Setelah berbagai macam alasan dan bantahan yang dia sampaikan dengan apik seperti koruptor yang sedang disidang ( "Nih ya, kalo bener terbukti gue tunangan ama si parodi vampir kilau-kilau itu, gue gantung diri di Monas sambil dikerubungin tomcat! Sekalian ama jerrymouse, spikedog, tweetybird, shaunsheep" ), Indonesia berhasil meluruskan kesalahpahaman akibat celetukan Myanmar dan mulai merapikan berkas agar terlihat berwibawa—tanpa menyadari bahwa berkasnya berubah menjadi brosur cari jodoh di koran.

Thailand berbaik hati memberikan dia berkas yang benar, dan Indonesia berterima kasih selagi berbaik hati memberikan Malaysia jitakan keras di kepala. Keadaan pun mereda, dan Indonesia berdeham. "Yak, sekali lagi—selamat datang di reuni-keluarga-yang-berubah-jadi-rapat-dadakan kita yang ke-entah-berapa-terlalu-malas-menghitung-karena-sudah-keseringan," pembukaan rapat yang ciamik dari seorang pemuda alay, "dan berhubung ini fanfic humor, jadi acuhkan saja tata cara rapat yang diajarkan di pelajaran Bahasa Indonesia pas... SMP? SMA juga kan, ya? Gitu deh pokoknya. Hari ini aku ingin membahas beberapa soal tentang—"

"Ehm."

Indonesia berbalik pada Singapore. "Kenapa, S'pore? Batuk?"

"... ehm."

"Oh, sakit tenggorokan ya? Minum obat batuk dulu sana. Oh, atau kau punya jeruk nipis? Nanti aku campur kecap, supaya tenggorokannya enakan—"

"... Nesia, Singapore sepertinya ingin kau menyebutkan dimana kita sedang mengadakan rapat sekarang," bisik Brunei.

Indonesia cengo sebentar.

"—ehm."

"Oh," garuk leher, watados. "Oh ya. Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih pada adikku tersayang yang unyu dan ngegemesin biarpun manja dan nyebelin tapi tetap bikin hati kakaknya cenat-cenut dengan wajahnya yang lebih menyerupai seorang gadis dan sempat membuatnya direkrut sebagai anggota kedelapan Durian Belle yaitu Singapore. Makasih ya de, aku padamu," lempar kedipan geje ala boyband, dan Brunei bergegas membantu Singapore mengeluarkan isi perutnya di belakang.

Sang zamrud khatulistiwa berdeham, seakan hal itu bisa mengembalikan harga dirinya yang telah menggelinding keluar dan dibuang pembersih jalanan setempat karena mengotori lingkungan. "Ada beberapa isu berkaitan tentang pemanasan global yang ingin aku bahas, karena sepertinya ini berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup kita dan ramalan tentang tenggelamnya seluruh negara-negara kepulauan 2050 mendatang," kedua matanya bertemu Philippines, dan bunga bertebaran dalam garis pandang mereka, suara piano dimainkan dengan lembut sebagai musik latar—tunggu, ini bukan fanfic Topeng Kaca, ya?

.

Ehm. Aduh bentar author minum obat batuk dulu.

Oke, lanjut.

.

Setelah bertatap pandang dengan penuh arti, Indonesia kembali pada berkasnya. "Mulai saja, ya. Nah, berhubung topik kita tentang tenggelam, jadi aku akan membahas tentang kenaikan permukaan laut saja. Seperti yang kalian ketahui, karena Polar Twins itu semakin lama semakin mengecil, itu berarti es mereka sudah banyak mencair dan itu bisa membuat kenaikan permukaan air di bumi ini. Dan dampak kenaikan permukaan air ini adalah, tentu saja, menenggelamkan daratan yang ada. Sampai sini dulu deh, takut kebanyakan informasi terus otaknya mengepul kayak Patrick. Ada pertanyaan?"

Tangan teracung. "Polar Twins itu apa?"

"Siapa. Itu Artic dan Antartica, Laos. Yang lain?"

Tangan lain teracung. "Kenapa kita harus mencegah meningkatnya permukaan air laut?"

"Agar kita tidak tenggelam, Myanmar."

"Tapi kan kalau banyak air enak, bisa berenang."

"Itu bukan pertanyaan, Laos."

Setelah pertanyaan-pertanyaan retoris dari Laos dan Myanmar, Indonesia kembali melanjutkan rapat sembari mengibaskan rambut alaynya. "Aku mendapat laporan dari daerah Oceania, katanya Kiribati—tahu tidak? Pulau yang ada disitu loh, disitu... pokoknya disitu—akan mengungsikan penduduknya ke daerah New Zealand untuk berjaga-jaga. Sudah ada perjanjian di antara mereka, dan pihak New Zealand juga tidak keberatan. Tapi ada baiknya Negara lain menyumbangkan diri untuk membantu agar Negara di sekitar Oceania tidak akan kerepotan memberi bantuan..."

"Iya, rencananya kalau New Zealand sudah penuh mereka akan diungsikan ke Fiji," celetuk Australia, mengelus-elus koalanya. "Tapi Fiji sepertinya kurang rela begitu, tidak mau pulaunya yang indah dipenuhi pengungsi."

Indonesia mengangguk (sok) ngerti. "Oke, jadi mungkin kalau mereka setuju dan kalau memang mereka tenggelam, kita bisa melaporkannya ke United Nations sekarang dan—"

...

...

"Aussie, sejak kapan kau disini?"

Australia, yang sedang sibuk memamerkan Mr. Koala pada Filippines, Laos dan Cambodia, menoleh pada Indonesia. "Dari tadi, kok. Tadi kan aku ikut kau kesini karena kau mengajakku."

Tiga kemungkinan muncul dalam benak para penghuni Asia Tenggara menanggapi kemunculan tiba-tiba Australia dan alasan yang dikemukakannya.

.

1. Australia menyelinap masuk ke dalam rumah Singapore dengan watadosnya.

2. Australia sebenarnya masih mempunyai kemampuan sihir yang diturunkan dari England dan ber-Apparate ria kesini tanpa alasan yang jelas.

3. Hawa keberadaannya saja yang tipis.

.

Lalu, memutuskan bahwa tidak penting memikirkan kenapa Australia bisa ada disini, sang pemimpin alay kembali melanjutkan rapat mendadak mereka. "Sampai mana tadi? Ah ya, Oceania. Aku juga baru dapat berita kalau aku kehilangan 20 pulau dari total 17.506 pulau. Efeknya tidak terasa secara signifikan, tapi tetap saja itu bisa berbahaya. Seperti kata orang sok bijak zaman dulu, perubahan besar dimulai dari hal-hal kecil. Nah, maka dari itu—"

"Interupsi, Indonesial."

...

"Interupsi, Indonesia," Malaysia membetulkan posisi kacamata dengan (tidak) gantengnya, "aku sempat mendengar pendapat dari seorang ahli kalau sebenarnya kenaikan permukaan air laut yang kau jelaskan sekarang hanyalah argumentansi tanpa alasan hasil propaganda America."

Kedua bersaudara itu saling menatap, tajam.

"Perlu kuingatkan lagi, Malaysia, aku sudah kehilangan 20 pulauku selama dua tahun terakhir, dengan pantai-pantai yang terkikis 5 sampai 8 milimeter tiap tahunnya—"

"Kau juga tidak akan menyadari hilangnya 20 pulau ini, kan? Kau mempunyai total 17 ribu lebih pulau, bagaimana kau bisa mengetahui bahwa kau kehilangan 20 pulau kecil yang bahkan tidak bernama?"

"Bagian dari negara itu, tidak peduli sekecil apapun, tetap memegang peran penting dalam mempertahankan negara itu sendiri! Kalau tiap tahun aku kehilangan 20 pulau kecil seperti itu, tinggal tunggu waktu sampai pulau-pulau besar ikut tenggelam bersama mereka!"

"Maaf saja ya, Nesial, tapi topikmu tentang kenaikan permukaan laut ini tidak mempunyai argumen yang pasti. Jangan-jangan kau melahap habis semua hoax yang diberitahu negara-negara Eropa dan si pahlawan kesiangan itu tanpa mengecek validalitas berita itu sendiri?"

"Malingsia—!"

Duk.

Kalau kau mengira itu adalah tinju Indonesia pada Malaysia, kau salah. Karena anak ketiga dari Melayu bersaudara sekaligus tuan rumah rapat dadakan yang bersangkutan sudah memukul kepala kedua kakaknya yang imbisil dengan sandal kakaktua.

"Kalau mau berantem jangan pake bahasa berat!" bentaknya sambil menendang mereka bergantian. "Ini fanfic humor, tau! Jangan seenaknya diganti jadi tragedy!"

Ah, Singapore. Baik sekali kau mau mewakili author untuk memarahi dua orang itu.

Kedua kakaknya merengut ngambek, saling melempar tatapan menusuk sambil menggerutu dan mengelus benjol di kepala mereka. Singapore mengembalikan dayung Vietnam sebelum memaksa kedua kakaknya untuk kembali duduk di tempat masing-masing. "Karena dua orang ini sangat tidak kompeten... Thailand, bisa ganti jadi pemimpin rapat?"

Sejenak Indonesia ingin protes, tapi ekspresi Singapore membuatnya meringkuk.

Thailand berdeham, membetulkan letak kacamatanya dan mengambil alih berkas dari tangan Indonesia, yang langsung berwajah nelangsa dan merana hanya karena berkasnya diambil tanpa izin. Sungguh tidak tahu sopan santun, Thailand itu. Kalau mau ambil barang orang mbok ya ngomong dulu gitu.

"Ah, tadi ada beberapa laporan yang belum sempat disampaikan Indonesia," Thailand memulai dengan nada ceria, persis guru TK yang sedang mengajarkannya muridnya untuk mengeja, dan entah kenapa malah mengingatkan para Negara pada seseorang bersurai perak dengan hidung besar yang selalu memakai syal. "Tapi ini juga ada hubungannya dengan Aussie, sih. Aussie, apa yang terjadi pada Pulau Torres?"

Australia, yang sedang sibuk memamerkan codet-codet hasil bergulat dengan bayi koala pada Philippines (dan tidak menyadari tatapan tidak rela yang dilempar Indonesia di seberang meja), kembali menoleh pada Thailand. "Torres? Oh, dia sedang terkenal sekali loh di negaraku! Banyak yang bertaruh berapa kali tendangannya meleset di pertandingan-pertandingannya. Tapi hebat juga ya, timnya memenangkan Liga Champions. Padahal kalau dibandingkan Munchen permainannya tidak terlalu bagus, lalu—"

"... bukan Torres yang itu."

Otaknya memproses sebentar, dan dia ber-oh ria. "Ah, itu... dua tahun terakhir ini, pulau itu sering kena banjir karena air pasang. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi banyak orang-orang di pulau itu berspekulasi kalau itu karena pengaruh perubahan iklim. Dan kalau memang benar begitu, orang-orang dalamku akan langsung mengungsikan mereka."

Sang personifikasi pecinta gajah mengangguk mengerti dan kembali menelusuri berkas (tidak penting) Indonesia. "Oh, ini ada satu berita yang cukup menyedihkan kalau benar terjadi. Salah satu pulau Japan yang mempunyai 10 ribu penduduk sekarang hanya tinggal beberapa meter dari permukaan laut dan tinggal tunggu waktu sampai pulau itu tenggelam. Lalu di pulau India Timur, air diperkirakan naik 9 meter ke arah desa dan sudah membanjiri lahan-lahan disana."

Para Negara langsung bergumam simpati—biarpun India termasuk Negara enggak jelas yang hobi joget dimana-mana dengan bulu dada yang dipaksakan untuk menyembul keluar, dia tetap pria budiman dan salah satu saudara sesama Asia. Sementara untuk Japan... santai lah. Biar sepuh, masih kuat.

"Jadi, solusi apa yang harus kita laksanakan untuk menghadapi masalah-masalah yang sudah disebutkan?" Thailand menaruh kembali berkasnya di atas meja, melempar senyum tebar pesona pada para Negara yang tidak membalas dengan ikhlas. Thailand semakin mirip Russia, entah kenapa. "Dan tidak, Myanmar, mengeringkan laut bukan solusi." Myanmar menurunkan tangannya dengan kecewa.

Cambodia, yang namanya baru disebut di paragraf ini, mengacungkan tangan dengan semangat. Tanpa menunggu aba-aba Thailand, dia langsung berdiri dengan senyum mengembang. "Aku punya ide bagus! Bagaimana kalau kita ambil semua pulau-pulau itu lalu mendorongnya ke puncak-puncak tertinggi di seluruh dunia?"

...

Philippines terpaksa menjelaskan pada Cambodia bahwa ide yang dia dapat tidak masuk akal, dan bahwa ide yang berasal dari kartun milik negara adidaya bodoh tidaklah pantas dicanangkan karena tidak akan berhasil, sekeras apapun kau berusaha.

"Perlukah kita mengangkat ini ke pertemuan internasional lagi?" tanya Brunei ragu. "Seperti yang di Kopenhagen, begitu. Atau Nusa Dua yang kemarin-kemarin."

"Brunei, kau naif sekali," Malaysia menguap sambil mengacak-acak rambut adiknya itu. "Memang apa yang dihasilkan dari dua pertemuan itu? Tidak ada, kan? Paling hanya penampilan spektakuler dari seorang tukang kebun," dia mengerling ke arah Indonesia, namun tidak cukup cekatan untuk menghindari sendal yang dilempar kakak sulungnya.

"Aku disuruh Presiden, tahu! Dia bilang aku harus mencabut semua rumput di istananya sampai bersih!"

"Ya cari momen yang pas, kek!"

"Kan supaya gue eksis!"

"Dasar alay lo, pengikut acara musik Outbox!"

"Lo kali yang alay, Malaysia!"

Singapore berterima kasih pada Vietnam karena sudah memberikan dayungnya untuk membungkam kedua kakaknya.

Setelah keadaan menenang (disertai ancaman Singapore yang bersumpah akan menyumpal mulut kedua kakaknya dengan scone gosong yang dikirim England kalau mereka tidak diam juga), semua Negara kembali menatap Thailand. Sang negara berkacamata kembali tersenyum cerah. "Baiklah, aku ada ide bagus. Tapi jangan sampai ini terdengar oleh Negara-negara Barat, ya."


.

.

.

Bacotan author:

warning—bagian ini lebih ke arah curcol. jadi kalau saudara sekalian bukan tipe kepo mending langsung klik 'Back' di browser HP atau close tab aja. malah mungkin, bagi yang bukanya di HP terutama Opera Mini, bagian ini yang membuat loading kalian jadi lama, jadi saya minta maaf dulu. oke? oke.

.

Ternyata ga jadi discontinued ahahahaha— /dor sebenernya ini udah dibikin dari bulan-bulan yang lalu jadi beritanya udah pada lawas, tapi yah... muse itu tidak gampang didapat. Ibarat game The Sims di Facebook, harus sering-sering main gitar atau ngelukis buat dapet muse yang simbolnya Frost Giant botak gitu. Nah masalahnya, saya ga bisa ngelukis ato main gitar. Jadi harus Ask Friend, dan dapetnya juga sama-sama susah kalau ternyata teman-temannya ga ada yang main game yang sama.

Dan enggak, saya ga main game itu kok. Sekarang.

Untuk fakta-fakta yang dijabarkan di cerita nista ini, saya ambil dari site (ngasal) via mbah Gugel. Daftar pustakanya saya simpen, siapa tahu ada yang mau baca. /yakali Dan sebenernya kata-kata Malaysia itu juga ditujukan untuk menohok diri saya sendiri sih :| /dor saya pernah lihat ada website yang bilang kalau rumor kenaikan permukaan air laut dunia itu cuma hoax doang, tapi pas nulis ini saya ga terlalu merhatiin dan ga dibaca bener-bener. Pas mau nyari lagi buat nyelesain dialog Malay, udah ga ketemu lagi. Padahal keyword-nya udah sama, jadinya ya... gitu. /paan

Tapi yah, namanya juga fanfic humor. Acuhkan saja fakta yang ada /yaoming

Intinya, saya ga jelas. Mungkin di-update lagi kalo niat, mungkin enggak. Tergantung dari seberapa menariknya berita yang ada sih. /dilindes

Last but not least, I claim nothing of this fic and thanks for reading! ' ')/

.

... btw, bikin ini sambil dengerin live streaming Utaite itu distracting sekali ya /UDAH