Just About You And Me

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Pairing : Neji X Sasuke

xoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxoxoxo

The best proof of love is trust

~Joyce Brothers~

oxoxoxo

E N J O Y

oxoxoxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxox

"Ou, temee!! Ohayou!!" seorang pemuda berambut pirang menyapa temannya penuh semangat.

Si pemuda berambut hitam langsung menoleh dan melotot pada si pirang, "kau ini—apa tidak bisa pelan sedikit, Naruto?!!"

Naruto nyengir tanpa dosa dan berjalan di sebelah si muka emo nan cool itu, "ne, Sasuke," dia mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, "nih—happy B'day ya!!" Naruto nyengir dan memberikan bungkusan berwarna biru gelap itu.

Sasuke sempat kaget juga, tidak menyangka akan dapat kado dari teman yang dia kenal sejak dulu itu.

"Kok bengong?!" Naruto melesakkan kado mungil itu ke tangan Sasuke, setelah itu kedua mata birunya menangkap wujud sobat karibnya, yang sebulan kemarin sudah naik jabatan menjadi kekasihnya, Gaara, senior mereka 1 tingkat. Pemuda pirang itu pun berlalu dengan semangat "aku duluan ya. temee?!" katanya sambil berlari kencang menuju ke arah pemuda yang tidak kalah emonya dari Sasuke itu.

Sasuke menghela nafas dan menyimpan kado itu di tas. Kaget juga dia, ini kali pertama dia mendapat kado selain dari keluarga dan juga –ehm- 'teman terdekat'nya.

"Ohayou."

Kali ini Sasuke menoleh sedikit lebih bersemangat saat suara yang dia hafal menyapa gendang telinganya. Di sebelahnya kini ada Hyuuga Neji, ketua klub karate yang dia ikuti dan… 'teman terdekat' Sasuke.

Pemuda tampan berambut coklat panjang itu tersenyum pada Sasuke, "otanjoubi omedetou," katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan kertas kecil pada Sasuke, "tapi—sepertinya aku keduluan Naruto, ya?!" Neji memandang si pirang yang kini tengah berbincang akrab dengan Gaara.

"Salah sendiri kau datang terlambat," kata Sasuke ketus meski sebenarnya dia girang setengah mati, "—boleh aku buka ini?"

"Jangan! Nanti saja," cegah Neji saat Sasuke hendak membuka ikatan tali pada bungkusan itu, "istirahat nanti, aku tunggu di tempat biasa. Saat itu—baru kau boleh membuka hadiah ini."

Sasuke memandang Neji heran, "kenapa harus nanti?"

"Tidak ada apa-apa, pokoknya nanti saja!" dia menepuk-nepuk pundak Sasuke, "baiklah—aku ke kelas duluan!" Neji pun meninggalkan Sasuke di halaman sekolah mereka.

Sedikit heran bercampur penasaran, Sasuke memasukkan kado dari Neji di tempat yang sama dimana dia menyimpan pemberian Naruto. Lalu dia pun berjalan menuju ke pintu utama sekolah, dan langsung ke lokernya untuk mengganti sepatu dengan uwabaki(1). Tapi sampai di lokernya, pemuda tampan itu langsung membatu melihat kalau laci lokernya sudah penuh dengan kado berwarna-warni dengan corak hati di sebagian besar kertas pembungkusnya.

"Sial!! Darimana sih mereka tahu hari ultahku?!"

Sasuke lupa kalau para gadis yang sedang jatuh cinta punya sejuta cara untuk mendapat informasi tentang pujaan hatinya.

Tidak menghiraukan kado-kado itu, Sasuke mengganti sepatunya dengan uwabaki dan langsung menuju ke kelasnya di 2-3. Tahun keduanya di SMA, dia tidak sekelas dengan teman-temannya di kelas 1. tapi itu juga bukan masalah untuk Sasuke. Toh dia tidak punya teman yang akrab sekali…. ya—setidaknya pengecualian utuk Naruto. Pemuda itu sudah seperti wabah yang selalu mengikutinya kemanapun, tapi anehnya—Sasuke tidak keberatan dengan itu. Terlebih ternyata—kedua orang tuanya dan orang tua Naruto adalah rekan bisnis. Jadilah—Sasuke sering bertemu dengan si pirang hyperaktif itu dalam setiap acara yang diselenggarakan oleh perusahaan orang tua mereka.

Kemudian Sasuke masuk dalam kelasnya dan bersiap untuk mengikuti pelajaran pertama hari ini. Meski luarnya tampak serius, sebenarnya Sasuke tidak sabar menunggu datangnya waktu istirahat, dimana dia bisa berdua saja dengan Neji.

Wali kelas mereka pun masuk. Ketua kelas memimpin untuk memberi hormat pada orang tua mereka di sekolah itu. Setelahnya, guru wanita yang cantik itu pun memberikan beberapa pengumuman, hal biasa untuk mengisi waktu homeroom, 15 menit sebelum kelas pertama dimulai.

Tidak mendengarkan, Sasuke malah melamun sendiri sambil melihat ke luar jendela kelasnya yang berada di lantai 2. Dari tempat duduknya yang tepat berada di pinggir jendela, dia bisa melihat jelas lapangan olah raga di bawah sana. Kelas yang mengikuti pelajaran olah raga di jam pertama sudah berkumpul semua di lapangan besar itu.

"Aa—itu dia…." Sasuke menemukan sosok Neji diantara orang-orang di lapangan itu. Dia melihat Neji sedang berkumpul di tengah halaman bersama teman-teman sekelasnya. Rambut coklat panjang Neji tampak menyolok diantara siswa yang lain. Untunglah Neji termasuk siswa unggulan di SMU itu, jadinya para guru tidak bisa protes tentang penampilan Neji itu.

Senyum Sasuke mendadak pudar saat melihat siapa yang diajak bicara oleh Neji, "dia lagi," gumamnya sambil memandang sebal pada sosok berambut merah bata yang tampak sangat akrab dengan Neji. Ya—itu Gaara, kekasih Naruto dan juga sahabat karib Neji. Tapi entah kenapa Sasuke selalu saja sensi setiap melihat pemuda yang juga merupakan salah satu murid berprestasi tinggi di sekolah ini.

"Uchiha San, aku tidak tahu apa yang menarik di luar sana," suara guru di depan kelas membuyarkan lamunan Sasuke, dia pun mengarahkan pandangannya ke depan kelas, dimana seorang guru killer memandangnya dengan aura mematikan, "sekarang silahkan jawab soal ini."

Sasuke membaca soal fisika yang tertulis di papan, dan tak sampai 5 detik, dia sudah menjawabnya. Cepat dan tepat. Jelas itu membuat para siswi langsung memandangnya penuh tatapan memuja dan para siswa plus guru killer itu memandang tajam pada Sasuke yang dengan cueknya duduk lagi dan kembali memandang kekasihnya jauh di bawah sana.

#

Akhirnya jam istirahat tiba juga, dengan gerak secepat kilat, Sasuke meninggalkan kelasnya, menuju ke kantin untuk membeli sebuah roti yakisoba dan sekaleng jus tomat, lalu dia melesat ke atap, tempat dimana dia selalu menghabiskan waktu bersama Neji.

Ternyata seniornya itu sudah ada di sana.

"Tumben lama?" tanya Neji sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.

Sasuke pun duduk di sana, "antri di kantin."

"Lho—padahal kau 'kan berangkat dari rumah, kenapa tidak dibawakan bekal?"

Sasuke menggigit roti yang dia beli tadi, "malas mencuci tempat bekalnya. Lagipula roti ini sudah cukup mengenyangkanku sampai waktu makan malam di asrama nanti."

Neji tersenyum memandang wajah Sasuke, "hei—kau bawa hadiah dariku tadi?" tanyanya.

Sasuke mengangguk dan mengeluarkan kado dari Neji yang terus dia bawa di saku blazernya, "boleh aku buka sekarang?"

"Bukalah."

Mendengar itu, Sasuke langsung meletakkan rotinya dan membuka ikatan pada kantong kertas kecil itu. Dan saat mengeluarkan apa yang ada dalam kantung kertas itu, mata Sasuke membulat sempurna.

Tampaklah sebuah cincin berkilau diterpa cahaya matahari siang itu. Sasuke sampai membatu seolah melihat mata medusa...

Neji mengambil cincin itu dan meraih tangan kiri Sasuke, "boleh aku pakaikan ini?"

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab anggukan oleh Sasuke, dan dia pun diam saat cincin itu melingkar di jari manisnya, juga saat Neji mengecup punggung tangannya.

"Dengan ini... kau benar-benar menjadi milikku."

Pipi putih Sasuke dihiasi rona merah tipis begitu Neji mencium bibirnya. Bukan ciuman yang biasa mereka lakukan, ciuman kali ini segera membuat Sasuke melupakan bahwa saat ini mereka ada di tempat umum sekolah, di atap yang siapapun bisa datang kapan saja.

"Mmm.." Sasuke terengah saat intensitas ciuman Neji semakin meningkat dan kini mulutnya telah dijajah oleh lidah Neji. Jemarinya meremas lengan blazer Neji saat otaknya berteriak meminta tambahan oksigen, dan untunglah Neji segera mengakhiri sentuhan itu.

Nafas Sasuke memburu, menghirup udara untuk paru-paru dan otaknya yang sempat berhenti berfungsi sesaat.

Neji tersenyum dan mengusap pipi Sasuke, "tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam di sekolah," bisiknya, "tapi aku punya sesuatu yang lain."

Sasuke memandang kekasihnya itu, "apa?"

Senyum penuh arti muncul di wajah Neji, "kau akan tahu nanti," dia pun mencium bibir Sasuke lagi, "sekarang habiskan makan siangmu!"

Tapi nafsu makan Sasuke sudah hilang sejak tadi. Makanya dia hanya meminum jus tomat yang tetap tidak bisa menghilangkan aroma sentuhan Neji di bibirnya barusan.

.

#

.

"Temee!! Hari ini aku pinjam kamarnya seharian, yaaaa?!!" Naruto mengatupkan kedua tangannya pada Sasuke saat mereka tiba di kamar mereka di asrama.

"Hah?" Sasuke meletakkan tasnya di meja belajarnya, "aku baru saja pulang dari liburan weekend di rumahku, sekarang kau usir aku dari kamarku di asrama? Enak saja."

"Ayolaaaah... besok aku ada ulangan fisika dan Gaara sudah janji mau mengajari aku..."

Sasuke melepas blazer seragamnya, "tapi tidak harus mengusirku 'kan?"

"Tapiiii... kalau kau ada di sini, yang ada aku ga jadi belajar. Kamu pasti adu pelototan lagi ama Gaara."

Sasuke memandang teman karib berikut teman sekamarnya itu. Mendapat puppy eyes yang tak mengenal kata penolakan, Sasuke pun hanya bisa menghela nafas, mengalah, "baiklah. Toh aku juga ada perlu dengan Neji."

Wajah Naruto berubah sumringah, "kau memang teman yang puaaaliing buaiiikk!!" ujarnya hiperbolis, "makasih yaaaa..."

"Iya iya," Sasuke dengan cueknya berganti pakaian dan mengambil kaus juga celana jeans, "aku mandi duluan!" katanya.

"Ooookkkkeeehhh!! Silahkan saja pakai. Aku sih mandi nanti saja," Naruto menuju ke tempat tidurnya yang ada di lantai tambahan di ruangan itu.

Sasuke pun masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di bawah lantai Naruto. Di bawah siraman shower, dia merasa sangat rileks. Tidak ada suara kedua orang tuanya yang sibuk memastikan gizinya terpenuhi di asrama, atau celotehan kakaknya tentang kenangan masa SMAnya dulu. Bagi Sasuke kamar asrama merupakan surga tersendiri.

Selesai mandi, dia pun segera keluar dan berbaring sejenak di kasurnya yang ada di lantai bawah dan dekat dengan pintu. Dilihatnya Naruto sibuk mondar-mandir di lantai dua yang luasnya separuh dari luas kamar itu seluruhnya.

"Kau sedang apa, dobe?" tanyanya.

"Hah?" jawab Naruto yang masih sibuk sendiri di atas, "ga ngapa-ngapain kok?"

Sasuke mengerutkan keningnya, "kau sudah seperti setrika tahu?!!"

"Huumm..." Naruto tidak memperdulikan pertanyaan Sasuke. Lalu tiba-tiba dia menuruni tangga dan langsung masuk ke kamar mandi.

Sasuke terduduk dan memandang bengong pada pintu kamar mandi yang tertutup, "kenapa dia itu? Salah makan atau bagaimana?" dan Sasuke tidak ingin jawaban dari pertanyaan itu. Lalu dilihatnya jam dinding, sudah jam 7, waktunya makan malam.

"Oi, dobe!! Aku ke ruang makan duluan!!" seru Sasuke.

"Iyaaa!! Aku menyusul nanti," seru Naruto dari kamar mandi.

Sasuke menggelengkan kepalanya heran dan dia pun langsung keluar kamar dan menuju ke ruang makan.

#

"Yo, Sasuke."

Pemuda itu melihat Neji melambai padanya dari sebuah meja. Dia pun mengambil omelet rice yang menjadi pilihan menu makan malam, lalu menuju ke meja Neji. Dengan sepenuh hati dia bersikan seolah tidak ada Gaara di meja yag sama dengan Neji itu.

"Mana Naruto?" tanya Neji.

"Mandi," jawab Sasuke singkat sambil duduk di sebelah Neji, tak peduli pada Gaara yang memakan santapannya dalam diam. Tidak tahu kenapa, sejak dulu dia agak sensi sama pemuda yang satu itu. Saat tahu kalau Gaara adalah teman sekamar Neji, itu membuat Sasuke sempat berpikir yang macam-macam. Tapi begitu tahu kalau Gaara sudah mendeklarasikan diri sebagai seme sang sahabat terdekatnya, Sasuke makin anti dekat-dekat dengan Gaara.

Seperti dugaannya, Gaara tetap tak bersuara hingga makan malamnya habis.

"Kau mau kembali ke kamar?" tanya Neji.

Gaara menggeleng, "aku langsung ke tempat Naruto."

"Oh," Neji memandang Sasuke, "kalau begitu kau main ke kamarku, ya?!"

"Memang mau kemana lagi?" jawab Sasuke masih sambil mengikuti Gaara yang menuju ke konter untuk menggembalikan piring kosong dan membawa seporsi makanan lain yang pastinya untuk Naruto, "dia itu menyebalkan sekali!!!"

"Hah? Siapa? Gaara?"

"Siapa lagi?" Sasuke melahap suapan terakhir omelet ricenya, "sebal lihat gayanya yang sok cool itu."

"Heemm," Neji meminum sisa jus jeruknya, "padahal dia itu baik kok. Cuma agak tertutup dan memang pendiamnya kelewatan. Jadi orang sering salah menilainya," dan pemuda berambut panjang itu tersenyum melihat muka Sasuke yang ditekuk, ".. aku suka kalau kau cemburu," bisiknya.

Jelas itu sukses membuat muka Sasuke merah padam.

.

#

.

"Kau mau kemana? Kamarku di sana lho!" Neji menunjuk koridor kiri sementara Sasuke berbelok ke koridor kanan.

"Aku mau balik ke kamar sebentar ambil buku. kau duluan saja ke kamar," kata Sasuke.

"Oke. Aku tunggu di kamar," dan Neji pun berbelok ke kiri, sementara Sasuke ke kanan. Tapi Sasuke sama sekali tidak menyadari senyum yang sejak tadi menghias wajah tampan Neji.

Dia pun menuju ke kamarnya yang ada cukup jauh dari koridor utama asrama putra itu. Saat dia hendak memutap kenop pintu, gerakannya terhenti begitu telinganya menangkap suara-suara dari kamarnya.

"Eng.. Gaara.." suara Naruto terdengar jelas olehnya, "ja—jangan... nanti Sasuke kembali..."

"Tidak akan," suara Gaara yang biasanya datar itu, kini terdengar lebih 'hidup', "aku yakin dia sedang bersenang-senang dengan Neji."

Sejenak hening dan kembali terdengar suara-suara yang jelas mengisyaratkan kalau dua orang dalam kamar itu tidak sedang belajar fisika.

Tanpa pikir dua kali, dia pun segera melangkah pergi dari sana dan menuju ke kamar Neji. Dengan muka merah padam, dia masuk dalam kamar itu dan menutup pintunya.

"Kau kenapa?" tanya Neji yang duduk di kasurnya sambil membaca novel.

"Ti.. tidak apa-apa," Sasuke bersandar di pintu itu.

Neji meletakkan novelnya dan menghampiri Sasuke, "jangan suka mengintip orang yang sedang kasmaran," bisiknya.

Mendengar itu, Sasuke langsung memandang Neji, "j—jadi kau tahu.. a-apa yang sedang mereka lakukan dalam kamar itu?"

Neji tersenyum, "tentu saja. Kami sudah merencanakan ini sejak lama."

"Apa?"

Pertanyaan Sasuke terabaikan saat Neji mencium bibirnya seperti di atap sekolah siang tadi. Kembali jiwa dan raganya terpasung oleh sentuhan Neji, bahkan dia tidak menyadari saat tangan Neji bergerak untuk mengunci pintu kamarnya.

#

Sasuke terbaring terlentang di kasur Neji, tak berniat melakukan apapun selain memandang Neji yang mulai melepas pakaian mereka satu per satu. Saat helai terakhir pakaian meninggalkan tubuhnya, Sasuke menelan ludah pasrah.

"Kau manis kalau sedang tersipu begitu," Neji menggerai rambut panjangnya dan tersenyum jahil pada Sasuke.

"Jangan sebut aku manis!" protes Sasuke.

"Tapi itu kenyataan," Neji mengusap pipi Sasuke dan mencium bibir pemuda itu dengan lembut, "hari ini—kau akan jadi milikku… seutuhnya…."

Neji menyusuri seluruh tubuh Sasuke dengan telapak tangannya. Menerima setiap reaksi dari pemuda berambut hitam itu. Dimulai dari belaian ringan di leher dan pundak, turun ke dada dan perut Sasuke, bermain sebentar di sana sebelum akhirnya menyentuh milik Sasuke yang paling pribadi.

"Ahh!!" getaran aneh menyelusup di tubuh Sasuke saat dia merasakan sentuhan Neji di sana. Di tempat yang tidak pernah tersentuh sebelumnya. Kedua kakinya terbuka tanpa perintahnya, tubuhnya memohon tanpa kendali dari otaknya.

Neji tersenyum dan memberi Sasuke sentuhan-sentuhan ringan dan kecupan di sepanjang lehernya. Perlahan dia menikmati perubahan diri Sasuke di tangannya dan mengubah belaian itu menjadi pijatan lembut.

"Emm!! Neji—" desah Sasuke begitu merasakan gejolak yang mulai membakar dirinya.

Neji merasakan jemarinya mulai basah, "hmm? Kenapa kau begitu terburu-buru? Malam kita baru saja dimulai," bisiknya di telinga Sasuke, "tapi—aku suka kau yang seperti ini," lalu Neji pun melepaskan Sasuke. Dia duduk tegak dan memandang liar pada tubuh Sasuke yang seolah berkata 'makan aku' itu.

Disentuhnya Sasuke dengan jemarinya. Pemuda itu bereaksi, dan itu membuat Neji senang. Direndahkan kepalanya dan meraup apa yang sejak tadi dia goda dengan jemarinya, masuk ke dalam mulutnya.

"Ngh!! Nejiii..." Sasuke menggeliat saat merasakan kehangatan dalam mulut Neji. Merasakan tubuhnya disentuh oleh lidah Neji, Sasuke tak lagi memikirkan hal lain kecuali keinginannya untuk menjadi milik Neji seutuhnya.

"Emm.. ahh.." Sasuke melebarkan kedua kakinya dan memberi akses pada Neji dan itu sama sekali tak disiakan oleh si pemuda yang berambut panjang. Jilatan dan hisapan terus membuat Sasuke melayang tinggi, hingga dalam beberapa detik saja, Sasuke takluk dan menyerukan nama Neji penuh kepuasan.

Nafasnya tersengal saat merasakan hasrat dirinya terbebas tanpa hambatan. Dia melihat Neji tersenyum senang melihat reaksinya.

"Kau cukup bagus sebagai pemula, Sasuke Kun," Neji merayap naik ke badan Sasuke, menindihnya dan mengklaim bibir Sasuke sekali lagi. Kini dengan cepat lidahnya menyusup masuk dalam mulut kekasihnya itu dan menikmati seluruh tempat itu.

Sasuke mengerang tiap kali Neji membuat tubuhnya terasa begitu ringan. Kedua tangannya melingkar di leher Neji dan kedua kakinya masih terbuka lebar karena tangan Neji juga tak berhenti berekasi.

Untuk kedua kalinya Sasuke takluk oleh sentuhan Neji. Namun tubuhnya seolah tak pernah bisa merasa puas akan keintiman itu. Dia pun memeluk Neji erat, meminta lebih dari apa yang telah dia terima.

"Neji..." Sasuke menggeliat saat merasakan perih di tubuhnya saat sesuatu mencoba menerobos masuk, "aahh.."

"Shhs.. jangan panik, ini aku..." bisik Neji, "kau akan suka ini, aku janji."

"Emm.." Sasuke mengangguk, mencoba membiasakan diri pada sensasi baru itu, "aahh.. Neji..." sekali lagi dia merasa tubuhnya tertembus dan di dalam dirinya sesuatu bergerak perlahan, membuat pikirannya semakin menggila.

Neji menciumi leher dan belakang telinga Sasuke, mencoba mengalihkan perhatian Sasuke dari rasa sakit, dan itu berhasil. Sasuke mulai melupakan rasa sakit itu dan menikmati segala rasa yang mulai bermunculan dalam dirinya.

"N—Neji!!!" Sasuke merapatkan pelukannya pada tubuh Neji saat dia merasa dunianya runtuh dan meninggalkannya melayang tanpa berpijak pada bumi.

Neji tersenyum saat untuk kedua kalinya Sasuke menyerah padanya. Dilumatnya bibir pemuda itu dalam sebuah ciuman yang tidak singkat, "aku sudah menunggu hari ini sejak pertama aku bertemu denganmu tahun lalu..."

Sasuke memejamkan mata saat sebelah kakinya diangkat oleh Neji dan kini bertumpu di pundak bidang itu, sebelah kakinya yang lain terbuka lebar ke sisi tubuhnya. Dia tahu pasti apa yang akan Neji lakukan selanjutnya.

Kini tidak ada lagi alasan kalau mereka baru saja berkencan beberapa bulan, alasan yang sama setiap kali Neji mulai 'mengundang'nya. Sasuke sudah mantap kalau hubungan mereka memang seharusnya sudah mulai memasuki tahapan selanjutnya, dan sekarang dia sudah tidak sabar untuk menjadi bagian dari Neji seutuhnya.

Neji memandang wajah Sasuke dan mengusap wajah pemuda itu, "kau siap?" tanyanya.

Sasuke membuka kedua matanya dan mengangguk, "jadikan aku milikmu... sekarang..."

Dan yang terdengar berikutnya adalah jeritan tertahan dari Sasuke saat dia merasa Neji mulai hadir dalam tubuhnya. Tubuhnya tersentak dan kepalanya melesak dalam bantal.

"Ahhk!! Ne... Nejii..." tangannya meremas seprei di kasur itu setiap kali Neji bergerak.

"Jangan terburu-buru," ujar Neji seraya menghentikan gerakannya.

Sasuke berusaha mengtaur nafasnya dan membiasakan diri akan sentuhan baru di tubuhnya itu. Akhirnya dia pun merasakan kalau sakit yang menyiksa itu mulai berubah menjadi sesuatu yang menggoda. Maka dia mengangguk pada Neji, memohon supaya kekasihnya itu melanjutkan apa yang telah mereka mulai.

Mendapat lampu hijau, Neji pun kembali bergerak, mengukir keberadaan dirinya dalam tubuh Sasuke yang semakin merapat dalam pelukannya.

"Hahh!! Ahh!! Nejii!!" Sasuke memeluk tubuh Neji seerat yang dia bisa saat dia merasakan kalau tubuhnya dan Neji telah bersatu seutuhnya, "Neji.. aahhh!!" erangnya begitu Neji mulai bergerak kembali.

Peluh dan desah nafas tak memisahkan mereka, justru semakin membuat mereka terlena dan terjebak dalam sebuah arus yang begitu menghanyutkan. Tak memberi mereka peluang untuk meloloskan diri.

Seolah tak peduli pada kemungkinan bahwa siapapun bisa mendengar mereka, Sasuke tak sungkan menyuarakan segala yang dia rasa. Memuaskan kekasihnya yang tengah memanja tubuh dan jiwanya.

Entah berapa lama mereka menikmati keutuhan raga mereka. Sasuke menyerah sepenuhnya saat Neji yang telah mengenal sisi terdalam tubuhnya, terus melambungkannya tinggi-tinggi oleh setiap sentuhannya. Terlebih saat jemari Neji kembali memanja sisi lain tubuh Sasuke yang sempat terlupakan. Membuatnya melupakan seluruh hal lain dalam hidupnya kecuali kebersamaan mereka saat itu.

Tubuh Sasuke mengejang begitu dia semakin kehilangan seluruh warna dalam pandangan matanya. Dan saat dunianya berubah menjadi putih bersih, Sasuke meneriakkan nama kekasihnya yang telah memasung seluruh yang ada pada dirinya.... dihari kelahirannya ini.. Sasuke kembali ke dunia dalam bentuk yang baru....

#

Neji tersenyum melihat Sasuke yang terbaring di dalam pelukannya. Melingkar dalam selimut, persis seperti kucing kecil yang manja. Dibelai-belai rambut Sasuke dan dikecupnya kening pemuda itu.

"Yakin tidak mau tidur?"

Sasuke menggeleng dan merapat pada Neji, "aku ingin seperti ini sebentar lagi," dia menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Neji.

"Lama juga tidak apa," kata Neji, "malam ini aku bahagia sekali. Bagaimana denganmu?"

".... Kau tidak perlu bertanya tentang hal itu 'kan?" Sasuke makin merapat pada Neji.

Pemuda berambut coklat panjang itu tersenyum senang, "tapi... ku rasa dengan kondisimu sekarang, besok kau tidak akan bisa ikut olah raga. Apa perlu aku ambilkan surat izin dari UKS?"

Sasuke memukul dada Neji, "jangan perlakukan aku seperti anak kecil!!!" katanya.

Neji tertawa senang pada reaksi Sasuke.

Mereka berdua sama-sama tahu... kalau malam itu akan menjadi malam yang tidak akan pernah mereka lupakan sampai kapanpun....

xoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxoxoxo

O W A R I

oxoxoxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxox

(1) Uwabaki : Sepatu yang dipakai di sekolah, khusus untuk dikenakan dalam ruangan.

.

.

.

*Ga tau musti komen apa*

.

.

.

Berhubung saia lagi kena kram otak untuk nulis AN... jadi saia mau nunggu ripiu ajah XP *ditimpuk dari segala penjuru* RIPIU YAAAAAAA!!!!