Haiii ^^

Kembali lagi dengan saya Author baru yang lagi mempunyai gejolak yang aneh dalam membuat Fic ini. Ehehehe… entah kenapa saya mau membuat Fic tentang Karin dan Juugo. Mau tau alasannya??? *gak butuh!* *Pundung*.

Wakakaka… walaupun ga ada yang nanya, akan saya beritahu ^^. Karena saja jadi suka Pair atu ini, dan berniat bikin multi chapter. Dan makasih juga buat Dei-Kun. Yang udah bantuin saya mikirin gimana prolog dan sebagian jalan ceritanya. Semoga kamu suka dan mau baca ^^.

Selain itu, saya nggak tau kenapa juga saya jadi agak suka karekter Karin ^^, kenapa yah? Apa karena dia sering dibashing? Saya jadi sedikit kasihan dan saya nggak ada niat buat ngebashing karakter manapun ^^. Saya cuma mau bikin dia sedikit bahagia di fic ini hehe.

Kalau mau ngeflame, flame ajah kekurangan fic saya, tapi jangan flame karakternya okeh? Deal? Kalau bisa sih kritik saya biar saya bisa memperbaikinya di chapter yang akan datang.

.This Is My Turn To Unleass My Imagination.

~^^ SAYA BUTUH KRITIK YANG MEMBANGUN ^^~

^^ Peace ^^

Ya udahlah daripada mendengarkan ocehan saya yang nggak penting langsung aja lah baca, dan jangan lupa RNR~ *Maksa* *Dilempar Kompor*

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

No. 13 and No. 14 © Naer Sisra *Sok ngeksis*

Warning : Out Of Character dan Alternate Universe

Summary:

Tetangga baru yang berbadan besar tapi pintar. Karin nggak begitu peduli-peduli amat sama tetangga barunya yang ternyata senpainya di sekolah. Hingga tetangga barunya membuat suatu kesalahan fatal. Karin minta ganti rugi dengan mengerjakan semua PR-nya selama satu tahun.

Pairing:

---JuuKa---

Enjoy~~


Prolog

Di sebuah kompleks apartemen setinggi tiga lantai. Apartemen ini terdiri dari lima belas ruangan. Lima kamar di setiap lantai. Ada sebuah tangga yang menghubungkan ketiga lantai itu. Apartemen ini tidak terlihat terlalu mahal namun juga tidak murah. Ada beberapa jemuran yang digantung di dekat jendela kamar. Tidak usah dibahas soal jemuran karena banyak barang yang aneh bergantung di sana. Temboknya putih agak kumal di bagian lantai satu, banyak coretan-coretan grafiti oleh seniman tak dikenal yang sering berseliweran malam-malam saat manusia-manusia di dalam apartemen ini terlelap tidur.

Lalu di sana, di lantai tiga di kamar nomor 13. Pintunya bercat kuning cerah dan di sana terdapat tulisan:

.

Karin's Room

Masuk Selangkah Tanpa Izin

Jangan Harap Kau Selamat

.

Begitulah yang tertulis dengan huruf bold di kertas berbingkai hati berwarna pink yang terlalu indah untuk menempatkan tulisan seperti itu. Lalu, pintu bercat kuning itu terbuka dari dalam. Dan keluarlah si empunya rumah. Rambutnya acak-acakan, matanya yang merah menatap malas ke luar, baju tidurnya yang seperti kemeja, kusut di sana-sini. Kacamatanya miring ke sebelah kiri, di wajahnya, tepatnya di bagian bawah sudut bibirnya, terdapat berkas air yang sudah mau mengering. Direntangkan tangannya, mencoba untuk menggeliat menghilangkan pegal di punggungnya.

"Hoaaammm!" Mulutnya terbuka bagai singa mengaum. Menakuti beberapa burung gereja yang bertengger di pagar pembatas depan kamar Karin yang dengan segera terbang menjauh.

Kacamata yang bertengger di ujung hidungnya di betulkan sampai ke pangkal hidung. Dilihatnya rumah-rumah penduduk yang masih sepi, jalanan lengang dengan beberapa orang yang sedang berjoging ria bersama keluarganya. Bahkan ada yang sedang mesra-mesraan yang membuat mata Karin panas. Soalnya dia jomlo, tapi dia tidak terlalu mengurusi masalah romansa di kehidupannya yang sudah tujuh belas tahun. Tapi, kalau melihat orang pacaran rasanya pengen dia lempar pakai sandal. Apa lagi yang pacaran itu berdiri di depan apartemennya. Bikin mata iritasi aja.

"Huh! Kalau mau pacaran di taman saja! Jangan di sini!" Gerutunya pelan.

CKREK

Pintu di sebelahnya terbuka. Pintu kamar nomor 14, bercat ungu yang lumayan kusam. Seorang pemuda bertubuh besar keluar sambil menguap, kemudian memegang pagar pembatas sambil meregangkan badannya. Rambutnya merah agak ke coklatan, tapi setelah dilihat lebih dekat malah seperti agak pirang, rambutnya juga acak-acakan dengan baju kaos putih polos yang terlihat kusut.

Karin tidak tahu kalau sudah ada yang mengisi kamar No. 14 itu. Padahal kemarin siang masih kosong. Dengan sedikit penasaran dia bertanya pada prang itu.

"Hai, anda orang baru ya?" Tanya Karin tapi dari nadanya dia tidak terlalu tertarik dengan keberadaan orang baru ini, hanya sekedar basa-basi aja.

Dia menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis.

"Ya," katanya singkat.

"Oh, kenalkan aku Karin, tinggal di kamar no. 13, kita bersebelahan, kapan anda pindah?," tanya Karin sambil menyodorkan tangannya mencoba beramah tamah.

"Namaku Juugo, baru pindah kemarin malam," katanya sambil menerima tangan Karin.

"Wah namamu mirip dengan seorang senpai ku di sekolah, aku belum pernah melihat wajahnya tapi katanya dia pintar," kata Karin yang kini melepaskan genggaman tangannya pada lengan Juugo.

"Kau sekolah di mana?" Tanya Juugo.

"Di Konoha High School," kata Karin.

"Wah aku juga di sana," kata Juugo.

"E-eh… benarkah?! Go-gomennasai senpai, saya sama sekali tidak tahu," kata Karin yang menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah senpainya yang baru dikenalnya.

"Tidak- tidak apa-apa kok, santai saja," kata Juugo, dia salah tingkah juga ada yang meminta maaf sampai nunduk-nunduk sedalam itu.

"Haha… senang juga ada yang satu sekolah tinggal di apartemen yang sama," kata Karin yang cengengesan salah tingkah.

"Ya, jadi seperti ada teman," kata Juugo sambil tersenyum.

"A-ano… maaf saya masih ada urusan di dalam hehe…" kata Karin sambil cengengesan masuk ke kamarnya lagi, berusaha menutupi rasa malunya meninggalkan Juugo di sana yang berwajah bengong.

---XXX----

Karin masuk kedalam kamarnya yang sempit. Mencoba untuk sedikit bersenang-senang di hari minggu yang lumayan cerah ini. Lalu setelah dia memutuskan untuk pergi ke taman kota. Dia segera bergegas sambil memilih baju yang cocok. Kamarnya tidak bisa dibilang kamar untuk seorang gadis, berantakkan seperti ada bajak laut yang menyerang tadi malam meluluh lantakkan semua komiknya hingga bertebaran tak karuan.

"Eh kok rasanya aku melupakan sesuatu yah?" Batin Karin, telunjuknya ditempelkan ke dagunya. Kemudian mencium baju di daerah ketiaknya.

"OH IYA! Aku kan belum mandi," katanya sambil tertawa bodoh sambil menggeplak jidatnya.

Lalu dengan cepat dia menuju kamar mandi yang juga sangat sempit, di sana hanya bisa mandi, jongkok sedikit saja sudah mentok.

"Yellow moon~~ Yelow Moon~~," Karin terus bernyanyi dengan suaranya yang fals dengan nada berantakan, sesekali terdengar suara air yang mengguyur. Suara air terus saja terdengar sampai akhirnya Karin keluar dari kamar mandi setelah lima belas menit berselimutkan handuk berwarna pink yang menutup dari bagian atas dada sampai ke bagian atas lutut. Rambutnya yang merah dibiarkan tergerai namun sudah agak kering karena dia sudah mengeringkannya tadi.

Dia menghampiri tempat tidurnya, mengambil baju yang sudah dipilihnya tadi, kemudian dia mengangkat baju itu hingga dia melihat sesuatu di sana. Seekor serangga berwarna coklat dengan antena yang mengerikan, bergerak-gerak menantang Karin. Seekor kecoa yang ukurannya di atas normal. Wajah Karin yang tanpa kaca mata sudah sepucat tembok kamarnya.

Karin bergerak perlahan-lahan, mundur selangkah dua langkah untuk menghindari tatapan langsung dengan serangga yang paling ditakuti oleh Karin selama hidupnya.

"Permisi, Karin ada sedikit makanan nih semoga kau suka," Juugo membuka pintu tanpa mengetuknya, menawarkan makanan yang berupa snack untuk mengakrabkan diri dengan tetangga. Namun yang dilihatnya, Karin sedang bersiap-siap menghadapi sesuatu. Dengan tongkat pembersih toilet di tangannya.

Karin yang kaget melihat Juugo masuk seenak jidat ke dalam kamarnya menolehkan kepalanya ke arah Juugo, hingga akhirnya kecoa itu terbang ke arah Karin. Menempel tepat di wajhanya. Sontak Karin menjerit.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!" jeritannya panjang dan menggelegar.

Karin berlari kesana kemari, kedua tangannya direntangkan ke atas sambil terus berteriak membuat semua penghuni kamar apartemen bangun dari tidur pagi di hari minggu yang menyenangkan. Penyedot toilet yang dipegangnya tadi entah ada di mana sekarang

"Ka-Karin?" Juugo yang masih di depan pintu Karin menatap pemandangan di depannya dengan sweatdrop besar di kepanya.

"To-toloooonggg!!! Di wajahku ada kecoaaaa!!!" Karin terus berlari memutari kamarnya yang kecil, segala macam barang di hajarnya tanpa pikir panjang. Menyebabkan kamarnya yang sudah berantakkan menjadi seperti kapal pecah yang diserang bajak laut terus di tabrak ikan paus. Disudut mata Karin mengalir deras air mata ketakutan. Matanya menatap kosong dengan wajah membiru.

"Tunggu sebentar Karin, kau jangan lari-lari begitu, kecoanya tidak akan pergi kalau kau tetap berlari," kata Juugo yang mencoba menghampiri Karin yang masih berlari berputar-putar. Rambut Karin yang kemerahan seakan melayang di udara.

"Tolooongg!!!" Lolong Karin dengan suara yang memilukan. Kulit pisang yang ada di meja belajarnya beterbangan terkena amukan tangannya yang kalap mencoba mencari pentungan untuk mementung wajahnya agar kecoa itu pergi, namun kulit pisang itu terlempar ke arah Juugo yang berlari menghampiri Karin. Dan…

SPLIT!

Kaki Juugo menerjang kulit pisang itu, hingga Juugo terbang melayang dalam kengerian yang ketara dalam kesunyian yang sesaat. Karin yang ada di hadapan Juugo hanya bisa menatap Juugo dengan pandangan ngeri dengan mulut ternganga, di sudut matanya masih tersisa bintik-bintik air mata, di pipi kanannya masih menempel kecoa jumbo.

Seakan diperlambat sepersekian detik, Juugo menatap Karin. Karin menatap Juugo. Keduanya hanya pasrah dengan nasib yang akan datang.

"KYAAAAAA!!!"

"WAAAAAA!!!"

BRUAK! GUBRAK! PRANG! MEEONNGG!!!

Juugo menabrak Karin, namun sempat membalikkan tubuhnya agar Karin tidak tergilas tubuh besar Juugo. Tangannya masih memegang lengan Karin. Kemudian dia menabrak meja belajar Karin dengan suara berdebum keras.

Para tetangga mereka segera keluar dari kamar dan langsung mengungsi ke jalanan, mereka takut gempa 8,7 skala richter akan membumi hanguskan apartemen mereka. Mereka tidak tahu kalau suara getaran yang bergemuruh itu berasal dari kamar no 13. Disebabkan oleh seekor kecoak jumbo.

Suasana kamar Karin luluh lantak oleh kelakuan Karin yang berlari-lari GaJe tadi. Ditambah hantaman Juugo pada meja belajarnya yang membuat beberapa buku berjatuhan menimpa mereka berdua.

Kepala Juugo pusing dengan mata berkunang-kunang. Dirasakannya Karin ada di atas tubuhnya. Lalu kedua tangannya merasakan sesuatu yang empuk, aneh sekali.

"KYAAA!!!" Karin menjerit lagi.

"Ada apa- ada pa?" Tanya Juugo yang kebingungan.

"Singkirkan tanganmu!" Jerit Karin.

Juugo memandang kedua tangannya yang sedang mendarat dan merekas sesuatu di balik handuk pink Karin. Sesuatu yang sama sekali belum pernah Juugo pegang selama hidupnya.

"Waaaa!!!" Juugo melepaskan pegangannya pada dada Karin yang kini menatapnya murka.

"K-k-k-kauuuuu…." Karin membetulkan ikatan handuknya yang kendor. Matanya masih memancarkan aura kemurkaan.

"Eh go-gomen… saya sama sekali tidak bermaksud…" Juugo ngeri menatap mata Karin yang sudah sangat marah. Seakan mata Karin mengeluarkan api yang menjilat-jilat murka.

"KAU HARUS GANTI RUGI!" Bentak Karin yang berhasil membuat Juugo duduk bersimpuh.

"Oh tuhan! Kenapa semua ini terjadi padaku! Kenapa kau kirim orang mesum bertampang lugu ini datang kemari! Kenapa takdir selalu tidak adil padaku!" Karin melolong dengan posisi aneh, seakan bersiap untuk meninju Juugo.

Juugo mengeluarkan keringat dingin yang sangat banyak, wajahnya memerah pikirannya masih saja terpaut pada benda yang empuk yang baru saja dipegangnya beberapa saat lalu. Dia duduk bersimpuh di depan Karin, menatap lantai kamar Karin.

"POKOKNYA HARUS GANTI KERUGIAN!" Jerit Karin yang kini mulai seperti setan.

"Ta-tapi, aku sama sekali tidak punya uang lebih, habis untuk bayar sewa," kata Juugo yang masih tertunduk menatap lantai.

"Tidak bisa! Harus ada ganti ruginya!" Karin berjalan mondar mandir di depan Juugo yang kini berkeringat dingin segede biji jangung. Karin menghentak-hentakkan kakinya, menambah getaran badan Juugo semakin kencang.

Mereka sudah tidak memikirkan posisi Senior dan junior saat ini. Yang ada hanya kemarahan, keberingasan, kemesuman, dan keterkejangan.

Lalu Karin melihat buku PR musim panasnya. Melihat belum satu pun dari semua buku itu terisi tulisan. Kosong melompong. Dan besok sudah harus masuk sekolah. Lalu Karin mengambil keputusan.

"Kau tak perlu mengganti kerugian dengan uang, tapi sebagai gantinya," Karin berhenti bicara kemudian mengangkat buku PR-nya, mengacung-acungkan bukunya ke depan wajah Juugo, lalu menarik napas dalam, kemudian berteriak.

"KERJAKAN SEMUA PR MUSIM PANASKU DAN SEMUA PR KU SELAMA SATU TAHUN!" bentak Karin yang masih mendelik murka menatap Juugo yang bersimpuh penuh keringat.

"I-ya," kata Juugo saking gugupnya.

Juugo menjawab dengan takut. Hari pertamanya pindah apartemen sudah mempertemukannya dengan Karin yang sekarang menatap murka Juugo-sang senpai yang pintar-yang bersimpuh didepannya dengan wajah ketakutan. Menghukum orang yang tidak berniat mesum, tapi melakukan hal yang lebih berbahaya daripada sekedar ngintip Karin mandi.

Peringatan di depan kamar Karin yang berbentuk hati berwarna pink menjadi kenyataan. Dan dimulailah hari-hari Juugo sebagai pesuruh Karin. Hari yang kelam menyambut Juugo dengan segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan yang menunggunya sebagai pengerja PR Karin.

---------------Tubikontinu--------------


Wahahahahahahaha…. Selesai juga prolog No.13 and No 14, hehehe….

Aduh saya bikin Juugo OOC Parah!

Karin Juga rada OOC hehehe… namun keberingasannya tidak pudar ^^

Yo sudikah RNR fic sayah?

^^ KRITIK YANG MEMBANGUN SANGAT DITUNGGU ^^

~~~~Salam~~~~

Naer Sisra