Ringkasan: Sang Kelelawar adalah makhluk paling setia. Hidupnya dihabiskan untuk mengabdi dan mencari arti. Ketika tiba-tiba saja muncul oranye, tanpa disadari sama sekali, warna itu telah perlahan-lahan meluruhkan pekat hitam hati Sang Kelelawar. # A Fict for 50 Sentences Challenge. UlquiorraXOrihime.

Sebuah jawaban atas Infantrum 50 Sentences Challenge dari Farfalla. Mengambil sepuluh tema terakhir dari set satu untuk chapter ketiga.

Peringatan: Modified canonalmost missing scenefrom Hueco Mundo arc, soft UlquiorraXOrihime, Ulquiorra's POV, setting and dialogues taken from Bleach manga chapter: 346 (The Wrath), 347 (The Lust), 353 (The Ash) dan 354 (Heart).

.

Bleach©Tite Kubo

.

"I get it now.

So this is…

What her out-stretched hand embodies is...

Heart?"

(Ulquiorra Schiffer—Bleach chapter 354: Heart)

.

#

.

SANG KELELAWAR

~Sayap Terakhir~

oleh: fariacchi

.

#

.

~ HITAM ~

Shinigami bertopeng hollow itu sedang mati-matian menangkis seranganku dengan pedang hitamnya.

Pekerjaan sia-sia. Manusia adalah makhluk lemah yang sungguh tak mengerti apa arti sebuah perbedaan.

"Kurosaki Ichigo… tunjukan getsuga-mu," ujarku tanpa basa-basi. Shinigami itu memandang terkejut.

Benar, tunjukkan padaku dan aku akan menunjukkan arti perbedaan kepada manusia rendah sepertinya. Manusia rendah yang hampir merusak semua kesempurnaan rencanaku.

Mematuhi perintahku, aura hitam pekat yang luas menyelimuti pemuda berambut oranye itu. Ia mengangkat tinggi-tinggi pedangnya, lalu meneriakkan nama serangan terkuatnya sambil mengarahkan semua aura hitamnya kepadaku.

Dengan mudah aku menghentikan serangan itu. Tentu saja, hanya seginilah batas kemampuan seorang manusia. Manusia tidak akan pernah mampu menyaingi espada.

Memang benar, serangan terkuat itu sangat mirip dengan cero kami, para espada. Tapi biar kutunjukkan pada pemuda sombong itu, sesuatu yang hanya bisa dilakukan espada yang telah melepaskan segelnya.

Akan kuhadiahkan untuknya sebuah cero hitam.

Menjentikkan kuku hitamku tepat di depan dada, aku bergumam datar, "Cero Oscuro*."

.

#

.

~ LELAH ~

Kurosaki Ichigo terbanting remuk tak berdaya dari serangan ringanku. Tubuhnya penuh darah dan luka, pakiannya robek dan rusak, aku berasumsi ia tak akan mampu berdiri lagi.

Kurasa ia akan mengerti sekarang. Bagaimanapun miripnya ia dengan hollow, manusia tetaplah manusia: makhluk lemah yang tak akan pernah bisa berdiri sejajar dengan para hollow.

Beberapa detik kemudian shinigami berambut oranye itu berdiri—atau berusaha untuk melakukannya. Topeng hollow-nya telah hancur tak bersisa, menampakkan wajah penuh peluh yang masih menyeringai.

Aku menatapnya heran. Sosok itu terus memandangiku dengan seringai seolah ia yang sedang berada di atas angin dalam pertarungan ini.

Aku tak mengerti mengapa ia masih sanggup berdiri. Tidakkah seharusnya manusia merasa lelah setelah pertarungan dalam waktu selama ini?

.

#

.

~ HAMPA ~

Aku mencengkram leher shinigami tak berdaya di tanganku. Kuangkat tubuhnya tinggi-tinggi, hingga tampak menyentuh bulan bila dilihat dari bawah pilar.

Mengapa manusia ini masih juga tak menjatuhkan pedangnya? Mengapa ia masih berpikir bahwa ia mampu mengalahkanku? Bahkan ketika aku telah menunjukkan segala perbedaan kekuatan ini.

Akan mengalahkanku, katanya?

Menyedihkan.

Aku membanting tubuhnya, sehingga ia berlutut tepat di hadapanku.

Menyedihkan. Sungguh kata-kata itulah yang tepat untuk makhluk yang tidak memahami sebuah keputusasaan.

Emosi sungguh menguasai seluruh kesadaranku. Sejujurnya aku tak mengerti mengapa aku merasa begitu marah dan ingin menghabisi shinigami lemah dihadapanku dengan segala yang kupunya. Suatu perasaan asing menyeruak di dalam tubuhku. Aku tak mengerti.

Satu yang kumengerti hanyalah, aku akan menunjukkan padanya. Seperti apa wujud asli dari keputusasaan.

Keputusasaan adalah metamorfosa dari kehampaan. Hampa. Kekosongan jiwa. Kekosongan hati.

Bukankah manusia selalu bicara mengenai hati dan jiwa dengan ringan tanpa beban? Biar kutunjukan apa yang terjadi jika kehampaan adalah hati.

Bergembiralah, karena bahkan Aizen Sama pun belum pernah melihatnya.

"Resurreccion, Segundo Estapa*," bisikku.

.

#

.

~ KAKU ~

Aku memandang penuh emosi. Mungkin tak terlihat dari luar, karena ekspresiku memang selalu seperti itu. Tapi aku sungguh merasakan kekesalan yang luar biasa kepada sosok shinigami terluka parah di hadapanku.

Apa katanya barusan?

Ia tidak bertarung karena berpikir ia akan menang. Tapi ia bertarung karena ia harus menang?

Tidak masuk akal.

Manusia sungguh makhluk tidak berakal. Menganggap semuanya semudah terucap dari bibir. Akan kutunjukkan.

Aku merasakan aura Inoue Orihime mendekat. Akhirnya gadis itu datang. Aku tahu dia akan segera datang saat merasakan reiatsu berbeda berkat lepasnya segel tingkat kedua dari kekuatanku. Tepat sekali.

Ya, biar kutunjukkan pada kalian semua para manusia. Apa yang disebut dengan pertarungan.

"Akhirnya kau datang juga, onna?" sahutku ketika menemukan gadis berambut oranye itu sedang menatap dari kaki pilar.

Aku mengikat tubuh kaku di hadapanku dengan ekor hitam panjang. Mengangkat tubuh tak bergerak itu hingga terlihat jelas oleh Inoue Orihime.

"Kuro… saki… kun…?" Kudengar gadis itu bergumam tanpa sadar.

Ia datang sungguh pada saat yang tepat. Tepat untuk menjadi saksi kematian dari laki-laki tempat ia menggantungkan seluruh harapannya. Dengan ini, gadis itu tidak akan mengharapkan kebebasan lagi. Gadis itu tidak bisa kemana-mana, ia akan di sini selamanya. Sampai Aizen Sama menentukan nasibnya.

Entah mengapa, saat itu aku merasa begitu… senang. Tak terhitung jumlah makhluk yang kulenyapkan dengan tanganku dan aku tak pernah sekalipun merasakan emosi. Lalu kenapa aku begitu gembira sekarang?

Tak ingin memanjangkan pikiranku, aku segera mengeluarkan Cero Oscuro tepat di antara ujung kuku ibu jari dan jari telunjukku. Sinar hitam berpendar, kuarahkan ke tengah dada pemuda yang sejak tadi terbujur kaku bergantung pada ekorku.

"JANGAN!" terdengar jeritan dari bawah.

Jujur saja, jika aku mampu tertawa, aku pasti sudah melakukannya sejak gadis itu datang dan menjerit melihat pemuda lemah ini tergantung tak berdaya. Semuanya begitu menyenangkan… entahlah.

"HENTIKAAAAN!" jeritan itu lebih keras lagi terdengar.

Terlambat. Lagipula, laki-laki ini sudah kaku tak bernyawa bahkan sebelum aku menghancurkannya.

Kemudian sinar hitam melebar, menyisakan lubang besar di dada shinigami berambut oranye itu.

Selamat tinggal, Kurosaki Ichigo.

.

#

.

~ MATAHARI ~

Sosok berambut oranye itu berkali-kali membuatku terpana tak percaya. Mustahil. Mustahil. Ini bukanlah kekuatan manusia, shinigami, maupun hollow. Kekuatan ini bahkan lebih kuat daripada sosok espada-ku yang telah melepaskan segel kekuatan tingkat kedua.

Topeng iblis bertanduk itu lalu mengayunkan pedang hitamnya. Tidak mampu bereaksi, tubuhku nyaris terbelah menjadi dua bagian.

Rasa ngilu, lalu darah menghentikan gerakanku. Aku terhempas tak berdaya ke tanah. Sosok berambut oranye panjang itu berdiri angkuh di atasku.

Sialan. Aku tidak percaya ini. Aku dikalahkan oleh seorang manusia yang berubah menjadi hollow?

Konyol.

Kemudian hantaman kaki menghujam kepalaku, menahanku agar tidak bisa bangkit untuk melakukan apapun.

Aku terkejut. Kulihat bulatan berpendar menyatu diantara tanduk Kurosaki Ichigo. Sinar oranye kekuningan. Cero.

Begitukah? Tidak ada ampun rupanya. Sungguh seperti hollow.

Aku tidak peduli lagi. Aku sudah tak punya alasan untuk hidup setelah ia mengalahkanku. Aizen Sama tidak memerlukan makhluk lemah untuk berdiri di sisinya.

Bulatan oranye itu membesar, tepat di depan mataku. Sinar terangnya memantul ke segala penjuru. Rasanya seperti melihat matahari bersinar di langit hitam Las Noches.

Tapi kali ini bukan ilusi Aizen Sama. Yang satu itu adalah matahari nyata, yang sinarnya akan mengakhiri hidupku untuk selamanya.

"Lakukan," gumamku.

Lalu sinar keemasan menutupi pandanganku.

.

#

.

~ SAKIT ~

Sosok hollow berambut oranye panjang oranye itu terjatuh di hadapanku. Sungguh pertarungan yang tak diduga, Entah bagaimana, aku berhasil selamat dari menajdi abu dalam sekejap. Lalu entah bagaimana, sosok itu bisa terjatuh dari seranganku, lalu kembali ke sosok manusia asli. Sosok yang kaku tak bernyawa.

Aku menatapnya. Kurasakan tangan dan kakiku yang terpotong mulai beregenerasi.

Tersenyum kecil di hati, aku mengutuk fakta. Tubuhku memang beregenerasi, namun organ dalam yang telah dihancurkan tidak akan bisa kembali. Dan kenyataan itu kini kurasakan sendiri melalui tubuhku. Rasa nyeri tak tertahankan yang membuatku nyaris ingin mengakhiri hidupku sendiri.

Kurosaki Ichigo… manusia itu mampu melukaiku sejauh ini.

Aku mengamati ketika Inoue Orihime mendekati pemuda itu dengan penuh rasa khawatir. Terlihat air mata menggenang di sudut matanya ketika ia menjerit keras, tak henti memanggil nama shinigami yang dadanya telah berlubang itu.

Seketika kurasakan rasa nyeri menghujam lagi di seluruh tubuhku.

Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasa nyeri yang aneh… berbeda dari biasanya.

Apakah ini rasanya sakit karena tidak lagi memiliki organ tubuh? Atau… rasa sakit yang lain?

.

#

.

~ ANGIN ~

Aku baru saja akan beranjak pergi ketika tiba-tiba merasakan reiatsu aneh di belakangku. Secepat kilat, aku menolehkan tubuh rusakku.

Gumpalan asap putih berputar di atas Kurosaki Ichigo yang terbaring tak sadarkan diri. Gumapalan itu seperti menari di udara, kemudian seketika bermetamorfosa menjadi replika angin puyuh yang bergerak spiral.

Beberapa detik berputar, hingga kemudian menyusut cepat. Menyusut, membuat ledakan yang mengguncang, dan menyisakan angin yang berhembus kencang tanpa ampun.

Angin berhenti dan mataku terbelalak.

Regenerasi… kecepatan tinggi?

Lalu Kurosaki Ichigo berdiri, dengan tegak dan sempurna, membawa selengkung senyum di wajah Inoue Orihime.

Angin berhembus pelan ketika seketika emosi menguasai diriku, menantang kembali manusia rendah itu untuk duel terakhir.

Sesungguhnya saat itu angin yang tidak wajar bertiup di sekitarku telah memberi tahu, bahwa tidak akan ada lagi pertarungan terakhir untukku. Sayangnya saat itu aku belum menyadarinya.

.

#

.

~ AKHIR ~

Aku menggumamkan kekecewaan saat kurasakan sayap kananku mulai luruh menjadi debu yang berterbangan, hilang dibawa angin yang berhembus perlahan di sekelilingku.

Aizen Sama… apakah ini adalah akhir kesetiaanku padamu?

Dua sosok oranye di hadapanku menatap penuh keterkejutan melihat keadaanku. Aku sudah tak berdaya. Pemuda shinigami itu menolak membunuhku. Sampai detik terakhir seperti ini pun ia masih tak melakukan apapun yang kuperintahkan.

Manusia… apakah sebenarnya mereka?

Inoue Orihime memandangku dengan pandangan sendu.

Pandangan itu menusuk, menghujam sampai ke tubuhku. Pandangan yang dilemparkan hanya kepadaku.

Penyesalan? Kasihan? Yang mana?

Aku bergumam pelan sambil menatap baik-baik wajah gadis oranye itu, "Pada akhirnya… aku rasa aku memiliki ketertarikan kepada kalian, manusia."

Ia masih memandangku tajam. Pandangan itu… apakah artinya?

Aku sungguh ingin mengetahuinya.

Pengakuan. Manusia adalah makhluk yang rumit. Suatu keberadaan yang tak bisa kumengerti bahkan hingga detik terakhir eksistensiku.

.

#

.

~ HANCUR ~

Perasaan ringan menyelimutiku, seiring dengan hancurnya bagian-bagian tubuhku. Sayap kelelawar yang hitam indah di punggungku kini luruh. Hancur, berterbangan menambah jumlah pasir dan debu Hueco Mundo yang tak terhitung jumlahnya. Mataku memandangi dua sosok rambut oranye di hadapanku.

Apakah itu hati?

Apakah aku akan menemukannya jika aku membuka paksa tengkorak kepala kalian? Akankah aku menemukannya jika aku merobek dada dan mengeluarkan jantung kalian?

Inoue Orihime. Pandanganku berhenti pada gadis itu.

Kalian manusia sungguh dengan ringannya mengucapkan kata itu. Seolah-olah…

Aku mengarahkan tanganku ke depan, ke arah gadis berambut oranye di hadapanku. Ia membulatkan matanya penuh keterkejutan.

"Apa kau takut padaku… onna?" sahutku pelan, kali ini jelas bukan berupa pernyataan.

Tidak lagi dengan kesadaran. Bibir dan tanganku bergerak dengan sendirinya tanpa membiarkan otakku menghentikan semua itu.

Perlu sedikit waktu sampai ia membuka mulut mungilnya untuk menjawab, "Aku tidak takut." Suaranya jernih dan bening—lagi-lagi menggetarkan sesuatu dalam diriku.

Kupandang baik-baik gadis itu. Berdiri tegak di atas kesungguhan dan kejujuran. Rambut oranye bergoyang lembut tertiup angin. Pandangan yang sama, pandangan yang tak kumengerti, menatapku sendu. Hitam melatari semua itu. Lihat, ternyata prediksiku yang satu itu sama sekali tak meleset. Betapa hitam adalah latar terindah untuk oranye.

Kali ini kurasakan tangan kiriku menyusul kedua sayapku, yang telah hancur tak bersisa beberapa detik yang lalu.

.

#

.

~ MIMPI ~

Kurasakan tubuhku semakin ringan, pandanganku semakin memudar. Sinar putih berpendar, membuat Hueco Mundo terlihat semakin terang di mataku.

Sebuah mimpi. Tak pernah ada sinar putih di dimensi kegelapan ini. Dimana kehampaan dan keputusasaan hanyalah dua hal yang berdiri sejajar dengan keabadian.

Aizen Sama… apakah eksistensinya hanya mimpi belaka bagiku? Sungguh aneh. Di detik terakhir hidupku, satu-satunya bayangan yang menikam otakku adalah… manusia.

Perlahan mataku menangkap gerakan lembut. Pelan, seperti gerak lambat. Tangan gadis berambut oranye di hadapanku menjangkau jauh ke depan. Seperti ingin meraih tanganku yang sejak tadi terulur.

Kurasakan sesuatu berdenyut di dalam tubuhku, merespon setiap inci gerakan gadis itu. Tatapannya… juga jangkauan tangannya.

Entah mengapa, seketika aku punya perasaan ingin menggenggamnya. Menggenggam tangan kecil itu.

Tangan itu terus menjangkau, berusaha meraih tanganku dalam genggaman kecilnya.

Tapi tak pernah sampai. Debu terlanjur menggantikan wujud fisikku.

Kuberikan pandangan terakhirku pada tangan putih yang terulur jauh mendekatiku. Sesuatu yang bahkan tak pernah datang sebagai mimpi, kini tegak di depan mataku.

Mataku bisa melihat segalanya. Apapun yang tak terlihat olehnya, adalah sesuatu yang tidak ada.

Aku mengerti sekarang.

Kemudian aku menutup kedua mataku, mungkin untuk selamanya. Membiarkan warna oranye yang terpantul disana terakhir kali menjadi mimpi abadi untukku.

Mimpi abadi yang tak lagi berwarna hitam seperti biasa.

Jadi ini…

Sesuatu yang tertangkap nyata di hadapan kelelawar ini, sebelum benar-benar menjadi serpihan. Mimpi yang terukir untuk pertama sekaligus terakhir kalinya.

Hitam… telah tergantikan oleh oranye.

Hati?

.

#

.

~ END of SANG KELELAWAR ~

.

Keterangan:

Cero Oscuro:Bahasa Spanyol untuk Dark Cero. Sebuah Cero hitam.

Resurreccion, Segundo Estapa: Bahasa Spanyol untuk Release, Second Stage. Merupakan bentuk kedua dari kekuatan asli arrancar. Mirip seperti bankai untuk pedang para shinigami. Ulquiorra adalah satu-satunya espada yang mampu melakukan hal ini.

.

Catatan Faria:

Akhirnya selesai! Senang sekali bisa menamatkan tepat waktu sesuai target! Ah, maaf kalau chapter terakhir ini rasanya kurang greget. Saya ingin tetap membuat semuanya sesuai—tetap modified canon. Maaf kalau agak mengecewakan, bagaimanapun sulit sekali mengepaskan 50 tema yang ditentukan dengan adegan asli pada manga sekaligus dengan personality Ulquiorra. Terima kasih banyak atas tanggapan yang postif ini.

Baiklah, akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada kalian yang telah membaca sampai baris ini. Kritik, saran dan apresiasi kalian adalah energi saya untuk terus berkarya. Terima kasih!

.

~ Kagehime-Faria – July 2009 ~