Dilema Cinta Diantara Sahabat

By Sakura Dini

Disclaimer: Naruto-Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHinaSasuSakuNaru (tentang cinta segi empat)

Summary: 'Hyuuga…' Suara itu terdengar lebih jelas. Aku sangat yakin suara itu berasal dari dalam rumah.

Note: inilaah Fanfict pertamaku…. Berkisah tentang kehidupan Naruto dan teman-temannya semasa SMA di Konoha City. Happy Reading… semoga menghibur. ^_^

Chapter 3

~Sakura's POV~

"Lama banget sih. Anak Uchiha itu datang. Katanya jam empat sore. Sekarang udah lewat sepuluh menit tapi dia belum juga datang!" keluhku kesal. Aku rebahkan diriku di atas tempat tidur bermodel single berwarna merah marun.

"Sabar Saku-chan" ujar Hinata. Dia duduk di samping tempat tidurku. Kami berdua sekarang berada di dalam kamarku yang bernuansa merah strawberry.

Untung saja Hinata mau menemaniku. Kalau tidak. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku? Jika nanti aku dan Sasuke hanya berdua di kamarku. Bagaimana pun juga Sasuke adalah orang yang baru kukenal.

Berhubung rumahku sekarang tengah dalam perbaikan. Ruang tamu dan ruang santai tidak bisa digunakan. Akibatnya aku harus mewawancarai Sasuke di dalam kamarku sendiri nantinya. Inilah alasan utamaku menentang keras mewawancarai Sasuke di rumahku. Tapi si Uchiha belagu itu mengancam tidak akan mau diwawancarai kalau tidak di rumahku. Dengan terpaksa aku harus mengalah. Aku tidak mau kehilangan upah yang dijanjikan Shikamaru-senpai padaku.

Yah aku memang butuh uang untuk membantu perbaikan rumah. Aku tidak mau menjadi beban dalam keluargaku yang hanya beranggotakan 3 orang wanita yaitu aku, ino kakakku, dan nenek Tsunade. Kedua orangtuaku sudah meninggal sejak aku berusia lima tahun akibat kecelakaan. Dan semenjak saat itu, nenek Tsunade lah yang merawat kami berdua (aku dan ino).

Meskipun nenek Tsunade adalah dokter, tidak menutup kemungkinan beliau akan pensiun dari rumah sakit. Kami tidak boleh terus bergantung beliau. Sementara ino mulai bekerja sambilan sebagai pelayan di kedai Ichiraku. Sebenarnya aku juga ingin kerja sambilan seperti ino. Tapi berhubung umurku masih 16thn lamaranku ditolak. Satu-satunya kesempatanku mendapatkan uang hanyalah saat ini.

Akh! Menunggu memang menyebalkan! Aku mulai bosan. Ku lirik Hinata yang sedang membolak-balik album fotoku. Tiba-tiba rasa penasaran tentang cerita Hinata muncul kembali. Mumpung dia ada disini, kenapa tidak aku tanyakan saja.

Segera aku bangkit dari tidurku dan duduk di samping hinata.

"Hinata. Lanjutkan ceritamu yang tadi siang"

Hinata menoleh ke arah ku. Menatapku dengan raut wajah kebingungan.

"itu loh Hinata. Yang kau ceritakan padaku di kantin sekolah. Tentang kau mengikuti sesuatu… apa gitu? Masa kau lupa?" tanyaku

"Ooo. Cerita yang waktu aku menghilang di perkemahan?"

"Iya!"

"kau mau aku ceritakan sekarang?"

"tentu saja! Aku sangat penasaran"

"baiklah…" hinata mengangguk. Aku pun siap memasang telingaku dengan baik*?*.

~End Sakura's POV~

*#~o0o~#*

"Aku menyesal memberitahukanmu kemana aku mau pergi" ujar pemuda berkacamata dengan rambut mirip pantat ayam. Ia menggunakan kaos biru tua lengan pendek dengan lambang uchiha di bagian dada kirinya. Kedua tanganya dimasukkan ke dalam saku celana panjang yang berwarna putih. Langkah kakinya terus berjalan.

"Ayolah Teme! Jangan bicara seperti itu. Aku kan hanya ingin mengantarmu ke rumahnya Saku-chan" ujar pemuda berambut pirang yang juga berjalan di samping Sasuke. Ia menggunakan kaos lengan panjang berwarna orange hitam dan celana panjang orange. Sedangkan kedua tangannya ia lipat di belakang kepalanya sebagai bantal berjalan.

"berapa kali kukatakan padamu. Aku bisa sendiri dan aku tidak akan tersesat. Jadi kau tidak perlu mengantarku"

"Tenanglah. Aku tidak keberatan. Lagi pula aku sangat senang bisa bermain ke rumah Saku-chan" Naruto terkekeh.

Sasuke memutar bola matanya. 'kau hanya akan menggangguku saja' batinnya.

Tak lama kemudian. Naruto & Sasuke berhenti di depan sebuah rumah sederhana berlantai dua. Berukuran sekitar 6x8 meter. Dihalangi pagar kayu setinggi pundak orang dewasa.

Rumah itu agak bising dikarenakan bunyi para pembangun rumah yang bekerja di lantai bawah. Sesekali terlihat orang yang keluar masuk rumah sambil membopong batu bata.

Sasuke mengerutkan dahinya tak percaya. Awalnya Sasuke menyangka ia salah rumah dan berniat untuk meninggalkan rumah tersebut. Tapi Naruto berusaha meyakinkan kepada Sasuke bahwa itu benar rumahnya Sakura. Perbaikan rumah hanya di ruang tamu saja. Ruang tamu rusak akibat amukan neneknya Sakura (gara-gara mengejar kucing yang mencuri ikan*?*). dan ini sering terjadi. Dengan paksa Naruto menarik tangan Sasuke memasuki rumah. Menerobos para pekerja rumah.

Setelah memasuki ruang tengah. Mereka bertemu dengan ino yang hendak pergi ke dapur.

"Naruto! Kenapa kau datang kesini?" Tanya ino keheranan.

"aku hanya mengantarkan temanku ini bertemu Saku-chan" Naruto menunjuk Sasuke yang berada di sampingnya.

Ino menyipitkan matanya melihat Sasuke. "aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kau anak pindahan itu ya? Yang ingin diwawancarai Saku bukan?"

Sasuke mengangguk. "hn. Namaku Sasuke"

"aku Ino. Kakaknya Sakura. kalian langsung naik ke atas saja. Mereka sudah menunggu kalian di kamar Saku"

"mereka?" Tanya Naruto.

Ino mengangguk. "Iya. Sakura dan Hinata"

Tanpa ba-bi-bu lagi. Naruto segera menaiki tangga menuju lantai dua. Diikuti oleh Sasuke. Mereka pun berhasil menemukan sebuah kamar dengan papan bertuliskan 'Saku'. Tapi sebelum Naruto menyentuh ganggang pintu kamar. Sasuke langsung mencegatnya dengan memengang pergelangan tangan naruto.

"Sst…" Sasuke menaruh jari telunjuk tangan kirinya di depan bibirnya sendiri. Sebelum Naruto bertanya tentang tingkah Sasuke yang aneh. Ia mendengar namanya disebut oleh salah satu orang dalam kamar Sakura.

"Aku tidak ingin membuat Naruto-kun Khawatir" terdengar suara gadis yang lembut*?* dari dalam kamar.

'?! Ini kan suaranya Hinata-chan' pikir Naruto.

"jadi kau terpaksa berbohong padanya. Padahal kau sangat yakin mendengar suara itu?" terdengar lagi suara gadis lainnya.

'dan yang ini suaranya Saku-chan' pikir Naruto lagi.

Perlahan Sasuke melepaskan genggamannya dari tangan Naruto. Lalu Sasuke menempelkan salah satu daun telinganya di pintu kamar Sakura. Begitu pula dengan Naruto.

Sementara itu kedua gadis di dalam kamar Sakura tidak menyadari pembicaraan mereka dikuping oleh dua pemuda jahil di depan kamar.

"Suara wanita itu terus saja memanggil namaku. Hyuuga… Hyuuga… seperti suara melemas yang meminta tolong. Dan anehnya hanya aku yang mendengar suara itu…" Hinata menundukkan kepalanya.

"Terus?" Sakura mulai tertarik dengan cerita Hinata.

Hinata menghela nafas panjang. Kemudian melanjutkan ceritanya.

~~Flashback & Hinata's POV~~

'Hyuuga…'

'Hyuuga…'

Suara itu tidak berhenti memanggilku. Hingga tengah malam tiba. Semua siswa terlelap. Hanya aku yang tidak bisa tidur. Karena dihantui rasa penasaran, aku memutuskan untuk mencari tau suara itu berasal darimana.

Dengan mengendap-ngendap. Aku pergi meninggalkan perkemahan dan menuju Hutan Oto. Tempat suara itu berasal.

Sulit dipercaya. Aku memasuki tempat yang selalu dijauhi warga Konoha. Di tengah malam, sendirian, di tempat berbahaya, Hutan Oto yang terlarang. Namun semua ketakutanku sirna hanya karena rasa penasaran menguasai hatiku. Aku ingin segera mengetahui siapa yang memanggil namaku.

Aku terus berjalan mengikuti sumber suara. Melewati pepohonan. Gelap. Hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui sela-sela daun-daun pepohonan. Sampai akhirnya aku tidak menemukan pohon lagi. Aku terbelalak tak percaya dengan apa yang aku lihat.

Sebuah rumah besar nan megah. Bahkan lebih besar dari rumahku sendiri. Bedanya, rumah ini bermodel jaman kuno seperti kastil. Terlebih lagi seperti tidak terurus. Benar-benar rumah tua yang besar.

'Hyuuga…'

Suara itu terdengar lebih jelas. Aku sangat yakin suara itu berasal dari dalam rumah itu.

Tapi mustahil jika ada orang yang tinggal di rumah itu. Di tengah Hutan Oto. Apalagi rumah ini sangat gelap. Sama sekali tidak ada lampu yang menyala.

Aku memberanikan diri untuk lebih dekat lagi dengan rumah itu. Ku lihat dua pintu depan rumah yang sangat besar. Ada gembok yang terkunci diantara kedua pintu tersebut.

Beruntung Hanabi pernah mengajariku ketrampilan cara membuka kunci gembok menggunakan jepitan rambut. Bermodalkan pengetahuan itu aku berhasil membuka kunci tersebut.

~~End Flashback & End Hinata's POV~~

"aku membuka pintu itu seutuhnya dan… a-ku me-lihat…so~" belum sempat Hinata melanjutkan ceritanya. Suara Ino dari luar kamar sudah memotongnya.

"SAKU! Ada dua orang pengintip di depan kamarmu!" teriak Ino lalu berlari memasuki kamarnya sendiri.

~Sasuke's POV~

Huh! Dasar bikin kaget saja! Untung aku masih bisa mengontrol emosiku. Tetap berdiri dengan gaya khas-ku. Berbeda sekali dengan Naruto yang sudah salah tingkah.

'Cklek' pintu kamar Sakura mulai terbuka. Naruto langsung bersembunyi di balik punggungku.

Muncullah sosok gadis dari dalam kamar. Ia menggenakan tanktop berwarna merah dan celana panjang abu-abu. Memperlihatkan kulit putih nan mulus dari pundak hingga tangan.

Penampilannya lebih berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi topi merah yang menutupi kepalanya. rambut merah muda panjang sepinggul dibiarkan terurai. Meskipun terlihat tidak terurus tetap saja terlihat indah.

Aku baru percaya dengan ucapan Naruto. Sakura lebih cantik tanpa topinya.

~End Sasuke's POV~

"Sudah telat. Ngintip pula! rupanya kau memang tidak tau malu!" oceh Sakura berkacak pinggang.

Namun yang diajak bicara tidak bergeming. Sasuke tetap diam dengan lamunanya.

"Hey! Aku bicara denganmu! Berhenti mengacuhkanku!" seru Sakura.

"…"

Naruto yang awalnya gemetar di belakang Sasuke mulai tampak kebingungan.

"teme. teme. teme" Naruto menepuk-nepuk bahu Sasuke. Mencoba menyadarkan pemuda berkacamata dari lamunannya. Tapi tidak berhasil.

Dengan terpaksa. Naruto menghela nafas panjang dan…..

"TEME!!!"

"Aku tidak budek dobe! Jangan berteriak di belakang telingaku!" Sasuke mengorek telinga kanannya sendiri.

Naruto dan Sakura sweatdropped.

"Uchiha. Kenapa kau mengajak Naruto?" Tanya Sakura

"aku tidak mengajaknya. Dia yang memaksaku untuk ikut" jawab Sasuke

"Tak apa-apa kan Saku-chan. Lagipula Hinata-chan juga ada di dalam bukan?" bela Naruto

"Baiklah… Ayo masuk!" ajak Sakura.

Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar Sakura.

Hinata terlihat duduk di sisi ranjang Sakura. Ia tersenyum menyapa Naruto dan Sasuke.

Naruto langsung duduk di sisi ranjang di samping kanan Hinata. Sedangkan Sasuke memilih tetap berdiri, bersandar di dinding.

Sakura segera mengambil pena dan sebuah buku. "Aku akan mulai mewawancaraimu"

Lagi-lagi Sasuke diam. Bahkan dia tidak menoleh ke arah Sakura. Mata onyx di balik kacamata memandang Hinata.

"Tujuanmu kesini untuk diwawancarai. Bukannya untuk memandang Hinata" Sakura menggembungkan pipinya.

"Aku lebih tertarik dengan cerita Hinata" kata Sasuke membuat semua serentak melihat ke arah Sasuke.

"A-pa… maksud-mu… Sasuke?" Tanya Hinata

"Maaf . Tadi kami sudah mendengar semua pembicaraan kalian" ujar Naruto

Hening….

Semua diam dengan pikirannya masing-masing…

"…"

"…"

"…"

"Aarrghh…! Baiklah! Aku menyerah" Sakura mengangkat kedua tangannya. Ia segera duduk di samping kiri Hinata. "Lanjutkan saja ceritamu Hinata"

"Ta-pi… Saku-chan. Bagaimana dengan wawancaramu?" Tanya Hinata

"Kau dengar sendiri kan tadi. Si Uchiha itu lebih tertarik dengan ceritamu"

"Sudahlah Hinata-chan. Ceritakan saja" desak Naruto.

Hinata mengangguk.

~~Flashback & Hinata's POV~~

Aku membuka kedua pintu rumah itu seutuhnya. Cahaya bulan pun masuk menerangi sebagian ruang dalam rumah itu. Sehingga aku dapat melihat sosok tragis yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Seorang wanita menggunakan gaun panjang berwarna putih yang sudah kusam. Ia duduk bersimpuh. Lemas. Kedua tangannya diikat pada tiang penyangga yang berada di sisi kanan dan di sisi kiri tubuhnya. Rambut hitam panjang tak terurus menutupi wajahnya karena ia menunduk.

Tega sekali orang yang melakukan hal ini padanya. Apa dia masih hidup? Sebaiknya aku tolong dia.

Aku langkahkan kaki ku masuk ke dalam rumah itu. Tiba-tiba ia menengadah. Matanya yang coklat menatap ke arahku. Tapi aku tidak begitu jelas melihat wajahnya. Dan bibirnya mengucapkan….

'Hyuuga…'

Di detik berikutnya. Dia Menghilang.

Jantungku berdegub kencang. Nafasku tidak beraturan. Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Dia tadi ada. Dan sekarang menghilang. Menghilang… entah kemana?

Tubuhku gemetar. Rasa takutku begitu besar. Aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi…

"KYAAAAAAA!!!!" teriakku dan aku tidak sadarkan diri.

~~End Flashback & End Hinata's POV~~

"Setelah sadar. Aku sudah berada di kamarku…" Hinata menundukkan kepalanya. Kedua tangannya ia genggam. Menyembunyikan getaran tubuhnya.

"Boleh aku Tanya sesuatu?" usul Sakura.

Hinata mengangguk.

"Bagaimana caramu menyebrangi sungai untuk memasuki Hutan Oto?"

"Aku melewati jembatan gantung"

Sakura menatap Hinata dengan keheranan. "Hinata. Apa kau lupa? Sama sekali tidak ada jembatan yang menghubungkan Konoha dengan Hutan terlarang"

Hinata terbelalak tak percaya. "Tidak mungkin. Aku sangat yakin berjalan di atas jembatan gantung"

"Satu hal lagi. Kami menemukanmu di tepi sungai di pinggiran Hutan Oto. Bukan di dalam rumah di tengah hutan. Bagamana caramu berpindah tempat saat kau pingsan?" Tanya Sakura lagi.

"…"

Sakura memegang kedua pundak Hinata. "Aku tau kau sangat penasaran dengan Hutan Oto. Tapi kau tidak perlu mengarang cerita. Kat~"

Belum sempat Sakura melanjutkan kata-katanya. Hinata melepas kedua tangan Sakura dari pundaknya. "Kau menuduhku berbohong?"

"…" Sakura hanya diam

Hinata menoleh ke arah Naruto. Berharap Naruto membelanya.

Naruto merasa bingung. Ia melihat Hinata dan Sakura secara bergantian.

"em… mung-kin ka-u sedang bermim-pi Hinata-chan" ujar Naruto dengan gagap.

Bagaikan di sambar gledek. Bukannya membela Hinata. Naruto malah menyudutkannya.

"Kalian Semua Tidak Percaya Padaku?!" Hinata sedikit menyentak. Hatinya terasa sesak. Mata Lavender mulai berkaca-kaca.

"Aku percaya padamu" ujar pemuda berkacamata yang masih berdiri dengan gaya stay cool.

"Kau tak perlu menghiburku Sasuke"

"Aku tidak berniat menghiburmu" Sasuke menggeleng. "Dari caramu bercerita saja. Aku bisa tau kau tidak berbohong. Karena itu aku percaya padamu"

Meskipun nada bicara Sasuke datar. Kata-katanya mampu membuat hati Hinata merasa lega. Setidaknya ada seseorang yang percaya padanya.

Hinata menghapus air matanya yang hampir mengalir. Dengan tersenyum ia mengucapkan "Arigato Sasuke"

*#~o0o~#*

~Sasuke's POV~

You are my friend

aa… ano hine yume

ima demo mada

wasurete nain desho

Hp-ku berdering dengan keras. Membangunkan aku dari alam mimpiku.

Oh Sial! Siapa yang sudah berani menelefonku tengah malam begini. Kalau bukan ada urusan penting, aku akan membunuh orang tersebut.

Dengan kegelapan yang menyelemuti kamarku. Aku meraba-raba meja laci di samping ranjangku. Mencoba mencari sumber getaran dan bunyi.

Setelah berhasil mendapatkannya. Aku segera melihat layar hpku.

'+818562318xxxx calling'

Nomor yang tidak ku kenal? Siapa?

Kutekan tombol hijau lalu mendekatkan hp di daun telingaku

"Halo" kataku dengan malas

"Ha-lo… Sasuke?" terdengar suara gadis dari seberang sana.

Aku menguap. "hn. Siapa kamu?" aku harap bukan gadis penggemarku. (PeDe amat lo! :-D)

"i-ni… aku….. Hinata…"

~End Sasuke's POV~

~~TBC~~

Next Chapter: Naruto menyesali sikapnya kepada Hinata karena tidak mempercayainya. Kenapa? Dan Sakura mulai menyadari ada sifat kebaikan dalam diri Sasuke??

Maafkan saia karena tidak becus membuat fanfic. (menangis dalam kuburan*?*)

Apakah fanfic nista seperti ini perlu saia lanjutkan? Atau dihentikan cukup sampai di sini saja??

Please jawab di review beserta alasannya….. (Author ditimpuk sandal karena banyak meminta)

Terima Kasih~~

^_^