FATHER FIGURE

Harry Potter is JK Rowling's

Cerita dimulai dari akhir Perang Besar (2 Mei 1998 – HP Lexicon)

Special for Niero Alluka, have a Very Happy Snappy Birthday!

-o0o-

Guru adalah mereka yang menjadikan dirinya jembatan

Para murid diundang untuk menyeberanginya

Setelah semua menyeberang, dengan senang hati mereka mengundurkan diri

Dan mendorong para murid untuk menciptakan jembatan sendiri

[Nikos Kazantzakis – Chicken Soup for the Kid's Soul]

-o0o-

Walau suara pintu berderit halus sekali, Harry langsung berdiri. Sosok matron setengah baya itu keluar dengan raut wajah yang tak bisa dibaca.

"Madam Pomfrey?" pinta Harry, harap cemas.

Perempuan itu menghela napas panjang. "Dia memang memakai Stopper in Death. Penangkalnya sudah diberikan." Harry sudah nyaris tersenyum lega ketika kalimat berikutnya menyusul, "tapi … ada kesulitan."

-o0o-

Begitu selesai dengan urusan Elder Wand, Harry, Ron, dan Hermione kembali ke asrama Gryffindor. Lelah, berniat untuk tidur. Hermione sudah masuk ke kamarnya, Ron sudah menyusup ke dalam bantalnya, ketika Harry tiba-tiba teringat.

Jenazah Snape masih ada di Shrieking Shack.

Tak membuang waktu untuk membangunkan Ron, ia bergegas mengenakan pakaian lagi, menyelipkan tongkat, lari ke Shrieking Shack. Di sana ia temukan, jenazah itu masih dalam posisi seperti tadi.

Sekuat tenaga dibawanya sendiri—keluar dari Shrieking Shack bukan perkara mudah—jenazah ke Aula Depan, ketika disadarinya ada sesuatu yang aneh. Jenazah Snape tidak kaku, seperti jenazah-jenazah lain, seperti Fred, seperti Remus atau Tonks.

Mendadak terpikir olehnya, mungkinkah ia memakai Stopper in Death?

Tapi untuk bertanya, bertanya pada siapa? Mulanya terlintas Hermione—tapi dia pasti sudah kecapekan sekarang dan sedang tertidur lelap. Tak berpikir panjang seperti biasanya, dia langsung saja membawa jenazah Snape ke Hospital Wings.

Mungkin Madam Pomfrey tahu.

-o0o-

Madam Pomfrey tahu ternyata. Selain karena sedikit-sedikit pernah membaca, juga ternyata Snape pernah memberitahu. Tapi karena satu dan lain hal, Madam Pomfrey mempersiapkan agar Harry tidak terlalu optimis.

Pertama, antara waktu Snape 'mati' dan waktu ia diberikan penangkalnya, lumayan jauh. Kedua, dan ini yang cukup mengkhawatirkan, Snape 'mati' karena bisa ular. Jauh lebih mengkhawatirkan dari 'mati' ditusuk misalnya.

Apalagi bisa ularnya jenis langka, ular besar yang bukan hanya membunuh dengan membelit tetapi juga dengan mematuk. Menyebarkan racun dengan bisa, yang ternyata termasuk jenis cepat membunuh.

Itu yang harus ditangani sekarang. Itulah kesulitannya.

Stopper in Death menahan kematian pada waktu yang tepat, tapi selanjutnya harus diupayakan membersihkan bisa ular dalam darah dan seluruh tubuh Snape.

Harry memandang lekat-lekat Madam Pomfrey.

"Aku tak tahu soal itu, Madam Pomfrey."

Madam Pomfrey balas memandangnya dengan lembut, "Karena itulah kau kuberi tahu. Kau pernah me-Legilimens Severus?"

Harry mengangguk ragu. Kejadian itu sudah lama, dan tidak sengaja.

"Bisa ular yang menjalar di seluruh tubuh Severus bisa kuatasi. Mudah-mudahan tak lama bisa bersih. Tapi bisa yang masuk ke dalam otak, harus diatasi secara khusus."

Harry tak begitu mengerti.

"Kau tahu bagaimana menggosok lantai kamar mandi tanpa sihir?"

Itu tentu saja Harry tahu. Sering detensi. Perlahan Harry mengangguk tak mengerti arah pertanyaannya.

"Ini seperti menggosok lantai kamar mandi, harus digosok bagian perbagian. Tak bisa disihir sekaligus semuanya, harus sedikit-sedikit."

"Tanpa sihir?"

"Dengan Legilimens."

Mulai terbuka kenapa Madam Pomfrey memintanya. Tentu. Ia akan mengerjakannya, seberapa lama pun wakt—

"Dan dalam waktu yang terbatas. Bisa ular itu ternyata punya kadaluarsa. Seminggu. Jadi kita harus bisa mengeluarkan bisa itu dalam waktu seminggu sejak ia digigit, dan kuhitung itu berarti sudah duabelas jam yang lalu."

Berarti tinggal enam hari duabelas jam lagi?

Masalah bertambah saat Hermione datang dengan tangan penuh gulungan perkamen.

"Harry. Madam Pomfrey. Sesuai dengan dugaanmu, jika otak Profesor Snape sudah dipenuhi bisa ular itu—dan itu jelas karena gigitannya di leher—maka kita harus bekerja sangat keras."

Gulungan perkamen yang satu dibuka, gambar penampang otak. Hermione menggantungkannya di dinding. Gulungan satu lagi dibuka, penuh tulisan.

"Otak bukan gumpalan licin yang bisa kita bersihkan dalam waktu setengah jam, Harry, otak adalah kumpulan kerutan, yang kalau kita beberkan dan luruskan, luasnya jadi tak terhingga. Dan itulah yang harus kita bersihkan, Harry. Dalam waktu enam hari lebih sedikit."

Harry meraih tongkatnya, digenggamnya erat-erat. "Baik. Mari kita lakukan."

Hermione mendeham. "Sebentar, Harry."

"Adakah lagi yang harus kuketahui?"

"Kita kemungkinan besar tidak bisa membersihkan semuanya tepat waktu. Karena itu harus ada … prioritas."

Harry menelan ludah. Apakah ia memang tidak akan bisa menyelamatkan gurunya tepat waktu?

Hermione menunjukkan gambar otak yang satu, "Gambar ini menunjukkan bagian-per-bagian otak dengan fungsinya. Bagian kiri dan bagian kanan. Otak untuk menerima rangsang syaraf, otak untuk menyimpan memori, dan tentunya yang paling penting bagi kita penyihir adalah … otak untuk mengontrol kemampuan menyihir kita. Yang mana yang harus didahulukan … dibersihkan?" suara Hermione memelan.

Harry terduduk. Ia menoleh pada Madam Pomfrey, dan menoleh lagi pada Hermione.

Madam Pomfrey mengangguk pelan, "Ini kuserahkan padamu Harry. Percaya atau tidak, aku merasa banyak kesamaan antara dia dan dirimu."

Harry menunduk. Pilihan diserahkan padanya? Prioritas mungkin otak untuk menerima rangsang syaraf, lalu memori, lalu … tapi kemampuan sihir juga penting, dan … jadi yang mana dulu?

Perlahan ia berdiri. "Tolong ingatkan, Hermione. Pertama membersihkan susunan syaraf, motorik halus. Lalu bagian otak untuk mengontrol kemampuan menyihir. Sesudahnya memori. Hal-hal lain mungkin dikerjakan kalau masih ada waktu. Mudah-mudahan."

Hermione memandang Madam Pomfrey, lalu bertanya pelan pada Harry, "Kau yakin?"

Madam Pomfrey yang mengangguk, "Kukira untuk penyihir lain harus dimulai dengan susunan syaraf untuk motorik halus, lalu motorik kasar, baru hal-hal lain, tapi untuk Severus, ya, pilihanmu tepat Harry. Mari kita mulai."

Harry berdiri, memegang erat tongkatnya dan berbicara pelan pada tongkat itu, "Please, jangan kecewakan aku ya?"

Perlahan ia masuk ke dalam kamar di mana gurunya terbaring. Masih sama seperti waktu dibaringkan, nyaris tak ada gerakan. Selintas sama saja seperti jenazah.

Hermione menyusul dengan gulungan peta otak, dan berbisik pada Harry, "Mulai dari sini, Harry," sahutnya menunjuk satu tempat.

"Baik," sahut Harry, juga nyaris tak terdengar. Ia berdiri tepat di hadapan Snape, mengacungkan tongkat ke tengah-tengah kening dan berbisik, "Legilimens!"

Jauh lebih sulit dari Legilimency yang terdahulu. Selain ia harus lebih memusatkan perhatian, sekarang ia juga harus mengarahkan ke mana Legilimency bergerak dan membuatnya membersihkan tempat itu.

Memusatkan perhatian tanpa henti membuatnya lelah. Harry memutuskan untuk berhenti sejenak.

"Baru sejam?" tanyanya tak percaya. Seakan ia sudah berjam-jam. Tapi ia berkecil hati juga saat melihat Hermione mewarnai tempat yang sudah dibersihkan dalam otak Snape. "Baru sebegitu yang berhasil dibersihkan?"

Hermione mengangguk tanpa suara.

Harry mencoba tidak terlihat putus asa. Baru sekian, ia sudah merasa lelah? Tidak boleh, ia tidak boleh terlihat lelah. Lagipula, ia harus mencoba sekerasnya.

"OK, aku siap lagi," sahutnya, mengusir rasa lelahnya.

Satu, dua, ti … "Legilimens!"

Malam sudah tiba saat Hermione berhasil memaksa Harry agar beristirahat sejenak. Daerah yang sudah berhasil dibersihkan agak lumayan juga. Nyaris seluruh jaringan syaraf sudah berhasil dibersihkan. Harry tadinya tak ingin berhenti, tapi Hermione berhasil menunjukkan daerah-daerah di mana ia nyaris saja gagal.

"Kalau sudah nyaris gagal, kalau pemusatan perhatian sudah melenceng, berarti kau perlu istirahat."

"Tapi, kalau aku beristirahat, akan berkurang waktuku untuk memulihkannya—"

"Tidak, Harry. Kalau kau terus bersikeras, kau justru bisa saja membunuhnya—"

Baru Harry menyadarinya. Dalam keadaan lelah, pemusatan pikiran bisa melenceng. Mau tak mau ia kembali ke kamarnya, makan dengan cepat hidangan yang disediakan Kreacher, dan berusaha tidur dengan cepat.

"Kreacher, bangunkan aku dua jam lagi."

Tepat dua jam kemudian Harry sudah berdiri lagi di Hospital Wing, menyipitkan mata, memusatkan lagi perhatian, merapal lagi Legilimens.

Tapi kali ini begitu ia selesai satu sesi, seseorang sudah menemaninya.

"Malfoy?"

"Ron mencariku, dan menceritakan apa yang kau lakukan. Aku memang belum pernah merapal Legilimens, hanya sering Occlumens, tapi dari apa yang diceritakan bibi Bella, nampaknya tidak begitu berbeda. Mudah-mudahan kita bisa mengejar waktu."

Harry menghela napas lega. Setidaknya ada pengganti. Mereka bisa bekerja 24 jam kalau begitu.

"Terima kasih, Malf—Draco."

Draco menggeleng. "Aku hanya ingin menebus kesalahanku," bisiknya pelan. Mengeluarkan tongkatnya, dan bersiap. Harry menepuk bahunya, dan mundur.

Kali ini pekerjaan agak lebih cepat. Hermione mewarnai bagian demi bagian dalam peta otak dengan puas.

"Seluruh susunan syaraf sudah bersih. Kau dan Draco sudah nyaris membersihkan juga bagian kemampuan mengontrol sihir. Nanti sore mungkin kita bisa masuk ke bagian memori. Ini akan lebih susah, karena lebih banyak."

"Apalagi," Madam Pomfrey masuk, "bagian memori itu lebih dinamis, berbeda dalam tiap orang. Akan lebih sulit."

Harry mengangguk. Seberapa sulitnya, akan dicoba, tekadnya, memperhatikan sekarang giliran Draco sedang beraksi.

"Madam, bagaimana dengan bisa ular di bagian yang lain?"

Madam Pomfrey tersenyum membesarkan hati, "Sudah dibersihkan. Sekarang jika susunan syaraf juga sudah bersih, ada kemungkinan ia bisa bangun kapan saja."

"Benarkah?"

Madam Pomfrey mengangguk. "Kau sendiri jangan lupa istirahat. Sekarang biarkan Draco yang mengerjakannya, kau pergilah istirahat."

Rasanya satu beban hilang dari punggung Harry saat ia pergi beristirahat siang itu.

-o0o-

Tanggal 8 malam, saat Harry menghentikan sesi bagiannya.

"Memori sudah selesai, Madam Pomfrey. Sekarang tinggal susunan syaraf untuk motorik kasar—"

"Pergilah beristirahat, Harry. Jangan memforsir begitu. Selama ini kau sama sekali tidak beristirahat, hanya menyandarkan diri saat Draco menggantikanmu. Ini sudah seminggu, Harry!"

"Tapi waktu hanya tinggal beberapa jam lagi, Madam. Setelah itu, saya akan beristirahat. Saya janji!"

Madam Pomfrey menggeleng-geleng.

Hanya tinggal beberapa jam lagi. Jika saja ia berhasil menyelesaikan bagiannya, otak Profesor Snape akan bersih total. Ia bisa bangun kapan saja. Dan bisa melakukan apa saja, apa yang ia suka.

Hermione menyela, "Harry, lakukan dengan perlahan-lahan saja. Satu jam, istirahat, dan seterusnya. Jangan memaksakan diri."

"Baiklah," Harry mengalah. Ia duduk sejenak. Minum. Dan tak sabar memulai sesi selanjutnya.

Memegang erat tongkatnya, konsentrasi, dan, "Legilimens!"

Beberapa jam lagi. Ia harus berlomba dengan waktu. Masih ada beberapa bagian dari otak yang belum diwarnai oleh Hermione, berarti masih belum bersih betul. Istirahat. Mulai lagi. Istirahat. Legilimens lagi. Ia belum boleh istirahat. Masih ada satu jam lagi, walau nampaknya tidak akan penuh semua dibersihkan, tetapi inilah maksimalnya.

"Legilimens!"

Dan setelah ini Profesor Snape akan bangun. Dan ia bisa meminta maaf akan semua yang sudah ia lakukan dulu. Dan ia—

"Harry!"

"HARRY!"

Tersentak bangun ia mendadak. Tidak! Apa yang sudah terjadi? Wajah Hermione nampak khawatir

"Kau tertidur, Harry, untung saja kau menarik tongkatmu di saat terakhir—"

Apa?

"Saat terakhir tadi kau tertidur, untung kau sempat menarik tongkatmu."

Linglung Harry berusaha bangun. Dilihatnya jam. Sudah lewat dari masa seminggu rupanya. Dilihatnya peta otak buatan Hermione, masih ada beberapa spot yang masih belum berwarna.

Lemas ia terduduk.

"Hermione—"

Hermione membantu Harry berdiri, duduk di kursi dengan benar. "Tidak apa-apa, Harry. Kita sudah tahu kan, bahwa kita tidak akan bisa membersihkannya seratus persen. Tidak apa-apa, Harry. Bagian-bagian yang penting sudah kita bersihkan, ia akan bisa bangun lagi, ia akan bisa hidup lagi seperti orang biasa."

Harry mengeluh, menyisir rambutnya dengan jari, "Tidakkah bisa kita balikkan dengan Time Turner, Hermione? Tinggal sedikit lagi—"

Hermione bertukar pandang dengan Madam Pomfrey.

"Tidurlah, Harry. Nanti setelah segar, kembalilah ke mari, kita lihat seperti apa hasil kerjamu selama ini. Draco juga akan kami beritahu."

Seperti tidak ada tenaga, Harry mengangguk. Hermione mengangsurkan tongkat yang tadi ia pakai, yang terjatuh saat ia tertidur tadi. Tanpa daya ia memasukkan tongkatnya ke dalam jubah, dan berdiri.

"Aku ke kamar dulu."

Hermione dan Madam Pomfrey mengangguk.

Padahal hanya tinggal sedikit. Padahal hanya tinggal sedikit lagi, pikirnya sambil menukar pakaiannya dengan piama dan masuk ke ranjangnya. Padahal hanya tinggal sedikit saja. Kalau saja ia masih diberi beberapa jam lagi. Padahal—ia menepis. Ayolah. Itu sudah hasil terbaikmu, tukasnya dalam hati, dan berusaha menerima.

-o0o-

Ia sudah tidur nyenyak, sudah mandi, sudah makan, dan sedang berjalan menuju Hospital Wing, ketika tiba-tiba ada perasaan tak enak saat semakin mendekat. Kamar itu ramai!

Tentu saja, pikirnya, kemungkinan Profesor Snape sudah bangun. Di sana ada Madam Pomfrey, ada Hermione. Ada Draco nampaknya. Juga ada Profesor McGonagall.

Jadi, untuk apa ia berada di sana?

Saat Profesor Snape masih tak sadar, kegunaannya jelas: menggunakan Legilimency untuk membuatnya sadar kembali. Tapi sekarang? Profesor Snape belum tentu menginginkan kehadirannya. Yang jelas, Profesor Snape membencinya.

Harry berhenti.

Bimbang.

Dan sudah membuat langkah untuk memutar kembali ke kamarnya, ketika pintu terbuka. Hermione keluar.

"Profesor Snape menginginkan bertemu denganmu, Harry."

END OF PART 1