja?

Benarkah itu cinta?

Malam ini… Langitnya cerah dan berbintang tanpa ada awan. Membuat siapa saja yang menatap seolah bisa tertelan di dalamnya dan menghanyutkannya ke dalam ketenangan. Malam ini… Naruto dan Sasuke, berada di tempat yang berbeda dengan pikiran yang berbeda pula… Namun, mereka ada di bawah langit yang sama.

Sama-sama menatap langit dengan bertanya-tanya. Apakah ini yang di sebut akhir menggantung? Sebab kata perpisahan belum terucap di mulut mereka, walau di bantah… Benang merah pengikat cinta di jari manis mereka masih merekat erat, sama sekali belum terputus oleh gunting nasib.

Mungkin mereka memang bodoh… Terkena ilusi Matahari. Walau Matahari bersinar begitu terangnya… Bulan, masih ada di sana 'kan? Masih setia… Dan menunggu tanpa suara.

"Hei… Sasuke, apa kau masih menyukaiku?"

BERSAMBUNG

.

.

Sleeping Forest

Risa di sini!! Lama nggak apdeth, sibuk banget! Ohohoho… Ada yang marah, ya sama kata-kata Risa kemarin? Di profile Sleeping Forest pernah tertulis…

KOUHAI.

Mungkin kami memang pendatang baru tetapi kami sudah mengenal kalian.

Kouhai itu artinya KAMI, bukan KALIAN… Duh, jadi banyak yang salah sangka neh… Kami nggak mau sok-lah… Mau di panggil senpai, ah… Apalah~ Aku nggak ngerti. Asal cerita kami di baca dan di sukai… Sudah cukup kok!

Oh, iya… Mungkin kalian yang bertanya sudah saya balas dengan PM dan Hito pun jadi sedikit 'panas' gara-gara masalah itu. Kan itu semua keputusan kalian, dan aku sama sekali nggak ngerti apa tujuan kalian bertanya begitu… Selain mereka adalah orang yang berbeda, bertahun-tahun aku kenal Kuro… Dia tidak pernah menyembunyikan rahasia apapun dariku. Hahahaha! Udah-udah! Makasih ya, buat yang udah sempat membaca dan menaruh review! Jangan lupa review anggota lain Sleeping Forest! Dan Review lagi!!! ///// KYAA!! Ada BBF! Udah dulu, SAYONARA!