Akhirnya... sudah sampe juga di chapter paling terakhir... betapa senangnya ^^... juga sedih... T-T

Yahhh... tapi tenang aja... kan masih ada bagian 2... ^^ Hehehe...

Jadi, sekedar pemberitahuan, di bagian 2 tuh nggak bakalan pake 3rd PERSON POV lagi! Tapi pake 1st PERSON POV! Personnya tuh bisa Lu Xun, Yangmei, dan mungkin nantinya bakal Zhao Yun, Zhou Ying, ato chara-chara yang laen... ^^ Hehehe... alasannya saya pindahkan POVnya yah... karena nulis 1st PERSON POV itu lebih enak, kayaknya bisa lebih menjiwai... hohohoho... (yah moga2 aja nggak sangking menjiwainya sampe terkesan lebay... XD)

Ehm, chapter ini adalah pertama kali saya menggunakan 1st PERSON POV di cerita ini... silahkan dibaca... ^^


Lu Xun

Satu minggu begitu cepatnya berlalu, dan aku masih tidak bisa melakukan apa-apa.

Meimei... apa yang harus kulakukan? Bagaimana caraku menolongmu? Apa kau tidak pernah sadar kalau kucing yang selalu kubawa-bawa adalah Lu Xun yang kau cari-cari itu? Kenapa sekarang kau tertangkap lagi? Apa yang harus kulakukan kali ini?

Aku masih berwujud kucing, dan tidak ada yang bisa kulakukan. Sima Yi, Penasihat Wei itu, telah mengurungku dalam kurungan besi yang kuat. Dia cerdik sekali. Tapi, tidak tahu bagaimana caranya, aku harus mengalahkan kecerdikannya itu, kalau tidak mau sampai Yangmei selama-lamanya menjadi milik Cao Pi.

Pintu ruangan yang gelap itu terbuka, dan sekali lagi aku melihat Sima Yi masuk. Aku sudah muak melihatnya! Aku hanya membuang muka, sambil pura-pura tidak memperhatikan kedatangannya.

Di luar dugaan, ternyata dia mengeluarkanku dari kurungan besi ini. Sambil memegang tengukku, ia memaksaku menatapnya. Ketika melihat mukanya yang licik itu, aku ingin sekali menggunakan kedua cakarku itu untuk mencakarnya.

"Lu Xun..." Katanya sambil memainkan ekorku dengan tangannya yang satunya. "Tahukah kau? Hari ini pernikahan Pangeran Cao Pi dan Yangmei akan diadakan."

Bodoh. Tentu saja aku tahu. Bagaimana aku bisa tidak? Meski sebentar lagi dia akan menjadi istri Cao Pi, dalam hati aku masih menganggapnya tunanganku.

"Ternyata omonganmu itu hanya gertakan saja, ya? Kukira dalam waktu seminggu ini kau memang akan melakukan sesuatu."

Benar. Tapi bagaimana caranya, aku waktu itu sama sekali belum memikirkannya.

"Kalau begitu, jangan harap kau bisa melihat Yangmei lagi."

Aku benar-benar tidak tahan dengan ucapannya yang sombong itu. Dengan kelicikannya, dengan segala trik kotornya, dengan rencana jahatnya pada Yangmei, semuanya. Laki-laki ini jugalah yang telah merubahku menjadi kucing, dan entah bagaimana caranya aku harus bisa kembali ke wujud asliku.

Namun apa yang dia lakukan ternyata sungguh diluar dugaanku. Dari pinggangnya ia mengeluarkan sebilah belati, kemudian mendekatkannya ke leherku. Aku hanya bisa menatapnya dengan mata lebar. "Dan dengan begitu, Lu Xun, kurasa tidak ada gunanya kau hidup lagi. Aku salah, seharusnya waktu itu aku tidak menghentikan Pangeran Cao Pi untuk membunuhmu."

Pisau yang berkilat-kilat ketajamannya itu mulai mengiris kulitku. Tidak! Aku tidak boleh mati sekarang! Tidak pada saat Yangmei masih dalam bahaya! Aku bersedia untuk mati seperti di He Fei dulu jika Yangmei sudah aman, tetapi kalau dia masih dalam bahaya, bagaimana aku bisa meninggalkannya sendirian?

Tapi, dalam keadaanku seperti kucing ini, bisakah kulakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri?

"Sebentar lagi upacara penghormatan pada Langit, Bumi, kedua orangtua, dan sesama pengantin akan dilaksanakan."

Tidak... kalau sampai itu selesai dilaksanakan... maka menurut tradisi China, Yangmei akan selamanya menjadi milik Cao Pi.

"Sayang kau tidak bisa memberi mereka ucapan selamat, ya?"

Jangankan menyelamati, melihatpun aku tidak sudi! Tidak mungkin ini akan kubiarkan terjadi. Biarlah, mungkin setelah pertaruhan ini aku akan mati, tapi kalau aku diam saja aku pun akan mati. Kenekatanku akhirnya mengalahkan akal sehat, dan dengan sekuat tenaga aku menggerakkan kepalaku, kemudian menggigit pisau itu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan mata pisau yang tajam itu yang sekarang merobek mulutku. Sebelum Sima Yi sempat memulihkan keterkejutannya, aku menggerakkan pisau itu. Tepat mengenai tangannya!

"AH! Sialan kau!" Sima Yi melepaskanku karena kesakitan. Tanpa menunggu waktu, aku langsung melesat keluar dari ruangan itu, dan tidak sampai beberapa detik kemudian aku sudah berada di luar. Pisau berdarah itu masih kugigit dengan gigiku sekuat-kuatnya, kalau-kalau nanti tengah jalan akan terjadi sesuatu.

"Kembali kau! Kembali, kucing sialan!"

Hmph! Tidak akan!

Aku berlari sementara Sima Yi mengejarku. Tak lama, aku pun sampai ke halaman istana Wei yang berbatu itu. Di sanalah pesta pernikahan terkutuk itu diadakan. Banyak orang yang berkumpul sambil berusaha melihat kedua pengantin. Keadaan ini menguntungkanku. Aku bisa menerobos kerumunan orang itu jauh lebih mudah dari Sima Yi, sambil mencari-cari dimana Yangmei berada. Merasa pisau itu tidak kubutuhkan lagi, aku melepaskannya.

Mataku akhirnya melihat sosoknya di depan sebuah aula yang sangat megah dan besar. Di sanalah Yangmei berdiri... bersama Cao Pi.

Tinggal sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi aku akan sampai padanya. Kali ini akan kulakukan apapun agar ia tahu aku ini Lu Xun. Mungkin selama-lamanya aku akan tetap dalam wujud seperti ini, tetapi aku hanya ingin satu hal.

Aku hanya ingin dia tahu aku tidak mengingkari janjiku. Aku hanya ingin dia tahu aku terus bersamanya dan tidak akan pernah meninggalkannya. Entah dalam wujud kucing atau manusia, asal tetap bisa bersamanya dan melindunginya, akan kulakukan apa saja.

Entah kenapa, apakah perasaanku saja atau bukan, jalan menuju aula itu sangat panjang dan tidak ada habisnya. Lantai batu berukir yang kupijak ini seperti bergerak membawaku ke sana, dan tangga-tangga yang menuntunku kepadanya seperti tidak pernah berhenti untuk menyemangatiku. Meski begitu, perjalanan ini seolah tidak ada habisnya.

Dalam benakku, tiba-tiba terlintas segala kejadian yang sudah terjadi seumur hidupku. Aku teringat saat Cao Cao menyerang Wujun, tempat tinggalku dulu. Aku teringat saat aku akhirnya harus tinggal bersama pamanku di Lu Jiang. Aku teringat saat pertama kali aku melihat Yangmei dan bagaimana kehidupanku sesudah itu di istana. Aku teringat segala kejadian masa kecil yang kami lewati, bahkan saat dimana aku mengajarinya.

Namun ingatan yang berputar di otakku tidak hanya sampai di situ.

Tiba-tiba seolah-olah pemandangan di sisi kanan dan kiriku yang penuh dengan manusia itu berubah seluruhnya. Aku seperti melihat layar yang bergerak menunjukkan seluruh kejadian yang kualami. Kali ini, aku melihat Yangmei yang pertama kali memamerkan kekuatannya di Xu Chang, kemudian bagaimana Cao Pi dan Sima Yi berencana untuk mendapatkannya. Aku melihat Yangmei yang menyusup pada keberangkatan kami ke He Fei, yang akhirnya semakin membuat masalah berlarut-larut. Yang hampir membuatku berhenti berlari adalah pemandangan jembatan He Fei itu. Jembatan perpisahan dimana Yangmei terakhir kali melihatku sebagai manusia.

Sesudah itu, apa yang kulalui tidaklah mudah, bahkan sampai detik ini. Bagaimana aku bisa hidup sampai sekarang, sementara Kaisar Sun Ce sudah dibunuh di benteng He Fei itu membuatku heran. Apa memang aku tidak boleh mati sebelum memastikan Yangmei dalam keadaan yang aman?

Tapi... kenapa?

Kenapa seorang Yangmei? Apa mungkin memang benar apa yang dikatakannya, waktu ia mengatakan bahwa aku adalah malaikat yang diutus Tian khusus untuk melindunginya? Apakah itu benar? Entah benar atau tidak, aku sama sekali tidak akan membiarkan Yangmei dalam bahaya, itulah hal yang kuyakini.

Jika kupikir-pikir, bukankah ini semua adalah kesalahannya? Bukankah dia yang tidak mempedulikan peringatanku di Xu Chang waktu itu? Bukankah dia yang dengan nakalnya menyusup ikut ke dalam perang He Fei? Bukankah saat itu dia sendiri yang bertindak gegabah lari ke benteng Wei sampai aku yang harus menyelamatkannya? Bukankah semua yang ia lakukan itu pada akhirnya hanya menimbulkan mengakibatkan apa yang terjadi padaku saat ini?

Mungkin Cao Pi, Sima Yi, Kaisar Sun Ce, Permaisuri Da Qiao, Zhou Ying, bahkan Huo Li pun benar saat mereka bertanya kenapa aku bisa menyayangi Yangmei, dan dengan tidak hentinya menolongnya dalam keadaan apapun meski taruhannya adalah nyawaku sendiri. Mungkin mereka pantas untuk merasa heran, dan justru akulah yang aneh jika aku tidak menyadarinya.

Jadi, bukankah aku harus berhenti?

Seiring dengan langkah-langkah yang sudah kulalui, aku merasa kakiku semakin lelah. Bukan hanya karena berlari, tetapi karena pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang harus kujawab satu per satu. Aku ingat malam saat Cao Pi menanyaiku. Aku ingat hari dimana Kaisar Sun Ce bertanya padaku tentang hal itu sebelum kematiannya. Bahkan aku ingat bagaimana Huo Li yang dengan otak binatangnya itu berusaha mengerti jawabanku. Aku teringat bagaimana mereka tidak bisa memahami alasan itu.

Tapi aku tidak bohong saat mengatakannya. Aku memang mencintainya. Aku tidak peduli apa saja yang telah dia lakukan sampai membuatku seperti ini. Aku tidak peduli kalau dia tidak sadar apa yang selama ini kulakukan untuknya. Aku tidak peduli betapa berbedanya dia saat pertama kali aku bertemu dengannya dibanding sekarang ini.

Bahkan aku tidak peduli apakah dia masih menyayangiku atau tidak dengan wujudku yang seperti ini.

Aku cuma peduli satu hal. Aku sayang padanya, dan aku tidak akan berhenti menyayanginya sampai Phoenix bukan lagi menyebar kedamaian tetapi kebencian, yang sama sekali tidak mungkin terjadi.

Artinya, sampai kapanpun aku akan selalu mencintainya, tidak peduli apapun yang terjadi. Dan itulah yang membuat kakiku sekali lagi menambah kecepatannya. Aku tidak akan menyerah! Aku tidak akan menyerah di tempat ini! Bukankah aku sendiri yang pernah berjanji padanya tidak akan pernah meninggalkannya sampai kapanpun?

Aneh, biasanya seseorang akan melihat semua kejadian masa lalunya ketika ia akan mati. Saat ini, aku sudah seperti melihat masa laluku diputar di depan mataku. Segala kesedihan dan kesenangan, keberhasilan dan kegagalan, kebanggaan dan rasa malu, semuanya sudah ada dalam pikiranku sekali lagi. Jadi, apakah aku akan mati sekarang?

Tanpa terasa, anak tangga terakhir sudah kupijak. Jarak antara aku dan Yangmei sangat dekat sekali sekarang. Yangmei sekarang memegang sebuah gelas berisi arak xi jiu yang digunakan saat pernikahan. Sedikit lagi, sedikit lagi aku akan sampai padanya. Tidak ada sama sekali yang menyadari kehadiran kucing sepertiku, sampai tiba-tiba tanpa kusadari Sima Yi pun menerobos kerumunan itu untuk mengejarku.

Aku melompat, sekuat apapun kedua kaki belakangku mengizinkan. Kepalaku langsung menumbuk cangkir arak di tangan Yangmei, dan saat itu juga cangkir itu jatuh ke tanah sebelum pecah berkeping-keping. Tetapi seiring dengan jatuhnya cangkir itu, Sima Yi pun melepaskan serangannya.

Serangan itu sampai padaku tepat saat Yangmei menangkap tubuh kucingku. Aku mendengarnya menjerit meneriakkan namaku sebagai kucing peliharaannya. Rupanya dia masih belum sadar aku adalah Lu Xun.

Senar itu dicabut dari tubuhku, tetapi aku tidak punya cukup tenaga dan waktu untuk peduli akan hal itu. Aku menatap Yangmei lekat-lekat sementara kesadaranku semakin lama semakin menghilang. Dalam mataku, aku menyampaikan beribu pesan untuknya, termasuk kebenaran bahwa sesungguhnya aku adalah Lu Xun yang dicarinya selama ini.

Air mata Yangmei mengalir deras sementara ia tetap menyerukan namaku. Tidak, kali ini yang ia serukan bukan namaku sebagai kucing, tetapi namaku! Tahulah aku akhirnya dia mengetahui yang sesungguhnya.

Yangmei... kau sudah menemukanku, dan aku juga menemukanmu... kumohon, jangan menangis lagi... aku tidak suka kamu menangis untukku...

Mataku perlahan-lahan tertutup.

Yangmei... aku sayang padamu...

-o-o-o-o-o-o-

Yangmei

Aku sudah menduganya dari dulu.

Aku sudah samar-samar bisa merasakan bahwa Li Mao, kucing kecil berbulu kuning keemasan ini adalah Lu Xun yang kucari-cari. Mereka punya mata emas yang sama, punya kelembutan yang sama. Keduanya sama-sama suka didekati burung-burung, yang selalu berhasil membuatku cemburu. Kedua-duanya sama-sama memberikan rasa aman padaku. Kedua-duanya sama-sama selalu bersamaku.

Dan kedua-duanya sama-sama rela mengorbankan nyawanya sendiri untukku.

Sama seperti saat ini. Aku tahu melalui tatapan matanya yang melembut itu sebelum tertutup sebelumnya, bahwa sejak dulu memang Lu Xun tidak akan pernah meninggalkanku. Ia hanya berada dalam bentuk kucing, entah kenapa.

Bodohnya aku, kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu? Kenapa harus menunggu sampai aku terjebak di tempat ini baru aku sadar? Kalau saja aku tahu sebelumnya, mungkin aku bisa menggunakan kekuatanku untuk menyembuhkannya sebelum kami terjebak di tempat ini.

Tiba-tiba angin bertiup keras sekali, entah apa maksudnya. Langit mulai gelap. Aneh, padahal sebelumnya masih terang seperti biasa. Tanpa kusadari, kerudung pengantin yang kugunakan untuk menutup wajahku itu diterbangkan angin. Biasanya ini tidak boleh sampai terjadi. Wajah seorang pengantin wanita hanya boleh dilihat pengantin pria saat mereka melewati malam pertama.

Itulah saat aku bisa melihat matanya yang akhirnya tertutup sepenuhnya. Dari punggungnya yang terkena serangan senar Sima Yi yang tajam itu, aku melihat darah mengalir. Awalnya hanya pelan saja, tetapi semakin lama semakin deras. Begitu juga dengan hujan yang sekarang mulai turun membasahi kami. Hujan itu datangnya tiba-tiba, dan ketika itu terjadi hadirin langsung bubar sambil berusaha mencari tempat berteduh. Kerudungku yang terjatuh kugunakan untuk menyelimuti tubuh Lu Xun yang berwujud kucing itu.

"Lu Xun..."

Kuguncang sedikit tubuhnya, meski aku tahu dia tidak mungkin bisa mendengarku.

"Lu Xun... bangun..."

Tidak ada jawaban.

Tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi. Suara licik Cao Pi. Suara orang yang membuat Lu Xun yang kusayangi sampai seperti ini. Aku begitu membencinya, aku sangat benci kepadanya sampai kalau boleh memohon apa saja pada Tian, aku akan minta agar dia mati saat itu juga dan dibawa ke dasar neraka.

"Akhirnya kau tahu juga kalau kucing ini adalah dia yang kau cari-cari..."

Iya... dan kenapa kau tidak mau memberitahuku sebelumnya?

"Bukankah menarik melihatnya sebagai kucing?"

Tanganku mengepal, hampir saja aku memukulnya kalau aku tidak menggendong Lu Xun.

"Sayang kau mengetahuinya saat dia sudah mati."

Mati? Tidak! Lu Xun tidak akan mati! Dia tidak akan meninggalkanku sendirian di tempat seperti ini, terumata bersama buaya licik sepertimu, Cao Pi.

"Kau jangan gila." Balasku sambil memicingkan mataku yang berair ke arahnya. Atas perbuatannya ini, dia harus mati. Sekarang tahulah aku mengapa Lu Xun bisa seperti ini. Cao Pi-lah, yang dengan bantuan Sima Yi, telah mengubahnya menjadi kucing. "Dia tidak akan mati hanya karena serangan payah itu."

Mengubah Lu Xun menjadi kucing... kenapa? Kenapa mereka harus melakukan itu? Apa mereka sedang berusaha membuat Lu Xun tetap hidup, tetapi menjalani kehidupan yang lebih parah daripada kematian? Kenapa? Tidak hanya itu pertanyaan yang ada di kepalaku. Kenapa mereka bahkan menyiksanya habis-habisan seperti itu di He Fei? Apa yang sebenarnya dilakukan Lu Xun pada mereka? Apa Lu Xun pernah berbuat sesuatu yang jahat pada mereka? Atau seandainya ia tidak pernah melakukan kejahatan apapun pada mereka, apakah dia pantas mendapatkan ini semua?

Tidak! Harusnya yang mengalaminya adalah aku! Harusnya yang berada di benteng Wei saat itu adalah aku! Akulah yang harusnya menerima semua ini! Bukan Lu Xun! Sedikitpun Lu Xun tidak melakukan kesalahan apapun. Justru sebaliknya, ia berulang kali melakukan kebaikan baik untukku maupun untuk orang lain, dan bahkan dialah yang berusaha memperbaiki semua kesalahanku.

Jadi, kenapa sekarang dia harus tergeletak tak berdaya dalam gendonganku?

Sebelum matanya tertutup, aku mendapatkan jawabannya itu. Jawaban yang sama sekali tidak masuk akal untukku, jawaban yang luar biasa mengherankan. Tetapi pada saat yang sama adalah jawaban yang luar biasa tulus.

Dia hanya mengatakan dia sayang padaku.

Itu saja, tidak ada alasan lain. Apapun yang dia lakukan ini, semua ini adalah untuk menunjukkan bahwa dia menyayangiku, bahwa dia bersedia menerima apapun asalkan aku tidak dalam bahaya, asalkan aku tidak mendapatkan hukuman apapun atas semua kesalahanku.

Sangking tidak masuk akalnya jawaban itu, aku sampai merasa itu seperti kebohongan. Kebohongan yang sangat indah.

Tetapi aku tahu Lu Xun tidak main-main sebelum ia mungkin akan menutup mata selamanya. Aku tahu perkataannya itu jujur, dari dalam hatinya. Dia bukan menyayangiku karena aku melakukan sesuatu yang baik untuknya. Dia bukan menolongku karena aku putri, karena aku punya kekuatan Huang, karena aku cantik, karena apa saja. Dia cuma menyayangiku karena... ya hanya karena dia ingin menyayangiku.

Tiba-tiba kebohongan yang indah itu menjadi sebuah kenyataan. Tetapi bukan kenyataan indah yang kulihat. Malah sebaliknya, kenyataan yang pahit dan menyakitkan.

Cintanya padaku menjadi hal yang menyakitkanku saat aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalasnya. Bukan hanya itu, aku hanya membuatnya semakin menderita saja. Keberadaanku di sisinya seperti duri yang akan terus menjeratnya, yang membuat penderitaannya selamanya tidak akan pernah habis.

Mungkin jika aku adalah bunga, maka aku akan menjadi bunga mawar. Aku adalah setangkai bunga mawar berduri yang bahkan beracun. Karena itulah aku dibuang dan diinjak orang, sampai aku tergeletak begitu saja di tengah semak duri yang siap menusuk siapapun yang berani mendekatinya. Tidak ada yang akan peduli padaku, karena aku hanyalah mawar layu yang beracun dan berduri.

Tapi ada kalanya mawar itu tidak dibuang orang. Lu Xun seperti orang yang mengulurkan tangannya, tidak peduli seberapa banyaknya duri-duri yang menusuknya. Kemudian saat menyentuhku pun, aku tidak bisa menghilangkan duri-duri di tangkaiku, seingin apapun aku.

Karena aku ini hanya akan menyakitinya. Keberadaanku selama-lamanya hanya akan menyakitinya.

Tapi dia tidak mempedulikan itu. Bahkan pada saat melihat kelopak-kelopakku yang layu, dia tidak kelihatan kecewa dan malah membawaku bersamanya, meski dia harus tetap memegang tangkaiku yang berduri.

Seperti itulah Lu Xun untukku. Apa dia sadar, bahwa segala hal yang sudah dilakukannya ini lebih dari cukup?

Jadi aku akan berusaha melakukan sesuatu untuknya. Sebagai pemilik kekuatan Huang, memang inilah satu-satunya yang bisa kulakukan. Seperti yang kulakukan pertama kali saat ia melindungiku, untuk pertama kalinya.

Entah apakah dia akan senang jika ia harus membuka matanya dan bertemu denganku lagi yang menjadi sumber segala penderitaannya. Tetapi aku hanya tidak ingin kehilangan dia. Aku sudah susah payah menemukannya, dan tidak mungkin aku akan membiarkannya mati semudah itu.

Jadi, aku menggunakan kekuatanku. Tubuhku dan tubuh Lu Xun bersinar saat itu juga. Cao Pi, Sima Yi, bahkan semua yang melihatku langsung takjub. Mata mereka terbuka lebar dan mulut mereka menganga sementara cahaya itu semakin lama semakin terang. Aku merasakan kekuatan yang terpancar dari tubuhku ini semakin membuatku melemah, hingga kakiku yang tidak dapat menahan beban tubuhku akhirnya jatuh ke tanah di atas lutut. Lu Xun bukan hanya membutuhkan pemulihan untuk luka yang ia terima, tetapi juga untuk mengembalikan wujudnya sebagai manusia, dan ini membutuhkan kekuatan yang tidak sedikit.

Perlahan-lahan aku melihat tubuh Lu Xun yang bersinar dengan cahaya yang membutakan itu berubah wujud. Ia kembali ke tubuh manusianya. Sampai ia berubah sepenuhnya, barulah cahaya itu lenyap, dan aku berhenti mengeluarkan kekuatanku.

Lu Xun... aku melihat wajahnya yang begitu kurindukan. Sudah berapa bulan aku tidak melihatnya, dan dialah satu-satunya yang tidak bisa hilang dari pikiranku. Perlahan tanganku menyentuh wajah yang tertidur itu. Wajahnya lembut dan polos seperti anak-anak, seolah ia tidak bertumbuh barang sehari pun setelah aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya. Aku merengkuh kepalanya dalam pelukanku, menyandarkannya di dadaku sambil membenamkan wajahku di rambut coklatnya yang halus. Kalau boleh, aku ingin melanjutkan ini sampai kapanpun.

Tetapi, secepat itu pula Cao Pi menarik Lu Xun dari pelukanku. Pangeran Wei yang licik itu menjambak rambutnya dan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. Tidak... apa lagi yang akan dilakukan Cao Pi? Lu Xun baru saja terluka dan tidak sadar. Sekarang, apa dia masih bisa dibilang manusia jika ia menyiksanya dalam keadaan tak sadarkan diri?

"Kau bisa mengubahnya jadi manusia lagi..." Kata Cao Pi dengan suara bergetar karena marah. "Tapi coba lihat apa kau bisa menyelamatkannya kali ini..." Dia mengeluarkan sebilah pedang panjang miliknya.

"Jangan!" Aku langsung maju dan menggengam pedang itu, tidak peduli sama sekali kalau pedang itu akan melukai tanganku. "Kumohon jangan! Lu Xun sudah cukup menderita selama ini!" Kataku masih dengan wajah berlinang air mata. "Cao Pi, aku janji akan melakukan apa yang kau mau! Aku akan memberikanmu kekuatanku asal kau membiarkannya hidup!" Kataku memohon dengan sepenuh hati. Tidak mau... aku tidak mau lagi melihat Lu Xun menderita karena aku, apalagi jika aku harus menyaksikannya di depan mataku.

Cao Pi kelihatan ragu-ragu. Aku tidak berhenti memohon padanya, sambil sesekali melirik pada Lu Xun. "Kumohon... Cao Pi..."

Akhirnya dia tertawa terbahak-bahak kemudian melemparkan Lu Xun seolah dia hanya boneka saja ke lantai berbatu itu. Sebelum aku menghampirinya, Sima Yi sudah berdiri di depan Lu Xun. beberapa prajurit di belakangnya mengangkatnya. Aku menjerit histeris. Apalagi yang akan mereka lakukan? "Tolong! Tolong jangan sakiti Lu Xun!"

Tangan Cao Pi tiba-tiba membelai rambutku, membuatku merinding bukan karena takut tapi karena jijik. "Lu Xun tidak akan kami apa-apakan, Yangmei..." Katanya dengan kelembutan yang dibuat-buat. "Kau tenang saja, ya? Aku tidak akan berlaku buruk padanya, tapi aku juga tidak ingin membiarkannya keluar dari tempat ini."

Jadi, sekarang aku hanya bisa memegang perkataan itu saja. Sementara mereka membawa Lu Xun entah kemana, aku hanya bisa menatapnya, semakin lama semakin jauh, dan aku baru sadar sesuatu.

Inilah terakhir kali aku akan melihatnya.



That's all (for this part)! Yeah!

Masih ada bagian 2... tenang aja... ^^ Rencanaku sih judulnya 'Unbroken Thread' (bagi yang udah baca Note FBku, sori, kayaknya judulnya aku ganti, soalnya kepanjangan dan terkesan lebay... Wkwkwkwkwk... bagian 3 juga bakal aku ganti judulnya...)

Sebelum sodara tutup cerita ini, saya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya buat yang sudah membaca, dan dengan sabar mengikuti cerita yang panjang dan mbuletisasi ini... m(_ _)m. Terlebih lagi buat sodara yang sudah review untuk cerita saya ini... makasih banyak... tanpa review sodara, nggak mungkin saya bakal bersemangat menyelesaikan cerita ini sampe tamat... Kalo boleh, mohon kesediannya untuk tetap mengikuti sampe bagian 2 n bagian 3 juga selesai, ya... ^^ xie xie... m(_ _)m

BTW, sekedar bagi yang mau tahu beberapa trivia yang SANGAT NGGAK PENTING SEKALI, ini beberapa hal yang terjadi pada cerita ini...

1.) Selama nulis, saya sama sekali nggak bisa membayangkan Lu Xun dengan VA yang versi English (yang rada cempreng2 gemana getu...). Lebih suka yang Jepang, tapi kayaknya suaranya yang Jepang terlalu terkesan heroic... Jadi, pada akhirnya saya membayangkan suaranya Lu Xun tuh kayak suaranya (jangan kaget) Jay Zhou, pas nyanyi lagi 'Qing Hua Ci' pas di bagian reff-nya. Coba sodara denger biar lebih ngerti maksud saya... ^^

2.) Pertama kali saya kira suaranya Yangmei bakal cocok kayak suaranya Kunoichi di WO2 versi Jepang. Tapi setelah didenger-denger lagi, ternyata suaranya terlalu 'squeaky'! Akhirnya, jadilah saya membuat Yangmei sambil membayangkan suaranya kayak Joice Guo Meimei pas nyanyi lagu 'Bu Pa Bu Pa' (bahkan namanya juga sama... maaf, ketidak sengajaan... XD). Ato kalo nggak, mungkin kaya suaranya Angela Zhang pas nyanyi 'Aurora'. Sementara Zhou Ying, suaranya sih aku bayangkan kayak suaranya Vicky Zhao Wei pas nyanyi 'Bian Le'...

3.) Selama nulis novel ini, saya selalu terbayang-bayang 2 cerita karangannya seorang penulis Taiwan yang namanya Chiung Yao (Qiong Yao), yaitu 'Kabut Cinta' (Romance in the Rain) n 'Putri Huan Zhu'. Hmmmm... sebenarnya cocok juga, kan? ^^ (maksa sekaleeee... *dinuklir*) Makanya saya SANGAT berharap juga cerita ini nggak terlalu 'melodramatic' alias lebay... XD. Trus entah kenapa juga, setiap kali menulis tentang Zhou Ying, saya selalu teringat sama seorang artis yang namanya Ruby Lin (yang jadi Ziwei di Putri Huan Zhu, ato Rubing di 'Kabut Cinta'). Yahhh... bayanganku tentang Zhou Ying persis kayak getu! ^^
(Owalah mak... romantisnya membayangkan Yiping sama Shuhuan (dari 'Kabut Cinta') lagi bermesra-mesraan... coba kalo itu Yangmei n Lu Xun... XD *dinuklir gara2 ngelantur*)

4.) Akhir2 ini, saya makin jarang maen DW6... Sebaliknya, makin sering nyari fav band saya yang namanya 'DBSK' ato 'TVXQ' ato 'Tohoushinki'. Dan cilakanya, tambah lama bayangan saya tentang Lu Xun di DW6 makin blur dan malah tergantikan dengan seorang anggota band yang namanya Hero AKA Jaejoong... Trus juga Zhao Yun yang dari DW6 bisa blur juga dan tergantikan jadi U-Know AKA Yunhoo... Ampuni saya... m(_ _)m

5.) Kemunculan Guardian Beast (yang baru Bai Hu AKA Jian Bing yang muncul) itu sebenarnya NGGAK DIRENCANAKAN DARI AWAL! Sesudah saya maen DW SF, trus berhadapan dengan para Guardian Beast itu, barulah saya dapat idenya... makanya dari awal nggak pernah disebutkan... XD *ciri author payah...*

Sekian saja info yang sangat nggak penting dari saya... ^^ Terima kasih banyak sekali lagi untuk membaca cerita ini... ^^

Zai Jian~

Dynasty Warrior (c) KOEI

~PyroMystic~
2009-2010