Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Warning : Kegajean tingkat tinggi, kalimat lebay bermakna ganda, drabble pendek yang abal. Don't like, don't read. I've warned you.

Enjoy! xD


Kau, dirimu, aku.

Selalu berhubungan dalam waktu.

Bagai ikatan tersimpul mati dalam terbatasnya ruang gerak kaku.

.

Kau, dirimu, aku.

Hubungan kita tetap beku; kelu.

Meski masa senantiasa bergulir, akan tetap selalu begitu.

.

Kau, dirimu, aku.

Tetap bersaudara—walau tentangan keras bergaung di telingaku.

.

.


Kau, Dirimu, Aku

© dilia shiraishi

a Naruto drabble fic

with Uchiha Sasuke as main chara

tribute to Uchiha Itachi

tanjoubi omedettou.


Kupikir di dunia ini aku adalah orang paling menderita sedunia. Hidup dengan kenyataan bahwa keluarga sudah tiada. Terbantai di depan mata. Kronologis yang terekam dalam setiap jengkal ingatan selama aku masih membencinya.

Membencimu, maksudku.

Ya, aku benci dirimu. Yang dengan egois menghabisi seluruh orang yang kusayangi, dan bahkan klanku. Yang dengan sombong berkata bahwa aku tak akan pernah bisa melawanmu. Yang mengucap yakin kalau kebencian masih belum tertanam kuat dalam hatiku. Yang ironisnya selalu aku rindukan dalam mimpiku.

Aku tak pernah mengerti bagaimana bisa aku merindukanmu. Merindukan orang yang sudah membuat hidupku tak ada artinya—bagai nada tanpa lagu. Yang sudah merenggut segala kebahagiaan yang sempat terpeta jelas dalam imajinasi kecilku. Aku benci diriku. Aku benci diriku yang tak dapat membantah kalau aku kehilanganmu.

Sangat.

Aku rindu dirimu yang dulu selalu tersenyum. Yang selalu menyayangiku dengan kesungguhan hatimu. Yang selalu bersedia menggendongku jika kaki ini sudah tak kuat untuk menopang tegaknya tubuhku. Yang selalu memaklumi sikap kekanak-kanakkanku. Yang selalu mengerti betapa irinya aku padamu.

Aku iri. Jelas sekali.

Karena sampai saat kaumati pun, kau dalam keadaan suci. Bukan dalam artian harafiah—kupikir kautahu maksudku dengan pasti. Karena sampai akhir pun kau masih menganggapku seperti dulu, tanpa memikirkan batas diri. Karena sampai saat terakhir pun seluruh hatiku mengakui kalau kau adalah yang terjahati. Yang sebenarnya tak ada maksud menyakiti, namun takdir memaksa hati.

Sungguh aku iri padamu. Walau semua orang di luar sana menghujatmu, kau tetap hidup meski kebencian pada diri sudah membelenggu.

Tapi kau tak pernah jahat, Itachi….

Aku, aku yang jahat.

Aku, aku yang egois.

Aku, aku yang selalu menyalahkan.

Aku, aku yang tak pernah mau membuka mata untuk melihat dunia. Melihat bahwa aku adalah sosok penjahat dan kau adalah pembela kebenaran seperti dalam kartun masa kecil yang sering kita tonton dahulu kala.

Dan sekarang aku baru mengerti.

Sangat sangat mengerti. Mengerti bahwa tidak hanya aku yang menderita di dunia—tapi kau juga begini. Menghadapi siksaan batin lebih berat daripada yang aku alami. Aku mengerti. Sangat sangat sangat mengerti. Dan kautahu itu, Itachi….

Sayang ketika aku mengerti, semua itu berakhir. Kau mengakhiri hidupmu di tanganku. Membuat kesan jahat makin tertanam kuat dalam diriku. Menyebabkan seluruh sudut mataku penuh air—ketika mengetahui aku sudah terlambat menyadari apa yang ingin kau mengerti untukku.

Maka, dengan teriakan sunyi dalam sudut hati, aku berdiri. Terhipnotis suara serak yang mencoba memanggil kewarasan diri. Tapi tampaknya hatiku sudah telanjur mati. Kau yang membuatnya begitu, Itachi. Tentu kautahu semua ini.

Karena kau yang memplotnya, menciptakannya, menjalankannya, menanggungnya, dan merasakan penderitaannya.

Tanpa mau berbagi apa yang kaurasakan padaku, bahkan untuk sekejap mata.

Aku sadar aku sudah mulai gila bicara begini, tapi satu yang sekarang kutahu. Aku memang membutuhkanmu. Aku memang rindu padamu. Aku memang masih ingin menjadi adikmu.

Sampai kapan pun, Itachi….

Kautahu itu. Betul-betul tahu.

Dan satu kata terakhirku dalam hari—karena setelah ini aku janji tak akan bicara apa-apa lagi.

.

.

.

Selamat ulang tahun, Itachi….

.


OWARI.

Jadi… pada ngerti nggak? O.o Soalnya saya sendiri juga hampir-hampir nggak ngerti kalo aja bukan saya yang bikin. (halah)

Entah ada bencana apa sampe saya kepikiran bikin drabble aneh kayak begini… tapi yang jelas saya pengen banget bisa ngasih sesuatu buat Itachi, seorang kakak yang baiiiiiik dan sayang sekali pada adiknya. :)

Saya udah berjuang sampe tetes darah penghabisan biar setiap kalimat fic ini punya rima sama. Tapi toh akhirnya banyak yang nggak bisa disamain karena penguasaan kosakata saya masih sedikit… Dx

Huuh, berminatkah Anda semua untuk meripyu fic ini? (puppy eyes)

Arigatou for reading, minna-san…

.

Jakarta, 28th March 2009

dilia shiraishi