Genre: Humor/Parody

Rate: K+ aja kali yah?

Summary: Mello nemu golden ticket Willy Wonka.

Disclaimer: yang nggak tau, tinggal klik link bertuliskan 'Review this story/chapter' dibawah yah. Trus ketik 'ini disclaimernya siapa yah?' abis itu klik submit review yak. Wajib loh. Kyahahahaha..*ditendang ke mars*

A/N: Sebelum baca fic ini, ada baiknya, er… nggak ding.. sangat dianjurkan untuk melihat film berjudul 'Charlie and the chocolate Factory' terlebih dahulu XD. Tapi kalo ngga juga ngga pa" sihh. Hehehe =P

" GOLDEN TICKET "

Chapter 1

© Kurosu Hana

"Eeehh… habis?" ujar seorang pemuda berambut blonde tak percaya ketika membuka kulkas dan mendapati persediaan coklatnya yang kosong. "Uuuh..Sial!!..itu berarti aku harus membeli lagi. Aaah…What the hell? Padahal biasanya kan aku tak pernah kehabisan. Cih.."

Lalu pemuda berambut blonde itu menutup pintu kulkasnya kasar, dan segera pergi ke garasi untuk mengambil motornya dan membeli coklat yang notabene adalah jiwanya itu.

"Heh Mello..mo kemana lo?" tanya seorang dengan rokok tersulut dimulutnya yang sedang duduk diatas mobil mendapati sahabatnya itu akan keluar.

"Beli coklat Matt..coklat gue abis.." jawab Mello datar.

"Ohh..tumben sekali coklat lo abis. Haha, kenapa nggak minta L-sama aja sih?"

"Er..nggak. Gue mau beli sendiri aja.." jawab Mello datar.

"Oh..ya terserah lo aja sih. Hoho.." ujar Matt sambil meneruskan menyulut rokoknya itu.

Lalu, Mello segera menghampiri motornya. Memasang kunci, lalu menstarter motornya itu dan pergi dari garasi menuju swalayan membeli coklat.

***

"Hm..enaknya apaan yah? Cadburry? Silverqueen? Kit-kat? ato yang mana yah?" Mello bingung memilih coklat yang akan ia beli, biasanya ia hanya dibelikan oleh L. Namun, kali ini ia memilih untuk membelinya sendiri. Lalu, pandangannya tertuju kepada sebuah bungkus coklat bertuliskan 'Wonka' di bungkusnya.

"Eeeh..? Bukannya ini merk coklat yang ada di film..er..film apa itu..ya pokoknya itulah.. itu yap? Hohohoho. Pastinya enak nih..hm..beli ini aja deh..Oh ya, gue beli, hm..5 bungkus sekalian aja deh. Hahaha, itung-itung lagi banyak duit. Jadi beli banyak sekalian dah." Lalu, Mello mengambil 5 bungkus cokelat Wonka lalu pergi ke kasir untuk membayarnya. Setelah itu, ia segera pergi meninggalkan swalayan itu dan kembali ke Wammy's House.

***

"Hm..enak banget nih kayaknya ni coklat. Kyahaha. Gue mau makan semuanya dah! Ntar kalo udah abis, tinggal minta L-sama aja kali yak?" ujar Mello yang tidak sabar memakan coklat beliannya tadi itu.

Lalu, ia membuka bungkus coklat itu kasar. Dan..

"He? Apaan nih? Golden ticket? Eeehh..gue menang jalan-jalan ke pabrik coklat Willy Wonka? Wew..ASYIIIKKKK!!!! Hahahahahaa." Kata Mello girang ketika membuka bungkus coklat itu, sampe-sampe, lupa akan coklatnya tadi.

"Haha..kira-kira, di bungkus yang laen dapet gak yah? Huahahaha. Kalo dapet lima sekaligus kan ajiiib boo…" kata Mello menirukan gaya para bencong jalanan. Lalu, ia dengan mupeng membuka bungkus coklat lainnya. Dan mendapati golden ticket dibungkus lainnya. Karena gak percaya telah dapat dua tiket emas, lalu dia membuka bungkus lainnya, dan mendapati tiket emas lagi. Begitu pula dengan dua bungkus lainnya. Ia mendapatkan golden tiket pula.

"MAMAMAMAMAMAMAAAMAMAMAMAMA!! GUE DAPET LIMA GOLDEN TIKET! GYAHAHAHAHAHA! MIMPI APA GUE SEMALEM? KHUFUFUFUFUFU" ujar Mello dengan semangat 45 sambil jingkrak-jingkrak yang membuat warga Wammy's house yang sadar menuju ke kamar Mello.

Tok..tok..tok…

Pintu kamar Mello diketok. Namun, tidak ada jawaban dari Mello.

Tok..tok..tok..

Tetap tidak ada jawaban dari Mello. Yang terdengar dari luar hanyalah ketawa menggelegar Mello.

"Kenapa sih Mello ini? Kok geje banget ni bocah? L-sama, boleh aku mendobrak pintunya?"

"Terserah kau Matt.."

BRAK!#$%^

Pintu kamar Mello copot. Kontan Mello melihat ke sumber suara dan menghentikan tawa setannya itu.

"WHAT THE HELL MATT? LO KENAPA?" Mello memasang evil face kepada Matt.

"Heh! Lo itu yang kenapa? Kenapa lo ketawa kek gitu? Nyadar woii! Sekarang jam berapa? Jam 10 tau! Dan yang paling parah..Ketawa lo itu bikin GUE KALAH MAEN SOLITAIRE GARA-GARA GAK BISA KONSEN TAU!!!" serang Matt kepada Mello yang tak kalah nyereminnya.

"Hahahaa. Ya maap boss. Nyante aja kali, lagian lo katanya hacker sejati. Maen solitaire aja kalah. Apa kata dunia? Hahahahaha.." jawab Mello nyantai kepada Matt.

"E..ELO KENAPA SIH MELL? LO GILA YAK?" kata Matt yang udah nggak sabar ngelihat Mello bersikap kayak gitu.

"Mel…Mel..AMEL? Sial lo Matt! Gak bisa ngelihat orang seneng aja lo!" jawab Mello sewot.

L yang sedari tadi sweat drops kemudian angkat bicara untuk melerai mereka.

"Hei..kalian ini kayak anak kecil aja! Memangnya kau ini kenapa Mello?" kata L kemudian.

"Hehe. Maap L-sama. Tadi saya nemuin 5 Golden Ticket looh..dari Willy Wonka pula." Jawab Mello dengan santainya sambil nunjukin tiket emasnya itu.

"Waahh…5? Kau beruntung sekali Mello.." ujar L santai. Padahal dalam hatinya, ia ngiri sekali dengan tiket itu.

"Wew..itu yang ada di film itu kan? Emang itu beneran ada? Kok bisa sih?" sahut Matt tak percaya akan kemenangan sahabatnya itu.

"Mello gitu loh. Hahahahahaha.." ujar Mello dengan bangganya.

"Emhh…ada apa sih ribut-ribut begini?" tiba-tiba sesosok anak kecil berambut putih muncul dengan piyama kegedeannya sambil membawa teddy bear.

"Ini loh Near! Si Mello abis ketiban duren..!"

"Eeeehhh? Ketiban Duren? Benjol dong. Hahahahahaaha.." tawa anak kecil yang bernama Near itu ketika mengetahui apa yang terjadi.

"Bukan itu dodong! Maksudnya, gue dapet 5 GOLDEN TICKET WILLY WONKA YANG DISEBAR DI SELURUH DUNIA ITU LOOOHH…!!! Kyahahahahaha!" ujar Mello masih dengan semangat pahlawan 45 itu.

L dan Matt sweatdrops melihat tingkah Mello.

"Eeeeeehh? Kok BISAAAAA???" Near tak percaya dengan kata-kata Mello.

"Yee..gak percaya. Nih,," kata Mello sambil menyodorkan kelima tiket emasnya itu kepada Near.

"Uwaaaahh! Kereeennn!" Near hanya bisa bilang begitu.

"Ahahhahaha. Mihael Keehl gitu loh. Khuhuhuhuhu" narsis Mello.

"Er..terus Mell, mau lo apain tuh tiket? Lo dapet lima kan? Lo mau ke pabrik yang super gede itu sendirian doang?" cerocos Matt.

"Eh? Iya juga yah?" ujar Mello sambil garuk-garuk kepala. Baru nyadar dia rupanya. "Hm..kalian mau ngikut gue kesana?" tawar Mello santai kepada ketiga orang yang ada disana.

"MAU BANGEEETTTTT!!!!!" kata tiga orang itu bersamaan.

Mello cengo. Namun kemudian sadar. "Ya udah! Kalo gitu kita ke pabrik Wonka bareng-bareng. Eh, tapi kan tiketnya sisa satu? Gimana?"

"Eeh..? Sepertinya aku tahu sisa tiket itu untuk siapa." Ujar L kemudian.

"Siapa L-sama?" tanya Matt heran.

"Pasti Light nii-san." Tebak Near.

"Uwaah..kau semakin pintar Near. Bagaimana boleh Mello?" jawab L semangat.

"Er..iya deh. Terserah aja, lagian kan masih sisa satu. Mubazir kalo dibuang.." ujar Mello pasrah.

"Hehe. Thanks Mello.." jawab L.

"No problem L-sama. Oh ya, ntar siapa yang hubungi Light ngasih tau kabar ini?"

"Biar gue aja deh.." ujar Near.

"Apa gak sebaiknya L-sama ajah?" kata Matt

"Iya..biar aku saja yang menghubungi Light-kun" sahut L.

"Oh..terserah deh kalo gitu." Kata Near.

Lalu, L segera mengambil handphonenya dengan style-nya itu. Memencet-mencet tombol yang ada, dan mencari nama Light-kun, lalu menekan tombol 'diall'.

"Moshi-moshi Light-kun. Ah..kau bisa pergi bersama kami? Ah ya..lusa. Ke Willy Wonka. Oke..setuju."

Lalu L segera mengakhiri teleponnya ketika sudah setuju dengan Light.

"Oke..Light bisa." Ujar L kepada calon penerusnya itu.

"Yaiiiy,,Hahahaha. Wonka's Chocolate Factory..Wait for me. I'm comiiiiinngg…!!" ujar Mello menggila. Near, Matt dan L hanya bisa mengelus dada melihat tingkah Mello seperti itu.

***

"Semuanya sudah siap?" tanya L kepada Mello, Matt dan Near ketika akan berangkat menuju pabrik Wonka yang ada di London.

"Yap! Kami sudah siap L-sama!" jawab ketiga pemuda itu bersamaan.

"Bagus! Kalau begitu, ayo kita berangkat. Oh ya, sebelumnya kita harus menjemput Light-kun terlebih dahulu.." kata L.

"Iya L-sama!" jawab Mello bersemangat.

Lalu, mereka berempat segera masuk ke limousine mewah. Dan segera berangkat ke tempat tujuan. Sebelumnya, mereka menjemput Light terlebih dahulu. Setelah itu, mereka pergi ke bandara untuk pergi ke London. Dan melanjutkan perjalanan via udara. Sampai di bandara London, lalu segera meneruskan perjalanan ke Pabrik Willy Wonka.

***

Limousin mewah berhenti di depan sebuah pabrik coklat yang besar sekali. Lalu, turun lima pemuda tampan dari Limousinn tersebut. Mereka segera berjalan menuju pintu gerbang pabrik tersebut yang masih tertutup.

"Eh? Kok masih tutup sih?" ujar Near.

"Iyaaa…! Gue udah ngaak sabaar! Woii Wonka! Buka euy! Bukaaa!!!" kata Mello dramatis.

"Hm..tunggulah sebentar Mello,," ujar Light.

"Uuuh…"

"Hm..kok disini sepi ya? Bukannya di film aslinya itu, rame banget yah pas para pemenang mau masuk ke pabrik ini?" ujar L.

"Hn..ini kan cuman diketahui para pemenang L. Jadi tak ada yang tahu selain kita berlima, dan Willy Wonka tentunya. Hoohohoho.." kata Light.

"Oh..begitu.." jawab L datar.

Lalu tiba-tiba. ..

"Mohon perhatian, 10 detik lagi, pintu gerbang akan dibuka dan para pemenang dipersilahkan masuk.." terdengar suara dari speaker yang ada di gerbang tersebut. Kemudian, terlihat penghitung waktu mundur muncul di gerbang tersebut.

10..

9..

8..

7..

6..

5..

4..

3..

2..

1..

0..

-1..

-2..

"Woiiii! Katanya sepuluh detiikk???" teriak Mello. Tiba-tiba…

Jegreeekkkk…

Dan pintu gerbang pabrik besar itu pun terbuka…

"Waaaw…" Light, Near, Matt dan Mello hanya bisa mengagumi kemegahan pabrik coklat itu. Sementara L,,,biasa aja tuh. Dia kan udah sering melihat pemandangan yang mewah-mewah.

"SELAMAT DATANG KE PABRIK WONKA" tiba-tiba, seorang dengan rambut bob keluar dengan gaya anehnya itu. Menyambut lima pemuda itu…

*** to be continue***

Hana: "Aw..Aw…aww….ahahahahahahahh~~~"

Matt: "Eh? Author kenapa tuh?"

Mello: "Gak tau ah..Author saiko kayak gitu gak usah diurusin dah mending.."

Hana: "Ehhh? Sapa bilang gue saiko? He? *death glare ke Mello* hahahaha. Gue ini cuman gak nyangka bisa bikin fanfic Det Not.!!

L: "Oh,,gitu doang aja bangga. Liat tuh author lain yang jago-jago *nunjuk ke author lain yang lagi melambaikan tangan sambil ngebales lambaian tangan author-author lainnya*

Hana: "Yah..maklum sih, gue kan author baru…Jadi yah, gue belebay gitu abis nyelesaiin ni fanfic. Abis biasanya gue kan gak pernah ada ide buat fanfic DN. Hehehehe"

Light: "Baka…"

Hana: "Apa kata lo?" *masang tampang mau gigit* "Mau gue gigit lo Light?"

Matt: "Kok gigit?"

Hana: "Yah..gue kan pureblood vampire. Ahahaahaha. Macem-macem ama gue. Gue gigit tau rasa lo!!"

Mello: "Kok gue bisa main di fanfic author sarap kayak gini sih?"

Hana: "Masih brani lo ama gue Mell? Gak puas gue kasih 5 golden tiket ke lo, he?"

Mello: "Eh,,iya yah. Makasih buangeettt author Hanaa~~"

Hana: *blush* "Ah..buat Mello apa sih yang nggak. Hihihhii"

Light, L, Near, Matt sweat drops.

Near: "Ya sudahlah, biarkan author baka ini bermesraan bersama Mello…"

Matt: "Iya deh, walaupun gue gak rela. Tapi yah…"

L: "Udah..udah..Matt. Oh ya, bagi readers yang berkenan. Silahkan Review cerita ini."

Light: "Iyap! Yang review ntar dikasih cheatnya solitaire ama Matt loh~~"

Matt: "Weitz..lo pikir gue author mainnya solitaire?"

Light: "Ya itu tadi buktinya?"

Hana: *nyadar* "Woii Matt! Buka aib aje lu!!"

Near: "Woi..udah ah,,diem.,,,dieeemm!!! Para readers, review aja yah. Jangan pikirin mereka. Mereka udah pada gak normal tuh. Ketularan author"

L: Betul!!!

Hana: "We..maksud lo apa Near? Halah..sudahlah. Okay lovely readers. Mind to review?"

*click green link below*