Mihael Keehl Is Still Alive © Éclipse et Sang

Masashi Kishimoto © Naruto

Pairing: SasukexFemNaruto

(Walau saya maunya Shou-ai -dirasengan-)

Gendre: Drama/Romance

Rate: T

Begitu sampai di kamar, Naruto langsung menempati kursinya. Menyamankan diri disana dan membiarkan kopernya berada di dekat kursinya. Ia kembali memejamkan mata. Melanjutkan tidur yang sempat terputus.

"Zzz.."

Malam mulai menjelang. Jarak menuju kota tempat tujuan Naruto memang cukup jauh. Membutuhkan kira- kita seharian untuk dapat sampai kesana.

Walau malam telah menjelang, Naruto belum juga terbangun dari tidurnya. Tapi sebelumnya ia sempat dibangunkan oleh kondektur yang meminta Naruto untuk memperlihatkan tiketnya.

Malam semakin larut. Walau begitu si masinis masih saja menjalankan keretanya tanpa merasa lelah. Mungkin ia ingin cepat- cepat membereskan tugasnya ini, dan mulai menikmati jadwal liburnya, dan menghabiskannya bersama dengan anak dan istri tercinta.

Sedangkan Naruto mulai membuka matanya. Ia menguap kecil dan mengucek matanya karena tidak terbiasa dengan cahaya lampu yang mengenai matanya. Setelah terbiasa ia mengeluarkan jam saku dengan ukiran berbentuk rubah dengan sembilan ekor.

'Jam 11.45? ternyata aku tidur cukup lama.' Batin Naruto.

Setelahnya ia bingung apa yang harus ia lakukan setelah bangun dari tidurnya itu. Makan malam? Tidak. Ia tidak lapar. Ke kamar kecil? Oh ia tidak sedang mendapat panggilan alam atau harus membenarkan riasannya. Karena ia tidak mengenakan riasan. Bagaimana kalau tidur lagi? Sepertinya itu ide yang bagus.

Langit terlihat ramah malam ini. Dan bulan sedang dalam mood yang baik. Karenanya ia menampakkan keseluruhan dari dirinya. Bulan purnama. Indah. Namun bagi sebagian mahluk itu merepotkan. Bagaimana tidak? Hanya karena keindahan sesaat itu, mereka harus merasakan gejolak yang menyiksa dan nafsu yang sulit untuk ditahan.

Jauh dibawah sana, diatas ranting sebuah pohon apel, Uchiha Sasuke tengah duduk bersandar menikmati malam. Menikmati langit yang awalnya tanpa bulan purnama. Namun perlahan, ketika awan bergeser bulan purnama mulai terlihat. Tubuh Sasuke langsung bereaksi. Nafasnya terengah dan ia mengeluarkan keringat dingin.

'Oh, astaga. Kenapa harus sekarang, sih?' batin Sasuke kesal. Ia merutuki bulan nan indah itu. Ia memegangi lehernya dengan sedikit 'mencengkram'.

"Hm... kalau begini bagaimana kalau kita berburu?" tanya seseorang dari belakang. Dan itu cukup mengejutkan Sasuke.

"Itachi..."

"Lagi pula kau tak lagi anti dengan darah manusia, bukan? Jadi tak ada salahnya." Kata Itachi. "Lagi pula yang lain sudah berangkat duluan."

"Hm."

"Akhirnya mau juga." Seru Itachi. Ada nada bahagia dari suaranya. Setidaknya sekarang ia tidak perlu khawatir jika adiknya akan segera mati hanya karena tidak ingin meminum darah manusia. Itu konyol sekali!

"Kita berangkat sekarang?" tanya Sasuke.

"Tentu."

Berjalan dikoridor peron yang cukup sempit menimbulkan gema dan suara yang cukup keras. Suara pintu yang dibuka pun terdengar cukup keras. Namun mereka tidak peduli. Karena mereka tidak perlu bersembunyi untuk bertemu dengan mangsa yang satu ini.

Suara pintu yang terbuka mengusiknya. Hingga akhirnya ia membuka kelopak matanya dan menampakan iris biru langitnya pada dua pasang mata onyx yang sedang memperhatikannya sambil berdiri.

"Kalian...?"

"Hai, kita bertemu lagi, Naruto." Sapa Itachi sambil tersenyum kecil.

"Jadi, kalian sedang cari makan?" tanya Naruto. Kata 'makan' disini memberi kesan seolah mereka adalah hewan liar yang selalu kelaparan. Mendengar itu Itachi hanya tersenyum simpul memaklumi. Ia tidak menganggap perkataan Naruto sebagai sebuah sidiran. Sedangkan wajah Sasuke senantiasa merengut mendengar perkataan Naruto. Ia sakit hati.

"Begitulah. Lalu kau sedang apa kau disini?" tanya Itachi. Ia berjalan mendekati kursi dan duduk disamping Naruto. Sedangkan Sasuke mengambil tempat di depan Naruto. Tangannya terlipat didada. Sepertinya ia masih marah.

"Tidur. Tapi karena suara yang kalian buat aku terbangun." Jawab Naruto apa adanya.

"Hmph, bukan itu maksudku, Naruto. Kamu mau pergi kemana?" tanya Itachi. kali ini ia memperjelas pertanyaannya.

"Suatu tempat." Jawab Naruto singkat.

Mendengar jawaban Naruto yang singkat Itachi hanya terkekeh, sedangkan si Uchiha sinis tidak terlalu peduli.

Hening menguasai. Naruto yang tidak terlalu peduli dengan kehadiran dua vampire tampan di sekitarnya mencoba untuk kembali tidur. Sedangkan Itachi hanya menatap wajah Naruto sejak tadi. Begitu pula Sasuke.

Mereka memandang bukan karena paras Naruto yang memang indah untuk dipandang lama- lama. Tapi ada sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian mereka.

Aroma manis yang menggoda.

Darah.

'Aromanya lebih manis dari mangsa- mangsaku yang lain.' Batin Itachi. matanya beralih kearah tengkuk Naruto. Tengkuk putih dan halus itu semakin menggugah selera dan merusak iman.

'Ugh... kenapa aromanya tercium manis begini?' batin Sasuke. Ia sedikit terganggu dengan aroma darah Naruto. Apa lagi malam ini nafsunya sedang sulit untuk di tahan. Ingin rasanya ia menerjang Naruto. Melepas kancing bagian atas gaun merah muda itu, dan lebih mengekspos leher jenjang nan halus itu lebih jelas. Kemudian membiarkan taringnya menembus kulit itu perlahan dan menghisap darahnya seteguk demi seteguk. Ah~ pasti nikat sekali.

Pikiran liar si vampire lapar.

Untungnya pikiran Sasuke itu tak dapat dibaca oleh Itachi. memang pada dasarnya vampire dapat nenutup dan menghalangi pikirannya agar tidak dapat dilihat oleh vampire lain.

Untung saja. Kalau tidak, ini akan menjadi hal paling memalukan dari semua hal yang pernah ia lakukan.

'Fyuh~ aku tak tahan. Ini sungguh menggoda iman.' Rutuk Sasuke dalam hati. Dan juga merutuki nafsunya yang semakin memuncak.

Sama halnya dengan Itachi ia sungguh sangat lapar. Ditambah lagi mangsa sudah pasrah didepan mata. Apa salahnya untuk langsung menerjang? Tak ada yang salah. Namun itu sangat tidak 'UCHIHA'

Matanya masih terus mempehatikan Nari kepala hingga ujung kaki. Kemudian kembali kekepala Naruto. Melihat rambut Naruto yang berantakan ia mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut- rambut itu.

"Rambutmu berantakan." Kata Itachi sambil merapikan rambut panjang Naruto dengan kedua tangannya.

"Ah, terima kasih." Kata Naruto sambil tersenyum. Ia menepis tangan Itachi dengan sopan dan mulai merapikan rambutnya sendiri. Digelungnya rambutnya cukup tinggi dan membiarkan lehernya terlihat jelas.

'Ugh! Tidak!' maki Sasuke dan Itachi dalam hati setelah melihat tengkuk itu.

Tiba- tiba kereta berhenti mendadak. Itu membut Naruto terdorong kedepan dan wajahnya menabrak dada Sasuka dengan cukup keras. Terdengar suara rintihan dari mulut Naruto dan makian pedas dari bibir Sasuke.

"Brengsek!"

Sedangkan Itachi tidak terganggu sama sekali. Oh, dasar!

"Kau baik- baik saja?" tanya Sasuke pelan. Namun tak ada reaksi.

"Hei?!" Sasuke memegang pudak Naruto dan mendorongnya kedepan.

"Hidungku sakit..." rintih Naruto. Hidungnya merah dan mengeluarkan sedikit darah.

"Oh, Astaga!" seru Itachi terkejut.

"Dadamu keras sekali, sih." Maki Naruto kesal sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya dengan sapu tangan yang baru saja ditawarkan Itachi.

"Jangan salahkan aku." Respon Sasuke singkat. Naruto merengut. Sambil terus mengelap darah yang tak mau berhenti dengan sapu tangan jingganya.

"Bagaimana? Sudah tidak apa- apa?" tanya Itachi dengan cemas.

"Ya. Sudah tidak apa- apa. Terima kasih." Jawab Naruto.

"Kalau masih berdarah lebih baik kau tiduran saja." Kata Itachi menyarankan.

"Jangan pedulikan dia. Paling, hidungnya akan memendek beberapa senti." Kata Sasuke dengan nada mencemooh. Naruto tidak terlalu ambil pusing. Ia terus mengelap darah yang keluar dari lubang hidungnya.

Pats.

Lampu di ruangan itu tiba- tiba padam. Semua tak tampak oleh Naruto. Namun tidak bagi Itachi dan Sasuke. Mereka tampak biasa. Tidak terlalu perduli dengan keadaan gelap seperti ini. Sama halnya dengan Naruto. Ia tidak ambil pusing dan berfikir untuk kembali tidur.

"Aku mau tidur lagi. Kalau kalian masih mau disini, silahkan saja." Kata Naruto dengan nada datar. Mereka tidak merespon dan langsung berdiri.

"Hm. Baiklah. Kalau begitu kami mau mencari makan dulu, ya." Kata Itachi. ia mendekati Naruto kemudian mengecup pelan punggung tangannya. " Bon soir."

"Bon Soir Itachi, dan kau Sasuke."

"Hn." Balas Sasuke.

Sasuke dan Itachi melangkah keluar dari kamar Naruto. Tak terganggu karena tak adanya cahaya lampu. Bagi mereka insting sudah cukup membantu. Dan bukankah malam ini rembulan tengah bersinar dengan terangnya?

Belum terlalu lama mereka menyusuri koridor kereta, terdengar suara sesuatu yang jatuh diatas atap. Mereka mendongak kaget. Bunyi itu disusul dengan suara langkah kaki yang tengah berlari diatas atap kereta. Sasuke dan Itachi mengikuti suara itu. Kemana perginya suara itu? Dan apa? Pertanyaan itu berkelebat di benak Itachi dan Sasuke.

Naruto sudah diambang mimpinya. Telah siap kembali terjun kedalam nikmatnya alam mimpi.

BRUK

BRAK

Namun diganggu suara yang membuatnya kembali membuka mata.

'Suara apa, itu?' tanya Naruto dalam hati. Dan pada dirinya sendiri.

"Apa itu?" tanya Itachi pada Sasuke sambil masih terus mengikuti suara itu.

"Entah." Jawab Sasuke singkat. Sebelah alis Itachi terangkat begitu ia mendengar jawaban adiknya itu. 'Singkat sekali.'

Suasana kembali hening. Namun mereka masih mengejar langkah kaki itu. Dengan sedikit rasa kesal karena langkah kaki itu bergerak memuatar- mutar. Entah karena lelah, langkah itu berhenti tepat diatas kepala mereka.

"Ini..." seru Itachi terputus.

"Kamar Naruto." Kata Sasuke melanjutkan perkataan Itachi yang terputus.

BRUK

BRAK

Suara benda besar jatuh terdengar jelas dari dalam kamar. Mereka saling berpandangan. Bicara lewat mata dan membuat sebuah keputusan.

"Kita masuk saja." Seru Itachi. Sasuke mengangguk.

Tangan Itachi terjulur untuk menyentuk knopnya. Jemarinya memutar knop itu.

"Argh!" suara erangan kesakitan terdengar dari dalam. Mendengar itu, Itachi mendobrak pintu. Matanya terbelalak melihat apa yang ia saksikan.

"Astaga! Naruto!" pekik Itachi.

Mataku tak terlalu jelas melihat apa yang terjatuh tepat dihadapanku. Mencoba fokus dan merasakan dengan insting aku tahu sesuatu di hadapanku ini nafasnya memburu. Lelahkah?

Lalu kurasakan sesuatu seperti jemari menyentuh leherku pelan. Jemari itu gemetar dan dingin. Ketika rembulan menyinari kamarku dan membuatnya terang sepenuhnya. Aku tahu apa yang ada dihadapanku.

'Oh, tuhan!'

TBC

To Be Continued

Tubercollose

Maaf, saya nggak bisa komen soal fic chap ini~~

(T3T)a saya juga bingung kok ide muncul tapi waktu di realisasikan jadi ancur? dan maaf kalau pendek....

Pokoknya makasih sudah baca. Nah, sekrang waktunya review...! ayo~ ayo~

Au revoir!