Title: Little Fire on the Candle

Sub-judul: Emptiness

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Pairing: Sasuke/Sakura, Sasuke/Hinata

WARNING: AU, OOC-ness

Note: Dalam fic ini Hinata dan Sasuke adalah sepasang kekasih. Mungkin sedikit tidak lazim, tapi saya rasa Hinata-lah yang paling tepat buat imej pacar Sasuke dalam fic ini, mohon terima aja demi kelangsungan cerita yah :)

Summary:

Kesibukan Hinata membuat Sasuke meluangkan waktu senggangnya berselancar di dunia maya. Pertemuannya dengan teman-teman baru membuka matanya sedikit demi sedikit tentang arti persahabatan dan ketulusan. Tanpa disadarinya, hatinya mulai bercabang dua antara Hinata dan seorang gadis dunia maya, Sakura. Pertanyaannya, siapa yang akan terluka pada akhirnya?


Little Fire on the Candle

(Act 1. Emptiness)


.

Sasuke berusaha menutup matanya untuk yang kesekian kalinya malam itu. Lagi-lagi gagal. Rasa kantuk itu tak kunjung datang. Diraihnya telepon selular berwarna perak di samping tempat tidurnya, kini ia sibuk mengetik dengan sedikit raut penuh harap terpancar di wajahnya.

Hinata, sudah tidur?

Atau sedang belajar?

Aku tidak bisa tidur.

Sasuke menekan tombol 'Send'. Menangkupkan ponsel itu di dadanya, ia menatap langit-langit kamarnya dalam hening. Tak berapa lama, ponselnya bergetar. Segera ia buka dengan cepat pesan yang baru masuk itu.

Aku baru saja selesai belajar, mau tidur sekarang karena besok harus bangun cepat, ada diskusi kelompok pagi-pagi.

Coba baca buku cerita atau novel saja? Nanti mengantuk dengan sendirinya..

Sasuke menghela napas. Dengan malas ia membalas:

Baiklah, makasih sarannya.

Selamat malam, istirahat yang banyak ya.

Dan beberapa detik kemudian balasan dari Hinata datang,

Un. Kamu juga, beristirahatlah.

Selamat malam.

Hinata sayang Sasuke =)

Sasuke menutup ponselnya. Ia kembali menghela napas dan menutup matanya.

Ini sudah genap satu bulan lamanya Hinata menjauh darinya. Bukan karena mereka sedang bermasalah atau apa, tapi Hinata kini sedang serius mengejar prestasi demi menjadi pemenang dalam olimpiade Fisika yang akan segera tiba.

Hinata dan teman-temannya tengah sibuk melakukan percobaan ilmiah. Sebagai akibatnya, Hinata meminta sedikit waktu untuk berkonsentrasi pada kegiatannya itu. Dan 'sedikit waktu itu' rupanya termasuk 'tidak ada malam mingguan', 'mengurangi jatah komunikasi', dan 'hampir tidak pernah ketemuan' dalam satu bulan belakangan ini.

"Dua bulan," Sasuke menghela napas, "tinggal dua bulan lagi dan dia akan kembali seperti biasa lengket padaku. Aku harus bersabar," gumamnya.

.

Jarum detik waktu terus berputar, namun rasa kantuk belum juga datang. Sasuke mengamati kamarnya yang tampak lengang. Kamar segi empat itu bercat putih, dengan pintu kayu berwarna cokelat tua. Tidak ada poster ataupun gambar apapun tertempel di dinding kamarnya. Ruangan yang cukup luas itu sunyi senyap. Hanya suara hembusan napasnya yang mengisyaratkan tempat itu memiliki kehidupan di dalamnya.

Sasuke bangkit dan duduk dengan sebelah kaki terayun di bangku tempat tidurnya, dan sebelahnya lagi bersila di atas tempat tidur empuknya. Dipijitnya bagian belakang lehernya dan diregangkannya otot-otot lengannya. Detik berikutnya perhatiannya teralih pada laptop di atas meja belajarnya.

Sasuke beranjak berdiri dan menghampiri meja belajarnya itu. Diam sebentar, ia tampak berpikir. Sedikit ragu dibukanya laptop hitam pemberian Ayahnya di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas—tahun lalu—itu. Setelah menekan tombol 'Power' iapun duduk di kursi meja belajarnya. Menatap layar laptop itu dengan sedikit bimbang.

Chatting di malam hari bukan ide yang bagus. Kebanyakan orang-orang tidak jelas dan tidak benar yang online jam segitu. Tapi apa boleh buat, Sasuke tak punya kegiatan lain, dan ia tentu tak ingin semalaman berguling saja di tempat tidurnya.

Setelah tersambung dengan internet, Sasuke segera menuju alamat situs chatting yang kini tengah populer di kalangan muda-mudi Tokyo.

'Welcome to Konoha Chatroom. This is your first time here, please select a name ID.'

Sasuke berpikir sejenak, lalu mulai mengetik.

Speak_of_The_Devil

'Please select your gender'

Sasuke menceklis pilihan 'Male' di layar laptopnya.

'Please enter your birthday info'

Sasuke memasukkan angka-angka yang dihapalnya di luar kepala.

'Please upload your photo'

Sasuke mengerutkan keningnya. Tidak ada alasan baginya untuk menampilkan wajahnya pada orang-orang tak dikenal. Dikliknya tombol 'Skip'.

Kini layar laptopnya menampilkan deretan room yang disediakan situs tersebut. Sasuke secara random memilih satu room yang pengunjungnya saat itu hanya ada satu orang saja.

'You are now in "Astrology lovers" room.'

Sasuke menatap room yang kini terbuka. Kolom besar yang menampilkan isi chat di sebelah kanan, kolom kiri yang berukuran lebih ramping menunjukkan pengunjung room itu, dan bagian bawahnya kolom untuk mengetik beserta bermacam-macam menu tambahan.

Melody_in_the_sky: 'Halo Speak_of_The_Devil =)'

Speak_of_The_Devil: 'Hai'

Melody_in_the_sky: 'Pertama kali kesini?'

Speak_of_The_Devil: 'Begitulah'

Melody_in_the_sky: 'Pantas saja. Namamu asing.'

Speak_of_The_Devil: 'Kau sering kesini?'

Melody_in_the_sky: 'Yup. Aku penggemar astrologi, di sini tempatku berkumpul dengan teman-temanku sesama pecinta astrologi =)'

Speak_of_The_Devil: 'Kukira chatroom cuma tempat orang iseng dan konyol'

Sasuke mengumpat dalam hati. Inilah susahnya punya daya gerak refleks cepat yang bahkan ia tak sempat berpikir sebelum mengetik. Baru saja datang dan ia malah berkata seperti itu, ia pasti diusir dari room itu. Sasuke melenguh.

Melody_in_the_sky: '(tertawa) Memangnya kau kesini buat apa?'

Sasuke tampak berpikir, ia tak bisa menebak apa lawan bicaranya ini sedang marah, menyindir, atau memang bertanya sungguhan padanya. Sasuke mengklik profil lawan bicaranya itu.

"Melody-in-the-sky, female, 17 tahun. Sama denganku…" gumamnya. Sebuah foto seorang gadis yang tengah tertawa riang di pinggir pantai terpampang di sana. Gadis itu memiliki rambut berwarna pink terang, dengan pita biru tua sebagai bandananya. Menimbulkan kesan kontras pada rambutnya yang terang.

Melody-in-the-sky: 'Halo Speak? Masih di sana?'

Sasuke cepat-cepat mengetik.

Speak_of_The_Devil: 'Ah iya. Aku tidak bisa tidur, iseng saja masuk room ini.'

Melody-in-the-sky: 'Begitu… kalau kau berminat pada astrologi, aku bisa menemani mengobrol sebentar. Sampai aku berhenti membalas, karena itu artinya aku ketiduran (tertawa)'

Sasuke tersenyum sedikit, 'Dia gadis yang baik,' sahutnya dalam hati.

Speak_of_The_Devil: Tentu, terima kasih. Dan jangan panggil aku Speak, Sasuke saja.'

Melody-in-the-sky: 'Sasuke? Namamu?'

Speak_of_The_Devil: 'Ya'

Melody-in-the-sky: 'Kalau begitu panggil aku Sakura. =)'

Sasuke hendak mengetik lagi, ketika tiba-tiba ponselnya bergetar. Segera dihampirinya ranjang tidurnya, dan diraihnya ponsel itu. Ada satu pesan masuk yang langsung dibukanya dengan bersemangat setelah melihat nama pengirimnya.

Masih terjaga?

Perubahan rencana, diskusi besok pagi diundur jadi siang hari. Aku tidak perlu tidur cepat. Telpon saja aku, kita mengobrol.

Aku kangen =)

Sasuke tersenyum lebar, segera ditekannya tombol 'Call' dan ia berbaring di tempat tidur hangatnya, menunggu Hinata mengangkat ponselnya.

Beberapa menit telah berlalu. Sasuke masih terlibat dalam percakapan dengan Hinata, tanpa menyadari laptopnya masih menyala dan ia sama sekali belum log out dari Konoha Chatroom. Rentetan pesan dari Sakura tampak berderet di layar laptopnya, bingung karena Sasuke tak juga menjawab.

Saat itu, baik Sasuke, Sakura maupun Hinata, sama sekali tak berpikir bahwa mulai malam itu banyak hal akan berubah dalam hidup mereka.

.

.

TBC



Akhirnya adegan pembuka dari seluruh rangkaian cerita ini dimulai. Semua plotnya sudah ada di kepala saya. Update akan cepat selama saya termotivasi :)

Ada saran? Kritik? Atau yang lainnya? Silahkan disampaikan.

Suka? Tidak suka? Saya tunggu pendapat kalian.