Hujan, Rain, Ame
Mereka memiliki ejaan yang berbeda, namun tetap saja berarti sama yaitu air jatuh membasahi bumi.

Hujan, Rain, Ame
Saat itu di tempat ini, aku pertama kali melihatnya. Ia dengan gagah melawan hujan dengan mata cokelatnya yang sangat indah.

Hujan, Rain, Ame
Aku tidak tahu apa yang ia lakukan di sana, aku juga tidak kenal siapa dia. Tetapi aku terus menatapnya, hingga ia melihatku dan tersenyum.

Hujan, Rain, Ame

Dan saat itu pula aku tahu, aku mencintainya.

.

.

Hujan, Rain, Ame

Chapter 1 : The First Time I Meet He

.

A Fic by BinBin-Mayen Kuchiki

.

Rate : T+

.

Genre : Romace/Hurt/Comfort

.

Disclaimer : Bleach© Tite Kubo

.

.

Aku menghela napasku dengan berat, aku merasa sangat bosan di rumah hingga ku putuskan untuk jalan-jalan keluar rumah sebentar. Namun sialnya cuaca mendung yang kukira baru akan turun hujan pada malam hari ternyata turun di saat aku sedang duduk dengan santai di taman Karakura.

Aku sedikit bersyukur karena Nii-sama tadi menyuruhku memakai mantel dan membawa payung walau aku sempat menggerutu dan memaki-makinya dalam hati, hanya dalam hati karena aku sangat menghormatinya.

Aku mengembangkan payungku setelah hujan mulai menghujam bumi semakin deras. Aku hanya bisa menggigil karena hawa dingin sambil berharap memilik segelas kopi hangat untuk diminum.

Aku bangkit dari kursi panjang bercat putih yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian. Aku sudah tidak tahan dan dengan nekat akan berencana menerobos hujan dengan tubuh mungilku.

Namun langkahku terhenti saat aku berada beberapa meter lagi dari pintu gerbang taman. Ada seorang pria yang tidak ku kenal berdiri di depan pintu gerbang berhias dedaunan dan bunga yang di bentuk sedemikian rupa itu. Aku menatapnya, memperhatikan dengan seksama namun pria itu sama sekali tidak bergerak dan membiarkan tubuhnya terus terguyur hujan.

Pria itu menoleh dan aku bisa melihat mata cokelat musim gugurnya yang sangat indah. Pria itu tersenyum padaku. Pria dengan rambut aneh berwarna orange itu, ia berdiri di tengah hujan sendirian. Entah apa yang ia lakukan dan aku hanya terpaku saat ia tersenyum padaku, senyuman hangat yang membuatku merasa akrab dengannya.

Hujan semakin deras, walaupun aku sudah memakai mantel tebal dan sebuah payung yang ku pegang tapi tetap saja udara hari ini sangat dingin. Aku tidak habis pikir apa yang membuat pria itu betah di tengah sana, dengan kemeja putih yang sudah basah kuyup hingga memperlihatkan otot perutnya yang sangat bagus.

Aku membalas senyumnya, agak ragu dan juga takut. Pria itu menengadah menatap langit yang begitu gelap dengan awan yang bergumpal. Aku bisa lihat ia sedikit menyipitkan matanya untuk menghindari tetesan air hujan masuk ke dalam matanya, dan juga dengan tangan yang dibentangkan seperti patung Jesus yang ada di gereja-gereja yang sering kulihat di televisi. Ya, aku hanya sering melihatnya di televisi karena aku bukan beragama kristen.

Aku merasa aneh pada diriku sendiri, kakiku samasekali tidak bisa melangkah sejengkal pun dari tempatku berdiri. Aku hanya terus memandangnya, kagum dengan ketampanannya, tidak bisa berhenti untuk memandangnya.

Aku mulai gelagapan ketika ia mendekatiku, dan sekarang ia ada di hadapanku dengan tubuhnya yang lumayan tinggi hingga tinggiku hanya sebatas dadanya yang bidang saja. Jantungku berdegup dengan kencang saat mata musim gugurnya menatapku lekat. Aku hanya bisa tertunduk, namun ibu jari tangan kanannya mengangkat daguku dan memaksa mata violetku untuk menatapnya.

Secara refleks aku memejamkan mataku saat ia mulai mendekatkan wajahnya padaku dan beberapa saat kemudian aku merasakan sentuhan hangat dan lembut di bibirku, ia menciumku.

Apa ini yang namanya berciuman? Tetapi kenapa aku melakukannya dengan orang yang samasekali tidak ku kenal? Aku sudah tidak memperdulikan batinku yang bertanya-tanya sekarang. Satu tanganku yang tadinya memegang payung sudah beralih bergelayut bersama tanganku yang lain di leher pria itu, hingga aku menjadi basah kuyup sama dengannya dan payung yang kupegang tadi tergeletak disisi kami.

Pria itu memeluk pinggangku dengan kedua tangannya. Beberapa saat berlalu tapi masih menciumku, aku sedikit membuka mataku untuk melihat ekspresinya dan aku tersenyum dalam hati setelah melihat ekspresi tulusnya yang sangat manis, membuatku semakin tidak ingin melepaskan tanganku dari lehernya.

Sedekat ini aku bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku, hembusan yang hangat, sehangat bibirnya yang mengulum dengan lembut bibirku. Aku tidak peduli dengan hawa dingin yang merasuk ke tubuhku karena pakaianku yang basah sekarang, karena semua yang dimiliki pria tak di kenal ini menghangatkan ku.

Tepat setelah hujan berhenti ia baru melepaskan ciumannya, napasnya menderu mungkin karena hampir kehabisan napas sama sepertiku. Aku menundukkan kepalaku untuk menutupi wajahku yang sangat memerah. Rasanya aku tidak sanggup untuk menatap wajahnya sekarang.

Pria itu tersenyum kecil melihat rona wajahku yang gagal kusembunyikan lalu mengambil payung milikku yang tergeletak di tanah dan menyerahkannya padaku. Jantungku tak bisa berhenti berdetak dengan cepat saat ia berada di hadapanku untuk yang kedua kalinya, rasanya jantungku mau lepas saking cepatnya detakan itu.

Aku menerima payung bercorak Chappy kesukaanku dengan tangan bergetar. Saat ini aku benar-benar malu untuk menatap wajahnya. Dan mataku membulat sempurna saat ia mengecup lembut bibirku untuk kedua kalinya.

"Sampai jumpa," katanya dengan senyum yang sangat manis. Ia melangkah menjauh dariku setelah memberiku kecupan terakhir.

Aku menatap punggungnya yang terlihat besar. Ada satu kalimat yang tercekat di dalam tenggorokanku dan aku harus mengatakannya.

"T-tunggu! Siapa namamu?"

Pria berambut orange itu berbalik dengan satu tangan yang ia masukan ke dalam saku celana jeans biru tuanya. "Ichigo.. Kurosaki Ichigo."

"A-aku Kuchiki Rukia.. Nanti bertemu lagi ya.." Aku bisa merasakan wajahku memanas setelah mengatakan hal itu.

Pria itu mengerutkan kedua alisnya yang berwarna sama dengan rambutnya sejenak lalu kembali tersenyum. "Iya, pasti!" jawabnya yakin.

Aku tersenyum dan melambaikan tanganku pada pria bernama Kurosaki Ichigo itu. Aku terus memandangnya hingga ia menghilang di tikungan jalan.

To be Continued


BinBin : Huaahh... Untuk kesekian kalinya gw bikin fic baru neh, padahal yang lain aja belum ke urus.. ya gimana donk, ide di otak gw lagi banyak nih.

Mayen : Ckckckck... Tapi IchiRuki lagi ya??

BinBin : Iya donk! Walau gw juga terkena virus ByaRuki dan HitsuRuki tapi tetep IchiRuki the number 1!!

Mayen : Oh gitu ye.. Gw juga sih suka IchiRuki. Pokoknya asal jangan mpe ga keurus deh nie fic.

BinBin : Yahoo... Minna tolong reviewnya yaa..!!!

Tekan ijo-ijo di bawah ini kalau mau fic gaje ini berlanjut!! Onegaishimasu!!!