Hujan, Rain, Ame
Mereka memiliki ejaan yang berbeda, namun tetap saja berarti sama yaitu air jatuh membasahi bumi.

.

Hujan, Rain, Ame
Kamu tahu semua terlambat ketika kamu mulai menyepelekan waktu dan menyalahkan Tuhan karenanya

.

Hujan, Rain, Ame

Chapter 9 : Just a Little Time..

.

Bleach © Tite Kubo

This story © Hibari A. Beenbin

.

"Eh, Kurosaki-kun? Tentu saja aku masih ingat," jawab Hinamori enteng. Ia sedang mencuci piring bekas tamu café ketika Hitsugaya menanyakan tentang pemuda berambut orange itu. "Memangnya kenapa?" tanyanya kemudian.

"Hm, tidak apa-apa. Hanya teringat saat dia bekerja di sini." Hitsugaya menyeruput tehnya.

"Pemuda yang sangat manis, kan? Aku tidak akan pernah lupa saat dia berlutut di hadapanmu." Hinamori mengeringkan tangannya dengan sebuah handuk kecil lalu duduk di hadapan Hitsugaya yang sedikit demi sedikit membangun ingatannya kembali tentang Ichigo.

"Maa.. Dia memang pemuda yang sudah langka di dunia ini. Mau bekerja sebagai asisten koki hanya karena ingin membuatkan makanan yang dipesan gadis yang disukainya."

"Perempuan suka lelaki yang seperti itu lho, kalau Shiro-chanberada di posisi yang sama dengan Kurosaki-kun apa kamu juga akan melakukan hal yang sama?"

Pertanyaan gadis manis itu membuat Hitsugaya tersedak. "Heh, kalau aku… Ah, aku tidak senekat itu," jawabnya sebelum tertawa hambar. "Ngomong-ngomong aku belum sempat mengunjungi makamnya," lanjut pria bermata emerald itu.

"Eh? Makam siapa?" tanya Hinamori bingung.

"Kurosaki.. Kamu tidak tahu?"

"Uso.. Kurosaki-kunmeninggal?"

Hitsugaya mengerutkan alisnya. Heran melihat ekspresi terkejut Hinamori. "Ya, sekitar tiga minggu yang la- Hinamori?"

"T-tapi kemarin Rukia-chan…" Hinamori mengobrak-abrik tasnya, mencari sebuah buku harian berwarna hijau muda.. Ah, dia menemukannya lalu mulai membuka lembar demi lembar halaman, kali ini ia mencari selembar foto.

"Hinamori?" panggil Hitsugaya ketika wajah gadis yang telah lebih dari 5 tahun dikenalnya itu memucat.

Tangan Hinamori gemetar, ia memperlihatkan foto yang kemarin diberikan Rukia padanya. "Aku bersumpah, kemarin aku melihat Ichigo bersama Rukia-chan di foto ini!" ucapnya, tetapi Hitsugaya hanya melihat Rukia yang tersenyum manis dalam foto itu. Hanya Rukia sendiri.


Rangiku masih menutup mulutnya.

Ia belum membicarakan tentang keanehan keberadaan pemuda bernama Kurosaki Ichigo pada Rukia. Gadis berambut blonde itu masih ragu, ia tidak ingin berbicara sebelum ada bukti.

Duk!

"Kertas?" ucap Rangiku

Kertas itu dilempar tepat ke atas mejanya dari arah luar jendela. Bukannya kelasnya berada di lantai dua? Siapa yang iseng melempar gulungan kertas ini padanya?

"Mungkin surat cinta," celetuk Gin bercanda.

"Surat cinta? Dalam bentuk gumpalan seperti ini? Tidak romantis sekali."

Rangiku membuka gumpalan kertas tersebut. Ia meneliti goresan tangan yang sangat rapi dengan tinta berwarna apel. Ia membaca satu kalimat dari kertas tersebut. Sang gadis mengerutkan alisnya dan berhenti membaca setelah membaca setengah dari seluruh tulisannya.

"Gin... tolong katakan padaku kalau semua ini hanya mimpi!"


Akankah kamu memberikan barang yang kamu inginkan kepada seseorang yang kamu benci? Meskipun sebenarnya barang tersebut memang ditujukan untuk orang yang kamu benci itu, masihkah kamu mau menyerahkannya? Tidak. Awalnya jawaban itu yang dipilih Inoue. Tetapi sekarang ia menyesali keegosian dan keserakahannya. Ia tidak pernah merasa semenyesal ini, ia bahkan mengutuk dirinya. Dirinya yang buruk rupa jika dilihat dari dalam.

"Apa dosaku akan berkurang jika melakukan ini?"

Inoue menatap boneka chappy berwarna langit yang ia letakkan di depan pagar rumah Rukia, gadis yang ia benci karena telah merebut Ichigo darinya. Awalnya ia menganggap gadis bermata violet itu menjijikkan tapi lama-lama ia menyadari bahwa sebenarnya dirinya lebih menjijikkan dari Rukia. Ia menolak menerima kenyataan jika Ichigo menyukai Rukia, jadi bukan gadis itu yang merebut Ichigo darinya. Sejak awal memang Inoue tidak bisa melewati garis batas persahabatan dengan Ichigo. Dan ia benci untuk mengakui itu.

"Sayang sekali, seperti tidak."

Jawaban itu membuat sang gadis bermata kelabu berpaling.

"Kamu.. siapa?" tanyanya pada sang pria berambut gelap yang berdiri di depan pintu rumah Rukia.

"Kuchiki Byakuya."

Inoue membeku. Matanya mulai berair seiring dengan awan yang tak sanggup lagi menahan hasil siklus air di bumi. Ia merasa malu. Sangat malu.

"Jadi kamu yang beberapa hari ini meletakkan boneka di depan pagar. Untuk Rukia?" tanya kakak Rukia yang juga sekaligus pengacara terkenal itu.

Inoue hanya bisa mengangguk. Menyembunyikan sengguk tangis di sela hujan yang mulai turun dengan padatnya. Ia menatap sepatu pantofel Byakuya, tidak sanggup menatap mata pria itu. Seakan tahu jika ia menatapnya maka semua kebohongan dan kebusukan dirinya dapat dibaca oleh pria itu.

"Gomen.." gumamnya lirih saat Byakuya melangkah mendekatinya untuk mengambil boneka chappy berukuran besar itu.

"Aku tidak tahu dosa apa yang telah kamu lakukan tetapi kamu tidak bisa mengapusnya dengan apa yang kamu lakukan sekarang. Saat ini kamu hanya melakukannya demi kepuasan dirimu sendiri. Kamu hanya membohongi dirimu dengan meyakinkan dirimu bahwa semua akan baik-baik saja padahal kamu tidak bisa menghapus dosamu di masa lalu," ucap Byakuya sebelum masuk ke dalam rumah. Tidak cukup baik untuk mempersilahkan Inoue yang basah kuyup untuk bernaung di rumahnya ataupun hanya sekedar meminjamkan payung.


Kreeek...

Lemari tua itu menjerit ketika Byakuya menutup kembali pintunya dan menguncinya dengan sebuah gembok berwarna emas. Pria tampan itu menghela napasnya kemudian berjalan menuju dapur untuk membuat segelas teh hangat.

"Nii-sama.."

Byakuya menatap Rukia. Adik satu-satunya itu tersenyum manis dan menyerahkan sebuah kotak bercorak bunga sakura padanya.

"Otanjoubi omedetto," ucap Rukia. Gadis itu ingin tertawa melihat ekspresi sang kakak yang terlihat bingung. Ia lalu mengambil ponselnya, membuka kalender dan menunjukkannya pada Byakuya. "Hari ini tanggal 31 Januari, Nii-sama," lanjutnya.

"Oh.. ya, terima kasih," balas Byakuya.

"Oh iya Nii-sama, tadi di luar ada siapa?"

Deg. Tangan Byakuya mendingin. Ia memutar otaknya untuk menemukan jawaban bohong yang masih rasional. Ia tidak mengatakan apapun pada Rukia bahwa selama seminggu ini ada seorang gadis yang secara diam-diam meletakkan boneka chappy kesukaan Rukia di depan pagar... untuk menebus dosanya.

Kenapa gadis itu tidak memberikannya langsung pada Rukia? Pikiran itu juga yang selama seminggu ini berada dalam otaknya. Juga semua surat yang diberikan bersama boneka itu. Byakuya tidak membaca surat tersebut. Ia tahu ia tidak berhak membacanya tapi ia juga enggan untuk menyerahkannya pada Rukia.

Kenapa aku tidak memberikannya pada Rukia?

Kenapa aku malah menyembunyikan semua boneka dan surat itu?

"Bukan siapa-siapa. Hanya tukang koran," jawabnya.

Ah, jawabannya hanya satu. Ia merasa jika ia menyerahkan boneka dan surat itu maka ia akan kehilangan Rukia. Ya, dia. Byakuya adalah pribadi yang egois yang ingin memiliki adiknya untuk dirinya sendiri.


Tik... Tik...

Apa kamu tahu jika cuaca terkadang menggambarkan suasana hatimu? Setidaknya hal itu yang terjadi pada Ichigo. Ia berdiri di samping seesaw taman Karakura. Membiarkan tubuhnya yang semakin memudar terguyur oleh dinginnya hujan.

"Mou jikan ga nai nda.." gumam Ichigo.

Matanya lekat menatap note yang telah dibubuhi 30 tanda silang. Menatapnya dengan rasa benci, bukan benci pada note tak berdosa itu tetapi benci kepada dirinya yang tak berdaya mengadapi laju waktu yang bergulir.

"Ah, Ichigo!"

Ichigo memasukkan note-nya ke dalam saku celana ketika Rukia dengan wajah cerah berlari kecil sambil menghindari beberapa genangan air ke arahnya. Gadis itu masih memakai seragam sekolahnya kali ini ditambah dengan sweater rajut yang berwarna senada dengan pupil matanya dan juga sebuah payung berwarna hitam... Ichigo hanya bisa menggigit bibirnya ketika melihat payung itu.

"Kenapa hujan-hujanan?! Sedang apa sih kamu di sini?" Rukia langsung memayungi Ichigo tetapi pemuda itu langsung mengambil alih memegang payungnya.

"Menunggumu, midget," jawab Ichigo dengan senyum yang membuat Rukia tersipu malu.

"A-ku bukan midget!" Rukia mencubit lengan Ichigo.

"Iya-iya maaf.."

Mereka berjalan menjauhi taman Karakura. Tidak ada tujuan. Mereka hanya berjalan di bawah manisnya suara rintik hujan serta aroma jalanan yang basah. Tidak menghiraukan beberapa orang yang menatap aneh pada mereka. Tidak berharap bahwa jalanan yang mereka tempuh akan memiliki ujung. Hingga Rukia membuka suara.

"Ichigo..." Ada jeda sebelum Rukia melanjutkan kalimatnya. Gadis itu seperti berpikir dengan cermat akan kalimat yang ingin ia ucapkan.

Rukia berhenti melangkah dan otomatis hal tersebut membuat Ichigo juga berhenti. Akhirnya gadis mungil itu mengucapkannya. Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat sang pemuda membeku serta menjatuhkan payung hitam berukirkan 'KI' yang beberapa bulan lalu ia berikan pada sang gadis.

"Kimi wa hontou ni iru n desu yo nee?*"

To be Continued


*Kamu benar-benar ada(nyata) kan

A/N : Maaf banget update-nya lama dan maaf ga bisa bales semua review~ Terima kasih juga karena masih setia nunggu! Tolong terus dukung author pemalas ini ya :3