PROMISE

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Pair: Gaara x Naruto

Rate: T

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

E N J O Y

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo

"Sesuai dugaanku," Gaara memandang buku laporan nilai milik Naruto dengan wajah puas. Semua sesuai dengan perkiraannya.

Naruto tersenyum bangga, "memang aku ini tipe yang serius kalau sudah niat," katanya.

Gaara meletakkan buku biru itu di meja belajarnya, "dengan begini, kau benar-benar akan menikmati liburan kali ini tanpa perlu ikut kelas tambahan," dia melirik jam tangannya, "sebagai perayaan... bagaimana kalau kita makan malam di luar?"

"Heh?"

"Bagaimana kalau aku traktir kau... makan ramen sepuasnya?"

"MAU!!" jawab Naruto sepenuh hati.

Gaara nyaris tertawa melihat reaksi Naruto yang begitu jujur. Naruto jadi malu sendiri karenanya.

"Senang melihatmu semangat begitu. Ambil jaketmu dan kita pergi."

"OK!!" dengan penuh semangat, Naruto pun berlari melintasi koridor antara kamar Gaara dan kamarnya. Sedikit brutal, dia pun langsung menarik jaket kesayangnnya dari dalam lemar. Begitu dia keluar kamar, dia melihat Gaara sudah berdiri di dekat tangga.

Lalu keduanya menuruni tangga dan menuju pintu depan. Saat itu Baki keluar dari ruang tamu.

"Anda hendak pergi, tuan muda?" tanyanya.

"Ya."

"Mohon tunggu sebentar, saya akan menyuruh supir bersiap."

Gaara menggeleng pelan, "kami keluar jalan kaki. Dan jangan merepotkan dirimu untukmengikuti kemana kami pergi," ujar Gaara sambil memakai syal dan sarung tangannya.

Kemudian mereka berdua pun meninggalkan rumah megah itu menuju ke daerah pertokoan. Gaara membawa Naruto ke sebuah warung ramen di sudut perempatan jalan. Di tengah udara dingin seperti ini, mereka tidak heran kalau kedai ramen itu penuh sesak.

"Kelihatannya tidak akan nyaman di sini," kata Gaara melihat betapa padatnya isi kedai kecil itu.

Naruto berpikir sebentar, "... aku punya kedai langganan sih. Tapi lumayan jauh dari sini. Kau mau kesana?"

"Kenapa tidak? Sekalian jalan-jalan."

Dua setengah bulan yang lalu, Naruto pasti terheran-heran dengan sikap Gaara yang cukup 'ramah' ini. Tapi sejak mengenalnya lebih dekat, Naruto tahu Gaara tidak begitu menyebalkan seperti penampilannya yang selalu perlente. Gaara cukup 'normal' untuk remaja seusia mereka. Meski memang sifat dasarnya yang pendiam itu tidak bisa diubah, terkadang mereka main game, walau tetap saja ekspresi Gaara tidak berubah, baik saat dia menang atau kalah.

Mereka juga mulai sering ngobrol, terlebih sebelum ujian –sehabis percakapan mereka antar balkon dan kolam renang, tepatnya-. Mereka sering menghabiskan sore sambil menikmati kue dan teh di bawah pohon yang ada di halaman depan rumah Gaara, atau membaca kembali bahan-bahan ujian di perpustakaan.

Dan yang paling mengejutkan untuk Naruto adalah waktu dia terbangun di suatu pagi dan mendadak teringat kalau dia... pernah bertemu Gaara sebelum ini. Dia ingat pernah berjabat tangan dengan anak laki-laki berambut merah dan bermata emerald. Tapi dia belum bisa ingat... kapan dan dimana itu terjadi.

Dipikir lagi... Naruto baru sadar kalau sikap Gaara berubah nyaris 180 derajat adalah tepat saat dia mengatakan hal itu. Mengatakan kalau dia pernah bertemu dengannya.

"Disana," Naruto menunjuk sebuah kedai di dekat taman.

"Cepat, kalau begitu, kecuali kalau kau berniat membuatku membeku di luar sini."

Naruto tertawa mendengar candaan Gaara yang sekarang sering dia dengar, "iya iya... ayo masuk," dan dia pun berjalan duluan memasuki kedai ramen itu.

Setelah memesan 2 porsi besar ramen, mereka duduk di meja kosong yang ada di sudut kedai itu. mereka langsung melepas jaket dan syal karena di dalam kedai sangatlah hangat.

"Aku tidak tahu kau sering main sampai kemari," kata Gaara, "ini kan jauh dari asrama."

Naruto cuma nyengir.

Tak begitu lama, pesanan mereka datang. Kedua remaja itu pun segera menikmati santapan panas yang sangat cocok di tengah udara musim dingin seperti ini. Naruto dengan cepat menghabiskan ramen pertamanya, dia pun segera memesan porsi yang kedua, padahal Gaara belum juga menghabiskan separuh isi mangkuknya.

.

"Kenyaaaang!!" Naruto mengusap perutnya yang terasa penuh sesak. 4 mangkuk besar bertumpuk di sebelahnya.

Gaara tersenyum simpul melihat Naruto yang tampak puas menyantap makanan kegemarannya itu, "sebenarnya aku masih mau beli okonomiyaki untuk camilan di rumah, tapi sepertinya kau sudah kekenyangan."

Saat itu Naruto mengeleng keras, "aku masih sanggup kalau cuma tambah seporsi okonomiyaki lagi," katanya, "tenang saja. perutku ini kuat, kok."

"Itu sih dasarnya kau saja yang rakus," Gaara berdiri dan menuju ke konter untuk membayar apa yang mereka habiskan. Lalu bersama Naruto dia meninggalkan kedai itu dan menuju ke kedai okonomiyaki yang terletak tidak jauh dari tempat itu.

"Kau tunggu di luar saja, ya?! Kelihatannya sepi, jadi pasti cuma sebentar."

"Oke. Kalau begitu aku beli minuman dulu di sana," Naruto menunjuk vending machine yang ada di dekat toko rokok.

Gaara mengangguk sebelum masuk ke kedai. Seperti dugaannya, kedai itu tidak begitu ramai, maka Gaara segera menuju ke kasir untuk memesan 2 porsi okonomiyaki. Sambil menunggu, dia bersandar di meja konter dan melihat sekelompok remaja yang duduk mengitari wajan datar dan membuat okonomiyaki mereka sendiri sambil bercanda.

Belum lama dia melamun sampai tiba-tiba dia terhenyak oleh suara teriakan dari arah luar. Suara Naruto. Tanpa pikir dua kali, Gaara segera melesat keluar dan betapa terkejutnya dia melihat Naruto didesak ke vending machine oleh seorang pria gemuk paruh baya dengan kepala sedikit botak. Pria itu mencengkram pergelangan tangan Naruto dengan kasar dan dia pun memaki-maki.

"LEPASKAN DIA!!" Gaara menarik bagian belakang baju pria itu dan menjauhkannya dari Naruto.

Pria tadi terhuyung dan terjatuh di trotoar. Keributan itu menarik perhatian orang yang berlalu lalang, termasuk mengunjung kedai yang kaget karena salah satu tamu tiba-tiba kabur keluar.

Gaara berdiri di depan Naruto yang gemetaran. Wajahnya pucat dan bisa Gaara rasakan kalau Naruto benar-benar ketakutan. Gaara memandang pria yang mabuk dan masih terduduk di jalan trotoar itu, barulah dia sadar siapa pria itu.

"Kau..." Gaara maju dan mencengkram kerah baju pria itu dan memaksanya berdiri, "jangan berani kau sentuh dia, pemabuk brengsek!!"

Pria itu menyeringai, "apa urusanmu bocah? Kau berniat melindungi pelacur kecil itu?"

Kepalan tangan Gaara telak menghantam wajah pria itu, tapi Gaara tidak melepaskan cengkraman di kerah bajunya, "sekali lagi kau hina dia, aku pastikan hidupmu menderita seumur hidup," ancam Gaara serius.

Tapi pria botak gemuk itu hanya tertawa menghina, "hah, jadi kau sudah punya mangsa baru rupanya Naru Chan. Apa yang sudah kau berikan padanya sampai dia membelamu begini? Pastinya lebih dari apa yang kau beri untukku kan?" dia terkekeh.

"TIDAAAAK!!" Naruto menjerit dan langsung duduk meringkuk sambil meremas kepalanya.

"KAU BAJINGAN!!" Gaara hendak menghajar pria itu lagi, namun saat itu terdengar suara peluit dan muncullah dua orang polisi.

"Hentikan keributan ini," ujar salah seorang polisi yang melepaskan cengkraman tangan Gaara. Sementara polisi yang lain membubarkan kerumunan di sana.

"Ikut kami ke pos, sekarang!" ujar polisi yang berada dekat dengan Gaara itu.

Enggan, Gaara membiarkan polisi itu menggiring pria gemuk itu. Gaara lalu menuju Naruto yang masih gemetaran sambil meringkuk di dekat vending machine.

"Naruto..." Gaara menyentuh pundak pemuda itu.

Naruto mengejang saat merasakan sentuhan Gaara, tapi dengan segera dia merasa rileks lagi.

"Sudah tidak apa-apa. Semua baik-baik saja," bisik Gaara menenangkan. Dia membimbing Naruto berdiri dan berjalan mengikuti polisi yang ada di depannya.

.

Sesampainya di pos, polisi itu menginterogasi si pria itu dan memberi Naruto segelas teh hangat. Gaara menelepon ke rumahnya dan menyuruh Baki menjemput mereka. Lalu dia duduk di sebelah Naruto dan merangkul pundak pemuda itu.

Naruto menangis terisak. Wajahnya masih pucat dan bias ketakutan masih memenuhi kedua matanya. Gaara menyandarkan kepala Naruto di dadanya dan memeluk pemuda itu erat. Lalu dia mengusap-usap punggung Naruto dengan lembut, berusaha menenangkannya.

Sekitar lima belas menit kemudian, Baki datang mengendarai sebuah mobil sedan biasa –paling biasa diantara semua mobil mewah yang ada di garasi rumah Gaara- dan masuk ke dalam pos polisi itu.

"Tuan muda, saya membawa apa yang anda minta," ujar Baki.

"Berikan pada polisi itu. Mereka pasti tahu apa yang harus dilakukan."

Baki pun melaksanakan perintah majikannya, dia beralih menyerahkan amplop coklat yang dia bawa pada polisi. Begitu dibaca, kedua polisi itu langsung panik dan bergegas menelepon markas pusat. Dengan sedikit kekacauan, Baki meminta supaya dia bisa pulang membawa 2 pemuda di depan, kedua polisi itu langsung memberi izin tanpa basa-basi sementara mereka langsung menjebloskan si pria separuh botak itu dalam sel.

.

"Pergilah!" kata Gaara, "aku yang akan menjaganya."

Seperti biasa, dengan patuh Baki melaksanakan perintah, dia segera keluar dari kamar bernuansa oranye itu setelah membungkuk hormat pada salah satu pewaris seluruh kekayaan keluarga Sabaku itu.

Gaara duduk di samping Naruto yang berbaring. Dia pun menyelimuti tubuh pemuda pirang yang kini terasa begitu rapuh itu.

"Gaara..."

Yang dipanggil namanya menggenggam erat jemari Naruto, meyakinkan kalau mereka bersama.

"Gaara... aku..."

"Tenanglah!! Jangan pikirkan apapun. Kau aman disini, Naruto. Kau aman..."

Mendengar itu Naruto mulai menangis. Gaara membiarkannya dan malah memeluknya dengan erat, "aku tahu apa yang terjadi. Dia sudah mendapat balasan yang setimpal, aku yakinkan kau akan hal itu."

Naruto mengangguk dalam pelukan Gaara, tak lama dia pun tertidur dengan wajah basah karena airmata yang tidak berhenti mengalir. Gaara membenahi posisi tidur Naruto dan menyelimutinya.

Diusap-usapnya kepala Naruto dengan lembut, "aku belum bisa janjiku padamu, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menderita lagi... Aku akan menjagamu..."

.

oOo

.

"Tousan, siapa dia?" Gaara kecil memandang pada seorang anak laki-laki berambut pirang yang duduk sendiri di sofa putih yang ada di ruang pesta itu.

"Oh... pastinya itu Naruto, putra tunggal keluarga Namikaze."

"Putra Minato Sama?"

"Iya. Bertemanlah dengannya. Tapi sebelum itu... kita harus menyapa para tamu yang lain."

Dengan patuh Gaara mengikuti langkah ayahnya. Bocah 6 tahun itu telah belajar berlaku jauh lebih dewasa dari usianya. Bukannya dia mengeluh, Gaara senang-senang saja selama itu berarti dia ada dekat dengan ayahnya. Satu-satunya orang tua yang dia miliki.

Setelah berkeliling, akhirnya Gaara 'dibebaskan' oleh ayahnya. Saat itu dia langsung menuju ke sofa putih di sisi kanan ruangan berhias mewah itu. dan dia lihat bocah pirang tadi masih ada di tempat yang sama. Gaara pun segera menghampirinya.

"Hai," sapa Gaara ramah.

Bocah pirang yang sedang menikmati puding di piring kecilnya itu terkejut dan memandang Gaara dengan penuh tanda tanya.

"Namaku Gaara. Sabakuno Gaara," dia mengulurkan tangannya.

"A... aku..."

"Namikaze Naruto kan? Aku pernah bertemu dengan ayahmu, dan kau mirip sekali dengannya."

Anak bernama Naruto kemudian itu tersenyum lalu dia menyambut uluran tangan itu dan menyuruh supaya Gaara duduk di sebelahnya, "kau mau puding? Biar aku ambilkan."

Gaara menggeleng, "gigiku sedang sakit. Tousan melarangku makan apapun yang mengandung gula."

"Oh—sayang sekali. Padahal puding ini enak lho."

Gaara hanya tersenyum simpul dan membiarkan Naruto menghabiskan kudapannya. Pesta terus berlangsung, mengabaikan dua anak kecil yang duduk di sofa putih panjang itu. Gaara pun mengajak Naruto mengobrol. Seperti tentang hobi mereka. Naruto suka bermain air di musim panas. Kadang dia juga betah berlama-lama di kolam renang untuk menghindari sengatan panas. Tak heran kulitnya berwarna kecoklatan, Gaara mengira itu karena dia selalu berenang di siang hari yang terik.

Naruto juga bertanya hobi Gaara, dan saat dijawab, "membaca," Naruto langsung mengatakan, "seperti orang tua saja," dan dia tertawa dengan suara yang lucu.

Lalu mereka mengobrol tentang hal lain. Seperti Gaara yang menceritakan kalau dia punya dua orang kakak, yang malam ini tidak ikut ke pesta karena keduanya terkapar karena flu. Dan Naruto bilang kalau dia tidak punya saudara dan ingin jadi adik Gaara, yang disambut oleh senyuman Gaara.

Namun obrolan menyenangkan itu tak berlangsung lama karena Naruto mulai terlihat bosan dan menguap sesekali.

"Kalau mengantuk, tidur saja. Aku akan menjagamu."

Naruto menguap lagi, tapi dia menolak untuk tidur.

Gaara mengusap-usap kepala Naruto, "aku tidak akan pergi, aku janji."

Senyuman kembali muncul di wajah Naruto saat bocah itu bersandar pada Gaara dan memejamkan matanya. Merasa begitu nyaman dan aman. Tanpa sadar Gaara jadi ikut mengantuk dan akhirnya mereka berdua sama-sama tertidur di sofa itu, mengundang senyum siapapun yang melihat mereka.

.

oOo

.

Gaara terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya dia benar-benar tidak mengantuk lagi. Perlahan dia duduk dan menoleh ke sisi kirinya dimana Naruto masih memejamkan mata dan terlelap dengan nyaman.

Gaara menyibak poni Naruto perlahan supaya tidak membangunkannya. Dia teringat kenangan masa kecilnya. Pertemuan pertamanya dengan Naruto. Dan ada jeda sepuluh tahun untuk pertemuan mereka yang kedua, dengan kondisi dimana Naruto lupa padanya.

Dan setelah penyelidikan, Gaara baru tahu kalau Naruto mengalami shock yang luar biasa hingga dia kehilangan beberapa ingatannya. Sejak menerima kabar tentang kebakaran yang menewaskan suami istri Namikaze, Gaara sudah membujuk ayahnya untuk merawat Naruto. Dikabulkan, namun saat itu hak asuh Naruto sudah jatuh ke tangan seseorang bernama Sarutobi, seorang guru kaligrafi ternama yang dikenal sebagai orang terdekat dari Minato.

Meski begitu, Gaara tak melepaskan pandangan dan terus memantau perkembangan Naruto. Tak sulit dengan jaringan koneksi dan kekuasaan ayahnya sebagai salah satu pengusaha tersukses di Jepang ini.

Kelegaan karena Naruto tampak bahagia tinggal bersama 'kakek'nya musnah saat Gaara duduk di kelas 3 SMP. Sarutobi meninggal karena sakit dan Naruto di rawat oleh sebuah keluarga yang mengaku sebagai kerabat jauh Kushina, ibu Naruto.

Namun dari penyelidikan Gaara, dia tahu kalau keluarga itu penipu. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Naruto dan hanya mengincar harta warisan keluarga Namikaze saja.

Saat Gaara meminta bantuan sang ayah, dia malah mendapat tantangan dari ayahnya.

"Jika kau menginginkan sesuatu, dapatkan dengan menggunakan kemampuanmu sendiri."

Kata-kata itu menjadi motivasi Gaara untuk 'mengambil' kembali Naruto dari tangan para penipu itu. Untungnya sang ayah masih mengizinkan Gaara menggunakan seluruh akses dan aset keluarga.

Dan saat dia lulus SMP, Gaara mendapat kabar mengejutkan dari para 'agen intel'nya -yang bertugas mengikuti Naruto sepanjang 24 jam dalam seminggu- bahwa Naruto telah dilecehkan secara fisik dan mental oleh kepala keluarga tempatnya tinggal itu. Gaara nyaris saja hilang kendali, tapi dia beruntung karena saat kejadian itu, seluruh keluarganya –yang sebenarnya menetap di London- sedang ada di Jepang, hingga Gaara bisa memikirkan jalan keluar dengan kepala dingin.

Cara yang dipakai Gaara ada dengan memberikan beasiswa pada Naruto ke perguruan Nishiyama. Perguruan yang terdiri dari SMP dan SMA dengan sistem asrama. Setidaknya itu menjauhkan Naruto dari keluarga biadab itu. Sejak masuk asrama—kelakuan Naruto berubah total, tak terkendali dan lebih cepat emosi, bahkan memakai nama keluarga ibunya, Uzumaki. Gaara hanya bisa memaklumi itu sebagai pelampiasan apa yang dirasakan oleh Naruto saat itu...

.

Gaara tersadar dari lamunan panjangnya saat melihat Naruto mulai terbangun. Setelah beberapa detik, akhirnya Naruto membuka matanya juga.

"Ohayou," sapa Gaara pelan, tidak ingin mengejutkan Naruto.

Tampaknya berhasil, karena Naruto tersenyum, "... seperti dulu, ya? Kau tidur sambil memelukku."

Kali ini Gaara benar-benar terkejut, "Naruto... k-kau sudah ingat?"

Naruto tersenyum dan mengangguk, "tadi aku bermimpi, saat pertemuan kita di pesta itu. Aku mengantuk dan kau memelukku, berjanji kalau kau tidak akan pergi. Saat itu rasanya nyaman sekali," dia memandang Gaara, "dan kau menepati janjimu... kau tidak pergi."

Gaara mengusap wajah Naruto, "aku senang kau sudah ingat padaku. Mulai sekarang—aku tidak akan melepaskanmu lagi."

Naruto memanjakan diri dalam pelukan Gaara yang sehangat pelukan ibu dan ayahnya...

.

Usai sarapan pagi, Gaara dan Naruto duduk dengan santai di salah satu ruang santai di rumah besar itu. Mereka berdua duduk berdampingan di sofa panjang yang menghadap ke halaman yang mulai ditutupi salju.

Gaara lalu menceritakan semua yang dia lakukan sejak menerima kabar kematian kedua orang tua Naruto. Pemuda pirang itu tak tahu harus mengucapkan apa pada Gaara, jelas 'terima kasih' saja tidak akan cukup membalas apa yang sudah dilakukan Gaara untuknya. Tapi Gaara hanya menjawab kalau nilai-nilai Naruto yang memuaskan sudah cukup untuk membayar semua. Naruto tertawa mendengar nada humor di suara Gaara.

Setelahnya mereka menikmati hari dengan santai, sungguh akhir pekan yang sempurna. Malam harinya Gaara dan Naruto mendapat kabar kalau keluarga penipu itu telah mendapat hukuman kurungan, kecuali anaknya –remaja berandal berumur 18 tahun- yang masuk ke instalasi khusus anak-anak yang bermasalah. Gaara mengacak rambut Naruto dengan sebuah senyuman puas menghias wajahnya. Naruto pun tampak senang karena mimpi buruknya sudah berakhir.

Saat mereka akan tidur, Naruto kembali mendapati kalau dirinya aman dalam pelukan Gaara.

"Kau akan ada disini saat aku bangun nanti 'kan?"

"Ya, Naruto. Aku akan ada disini. Aku janji."

Naruto tersenyum, "kalau begitu aku tenang, karena kau selalu menepati janjimu."

Gaara ikut tersenyum, lalu dia mengusap pipi Naruto, kali ini dengan sengaja menyentuh bibir Naruto dengan ibu jarinya. Dia sudah mengerti benar apa yang dia rasakan terhadap Naruto saat ini. Dan pastinya dia telah terpesona oleh mata biru bening itu sejak pertama mereka bertemu.

Naruto sendiri langsung memejamkan mata dan membiarkan saat bibir Gaara menyentuh bibirnya dalam sentuhan yang sangat lembut, sentuhan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Seolah kini seluruh beban dalam dirinya menguap dan meninggalkannya hanya dengan seluruh kebahagiaan yang pernah dia rasakan...

.

#

.

"HACHHUUU!!!" ketiga kalinya Naruto bersin dalam dua menit ini.

Gaara menempelkan plester kompres di kening pemuda pirang itu, "dasar kau ini. Masa begitu saja kena flu, sih?"

Naruto cemberut, "ga adil. Padahal kan kita tidur sama-sama ga pakai baju. Kenapa cuma aku yang kena flu?"

"Karena aku lebih tahan dingin dibandingkan denganmu," Gaara menyelipkan termometer di mulut Naruto yang membuat si pirang itu pasrah dan tidak protes lagi. Setelah bunyi 'pip' pelan dari termometer digital itu, Gaara memeriksa suhunya, "37. lumayan juga," dia menyelimuti Naruto.

"Aku lapar..."

"Sebentar lagi pelayan datang membawa sarapan untukmu," Gaara menyimpan termometer itu dalam wadahnya. Seperti kata Gaara, tak begitu lama, pelayan datang sambil membawa semangkuk bubur dan air putih untuk Naruto.

Gaara menerima mangkuk dan cangkir itu, si pelayan mengajukan diri untuk merawat Naruto tapi Gaara segera menolak. Dia pun menyuruh pelayan itu pergi.

"Aku bisa makan sendiri," kata Naruto sewot saat Gaara mengambil posisi untuk menyuapinya, pemuda pirang itu susah payah untuk duduk dan menyambar mangkuk dari tangan Gaara.

"Kau ini sama sekali tidak manis. Padahal kalau sakit biasanya orang suka manja 'kan?"

"Dan maaf kalau aku bukan anak manja," Naruto menyendok bubur panas itu lalu meniupnya.

Gaara tersenyum tipis, "bukan anak manja, ya? Terus yang tadi malam merengek supaya aku tidak pergi itu siapa?"

Muka Naruto berubah merah padam, "aku tidak merengek!!" serunya.

Gaara tersenyum dan mengacak rambut Naruto, "tapi aku tidak keberatan dengan sifatmu yang seperti itu."

Naruto menggembungkan pipinya dan menghabiskan isi mangkuknya dengan cepat. Gaara lalu memberikan obat pada Naruto yang langsung meminumnya.

"Sekarang tidurlah!" Gaara menyuruh pemuda pirang itu berbaring lagi.

Naruto menurut dan membiarkan Gaara menyelimutinya, "kau... tidak akan pergi kan?"

"Tidak akan," Gaara duduk di sisi Naruto, membiarkan pemuda itu menyandarkan kepala di dadanya, "aku akan tetap disini. Sampai kau bosan padaku."

"Aku tidak akan bosan," Naruto bergelung nyaman dalam pelukan Gaara. Dia memejamkan mata dan segera merasa mengantuk saat Gaara mengusap punggungnya dengan begitu lembut. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Naruto terlelap.

Akhirnya Gaara pun ikut berbaring di sebelah Naruto, tanpa melepaskan pelukannya. Saat ini dia merasa begitu utuh. Dia telah mendapatkan kembali serpihan jiwanya yang menghilang. Saat ayah dan kedua kakaknya pulang nanti, Gaara akan memberi tahu semua yang telah terjadi. Itu membuat Gaara tersenyum puas, karena ini berarti dia menang taruhan dengan ayahnya.

Dia berhasil mendapatkan Naruto sebelum dia lulus SMA, itu berarti... Gaara tidak harus ikut ke London dan terbebas dari kewajiban untuk meneruskan usaha keluarga. Yang mana artinya... Gaara akan selalu ada bersama dengan Naruto. Dengan itu—dia tidak membutuhkan apapun lagi di dunia ini.

"Mmm... Gaara..."

Mendengar igauan Naruto, Gaara merapatkan pelukannya pada Naruto dan dia pun ikut memejamkan matanya. Dibungkus dalam selimut hangat, kantuk pun datang membuai Gaara. Pemuda berambut merah itu mencium sekilas bibir Naruto sebelum menutup matanya untuk menyambut mimpi yang pastinya akan menjadi mimpi yang sangat indah.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

THE END

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo

Huff... akhirnya bisa kelar. Padahal niat cuma oneshot—kenapa jadi dua chap begini yak? *Garuk2 pala*

Okeh... ini satu lagi persembahan saia untuk GaaNaru/NaruGaa yang lain. Moga bisa diterima para readers en membuat anda sekalian sudi meripiu. Teehee...