Organisasi Akatsuki

Naruto©MasKis-sensei

Organisasi Akatsuki©Sayurii Dei-chan

Summary: asal usul para anggota organisasi nista bernama Akatsuki.

Rated : T, untuk jaga-jaga

Warning: OOCnya sangat-sangat dan benar-benar melenceng dari cerita aslinya. Mungkin rada AU.

Pendahuluan: aah, jangan pikirkan umur Kakuzu.

Maaf karena apdetannya makin lama dan masih ada typo =="

Chapter 9: Kakuzu The Money Protector

Happy RnR

Akatsuki sudah tersohor kemana-mana. Semuanya tahu apa yang disebut Akatsuki. Sebuah perkumpulan para kriminal yang paling ditakuti orang-orang.

Tapi, siapa sangka. Diantara para anggotanya, ada yang paling ditakuti Akatsuki sendiri.

Sang bendahara keramat, Kakuzu.

Dia yang matanya selalu waspada, dia yang telinganya selalu mendengar, dia yang tangannya selalu menjaga, benda bernama uang.

Kakuzu adalah manusia paling ajaib dengan lima jantung di tubuhnya, dengan sulur yang menjalar-jalar, dengan cadar hitam sebagai ciri khasnya.

Bahkan para anggota Akatsuki yang lainnya pun enggan berurusan dengannya kecuali terpaksa. Karena mereka pun tahu, sekali menjalin janjji dengan Kakuzu, tidak akan bisa terlepas dari jeratan mautnya.

Rentenir kita satu ini ternyata mempunyai masa kecil yang kurang bahagia. Kakuzu terlahir dari salah satu keluarga bangsawan Takigakure. Masa-masa balitanya dipenuhi oleh gelimangan harta benda. Masa depan cerah, seakan telah menantinya.

Tapi, nyatanya semua itu hancur sudah.

Kakuzu yang imut-imut dan manis saat masih kecil, mulai beranjak dewasa. Orang tua Kakuzu yang selalu setia memantau perkembangan Kakuzu pun mulai syok.

Saat Kakuzu memasuki masa puber, wajahnya berubah dari malaikat menjadi raja setan(?). Jerawat besar dan bisul tumbuh dimana-mana. Bibirnya dower mengalahkan bebek yang lagi berendem di empang(?). Hidungnya pesek namun besar seperti membengkak. Kulit putihnya(?) perlahan-lahan mulai menghitam. Dan yang terburuk, mulai muncul sulur-sulur mengerikan dari tubuhnya.

Ayah dan ibunya yang tentu menanggung malu atas keburukan muka anaknya, tidak sudi menganggapnya anak lagi. Tanpa berperikemanusiaan, Kakuzu bukannya dibiayai untuk operasi plastik, malah dibuang di tengah Jalan Sudirman, Jakarta(?).

Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, Kakuzu merana sendirian. Dia bertahan hidup dengan cara ngutang sana-sini. Jadilah dia memakai cadar—yang dia pungut di piggir jalan—agar para penagih hutang tak mengenalinya.

Kakuzu pun bertemu dengan seseorang yang mengaku-ngaku sebagai dukun pengganda uang bernama Hayate...

"Ohok ohok, hoi nak," seorang pemuda namun bersuara persis seperti kakek-kakek itunepok pundak Kakuzu yang lagi terbengong-bengong sambil mangap ngeliat pesawat terbang. (norak amat)

"Ah? Em, ada apa ya? Saya tidak punya hutang pada anda kan?" Kakuzu siap siaga, siapa tau orang itu debt kolektor.

"Ohok, bukan begitu nak, ohok. Kakek(?) cuma mau... uohok! Uohook, ohok!" ternyata si kakek lagi bengek.

"Cuma apa? Cuma mau batuk?" Kakuzu makin kebingungan.

"Ohok, bukaaan. Saya mau menawarkan jasa, ohok. Jasa..." dia mulai berbisik di telinga Kakuzu yang belum dibersihin selama setahun itu, "Jasa penggandaan uang."

"Kenapa kakek tawarkan pada saya?"

"Soalnya... semua itu terlihat dari mukamu..."

"Hah? Kakek ternyata juga pembaca nasib?" Kakuzu berdecak kagum.

"Bukaaan, ohok. Mukamu itu... ohok, jelek sekali. Dengan melihat sekilas saja, orang pun tahu, kalau kamu itu orang susah, ohok ohok," jelasnya.

"Bagaimana? Mau mau mau? Ohok ohok ohok?" ujar si kakek jadi-jadian sambil menaik turunkan kedua alisnya.

"Humm... jangan-jangan kau ini dukun gadungan ya?" tuduh Kakuzu seenaknya. (padahal emang bener)

"Enak saja, ohok. Aku ini dukun asli! Gimana kalau... kamu saya ajarin ilmunya aja? Habis... saya mau pensiun! Tapi belum punya penerus usaha(?) saya ini, ohok!"

"Y-yang bener? Berarti tiap hari... bisa megang duit dong!" mata Kakuzu berbinar-binar.

"Yaiyalaaah, masa' yaiyadoong. Bayi aja dibelah(?), masa' dibedong," sahutnya dengan gaje.

"Bai de wai, nama kakek siapa nih? Kan ada pepatah, tak kenal maka tak sayang!" kata Kakuzu yang tumbenan agak pinter.

"Nama saya Hayate Mau Mate' Mulutnya Bau Pete."

Akhirnya, dengan berguru pada Hayate Mau Mate' Mulutnya Bau Pete itulah, Kakuzu menjadi ahli keuangan. Dia diajarkan untuk membohongi para pelanggan yang berniat menggandakan uang. Tak lupa juga, Hayate memberi tips en trik jitu buat ngepet dan nuyul.

Suatu hari, datanglah seorang pria paruh baya. Karena Hayate sudah ambil pensiun, maka Kakuzu yang melayaninya.

"Eh, kok dukunnya bukan si Hayate?" tanya sang pelanggan yang diketahui berinisial D, dengan huruf A, N, Z, O, mengikuti di belakangnya(?).

"Ehem," Kakuzu berdehem. Untung pake cadar, kalo enggak, bau jigongnya udah menguar kemana-mana, "Hayate sudah pensiun. Saya adalah muridnya sekaligus penerusnya, Kakuzu."

"Bukannya dia nikah sama kembang desa si Yugao?" tanya Danzo.

"Bagaimana anda bisa seyakin itu? Mana ada yang mau sama si-pemuda-tapi-tua-yang-punya-batuk-menahun itu?" Kakuzu bertanya balik.

"Woh, iya juga ya? Pasti dia pake pelet tuh!" Danzo terhasut kata-kata Kakuzu.

"Tapi sebelum dia pamitan, dia ninggalin ini nih," Kakuzu merogoh bajunya dan mengeluarkan sebuah undangan.

"Apaan tuh?"

"Wuah! Ini undangan pernikahannya!"

"Masa' sih?" Danzo yang penasaran merebut undangan itu, "Ah, saya gak yakin ini Hayate!"

"Kok bisa?" Kakuzu keheranan.

"Nih, liat nih," Danzo menunjuk nama pengantin yang tertera di undangan, "Yugao Uzuki, terus ini... Hayate Udah Mate' Kuburannya Bau Pete!"

"Wuih, iya! Namanya kan Hayate Mau Mate' Mulutnya Bau Pete! Kok ini bisa Hayate Udah Mate' Kuburannya Bau Pete?" Kakuzu seakan-akan tidak terima soal perubahan nama Hayate.

Yah, berlanjutlah obrolan gak guna dan gak mutu dari mulut kedua orang gak jelas itu. Soal... nama Hayate...

Setelah tiga jam berlalu, setelah mulut mereka berbusa, setelah author makin pusing akan kelanjutan nasibnya Hayate(?), mereka pun kembali ke topik yang sesungguhnya.

"Jadi... Saudara Danzo mau menggandakan uang untuk menyogok para warga?" tanya Kakuzu layaknya dukun handal.

"Iya, toko kelontong saya bangkrut. Saya mencoba peruntungan dengan mencalonkan diri sebagai Hokage. Tapi... tau sendiri lah... kampanye aja menghabiskan banyak uang. Belum lagi kasih 'uang pelicin', agar para warga ntar nyoblos saya," jelas Danzo.

Kakuzu cuma manggut-manggut disko.

"Juga... buat nyogok para panitia! Jadi pas penghitungan suara, jumlah saya dibanyakin!" tambahnya.

"Saudara Danzo bawa uang modalnya?" tanya Kakuzu.

"Bawa! Bawa!"

"Mau pilih tuyul ekonomi, tuyul bisnis, apa tuyul eksekutif?" Kakuzu melontarkan pertanyaan yang sangat gaje.

"Bisnis aja! Eksekutif mahal," kata Danzo mantap.

"Oke, taruh koper duitnya di sini. Tiga hari lagi kembali ke sini dan ambil uang yang sudah digandakan."

Setelah Danzo pergi, Kakuzu melancarkan aksinya.

Dibukanya sebuah kotak keramat yang udah dimakanin rayap. Apa yang ada di dalamnya?

Ternyata oh ternyata, itu semua adalah uang mainan yang gambarnya berbi-berbian. Suka ada di abang-abang keliling, harga segepoknya gopekan atau seribuan. (authornya tau aja)

Tiga hari kemudian, Kakuzu kabur dari situ. Dibawanya uang Danzo—yang asli—dan ditinggalkannya uang mainan dalam koper duit Danzo.

Sekitar satu menit setelah Danzo tiba, terdengar suara tangisan memilukan hati yang berasal dari gubuk peninggalan Hayate.

Setelah kabur dua hari satu malam, Kakuzu kebingungan. Mau balik ke gubuk Hayate, udah gak mungkin. Pasti sudah diancurin Danzo atau digusur pemerintah karena termasuk bangunan liar yang mengganggu.

Akhirnya malam itu, Kakuzu tidur di kandang unta-yang-entah-milik-siapa. Saat dia bangun dari tidurnya, Kakuzu terkejut karena tiba-tiba ada di gurun Sahara.

Ternyata, Kakuzu ikut terbawa pengiriman unta secara massal dengan tujuan... Arab.

Dia cuma bisa celingukan sana-sini. Di sana pasir di sini pasir, di tengah-tengahnya si Kakuzu. Author ngacir dikejar tapir, yang penting ceritanya tetep jalan(?). (pantun gak mutu yang pantes dihadiahi timpukan kerikil)

Beruntung ada orang selain Kakuzu, yang diketahui sedang mengambil gambar untuk film layar lebar berjudul Ayam-ayam Cinta. Dengan bakat menipu dari Hayate, Kakuzu pun menyamar jadi salah satu pemeran filmnya.

"Loh, perasaan unta yang kita sewa cuma empat deh? Kok jadi nambah satu?" tanya sang produser yang bernama Yamato.

"Eh, masa? Wah iya! Tapi... emang ada unta pake cadar, gitu?" jawab sang asisten, Sai.

Kakuzu mulai panik, "Kan biar gak kena polusi!" kata Kakuzu sekenanya.

Yamato dan Sai pun hanya ber-ooh-ria.

Walau diterpa siksaan, Kakuzu terus mencoba bertahan. Yang penting bisa pulang dengan selamat. Emang mau pulang kemana, Ju?

"Ayah, sudah ku bilang berkali-kali! Aku tak mau tinggal di Arab lagi!" kata sang pemeran utama, Airsyah.

"Kenapa nak? Bisnis unta itu lebih baik dari pada peternakan ayam!" sahut orang yang berperan sebagai bapaknya Airsyah.

"Sudahlah... ayah memang tidak pernah mengerti aku!" dengan berlinang air mata, Airsyah berlari menjauhi bapaknya. Dengan ganas, Airsyah langsung loncat dan menunggangi salah satu unta. Yang sebenarnya... Kakuzu.

'Ampun deh! Kok berat banget nih cewek?' batin Kakuzu. Ditengoknya perlahan, siapa yang menungganginya.

Ternyata oh ternyata yang memerankan Airsyah, adalah Chouji! Tak terbayang betapa tersiksanya Kakuzu sekarang.

"Nak! Tunggu ayah! Nanti ayah kasih kamu gratis daging unta!" si bapaknya Airsyah yang tak lain adalah Chouza, mulai mengejarnya.

"Tidak mau, daging ayam lebih enak dari pada daging unta!" seru Airsyah aka Chouji, "Hey unta, ayo jalan!"

Dengan terseok-seok, Kakuzu mulai berjalan sambil ditunggangi Chouji. Menerpa badai pasir, pasir hisap, digigit ular gurun, dehidrasi, dan lain-lainnya.

Setelah satu kilo meter, Yamato akhirnya berkata, "Cut! Yak, bagus sekali! Kita ke scene berikutnya!"

Setelah semua itu selesai, Kakuzu jadi penumpang gelap dalam jet pribadi para kru film Ayam-ayam Cinta. Tentu bukan duduk bersama kru lainnya, karena dia pasti langsung didepak keluar. Yah, nasib pun mengharuskannya duduk bersama para unta di bagian ternak.

Dengan sisa uang dari menipu Danzo dan gaji dari Yamato (unta juga digaji?), Kakuzu membangun sebuah gubuk lapuk tak layak tinggal di kampung halamannya sendiri, Takigakure. Dengan ilmu sakti dari Hayate, Kakuzu merebut jantung kedua orang tuanya dan beberapa penduduk desa. Beberapa ia simpan untuk menambah koleksi jantungnya, dan sisanya untuk dia jual.

Kakuzu bertekad, bahwa dia akan bangkit dan kembali menjadi orang kaya agar hidupnya tak tersiksa lagi. Dia mengumpulkan uang sebanyak mungkin, dari penjualan organ tubuh para penduduk desa, menjadi rentenir, bahkan memanfaatkan bakat terpendamnya, menjahit.

Kakuzu membuka jasa penjahit bernama Kakuzu Tailor. Di saat lain, dia menjadi rentenir dengan kedok sebagai Mister Fulus Duit Uang Money Kakuzu. Dia juga pernah bekerja sama dengan Drs. Kabuto Gantengo dalam transaksi jual-beli organ tubuh.

Kakuzu tidak percaya dengan yang namanya Bank. Dia paling gelisah dan gundah jika uangnya dipegang orang lain. Karenanya, dia selalu menyimpan uangnya di tempat yang bahkan author tak tahu.

Selain menjadi wiraswasta(?), Kakuzu juga ikut bisnis lainnya, salah satunya adalah periklanan. Karena merasa tak puas dengan penghasilannya yang bisa dibilang lebih dari cukup itu—karena sebagian besar uang pelanggannya ia korupsi—, Kakuzu ikut membintangi iklan. Inilah kedua kalinya ia masuk tv.

"Duuh, kita kekurangan pemain nih!" seru seorang pria yang ternyata adalah orang sama yang menjadi produser Ayam-ayam Cinta, Yamato.

"Di situ kayaknya ada orang lagi nganggur tuh!" tunjuk sang asisten setia Yamato—Sai.

"Tapi yang belum datang kan cuma pemeran anak kecilnya! Masa' pake kakek-kakek bangkotan kayak gitu?" kata Yamato seenaknya.

"Tanggung lah... daripada iklannya gak jalan, ntar kita yang dipecat," kata Sai.

"Yasud lah! pangil orang itu ke sini!"

"Okeh."

Sedang asik-asik ngitungin duit receh habis ngamen (ingat, Kakuzu akan menekuni apa saja yang penting menghasilkan uang), pundak Kakuzu ditoel-toel.

"Mas, mas," panggil Sai.

"HAH? MANA EMAS? DIMANA EMASNYA?" seru Kakuzu yang bikin Sai dag dig dug duer daia(?).

"Bu-bukan, mas. Saya cuma..."

"Cuma apa? Mau ngutang? Boleh, bunganya seratus persen per detik," tiba-tiba Kakuzu nyerocos.

"Bukan! Saya mau nawarin mas ganteng(?) ini buat main iklan... mau gak?" tanya Sai baik-baik.

"Dibayar gak?" tanya kakuzu sambil menaikkan satu alisnya ke atas.

"Jelaaas."

"Okeh, saya mau!"

'Perasaan aku udah pernah ngeliat orang ini deh?' inner Sai curiga.

"Ngape?" Kakuzu yang merasa diperhatikan, bertanya.

"A-aah, enggak... saya cuma mau bilang, mas ini ganteng banget sih! (bohong lu, Sai!)" kata Sai disertai keringat dingin yang mulai mengucur, "Mas namanya siapa?"

"Nama saya? Saya Mister Fulus Duit Uang Money Kakuzu. Biasa dipanggil Kakuzu, Kakuz, Kuzu, Kakuju, atau Kuju."

"I-iya."

Setelah sampa di tempat Yamato, Sai memperkenalkan Kakuzu pada Yamato.

"Kuju," panggil Yamato.

"Ya?"

"Kamu pernah ke Arab gak?"

'Jangan-jangan... mereka bekas kru Ayam-ayam Cinta? Pantes rasanya familiar dengan wajah buruk mereka...' batin Kakuzu tanpa menyadari kalau wajahnya jaaaaauh lebih buruk rupa dari mereka *plak*.

"Enggak," bohong Kakuzu.

"Ooh... habis kau pakai cadar sih. Ku kira kamu ini wanita Arab... kenapa gak dilepas aja?" saran Yamato.

"Jangan, nanti kalian menyesal melihat wajahku yang ganteng ini," sahut Kakuzu menyembunyikan kenyataan. Yamato pun hanya manggut-manggut.

"Eh, ini iklan apaan sih?" tanya Kakuzu pada Sai setelah membaca naskahnya.

"Iklan Mie Enaaak," jawab Sai, "Nah, ayo. Sudah mau dimulai tuh."

Pertama, ada orang ngomong dia atas mobil bak pake toa, mengumumkan bahwa para bapak-bapak harus kerja bakti.

"Papa gak ikut ya?" kata Kakuzu (sok) manis, dengan nada dibuat-buat seperti seorang gadis kecil yang berbicara dengan bapaknya.

"E-enggak," sahut pemeran bapak yang belakangan diketahui bernama Asuma. Tangannya yang memegang koran, gemetaran. Bukan karena aktingnya bagus, tapi karena takut pada wajah Kakuzu sebagai (pemeran) anak gadisnya.

'Semogaaaa, anakku yang lagi dikandung Neng Kurenai, gedenya gak buruk rupa kayak gini!" Asuma berdo'a dalam hati.

Tok tok tok. Bunyi suara pintu diketuk. Kakuzu berjalan menuju pintu untuk membukanya.

"Papamu mana dek?" tanya si bapak pemegang toa di awal iklan.

"A-aku gak punya uaaaang! Huhuhuuuu," Kakuzu salah naskah.

"Cut!"

Begitu seterusnya, sampai tiga puluh kali berturut-turut. Karena Kakuzu selalu salah naskah. Yang benar, 'Aku gak punya papa,' tapi dia selalu bilang, 'Aku gak punya uang,' Kakuzu jujur(?) yah.

"Hiks hiks... sayang loh, padahal ada... Mie Enaaak!" kata bapak tadi sambil mengangkat bungkus mie bertuliskan 'Mie Enaaak'.

"Sluurp," Asuma menjilat bibirnya dengan napsu, "Kamu kan punya papa!" Asuma loncat keluar dari tempat persembunyiannya.

"Yuk makan!"

"Tunggu," cegat si bapak pemegang toa, "Kalo mau makan, cadarnya lepas dulu dong dek!" rupanya dia mau mencari masalah.

"Yakin nih?" Kakuzu ragu-ragu.

Asuma udah kebanjiran keringet dingin, sedangkan bapak itu mengiyakan pertanyakan Kakuzu.

Dengan gerakan selow mosien, Kakuzu membuka cadar buluknya.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Terdengar teriakan pilu yang memekakkan telinga beberapa detik setelah itu. Pabrik Mie Enaaak menyetop penayangan iklannya. Orang-orang ogah memakan Mie Enaaak lagi. Yamato dan Sai mengundurkan diri dari dunia periklanan. Asuma kejang-kejang di tempat. Dan si bapak pemegang toa yang belakangan diketahui bernama Shikaku, menyesali perbuatannya seumur hidup.

Setidaknya, Kakuzu beruntung pernah masuk tv.

Setelah kehilangan banyak pekerjaan, pelanggan yang meminjam hutang sudah melunasi hutang-hutangnya, tailornya bangkrut, ditolak banyak perusahaan, Kakuzu kebingungan. Intinya, dia pengangguran.

Sampai akhirnya, ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Madara Uchiha, mengajak Kakuzu masuk Akatsuki dan menawarkan jabatan bendahara. Kakuzu masuk ke dalam organisasi kriminal, Akatsuki.

Ah, dengan syarat, Kakuzu harus membunuh hokage pertama. Jantungnya harus diberikan pada Madara, setelah itu dia boleh memilikinya.

Kakuzu tentunya tidak kasihan pada hokage pertama, lalu membiarkannya di hutan dan hidup bersama kurcaci dan dia pulang membawa jantung rusa. Kakuzu sukses mengambil jantungnya hokage pertama, dan diberikannya pada Madara. Setelah diteliti itu benar-benar jantung hokage pertama, Kakuzu mendapatkan jantung itu sebagai hadiahnya. Dia pun menyimpannya untuk dijadikan koleksi.

Pada akhirnya, Kakuzu hidup damai dan sentosa berada di Akatsuki. Dia adalah bendahara paling kejam dan beringas yang pernah ada. Tak ada yang bisa menembus bentengnya untuk merebut uang-uangnya.

Siapa berani, dia tak selamat.

Itulah Kakuzu sang pelindung uang. Rentenir bangkotan, setan duit, dukun palsu pengganda uang.

Dia sudah cukup berjasa dalam perekrutan beberapa anggota Akatsuki lainnya. Seperti Kisame yang sampai saat ini tak bisa keluar dari Akatsuki karena terlilit hutang dengan Kakuzu.

Dia tak pernah peduli apa kata orang soal wajahnya. Katanya, biar jelek yang penting kaya.

Oh ya, jangan pernah buka cadar di depan umum lagi ya, Kuju.

~TURBEKULOSIS~

Yeeey~ selesai juga. Sebelumnya, saya ingin kembali meminta maaf. Karena makin lama apdetannya makin ngaret aja m(_ . _)m

Tolong dimaklumi, saya lagi ada masalah soalnya. Saat liburan, saya kena WB. Selesai liburan, saya mengalami perang batin(?). Saya kan suka nyari-nyari gambar, kadang suka ketemu gambar KakuHidan. Yang saya alami adalah... saya merasa... Kakuzu makin buruk rupa ==". Saya ngeliat Hidan, cakep. Ngeliat Kakuzu... errr ==a

Setelah akhirnya bisa menerima keadaan Kakuzu, ada sedikit masalah. Bikin saya terus nangis tiap malam. Udah gitu, karena saya sekarang kelas 9, jadi susah nyuri waktu buat ngetik dan ol. Dan, maaf juga buat wall yang (sekali lagi) belum saya bales2in. Bener deh, saya susah banget nyentuh kompu =A=

Sudahlah, tanpa banyak bacot, biarkan Hidan membalas review non-login ^^

Makasih banyak Kiro yoiD, maafkan keterlambatan apdet author aneh ini =_=

Ohoho, makasih juga aizen no arrancar. Maaf kalo apdetannya makin lama, semoga chapnya si Kuju menghibur.

ShiroNeko, makasih yaa. Yup, author abal ini bakalan menistakan semua aggota Akatsuki. Ini udah diapdet, maaf lama.

Wah, Rio, Raito a.k.a Rio 2, dan Riko a.k.a Rio 3, kalian anak kembar ya? *plak*
Makasih buanget udah review sampe banyak begitu. Reviewnya dibaca kok! Tenang ajaaa. Okeh, ini chap Kuzu, semoga menghibur!

Betewe, Danzo (kalo gak salah) pernah saya sebut di salah satu chapter sebelumnya sebagai pemilik toko kelontong. Makin lama saya makin kehabisan pemain nih =_=

Next chap: Zetsu The Venus Fly Trap. (makin susah aja nih)

Sabarlah menunggu chapter selanjutnya! Karena fic ini tinggal 2 chap lagi sebelum menuju tamat =w=

Review please? –puppy eyes mode on—.