Disclaimer: I don't own Supernatural and those scrumptious Winchester brothers. They're belong to WB and Kripke.

Warning: Nonslash mpreg, OOC-ish, AU, crack!fic. You've been warned, folks.

Author's note: jawaban atas challenge dari Ambudaff di Lautan Indonesia. Kapok menulis yang beginian lagi. Dewi Bast itu ada dalam kepercayaan Mesir kuno, tapi sebagian mitologi dan atribut tentang dia aku karang sendiri. This is perhaps not up to my usual standard, not that I have a high standard to begin with. Kritik, saran dan masukan sangat diharapkan.

xox

Vibrasi di bantal bersamaan dengan lengking dering nada monofonik bukanlah cara paling ramah untuk membangunkan seseorang, pikir Sam seraya meraba-raba mencari di mana kiranya benda plastik yang jadi sebab dirinya terenggut dari alam mimpi. Ujung jarinya menyentuh ponselnya dan diraihnya benda itu. Dilihatnya ada nomor tak dikenal yang meneleponnya dan waktu saat ini, sudah jauh lewat tengah malam, di layar telepon.

Sebaiknya ini penting, gerutu Sam sambil menempelkan ponsel ke telinga.

"Halo? Siapa, nih?"

"Sam?" itu diucapkan dengan amat lirih, tapi Sam dapat mengenali si penelepon segampang mengejapkan mata.

"Oh, hei, Dean," sambut Sam, jengkel campur gembira juga mendengar suara, atau lebih tepatnya bisikan kakaknya. Kapan ya terakhir kali Dean menghubungi? Satu-dua tahun yang lalu, barangkali?

"Sam." Hanya satu suku kata itu, kaya akan ketakutan dan kekalutan.

"Ada apa?"

Untuk beberapa lama tidak ada jawaban, di seberang sana hanya terdengar suara hembusan nafas cepat Dean, pertanda kepanikan melandanya. Sam jadi ikut tegang. Sejuta kemungkinan berputar di kepalanya. Bagaimana kalau...

"Aku hamil, Sam."

Itu kemungkinan nomor sejuta satu.

Sam menegakkan tubuh ke posisi duduk dengan demikian mendadak sampai kepalanya terasa pusing. "Coba ulangi," pintanya.

Dean menghela nafas dan menuruti permintaan adiknya.

"Yakin kamu hamil? Jangan-jangan maksudmu kamu yang menghamili," kelakar Sam.

"Sam," kali ini nadanya memperingatkan.

"Oke, apa kamu sedang mabuk sekarang?"

"Bung," Dean menampik, "aku bahkan sudah dua bulan terakhir tidak menyentuh minuman beralkohol. Tidak bisa."

"Kamu tidak sedang mengerjai aku, kan?" Rasionalisasi, sebab opsi lainnya sama sekali tidak mampu dibayangkan oleh Sam.

"Tentu saja tidak, goblok. Aku serius, seserius serangan jantung!" Dean terdengar benar-benar gusar dan Sam tahu sebuah kesungguhan ketika dia mendengarnya. Itu yang membuatnya makin pening.

"Oke... " Sam mengurut-urut pertengahan jidatnya, "Bagaimana kamu bisa..."

"Mending kamu datang kemari dan lihat sendiri. Ceritanya panjang," potong Dean cepat.

Sam tahu apa yang tersirat di sana: aku membutuhkanmu untuk hadapi ini, tolong aku. Mana bisa dia mengabaikan itu: permohonan bantuan yang hampir blak-blakan dari kakaknya yang biasanya tegar dalam menghadapi tetek-bengek yang dilemparkan hidup padanya.

"Kamu di mana sekarang?"

xox

BERSAMBUNG