Saya tidak mau banyak bacot di awal-awal, jadi silahkan langsung baca

Disclaimer: seperti yang sudah dikatakan bejibun orang di fanfic Hetalia: Hetalia bukan punya saya; atau Hetalia milik Hidekaz Himaruya


Indonesia mengurut keningnya. Dia baru saja menonton berita tentang penelitian yang dilakukan America berhubungan dengan pemanasan global (Indonesia cukup takjub, dia kira America akan mengadakan penelitian tentang hamburger). Katanya dengan sok serius di berita (tentunya sambil makan burger):

"Seperti yang saya bilang... munch... pemanasan global akan membawa... munch... efek yang besar bagi... munch... negara-negara kepulauan... munch... terutama negara-negara Asia... munch... diperkirakan, tahun 2050... munch... Indonesia, yang merupakan... munch... negara kepulauan terbesar... munch... di dunia akan... munch... tenggelam sepenuhnya... munch... grumblegrumblegrumble..." setelah itu tidak jelas lagi.

Hal itu sudah cukup membuat bosnya kalang kabut.

Setelah berita itu disiarkan, bosnya langsung meneleponnya.

"Indonesia? Apa benar yang dikatakan America itu? Bahwa kita adalah yang pertama tenggelam karena pemanasan global tahun 2050? Memang saya sudah mati saat tahun itu berlangsung tapi tidak mungkin, kan? Indonesia pasti masih eksis, ya kan? Biarpun kau dulunya adalah Atlantis—yah, saya tahu itu hanya hipotesa—kita tidak mungkin mengikuti jejaknya, kan? Kita tidak akan tenggelam, ya kan?" kata bosnya histeris.

Indonesia merengut. Kenapa bosnya jadi OOC gini?

"Tidak kok, Pak Presiden, kita tidak akan tenggelam tahun 2050," kata Indonesia kalem.

"Oh, ya?" kata bosnya lega.

"Tidak," kata Indonesia. "Karena dunia udah keburu kiamat tahun 2012."

Bosnya langsung menghukumnya mencabuti rumput di Istana Kepresidenan.

Indonesia akhirnya berpikir. Dalam hati, dia mengutuk China dan America yang seenaknya membuang karbon dioksida ke atmosfer dengan tidak berdosanya. Mereka penyebab pemanasan global yang paling besar, dan kenapa harus Indonesia yang menanggung beban? Dia dan Amerika memang teman baik... dia dan China memang sudah seperti kakak beradik... tapi tetap saja Indonesia ingin memukul mereka dengan bambu runcing sambil teriak, "kurang ajar amat sih, lo pada! Lo yang ngeluarin karbon dioksida kok gue yang kena getahnya?!" tapi diurungkan karena dia tidak mungkin menang.

"Aduuh... gimana ya?" gumam Indonesia sambil mencoret-coret kertas. Kata America, negara-negara kepulauan yang terletak di Samudra Hindia dan Pasifik akan tenggelam duluan, disusul oleh negara-negara lain. Itu berarti kandidat terkuat negara yang pertama tenggelam di kawasan Asia Tenggara adalah dia dan Philippines, saudari jauhnya. Dan mungkin negara-negara di Ocenia. Indonesia tidak peduli, kenal aja enggak.

Stress, Indonesia coba menghubungi seseorang yang dia anggap expert dalam hal air-mengair (paan tuh?).

Tut. Tut. Tut.

"Halo?" sahut sebuah suara cewek—keknya sih cewek manis—dari seberaaaang sana.

"Halo, Holland-nya ada?"

"Holland? Holland yang mana, ya?"

"Holland, saudara Belgium dan Luxembourg."

"Hah? Itu sih Netherlands."

"Loh? Terus Holland itu apa? Eh, siapa?"

"Holland tuh provinsinya, North Holland ama South Holland."

Indonesia merengut. Berarti selama 350 tahun dia salah memanggil Hol—Netherlands dong?

"Ya udah deh, Netherlands-nya ada?" tanya Indonesia. Aneh juga, sudah 350 tahun kebiasaan manggil Holland sih. Bahkan sampai sekarang.

"Tunggu sebentar..." dan tiba-tiba suara cewek manis itu berubah menjadi suara paling berat yang pernah didengar Indonesia. "Netherlands!! Ada telepon!!"

Ini banci Taman Lawang kok bisa tersesat ke Eropa?

Tidak lama kemudian, Hol—salah lagi—Netherlands mengambil alih kuasa atas telepon. "Halo?"

"Ehm... Netherlands?" kata Indonesia gugup.

"Aah, Indonesia!!" sahut Netherlands ceria. "Kau sudah lama tidak menghubungiku!! Kenapa?"

"Krisis moneter membuat tarif pulsa naik," kata Indonesia. "Anyway, aku mau nanya sesuatu..."

"Kalau petunjuk cinta jangan ke aku, ke France, dia lebih jago," potong Netherlands dengan tidak perlu.

"Bu-kan-bo-doh," kata Indonesia geram. "Ini tentang pemanasan global dan melelehnya Antarctica dan Arctic dan apalah itu namanya."

"Ah ya, dua saudara itu, ya," kata Netherlands, berubah murung. "Kasihan mereka. Kembar, tapi berbeda jauh, dan hampir tidak bisa melihat satu sama lain atau keluar dari rumah mereka masing-masing. Yah, setidaknya Arctic masih diakui oleh America atau Russia, tapi Antarctica... hah, anak yang malang..."

"Memang,"kata Indonesia. "Tapi bukan itu yang mau kubicarakan. Kau kan ahli soal hidrologi atau apalah namanya itu, apa yang kau lakukan kalau di wilayahmu terlalu banyak air?"

"Banjir gitu?"

"Pokoknya bayangkan sajalah ketinggian air lebih tinggi dari daratan. Apa yang kau lakukan?"

"Membuat bendungan."

Hening.

Tut. Tut. Tut. Tut.

"Indonesia, kau tadi memanggilku Netherlands, ya?"


Indonesia menghela nafas. Jadi, dia harus minta tolong siapa lagi setelah ini?

Kriiiing.

Indonesia langsung mendongak, dan mencari-cari HP-nya.

"Ini mana lagi HP-nya?" gerutunya dalam hati, lalu dia menemukan HP-nya ada di atas toilet kamar mandi (kok bisa ada disini?). Dia mengambilnya, dan melihat siapa yang menelepon. Brunei. Wah, tumben-tumben amat. Indonesia mengangkatnya.

"Halo?"

"Assalamu'alaikum, Indonesia," kata Brunei alim.

"Oh, wa'alaikumsalam," balas Indonesia. "Bolehkah hamba bertanya apa gerangan yang diinginkan sang Raja Minyak pada hamba?"

"Jangan terlalu formal, Indonesia," kata Brunei. "Saya tidak merasa seperti itu, lagipula saya kan jauh lebih muda..."

"Yah, tapi itu memang kau, raja minyak sialan," gumam Indonesia dalam hati. "Lalu, kau meneleponku kenapa?"

"Singapore ingin berbicara denganmu," kata Brunei tanpa beban.

"Wow, kau jadi pesuruhnya?" celetuk Indonesia tanpa dosa.

"Saya hanya dimintai tolong," kata Brunei, terdengar tersinggung. "Singapore sedang sibuk memulihkan diri setelah krisis moneter—" ("yah, memang aku tidak?" batin Indonesia) "—dan dia memintaku untuk meneleponmu dan mengabarimu bahwa dia ingin bertemu denganmu di rumahnya."

"Rumahnya?" ulang Indonesia. Bukannya dia tidak suka berkunjung ke rumah Singapore, tapi kemegahan rumah adik bungsunya itu bikin minder...

"Begitu saja yang ingin saya sampaikan, assalamu'alaikum," kata Brunei.

"Wa'alaikumsalam," jawab Indonesia—pada nada sambung.


Ting. Tong.

BRAK!!! BRUK!!!! GUBRAK!!!! CRANG!!!! DE-ZIGG!! DOR-DOR-DOR-DOR-DOR-DOR-DOR!!!!

Pikiran pertama yang melintas di pikiran Indonesia: "wah, ricuh banget."

Pikiran kedua yang melintas di pikiran Indonesia: "apa ada Perang Dunia III di rumah Singapore?"

Pikiran ketiga yang melintas di pikiran Indonesia: "perasaan tadi ada bunyi petasan deh... masa Hong Kong?"

Lalu pintu rumah Singapore terbuka.

Singapore, agak sedikit lebih pendek dari Indonesia, dengan wajah yang membuat dia disangka adik perempuan Indonesia dan Malaysia. Matanya berwarna coklat cerah dan rambutnya sedikit lebih cerah dibanding kakak-kakaknya.

"Ah, Indonesia!" kata Singapore, terengah-engah. Indonesia menaikkan alisnya.

"Wow, kau habis diseruduk banteng?" tanya Indonesia, melihat penampilan Singapore yang kacau—tidak biasanya, dia kan selalu tampil modis.

"Spain hampir memintaku melakukannya saat aku berkunjung ke rumahnya," kata Singapore. "Ayo, masuk."

Indonesia menurut dan masuk ke dalam rumah Singapore yang membuat orang kaya sekalipun terlihat kampungan. Tidak perlu dideskripsikan lagi disini, silakan bayangkan rumah Singapore berdasarkan imajinasi sendiri. Author-nya males nulis panjang-panjang soalnya.

Indonesia duduk di sofa (ya iyalah, masa di atas akuarium?) sementara Singapore permisi dulu untuk mengambil minuman. Setelah memberikan Indonesia minuman (sekaleng soda) dia duduk di depan Indonesia. Semakin Indonesia perhatikan, entah kenapa Singapore terlihat seperti orang yang baru saja divonis dokter, "kamu tidak jelas laki-laki atau perempuan. Memang tubuh kamu laki-laki tapi gen kamu perempuan. Oh ya, kamu akan terkena penyakit dimana kamu akan merasa gatal di seluruh tubuh lalu tiba-tiba kamu berevolusi jadi orang utan. Berbahagialah nak, kamu bisa menambah populasi orang utan di dunia." Oke, jadi ngelantur. Lanjut.

"Kenapa kau memanggilku?" tanya Indonesia, membuka kaleng sodanya.

Singapore hanya menunduk. "Lama-lama aku stress barengan dengan negara-negara G-8," kata Singapore pelan, mengurut keningnya. "Negara-negara maju yang aneh..."

"Memang kenapa?" tanya Indonesia.

Singapore mendesah. "Begini, aku sempat meng-observe tentang rapat G-8, kebetulan rapatnya juga di rumahku—entah kenapa. Dan yang mereka buat adalah kekacauan..." Singapore menyandarkan tubuhnya. "America tetap mengoceh betapa hebat jasanya dalam menjaga perdamaian dunia—padahal dia juga yang membuat Israel menyerang Palestine yang malang—England terus mengundang makhluk-makhluk gaibnya ke rumahku, Russia menatap akuariumku dengan tatapan mengerikan, Italy terus merecokiku dengan pasta, Japan terlalu diam dan tidak melakukan apa-apa, Germany memutuskan untuk mundur dan hanya menonton, dan France berusaha untuk merayuku dengan bilang, aku bisa memastikan apa kau laki-laki atau perempuan, asal aku bisa melihatmu... sebelum dia selesai aku sudah menghajarnya dengan golok yang kau beri kemarin."

Indonesia mengangguk kecil. Singapore bisa melihat makhluk gaib—walau samar—karena turunan darinya, tapi Indonesia rada tersinggung juga. Golok kan dipakai untuk nebas orang, bukan buat dipukul. Tapi yang penting golok itu sudah menyelesaikan satu tugasnya: menghajar seseorang. Tujuan Indonesia memberikan golok pada Singapore memang untuk membuatnya menghajar Malaysia.

"Dan akhirnya mereka meninggalkanku sambil bilang, tolong kau urus tentang pemanasan global ini, ya, Singapore!" tinju Singapore mengepal kuat. "Aku benci mereka..."

"Yaah, sabar..." kata Indonesia, meminum sodanya. "Aku juga tidak suka mereka. Kau lihat berita tadi? Tentang aku akan tenggelam total tahun 2050?"

Singapore mendongakkan kepalanya. "Itu konyol," katanya pelan. "Kau kan negara besar, mana mungkin tenggelam dengan begitu mudah..."

Indonesia tersenyum kecil. Biarpun lebih maju, Singapore masih tetap menghormatinya sebagai kakak. Beda dengan Malaysia...

"Yah, aku tahu," kata Indonesia, mendesah. "Sebenarnya tadi aku tanya Hol—phuah!—Netherlands bagaimana cara untuk mencegahku tenggelam, tapi dia malah menjawab dengan jawaban tipikalnya, membuat bendungan, nyeah..." Indonesia meminum sodanya lagi. "Kau tahu bagaimana cara agar aku tidak tenggelam, Singapore?"

Singapore berpikir sebentar. "Apa kita perlu membicarakan ini ke yang lain?" tanyanya.

"Siapa?"

"Para ASEAN."


Boneka teddy saya menatap saya—lagi—dengan penuh arti, "ampun bu, penting ya lo bikin cerita segeje ini?"

Saya baru sadar ternyata saya salah menyebut nama Belanda. Holland itu provinsinya, bukan nama negaranya! Nama negaranya mah Netherlands saya baru tahu pas saya disuruh bikin makalah geografi tentang Belanda. Saya cari di Wikipedia dan tertera jelas bahwa namanya Netherlands, bukan Holland. Aduuh, bodoh amat sih saya *mukul mukul kepala kayak Switzerland* dan apa yang telah saya lakukan pada karakter Pak SBY yang kalem dan tenang itu? Pak SBY... jangan masukin saya ke penjara ya... ingat Pak, ini fanfic... *ge-er, kek Pak SBY mau buang-buang waktu buat baca ini aja*

Reviews...... reviews..... *nyembah-nyembah*


Tambahan:

Indonesia: "Apa ada alasan lain kau memanggilku?"

Singapore: "Iya. Tolong bersihkan WC-ku, dong. Pembantuku lagi pergi terus aku abis meni-pedi."

...

Indonesia: "Tadi ada ribut-ribut apa?"

Singapore: "Aku lupa Blackberry-ku ditaruh dimana. Padahal aku mau ngecek Facebook. Kan komputerku lagi rusak."

Indonesia: "Heh? Mang ada apa?"

Singapore: "Ada foto Malaysia memakai nekomimi."