warning: AU, OOC parah
disclaimer:
Masashi Kishimoto


CHAPTER ONE
Lovely Collection

"Hei, Naruto! Pulang sekolah kita main, yuk!" ajak Kiba.

"Main ke game center? Aku udah bosen main di game center!" tolak Shikamaru.

"Kalo gitu, kita karaoke aja." usul Chouji.

"Ah! Nggak, nggak! Berasa mati aku dengerin suara kalian." tolak Kiba.

"Hei, Naruto. Kasih usul dong. Diem aja nih dari tadi." kata Shikamaru.

"Tsk, tsk, tsk." kata Naruto sambil menggoyang-goyang dangdutkan jari telunjuknya. "Aku ada ide bagus nih. Mendingan kita nongkrong aja di mal sambil ngegodain cewek-cewek cantik." kata Naruto.

Kiba, Chouji dan Shikamaru saling berpandangan, "Setuju!!! Wuahahaha!" kata mereka kompak. Mereka tampak sangat senang sehingga tidak menyadari keberadaan seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka.

"Kyaaa! Naruto ganteng banget!" kata anak itu, "Kamera, kamera. Harus kupotret dengan segera!" anak itu segera mengambil handphonenya dan memotret Naruto yang sedang tertawa lebar. "Hihi. Koleksiku bertambah lagi. Naruto..." anak itu berbicara pada foto Naruto di handphonenya, "Mmmmuuach." dia lalu mencium layar handphonenya sambil terkikik-kikik.

"Hei, Hinata! Sedang apa kau?" kata seorang anak perempuan sambil menepuk pundak Hinata. Hinata terkejut.

"Ng... ng... Aku sedang mengamati semut, Temari." kata Hinata sambil memasukkan handphonenya ke dalam sakunya.

"He?" tanya Temari tidak percaya, "Ayo masuk kelas. Sudah bel, tuh."

"I... iya." kata Hinata. 'Ah, Temari mengganggu kesenanganku saja.' keluh Hinata dalam hati.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

"Cih! Nilai apaan nih! Jelek!" hina Naruto pada nilai ulangannya sendiri.

"Haha! Nggak apa-apa, Naruto. Sekali-kali dapet nilai jelek kan nggak masalah." hibur Kiba.

"Huh! Merusak citraku saja!" Naruto pun menggumpal-gumpalkan kertas ulangannya sampai menjadi bulat, lalu dia melemparkannya ke kotak sampah. Belum puas, dia mendatangi kotak sampah tersebut dan menginjak-injak isinya sehingga kertas ulangannya tadi menjadi tidak berbentuk lagi.

"Wew, Naruto. Segitunya amat." kata Shikamaru.

"Bodo amat! Huh!" balas Naruto sambil melipat tangannya di dadanya dan memalingkan wajahnya, serta memonyongkan bibirnya. "Ayo, kita pulang!" kata Naruto lagi. Teman-temannya hanya tertawa melihat kelakuan Naruto, kecuali satu orang.

"Hinata, ayo kita pulang." ajak Temari.

"Ng... Duluan saja, Temari. Aku harus piket dulu." kata Hinata.

"Oke, deh! Dadah, Hinata." kata Temari. Hinata hanya melambaikan tangannya.

Setelah kelas kosong, Hinata pun segera menuju ke kotak sampah di kelasnya. Dia mengeluarkan isinya ke lantai dan memilah-milahnya.

"Aaah! Ini dia kertas ulangannya Naruto. Akhirnya aku memiliki tulisan tangan Naruto." kata Hinata bahagia. Setelah mendapatkan kertas ulangan Naruto tersebut, Hinata pun pulang ke rumahnya tanpa melaksanakan tugas piket kelasnya.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

"Anak-anak! Besok jangan ada yang telat, ya! Kalau ada yang telat lebih dari sepuluh menit, ditinggal!" kata Iruka. Besok, SMA Konoha akan berwisata ke luar kota.

"Iyaaaaaa, Senseeei!" jawab anak-anak sekelas.

"Nah, sekarang kalian boleh pulang untuk persiapan berwisata besok." kata Iruka, "Ingat! Jangan ada yang terlambat!"

"Hei, Naruto! Besok kira-kira bawa apa aja, ya?" tanya Kiba.

"Ya... Bawa baju aja." kata Naruto sambil melirik ke Chouji.

"Enak aja! Aku nggak bakalan ngasih makananku ke kalian." kata Chouji sambil mengeluarkan lidahnya.

"Pelit, pelit." kata Shikamaru.

"Biarin!" balas Chouji.

-

"Hei, Hinata!" panggil Temari, "Bengong mulu. Kenapa sih?"

"Uhm... Nggak apa-apa kok, Temari. Yuk pulang." kata Hinata sambil menarik tangan Temari. Sepertinya Hinata ingin cepat-cepat pulang agar dapat melaksanakan sesuatu di rumahnya.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

"Hua! Sensei! Berhentiin bisnya, Sensei!" pekik Naruto dari kejauhan.

Bis pun berhenti dan Naruto masuk ke dalam bis.

"Na-ru-to! Kan sudah Sensei bilang, jangan terlambat atau kau kutinggal!" bentak Iruka ke Naruto.

"Hua! Maaf, Sensei! Tadi jalan macet, ada rombongan semut lewat.

"Deg!" jantung Hinata yang dari tadi menguping pembicaraan Iruka dan Naruto pun berdetak kencang. Sepertinya dia merasa senang karena Naruto juga memakai semut sebagai alasan, sama seperti Hinata yang memakai semut untuk dijadikan alasan untuk berkilah dari Temari.

"Ah! Berbohong saja bisanya kau, Naruto." kata Iruka, "Sana cepat cari tempat duduk." Naruto pun segera mencari bangku yang kosong.

"Naruto! Sini!" panggil Kiba, "Aku sudah cup-in tempat duduk buat kamu."

"Wah, Kiba! Kau memang teman yang baik." senyum Naruto.

"Deg, deg, deg..." debar jantung Hinata semakin keras. Dia bahkan tak bisa duduk bersandar di kursinya. Kenapa? Karena Naruto duduk persis di belakang kursinya Hinata. 'Aduh. Bagaimana ini... Naruto ada di belakangku. Oh, Tuhan. Aku tak sanggup menahan perasaanku ini.' ucap Hinata dalam hati.

"Hinata? Kenapa? Wajahmu kok memerah? Dudukmu kaku sekali." tanya Temari yang duduk bersamanya.

"Ng... nggak apa-apa, Temari. Punggungku gatal. Nggak enak kalau sandaran." kilah Hinata.

"Oh." kata Temari. Lalu dia meneruskan membaca novelnya.

Sepanjang perjalanan, Hinata sama sekali tak bersandar di kursinya, dia juga tak memakan snacknya. Yang dia lakukan hanya duduk kaku sampai pinggangnya terasa pegal dan punggungnya terasa dingin.

-

"Aduh! Naruto dan teman-temannya ini! Sehabis makan, bungkusnya malah dibiarkan di bis, mengotori saja." keluh Iruka sambil memunguti sampah yang berserakan setelah semua anak keluar dari bis karena mereka sudah sampai di tempat tujuan.

"Se... sensei. Saya saja yang membereskannya." pinta Hinata.

"Oh! Terima kasih ya, Hinata. Kamu memang anak yang rajin." puji Iruka. Lalu dia keluar dari bis juga.

"Ooh... Bungkus makanannya Naruto. Akhirnya koleksiku bisa bertambah lagi." kata Hinata sambil memeluk bungkus makanannya Naruto. Hinata lalu memasukkan semua bungkus makanan bekas Naruto ke dalam tasnya dan membiarkan sampah-sampah lainnya berserakan dalam bis.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

"Temari! Kita foto bareng, yuk!" ajak Hinata.

"Ayo!" kata Temari sambil menghampiri Hinata, "Wah, Hinata! Kameranya bagus sekali."

"Hehe. Sengaja kupinjam dari ayah untuk wisata kali ini." kata Hinata. Padahal tujuan utamanya membawa kamera adalah untuk mengabadikan gambar-gambar Naruto.

"Nah, sebaiknya kita minta seseorang untuk memotret kita." kata Temari, "Hei, Naruto!"

"Ada apa, Temari?" tanya Naruto sambil menghampiri Temari. Jantung Hinata lalu deg-deg-serr lagi.

"Tolong fotoin aku sama Hinata ya, Naruto." pinta Temari.

"Oke!" Naruto pun bersiap memotret Temari dan Hinata. Tiba-tiba, angin berhembus dengan kencang, membuat semua orang kewalahan. Kertas-kertas pun berterbangan di angkasa.

"Hei! Apaan nih?" kata Kiba sambil menyingkirkan selembar kertas dari wajahnya.

"He?! Foto Naruto?" kata Shikamaru.

"Waa!!! Yang ini foto Naruto sedang bertelanjang dada!" pekik Chouji.

"Wuah! Ada sampah makanan juga." kata Temari sambil menyingkirkan sampah bungkus makanan dari pandangannya.

Mereka pun mencari sumber kertas-kertas itu dan melihat tas seorang anak yang terjatuh.

"Maksudmu apa sih, Hinata?" tanya Naruto sambil menunjukkan kertas ulangannya yang sudah dibuangnya dulu ke wajah Hinata.

"Ng... ng..." wajah Hinata pun memerah dan dia berlari dengan kecepatan cahaya untuk menjauh dari tempat itu.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

"Hei, Hinata. Kamu suka sama Naruto, ya?" tanya Temari saat mereka berada di kamar penginapan.

"Hu uh." angguk Hinata. Sekarang dia sedang menyendiri di pojokan kamarnya.

"Aku nggak nyangka kamu bisa suka sama monyet itu." desah Temari. Hinata terdiam sebentar.

"Temari! Bagaimana ini?! Aku malu sekali! Aku mau pulang saja!" tangis Hinata sambil memeluk Temari.

"Cup cup." kata Temari sambil mengelus-elus kepala Hinata, "Sebaiknya sekarang kau minta maaf pada Naruto."

"Tapi... Aku malu, Temari." kata Hinata.

"Hinata, lebih cepat lebih baik. Kau nggak mau kan kalau nanti Naruto membencimu karena kau mengambil fotonya diam-diam." bujuk Temari.

"Baiklah! Aku akan mengerahkan keberanianku. Doakan aku ya, Temari." kata Hinata sambil meninggalkan kamar mereka untuk pergi menemui Naruto.

Hinata sekarang berada di depan pintu kamar Naruto. Dia masih ragu untuk bertemu Naruto.

'Aduh, bagaimana ini... Aku takut sekali kalau nanti Naruto membenciku.' kata Hinata dalam hati.

'Kuatkan hatimu, Hinata.' Hinata bicara dengan dirinya sendiri.

'Baiklah! Aku akan berjuang!' dukung Hinata pada dirinya sendiri.

"Permisiiiiii!!!" kata Hinata sambil mendorong pintu kamar Naruto, bermaksud mengetuk, tapi...

"Wuaaaa!!!" pekik Naruto sambil menutupi tubuhnya dengan handuk.

"Gyaaa!!! Pengintip!" jerit Kiba.

"Ada apa?!" Shikamaru terbangun dari tidurnya.

"Whua! Ghinhatha mengghinthip!" jerit Chouji sambil makan.

"Kyaaaaa!" Hinata pun pingsan.

-To be Continued-



Hore! NaruHina! Hore berhasil buat NaruHina! Ei-chan, ini NaruHina! *stres*
Hmm... Ada yang menyadari fict ini mirip sama cerita apa? Ya, betul! Sesuai judulnya, fict ini mirip sama Lovely Collection karangan Kitamura Aki ditambah dengan Let Me Love You karangan Taeko Harada ditambah pengalaman nyata saya dan teman-teman, juga ditambah i-ma-ji-na-si. He-he-he *ketawa gaje*
Sebagai manusia yang penuh kesalahan, saya minta maaf jika anda menemukan kesalahan pada pengetikan, kesalahan pada EYD dan merasa tidak nyambung dengan cerita yang saya buat dikarenakan struktur kalimat yang jelek.

Review?