My Father ?

Chapter 7 : Gawat!

Rate : T

Genre : Romance/Humor

Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, OC dan kelebayan tingkat tinggi! Don't like don't read!

.

.

"Ichi-nii tangkap!" seru Karin setelah menendang bola ke arah kakak tertuanya itu. Di sisi halaman berdiri Yuzu yang sedari tadi hanya bisa menyorak-nyoraki saudaranya yang sedang bermain bola itu.

Hup.. Bola itu berhasil ditangkap dengan sukses oleh pria berambut orang itu. Ichigo menyeka keringat yang membasahi dahinya lalu berjalan ke arah Karin. "Udahan ya, aku mau pulang," kata Ichigo.

Karin merengut. "Ichi-nii kan baru dua jam di sini, masa sudah mau pergi lagi," keluhnya.

Ichigo tersenyum sedikit dipaksakan. "Maaf, sebentar lagi Rukia pulang makanya aku juga harus cepat-cepat pulang."

"Heh, Ichi-nii sudah mau pulang ya?" tanya Yuzu yang menghampiri Ichigo dan Karin.

"Iya, maaf ya. Tapi lain kali aku pasti kesini lagi kok."

"Sayang sekali, padahal Mayen-nee belum pulang. Mayen-nee kan mau ketemu sama Ichi-nii," kata Yuzu kecewa.

Wajah tampan Ichigo langsung berubah. "Mayen yaa.. Sampaikan salamku padanya ya.." katanya setengah hati. Sesungguhnya ia bersyukur karena tidak bertemu Mayen karena jika bertemu gadis itu pasti akan mengejeknya habis-habisan.

"Iya, nanti aku sampaikan," balas Yuzu.

Ichigo tersenyum lalu mengusap lembut rambut adik perempuannya itu. "Kalau begitu aku pulang dulu."

"Ichi-nii ngga pamit ke tou-san dan Hisana-san dulu?" tanya Karin.

Ichigo menggeleng. "Ngga perlu, ntar dia malah heboh. Merepotkan saja," jawab Ichigo. Ia lalu beranjak meninggalkan kedua adik perempuannya walaupun sebenarnya ia masih ingin tinggal lebih lama di sana.

"Ichi-nii.." panggil Yuzu saat Ichigo tengah berdiri di depan pintu gerbang rumah mewahnya. "Lain kali kalau pulang ajak Rukia-nee ya," sambung Yuzu.

Pria bermata cokelat musim gugur itu tersenyum. "Iya, pasti."


Rukia menatapi luka yang telah diperban pada lutut dan juga lengannya. Bisa dibilang cukup parah dan sedikit menyulitkannya untuk berjalan. Gadis itu menghela napas. Ia tidak tahu lagi harus bilang apa pada Ichigo nanti, terakhir kali ia sakit demam pria berambut orange itu rela hujan-hujanan untuk membelikannya obat penurun panas. Apa dia akan menyusahkan Ichigo lagi sekarang? Ia samasekali tidak mau, apalagi setelah kejadian malam itu Rukia menjadi gengsi dan salah tingkah jika dekat dengan Ichigo.

Rukia melirik jam digital pada mobil Jaguar merah milik Renji, sudah jam 4 sore. Ya, sekarang Rukia sedang duduk manis di kursi mobil Renji. Rukia hanya sendiri karena sang empunya mobil beserta Kira sedang menghadap ke kepala sekolah Karakura High School.

Sudah setengah jam ia menunggi di mobil sendirian. Sebelum naik ke mobil ia mendengar omelan Renji tentang sekolah mereka yang tidak mempunya lift dan mungkin sekarang ia sedang menghadap kepala sekolah untuk meminta dibuatkan lift. Sebenarnya jika ia bisa berjalan dengan lancar ia tidak perlu menumpang Renji untuk pulang, padahal tadi juga Rangiku dan Mayen menawarinya untuk mengantarnya pulang tapi Renji melarangnya.

Rukia menghela napas lagi. "Orang kaya itu memang mengagumkan ya," gumamnya pelan sambil menatap Renji yang telah keluar dari bangunan sekolah bersama bodyguard setianya, Kira.

"Maaf membuatmu menunggu lama," kata Renji setelah masuk ke mobil dan duduk di sebelah Rukia.

Rukia menggeleng. "Tidak apa-apa. Sudah untung Tuan muda mau mengantarku pulang," katanya.

Mobil Jaguar merah itu mulai berjalan meninggalkan Karakura High School. Rukia dan Renji sama-sama diam. Mereka tidak tahu topik pembicaraan apa yang baik untuk dibicarakan sekarang, terlebih lagi mereka baru beberapa minggu ini mengenal.

"Emm.. Rukia, apa kau punya pacar?" tanya Renji akhirnya memecah keheningan, bahkan sempat membuat Kira keselek kerupuk yang lagi dimakannya selagi menyetir.

Rukia sedikit kaget dengan pertanyaan tidak biasa yang dilontarkan Renji, setelah beberapa detik terdiam ia akhirnya menjawab. "Tidak, kenapa?"

Renji menggeleng dengan riangnya. Dalam hati ia berpikir bahwa ia pasti bisa menjadikan Rukia pacarnya. "Pernah pacaran?" tanya pria berambut merah itu lagi.

"Emm.. Nggak pernah," jawab Rukia polos.

Renji langsung menggenggam tangannya sendiri sambil bersorak "Yes!" dalam hati. "Jadi kamu tinggal sama Ichigo sekarang?"

"Iya, memangnya ada apa Tuan muda Renji?" tanya Rukia heran.

"Nanya aja. Hehe.." cengir Renji.

Hening. Suasana kembali sunyi setelah beberapa pertanyaan aneh –menurut Rukia- yang dilontarkan Renji padanya. Rukia melirik area perumahan dari jendela mobil Renji. Elite, kata itulah yang pertama kali muncul dalam kepala Rukia. Area ini bukan menuju ke rumahnya, bukannya Renji berjanji mengantarnya pulang?

"Tuan muda Renji, kupikir ini bukan jalan menuju ke rumahku, kita mau kemana?" tanya gadis bermata violet itu.

"Kita ke rumahku dulu ya, aku mau ganti baju," jawab Renji.

Beberapa saat kemudian mobil itu memasuki pintu gerbang besar yang bertuliskan 'Abarai'. Rukia menatap tulisan itu sebentar lalu beralih pada bangunan besar berwarna cream dengan beberapa pelayan yang berdiri di depan pintu masuk bangunan besar itu.

'Jadi ini yang namanya rumah orang kaya,' batin Rukia.


"Sayaaaaang... Ada e-mail nih!" seru Yoruichi yang duduk di depan laptop Apple berwarna putih.

Beberapa saat kemudian Kisuke dengan berlari kecil menghampiri istrinya itu, seperti biasa ia selalu membawa kipas kesayangannya. "E-mail? Dari siapa?" tanya Kisuke heran. Tidak biasanya ada e-mail masuk ke alamat e-mail pribadinya, kalau ke alamat e-mail kantornya sih bukan ada lagi bahkan bejibun.

"Sebentar, aku buka dulu.." Yoruichi mengklik simbol 'Open' pada tampilan e-mail tersebut dan beberapa saat kemudian pasangan suami-istri itu bengong.

"Dari Isshin-san, tumben dia kirim e-mail. Coba lihat isinya apa.." Kisuke mengambil alih laptop itu dan mengarahkan kursornya ke arah bawah dan... ada sebuah foto di isi e-mail itu.

Halooo... Kisuke dan Yoruichi yang berbahagia..

"Oh ya, kita memang selalu bahagia," sahut Kisuke.

Melalui e-mail ini aku, Kurosaki Isshin, dengan bangga akan memperkenalkan calon tunangan anak laki-lakiku yang super ganteng, Kurosaki Ichigo, pada kalian.

"Oh ya Tuhan, dia tetap lebay seperti biasanya," sahut Yoruichi.

Namanya Kuchiki Rukia. Di bawah ini fotonya..

Kisuke dan Yoruichi menatapi foto gadis manis bermata violet dan berambut hitam yang diperkenalkan Isshin sebagai calon tunangan anaknya.

Cantik kan? Manis kan? Hahaha... Masakiku yang tersayang yang menjodohkan mereka. Tapi gadis ini belum tahu tentang semua ini.

"Memang manis..." komentar Kisuke disambut anggukan setuju dari Yoruichi.

Dan ah ya, gadis ini anak Byakuya dan Hisana. Kalian pasti ingat kan pada mereka?

"Byakuya-san? Pantas saja, kupikir nama Kuchiki-nya itu darimana. Pantas juga mirip banget sama Hisana," komentar Yoruichi.

Sekian dulu deh. Cup cup muaah! Good byeee! Sayonaraaaa!

Kisuke dan Yoruichi langsung sweatdrop. "Dasar itu orang ga pernah berubah dari dulu," kata Kisuke.

"Tapi anak Byakuya dan Hisana ya..." gumam Yoruichi sambil menatap foto Rukia pada e-mail itu.

"Papi, Mami.. Aku pulaaang.." seru Renji dan beberapa saat kemudian pria berambut merah itu sudah muncul di hadapan Kisuke dan Yoruichi bersama dengan Rukia.

"HAAH!" suara itulah yang pertama keluar dari mulut pasangan suami-istri itu ketika melihat Rukia. Kisuke dengan sigap langsung mengangkat laptopnya dan melirik foto itu lalu Rukia dan kemudian berbisik pada Yoruichi.

"Mirip!" bisiknya pelan.

Kelakuan kedua orang tuanya itu sontak membuat Renji heran. "Ada apa sih?" tanya Renji tapi kedua orang tuanya itu hanya menggeleng sambil memasang senyum yang memuakkan.

"Dia siapa Renji? Kok luka-luka gitu?" tanya Yoruichi.

"Ini Kuchiki Rukia, teman sekolahku. Tadi dia nggak sengaja ditabrak Kira waktu berangkat sekolah. Sudah, aku ganti baju dulu, tolong temani Rukia ya Mi," kata Renji lalu berlalu.

"Maaf merepotkan, Tante, Om." Rukia menunduk sopan.

"Kamu Kuchiki Rukia?" tanya Kisuke.

Rukia mengangguk. "Iya."

Kisuke langsung melirik Yoruichi. Mereka lalu berbisik lagi.

"Hubungan kamu sama Renji apa?" tanya Yoruichi menyelidik.

"Eh? Cuma teman biasa kok," jawabnya sambil tersenyum manis.

Untuk yang kesekian kalinya Yoruichi dan Kisuke saling berbisik lagi. "Bisa gawat ini sayang," bisik Yoruichi.

"Gawat gimana?" balas Kisuke, tentu saja dengan bisikan juga.

"Aduh kamu bodoh sekali sih sayang, kalo Renji suka sama gadis ini gimana?"

"Wah, itu mah gawat sayangku!" seru Kisuke tanpa sadar dan langsung dibekep oleh Yoruichi.

"Ada apa sih? Tingkah kalian aneh deh.." kata Renji yang tiba-tiba muncul di belakang mereka dengan membawa sebuah pisang yang sebentar lagi akan masuk ke mulutnya.

"Nggak ada apa-apa kok. Hehehe..." cengir mereka, sama persis seperti cengiran Renji saat di mobil tadi.

"Ya sudah, aku nganter Rukia pulang dulu," pamit Renji setelah menghabiskan pisang yang ada di tangannya tadi.

Mereka berempat berjalan bersama menuju ke pintu rumah. Setelah Rukia masuk ke dalam mobil, Kisuske langsung menarik Renji dan mengajaknya bicara. "Anakku, kau suka dengan gadis itu?" tanya Kisuke to the point.

Melihat rona merah yang menghiasi wajah anak laki-lakinya itu Kisuke sudah bisa menebak jawabannya. "Iya, suka." Setelah mengatakan itu Renji langsung naik ke mobil meninggalkan Kisuke dan Yoruichi yang hampir pingsan.

"Ternyata beneran suka," kata Kisuke.

"Ah suamiku.. Matilah kita! Bakalan ribet ini urusannya," kata Yoruichi lemah sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing sedangkan Kisuke hanya bisa melambai lemah pada mobil Jaguar merah anaknya yang meninggalkan rumah.


Inoue mengambil cermin kecil dalam tasnya ketika ia berdiri di hadapan rumah Rukia. Ya, saat Hitsugaya-sensei mengajukan pertanyaan siapa yang mau mengantarkan hasil ulangan matematika Rukia ke rumahnya ia langsung tunjuk tangan. Bukan karena simpati pada Rukia namun lebih tepatnya karena ia ingin bertemu Ichigo.

Ia memang terkejut ketika mengetahui bahwa Ichigo adalah ayah tiri Rukia, tapi itu melunturkan semangatnya untuk mendekati pria itu. "Sip, sudah cakep!" gumamnya sendiri setelah melihat pantulan wajah cantiknya pada cermin.

Inoue mengetuk pintu rumah itu empat kali dan beberapa saat kemudia ia bisa mendengar langkah kaki seseorang dari dalam rumah. Ia berharap itu Ichigo karena jika yang membuka pintu adalah Rukia maka ia akan langsung melemparkan kertas ulangan matematika gadis itu ke wajahnya.

Pintu terbuka. "Putriku kau lama seka... Eh, maaf aku kira Rukia," ujar pria berambut orange yang berumur 21 tahun itu.

"Ada apa?" tanya Ichigo malas.

"Em.. Aku hanya ingin mengantarkan kertas ulangan milik Rukia. Rukianya belum pulang ya?" sahut Inoue, mencoba bersikap manis. Ia lalu mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan menyerahkannya pada Ichigo.

"Iya, Rukia belum pulang. Apa kau tau dia kemana?" tanya Ichigo sambil menerima kertas itu. Mata cokelat musim gugurnya lalu tercengang melihat angka yang tertera pada kertas ulangan itu.

"Dasar anak itu! Masa cuma dapat nilai 54!" seru Ichigo frustasi setelah melihat angka merah itu. Ichigo lalu melipat kertas itu dan memasukkannya dalam saku celana jeans-nya.

"Oh iya, kalau tidak salah namamu Inoue kan? Mau masuk untuk minum teh dulu?" tawar Ichigo.

Belum sempat Inoue mengangguk kesenangan atas tawaran emas itu sebuah mobil Jaguar merah yang tidak diragukan lagi milik Renji berhenti di depan rumah gubuk itu.

Ichigo dan Inoue menatap mobil itu bersamaan. Setelah pintu mobil terbuka dan melihat makhluk berambut merah turun dari mobil itu dengan menggendong gadis yang ia cintai Ichigo langsung tidak tinggal diam. Ia segera menghampiri Renji dan menatap pria itu dengan tajam.

"Apa yang kau lakukan pada Rukia?" tanyanya geram.

"Ini bukan salah Tuan muda Renji kok, aku yang salah karena tadi pagi jalan ngelindur dan tertabrak," kata Rukia sambil memegang tangan Ichigo hingga membuat pria itu akhirnya sedikit berkurang geramnya. Rukia tahu Ichigo pasti mengkhawatirkannya setelah melihat perban-perban di tubuhnya itu makanya ia akan berusaha menenangkan pria itu.

"Rukia sulit berjalan, makanya kau harus menggendongnya masuk ke rumah," kata Renji. Ia mengalihkan Rukia kepada Ichigo, meskipun sedikit tidak rela tapi ia pikir inilah yang terbaik untuk saat ini.

Sekarang yang menggendong Rukia adalah Ichigo. Renji dengan segera pamit pada mereka berdua. Ichigo terdiam sebentar lalu setelah berpikir panjang ia menghentikan Renji saat Renji akan memasuki mobilnya. "Terima kasih sudah mengantar Rukia pulang," kata Ichigo.

Renji tersenyum lalu melambaikan tangannya sekali pada Ichigo seakan menyampaikan bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang besar yang ia lakukan.

Inoue yang berdiri di depan pintu rumah Rukia hanya bisa bengong melihat adegan yang tidak biasa tadi. Ia masih tidak percaya bahwa seorang Abarai Renji mau mengantar Rukia pulang, apalagi dengan menggendongnya seperti itu.

"Kau itu dasar.." kata Ichigo pelan lalu segera membawa Rukia masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Inoue yang sudah pasang tampang manis.

"Sialan! Aku dikacangin.." kata Inoue kesal saat Ichigo menutup pintu rumah itu meninggalkan Inoue yang sudah seperti batu tidak dihiraukan. Dan daripada lumutan di depan rumah orang yang menempati peringkat pertama dalam Blacklist-nya ia langsung melangkah pulang dengan hati yang kesal.


Rukia duduk di futonnya sambil memegangi lututnya yang luka. Meskipun kecil tapi ternyata luka itu terasa sangat perih dan nyeri. Ichigo duduk di hadapannya dengan ekspresi wajah yang sangat tidak disukai Rukia, khawatir.

"Sampai kapan kau mau pasang tampang seperti itu?" tanya Rukia.

"Mau bagaimana lagi aku sangat mengkhawatirkanmu bodoh!" balas Ichigo. Ia langsung memegang lutut Rukia, memastikan dengan matanya sendiri luka seperti apa yang menodai Rukia-nya.

"Mau ke rumah sakit?" tawar Ichigo.

"Gak perlu, cuma luka gini aja kok. Buang-buang uang tau kalau ke rumah sakit segala."

"Ya sudah. Dasar pelit!" ejek Ichigo sambil tersenyum lalu mengambil teh hangat dari atas meja kecil di dapur. "Ini minum," katanya.

Rukia menerima gelas itu sambil menunduk untuk menutupi wajahnya yang memerah. "Terima kasih."

Wajah Rukia semakin memerah ketika Ichigo tiba-tiba memeluknya. Pria itu memeluknya sangat erat hingga ia bisa merasakan hembusan napas Ichigo di tengkuk lehernya. "Hei, kau kenapa? Berat tau!" seru Rukia agak panik dan salah tingkah.

Tapi Ichigo tetap memeluknya seakan takut kehilangan Rukia. "Lain kali..," kata Ichigo pelan, "jangan melakukan hal yang macam-macam. Aku bisa mati kalau kau kenapa-napa."

Rukia tertegun. Jantungnya berdegup dengan kencang seakan mau copot dari tempatnya. Perlahan-lahan tangan Rukia dengan sendirinya ikut memeluk Ichigo dan memejamkan matanya.

"Maaf.." ucapnya pelan. Hangat. Perasaan apa ini? Batin Rukia.


Hitsugaya menguap lebar saat Momo selesai mengerjakan latihan matematikanya. Menemani Momo mengerjakan soal memang sangat membosankan bagi Hitsugaya. Kadang ia ingin menolak namun tidak enak hati, apalagi Momo adalah anak Ukitake yang selama ini sudah banyak menolongnya.

"Sensei, aku sudah selesai mengerjakan soal ini," kata Momo.

"Ah ya, nanti malam aku periksa ya," balas Hitsugaya sambil memeluk bantal dengan mata yang merah karena mengantuk.

"Kenapa nanti malam? Sekarang saja.."

"Heh, aku ngantuk Hinamori. Nanti malam saja kau datang lagi ke sini."

Momo mendengus kecewa, wajah manisnya langsung berubah menjadi masam. "Iya deh, nanti malam aku ke sini lagi ya," katanya sambil membereskan peralatan tulisnya ke dalam tas.

"Sensei, aku pulang dulu," katanya lagi pada Hitsugaya yang sekarang sudah dalam posisi tengkurap di lantai.

"Hati-hati di jalan," sahut Hitsugaya sesaat sebelum Momo keluar dari rumah mungilnya.

Sunyi. "Ah, akhirnya tenang juga." Hitsugaya merenggangkan tubuhnya yang pegal lalu kembali tiduran di lantai marmer yang dingin karena tadi pagi sempat hujan.

Tok..Tok..Tok..

"Aih, siapa lagi sih?" kata Hitsugaya kesal. Baru saja ia ngin terlelap dalam tidurnya sudah ada lagi orang yang mengetuk pintu rumahnya.

Dengan setengah kesal dan gontai Hitsugaya menghampiri pintu rumahnya.

"Chibi-sensei, apa kau ada di rumah?"

Mata emerald Hitsugaya yang tadinya sipit karena mengantuk langsung terbuka lebar setelah mendengar suara itu. Suara yang sudah asing lagi, suara yang berarti pembawa keributan dan perdebatan.

"Mau ngapain kau ke sini, nona childish?" tanya Hitsugaya pada gadis bermata abu-abu yang ada di depannya.

"Mau ngambil kertas hasil ulangan matematikaku," jawab Mayen. Memang pada saat pembagian hasil ulangan tadi dia kabur karena takut melihat nilainya yang kemungkinan besar jelek.

"Ah.. Nilaimu yang amat sangat jelek itu?" Hitsugaya setengah mengejek.

"Di fakultas mode kan pelajaran matematika tidak penting," balas Mayen. Ia memang sangat bodoh di pelajaran hitung-hitungan seperti matematika, fisika dan kimia.

"Ya sudah, masuk dulu. Aku carikan punyamu di tasku," kata Hitsugaya mempersilahkan Mayen masuk.

Kesan pertama gadis itu cukup takjub dengan kerapian rumah Hitsugaya. Sangat jarang rumah seorang pria yang hidup sendiri bisa serapi dan sebersih ini, meskipun rumahnya sangat mungil dan sederhana.

Dari jauh ia memperhatikan Hitsugaya yang hanya menggunakan kaos singlet berwarna abu-abu sedang mengobrak-abrik tas kotak hitam yang biasa dibawa pria itu ke sekolah.

"Kenapa dia bisa punya punggung sebesar itu?" gumamnya pelan setelah melihat punggung Hitsugaya yang besar sangat mencolok dengan postur tubuhnya yang mungil itu.

"Kenapa?" tanya Hitsugaya mengangetkan Mayen.

"Nggak apa-apa kok. Mana?"

"Nih, Kazumei Mayen pajang tuh nilai di jidatmu!" ejek Hitsugaya sambil menyerahkan selembar kertas dengan tulisan besar 38 berwarna merah.

"Wuah! Jelek amat! Bisa dicincang paman Kurosaki kalau gini!" seru Mayen panik. Sedangkan Hitsugaya hanya tertawa geli melihat ekspresi wajah Mayen, entah kenapa rasa kantuknya sudah hilang entah kemana.

"Minggu depan diadakan ulangan susulan, maka dari itu kepala sekolah menyuruhku untuk memberikan les privat kalian mulai besok. Aku sudah memberitahu Rangiku tadi dan aku juga menuliskan pesan di kertas ulangan milik Rukia," kata Hitsugaya menambah kefrustasian gadis berambut lavender itu.

"Hua! Les privat? Aku kan nggak punya banyak waktu luang."

"Jangan sok sibuk deh! Pokoknya mulai besok kau, Rukia dan Rangiku harus datang ke rumahku untuk les privat. Kalau tidak aku tidak menjamin berapa nilai yang akan tertera di rapor kalian semester ini," ancam Hitsugaya.

"Momo nggak?" tanya Mayen.

"Nggak, nilainya udah lebih dari cukup."

"Curaaaaaaangg!"


"Huaaaaa 54!" seru Rukia ketika melihat hasil ulangan matematikanya.

"Putriku, kenapa kau bodoh sekali ya?" tanya Ichigo yang sedang menuangkan teh hangat ke dalam gelasnya.

"Bukan aku yang bodoh, tapi soalnya ini terlalu susah!" bantahnya.

"Susah? Coba sini kulihat." Ichigo mengambil kertas ulangan Rukia dan sebuah pulpen lalu dengan cepat ia mengerjakan semua soal itu hanya dengan waktu lima menit.

Rukia ternganga. "Jeruk, kau jenius ya? Hebat sekali," kagum Rukia setelah melihat pekerjaan Ichigo. Walau ia tidak mengerti tapi ia yakin bahwa semua jawaban Ichigo itu benar.

"Soal semudah itu sih kecil," remeh Ichigo. Tentu saja soal anak SMA seperti itu sangat mudah baginya yang lulusan Univercity of London.

"Susah tau! Ajarin aku donk!" pinta Rukia.

Ichigo menghela napas lalu menggenggam tangan Rukia dan mengarahkannya pada kertas kosong. "Jadi caranya itu begini. Ini dikali ini terus dibagi yang ini.. Rukia kau ngedengerin aku nggak?" kata Ichigo setelah menyadari Rukia yang hanya terdiam kaku dengan wajah memerah.

"J-jangan pegang tanganku begitu donk!" kata Rukia sambil mengalihkan wajahnya yang memerah ke arah yang berlawanan dengan Ichigo.

Ichigo tersenyum jahil. "Putriku ini memang manis ya," katanya sambil membelai pipi mulus Rukia.

"M-mau ngapain?" tanya Rukia gugup dengan wajah yang sudah semakin memerah.

"Hmm.. Ngapain ya? Mau yang kaya kemarin?" goda Ichigo. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia hingga hidung mereka bersentuhan.

Rukia membeku. Ia samasekali sudah tidak bisa berkata ataupun bergerak. Tatapan tajam Ichigo seakan mengunci segalanya dan juga menyita hatinya. Tepat saat ia memejamkan matanya ia merasakan sentuhan lembuh di dahinya. Ichigo mengecup dahinya.

Ichigo tertawa kecil saat Rukia membuka matanya. "Midget, ayo belajar lagi!" ucapnya kemudian.

Rukia melempar sebuah bantal besar ke wajah Ichigo. "Dasar jeruk mesum!"

To be Continued


BeenBin : Hula~ Ketemu lagi dengan gw. Maaf banget yah fic ini lama updatenya. *menunduk*

Mayen : Yah, makanya jangan males-malesan mulu di rumah! Liat tuh udah banyak yang nunggu!

BeenBin : Iyaa... Gomenasai! Tapi.. serem juga ih ada beberapa orang yang ngancem gw pake golok kalo ga cepet update *ngelirik beberapa orang* *dicincang*

Mayen : Makanya jangan lelet lagi kalau update. Oke, buat review udah kita bales. Silahkan cek PM masing-masing.

BeenBin : Dan buat yang nggak login, di bawah ini balesannya!

Balesan Review :

Viant's : Maaf yah lama. Makasih udah setia nunggu fic gaje ini.

Shieru Nightroad : Sorri bu! Ampe lumutan ye lo? Maaf..

Meong : Hahaha... Untung UNnya selamat bu.

Fishy : Terima kasih karena mau memperhatikan fic-fic saia. Selama si Mayen itu bukan pemeran utama ga ada masalah kok. Maaf kalo mary-sue, kan udah ada warning kalo ga suka ga usah baca.

fiI-chan : Hehe, makasih pujiannya dan reviewnya.

Ai_l0ver : Haha, silahkan ngakak dulu sana! Iyap, makasih ya.

Ruki_ya : Iya, eh kasian Renji kalo ga boleh deket-deket ama Rukia. Renji kan juga manusia. *cielaah...

Hiru Shi-chan : Karena Renji tuh identik dengan pisang *dizabimaru*

Hanamori Halibel Kuchiki : Hot? Wahaha.. Hitsu kurang kerjaan tuh makanya gitu. Okeh, makasih.

Namie Amalia males login : Perasaan lo males login mulu yah *plaak! Tau tuh apa yang ada di pikiran babu sarap gw.

Rukiahinata : Jangankan anda saia juga merasa cerita ini aneh. Tapi gimana lah ini fic dibuat saat gw masih cemen dalam pengetahuan fic. Hehe. Oke, makasih sarannya.

Jane : Ohh.. Makasih ^_^

Neni Louph Hitsu : Makasih! Iya berkat doamu UN gw sukses. Haha..

Soraguene Akira : Jiaah... Cuma gitu doank! *ngeplok Akira pake clurit*

Tenshi_Yuki_KamiMaru : Hehe. Gomen, chap depan saia tambahin kok porsi Hisagi.

YUKI-chan : Gomeeen.. Chapter depan ada deh ntar Hisaginya.

Cioneng : Gagap bu? Mau nyaingin Aziz? *plaaak. Eh, maaf gw jarang nonton One Piece jadi ga tau chara-charanya.

Vamput* Amano : Haha.. iya gpp kok. Huum.. boleh liat aja chap-chap depan.

Shaa-havoc : Iyah, gw lebih suka Renji dengan rambut tergerai. Kalo diiket mukanya agak ga elite gitu. *dibankai

Namikaze Amy : Hue HitsuXMayen? Wahaa.. Keenakan ntar Mayennya. Mending Hitsu buat gw!

amA-cHan : Maaf lama. Ini udah update kok. Makasih udah nungguin.

ShiroNeko : Ini udah update bu! Maaf lamaa... *sujud

Hinazuka Airin : Hueleeh dirimu! Ini udah update kok.

Tsuki sora : Gomeen. Ini udah update kok. Maaf ya lama..

Voidy : Hahaha. Begitulah. Makasiih!

Terima kasih atas semua reviewnya dan juga makasih udah mau nunggu fic gaje ini sampe sekarang. Gw mohon reviewnya lagi yah! Onegai~