A/N: Saya pasti udah gila karena masih berani nulis dan publish fanfic padahal ujian dimajukan jadi bulan Maret. -_- Yah, tapi saya kangen nulis fanfic.

Fanfic ini terdiri atas tiga chapter dan saya publish sekalian semuanya, biar nggak ada tanggungan. Please enjoy!

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei

.SATU.

~S A K U R A~

*

*

Aku pernah menjadi anak perempuan paling bahagia di dunia ketika tahu aku akan memulai masa ninjaku dengan satu tim bersama orang yang kusukai. Yah, aku memang agak sebal ketika tahu aku juga akan harus bekerjasama dengan si berisik Uzumaki Naruto dan agak ngeri saat mendengar bahwa jounin pembimbing kami adalah Hatake Kakashi yang terkenal tak pernah meluluskan satu genin pun. Tapi tidak masalah. Apapun akan kulakukan asal bersama Sasuke.

Semuanya berjalan lancar—pada awalnya. Aku amat menyayangi timku, dan aku sangat bersyukur karena memiliki mereka sebagai kelompok. Suka dan duka kami lalui bersama. Pertarungan, senang-senang. Semuanya.

Kupikir, aku akan seperti ini selamanya. Angan-anganku adalah tumbuh bersama Sasuke dan Naruto, menjadi ninja Konoha yang hebat. Lalu mungkin Sasuke akan mulai melihatku sebagai seorang wanita dan mungkin saja akan melamarku nantinya.

Tapi, segala harapan itu hancur berkeping-keping, berserakan begitu saja dan pecahannya menusuk hatiku sampai berdarah-darah.

Saat Sasuke pergi. Itu adalah awal segalanya. Aku mengerti kenapa dia memutuskan ikut bersama Orochimaru, namun di sisi lain aku juga tidak mengerti. Sungguh aku berharap dia memilih kami—desanya, timnya. Melanjutkan hidup seperti saat ini.

Namun dia tetap pergi.

Dan bahkan Naruto pun tak mampu membawanya kembali.

Aku ingat, betapa aku sangat hancur saat tahu Naruto pulang tanpa Sasuke. Tapi kutahan air mataku di depannya. Meskipun dadaku sangat sakit ketika mendengar bahwa dirinya tetap akan membawa Sasuke padaku, karena hal itu adalah janjinya seumur hidup.

Ah, betapa kusesali diriku yang lemah dan hanya bisa merengek kepadanya. Aku pun mengubah pola pikirku. Kutanamkan tekad untuk menjadi lebih kuat, agar suatu hari nanti aku bisa pergi bersama Naruto untuk membawa Sasuke kembali.

Aku mulai belajar kepada Nona Tsunade. Tekadku membuat proses belajarku berjalan lancar. Aku pun mulai bisa menata hatiku, menyusun ulang pikiran serta hidupku. Kini aku mulai bisa tersenyum, membayangkan aku dan Naruto menjadi ninja yang hebat bersama-sama, tetap berlatih bersama dalam satu tim bersama Guru Kakashi. Hanya saja, tanpa Sasuke.

Nyatanya, Naruto juga meninggalkanku. Dia tidak berlatih di Konoha, melainkan ikut berkelana bersama gurunya, Tuan Jiraiya. Aku pun harus melepasnya. Kutanamkan pada diriku bahwa Naruto pasti kembali dengan menjadi lebih kuat. Pasti.

Karena itu, kutekadkan untuk mengantarnya dengan senyuman dan kata-kata motivasi.

Tetapi rupanya aku masih selemah dulu. Aku menangis semalaman pada hari aku harus melepas Naruto pergi. Aku mengantarnya di gerbang dengan senyum, namun zat cair itu langsung meleleh ketika punggungnya hilang dari jarak pandangku.

Satu lagi sahabatku pergi. Kenapa mereka semua pergi? Kenapa mereka semua meninggalkan aku? Tak tahukah mereka, bahwa mereka sangat berarti bagiku?

Hari-hari berikutnya kulalui dengan rasa pedih yang masih menyiksa. Aku tak kuasa melihat Ino, Tenten, atau Hinata berlatih dengan tim dan guru mereka, yang masih sama seperti dulu. Mereka selalu bersama.

Selalu. Bersama.

Kenapa hanya aku yang kehilangan timku?

Kenapa hanya aku yang terpaksa berganti tim saat ujian chuunin?

Kenapa ini semua terjadi padaku?

Kenapa!?

Kadang aku berpikir, andai Naruto yang meninggalkan desa bersama Orochimaru, mungkin tak akan seperti ini jadinya. Sebagai jinchuuriki kyuubi, orang-orang desa akan lebih senang kalau dia tak ada. Barangkali akan lebih baik jika dia yang pergi.

Tetapi setelah hal itu terlintas di otakku, aku langsung merasa jijik pada diriku sendiri. Jijik, sangat jijik. Aku ini picik dan tak adil. Padahal Naruto selalu baik padaku, dan terutama, selalu ada untukku. Lantas mengapa aku berpikir begitu?

Kemudian, aku pasti akan menangis lagi.

Memang benar apa kata Sasuke. Aku ini cengeng, cengeng sekali...

TBC