KIRA

- Kill. 3 (Seorang)

Disclaimer:

MASASHI KISHIMOTO.

Warnings::

YAOI. SELF MUTILATION. INSANE PEOPLE.

AUTHOR:

SLEEPING FOREST.

- Kuro. KARASU

.

.

Sasuke's side. SASUKE's SAYS. Sasuke's Story. SASUKE's FLASHBACK. Lots Sasuke. SASUKE.

"Lagi-lagi elo di sini, Sasuke!" Seseorang menghalangi matahari di atas kepala Sasuke, ia sedang berbaring di atas rumput belakang sekolah. Jika malas dan tidak ingin belajar dia pasti datang ke sini, hanya sepupunya Neji yang tahu kebiasaan ini.

"Ada apa? Apa si Itachi udah mati tenggelam di Samudera Hindia sampai elo dateng nyari gue, Neji?" Dengan ogah-ogahan Sasuke bangkit dari tidurnya, mengosok-gosok bagian belakang kepala dan menguap lebar. Sepupunya hanya tersenyum tak lepas memandanginya dengan tidak percaya –Apa ini… Orang yang akan meneruskan Perusahaan itu? Paman Fugaku pasti akan rugi besar, Ahaha… Pikir Neji sambil tertawa.

"Bodoh!! Bukankah hari ini, hari penyerahan Ijazah untuk siswa yang lulus!"

"Jadi?"

"Dan kita ini siswa kelas 3, Sasuke!! Elo itu ketua kesiswaan, duh… Jangan-jangan lo lupa kalau harus ngasih pidato pelepasan siswa?!!" Muka Neji kelihatan sangat panik, bahkan seperti perempuan yang akan kehilangan diskon di pasar swalayan hanya membuat Sasuke terbahak-bahak sampai sakit perut.

"AHAHAHAHA!!" Tawa lebar menghiasi bibirnya, Neji cemberut menghadapi Sepupunya itu dengan muka bersemu marah dan pikiran penuh tanda tanya.

"Apa yang elo ketawain?!"

"Ahaha… Aduh-aduh, perut gue sakit banget!! Ahaha, Neji!!" Dengan terguncang-guncang si Uchiha memegangi perutnya untuk menahan tawa yang seolah tidak mau berhenti.

"Aduhh… Neji-Neji!! Elo 'kan tahuuu!! Gue udah di pecat dari organisasi itu!! Ahaha!! 'Kan sekarang elo yang jadi Ketua Kesiswaan! AHAHAHA!! Mampus lo!"

"KAMI-Sama!! Kok gue lupaaa!!"

"AHAHAHA!"

Alhasil hari itu, Sasuke duduk di dalam ruangan Upacara Pelepasan Siswa dan penyerahan Ijazah hanya untuk melihat sepupunya menahan malu sewaktu memberikan pidato yang tadi mereka susun dalam waktu 5 menit.

.

.

"Gak terasa 3 tahun ini lewatgitu aja di hadapan kita ya, Neji… Kayak mimpi." Ia menatap matahari di ujung ufuk timur, membiarkan angin sepoi-sepoi membasuh rambutnya tanpa henti. Sepupunya, Neji duduk di atas pagar pembatas jalan tertinggi di kota itu menoleh pada Sasuke yang berada di sampingnya. "Elo aja yang terlalu males, Sasuke… Bagi gue 3 tahun ini cukup berwarna dan indah kok…"

"Aahh, itu sih dasar elo aja yang sentimentil! Jangan-jangan elo nulis jurnal?!"

Senyuman disertai seringaian gigi putih melawan tatapan mata putih Neji, tentu saja dia kalah… Siapa sih, yang nggak tahu dengan ketampanan wajah yang di miliki kelurga Uchiha.

"Setelah lulus, bukannya lo bakalan ke Eropa buat kuliah di Harvard?" Tanya Neji datar, tidak melepaskan pandangan ke langit merah menyala di ujung bumi. Sasuke menghela napas berat seolah apa yang di hadapinya sekarang begitu berat, "Yup. Ke tempat di mana matahari terbit, barat… Kayak lagi nyari kitab suci ajah, ke barat… Cuih~"

Ia menahan tawanya menghadapi Uchiha yang satu ini, "Kalau nyari kitab suci elo pasti jadi Gokongnya Sasuke!! Ahaha!!"

"Puas lo?!! Kalo gitu elo jadi Pat Kainya!!" Balas Sasuke.

"Ehh!! Gue ganteng gitulohhh!! Kaga mungkin yang mendingan dikit, kek! Jadi artis Hollywood, uhmm…"

"Kok nyambung ke sana, seehh?! Okeh lo jadi pemain pilem Harry Potter!"

"Jadi Danielnya, ya?"

"BUKAN! Elo yang jadi Hagrid!"

"Uapaaa?!"

"AHAHA!!"

Anak muda… Semangat mereka tidak pernah turun, selalu membuat mereka berapi-api dan penuh tawa seperti Sasuke dan Neji.

Yang tidak menyadari bahwa Maut mengincar mereka dari belakang dengan tawa tertahan… Kau yang berikutnya, Kikikik….

.

.

"Uzumaki Naruto-kun, seorang siswa Konoha Private School di kabarkan telah membunuh orang tua-nya. Pada hari di mana mereka merayakan ulang tahunnya yang ke-15, ia menusuk keduanya lalu membakar rumah mereka. Mayat keduanya tidak dapat di kenali, dan dalam pelariannya Uzumaki-kun juga membantai 2 orang polisi yang sedang berpatroli. Sekarang ia masuk ke dalam daftar pencarian buronan paling di cari, di harapkan bagi seluruh masyarakat untuk berwaspada dan bersiap-siap."

Sasuke sedang melepaskan kemeja putihnya saat melihat berita itu di televisi, dia bergidik sambil membayangkan masa SMA dahulu –Anak jaman sekarang… Dua setengah tahun semenjak hari kelulusan, sekarang dia berada di Jepang lagi untuk menghabiskan masa liburan menyambut natal. Sedikit menyesal juga, ia kembali ke rumahnya jika keadaan di sini begitu tidak kondusif.

"Ahh… Padahal, mau ke Rumah si Neji tapi kalo keluar rumah… Bisa di bunuh ama si Jagal itu." Menghempaskan diri di atas ranjang di tengah kamar, Sasuke menggantungkan pikirannya jauh menembus jendela besar di kanannya.

Kringgg…

"Halo? Uhm? Neji? Lo mau ke sini?" Sasuke menjawab telepon dengan nada panik, saat mengetahui bahwa sepupu paling akrab dengannya itu berniat datang ke rumahnya.

"Santai-santai! Kalo lo mati gimana?! Jangan ke sini, oke?!"

Tidak ada istilah main-main lagi dalam kamus hidup Sasuke, tinggal di barat selama ini membuatnya menjelma menjadi tiruan ayahnya begitu sempurna. Setiap hal yang ingin di kerjakannya pasti telah tersusun matang, mulai dari awal sampai akhir. Namun kali ini, jangkauan tangannya tidak bisa menggapai rencana Tuhan yang begitu dahsyat… Yang akan merubah hidup banyak orang dalam sekali pergolakan…

Kemarilah…

Kemarilah…

Akulah Maut… Kemarilah…

Semakin cepat… Semakin tidak terasa sakit…

Kikikikik..

.

.

Salju turun seperti sebuah hadiah dari langit pada mereka yang menanti natal, menatap titik putih itu Sasuke merasakan ada yang hilang dari hidupnya… Entah apa itu…

"Hah… Dingin…"

Sambil mengepulkan napasnya di depan jendela, ia membiarkannya mengembun menjadi titik-titik kecil lalu mencoret-coret semburat napasnya di kaca jendela menjadi sebuah bentuk aneh.

"Heh… Kapan, ya aku terakhir melakukan ini sama Neji?"

Sejak kecil, selalu saja seperti ini… Neji dan Sasuke, kemana-mana selalu berdua… Dari pertama keduanya memang pemalu sebab berasal dari keluarga yang sangat sedikit mempunyai anak kecil, mereka bersama dan berjanji akan selalu melindungi satu sama lain. Perlahan, Neji tumbuh menjadi remaja supel yang siap di andalkan kebalikan dari Sasuke yang tumbuh menjadi remaja pemberontak dan tidak suka di atur, hanya Neji… Hanya Neji, yang mampu mengekang perilaku Sasuke. Bukan apa-apa…

Dulu sekali, waktu mereka bermain di sungai belakang SD… Sasuke tenggelam dan sekuat tenaga Neji menolongnya, semenjak kejadian itu… Sasuke mulai mau membuka dirinya pada orang lain lewat Neji…

Seperti… Neji adalah jalannya menuju dunia.

Bahkan hubungannya dengan Neji melebihi ikatan Saudara di banding dengan Itachi.

"Hahaha… Dasar cowok metroseksual… Aku heran, kenapa dia masih tidak mau memotong rambut panjangnya itu…"

DEG!!

"Hah?"

Ada apa ini? Kenapa tadi sekilas, Sasuke merasakan jantungnya berdenyut begitu keras seperti akan ada sesuatu yang buruk menimpanya?

Dulu juga pernah begini, waktu jantungnya berdenyut kencang ternyata sekolahnya kebakaran dan ia berhasil keluar karena ia merasakan firasat tentang hal itu.

"Apakah, seperti waktu itu lagi?"

Tapi, kali ini… Yang ada di pikirannya hanya Neji! Apakah…

"Apakah? NEJI!!"

Benar.

Setelah Sasuke menelpon kediaman Hyuuga, ternyata Neji telah pergi dari rumah sejak tadi sore dengan alasan ke supermarket… Tapi, kenapa dia belum kembali?! Ini sudah pukul 10 malam!!

Kemarilah… Namaku Maut, salam kenal… Hyuuga Neji.

Mari kita berteman…

Kikikik…

"Shit!!"

Tanpa memakai jubah lagi Sasuke segera berlari meninggalkan rumah, ketakutan menyemarakkan hatinya yang galau. Hanya satu yang ada di pikirannya sekarang… Neji!

"Di mana kau… Dasar bodoh!!"

Jantungnya berdenyut-denyut kencang, seperti ini bukan hanya firasat… Ini seperti… Memang benar akan ada sesuatu yang terjadi…

Hyuuga Neji?

Kikikik…

Kau mau 'kan berteman denganku?

Ia berlari menembus lebatnya salju malam itu, tidak menghiraukan teriakan marah dari orang-orang yang di tabraknya. Ia berlari sampai kehilangan napas, adrenalinnya melaju tanpa batas dan penglihatannya berkunang-kunang. Namun, sesuatu yang begitu penting baginya itu… Lebih penting dari pada kakinya yang sudah terasa tidak mampu lagi berlari.

"Neji!! Di mana kau?!!"

Kau ini…

Neji-Neji…

Kau itu, sudah punya janji denganku duluan…

Untuk apa lagi bertahan…

Ayolah, raih tanganku…

Agar rasa sakit itu… Hilang…

Setelah berkeliling supermarket dan tidak menemukan apapun, putus asa semakin melingkupi ruang hatinya. Ia semakin tidak yakin dengan langkahnya, ia hanya berpatokan pada firasatnya sekarang. Selama hidup, belum pernah sekalipun ia merasa setegang ini… Ia bukan lagi tegang, ia merasa benar-benar panik, ragu dan takut… Keringat terus menetes dari dahi dan wajahnya, semakin lama ia semakin galau.

"Nejiiiii!!"

Uchiha? Uchiha Sasuke…

Kikikik… Baiklah…

Akan kubawa ia ketempatmu…

Jika itu memang keinginan terakhirmu…

Kikikik…

Gelap?!

Sasuke berada di jalan lembab di belakang toko-toko, tempat yang begitu gelap hanya ada satu lampu redup menerangi jalannya. Sisi kanan dan kiri dindingnya sudah berlapis lumut, dan tikus-tikus berlari ketakutan saat kaki Sasuke mendekat. Entah kenapa ada suara yang menyuruhnya datang ke jalan ini, ia tidak yakin suara siapa itu… Tapi, tinggal tempat ini yang belum di carinya.

"Neji?"

Nah, dia sudah datang…

Apakah kau berteman denganku?

Kikikik…

"Ya, Tuhan…"

Ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang, ia tidak mau percaya. Tanpa bisa berkedip lagi, Sasuke segera menyongsong tubuh Neji yang sudah terkulai di atas lantai kotor jalanan, menutupi genangan darahnya sendiri. Matanya tidak bisa berkedip, menatap tubuh sepupunya yang segera ia peluk dalam dekapannya.

"Sas-Sa…suke? U-uhuk!!"

"Neji! J-jangan bi-bicara lagi! A-aku akan menelepon rumah sakit… Te-tenang saja!"

"Bo-bodoh… A-aku ini… Uhuk!!"

"Neji!! Ku-kumohon!"

"Sa-… d-dengar… Bil-bilang pada ay-ah… A-aku min-ta uhuk! Maaf…"

"Neji!! Kau itu tidak akan mati! Te-tenanglah…"

"Sas-! Deng-arkan aku… Te-terima K-kasih un-tuk se…segalanya… K-kau te-teman terba-ikku…"

"Neji…"

"Bo-bodoh… Ja-ngan men-nang-is… D-dan aku ti-tidak men-nyalah-kan… di-a.."

"Dia? Siapa dia Neji?!"

"Selam-at… Ting-…gal…"

"Neji? Nejiiiiiiiiiiiiii!!"

Ayo, kita pergi… Hyuuga Neji, sesuai perjanjian kita…

Kikikik…

Aku tidak sabar lagi menunggu panggung berdarah berikutnya…

Kikikik…

Menarilah… Hai taring kematian…

.

.

"Maafkan aku… Neji, se-seandainya aku datang lebih cepat…"

Sasuke masih belum bisa mempercayai bahwa sepupu terbaiknya itu sudah pergi ke alam lain. Menatap batu nisan di atas tanah yang masih merah itu, hatinya bagai teriris sembilu di tambah oleh tangisan menyayat hati dari Hinata. Hinata, adik sepupu Neji.

"Kakak…"

Hari beranjak sore, namun Sasuke masih belum mau meninggalkan tempat itu. Ia masih mau menatap wajah di pigura photo di atas makam Neji, seolah masih bisa mendengar suara dan teriakan marah Neji yang selalu di dengarnya selama bertahun-tahun. Entah kenapa, Sasuke tidak bisa berpikir jernih sewaktu Neji meninggal di pelukannya, ia membiarkan dirinya di dekap oleh ibunya sementara jenazah Neji di bawa oleh keluarganya untuk di kuburkan. Ia terus bergumam 'Neji tidak mati, bu…' terus menerus bagai sebuah permohonan 'Tidak mati… Dia hanya tidur…'

"Dia sudah membunuh teman terbaik-ku... Sepupu-ku, bagaimana bisa aku memaafkannya?"

Itulah yang Sasuke rasakan.

Rasa benci dan dendam yang mendalam begitu merasuk ke dalam setiap ruang hatinya. Ia tidak mampu menghilangkan kemarahan yang berkobar di dalam jiwa, ia bersumpah jika dia bisa menemukan pembunuh Neji…

Ia akan membunuh orang itu…

Membunuh orang yang telah merenggut nyawa sepupunya…

Pembunuh yang membunuh Neji, dengan 11 tusukan…

Pembunuh….

Ya, Uzumaki Naruto.

Uchiha Sasuke pasti akan membunuh Uzumaki Naruto.

Bagaimanapun caranya.

BERSAMBUNG

.

.

.

Are you like it?

SLEEPING FOREST

Menarilah sulur berduri… Yang membawa racun tidur abadi…

- Kuro. KARASU

Oh… I mean it! Sasuke mau membunuh Naruto! Tentu saja, did you read the manga? Tinggal menunggu waktu… Khukhukhu…

Ch… Hontou? Don't make me laugh!! Oh, Come on girl! Yknow what im talking 'bout…

Next Kill. 4 (Pembunuh)

IRUKA's SIDE

IRUKA's STORY

"Maafkan aku… Hanya ini yang dapat kulakukan untukmu…"