[A/N] fufufufu~… aku tahu… aku tahu… pasti para readers sudah tidak kaget lagi melihat judul chapter kali ini kan?
Hoho… oh ya, aku mau nanya sesuatu! Tapi ntar aja… pertanyaanku ada di akhir cerita nanti..
Yosh! Selamat menikmati chapter terakhir cerita ini!

Disclaimer : sayangnya sampai cerita ini berakhir, Bleach masih punya Tite Kubo tuh…

My Dearest Teacher

Final Chapter

Rukia menyeruput teh panas miliknya dan meletakkannya kembali ke atas meja makan. Saat ini Rukia berada di sebuah café yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Ichigo dirawat. Sebelum pergi, Rukia tadi sempat pamit kepada keluarga Kurosaki dan Ichigo. Sekilas sebelum ia meninggalkan ruangan itu, ia melihat ke arah Ichigo dan dilihatnya pemuda itu sedang menatapnya dengan cemas.

"Rukia!" sapa Rangiku dengan ceria. Saapaan Rangiku tersebut telah sukses mengembalikan Rukia dari alam lamunannya. Rangiku mengambil tempat duduk di seberang Rukia dan memanggil seorang pelayan. Rangiku memesan teh panas manis. Ya, Rukia juga tadi memanggil Rangiku, Momo dan Renji. Rukia merasa, saat ini ia paling merasa nyaman jika harus membicarakan masalahnya pada mereka.

Tak lama kemudian, Momo dan Renji pun datang. "Jadi Rukia… apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?" tanya Renji dengan penuh antusias sambil mengambil tempat duduk di samping Rangiku.

Rukia nampak sedang memikirkan sesuatu sejenak. "Aku… mendapat beasiswa untuk bersekolah di Amerika…" katanya perlahan. Ia terus saja menatap cangkir tehnya.

"Benarkah? Wah Rukia, kau benar-benar beruntung! Selamat ya!" ucap Momo sambil memeluk Rukia dari samping.

"Selamat ya, Rukia!" kata Renji sambil menunjukkan cengirannya yang khas.

"Selamat Rukia! Akhirnya impianmu untuk pergi ke negeri paman sam itu terkabul juga!" kata Rangiku.

Semua teman-temannya nampak senang mendengar kabar itu. Namun Rukianya sendiri hanya tersenyum tipis sambil terus-menerus menatap cangkir tehnya. Rangikulah orang pertama yang menyadari ada sesuatu yang ganjil terhadap Rukia.

"Rukia? Kau kenapa? Bukankah seharusnya kau senang?" tanya Rangiku. Perkataan Rangiku sepertinya menarik perhatian Renji dan Momo sehingga menyebabkan mereka berdua ikut memperhatikan Rukia.

Lagi, Rukia memilih untuk diam dan memberikan senyuman tipisnya. Setelah beberapa saat, akhirnya ia pun angkat bicara. "Ya tentu saja aku senang. Tapi… itu berarti aku kan harus meninggalkan Jepang… meninggalkan kalian semua…" jelasnya dengan lirih.

Semuanya diam. Mereka baru sadar akan makna lain dari berita tersebut. Tentu saja mereka semua tidak mau kehilangan Rukia. Bagi mereka, Rukia bukan hanya teman. Bagi mereka, Rukia merupakan anggota keluarga.

"Iya juga ya…" kata Rangiku murung.

Renji berpikir keras sejenak. "Hufth! Berarti kau juga akan berpisah dengan Ichigo dong?" wajah Rukia menjadi semakin pucat mendengar komentar Renji. Momo yang melihat reaksi Rukia langsung saja menjitak kepala Renji. "Ouch! Sakit tahu!"

"Kamu keterlaluan Renji! Kau sudah tahu kan kalau Rukia dan Ichigo itu saling menyukai… seharusnya hal seperti ini tidak akan menjadi masalah buat mereka!" kata Momo dengan kesal sambil memakan cake yang ia pesan.

"Itu benar Renji!" ucap Rangiku sambil menunjuk Renji dengan menggunakan sendok. "Mereka kan bisa berhubungan jarak jauh." Secercah harapan mulai timbul lagi di hati Rukia mendengar support yang diberikan oleh Rangiku dan Momo.

"Bukannya hubungan jarak jauh itu selalu berakhir dengan perpisahan ya?" tanya Renji polos. Rukia serasa tersambar petir mendengar ucapan Renji yang polos tersebut. Momo dan Rangiku sudah melemparkan tatapan membunuh mereka kepada Renji, namun sayangnya si babon itu masih belum sadar juga akan kesalahan yang telah diperbuatnya.

'Uuugghhh…' Rukia berusaha menahan emosinya. Bukannya karena ia marah pada Renji. Tapi melainkan karena ia juga sadar akan kebenaran pada perkataan Renji. Bagaimana kalau Ichigo nanti berpaling kepada perempuan lain selagi ia tidak ada?

BRAK!

Rukia memukul meja dihadapannya dengan keras. Kelakuannya yang tidak wajar itu membuat teman-temannya yang lain menatapnya dengan heran. Rukia akhirnya sadar kalau ia sudah melakukan sebuah kesalahan begitu melihat teman-temannya memandanginya dengan cemas. "Ah… aku… mau pulang dulu…" Rukia lalu mengeluarkan selembar uang untuk membayar minumannya dan segera meninggalkan teman-temannya yang masih kebingungan di café.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

'Aduh Rukia! Kau ini si bodoh sejati!' pikir Rukia dalam hati sambil memegangi kepalanya. 'Tidak seharusnya aku meninggalkan teman-temanku begitu saja seperti tadi!'

Rukia masih terus saja berpusing ria atas kebodohan yang tadi ia lakukan sampai-sampai ia tidak sadar kalau ia sudah sampai di depan rumahnya. 'Ah… ternyata sudah sampai ya…'

Rukia masuk ke dalam rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa melihat-lihat sekitarnya. Saat tiba di kamar, Rukia kaget setengah mati melihat barang-barang yang seharusnya ada di kamarnya sudah sebagian besar menghilang. Poster chappy kesayangannya, radio mini miliknya, laptop dan sebagainya yang seharusnya ada di kamarnya menghilang.

"Oh Rukia… kau sudah pulang?" tanya Hisana yang tiba-tiba muncul di belakang Rukia.

Rukia langsung menatap kakaknya dengan tatapan ketakutan. "Kak… kenapa barang-barangku menghilang?"

"Oh itu… karena sepertinya proses pemindahan barang-barang dari Jepang ke Amerika lama, jadi kami memutuskan untuk segera memulai pemindahan barang dari sekarang." Hisana tersenyum kepada Rukia. "Oh! Jangan-jangan kau masih memerlukan barang-barang itu ya?" tanya Hisana dengan rasa bersalah. "Maaf ya Rukia… kakak pikir kau sudah tidak-"

"Tidak apa-apa kak… barang-barang itu sudah bisa dipindahkan kok…" jawab Rukia sambil menundukkan kepalanya. "Kak, aku mau belajar dulu." Rukia lalu menutup pintu kamarnya dan pergi ke tempat tidurnya dengan segera. Rukia merebahkan diri di atas tempat tidur sambil menerawang langit-langit di kamarnya. "Apakah… sebaiknya aku menolak beasiswa itu…?" tanya Rukia pada dirinya sendiri. Karena terlalu banyak beban pikiran, tanpa sadar, Rukia memejamkan matanya dan mulai tertidur dengan pulas.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Keesokan harinya di sekolah, Rukia berusaha mati-matian untuk menghindari Renji, Momo dan Rangiku. Sepertinya mereka ingin mengatakan sesuatu kepada Rukia. Namun, hati Rukia belum siap mendengarnya. Karena itu, ia terus-menerus menghindari teman-temannya.

'Huft! Sebentar lagi Rukia! Sebentar lagi bel pulang sekolah! Kau bisa melewati hari ini dengan baik!' ucap Rukia dalam hati sambil menyemangati dirinya sendiri.

Teng tong…

'Yosh! Bel sudah berbunyi!' Begitu selesai memberi salam, Rukia langsung melarikan diri ke locker sepatu. Saat ia membuka locker sepatunya, Rukia menjadi panik. 'Sial! Kemana sepatuku?' Rukia mulai mencari sepatunya di sekitar locker sepatu miliknya. Lima menit sudah berlalu semenjak Rukia mulai mencari sepatunya. Hasilnya masih nihil, ia tidak dapat menemukan sepatunya dimana-mana.

"Kau sedang mencari apa Rukia?" tanya Momo.

"Aku sedang mencari sepatuku, Momo…" kata Rukia tanpa melihat ke arah Momo. 'Eh?' Rukia baru sadar akan kehadiran Momo dan mulai berkeringat dingin.

"Oh, maksudmu sepatu ini?" kata Rangiku sambil memegang kedua sepatu milik Rukia. Rukia menengok ke arah Rangiku.

"Kembalikan sepatuku!" kata Rukia berusaha menggapai sepatu miliknya. Rangiku pun mengangkat sepatu Rukia tinggi-tinggi sehingga gadis mungil seperti Rukia tidak dapat menjangkaunya.

"Pasti akan kami kembalikan asalkan kau mau mendengar perkataan kami!" Renji tiba-tiba muncul dari balik rak sepatu.

"Baik, baik! Akan ku dengarkan kalian! Apa yang ingin kau katakan?" tanya Rukia kesal.

"Rukia… kami… minta maaf…" kata Momo ragu-ragu. Perasaan bersalah pun langsung menghantui Rukia sehingga gadis mungil itu hanya menundukkan kepalanya.

"Kalian tidak salah. Akulah yang salah karena sudah berkata kasar kepada kalian… maafkan aku ya…" kata Rukia. Rukia masih menundukkan kepalanya.

"…"

"…" Suasana tiba-tiba menjadi hening.

"Oh ya, Rukia… kami pasti akan merasa kesepian kalau kau tidak ada di sini." Rangiku mulai membuka percakapan diantara mereka lagi.

"Tapi… kami tahu inilah impianmu dari dulu. Kau ingin sekali bersekolah di Amerika kan?" lanjut Momo.

"Dan apapun impianmu, kami pasti akan selalu mendukungmu…" lanjut Renji.

"Karena itu… sekarang kau sudah berhasil menggapai impianmu… tidak mungkin kan kami meminta kamu untuk melepaskan beasiswa itu begitu saja," sambung Rangiku lagi.

"…" Rukia membisu.

"Bagi kami semua, kau itu lebih dari seorang teman. Kau itu sudah seperti keluarga kami sendiri," ucap Renji.

"Teman-teman…" Semua teman-teman Rukia pun kini melihat ke arah Rukia. Rukia mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Terima kasih atas dukungan kalian semua…"

"Sama-sama," ucap semua teman-teman Rukia secara bersama-sama.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Rukia berjalan menuju ke kamar perawatan Ichigo sambil membawa sebuah bouquet bunga lili. Ia menarik nafas dalam-dalam. 'Yosh! Aku harus bersikap biasa saja di depan Ichigo!'

Rukia masuk ke dalam kamar Ichigo sambil mengucapkan, "Yo, Ichigo!"

Ichigo sedang duduk di atas ranjangnya sambil memakan buah stawberry saat Rukia masuk ke kamarnya. Begitu melihat Rukia yang datang, Ichigo tersenyum, "Yo, Rukia! Kau mau stawberry?" tawar Ichigo sambil menyodorkan semangkuk strawberry ke arah Rukia.

Rukia melihat ke mangkuk strawberry yang ditawarkan Ichigo lalu ia melirik ke arah Ichigo yang sedang memakan buah strawberry. "Terima kasih…" Rukia mengambil satu buah strawberry dan memakannya, "Asem sekali!" kata Rukia sambil menunjukkan wajah yang aneh.

Ichigo tertawa melihat wajah Rukia yang aneh. "Hahahaha…"

"Hu-uh! Kau jahat sekali Ichigo! Dasar kanibal! Strawberry kok makan strawberry?" kata Rukia kesal.

"Hei hei! Tunggu dulu! Siapa yang kau maksud memakan strawberry hah?" tanya Ichigo sambil mengangkat sebelah alis matanya.

"Tentu saja kau bodoh!"

Ichigo masih terus saja mengelak dipanggil strawberry, sedangkan Rukia juga masih belum menyerah menghinanya. Mereka pun tertawa terus-terusan.

"Hoi Rukia…" kata Ichigo setelah ia berhenti tertawa.

"Haha… ada apa?" tanya Rukia memandangi Ichigo setelah ia berhenti tertawa.

"Apa… ada yang sedang kau sembunyukan dariku?" tanya Ichigo ragu.

Deg! Rukia kaget. Dia benar-benar tidak menduga Ichigo akan menanyakan hal itu padanya. "Ti-tidak kok! Haha, kau ini. Memangnya kenapa kau bisa sampai berpikir kalau aku menyembunyikan sesuatu darimu?"

Ichigo terus menatap Rukia. Rukia yang juga sedang menatapnya sampai bisa melihat ekspresi kecewa yang ditunjukkan Ichigo. "Oh begitu…" kata Ichigo setelah beberapa saat. "Ku pikir kau sedang ada masalah. Kemarin saat pamit pulang, kau terlihat sedikit pucat. Jadi aku khawatir padamu…"

"Hahaha… aku baik-baik saja kok!" kata Rukia berusaha menutupi kegelisahannya.

"Rukia… kalau kau punya masalah, ceritakanlah padaku. Aku pasti akan membantumu. Aku tidak akan memaksamu menceritakan masalahmu jika kau memang tidak mau. Karena itu, aku akan menunggumu. Menunggu agar kaulah yang datang padaku." Ichigo menatap ke luar jendela melihat langit yang sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi sore hari. Baru kali ini Rukia melihat wajah Ichigo yang begitu tenang namun serius dan sedikit terbesit kekhawatira di dalamnya. Wajah Ichigo yang sedang memandang ke langit luar benar-benar membuat Rukia terpesona. Ia jadi merasa bersalah karena sama sekali belum mengatakan sesuatu yang penting pada Ichigo.

"… Ichigo," kata Rukia perlahan. Rukia sudah menetapkan hatinya. Yap, dia akan memberitahu Ichigo mengenai impiannya. Ichigo mengalihkan pandangannya dan menatap Rukia. "Aku… mempunyai impian untuk menjadi seorang penulis terkenal. Dari dulu hingga sekarang… aku selalu berusaha untuk mengasah kemampuan menulisku. Teman-teman serta Kak Hisana dan Kak Byakuya mengakui kemampuanku. Aku merasa sangat senang waktu itu. Suatu hari, ada sebuah lomba penulisan novel. Karya novel yang menang akan diterbitkan oleh penerbit terkenal. Aku iseng-iseng saja mengikuti lomba itu. Tapi ternyata, saat itu aku kalah. Aku merasa sangat kesal. Aku selalu membayangkan, kira-kira orang seperti apa yang sudah mengalahkanku. Saking penasarannya, aku membeli novel pemenang perlombaan yang baru diterbitkan tersebut," ucap Rukia sambil mengambil tempat duduk di samping ranjang Ichigo.

"Saat membacanya, aku paham mengapa aku bisa kalah darinya. Gaya bahasa, cara penulisan maupun materi penulisan yang disajikan sangat bagus. Aku menjadi terkagum-kagum sendiri saat membaca novel tersebut. Semangatku pun mulai menghilang. Aku yang sedang terpuruk, pergi ke taman. Sepertinya, saat itu aku benar-benar terlihat depresi." Rukia tersenyum miris mengingat kembali kejadian saat itu. Ichigo masih setia mendengarkan cerita Rukia.

"Saat aku dalam keadaan seperti itu, ada seorang perempuan yang lebih tua mendekatiku dan betanya kenapa aku tampak sangat sedih. Saking pasrahnya aku, semua keluh kesahku pun aku ceritakan kepadanya. Ia mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh. Aku menjadi sangat terhibur dengan perlakuannya. Setelah selesai bercerita, ia lalu menasehatiku. Katanya, 'Tidak ada segala sesuatu di dunia ini yang akan kau dapatkan dengan cara instant. Memang ada kalanya dimana kita akan menjadi terpuruk. Tapi setelah itu kita harus bangkit! Bangkit dan raihlah impianmu!' kata-kata itu sebenarnya sangat sederhana, tapi bisa membuat semangatku bangkit kembali. Setelah itu, tiba-tiba ia pamit karena masih ada urusan. Sesaat sebelum ia pergi, aku sempat menanyakan namanya."

"Aku sangat kaget begitu mendengar namanya. Ah, bukan nama asli yang ia sebutkan, tapi penname. Gadis itu bernama Sode no Shirayuki. Dialah pemenang dari penulisan novel tersebut. Aku merasa penasaran padanya. Aku lalu memulai pencarian kecilku mengenai dirinya. Yang aku tahu, ia 2 tahun lebih tua dariku. Dan saat ini, ia tinggal di Amerika. Sejak saat itu aku selalu bermimpi untuk pergi ke Amerika. Aku ingin menemuinya dan berterima kasih padanya." Rukia berusaha sekuat tenaga menahan cairan hangat yang hampir keluar dari matanya.

"Tapi aku tidak bisa begitu saja pergi ke Amerika dan meninggalkan keluargaku. Baik Kak Hisana maupun Kak Byakuya adalah orang sibuk. Dan aku tidak boleh pergi ke negara asing seorang diri karena dianggap masih terlalu kecil. Namun aku selalu berdoa agar suatu hari nanti, aku dapat pergi ke Amerika dan bertemu dengannya lagi. Sekarang doaku sudah terjawab. Aku mengikuti lomba penulisan essay dan mengirimnya ke Amerika. Aku memang tidak menang, tetapi para juri terkesan dengan karyaku dan memutuskan untuk memberikanku beasiswa untuk belajar disana. Aku sangat senang tapi…" Rukia menunduk. Ia tak tahan lagi dan membiarkan air matanya mengalir jatuh ke atas tangannya yang ia letakkan di pangkuannya.

"Rukia… sini…" panggil Ichigo sambil melambaikan tangannya. Rukia pun mendekati Ichigo. Begitu Rukia sampai di dekat Ichigo, Ichigo langsung mengangkat tangannya dan menghapus air mata Rukia. "Aku mengerti Rukia…" Ichigo pun membawa Rukia ke dalam pelukannya. "Pergilah… kejarlah impianmu…"

Air mata Rukia mulai membanjiri pakaian Ichigo. "Tapi Ichigo… aku… tidak mau berpisah denganmu…"

"Tenanglah… kita tidak akan berpisah terlalu lama…" ucap Ichigo menenangkan hati Rukia. "Saat kau sadari nanti, aku yakin kita pasti sudah bersama lagi."

"Tapi…"

"Rukia…" Ichigo melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rukia baik-baik. Rukia pun menatap Ichigo dengan tatapan yang sama. "Kalau kau nanti rindu padaku… kau hanya perlu menatap langit. Dan ingatlah, bahwa sejauh apapun kita berpisah, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Rukia hanya diam. Bibirnya tertutup rapat-rapat. Ia lalu memeluk Ichigo lagi dan membenamkan wajahnya dalam-dalam di dada bidang milik Ichigo. "Baiklah…"

"Kapan kau akan berangkat?"

"… Seminggu lagi…"

Ichigo tersentak mendengar perkataan Rukia. 'Secepat itukah?' Ichigo melonggarkan pelukannya sekali lagi hanya untuk mengecup kening Rukia. "Rukia… apa kau ada acara hari Rabu nanti?"

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hari Rabu di SMA Karakura…

Kyoraku sensei baru saja selesai mengabsen seluruh siswa-siswi yang hadir di kelas saat ini. "Jadi… hari ini yang absen hanya Kuchiki saja ya? Baiklah kalau begitu, mari kita mulai pelajaran kita hari ini anak-anak."

Selagi pelajaran dimulai, Rangiku dan Momo memperhatikan bangku yang biasa ditempati oleh Rukia. Mereka lalu saling melihat satu sama lain dan terkekeh kecil. Setelah itu, baik Momo maupun Rangiku kembali berkonsentrasi pada pelajaran lagi.

'Selamat bersenang-senang ya, Rukia!'

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Di suatu tempat entah dimana…

"Ichigo, tunggu!" kata Rukia sambil menarik lengan baju Ichigo. Nafas Rukia masih ngos-ngosan. Sepertinya mereka baru saja berjalan sangat jauh.

"Ayolah Rukia! Sedikit lagi kita sampai! Kuatkan dirimu!" kata Ichigo menyemangati Rukia. Ichigo kemudian berjalan meninggalkan Rukia.

"Tapi aku… hosh… sudah… hosh… tidak kuat!"

Ichigo menghela nafas. Ia lalu membalikkan badannya dan menghampiri Rukia. "Kau benar-benar sudah tidak kuat Rukia?" tanya Ichigo. Rukia hanya mampu menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja. Gadis itu masih sibuk mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. "Ya sudah kalau begitu…" Ichigo lalu mengangkat badan mungil Rukia dan menggendongnya ala bridal style.

"Waa…? Ichigo! Apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" kata Rukia sambil memukul-mukuli dada Ichigo.

"Haha.. sabar-sabar! Pasti akan aku turunkan jika sudah sampai tujuan!" kata Ichigo sambil tertawa. Ichigo terus membawa Rukia dalam keadaan seperti hingga mereka sampai di pinggir pantai.

Ketika mereka tiba, Rukia yang sepanjang jalan terus meronta supaya ia diturunkan, kini terdiam. Ia terpukau melihat pemandangan pantai yang sangat indah. Lautnya berwarna biru dan pasir yang berwarna putih bersih dihiasi oleh sinar matahari yang cerah dan sesekali ada burung-burung yang beterbangan kemana-mana. "Wow…" ucap Rukia terpukau.

Ichigo menurunkan Rukia di atas pasir putih yang bersih. Rukia yang baru diturunkan langsung melempar tasnya sembarangan dan pergi ke arah laut sambil tertawa bahagia. "Ichigo lihat! Lautnya indah sekali ya!"

Ichigo yang melihat Rukia yang sedang tertawa-tawa sambil bermain dengan ombak-ombak kecil yang menghampiri kakinya hanya bisa tersenyum. 'Dasar anak kecil…' pikirnya dalam hati.

"Ichigo, ayo kemari!" panggil Rukia sambil melambaikan tangannya. Ichigo pun langsung mendekati Rukia. Begitu sampai di dekat Rukia, Rukia langsung menyiprati Ichigo dengan air. Sayangnya Ichigo dapat menghindari serangan Rukia tersebut dan balas menyerang Rukia. Rukia yang tidak siap akhirnya menjadi basah. "Ichigo curang!" teriak Rukia sambil terus-menerus menyerang Ichigo. Mereka berdua pun bermain air terus-terusan. Ketika matahari telah tiba di atas kepala dan suhu pada hari itu sudah mencapai puncaknya, mereka memakan makan siang yang sudah disiapkan oleh Rukia dari rumah.

Setelah makan, mereka juga menyewa sepeda dan berkeliling pantai. Mereka terus bermain tanpa kenal waktu. Hingga akhirnya mereka sadar kalau matahari sudah mulai terbenam. Mereka pun sudah kelelahan karena terus-terusan bermain seharian. Ichigo dan Rukia duduk di pinggir pantai sambil memandangi matahari yang mulai terbenam.

Mereka berdua duduk berdekatan. Rukia menyandarkan kepalanya ke bahu Ichigo. "Ichigo… terima kasih untuk hari ini ya…"

"Sama-sama…" ucap Ichigo sambil merangkul Rukia.

Rukia mengangkat kepalanya dan memperhatikan wajah Ichigo. Ichigo pun melakukan hal yang sama. "Ichigo… kalau kau mau, kau bisa meencegahku untuk pergi ke Amerika! Kalau kamu, aku pasti-"

"Dan membiarkan impianmu tertunda?" potong Ichigo.

Rukia terdiam, ia hanya menundukkan kepalanya. "Rukia… aku tidak mau menjadi penghalang bagimu untuk menggapai impianmu. Aku ingin mendukungmu. Kau juga jangan dengan mudahnya menyerah dalam menggapai impianmu dan berpikir 'pasti masih ada kesempatan lain'. Karena itu pergilah. Aku akan menunggumu di sini…" Ichigo lalu membawa Rukia ke dalam pelukannya lagi. Rukia membalas pelukan itu dengan erat.

"Baiklah. Terima kasih Ichigo… tunggulah aku. Aku akan segera pulang…"

"Iya, aku percaya… aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal padamu karena aku yakin kau pasti akan kembali…"

"Iya! Aku pasti akan kembali," ucap Rukia sambil mempererat pelukannya. Mereka terus berpelukan hingga sang matahari terbenam dan langit pun berubah menjadi gelap.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hari Minggu di bandara…

"Rukia… kalau sudah dapat teman baru di sana, jangan lupakan kita ya…" kata Momo sambil memeluk Rukia. Setelah beberapa saat berpelukan, Rukia pun melepaskan pelukan Momo.

"Tentu saja Momo. Aku tidak akan melupakan kalian. Kaliankan sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri."

Setelah Momo, Rangiku kemudian memeluk Rukia erat-erat. Saking eratnya, Rukia sampai sesak nafas dibuatnya. "Sering-sering hubungi kita ya!"

"Huk!... ten…tentu! Tapi… lepaskan aku… dulu… uhuk!" kata Rukia setengah mati. Akhirnya Rangiku pun melepaskan pelukannya sambil tersenyum merasa bersalah.

Kini giliran Renji yang mengucapkan perpisahan. Tanpa basa-basi, Rukia langsung memeluk Renji. Renji kaget, namun setelah melirik ke arah Ichigo dan mendapat persetujuan darinya, Renji lalu membalas pelukan Rukia. "Hati-hati ya…"

"Iya! Jangan kangen sama aku ya, babon!"

"Enak saja!" kata Renji sambil menjitak kepala Rukia. Rukia hanya meringis kesakitan dan menjulurkan lidahnya ke arah Renji.

Rukia kini berpindah ke depan Ichigo. Wajahnya nampak sendu. Selama seminggu ini, mereka tidak dapat menghabiskan banyak waktu bersama. Rukia sibuk mengurusi kepindahannya. Sedangkan Ichigonya sendiri sibuk mengurusi tugas-tugas kuliahnya. Hanya pada hari Rabu kemarin saja mereka dapat menghabiskan waktu bersama. "Ichigo-"

"Kalau kau berharap aku akan mencegahmu pergi dan memintamu tetap berada di sisiku, maaf saja ya. Aku tidak akan melakukannya," ucap Ichigo sambil membuang mukanya dan memejamkan kedua matanya.

Hal itu membuat Rukia cemberut dengan sukses. "Huh! Kau ini menyebalkan! Tidak bisa romantis sedikit apa? Lagipula aku tidak akan meminta hal itu padamu!"

Ichigo membuka sebelah matanya untuk melihat ekspresi cemberut Rukia. Ichigo tersenyum melihat wajah cemberut Rukia yang menurutnya sangat manis itu. "Yah… dimana pun kau nantinya berada, aku yakin kau juga akan selalu berada di hatiku Rukia…"

Rukia mendelik ke arah Ichigo. "Apa-apaan itu? Kenapa ucapanmu itu seakan-akan mengatakan kalau aku sudah meninggal dunia?"

Ichigo hanya terkekeh mendengar ucapan Rukia. "Kau ini… cuek nggak suka… romantis nggak suka… maunya apa sih?"

Rukia tambah cemberut setelah itu. "Memangnya kau tidak khawatir padaku?"

Ichigo tersenyum mendengar ucapan Rukia. "Tentu saja aku khawatir, bodoh!" ucap Ichigo sambil mengacak-acak rambut Rukia. "Tapi kan… kita masih bisa berhubungan lewat webcam, e-mail, sms… ada banyak cara supaya kita bisa saling berhubungan kan?"

Rukia menatap Ichigo dalam-dalam. Wajahnya merah karena akhirnya ia tahu ternyata Ichigo juga mengkhawatirkannya. "Iya… ucapnya sambil tersenyum lembut pada Ichigo.

"Rukia! Sudah saatnya kita naik pesawat!" kata Hisana memanggil Rukia.

Rukia, Ichigo dan yang lainnya menengok ke arah Hisana. "Iya kak!" kata Rukia. Rukia menghadap ke arah Ichigo dan teman-temannya sekali lagi. "Nah, aku berangkat dulu ya…" ucapnya sambil tersenyum. Sulit baginya untuk bisa tersenyum.

"Hati-hati ya!" kata Renji.

"Jaga diri baik-baik!" ucap Momo dengan mata berkaca-kaca.

"Daah Rukia!" kata Rangiku sambil melambaikan tangannya.

Rukia menatap Ichigo sekali lagi. "Aku pergi dulu ya…" ucapnya dengan tatapan sendu.

"Ya…" balas Ichigo dengan senyuman. "Aku akan menunggumu kembali Rukia…" Rukia tersenyum dan segera memeluk Ichigo.

"Jangan selingkuh ya!"

"Iya iya… haha." Rukia pun melepaskan pelukannya dan mulai berlari kecil ke arah Hisana dan Byakuya yang sudah menunggunya dari tadi. Setelah Rukia sampai di depan Byakuya dan Hisana, mereka pun berjalan bersama untuk naik ke atas pesawat. Sambil berjalan, Rukia menengok kembali ke arah Ichigo dan teman-temannya. "Dadah semua! Kalau ada waktu, aku akan mengunjungi kalian semua lagi!"

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Dua tahun kemudian…

Pagi itu sangat cerah. Hal ini menunjukkan pertanda yang bagus untuk memulai aktifitas di akhir pekan. Matahari baru mulai menyinari seluruh kota Karakura. Sinar matahari tersebut juga masuk ke dalam kamar tidur seorang pemuda berambut orange. Seakan menyuruh pemuda itu untuk segera bangun dan memulai aktifitasnya.

Ichigo membuka kedua matanya dengan perlahan. Matanya masih disilaukan oleh cahaya matahari yang memaksa mengintip ke dalam kamarnya melalui celah-celah gorden. Setelah mulai terbiasa dengan sinar matahari tersebut, Ichigo bangun dari tempat tidurnya dan melihat ke arah jam yang terletak di atas tempat tidurnya. Pukul 8.45.

'Bagus… aku masih punya waktu untuk bersiap-siap,' pikirnya dalam hati. Ichigo lalu pergi meninggalkan kamar tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Ichigo masuk lagi ke kamar tidurnya dan mulai membongkar-bongkar isi lemari pakaiannya. Ichigo akhirnya menemukan pakaian yang sesuai dengan moodnya hari itu dan langsung mengenakannya. Kaos berwarna putih yang dipadukan dengan kemeja berwarna biru tua. Untuk bawahan, ia memakai celana jeans panjang.

Selesai berpakaian, Ichigo menuju dapurnya untuk menyiapkan sarapan. Ia mengambil susu dari dalam kulkas dan sekotak sereal dari lemari makanan. Pagi itu Ichigo memutuskan untuk memakan sereal saja agar lebih cepat.

Yap, Ichigo memang sedang bersiap-siap untuk pergi. Dia sudah berjanji untuk menjemput kekasihnya tercinta yang tinggal di Amerika. Rukia bilang kalau pesawat yang ia naiki akan tiba di bandara pukul 10 pagi. Selesai makan, Ichigo pergi ke ruang keluarga untuk mengambil kunci mobil. Sekali lagi Ichigo menengok ke arah jam yang terletak di ruang keluarga. Pukul 9.15.

Ichigo langsung melesat keluar dari kamar apartemennya. Begitu ia mengunci pintu apartemennya, ia melihat sepucuk surat terselip dengan manis di kotak surat miliknya. 'Surat? Dari siapa?' Ichigo langsung mengambil surat tersebut dan melihat nama pengirimnya.

To : Ichigo Kurosaki
Address : XXX, Karakura, Japan.

From : Rukia Kuchiki
Address : YYY, Boston, U.S.

Ichigo tersenyum melihat nama pengirim surat tersebut. Sambil berjalan menuju ke mobilnya, Ichigo membuka amplop yang membungkus surat itu. Ichigo tersenyum begitu melihat gambar kelinci yan aneh namun khas milik Rukia yang sengaja digambar dengan ukuran yang besar. Senyum aneh Ichigo makin menjadi-jadi saat ia membaca isi surat tersebut. Tanpa terasa, sekarang ia sudah sampai di depan mobil miliknya. Setelah selesai membaca seluruh isi surat itu, Ichigo memasukkan surat itu ke dalam amplopnya lagi dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya. Ichigo bergegas masuk ke dalam mobil miliknya dan langsung melesat ke bandara.

Tepat pukul sepuluh Ichigo sampai di bandara. Ia mencari-cari sosok mungil seorang gadis yang menjadi penghuni hatinya. 'Ah itu dia..' ucap Ichigo setelah melihat Rukia datang sambil membawa koper miliknya. Rukia mengenakan baju baby doll panjang berwarna biru dan ada pita yang warnanya senada dengan baju yang ia kenakan melekat dengan indah di atas rambut hitamnya. "Rukia!"

Rukia menengok ke arah dimana suara itu berasal dan ia mendapati sosok Ichigo yang sedang melambaikan tangan kepadanya. Rukia tersenyum. Ia langsung berlari mendekati Ichigo sambil membawa koper miliknya. Begitu sampai di hadapan Ichigo, Rukia langsung meninggalkan kopernya begitu saja dan memeluk tubuh Ichigo dengan erat.

Awalnya Ichigo sempat hampir kehilangan keseimbangan saat Rukia memeluknya. Namun ia berhasil mengembalikan keseimbangannya lagi dan balas memeluk Rukia dengan erat.

"Tadaima… baka!" kata Rukia yang masih memeluk Ichigo dengan erat.

"Okaerinasai…" bisik Ichigo di telinga Rukia.

Ichigo dan Rukia melepaskan pelukannya satu sama lain. Ichigo lalu pergi mengambil koper milik Rukia yang tadi ia buang begitu saja. "Ayo kita ke apartemenku dulu." Ichigo dan Rukia pergi menuju ke mobil Ichigo. Sepanjang perjalanan, Ichigo merasakan kalau Rukia terus memperhatikannya. Namun ia lebih memilih untuk mendiamkannya begitu saja.

Mereka sudah sampai ke tempat dimana Ichigo memarkirkan mobilnya. Setelah memasukkan koper Rukia ke dalam bagasi, Ichigo membukakan pintu untuk Rukia, ia membukakan pintu di samping seat pengemudi. Rukia mengucapkan terima kasih sebelum Ichigo menutup pintu mobil untuknya. Ichigo pun segera masuk ke seat pengemudi. Tanpa banyak omong lagi, Ichigo segera menjalankan mesin mobil dan melesat menuju apartemennya. Lagi-lagi sepanjang perjalanan Rukia memperhatikannya, namun Ichigo masih memilih untuk diam.

Sesampainya di apartemen Ichigo, Ichigo dan Rukia segera menuju kamar apartemen Ichigo. Setelah masuk, Rukia duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Ichigo menaruh kunci mobilnya di atas meja dan menyusul duduk di samping Rukia.

"Rukia… bagaimana kabar teman-temanmu?" tanya Ichigo membuka percakapan diantara mereka.

"Umm… Rangiku sepertinya sudah menemukan pujaan hatinya sekarang."

"Oh ya? Siapa?"

"Gin Ichimaru. Katanya sih mereka berteman sejak kecil dan entah sejak kapan mereka mulai menyukai satu sama lain."

"Oh begitu."

"Kalau Momo dia masih langgeng aja tuh sama Kira."

"Haha… mereka itu pasangan yang tidak terduga ya…"

"Hahaha… memang benar!"

"Oh ya… Renji apa kabar?" tanya Ichigo sambil menengok ke arah Rukia. "Hee? Kau kenapa?" tanya Ichigo kaget setelah melihat wajah aku-nggak-peduli yang ditunjukkan Rukia.

"Tahu tuh anak! Katanya sih dia udah punya pacar baru… tapi dia nggak mau ngasih tahu aku siapa pacarnya itu!" kata Rukia kesal.

"Haha…" kata Ichigo sambil mendelik ke arah lain. 'Paling juga dia nggak mau jujur kalau dia masih belum bisa melupakan kamu…'

"…"

"…"

"Hei Ichigo…" kata Rukia malu-malu sambil memainkan kedua tangannya.

"Hnn?"

"Apa kau menerima sebuah surat pagi ini?"

Ichigo tersenyum mendengar pertanyaan Rukia. Sayangnya Rukia tidak melihat senyum nakal Ichigo tersebut karena sibuk sendiri memainkan tangannya. "Tidak… surat apa?"

Rukia langsung menatap Ichigo tidak percaya. "Bohong! Jadi suratnya tidak sampai tepat waktu?"

Ichigo memasang wajah sok innocent-nya. "Surat apa sih emangnya?"

Wajah Rukia tiba-tiba memerah. Ia lalu menunduk. "Bukan surat apa-apa kok!"

Melihat wajah imut Rukia, Ichigo memeluk gadis itu. Ia lalu mengeluarkan amplop yang ia terima tadi pagi dan memamerkannya di depan wajah Rukia. "Do itashimashite… Rukia-sama…"

Rukia terkejut melihat amplop berwarna pink di depannya. "Ichigo! Kamu bohong padaku!" katanya sambil memukul-mukul Ichigo.

"Hahaha…" tawa Ichigo sambil berusaha menangkis serangan yang dilancarkan Rukia. Tiba-tiba Ichigo menangkap kedua tangan Rukia dan menggenggamnya dengan erat.

"I-Ichigo…?" tanya Rukia heran. "Kau marah?"

Tanpa ada peringatan apa-apa lagi, Ichigo langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia. Mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, Rukia pun memejamkan kedua matanya. Dengan lembut, Ichigo mencium bibir Rukia. Ia sangat merindukan bibir manis milik gadis itu. Tak lama kemudian, pertarungan antar lidah pun dimulai. Setelah beberapa menit mereka mencium satu sama lain, akhirnya Ichigo pun menghentikan ciuman mereka. Baik Ichigo maupun Rukia sama-sama menarik nafas dalam-dalam. Setelah nafas mereka berdua kembali normal, Ichigo mencium kening Rukia dengan penuh kasih sayang. "Aku merindukanmu Rukia…"

"Aku juga…" Rukia pun memeluk Ichigo dengan erat.

Tiba-tiba Ichigo mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Sebuah kotak kecil berwarna merah. "Apa itu Ichigo?" tanya Rukia penasaran.

Ichigo membuka kotak kecil itu. Mata Rukia terbelalak melihat benda kecil berbentuk lingkaran berwarna emas putih dengan permata yang indah di atasnya. "Rukia… mau kah kau menjadi tunanganku?"

Rukia langsung memeluk Ichigo dengan erat. Air mata mengalir di pipinya. Namun yang mengalir bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. "Aku mau! Aku mau Ichigo!" jawabnya dengan senang hati.

Ichigo melepaskan diri dari pelukan Rukia dan mengeluarkan cincin emas itu. Dengan penuh perasaan, ia pun memasangkan cincin tersebut di jari manis Rukia. Setelah itu, ia mencium tangan Rukia.

Rukia merasa sangat bahagia. Ia lalu memeluk Ichigo dengan erat sekali lagi. Ichigo pun membalas pelukan itu. Ichigo menatap wajah penuh kebahagiaan Rukia dengan seksama. Sekali lagi, Ichigo mengecup bibir Rukia dengan penuh makna. Dan untuk siang hari itu, mereka habiskan berdua sambil terus memeluk satu sama lain.

Na~ah… langit pagi cerah tadi memang menandakan awal yang baik untuk memulai hari… karena apa? Karena bagi Ichigo, itu menandakan awal mula perjalanannya yang baru…

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

To : Ichigo Kurosaki
Address : XXX, Karakura, Japan.

From : Rukia Kuchiki
Address : YYY, Boston, U.S.

Yo! Apa kabar Ichigo!
Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu? Delapan bulan? Sepuluh bulan? Setahun? Hahaha…terakhir kali aku mengunjungimu kalau tidak salah saat aku masih kelas tiga…
Bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kau masih sebodoh seperti saat terakhir kali kita bertemu? Atau malah jadi tambah bodoh?
Hei hei! Kau sudah lihat alamatku yang baru? Bagaimana? Sama sekali tidak menyangka kan aku akan ada disini? Hehe, aku sudah berusaha keras lo agar bisa sampai ke sini.
Terus, jangan lupa jemput aku di Bandara hari ini ya! Aku sudah sengaja memperhitungkan kapan surat ini akan sampai padamu. Anggap aja sebagai pengingat untukmu.
Oh ya, tujuanku menulis surat kali ini karena aku ingin mengucapkan sesuatu padamu… entah mengapa aku tidak bisa mengucapkannya padamu dari dulu.
Ichigo… aku ingin… mengucapkan terima kasih…
Terima kasih karena selama ini kau sudah melindungiku
Terima kasih karena kau sudah memberikan hatimu padaku
Terima kasih karena kau selalu mendukungku untuk mengejar impianku
Terima kasih karena kau sudah mau menungguku
Dan… terima kasih karena kau sudah mengajari ku berbagai hal…
Kau sudah mengajariku berbagai hal, mulai dari pelajaran di sekolah, mengajariku untuk bersabar, dan kau juga telah mengajariku untuk jangan pernah melepaskan impianku dengan begitu mudahnya.
Tapi Ichigo, hal yang terpenting yang pernah kau ajarkan padaku adalah cinta… kau mengajariku berbagai macam hal mengenai permasalahan yang satu ini. Kau tahu Ichigo? Aku merasa sangat bersyukur karena akhirnya aku memberikan hatiku padamu. Apapun yang terjadi ke depannya nanti, aku tidak akan menyesal karena telah memilihmu. Terima kasih. Ichigo, you're my dearest teacher ever…

Love and kiss,

Rukia Kuchiki

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Yaa-haa~! Begitulah cerita akhir dari My Dearest Teacher! Gimana? Maaf ya kalau kurang memuaskan. Harap maklum karena ini adalah cerita pertama yang author buat hingga tamat. Hehehe…

Ini cerita terpanjang yang pernah author buat loh! Juga Chapter terpanjang yang pernah author bikin sejauh ini...(ampe +5000 words~!)

Oke, sesuai janji, author ada pertanyaan nih… sekalian ma Quiz sih… hehe…

1. Hayo! Kira-kira Rukia kuliah di universitas apa ya? Universitas itu terkenal banget loh! Ayo tebak!
2. Yang ini gampang aja… Cuma mau nanya, selama ini, chapter apa di My Dearest Teacher yang paling kamu suka?

That's all! Berhubung ini chapter terakhir, ayolah berbaik hati untuk mereview cerita ini dan menjawab pertanyaan dari author.. (puppy eyes mode : on)

Kita bertemu lagi di karya author yang lainnya ya! Saat ini yang aktif : Shinigami Test!