"Mungkin ini mengejutkan Bells, aku tahu," kata Jacob. "Kami werewolf, tapi tidak mencelakakan orang-orang, well ya anggap itu pengecualian karena emosi, tapi . . ."

Sudah sejam aku siuman dan mendengarkan Jacob berceloteh.

"Intinya Bella, aku . . . Minta maaf. Aku pergi begitu saja," sesalnya. "Tapi aku tak bisa memberitahumu begitu saja, itu rahasia, tapi kau toh sudah tahu."

Aku sudah tahu rahasianya dengan cara seperti ini. Masih terngiang sosok Paul yang hamper membunuhku . . .

"Tapi itu tidak adil Bells! Penghisap darah itu berdekatan denganmu dank au tak takut, tapi dengan kami kau . . . Well baiklah aku tahu kami tak setampan mereka, tapi . . . " nadanya sekarang marah.

Aku memandangnya, merasa marah juga. Jacob sepertinya menyesal.

"Itu refleks," kataku, yang akhirnya berbicara juga. "Keluarga Cullen berhati-hati, dan walau ada satu yang tak terkendali, mereka tetap menolongku," aku teringat insiden ulang tahunku. Jasper yang tak bisa mengendalikan diri karena darahku, dan Edward mendorongku.

Edward.

"Begitu juga dengan kami," sanggahnya.

Kutatap Jacob dengan sedih. "Tidak peduli kau itu apa, aku hanya ingin tetap menjadi sahabatmu."

Jacob terdiam, kemudian menggenggam tanganku erat. "Maafkan aku."

"Ini dimana?" tanyaku.

"Rumah Emily, tunangan Sam" jawabnya. Setelah dia mengucapkannya Sam dan Paul masuk. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Embry.

"Baik," jawabku sekenanya. "Maafkan aku Paul."

"Tidak, aku yang meminta maaf. Aku tahu kau pantas marah. Kau tidak terluka kan?" dari jawabannya terlihat sekali bahwa dia menyesal.

"Tidak," yakinku.

"Baiklah, kami keluar dulu," kata Embry santai. "Emily akan membawa makanan, kumohon jangan terkejut melihatnya," katanya, lalu beranjak keluar.

"Kumohon jangan terlalu memandangi Emily atau menunjukkan ekspresi shock," peringatan Jacob membuatku bingung.

Tak lama kemudian, seseorang masuk. Ketika kulihat wajahnya hamper saja dia teriak. Tampak guratan menghiasi wajahnya di bagian kanan, membuat bibirnya tertekuk ke bawah. Tapi matanya terlihat bersahabat.

"Well, jadi Bella sudah bangun," suaranya tampak terdengar menyenangkan. "Aku yakin kau haus dan lapar."

Dan itu benar. Aku makan dan minum dengan rakus, suatu hal yang jarang sekali kulakukan. Jacob tertawa melihatku. "Bagianku mana?" tanyanya.

"Ada di luar kalau belum habis," kata Emily. Jacob segera keluar. "Dah Bells."

Sekarang tinggal aku dan Emily.

"Jadi kamu si cewek vampire," katanya.

"Dan kau cewek serigala," balasku.

"Ya aku tahu ini mengejutkan, tapi selalu ada resiko bergaul dengan makhluk seperti mereka," katanya. "Kuharap kau memaafkan Paul."

"Ya ini juga salahku. Aku sudah begitu kurang ajar."

"Kurasa aku bisa mengerti," desahnya. "Jika aku di posisimu aku pasti akan melakukan hal yang sama."

Sepertinya Emily gadis yang menyenangkan.

"Aku sudah cukup sehat, boleh aku keluar?" tanyaku.

"Baiklah, bergabunglah dengan kami di depan. Dan akan kukenalkan padamu siapa werewolf sesungguhnya."

Aku bangkit dan mulai berjalan pelan. Emily berada di sampingku, matanya waswas seoalah aku bakal jatuh. Dan itu benar. Dia langsung menyanggaku dan tertawa pelan sementra aku meringis.

Aku baru menyadari bahwa aku sudah kering. Bajuku juga sudah diganti. Kuamati baju yang sedang kukenakan.

"Baju lamamu sudh kucuci, tapi belum kering," katanya. "Itu bajuku, semoga kau nyaman."

"Wew, terima kasih," kataku, terkejut akan kebaikan hatinya.

Para cowok sudh di luar, asyik menikmati roti yang sepertinya tak ada habisnya. "Bella, kemarilah!" ajak Jacob.

Aku tersenyum dan duduk di sampingnya. Kumati jendela dan terkejut menyadari hari sudah sore.

"Aku harus pulang!" jeritku.

"Well, aku sudah menelepon Charlie mungkin kau akan bersenang-senang di La Push sampai malam. Charlie tak keberatan jika aku yang meminta," katanya, lalu memakan roti di meja dengan sekali lahap.

"Kau tak bilang padanya kalau aku jatuh dari tebing kan?" tanyaku pelan.

"Tentu saja tidak," katanya, dan jawabannya itu membuatku lega.

Sebenarnya mereka semua ramah. Aku merasa begitu malu sudah berprasangka buruk. Aku memperhatikan mereka semua, terutama Sam dan Emily. Mereka tampak begitu serasi, dan tanpa diberitahu rasanya aku mengerti bekas luka itu disepabkan oleh apa. Walau sepertinya lebih tepat disebut siapa.

Hari sudah nyaris gelap, dan aku tahu ini saatnya untuk pulang. Aku bersikeras ingin membawa trukku sendiri, tapi Jacob memaksaku.

"Kau baru masa pemulihan dan kubiarkan kau menyetir sendiri?" dan perkataannya itu membuatku menyerah.

"Tapi nanti kau pulang dengan apa?" tanyaku.

"Berlari," jawabnya enteng.

Jawabannya membuat lubang di hatiku terasa nyeri lagi.

***

Begitu sampai di dekat rumah, aku terkejut melihat Volvo silver terparkir di situ. Aku terkejut, dan segera turun. Tapi tangan Jacob menahanku, wajahnya tegang.

"Vampire," geramnya.

"Biarkan aku turun Jacob!" perintahku.

"Tidak, terlalu berbahaya," larangnya.

"Tergantung siapa vampire itu!" bantahku. "Kumohon."

Dia melepaskanku, tapi matanya waspada. Kuhampiri mobil Volvo itu. Tidak ada orang. Lalu aku masuk ke dalam rumah, dan seseorang menghampiriku.

"Alice!" pekikku, lalu memelukku.

"Bella, gawat," katanya. "Aku melihatmu jatuh gara-gara kawanan . . ." hidungnya kembang-kempis. "Wew, anjing." Matanya memandang ke pintu dengan tatapan garang.

Jacob di pintu, berdiri dengan tatapan marah. "Bella bukan snackmu nona."

Mata Alice kembali kepadaku. "Kau . . . bergaul . . dengan . . anjing?" pekiknya.

"Dan kau berpelukan dengan lintah," kali ini Jacob sudah di sampingku, bahunya tegang.

"Tolong hentikan teman-teman," kataku. "Apanya yang gawat Alice?"

"Aku melihatmu jatuh dari tebing, dan Edward membacanya," katanya. Aku terkejut.

"Lalu?" tanyaku putus asa.

"Ya kau mungkin selamat, tapi Edward sangat marah dan kalut. Dia . . ."

Dan aku bisa merasakannya, di pintu. Sosok yang aku rindukan dalam mimpiku kini ada di depan rumahku.

"Bella . . ."

Aku tidak berpikir apa-apa lagi. AKu menghambur ke pelukannya. Dia merengkuhku. Emosi wajahnya sulit ditebak.

"Jangan membuatku khawatir."

"Jangan pergi!" jeritku.

"Dua vampire," gerutu Jacob.

Edward melepas pelukannya dan menghadap Jacob. "Aku kira kau bisa menjaga Bella, ternyata kau membahayakannya!"

"Setidaknya aku tidak meninggalkannya tanpa jejak," balasnya.

"Untuk itulah aku datang, membuat perhitungan denganmu."

"Stop!" jerit Alice. "Charlie akan datang sebentar lagi!"

"Edward . . . " aku terlalu bahagia karena akhirnya dia kembali ke Forks, tapi tiba-tiba aku sadar masalah sesungguhnya.

Edward kembali padaku, memelukku. "Tenanglah, aku kembali," katanya.

Jacob memandang garang, dan Edward membalasnya. Edwrad mengangguk sekali kea rah Jacob.

Jacob pergi, setelah sebelumnya memandang tatapan cemas ke arahku.

"Aku harus pergi Bella," sesalnya. "Maafkan aku."

"Tidak!" kataku shock. Lubang hatiku yang kurasa sudah menutup sekarang membuka lagi, lebih besar dari sebelumnya.

Tapi Edward sudah pergi, melesat. Sementara Alice menatapku iba. Aku menangis di bahunya, sementara Alice berusaha menenangkanku.

"Ssshh . . . Tenanglah, Edward akan kembali," katanya.

"Lalu untuk apa dia datang dan pergi lagi?" tanyaku.

"Ada . . urusan . ." katanya ragu. "Pergilah ke atas dan pura-puralah tidur. Charlie akan datang sebentar lagi!" kemudian dia menggendongku dengan cepat dan menurunkanku di ranjang. Setelah itu dia turun lagi.

Aku bisa mendengar pintu terbuka dan lampu dinyalakan. Tapi aku tak menggubrisnya. Kelewat sakit dan kecewa.

Mungkin Alice takkan datang lagi, jadi aku berpikir. Tatapan Jacob dan Edward, alasan yang tak ingin diutarakan Alice . . .

Kemudian aku teringat kisah Romeo dan Juliet. Romeo dan Paris bertarung . . .

Aku shock. Anggukan tadi adalah isyarat ajakan berperang!