Lika-liku cinta

Chapter 1

Di satu minggu pagi yang cerah, seorang pemuda bermata biru dengan rambut kuningnya yang khas, tengah berlari penuh semangat, dengan bunga dan dua tiket ke taman hiburan di tangannya, dia hendak mengajak sang kekasih untuk pergi bersama dan menghabiskan hari berdua di taman hiburan.

"hi hi hi hi, dia pasti akan terkejut melihat kedatanganku, aku sengaja datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, ini akan menjadi sebuah kejutan yang hebat untuknya" ucap pemuda itu dengan penuh semangat.

Setibanya di rumah sang kekasih, si pemuda berjalan perlahan melewati pagar, dan dengan mengendap-endap ia mulai memasuki pekarangan rumah tersebut (tentu saja ia bukan bermaksud untuk mencuri !), tiba-tiba terdengar suara dari halaman belakang rumah tersebut, suara yang sudah tak asing lag bagi pemuda tadi, tanpa basa-basi, sang pemuda langsung menuju halaman belakang lewat pintu samping rumah tersebut dan disana ada sebuah pintu besi yang menjadi pemisah antara kedua halaman tersebut, begitu sang pemuda membuka pintu,

"Cekrek" (sfx pintu terbuka)

. . . . . .

" . . . Bruk . . . " (secara tak sadar) sang pemuda melepaskan bunga yang tadi ia genggam erat.

Pemandangan yang ia lihat di balik pintu itu, terlalu mengejutkan baginya, bahkan untuk bisa terus menggenggam bunga yang beratnya tak seberapa itu, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat, ia kembali menutup matanya dan kemudian membukanya perlahan, tapi apa yang ia lihat tetap tak berubah, sang kekasih pujaan hati, tengah bermesraan dengan pria lain (bukan pria lain, tapi pria yang ia kenal).

Melihat kejadian itu si pemuda hanya menghela nafas panjang, kemudian ia membalikan badannya perlahan dan pergi meninggalkan sang kekasih, pelahan-lahan ia mulai memercepat langkahnya, dan dari arah belakang, terdengar suara seorang gadis yang berkali-kali meneriakkan namanya, namun si pemuda terus menerus berlari sampai ia tak bisa lagi mendengar suara sang gadis.

Ya, nama pemuda malang itu adalah Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang tinggal di sebuah apartemen kecil yang sudah sejak lama ia tinggali, setelah lulus ia bekerja disebuah toko serba ada, namun semenjak kejadian itu, tak pernah sekalipun ia pergi ke tempat ia bekerja, bahkan sangat sulit baginya untuk keluar dari kamar, telepon berdering untuk yang kesekian kalinya namun tak pernah ia jawab, dan hal itu sudah terjadi selama beberapa hari terakhir.

Ia seolah larut dalam kesedihannya, ia seolah tak lagi berada didunia tempat ia tinggal, keadaannya benar-benar tak terurus dan sudah sangat menghkhawatirkan, sampai-sampai sahabatnya Inuzuka Kiba harus berulang kali menyemangatinya hanya agar naruto mau memasukan sesuap nasi kedalam mulutnya, dan begitu pula yang terjadi pada hari ini,

"naruto, naruto, apa kau sudah bangun, aku masuk yaaa !?" seru kiba.

Saat kiba masuk, nampak pemandangan kamar yang amat berantakan yang tidak disukai kiba, namun kini ia sudah mulai terbiasa karena kini hampir tiap hari kiba melihat pemandangan seperti itu di kamar naruto.

"wah wah, kamarmu berantakan sekali ya" tanya kiba.

"apa yang kau harapkan dari orang sepertiku" naruto menjawab malas.

"he he he, iya juga sih, oh ya bagaimana keadaanmu" sahut kiba kembali bertanya.

"yah, seperti yang kau lihat, tidak terlalu baik" naruto kembali menjawab dengan malasnya.

"sudahlah, apa kau masih memikirkan kejadian waktu itu, lebih baik lupakanlah dia, pasti didunia ini masih ada gadis yang bisa membahagiakanmu selain dia" ujar kiba yang berusaha menyemangati naruto.

Namun naruto hanya terdiam dengan pandangan kosong, seolah tak mendengar apa yang kiba bicarakan.

"kriiiiiiiinnggg, krriiiiiiiinnggg, krrriiiiiiiiinngggg,"

"ada telepon tuh, siapa tahu telepon penting" ujar kiba.

Naruto hanya diam tak bergerak, Sementara dering telepon terus berbunyi.

"hey, kalau kau tak mau mengangkatnya, biar aku saja . . ." lanjut kiba.

"krriiiinnggg, krii . . . ."

"moshi moshi" ucap kiba membuka percakapan

"a- anu, apa naruto ada !?" tanya si penelpon.

"oohhh, sakura ya, ada apa !?" ujar kiba yang mengenali asal suara tersebut.

"oh, kiba, apa naruto ada, bisa tolong panggilkan, aku ada sedikit urusan dengannya" tanya sakura.

"naruto ya, kalau begitu tunggu sebentar !"

Kiba lalu menutup mulut telepon dengan tangannya, lalu dengan berbisik, ia berkata kepada naruto,

"ini dari sakura, apa kau mau menerimannya !?"

Naruto malah melompat ketempat tidur dan menutup kepalanya dengan bantal tanpa menjawab pertanyaan kiba.

"anu, sakura, sepertinya saat ini naruto sedang pergi keluar dan aku tidak tahu kapan dia akan kembali"

"oh begitu ya, sayang sekali" kata sakura kecewa.

"apa kau ingin meninggalkan pesan" tanya kiba.

"ah, tidak usah, nanti saja aku akan menelpon kembali, kalau begitu sampai jumpa" lanjut sakura.

"ya, nanti akan kusampaikan kalau kau menelpon, sampai jumpa"

"oi oi, kenapa kau tidak terima saja telponnya, mungkin dia ingin menjelaskan sesuatu"

"tak ada lagi yang perlu dijelaskan, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dia sedang bermesraan dengan pria lain" ucap naruto kesal.

"iya, iya, aku tahu kok, kau sudah mengatakannya kepadaku berulang kali, tapi aku jadi penasaran, sebenarnya siapa sih pria itu, kau bilang kau mengenalinya dan kau juga bilang aku mengenalinya, tapi kau tak pernah memeritahuku apa-apa tentang pria itu, siapa sih sebenarnya dia" tanya kiba penasaran.

"sudahlah, aku tak ingin membicarakan tentang hal itu, aku tak ingin pertemanan kita hancur gara-gara wanita, lagipula, sakura lebih memilih dia daripada aku, dan tak ada yang bisa kau perbuat kalaupun kau mengetahui siapa pria itu" ucap naruto lesu.

"aku 'kan cuma penasaran siapa orangnya, lagipula aku juga tak tertarik untuk terlibat dalam masalah percintaan orang lain, tapi kalau melihat sakura yang seleranya tingi itu,sepertinya aku bisa menebak siapa pria itu, pasti Sasuke kan !?" jawab kiba yang hanya asal menebak.

Mendengar kata Sasuke, naruto langsung terhenyak, kemudian ia menunduk lesu dengan wajah menahan emosi, ia kembali teringat saat melihat kejadian itu, ia kembali shock seperti saat itu.

Kiba yang melihat ekspresi wajah naruto seperti itu, langsung sadar bahwa dia menyebut orang yang tepat.

"eh, tak mungkin, jadi benar ya yang kubilang barusan" tanya kiba.

Sementara itu naruto tak bisa berkata apa-apa mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, dia hanya terdiam dan mulai tak bisa mengendalikan emosinya, air mata mulai membuat matanya berbinar, wajah yang tadinya tanpa ekspresi itu kini berubah menjadi merah padam dan seolah siap untuk memporak-porandakan seluruh kamar beserta isinya seperti yang sebelumnya terjadi.

Kiba yang mengetahui apa yang bakal terjadi, langsung berusaha menenangkan naruto dengan kata-katanya

(word of wisdom), syukurlah naruto mau mendengar dan kembali tenang sehingga kamar itu berhasil diselamatkan dari kemungkinan kerusakan yang lebih parah lagi.

"sudahlah, jangan dipikirkan, kalau kau terus memikirkannya, kau akan jadi cepat tua, kalau sudah begitu, tak akan ada lagi gadis yang mau kencan denganmu, ya kan !?" ujar kiba berusaha menyegarkan suasana.

Namun naruto hanya terdiam mendengar perkataan temannya yang berusaha untuk mengiburnya itu.

"hmm . . ., bagaimana kalau kita pergi makan, kau juga belum makan 'kan !?, kita pergi ke tempat ramen ichiraku saja, kali ini biar aku yang traktir deh" ujar kiba.

"tidak usah, aku tidak lapar" sahut naruto.

"ayolah, cepat ganti bajumu, kita akan segera berangkat" ujar kiba sembari(sambil) berusaha untuk melepaskan pakaian yang dipakai naruto.

"hei, hei, kau ini apa-apaan sih, kubilang tidak usah 'kan, hei apa yang kau lakukan" jawab naruto.

"sudahlah, tak perlu malu-malu begitu, kita 'kan sudah kenal lama, sini, biar kubuka-kan bajumu" ujar kiba sedikit memaksa.

"hei, hei hentikan, biar kulakukan sendiri, hei, kau ini ya . . " sahut naruto.

"ha ha ha ha ha . . .' kiba hanya tertawa melihat temannya yang malu-malu itu.

Akhirnya mereka berdua pergi keluar untuk makan ramen icharaku, walaupunsaat itu naruto bilang sedang tidak nafsu makan, tapi dia menghabiskan ramen pesanannya lebih dulu daripada kiba, padahal porsi ramen yang dipesannya dua kali lipat lebih besar dari kiba.

"yosh, terima kasih paman" ucap mereka berdua sambil berlalu pergi meninggalkan kedai itu.

"ya, lain kali datang lagi yaa !!" ujar paman teuchi, sang pemilik kedai ramen ichiraku.

"fuuhh, kenyang-nya, lain kali kita kesana lagi ya, berikutnya kau yang traktir" seru kiba.

"ya, kapan-kapan akan kutraktir kau" lanjut naruto.

"kapan-kapan itu kapaaan . . !?" tanya kiba.

"kapan-kapan ya kapan-kapan" seru naruto sedikit meledek.

"awas kau ya, jangan-jangan kau tidak berniat untuk mentraktirku" tanya kiba.

"kalau ku bilang kapan-kapan berarti kapan-kapan, tunggu saja saatnya nanti" ujar naruto.

"kau ini ya naruto, tunggu kau jangan lari" ucap kiba sambil berlari mengejar naruto yang sudah terlebih dahulu berlari meninggalkannya.

"fuuuhhh, syukurlah, sepertinya semangatnya sudah kembali" ujar kiba dalam hati.

Tak terasa hari sudah sore, mereka berlari dan terus berlari, setelah lelah, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di taman kota.

"ahh, lelah sekali" ujar naruto sambil menjatuhkan dirinya di bangku taman.

"ya, sudah lama ya kita tidak seperti ini, jadi teringat waktu dulu" ujar kiba sambil sedikit bernostalgia.

"baiklah kau tunggu disini, aku akan membelikan minuman" ujar kiba sambil berlalu.

"ah, terima kasih ya" lanjut naruto.

Sementara naruto menunggu kiba, ia kembali termenung memikirkan nasibnya sendiri, nasibnya yang tak pernah mujur dalam urusan percintaan, dan saat itu pemandangan yang ia lihat hanyalah sepasang pemuda-pemudi yang berlalu-lalang dihadapannya, sambil bergandeng tangan mesra, dan hal itu membuatnnya cemburu, membuatnya kembali teringat masa-masa indahnya bersama sakura sang kekasih, bersama sakura yang kini telah mengkhianatinya dan meninggalkannya seorang diri, tanpa sadar ia berlari dan terus berlari, seolah ingin menghindari perasaan yang tengah hinggap dikepalanya itu, kini ia telah meninggalkan taman itu, juga meninggalkan sahabatnya, dan sekarang ia berada di tengah hiruk-pikuknya kota saat senja.

Ia kembali duduk dihalaman sebuah perkantoran, kembali mengingat apa yang sudah dilaluinya, kembali mengingat masa-masa indahnya dan kembali mengingat hal buruk yang sudah menimpanya, dan kali ini ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya, air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya, ia merasa amat hampa,dan ia merasa seolah hanya sendirian, walaupun saat itu, lalu lintas tengah dipenuhi oleh para pekerja yang lalu-lalang hendak pulang kerumah masing-masing, pikirannya menerawang jauh tanpa tujuan, sampai ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang dan menyadarkannya . . . .

Bersambung . . . .

* * * * *

Haroo, sempai-sempai sekalian ^_^

gimana kabarnya, semoga sehat selalu ya !!

Terima Kasih sudah mau mampir dan bersedia membaca fiction yang membosankan ini.

kali ini masih tentang Naruto, di chapter pertama ini saya berusaha untuk menampilkan karakter Naruto yang tengah dilanda duka akibat cinta, saya berusaha menampilkan sosok naruto yang rapuh dan saya cukup puas dengan hasilnya.

Namun sosok sakura yang menjadi kekasih naruto, rasanya agak terlalu kurang diekspos, padahal dia karakter yang cukup berpengaruh dalam chapter ini, saya bingung dimana saya harus memunculkan sosok sakura dan dengan cara apa, akhirnya seperti yang sempai lihat, saya kurang bisa memaksimalkan sosok (_ _; Sedangkan saya sudah cukup puas dengan karakter Kiba, orang yang berperan menjadi sahabat baik sang tokoh utama, yang selalu mendukung sang sahabat disaat apapun jua.

Kira-kira, siapa ya yang menepuk punggung Naruto, apakah Kiba, atau Sakura atau . . . ( nantikan saja ya ^_^)

Jadi . . .

Mohon revyu-nya guna perbaikan dimasa mendatang.

Arigatougozaimasu ^_^

All characters created by Masashi Kishimoto.

Story line by Aojiru.

Aojiru