Lagi-lagi bikin fanfic Hoshin Engi! Huh! Sadarlah!!! Betapa udah ga lakunya Hoshin Engi itu!!!! Tapi saya tetep suka ama Hoshin Engi kok. Lagian kasian si kepala bintang Ryu Fujisaki kalo komiknya yang dijadiin anime udah kagak laku. Fufufu... cukup sudah cuap-cuapnya....

Author : Ceprutth DeiDei

Disclaimer : Ryu Fujisaki, kalo belon digeser ama si New Fujiryu + kalo dapet restu dari Pak Shima en Kepala Editor (???). kagak nyambung yee?? Kena penyakit Dangai Zeppeki Ima Izuko Holic sihh!!

Summary : Bbrapa 1SHOT pendek nan gaje ttg para chara Hoshin Engi. Mau baca boleh bgt, g mau baca ya gpp. Krn Hoshin Engi g s-terkenal Naruto,jdi klo anime Senkaiden Hoshin Engi/Soul Hunter psti g byk yg tw. Btw, knp summarynya gaje bgt ye? RnR?

-

Muge

Episode 1 : Tou Sengyoku

-

"Hah... hah... hah..."

TAP TAP TAP, terdengar langkah kaki seseorang. Seorang wanita berambut merah yang dikelabang 2 yang bernama Tou Sengyoku. Entah kenapa, ia terus berlari menyusuri setiap koridor yang ada. Berusaha melarikan diri dari sesuatu. Masalahnya, yang ngejar-ngejar itu siapa???

"Hah...hah...hah... TIDAK! PERGI!" teriaknya—entah pada siapa—sambil terus berlari.

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

"Doukou-shishou, hari ini cuaca cerah ya! Membuatku jadi tambah ngantuk" ujar Igo si manusia paling lusuh se-Kun Lun sambil menyandarkan diri ke dinding. Gurunya—yang masih kayak bayi—itu menghentikan kegiatan latihannya.

"Jangan ngantyuk duluw, Igo! Kita macih hayus latihan, dechu. Akyu padahal cudah cucah payah memikilkan latihan khusus untukmu, dechu. Ayo latihan lagi, dechu!" kata Doukou Tenson—sang guru celat—memberi semangat. "Cekayang akyu cudah mem-powel up juyus tel-ampuhku, lho, dechu! Juyus Cupel Ceyangan Pisau Dapul Celbaguna!!!" (maksud : Jurus Super Serangan Pisau Dapur Serbaguna)

Puluhan pisau dapur serbaguna (?) melesat ke arah Igo dengan cepat. Tanpa sempat menghindar, sang murid pemalas itu pun tertusuk semua pisau yang dilemparkan gurunya tadi. Darah bercucuran keluar, tapi tenang, itu sudah biasa. Nggak akan sakit.

"Wah, hebat juga ya, shishou-ku ini!" kata Igo santai—masih dengan nada ngantuk—sambil mencabuti pisau-pisau yang menempel disekujur tubuhnya. "Walaupun sudah berusaha kabur, tapi tetap kena. mengingatkanku pada paopei batu laknat milik si Sengyoku."

"Benal cekali, dechu! Hebat kan, dechu?" ujar Doukou dengan begitu bangga.

"Ngomong-ngomong, si cewek berselera aneh itu kemana? Tumben suasana jadi sepi."

"Hmmm, dechu?"

"Hah... hah... hah..."

"Shishou, sepertinya ada yang datang..." ujar Igo sambil melirik ke arah belakang Doukou.

"Apa iya, dechu?" kata Doukou percaya tak percaya sambil menoleh ke belakang, mencoba memastikan kebenaran kata-kata murid tunggalnya itu.

BUUAAAAKK!!!!

"Wadaaaoooow!!!! Chakiiiit, dechu!!" rintih Doukou yang tiba-tiba ditindih oleh seseorang.

"Panjang umur..." ujar Igo dengan malas.

"KYAA!!! BAYI KECILKU!!!" teriak seorang cewek—yang nindih Doukou—sambil menggendong sennin yang masih bayi itu.

"Akyu bukan anakmuw, dechu! Lagipula akyu justlu lebih tua dalimu, dechu!" teriak Doukou sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan maut Sengyoku.

"Diam! Kau juga kan masih bayi!" bisik Sengyoku pada bayi (?) itu sambil menatapnya dengan death glare.

"Hiiii, dechu!"

BWET BWET BWET, terdengar sesuatu mengarah kemari. Suara sesuatu yang terbang mendekat.

"TIIDAAAAAAAAAAKKK!!!!!!!!" teriak Sengyoku (teriakan tipikalnya. Selalu teriak "tidaaaak!") sambil melempar Doukou yang tadi sudah berdarah-darah—gara-gara ditindes—dengan tidak berdosa. Dia terus melangkah mundur. "Pergi!"

Dari kejauhan, nampak siluet seekor burung besar yang bentuk dan mukanya aneh bin ajaib yang terbang mendekati Sengyoku yang makin ketakutan. Sementara Doukou yang habis dilempar bagaikan bola itu sudah kabur ke dalam pelukan (?) Igo. Padahal Igo udah ketiduran di tempat. "Ityu kan bulung paopei pelihayaan Suukokuko, dechu?!"

Dan sang elang pepimpin bangsa burung itu pun sampai dihadapan sang sennyo—Sengyoku.

"Kau ini kenapa, sih? Kenapa tiba-tiba lari? Kalau memang aku pernah punya salah, aku mau minta maaf" ujarnya seraya berusaha lebih mendekati gadis dihadapannya itu. Sengyoku makin ketakutan. Tubuhnya gemetaran dan mengucurkan keringat dingin. "Aku mau minta maaf, nih. mau aku cium, nih!" kata si burung laknat (?) itu sambil memonyongkan bibirnya ke wajah Sengyoku.

"TIIDAAAAAAAAAAAAAKKK!!!!!!!!!!!!"

DUUAAARR!!, ledakan dari serangan paopei batu laknat (?) milik Sengyoku yang sudah di power up pun akhirnya berhasil menghancurkan seluruh bagian ruangan itu sampai hancur lebur. Sementara si pelaku pengeboman (?) itu sudah kabur entah kemana. Tiba-tiba nongollah Igo dari balik reruntuhan dengan bersimbah darah.

"APA-APAAN INI—?!!"

Dan burung peliharaan Suukokuko yang menjadi penyebab utama hancurnya ruangan itu malah sibuk celingak-celinguk mencari Sengyoku.

"KAU SIAPA—?!!" tanya si Igo sambil nunjuk-nunjuk sang burung laknat (?).

"Aku?! Aku burung" jawab si burung tak tahu adat (?) itu sambil melenggang pergi.

"HEI!!! KALO ITU SIH AKU SUDAH TAHU!!" teriak Igo. Nampaknya si burung itu sudah berhasil kabur tanpa meninggalkan jejak—secara dia kan terbang! "TUNGGU!!! SEMUA INI PERBUATANMU, KAN!!?"

"Khu khu khu..."

—OWARI—

Gaje, kan? Kutahu memang, takkan ada orang yang mau baca atau pun ngeripiu.

Perlu diketahui, Sengyoku itu adalah cewek yang paling takut sama BURUNG! Gara-gara dia pernah dikejar-kejar cowok gila yang punya paopei api yang wujudnya burung phoenix. Dan berhubung gue lupa siapa nama burung peliharaannya si Suukokuko itu, yah, terpaksa disebut sebagai 'burung laknat' aja!

REVIEW kalo mau!!! =3