Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Yaaahh… Setelah dipikir-pikir, hasil voted mengatakan, bahwa tema chapter kali ini adalah "Hobi dan Kesukaan" hahahahaha! Mudah-mudahan gak garing yah~ Scene tanya jawab ada di bagian akhir!

Dozo, Minna-sama!

Big News

Story by: Light-Sapphire-Chan

Pairing:

Campur aduk! Straight dan Slash gabung! Mohon bagi yang tidak suka untuk menyingkir sebelum terpikir untuk memberi FLAME hanya karena tidak suka dengan pairing…

Rate:

T, jangan harap rating bisa bergeser naik ke rate M! *deathglare*

Disclaimer:

Mbah MASKITO_Masashi Kishomoto_Sensei~

Warning:

Semi Alternate Universe and Semi Canon, a little plotless, full of lebayness, gajeness and very out of character, to Readers who hate "Mix Straight and Slash", please leave this page by pressing back button.

.

Sesuai request—haduh Light lupa dari siapanya—di sini ada sedikit adegan shounen-ai terselubung. Bagi yang nggak suka… Uhhmm, don't like don't read! :D

Have a nice read! ^__~

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

"Kishimoto-sama!"

Seseorang memanggil dengan langkah cool memasuki ruang kerja Kishimoto y ang terbuka. Dibukanya topi kotak-kotak coklat kebanggannya.

Sang Komikus mendongak, lalu tersenyum lebar, "sudah ada kemajuankah, Tuan Holmes?"

Holmes itu mengangguk, "sudah… Aku memakai cara penyelidikan (*) "Hubungan Hantu ke Hantu", dan kurasa itu efektif."

Senyum lebar sang Komikus ternama lenyap seketika. Diganti dengan kerutan "K-kau… Menyewa dukuuuuuun?!"

Riang yang tersirat di wajah Holmes hilang sempurna, memunculkan pelototan mengerikan. "TIDAK. Rendah sekali aku kalau seperti itu! Jangan-jangan kau tidak pernah mendengar teknik Hubungan Hantu ke Hantu?!"

Kishimoto merengut kesal, "Ah, kurasa kau menjiplak cara Alfred Hitchock-sama…"

Holmes mendengus kesal. "Tak kusangka, kau tahu juga…"

#**#

Tobi melangkah masuk ke studio dengan heran, lho kok semuanya sudah siap? Padahal seingatnya, dia kan Sutradaranya. Seorang gadis yang pasti belum berumur tujuh belas tahun, mengambil tugasnya.

"He, bocah, minggir. Itu tempatku, aku Sutradara acara ini, Big News," kata Tobi jelas—padahal ia kan masih mengemut permen lollipop-nya.

Gadis itu menoleh, terlihat kontras dengan Tobi yang memakai hitam-hitam dan merah-merah. Gadis di hadapannya justru berpakaian casual putih-putih dan biru-biru.

"Hah? Oh iya yah… Tapi aku Produsernya… Kenapa juga Tobi-Nii mesti terlambat?" tanya perempuan itu acuh tak acuh.

"Kau belum tujuh belas tahun!" sentak Tobi sewot. "Nggak boleh masuk sini!"

"Biarkan saja," katanya cuek. "Siapkan Itachi-Nii, Sasori-Nii dan Dei-Nii!" perintahnya sekilas. "Cepat gih, mulai acaranya…"

Dan gadis dengan gaun pendek selutut yang menggunakan stocking, duduk di sebelah kursi sutradara.

Tobi mendengus kesal, ia duduk di tahtanya. "Siap semuanya?"

Anak buahnya, alias Pein yang mewakili, mengangguk sekilas.

"Camera rolling, ACTION!" seru Tobi.

"Kurasa, untuk acara seperti ini cukup countdown saja…" Gumam gadis itu sweatdrop.

Itachi, Sasori dan Deidara sekilas menatap kesal sang Produser inosen mereka. Inginnya sih marah, gara-gara disuruh-suruh, tapi… Wajah chubby-nya bikin gemeeeesss! Jadi nggak kuat kalau harus marahin dia.

"IYAAAAK~ kembali lagi bersama kami, di Big News!" Deidara membuka acara dengan suara cemprengnya. Sebuah lampu sorot menyala menghujamnya.

"Yang tidak lelah menginvestigasi apa saja yang terjadi di balik Naruto dan film-film-nya!" Sasori menambahkan dengan wajah datar.

Sontak membuat fans-nya kecewa. Tak ada senyum di wajah babyface Sasori.

"Setelah polling acara kemarin," Itachi merogoh saku jubah Akatsukinya, lalu mengeluarkan selembar kertas dengan tulisan Big News. "Tema kita kali ini adalah Hobi dan kesukaan! Serta setumpuk pertanyaan tentunya…"

Sang Produser yang walaupun asyik online tapi tetap memperhatikan panggung, mengambil alat komunikasi yang tergantung di tas pinggangnya. Lalu menyalakannnya dan mengontak tiga presenter.

"Cepetan, durasiiii…" Dengan dua kata singkat, tanpa menunggu protes, sang produser kembali memutuskan sambungan.

Ketiganya mendengus kesal.

"Yah, kita bisa mulai dengan hobi… Kita mulai dari-" Sasori yang lagi good looking itu, mendengar perkataannya dipotong oleh Charlie Angels versi Itachi.

"Ya? Kenapa?" tanya Deidara dengan niatan sopan.

"Uuuuhhh…" Ketiga gadis itu merengut. "Sekali-kali jangan dimulai Naruto kenapa?! Bosan tahu…"

Terlihat mata ketiga presenter itu berubah jadi minus. Mata mereka bersinar datar tanpa rasa antusias atau tertarik.

"Ya sudah," kata Itachi, "Mulai dari Sasuke deh…"

Sasuke melirik sekilas, di tangannya terdapat sebuah komik. Tak dihiraukannya si Kakak mau bertanya apa. Yang jelas, Naruto ikut mengintip apa yang Sasuke mau baca.

"Sasukeeeee~" panggil Itachi.

"Hn?"

"Hobimu apa, sayang?"

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAA~~!!!" sudah jelas teriakan ini didominasi kaum mayoritas yaitu perempuan.

"Berlatih, dan menyiksamu," jawab Sasuke sambil lalu.

Itachi seketika pundung di pojokan.

Sang Produser terkekeh-kekeh. Ia mengambil alat komunikasinya, "Kamera tiga…"

Hidan membuka suaranya, "Ada apa, Nona?"

"Sorot dong itu yang lagi berduaan di pojokan… Hihihi," tawa sang Produser licik.

"SIIIP!" seru Hidan.

Kamera mendadak menyorot Sasuke dan Naruto yang lagi mojok berduaan.

Semuanya terperangah, ah ya. Bagaimana tidak. Tampak mereka yang dengan rukunnya baca komik berdua. Komik apa sih? Dilihat dari Naruto yang tertawa terpingkal-pingkal atau Sasuke yang terkekeh geli.

Tapi ketiga MC kita dalam status: gak peka.

"Shikamaru?" panggil Deidara, agak ragu membangunkan Shikamaru yang memeluk bantal dan tidur dengan kepala bersandar di sandaran sofa.

"Oh yah… Hobiku tidur," jawab Shikamaru sambil lalu.

Itachi yang mendengar instruksi melayangkan pertanyaan, "Kenapa sih Kau selalu terlihat tidur padahal kau tidak tidur? Kan kesannya kau jadi pemalas…"

"Aku memang malas kok," kata Shikamaru sambil menguap. "Tapi aneh. Tidurpun IQ-ku tidak tiarap-"

"Mwahahahahahahaha!" suara tawa kencang menginterupsi dialog Shikamaru dan Itachi.

Kamera menyorot ke sumber suara.

JRREEEENNNG!

Naruto lagi ngakak guling-guling di sebelah Sasuke yang lagi menunduk menyembunyikan tawa.

"Entah kenapa," gumam Sasori. "Aku rasa ada yang nggak beres dengan mereka. Sudah lanjutkan saja."

"Yak, Gaara dan Kankurou," Deidara menoleh ke samping. Dan sweatdrop menemukan apa yang dilihatnya.

Sasori sudah main bersama Kankurou. Kayaknya asyik tuh banget main bonekanya. Mereka cocok. Kelihatannyapun Kankurou kelihatan lebih akur dengan Sasori daripada dengan Gaara. Setidaknya yang dimainkan mereka, bukan boneka Barbie.

Produser menarik sebuah plang. Lalu memasangnya disebelah Kankurou dan Sasori.

AWAS BONEKA BERACUN!

"Ploopp! Plooop! Pletok, pletok!" Deidara dan Itachi berpandangan sweatdrop melihat Gaara yang bermuka datar meniup dan memecahkan balon. Dari permen karet yang dikunyahnya.

"Eeeehh… Hobimu apa, Gaara?" tanya Deidara mengindahkan di depan mukanya lengketnya permen karet yang menjadi balon pecah melulu.

"Tak ada yang khusus," jawab Gaara sambil mengunyah permen karet.

"Apa tidak ada yang benar-benar kau sukai?" tanya Deidara—lagi resmi dan Itachi kembali ke sebelah Deidara, berhubung Sasori sedang kembali ke waktu lampau, "Masa kecil kurang bahagia".

Sudah besar tidak punya biaya. Oh, tragedi mengenaskan Sasori.

"Hm..." Gaara memecahkan balon permennya tepat di depan muka Deidara dan Itachi. "Aku tidak bisa menekuni hobi, karena aku cuma mengurusi Negara saja."

Deidara dan Itachi mendengus seraya mengambil tissue, lalu mengelap muka mulus—pemikiran sepihak—mereka yang ternodai 'karya'-nya Gaara.

"Hai, Nona-Nona cantik!" sapa Deidara manis. Beralih dari Gaara—karena merasa percuma mewawancarai Gaara—ke gadis-gadis cantik.

Dengusan dan kernyitan kesal. Oh sebuah respon yang baik untuk balasan sapaan yang manis.

"Hei, kenapa kalian melihatku seperti itu? Ada yang salah?" Deidara memperhatikan penampilannya.

Tak ada jawaban dari para gadis.

"Mereka iri padamu sih. Menurut para Pemirsa, kau lebih cantik di banding mereka. Hahahahahaha~" Itachi tertawa keras, menertawakan perkataannya sendiri.

Seisi studio sweatdrop, Produser dan Tobi mengangguk-angguk setuju.

Deidara berdecak pelan, "Gua gitulooh… Eh…?! ITACHI UCHIHA! GUA SUMPAHIN LO MATI KECEBUR GOT!"

Itachi berlari dari kursi khusus pembawa acara ke kursi para pemeran film Naruto, dengan lihai dan keren, dipraktekkannya gerakan meroda, dari sela satu kaki, ke kaki yang lain—namanya juga shinobi.

"Wiidiiiiihh~ kereeeen!" Kiba bertepuk tangan heboh.

"Terus lari, Itachi-san! Ah, semangatku jadi menggelora… Rasanya ingin mencoba meniru gerakan Itachi-san!" seru Lee senang.

Itachi melewati Kiba, lalu Lee dan Chouji.

"Hei, Kau! Jangan lariiii!" seru Deidara.

Kaki Kiba bernasib naas. Tertimpa Deidara yang pula menginjak ekor Akamaru menyalah galak.

GUBRAAAAAAAKKKK!!

"Awwwwwwhhh!" Kiba menjerit sakit. Tertiban Deidara memang menyakitkan.

Deidara bangun lagi, tanpa permintaan maaf, ia segera melangkah melompati Lee, sayang dia kepeleset jubahnya sendiri. Good looking. Lee pun ikut mengaduh sakit saat Deidara melompatinya dengan binal.

"Semangat masa muda boleeeeeeeeh~ tapi jangan menyakiti orang doooonkk!" teriak Lee kesal.

Tapi Deidara tidak menyeraaaaaaahh!!! Ia segera bangun lagi.

"Jatuh bangun aku~ mengejaaaaarmmuuuu~" suara merdu Konan dari tim backsound memberikan bekson yang sungguh menyayat hati *?*.

"Yiiiiiihaaaaaaa~!" terdengar teriakan senang dari seluruh personil Akatsuki—berikan pengecualian pada Deidara yang sedang tidak berminat menikmati dangdut. *ketahuan ternyata Akatsuki demen sama dangdut, ini sebuah berita besar yang sangat mengejutkan*.

"Hahaha! HAHAHAHA!" lihatlah Itachi yang super OOC dengan tawa kemenangannya.

Pein mengutak-atik mesin yang tak dimengertinya—sepertinya Tobi salah menempatkannya sebagai tangan kanan. Terdengarlah gelombang suara mengerikan, mengganti lagu yang udah PPPPAAASSS—kayak suara cewek seksi di pesawat yang ngajarin makan timtam—BUUAAANNGEET~~

"You raise me up, so I can stand on mountains~"

"Mana janji manismuuuuuu~"

"Tum paas aaye, yun muskuraayee, Tumne na jaane, kya sapne dikhaaye~"

(Terjemahan colongan: "Kau hampiri diriku, tersenyum manisnya, tanpa sadari kau berikan impian padaku.)

Sepertinya mesinnya konslet gara-gara ulah Pein. Terlihat kepulan asap di mana-mana.

Konan mendengus kesal dan menghampiri Pein serta membantu membereskan 'ulahnya'.

"WOOYYY!" Produser teriak-teriak frustasi. "Durasiiiii!"

Deidara mulai sweatdrop dan melupakan rasa sakit laknat di kepalanya, akibat kepalanya cari gara-gara dengan tangan Lee.

Bagaimana dengan Chouji? Deidara berlari marathon bak bebek kesetanan…

Kita slow motion-kan dulu. It's already for countdown!

5… Deidara akan melompati kaki Chouji.

4… Tapi tersandung keripik kentang Chouji.

3… Deidara kehilangan keseimbangan dan jatuh ke perut Chouji.

TOWEWEWEWEWEWEWWWWW!!!

2… Perut Chouji yang super elastis membuat Deidara terlempar.

1… Deidara melayang tinggi~ terus~ melayang~ bersama burung-burung origami karya Konan… Nyaris nyangkut di spotlight.

Deidara berteriak frustasi, "OWAAAAAAAA~~ SIAPAPUN TOLONG AKU!

KROOOSAAAAK! KROOOSAAAAK! KROOSSAAAK!

GUBRAAAAAAAAAAKKKK!!!

KOAK! KOAAK!

Burung gagak Itachi bertebangan mendramatisir suasana. Lebih tepatnya sih…

"MISI "DEIDARA HARUS LANDING", SUKSES! DENGAN DEIDARA KOKOCRUNCH!"

Produser mengambil HP-nya dan menelpon seseorang, "Belum saatnya iklan!"

CCCSSSSSHHH! Yeah, kepulan asap membuat seisi studio berdiri dari kursi masing-masing saking penasarannya. Untung Temari berbaik hati menghilangkan asap dengan kipas raksasanya.

Dan ternyata…

JREEEEEEEEEENNNNNGGG!

Deidara, kakinya nyangkut di ranting-ranting kuat di sebuah pohon yang tidak jelas asal-usulnya. Pendek pula itu pohon bersebelahan dengan meja. Sudah begitu kepentok meja lagi, sebuah benjolan besar menghiasi kepalanya.

Burung-burung gagak kembali ke sarangnya, dengan ganas mereka mematuki Deidara yang sudah kusut, rambutnyapun mendapatkan hiasan model baru. Penuh dengan dedaunan—kini bahkan dengan bulu-bulu burung warna hitam.

"EEEUUUHH!!!!" sungguh semua merasa prihatin dengan musibah yang menimpa Deidara.

Itachi datang melangkah dengan ragu, melihat Deidara yang nampak kacau.

"…You raise me up to walk on stormy seas—"

Terjadi gelombang suara mengerikan.

"Mencintaaaaiikuuu~ sampai matiiii—"

Konan berkeringan dingin memencet beberapa tombol dan memasukkan password. Produser sudah mencak-mencak dengan satu kata.

"DURASIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!"

"So she said was the problem—"

Moonlight sonata.

Gelombang lagi.

Suara deburan ombak.

Kicau burung saat senja.

"—Belajar musiiikk bersama~ do-re-do-re-mi-re-do, aturlah nada dan iramaaaa—"

"…Namun dirimu tak mau mengertiiii~"

"—Ingin kucoba sekali lagi, walau itu tak pasti—"

"—C-H-O-C-O bersama kamuuu…! Rasanya, rasanya, bagaikan coklat~ hatiku, terbuai dalam cinta yang tulus dan—"

"—SHALALA, itsukakito. Bokuwa te ni surunda—"

"AAAAAARRRRGGGHHH!!!" Tobi dan Produser menjerit frustasi.

Sasuke dan Naruto berpandangan tanpa minat, keduanya turun dari panggung dengan wajah mengerikan. Lalu berjalan mengitari panggung, menaiki tangga menuju ke lantai dua—menuju ke ruang kontrol.

"Ck, ck, ck. Sepertinya butuh bantuan" Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya setelah sampai di ruang kontrol.

Sasuke mendengus kesal. "Tch. Bodoh."

WUUUUSSSSSSSHHHH…

BZZZZTT… BZZZZTT… CHIP! CHIP!

"TIIIDAAAAAAAK!!! JANGAN PAKE RASENGAN DAN CHIDORI! TIDAAAA-"

Teriakan Pain tenggelam dalam lagu. Konan memilih lompat dari jendela keluar. Tidak peduli ruang kontrol ada di lantai dua.

"Hancur, hancur haatiikuuu—"

"…Dicintai dirimu, bagaikan indah senja di sore hari…"

"Kya karoon haye kuch kuch hota haiii~"

(Terjemahan colongan-lagi-: Apa perlu kulakukan, sesuatu terjadi dalam hatiku).

Tidak butuh waktu hitungan detik, untuk kehancuran studio, katakan terima kasih pada Rasengan dan Chidori~

"AAAAAAAAARRRRGGGHHH!!!"

Tanpa kecuali, semua terlempar keluar gedung.

Tapi sempat-sempatnya Kakuzu menyelamatkan kekasih-kekasih hatinya—uang. Begitu pula Kakashi yang tetap membaca soulmate-nya—Icha-Icha karya Jiraiya.

Tobi berteriak dengan kesal—bukan autis. "ACARANYAAAAA HANCUUUURRR!!!"

Produser ikut menimpali. "DURASIIIINYAAAA HANCUUURR!!!"

JDUAAAAAAAAAAAAAAAAARRRR!!!

Seseorang yang berada dalam gedung itu—yang ikut terlempar pula keluar, mengambil HP dari sakunya, dan menelepon seseorang. "Halo, Masashi-sama…"

"Ya, Kau sudah menemukannya?"

"Sudah. Sebaiknya tidak usah dihampiri. Tempat ini hancur lebur gara-gara Sasuke dan Naruto kesayanganmu…"

"Eeh! A-apa?! Hei?! T-tunggu—"

TUUTT…

#~**~#

To be continued'

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

(Pasti matanya pada segaris terus ngomong, "GAJEEE~~!")

Sekedar chapter pemanasan menuju ke inti topik. Ahahahahaha… Btw, masih ada yang inget fict ini gak? XDD dalam hati gugurutuan, "LIGHT LAMBRETTA BANGET SIH NGAPDET FICT!" XDD

Makasih buat semua yang udah mau review… daftarin diri ke fict ini, nunggu fict ini *kalau ada*, baca, apalagi sampe review… *peluk semua*

Terima kasih waktunya untuk menyempatkan membaca! Kritik dan sarannya selalu ditunggu!

Sweet smile,

Light-Sapphire-Chan

#~**~#

Menghina sesuatu yang dibenci memang menyenangkan. Tapi apakah Kau tahu kalau ada hati yang tersakiti karenanya?