Previously on Can You Do It?...

"Dia Shirota-sama, putri kami. Dia itu adiknya Uruha, tapi ia terlalu dibutakan cintanya pada Uruha."

"Kau dan Uruha? Cih. Seharusnya kau tahu kalau kakakmu itu sudah tewas!"

"T-Tewas, katamu!!?"

"TIDAK!! Kau! Kau bohong! Omong kosong! Uruha bukanlah orang yang akan mati semudah itu!" teriak Shirota.

"Kenyataannya memang itu yang terjadi! Memangnya kaupikir bagaimana mungkin aku dan Ruki bisa bisa sampai ke tempat ini kalau bukan karena Uruha sudah tewas, hah!?"

"DIAM KAU!! DIAAAAAMM!!!" Shirota makin tak bisa mengendalikan dirinya. Ia mulai mengamuk.

Ia melancarkan serangannya ke segala arah. Ke tanah, pohon, dan kemanapun yang ia bisa, walaupun sebenarnya targetnya adalah Ayu. Sementara Ayu hanya bisa melihat gadis didepannya itu dengan tatapan tanpa ekspresi, walaupun sebenarnya dalam hatinya ia merasa iba. Ayu seperti melihat dirinya sendiri saat ia kehilangan Ruka.

Shirota sudah kehabisan tenaga, namun ia tetap tak mau berhenti. Ia tetap saja mengayunkan pedangnya dan berteriak-teriak. Namun lama-kelamaan, teriakannya itu berubah menjadi tangisan. Tangisan yang amat tragis dan menyakitkan. Begitu banyak air mata yang mengucur dari kedua matanya. Hingga akhirnya ia kelelahan dan pedangnya terlepas dari tangannya. Nafasnya mulai tersengal.

"Kurang… ajar…," ucapnya terisak. "Kurang ajar…"

"Terima saja. Akhirnya kemenangan jatuh pada klan Sakaguchi. Uruha mati. Dan kau… Kau akan ditahan karena tuduhan pemberontakan."

Shirota hanya terdiam. Ia tak ingin menjawab. Sesaat kemudian ia mendekati jurang dibelakangnya. Jurang yang sama dengan jurang yang saat itu menelan tubuh Ruka. Jurang yang sama dengan jurang yang menyaksikan kepergian Ayu saat itu.

"Jika aku harus menyusulmu…," ucap Shirota. "…aku akan menyusulmu." Ditatapnya mulut jurang itu lekat-lekat. Gelap. Banyak sekali kabut. Shirota semakin mantap melangkahkan kakinya ke tepi jurang.

"Shirota-sama! Apa yang akan kaulakukan!? Ughk!" teriak Ruki.

Shirota pun membalikkan badannya. Ia lemparkan pedangnya ke atas rumput. Ia langkahkan kakinya semakin dan semakin mundur mendekati jurang. "Sudahlah. Untuk apa aku hidup jika Uruha mati!? Tidak ada gunanya…"

"Shirota-sama! Hentikan!"

"Dan untuk kalian, Sakaguchi! Aku bersumpah suatu hari nanti kalian akan hancur! Satu-persatu diantara kalian akan merasakan penderitaan yang takkan pernah berakhir! Ingat itu!" ucapnya pada Ayu.

"Sakaguchi adalah klan dengan semangat hidup yang membara…"

"Shirota-samaaa!!"

"Kita akan bertarung lagi di alam yang lain…," ucap Shirota sebelum akhirnya ia benar-benar menjatuhkan dirinya kedalam jurang yang dalam dan berkabut itu. Tubuhnya terjatuh bebas kedalam tempat yang sangat dikutuk oleh Ayu itu. Ayu pun melihatnya dengan perasaan campur aduk. Lagi, untuk yang kedua kalinya ia melihat seorang manusia jatuh kembali kedalam jurang itu. Ia seperti melihat rekaman ulang kejadian saat ia kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya…, Ruka.

Itukah arti sebuah pengorbanan? Mungkinkah ia harus melakukan hal yang sama demi Ruka? tanyanya dalam hati.

* * *

"Uruha… Kulakukan ini demi kau…," ucap Shirota dalam hati. Tubuhnya masih terjatuh bebas kedalam jurang. "Aku tak rela jika harus kehilanganmu dengan cara seperti ini…"

"Kaulakukan itu demi aku?" Tiba-tiba suara sang kakak terdengar samar di telinga Shirota.

"Uruha!? Itu kau?"

"Ya, tentu. Kau berada dalam ambang kematianmu, jadi kita bisa bicara."

"Syukurlah. Aku senang sekali."

"Aku belum ingin kau mati, Shirota."

"Apa? Tapi…"

"Aku takkan pernah bisa tenang kalau ambisiku belum tercapai. Dan hanya kau yang bisa melanjutkannya."

"Apa itu? Menghancurkan Sakaguchi?"

"Tidak. Kalau kita ingin mengahncurkan sesuatu, maka hancurkan pemimpinnya. Karena itulah, hancurkan pemimpin Sakaguchi! Hancurkan Sakito! Hancurkan dia!"

"Hancurkan Sakito…?"

"Ya! Buatlah dia menderita! Setelah ia lemah, bunuh dia! Balaskan dendamku padanya!"

"Baiklah. Akan kulakukan apapun perintahmu."

"Bagus. Sekarang kau harus tetap hidup! Setelah itu, hancurkan Sakito seperti yang kuperintahkan!"/i

"Hancurkan Sakito…"

"Hancurkan Sakito!"

Mata Shirota yang tadinya tertutup pun terbelalak. Kedua tangannya spontan bergerak mencoba menggapai batu-batu disepanjang pinggiran jurang. Hingga akhirnya…

Plokk…!

* * *

Ayu dan Ruki akhirnya sampai di daerah pengungsian. Banyak sekali anggota klan Sakaguchi dan Takshima yang berlindung dari peperangan di tempat itu. Mulai dari anak-anak, wanita, orang sakit, hingga lanjut usia, semuanya ada disana. Pemandangan itu membuat Ayu dan Ruki merasa semakin iba. Begitu banyak nyawa-nyawa tak berdosa yag akan mati sia-sia jika mereka tak segera memperingatkan orang-orang itu. Akhirnya mereka pun mencoba semampu mereka untuk menmperingatkan klan mereka masing-masing.

"Kalian harus pergi secepatnya dari sini! Pergilah ke bukit di utara! Daerah itu akan aman!" ujar Ruki.

"Untuk saat ini Sakaguchi harus bekerjasama dengan Takashima untuk menyelamatkan diri! Cepatlah! Waktu kalian tak banyak!" lanjut Ayu.

"Ayu!" tiba-tiba Kyon datang. "Oh, syukurlah kau disini! Kudengar bendungannya akan…"

"Bendungannya akan diledakkan! Kyon, aku butuh bantuanmu!"

"Bantuan? Bantuan apa?"

"Tolong bawa orang-orang Sakaguchi dan Takashima ke bukit di utara sana. Kalau mereka pergi tanpa pimpinan, mereka tidak akan selamat."

"Tapi bagaimana denganmu dan Ruki?"

Ayu tersenyum. "Aku akan menyusul." Gadis itu terpaksa berbohong agar tidak ada perdebatan lagi yang akan membuang-buang waktu.

"Apa sempat?"

"Iya. Pasti sempat. Tolong ya?"

"Baiklah. Aku akan pergi dengan Yuu. Semoga beruntung ya!" ujar Kyon. Gadis itu pun mulai mengarahkan orang-orang didaerah pengungsian itu agar mau pergi ke tempat yang dikatakan Ayu.

Namun tiba-tiba…

DHUUUAAARRR!!!!

Sebuah suara ledakkan terdengar dari arah bendungan di sebelah selatan desa pengungsian itu. Seketika itu juga jutaan kubik air bah tumpah ruah menuju desa itu. Orang-orang di desa itupun panik. Mereka berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing. Keadaan pun seketika menjadi kacau.

"Ah, sial!" umpat Ayu. Gadis itu pun mengalihkan pandangannya ke segala arah, mencoba untuk mencari ide. Sampai akhirnya ia melihat gerbang besar pembatas desa itu. "Ruki-san! Bagaimana kalau kita tutup gerbang itu? Airnya akan tertahan untuk sementara."

"Baiklah. Kau duluan. Akan kusuruh Kyon dan Yuu untuk mengendalikan orang-orang itu!"

Ruki pun pergi. Sementara Ayu mulai mencari tuas penutup gerbang itu. Waktu mereka semakin habis. Ayu sendiri tak yakin apakah ini akan berhasil.

* * *

"Aku berhasil. Semua orang sudah pergi ke tempat yang aman bersama Kyon dan Yuu," ujar Ruki sesampainya ia di tempat Ayu menunggu.

"Bagus. Sekarang tinggal masalah waktu sampai gerbang itu hancur diterjang air."

"Saat itu kita… akan mati, bukan?" tanya Ruki pasrah. Keringat mulai bercucuran dari dahinya.

"Yah. Sepi sekali disini."

Sejenak suasanana menjadi begitu hening. Begitu sunyi. Tak terdengar suara lain selain suara air bendungan yang kian mendekati desa pengungsian itu.

"Kau takut mati…?" tanya Ruki.

"Tidak. Kau?"

"Tentu tidak. Kurasa ini memang hal yang pantas untuk orang sepertiku."

"Kalau begitu kita sama, ya?"

"Begitulah."

"Hei, airnya… mendekat. Gerbangnya akan runtuh…"

"Aku tahu. Senang bisa berjuang bersamamu. Terimakasih, ya," ucap Ruki pelan.

Senyuman terakhir terukir di bibir mereka berdua.

* * *

"Neeyuuu!" tiba-tiba suara Sakito terdengar dari kejauhan. Suaranya yang samara-samar itu terdengar cukup jelas oleh Neeyu. Gadis itu pun membalikkan badannya dan mencari sosok pria yang memanggilnya.

"Sakito!" teriak Neeyu bahagia ketika dilihatnya pria itu berlari mendekatinya. "Syukurlah! Syukurlah! Kau selamat," ucapnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Dipeluknya Sakito dengan sangat erat. Gadis itupun menangis sepuasnya di pundak Sakito. "Mana Ayu?"

Sakito tertunduk. "Aku tak bisa membawanya pulang. Maaf…," ucapnya. "Hanya ini yang bisa kuberikan." Sakito pun memberikan pedang yang telah dititipkan Ayu padanya. "Dia ingin kau menjadi seorang wanita yang kuat, Neeyu. Dia memberikan pedang ini untukmu."

Gadis itu pun menatap pedang didepannya. "Itu artinya…"

"Dia ingin yang terbaik untuk kedamaian Sakaguchi dan Takashima. Pengorbanannya tidak akan sia-sia."

Neeyu terenyak mendengar kata-kata Sakito barusan. Kini ia harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan adik satu-satunya yang paling ia sayangi. Dadanya terasa sesak ketika mendengar kenyataan pahit ini. Ketika kemenangan telah diraih Sakaguchi, namun semua itu harus dibayar dengan begitu banyak pengorbanan, bahkan adiknya sendiri pun menjadi korban.

"Syukurlah, kita sampai, Kyon." Tiba-tiba datang Yuu dan Kyon bersama para penduduk desa. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Takashima, dan sisanya adalah orang Sakaguchi.

"Kalian!?" ucap Sakito terkejut.

"Kau!? Kau yang waktu itu menyerang kami!" teriak Yuu.

"Untuk apa kalian kesini, hah!? Seharusnya kalian ikut tenggelam saja!"

"Sakito! Hentikan! Sudahlah! Perang sudah berakhir!" bentak Neeyu. "Apa tidak bisa kita berdamai!? Sudah terlalu banyak yang mati! Hentikan ini!" Neeyu kembali terisak. "Aku sudah terlalu menderita karena perang ini, Sakito… Hentikan ini…"

"Neeyu…"

"Apa kalian tidak lelah berperang terus!? AKU SUDAH LELAH!!"

Seketika itu juga mereka semua terdiam. Mereka sama-sama tersadar akan perkataan Neeyu.

"Kurasa kau benar," ucap Sakito. "Maaf… Mulai sekarang kita akan berdamai."

* * *

Page 4 – Epilogue…

3 days later…

"Klan Sakaguchi dan klan Takashima adalah sama! Mulai sekarang, tak ada lagi peperangan diantara kita! Klan Takashima akan menjadi bagian dari klan Sakaguchi! Dan mulai hari ini… SAKAGUCHI DAN TAKASHIMA ADALAH SAUDARA…!!"

Suara Sakito terdengar begitu indah di telinga semua rakyatnya. Senyum terkembang di wajah mereka masing-masing. Neeyu yang berdiri dibelakang Sakito pun tak kalah bahagianya. Senyumnya terlihat begitu cerah. Begitu indah.

"Perdamaian itu indah, ya," ujar Yuu.

"Iya. Indah sekali… Seandainya Reita-kun bisa melihat ini."

"Aku juga mengharapkan hal yang sama dengan Kai."

"Lepaskan aku!! Lepaskan!!" tiba-tiba terdengar suara yang begitu familiar di telinga Kyon dan Yuu. Suara Shirota, putri mereka. Gadis yang masih terluka itu tengah ditangkap oleh dua prajurit Sakaguchi. "Kalian tidak tahu siapa aku! Lepaskan! Aku harus membalaskan dendamku!" ujarnya terisak. "Uruha! URUHAAAA!!"

"Diam! Kau itu bukan siapa-siapa disini! Ayo ikut!"

"TIDAAAKK!! Akan kubunuh Sakito! AKAN KUBUNUH!! Kurang ajar kau, Sakito!!" teriaknya sebelum sosoknya benar-benar menghilang dibalik pintu penjara bawah tanah.

"Itu putri kita," ucap Yuu.

"Tragis."

"Aku kasihan padanya, Kyon."

"Aku juga. Kuharap beberapa tahun didalam penjara akan membuatnya sadar."

"Semoga."

* * *

Penjara yang dingin.

Shirota hanya terduduk sendiri didalam selnya. Kepalanya tertunduk. Masih terlihat jelas bekas air mata di pipinya. Makanan yang diberikan penjaga tadi pagi pun belum dimakannya sama sekali. Entah karena gadis itu tak berselera makan atau karena memang makanannya tidak enak, yang jelas Shirota sama sekali tak ingin memakan makanan itu.

Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki. Suara langkah kaki itu mendekati selnya. Shirota sama sekali tak menggubris hal itu. Ia tetap berdiam pada posisinya semula.

"Tuan Putri Shirota," ucap orang itu. Ternyata tidak lain orang itu adalah Sakito. "Aku hanya ingin menanyakan kabarmu."

Shirota hanya diam. Tak bergerak.

"Bagaimana kalau kita bicara tentang Uruha?"

Gadis berambut coklat itupun mengalihkan pandangannya pada Sakito. "Akan kubunuh kau nanti…," ucapnya pelan.

"Kenapa kau begitu ingin membunuhku? Apa karena kau dendam?"

"Aku tidak sudi Uruha mati ditanganmu! Akan kulakukan apapun demi membalas dendamku!"

"Kau tahu, Tuan Putri. Kadang dendam bukanlah sesuatu yang akan memberikan kebahagiaan."

"Tahu apa kau tentangku!?"

"Aku kehilangan seorang sahabat yang sangat berarti bagiku, Tuan Putri. Dia tewas karena kesalahanku. Aku terlalu terobsesi dengan dendamku, sampai aku lupa diri."

"Tidak penting!"

"Kau tahu, terkadang memaafkan pun tak salah."

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!! Bahkan sampai aku mati sekalipun!!"

"Kau tak harus memaafkanku, Tuan Putri Shirota," ucap Sakito. Pria itupun akhirnya meninggalkan Shirota sendirian.

* * *

4 years later…

"Semoga kau tenang disana…," ucap Sakito pelan. Bunga yang dibawanya ia letakkan diatas nisan sahabatnya itu, Ruka. Ia pun mengalihkan pandangannya pada Neeyu. "Kau sudah selesai?"

"Ya, dari tadi."

"Maaf ya aku terlalu lama."

"Ehehehe, tak apa."

Sakito mengalihkan pandangannya pada nisan disebelah nisan Ruka. "Adikmu… sudah tumbuh dewasa."

"Begitulah."

"Kau pasti bangga."

"Iya. Aku sangat bangga," ucap Neeyu. Namun tiba-tiba tatapannya berubah sendu. "…juga sangat sedih."

Sakito tersenyum. "Ini hari ulang tahunnya, ya? Padahal biasanya ia suka merengek minta dibuatkan kue. Lalu setelah itu kau pasti mengacak-acak rambutnya."

"Ah, iya benar juga. Kalau begitu ayo pulang, Sakito. Kita buat kue yang besar untuk dimakan bersama Kyon dan Yuu!"

"Aduh, iya, pelan-pelan sedikit. Jangan terlalu banyak bergerak. Kasihan anakku nanti," ucapnya sambil mengusap-usap perut Neeyu. "Ayo pulang…"

Peperangan.

Apa yang terlintas di pikiranmu tatkala mendengar kata itu?

Darah, air mata, kesedihan, kematian…

Namun itu hanyalah cerita masa lalu diantara dua klan ini. Klan Sakaguchi dan klan Takashima. Perang yang diwariskan leluhur mereka itu telah berakhir. Akhirnya sebuah akhir dari perang ini telah tercapai.

Kehancuran Terakhir.

Mungkin yang dimaksud dengan 'Kehancuran Terakhir' itu adalah hancurnya semua dinding pemisah antara dua klan ini. Kini tak ada lagi perseteruan. Semuanya menjadi saudara. Sakaguchi Takahiro telah berhasil menjadi pemimpin yang adil. Semua orang mendapat kebahagiaan dan kesejahteraan. Semua hal menjadi lebih baik.

Dan kedamaian ini akan tetap bertahan…