A/N: Saya membuat ini untuk Infantrum Puisi Challenge (haduh, sekarang saya buat fanfic cuma untuk ngikut challenge nih, mumpung masih liburan). Walau saya nggak jago bikin puisi, tapi yah… please enjoy!

Disclaimer: Kurumada Masami-sensei

~Ungu~

#

#

Kakak, kemarilah!

Kau memanggilku, berlatar senja merekah.

Tawamu terdengar renyah,

Laksana biskuit dikunyah.

Senyummu terkulum indah,

Menari di atas bibir merah.

#

Wahai dunia,

Aku, tentara dewi rasi kedua,

Telah jatuh cinta kepadanya.

#

#

Kakak, ini untukmu!

Tangan pualam berjari lentik,

Tersambung di bahumu yang cilik.

Terulur padaku sekuntum putik,

Bunga ungu bagaikan manik.

Ini hadiah untuk kakak yang baik!

#

Wahai mentari,

Aku, sang penjelajah mimpi,

Telah punya tambatan hati.

#

#

Siapa nama Kakak?

Ah, andai waktu berhenti berdetak.

Mungkin aku tak lagi berpijak.

Terbius akan alunan perak,

Dari suara beningmu yang tak retak.

Aldebaran, jawabku dengan gelak.

#

Wahai bintang,

Aku, sang orang terbuang,

Telah temukan rasa sayang.

#

#

Takut? Pada Kakak? Kenapa?

Kau bertanya.

Kepolosanmu nyata.

Bola matamu membulat tak terima.

Ah, adik kecil tercinta.

Seandainya kau tahu betapa diriku bahagia.

Karena kau menerimaku apa adanya.

#

Wahai rembulan,

Aku, si banteng jantan,

Telah sampai di pelabuhan.

#

#

Kakak, simpanlah bunga dariku!

Itu tandanya aku selalu bersamamu!

Kau selalu, Sayangku.

Selalu.

Tak pernah lagi kurasa pilu.

Setiap kutatap si puspa ungu.

Hadiah darimu.

Bahkan di malam naas itu.

#

Wahai rumput,

Aku, yang tak pernah takut,

Telah takluk oleh gadis imut.

#

#

Aku tersenyum,

Membayangkanmu.

Bunga di tanganku harum,

Laksana dirimu.

Kuputar tangkainya,

Terbayang tawamu.

Kubelai kelopaknya,

Terukir wajahmu.

#

Itu, Sayang,

Adalah hal terakhir yang kukenang.

Itu, Manis,

Adalah malam yang tragis.

Itu, Sayang,

Adalah tanda mulainya perang.

Ditabuhnya genderang.

Dan jiwa-jiwa melayang.

#

Aku dua puluh,

Kau sepuluh.

Aku raksasa,

Kau seperempatnya.

Aku tak tampan,

Kau rupawan.

Aku binasa,

Kau hidup di sana.

#

Hiduplah, hiduplah terus, Sayangku.

Maaf, aku tak lagi bisa menemanimu.

Namun selamanya takkan hilang dari hatiku,

Kepingan memori nan indah itu.

Ketika aku di bawah langit biru,

Bersamamu.

Wahai gadis kecilku,

Aku mencintaimu.

The End

#

#