A/N: Ogenki desu ka? Wah lama ngga ketemu di fic ya? Yori kangen … selama 2 bulan hiatus ini ternyata yori bener2 mumet *halah* Oiya, Yori ganti penname dari Hinamori14137 Yoriko jadi Nagisa14137 Yoriko, kenapa angka 14137-nya ga ilang? Jangan, soalnya itu angka penting saya. Kali ini Yori bikin fic dengan pairing yang lagi disukai, yep ShuuNao! ^0^

Disclaimer: Sayangnya Tite Kubo yang punya Bleach, kalo Yori yang punya.., endingnya ShuuNao nikah dah.

Genre: Family/Hurt/Comfort/Romance

Warning: Fic-nya dewasa … saya tertantang untuk membuat fic yang permasalahannya rada dewasa *digaplok*tapi tenang aja, NGGA ADA adegan dewasanya.

Pairing: ShuuNao *gyaaaaa~!* (saya lagi tergila-gila dengan mereka)

Summary: "Tapi taichou, aku rasa ia tidak memiliki perasaan apapun padaku. Lagipula … sepertinya akupun demikian." Akankah wanita yang dikenal memiliki etos kerja tinggi seperti Nanao, kelak akan mengubah keformalitasannya ketika ia jatuh cinta?

Sebelumnya makasih buat 3 imouto-ku (bagi yang kerasa, pasti nyengir2 nih XDD hehe) yang tadi malem dah nyemangatin Yori buat jangan ngebatalin publish ini fic, oya buat 'kakak' gaje saya yang Minggu kemarin ngasih support (hayo yang ngerasa pasti bersin XP…) thx juga ya!

Yo wis lah, happy reading ya!


Married Without Love

(a prologue)

.

By: Nagisa14137 Yoriko


Keadaan Seireitei telah normal setelah Winter War berakhir tiga tahun yang lalu. Aizen-taichou dan Tousen-taichou telah berhasil dibunuh oleh Kurosaki Ichigo dan beberapa kapten Gotei 13. Memang tidak mudah, diperlukan strategi pertarungan yang jitu untuk mengalahkan para pengkhianat itu. Sementara Ichimaru-taichou mendapat ampunan sehingga ia diizinkan kembali bergabung di Gotei 13. Ternyata ia selama ini terkena hipnotis Kyouka Suigetsu sehingga tanpa sadar bersedia bergabung dengan Aizen-taichou. Aku yakin pastilah Rangiku-san sangat bahagia mengetahui hal tersebut karena pria yang dicintainya ternyata bukan pengkhianat seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya.

Atas perintah Soutaichou, terdapat perubahan disana-sini guna merekonstruksi kembali susunan jabatan di Gotei 13. Ichimaru-taichou kembali dipercaya menjadi taichou di divisi tiga, sementara taichou divisi lima dijabat oleh Abarai Renji, posisi fukutaichou di divisi enam kini dipegang oleh Kuchiki Rukia, lalu yang menjabat fukutaichou divisi sembilan adalah Ayasegawa Yumichika dibawah pimpinan Hisagi Shuuhei, err … suamiku.

Suami? Mungkin terdengar aneh, karena akupun menyadari bahwa kami adalah shinigami yang sama-sama serius dan penggila kerja. Tapi ini kenyataannya, tanpa pernah kukira ia melamarku hampir setahun yang lalu. Semula, aku merasa hal itu terlalu cepat, lagipula saat itu … aku belum tahu bagaimana perasaanku terhadapnya. Mungkin semua orang tahu bahwa sebelumnya aku adalah shinigami yang sibuk dengan berbagai pekerjaanku. Memang benar … mana sempat bagiku untuk memikirkan lelakii. Tapi …

.

[Flashback]

"Mengapa tidak kau terima saja lamaran itu, Nanao-chan?" ucap Kyouraku-taichou.

Aku terdiam sambil sesekali merapikan paperwork di meja kerja taichou.

"Jika kau menikah, aku tidak akan menggodamu lagi." tambahnya sembari terkekeh.

"Entahlah, aku merasa Hisagi-fuku- eh … Hisagi-taichou terlalu terburu-buru. Aneh saja karena tiba-tiba ia melamarku."

Taichou meletakkan topi capingnya,"Tak kusangka, Nanaoku telah tumbuh menjadi gadis dewasa," ia menghela nafas sebentar, " kau sudah kuanggap seperti putriku sendiri. Apalagi yang kau tunggu Nanao-chan? Kau sudah mendapatkan karirmu, kau juga sudah cukup umur untuk menikah … aku merestuimu dengan Shuuhei"

"Tapi taichou, aku rasa ia tidak memiliki perasaan apapun padaku. Lagipula … sepertinya akupun demikian."

Taichou bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan mendekatiku kemudian meletakkan tangannya yang berat di pundakku. Aku merasa ia benar-benar seperti ayahku sekarang.

"Banyak gadis yang memuja Shuuhei ,bisa saja kan ia memilih salah satu dari mereka? Namun, ia malah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupnya. Bukankah itu berarti Shuuhei menaruh hati padamu?"

"Tapi taichou-"

"Cinta itu bisa timbul kapan saja Nanao-chan. Apakah kau pikir jika saat ini tidak mencintainya, juga berarti kau tidak akan pernah mencintainya suatu saat nanti? Nanao-chan, percayalah bahwa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya."

Mendengar nasihat dari taichou, akupun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Um, baiklah. Akan kupikirkan, taichou."

[End of Flashback]

.

Aku menghela nafas, huff … mengapa aku malah memikirkan hal-hal yang sudah lalu itu ya? Padahal aku kan sedang mengerjakan paperwork ini!

Tapi, terkadang aku masih tak percaya bahwa hal-hal itu sungguh nyata. Tiba-tiba, lamunanku akan masa lampau itu, terusik oleh suara ketukan pintu.

"Silakan masuk." ucapku.

Seorang pria berjubah bunga-bunga masuk ke ruang kerjaku, "Nanao-chan, Shuuhei telah menunggumu di pintu gerbang divisi. Sudahlah, cukup sampai disini pekerjaanmu."

"Tapi taichou, ini tanggung, tinggal sedikit lagi." ucapku sambil terus mengerjakan paperwork.

"Ini sudah malam, Nanao-chan. Shuuhei bisa-bisa mengira bahwa aku mempekerjakanmu terlalu keras, lagipula kasihan dia bila terlalu lama menunggu."

Sejenak kupikirkan kata-kata Kyouraku-taichou. Ada benarnya juga, kasihan jika Shuuhei terlalu lama menunggu di luar sana. Ia sudah terlalu lelah bekerja hari ini.

"Baiklah taichou." ucapku sambil membereskan meja kerjaku.

~~SHIN~~

Aku tergopoh-gopoh berlari menuju pintu gerbang divisiku. Kulihat sosok lelaki berdiri di sana, haori-nya tampak dilipat dan disampirkan di tangan kanannya. Itu memang kebiasaannya—hanya menggunakan haori saat sedang bekerja—di luar itu, ia akan melepas haori-nya. Setelah menjadi taichoupun, model shihakushou-nya tidak berubah, tetap seperti dulu—shihakushou tanpa lengan— mungkin itu sudah menjadi ciri khasnya.

"Maaf, aku terlalu lama membereskan meja kerjaku." ucapku terengah-engah.

"Yo, tak apa. Ayo, kita pulang." ajaknya sembari menyunggingkan sebuah senyuman.

Aku mengangguk pelan lalu berjalan beriringan dengannya. Rumah kami terletak di sebelah barat wilayah blok divisi dua, cukup jauh memang dari divisi tempat kami bekerja. Tapi bagiku dan Shuuhei tidak menjadi masalah.

Di jalan, kami berpapasan dengan beberapa shinigami yang kebetulan sedang lewat maupun bertugas patroli.

"Konbanwa, Hisagi-taichou, Hisagi-fukutaichou."

"Konbanwa." ucap kami hampir bersamaan.

Terlihat beberapa shinigami itu melirik satu sama lain dan saling berdehem. Alisku terangkat satu, memangnya ada apa? Sesaat kemudian aku memandang Shuuhei dan iapun membalas dengan senyuman.

Deg…

Jantungku berdebar saat melihatnya tersenyum padaku. Aduh, apa-apaan aku ini!

~~SHIN~~

Tak terasa, akhirnya kami tiba di rumah. Aku meletakkan tas berisi pekerjaan yang belum sempat kukerjakan tadi, sementara Shuuhei segera merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Tampaknya ia memang begitu lelah hari ini.

"Shuuhei-kun, mau kusiapkan air hangat untuk mandi?"

"Ah, biar aku saja yang menyiapkan sendiri. Kau juga lelah kan?"

"Uhm, tidak juga…"

Tiba-tiba ia beranjak dari sofa, "Kalau begitu, pasti kau belum makan. Biar kumasakkan sesuatu ya?"

"Ti … tidak perlu! Err, aku sudah makan tadi."

Shuuhei mengernyitkan dahinya tanda ia meragukan perkataanku. Namun, keraguannya terjawab saat…

Kruyuuuuukkk

Suara perutku! Uh, perut memang tidak bisa diajak kompromi, memalukan diriku saja! Aku kan merasa tidak enak bila ia memasakkan makanan untukku, sementara ia tadi menolak kusiapkan air hangat.

Ia tertawa kecil, "Nanao-chan, kenapa kau ini gengsi sekali? Sudahlah, kubuatkan mie ramen ya?"

"B … bukan begitu! Aku tidak gengsi, mengapa harus gengsi?"

"Lalu, mengapa kau bilang belum makan?"

"Ano,.. sudahlah biar aku saja yang menyiapkan makan malam. Kau siapkan air hangat saja…" ucapku akhirnya.

"Ah sudah tidak apa-apa, aku saja yang menyiapkan keduanya."

"Tidak Shuuhei, kau ini pasti sudah sangat kelelahan."

"Tidak, aku tidak lelah kok. Sudahlah, kau beristirahat saja. Nanao-chan, kau yang terlihat sangat lelah…"

"Shuuhei, lebih baik seperti kataku tadi…"

"Tapi,.."

"…….."

"…….."

Akhirnya Shuuhei menganggukkan kepalanya, "Baiklah kalau begitu."

Lalu kami bergegas menuju dapur untuk mengerjakan 'tugas' masing-masing. Terasa aneh? Rumah tangga kami memang seperti ini, berkesan formal dan kaku. Tapi, memang ini kenyataannya. Meski kami sudah hampir setahun menikah. Namun, aku masih butuh proses untuk menyesuaikan diri dengan semua ini, karena sebelumnya aku dan Shuuhei memang tidak terlalu akrab, apalagi pernikahan kami tidak melalui proses pacaran sebagaimana umumnya pasangan menikah yang lain.

Ceklek…

Terdengar suara kompor yang Shuuhei nyalakan, tampaknya ia sudah mulai memanaskan air. Sementara aku masih sibuk dengan merajang daun bawang untuk bumbu mie ramen. Sedari tadi aku memang fokus dalam membuat bumbu sehingga aku baru menyadari bahwa tidak ada suara 'gerak-gerik' Shuuhei. Kutolehkan kepalaku dan benar saja, tidak kudapati lelaki bertato 69 itu.

"Shuuhei?" kupanggil namanya, tapi tidak ada jawaban.

Aku lalu mendengar suara keran air dinyalakan, tepatnya dari kamar mandi yang terletak di samping dapur. Kulangkahkan kaki ini menuju kesana.

"Shuuhei, kau di dalam?" tanyaku sambil mengetuk pintunya.

"Iya." jawabnya dari dalam kamar mandi.

"Kau sedang apa?"

"Mandi."

Mataku seketika membulat, "Mandi? Air hangatnya kan baru saja kau taruh? Kenapa kau sudah mandi?"

"Itu kusiapkan untukmu! Aku kan laki-laki masa tidak berani mandi malam-malam dengan air dingin?"

Eh? Jadi ia menyiapkannya untukku? Kupegang wajahku yang sepertinya memanas. Ada rasa senang yang kurasakan saat ini. Akupun mulai senyum-senyum sendiri. Tapi, segera kutepuk pipiku agar 'kesadaranku' kembali. Apa-apaan aku ini…

"Shuuhei-kun, terima kasih." ucapku sebelum kembali ke dapur.

"Hn…"

~~SHIN~~

Waktu telah menunjukkan pukul 21.42 waktu Seireitei ketika aku baru saja selesai membereskan peralatan makan. Mangkuk berwarna hitam yang semula berisi mie ramen, akhirnya habis tidak bersisa. Tampaknya Shuuhei memang benar-benar letih sehingga ia mampu menghabiskannya. Sementara aku malah tidak sanggup menghabiskan, padahal aku sendiri yang membuatnya. Tapi bukan itu yang membuatku sedikit merasa senang. Eh, senang?

Kuteringat kembali kata-kata yang diucapkan Shuuhei saat makan malam tadi.

"Mie-nya enak, Nanao-chan! Kau memang pandai memasak ya!"

Terima kasih, lagi-lagi itu yang kuucapkan padanya.

Aku menghela nafas sembari kusandarkan tubuh ini di kursi, kutatap kertas-kertas pekerjaan itu dengan penuh ambisi. Aku ingin pekerjaan itu dapat selesai malam ini juga supaya besok aku dapat mengerjakan pekerjaan yang lain. Sedikit demi sedikit, kertas-kertas itu mulai kukerjakan diatas meja kerjaku.

Menit demi menit telah berlalu, sepertinya sudah dua jam aku berkutat dengan semua ini. Sementara Shuuhei, kupikir kini ia sedang berada di alam mimpi karena lelaki itu langsung beranjak tidur setelah selesai makan malam tadi. Tapi, kemudian aku dikejutkan suara langkah kaki seseorang.

"Tidak baik untuk kesehatanmu jika kau begadang seperti ini. Sudah larut malam. Lekaslah tidur, Nanao-chan." (A/N: Jangan mikir macem-macem pas baca dialog ini)

"Shuuhei-kun? Bukankah kau sudah tidur sejak tadi?" tanyaku tanpa menoleh padanya. Mataku masih terpaut pada lembaran-lembaran pekerjaan ini.

.

.

Verknupft


Talk show…

Yoriko: No~ fic apa ini!!! *nutupin wajah*

xxxx: Nape lo?

Yoriko: Liat, fic ini begitu menggambarkan kekacauan pikiran saya saat ini. Eh, kok kamu disini? Mang anak-anak di kelas dah sembuh 'frustasi'-nya?

xxxx: Belum, sebagian masih bertingkah aneh tuh… enak bener ya kamu rin, ngilangin stress bisa mampir ke ffn lagi…

Yoriko: Bwahahahahaha~

xxxx: *swt* ternyata masih frustasi dia… Oya, belum kenalan, hajimemashite watashi wa Ma- *yori langsung ngebekep mulutnya*

Yoriko: Woi, disini jangan pake nama asli~

xxxx: Oh, he… panggil aja Lichan, yoroshiku. Saya temen sekelasnya Yoriko, penggemar Bleach juga, terutama Gin!!!

Yoriko: Susah emang, klo punya temen sekelas narsis n salah satu dari Gin's FG ,

Lichan: Eh, udah katanya mau ngejelasin tentang Shuuhei di fic ini…

Yoriko: Oya, hampir lupa. Yori punya beberapa alasan kenapa Shuuhei dijadiin kapten: [1] Disini Nanao kan istrinya, nah dia kan masih tetap jadi wakil kapten, kalo Shuuhei juga masih wakil kapten, jadi bingung dong cz sama2 dipanggil 'Hisagi-fukutaichou'; [2] Jabatan suami, bagusnya itu lebih tinggi dari istrinya, iya sih meskipun sekarang udah ada kesetaraan gender; [3] Zanpakutou-nya Shuuhei, Kazeshini sama2 ada unsur 'kaze'-nya dengan zanpakutou Kensei, Tachikaze; [4] Karena tanpa Tousen, Yori pikir Shuuhei itu jadi yang terkuat di divisi 9; [5] Tentang bankai-nya Shuuhei, yah anggap aja udah punya *maksa banget-ditendang*

Lichan:*geleng-geleng kepala*

Yoriko:Walau Yori juga ngefans ma Shuuhei, sebenernya juga rada ngga setuju kalo dia jadi kapten. Tapi, kalo di fic ini ngga jadi kaptenkayanya kurang pas.

Lichan: Saran, kritik membangun, tanggapan, pertanyaan, dll silakan sampaikan lewat review, tapi kata Yori, dia ngga nerima flame karena pairingnya ,

Yoriko:*ngangguk*

.

.

Willst du 'review' geben?