Sparepart 02

Gara-gara insiden kotoran burung tadi pagi, Bobby segera menendang Winchester bersaudara jauh-jauh dari propertinya. Tapi tidak sebelum menyuruh mereka mandi, sarapan, dan memberikan sebuah map berisi kasus supranatural. Dari gelagatnya, besar mungkin mereka akan menghadapi Penyihir — tipe yang paling sukses membuat Dean keki.

Sekarang dua kakak-adik itu tengah melaju bersama Impala ke kota selanjutnya, meskipun selama awal perjalanan Dean masih uring-uringan. Berkali-kali dia meyakinkan Sam bahwa burung gila itu dirasuki, terbukti dia sengaja buang kotoran di mobilnya, padahal di sekitar rumah Bobby banyak mobil-mobil lain yang lebih layak. Sebagai tambahan, tembakannya tidak ada yang kena! Dean kan seorang penembak jitu.

Mendengar itu, Sam segera berpura-pura menyibukkan diri dengan map yang diberikan Bobby.

Belasan kilometer sudah dilewati, namun Dean asyik saja meracau ke mana-mana. Saat stok bahan omongan sudah habis untuk sementara, dia menyalakan tape untuk memutar album Metallica kepunyaannya, "Ride the Lightning". Dentuman musik otomatis membahana dalam interior Impala. Spontan, Dean ikut buka suara —kalau tak mau disebut berteriak— mengikuti lirik yang dilantunkan si vokalis.

Sesaat, bola mata hijau yang tak pernah gagal menaklukkan perempuan itu melirik ke arah kursi penumpang. Dean mengangkat alis ketika menemukan Sam tengah tidur sepulas beruang di musim dingin.

Ekstrem juga bocah Winchester yang satu ini, bisa terlelap di tengah-tengah musik yang bikin tuli. Barangkali karena malam sebelumnya Sam riset semalam suntuk untuk persiapan kasus. Atau... mungkin juga Sam selalu dapat mengecap kenikmatan tidur ala bayi karena ada Dean di sampingnya.

Mencapai tengah hari, perut Dean mulai keroncongan — irama yang sama sekali tidak selaras dengan garukan gitar Kirk Hammett. Lantas, Dean membawa Impala memasuki lahan parkir sebuah kedai makan yang pertama ia lihat. Kedai tersebut cukup ramai, tampak banyak kendaraan lain terparkir di situ. Tak heran, karena saat ini merupakan jam lumrahnya orang cari makan.

Hap! Impala sudah terparkir dengan aman. Dengan kepiawaian mengemudinya, Dean memastikan gadis favoritnya tidak tergores bodi mobil lain yang mengapit di kedua sisi. Kemudian, tepat ketika dengkur Impala padam, Sam mengerjapkan matanya.

"De, titip salad... dan kentang goreng ekstra... krrr..." Sam tertidur lagi dengan sukses.

'Singkat, padat, jelas,' batin Dean. Ini sih sudah jelas dia yang harus beli makanan, dibungkus pula. Hilang deh keleluasaannya untuk berkenalan dengan waitress cantik yang mungkin dipunyai kedai ini. Tapi kalau dipikir-pikir, dengan kondisi pengunjung yang demikian ramai, mereka pasti tengah heboh jumpalitan menerima pesanan, keluar-masuk dapur, mencuci piring, membersihkan meja, sampai memberikan uang kembalian. Tambahan, dua pemburu cakap ini tak akan bisa mendiskusikan detil kasus dengan santai dalam ruangan penuh orang awam.

Dean melengos.

Lima belas menit kemudian, Winchester sulung keluar dari kedai. Kedua tangannya penuh karena dipersenjatai dua gelas minuman ringan, salad, kentang goreng jumbo, pai cheri, dan burger keju ekstra bawang bombay. Ups, tak lupa selembar tisu yang tengah ia gigit, bertuliskan nomor telepon seorang waitress berbodi biola Prancis, Michelle namanya. Ha! Jangankan merayu cewek ketika mereka sedang sibuk kerja, saat dunia kiamat pun dia masih bisa dapat teman kencan. Mungkin...

Kali ini, Dean cengegesan seperti habis dibelikan seember permen.

Namun, moodnya mendadak berubah drastis untuk kedua kalinya di hari yang sama, tatkala matanya menemukan gumpalan cairan kental berwarna putih keabu-abuan yang menodai kaca depan Impala. Cih, lagi-lagi kotoran burung.

"Dammit!" Rutukan Dean keluar otomatis. Meskipun suaranya terdengar sedikit konyol gara-gara mengigit tisu, tapi semangat maki-makinya melebihi pelaut. "Apa aku sedang dimusuhi makhluk-makhluk bersayap?"

(Di suatu tempat, Uriel terpeleset kulit pisang)

Lantas, Dean meletakkan belanjaan makan siangnya di atas kap Impala. Tanpa buang-buang waktu, dia gunakan selembar tisu untuk membersihkan kotoran burung laknat yang menodai mobilnya. Tetapi, ia terlambat menyadari bahwa tisu tersebut bukanlah tisu sembarangan.

"AAAAAHH! NOMOR TELEPON MICHELLE!" Serunya kalap.

Namun, sudah terlambat. Tintanya luntur, tisunya robek, lecek, bau pula. Dean harus terima kenyataan bahwa nomor itu sudah tak terselamatkan. Oke, sudah diresmikan bahwa hari ini adalah hari sialnya. Winchester sulung itu dongkol lagi, mukanya ditekuk, plus kering sekering-keringnya. Ini mengesalkan sekali. Dia sudah mengalami banyak hal menyebalkan untuk satu hari, keadaan tentu tak akan bertambah parah, kan?

Nyatanya ironi memutuskan untuk menjahilinya.

Tiba-tiba, seorang ibu-ibu berumur melongok dari dalam jendela bangku belakang Impala. Senyumnya tampak gembira. "Terima kasih, Nak. Kamu baik sekali."

Dean melongo. 'Lho, kok?'

"PWAHAHAHAHAHAHAHA!"

Dean menoleh ke arah sumber tawa itu. Dilihatnya Sam tengah terpingkal-pingkal, tubuhnya sampai miring hingga harus disangga sebuah mobil; mobil Impala 1967 berplat nomor CNK 80Q3 tepatnya. Winchester tertua berbalik menghadapi si ibu tadi dengan cengiran yang dipaksakan. "Euh... senang melayani."

Dia pun buru-buru menyambar bungkusan makan siangnya, kemudian melesat ke tempat Sam dan Impala miliknya sendiri. Andai mobilnya bisa bicara, mungkin dia sudah mengomel habis-habisan karena Dean salah mengenali Impala lain sebagai kepunyaannya. Selama beberapa lama, suara tawa Sam masih belum berhenti menggaungi lahan parkir itu.

"Oh Dean... andai tadi kamera kukeluarkan," Sam mengikik.

"Bukannya tadi kau sedang tidur?" Sungut Dean keki.

"Dan melewatkan pemandangan indah tadi? No thank you. Gyahahahahahahaha...!"

Kali ini, Sam tertawa sampai terjongkok-jongkok. Tampaknya dia belum akan berhenti cekakakan sampai tahun depan. Lantas, Dean segera menjejalkan makan siang dan adiknya masuk ke dalam mobil, sebelum bocah itu memutuskan untuk haha-hihi sambil koprol di aspal.

End


A/N: Bereeeesss! Duh, enaknya nulis fanfic, bisa ngejailin Dean abis-abisan. Ohohohoho~

Sebetulnya, saya pingin informasi karakternya tertulis Dean W & Impala '67, tapi ternyata FFnet ngga punya pilihan yang terakhir itu. Sebel deh, padahal Impala kan udah dianggap sebagai tokoh utama ke-3 setelah Sam dan Dean. Hiks...

Untuk Netta_001, kalo mau nonton episode SPN yang baru keluar, coba deh kunjungi www(dot)sidereel(dot)com. Terus cari aja Supernatural pakai search engine-nya. Tulis kata kunci dengan spesifik, misalnya: "Supernatural season 5 episode 7". Dari sana, bakal keluar link untuk nonton episode yang dimaksud. Berkat web itu, saya bisa nonton SPN sampai 5x10. Sekarang lagi siap-siap untuk 5x11 yang bakal tayang tanggal 21 Januari nanti. Sambil nunggu, akhirnya nulis fanfic deh (sekalian sarana menghibur diri karena depresi nonton 5x10 TT_TT).