Oke, sekembalinya dari hiatus yang ternyata ga nyampe satu bulan, jari saia langsung ngelompat-lompat gaje di atas keyboard lappie yang hampir lumutan karena semesteran yang merupakan cobaan berat itu. lol

Dan akhirnya,

jrengjreng~ Ini adalah multichap pertamaku di fandom Naruto. Saia jadi berencana ikut berpartisipasi di fandom ini setelah kecintaan pada Naruto perlahan kembali. Dan pair yang saia coba pertama di multichap ini adalah SasuSaku~ yey! Awalnya, waktu kelas 8 dulu, saia paling seneng sama pair ini. Tapi karena 'teracun' jadi fujoshi, jadi ga suka. Dan ternyata, setelah membaca fic SasuSaku yang naudzubillah-ya-ampun-terlalu-keren, saia jadi suka kembali... x33

Mohon bantuannya, minna... m(_ _)m

Maaf kalau idenya pasaran, tapi bener deh, saia menulis (baca: mengetik) fic ini full murni ide saia.... ==a


****Kill The Love****

.

.

Disclaimer: Naruto is belong to The Great Kishimoto-sensei

.

Kill The Love © kazuka-rizu eglantine23

.

.

"Apa yang kau rasakan jika... Kau membunuh cinta pertamamu?"

.

Chapter 1


Tak! Tak! Plak!!

Suara pedang kayu yang berbenturan mewarnai pagi yang masih beraroma embun. Matahari baru saja bangun, tapi yang sedang berlatih di dalam dojo kecil itu telah menampakkan semangatnya.

Tak! Tak! Bruagh!

Suara yang terakhir adalah bunyi tubuh yang berbenturan dengan lantai kayu dojo itu.

Seorang gadis, yang tadinya berdiri sigap dengan sebatang pedang kayu di tangannya kini mengulurkan tangan pada seseorang yang jatuh barusan.

"Kau memang hebat, Sakura-san...."

Sakura, gadis itu, tersenyum tipis. Ada sedikit kebanggaan yang tersirat di wajah putihnya yang basah oleh keringat.

"Terima kasih, Kiba. Kemampuanmu juga meningkat hari ini."

Kiba berdiri, setelah menyambut uluran tangan Sakura.

"Tapi biar kemampuanku meningkat, kalau aku kalah begini berarti kau masih lebih hebat. Aku mengakuimu, Sakura-san."

Sakura cuma tersenyum kecil, lalu menyeka keringatnya yang mulai menjalar turun.

"Baiklah Sakura-san, hari ini aku sampai disini saja ya, aku diminta untuk membantu kakak di akademi pelatihan."

"Ya, tidak apa-apa. Terima kasih banyak untuk latihannya, ya," Sakura membungkukkan badannya.

"Sama-sama. Selamat pagi, selamat berlatih lagi, Sakura-san..." Kiba turut membungkukkan badannya, lalu berlalu keluar.

Sakura melambaikan tangannya pada Kiba hingga geseran pintu memisahkan keberadaan mereka.

"Bagaimana, Sasuke-kun?" Sakura membalik badan, mengerling pada laki-laki berambut hitam yang duduk di lantai, yang sejak tadi tak mengeluarkan suaranya.

"Hn," ucap pemuda itu tak berekspresi.

"Bagaimana? Apa menurut Sasuke-kun ada peningkatan?"

"Bukannya kau sudah diberitahu tadi?"

"Itu kan menurut Kiba. Lantas menurut Sasuke-kun yang lebih hebat daripada aku bagaimana?"

Sasuke berdiri, menghampiri Sakura. Dan tangannya meraih ujung obi dari hakama hijau yang dikenakan Sakura.

"Obimu sedikit terbuka. Betulkan sebelum lebih banyak orang yang akan melihat ini."

Wajah Sakura memerah. "E-eh, iya... Terima kasih, Sasuke-kun," katanya dengan cepat mengikat obi itu kembali.

Sreet! Dug!

Sosok Sasuke sudah tidak lagi berada dalam dojo itu. Sakura hanya memandang heran pintu yang barusan dirapatkan oleh Sasuke. Anak itu memang senang keluar dengan misterius dan tanpa banyak kata seperti tadi. Yah, bahkan Sakura yang memang temannya sejak kecil pun tak mengerti kenapa seorang Sasuke Uchiha barusan bisa sedingin dan mampu serapat itu menutup mulutnya.

"Fuuh... Dasar Sasuke-kun...."

Sakura lalu membereskan sedikit ruangan itu. Memang tidak terlalu berantakan karena mereka cuma berada disini satu jam, dan hanya tiga orang yang tentunya tak banyak menyebabkan kekacauan isi ruangan. Lagipula ruangan itu hanyalah dojo sederhana yang tak banyak memiliki barang pengisi.

Sakura lalu keluar, menutup pintu dojo itu perlahan.

"Ah, lumayan untuk olahraga pagi...." ucapnya. Dan ia pun berjalan menapaki tanah yang masih dingin, mengitari jarak beberapa meter untuk sampai ke rumahnya.

Gadis itu memang memilih keahlian pedang sebagai salah satu jalan hidup yang ingin ia lewati. Di era ini, keahlian pedang adalah standar untuk sebuah pekerjaan. Era yang penuh dengan perang memerlukan ketangguhan dalam hidup. Perang bisa pecah dimana dan kapan saja.

xxx

Sakura melemparkan diri ke tempat tidurnya. Membereskan rumah, membersihkan barang-barang yang kotor dan memasak memang merepotkan dan tentu saja melelahkan. Tinggal sendiri memang beginilah resikonya.

Ya, sendiri.

Ayah ibunya telah pergi meninggalkannya sebatang kara disini, meninggalkannya untuk sebuah hal yang tak mungkin lagi untuk Sakura mengharapkan mereka kembali. Tapi setidaknya ia masih bisa bertahan karena satu hal.

Sasuke.

Teman sejak kecilnya yang juga senasib. Bahkan mungkin Sasuke lebih tragis, ayah ibunya, kakak dan semua saudara se-klannya telah tiada karena sebuah perang sepuluh tahun yang lalu. Zaman seperti ini memang penuh dengan gejolak perang yang sebenarnya tidak bermakna banyak. Hanya memakan korban, bahkan tak jarang hanya menimbulkan penderitaan saja.

Mungkin itu pulalah yang mengakibatkan Sasuke berubah menjadi pemuda yang dingin, hemat bicara dan berperilaku semaunya sendiri.

"Astaga, sudah jam dua belas? Aku harus mengantarkan makanan tadi pada Sasuke-kun!" Sakura menepuk dahinya. Ia memang bertekad, hari ini ia akan memasak sesuaut yang istimewa dan membaginya pada Sasuke.

Sakura dengan cepat mengambil sepiring masakan yang masih mengepulkan asap beraroma dari dapurnya, dan bergegas keluar.

Cukup beberapa langkah, Sakura telah sampai di depan pintu rumah cokelat berlambangkan kipas itu. Rumah besar dimana hanya ada satu orang penghuni yang tak banyak bicara membuat rumah itu sedikit menimbulkan kesan misterius.

"Sasuke-kun...."

Tak ada jawaban, mungkin ukuran rumah ini menyebabkan semuanya jadi tak secepat yang diharapkan.

Crek.

Pintu itu sedikit terbuka, menampakkan wajah Sasuke yang seperti biasanya.

"Ada apa?"

"Ini, untuk Sasuke-kun," Sakura menyerahkan sepiring kare itu pada Sasuke.

Sasuke memandang piring itu, "Untuk apa kau memberiku?"

Ah, tanggapan yang kurang sopan. Tapi tidak untuk Sakura. Ia malah bersyukur jika ditanggapi seperti itu. Setidaknya Sasuke yang selalu ia harapkan masih seperti biasanya; normal.

"Makanlah. Jangan sampai Sasuke-kun hari ini tidak makan lagi seperti kemarin ya? Nanti kau sakit."

Sasuke menyambut pemberian itu, tapi tanpa berkata apapu lagi, ia segera menutup pintu tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpun pada Sakura.

Sakura hanya tersenyum. Hal ini biasa, ia memberikan apapun yang ia miliki pada Sasuke, membaginya.

Setidaknya apa yang mendasarinya melakukan itu bukan hanya karena ia merasa senasib dengan Sasuke, tapi karena memang, Sasuke adalah hidupnya.

Cintanya, senyumnya.

Cinta pertama yang mampu membangkitkan api hidupnya yang sempat meredup karena merasa kehilangan segalanya.

Sasuke memang dingin, tak mau menanggapi Sakura dalam bentuk perhatian yang Sakura harapkan. Perhatian kecil yang bisa membuat Sakura paham kalau dirinya tidak menepukkan semangat cinta itu sendirian. Ia perlu sahutan untuk lebih meyakinkannya.

Tapi sepertinya itu mustahil. Sasuke sepertinya belum pernah; atau bahkan tak akan pernah memikirkan cinta dalam hidupnya. Sasuke mungkin hidup hanya untuk mempertahankan keberadaan klan yang telah punah ini.

Sudahlah, pikir Sakura. Cinta memerlukan kesabaran bukan? Cinta itu tak bisa dirasakan dalam waktu kilat selayaknya kecepatan cahaya yang mengisi langit bukan? Cinta butuh proses. Sebisanya Sakura telah berusaha menunjukkan rasa cinta dan perhatiannya pada Sasuke.

"Sakura!"

Sakura menoleh cepat ke pintu rumah yang telah terbuka kembali. Baru saja ia akan melangkahkan kaki keluar halaman yang tak kalah luas itu. Tak biasanya Sasuke melakukan hal ini.

"Ya, kenapa Sasuke-kun?"

"Sore nanti, kau mau berlatih di dojo denganku?"

Sakura mengangkat alisnya, "Tidak biasanya...." gumamnya.

"Kalau kau tidak bisa tak apa," Sasuke bersiap menutup kembali pintunya.

"Eh, bukan begitu! Baik, baik! Jam tiga kutunggu kau di dojo," Sakura mengangguk cepat.

xxx

Seorang Uchiha yang satu ini tak pernah terlambat dalam soal waktu. Salah satu bagian positifnya, di mata Sakura. Ah, tapi rasanya di mata Sakura semua tentang Sasuke adalah hal positif; sesuatu yang menjelaskan secara eksplisit bahwa Sakura benar-benar jatuh cinta.

"Maaf kalau aku terlambat, Sasuke-kun."

"Hn."

Sasuke berdiri, meraih pedang kayu yang sedari tadi disandarkannya pada dinding.

Sakura menyeringai, dan bersiap dengan kuda-kudanya. "Aku siap, Sasuke-kun!"

Plak! Trakk! Tak! Tak! Brugh!

Lagi-lagi terdengar suara seseorang jatuh....

"Sasuke-kun!! Maafkan aku!!" Sakura mengulurkan tangannya denga cepat.

"Ugh," Sasuke mengaduh pelan. Pedang kayu Sakura telah memukul tangannya dengan hebat, dan menyebabkan kulit yang putih di tangannya itu basah oleh darah.

"Maafkan aku, Sasuke-kun!" Sakura meraih tasnya, dan mengeluarkan kain yang biasa ia pakai sebagai penyeka keringat. Mengelap bekas darah itu.

"Sudah. Ini bukan apa-apa," Sasuke menarik tangannya, dan mengisap darah itu dengan mulutnya.

Sakura terlihat bersalah, memandang Sasuke dengan tatapan permintaan maaf.

Wajah putih tu tak menunjukkan rasa sakit sedikitpun. Tak ada juga keringat yang melumuri dan mengilatkan cahaya disana. Yang ada hanya cahaya sederhana dari sepasang onyx yang terpampang rapi di salah satu sisinya.

Sakura tak bisa berkata-kata. Melihat wajah Sasuke yang sedekat ini semakin terpaku.

"Sudah, jangan pedulikan ini. Kita berlatih lagi," Sasuke bangkit, menjauhkan dirinya dari Sakura.

xxx

"Sampai disini saja," Sasuke menghentikan gerakan pedang kayu Sakura dengan satu tangan.

"Sudah lelah?"

Sasuke tak menjawab. Menurutnya jawaban untuk sesuatu yang kurang penting hanya merepotkan dan tak membawa manfaat.

Sasuke duduk di lantai. Sakura mengikutinya, dan duduk tepat disampingnya.

"Kenapa Sasuke-kun jadi mengajakku berlatih? Tidak seperti biasanya..."

Sasuke tak langsung menjawab, dan masih mengusapkan telapak tangan ke wajahnya yang basah.

Ah, manis sekali. Wajah yang putih bersih, dengan cahaya matahari yang menambah sinaran dan kilaunya, membiaskan sebuah keindahan yang memukau dan seakan menghentikan waktu gadis berambut merah muda itu.

"Aku ingin bergabung dengan Anbu."

Sakura yang sedang menenggak air, sedikit lagi akan tersedak.

"Anbu?!"

"Hn. Aku mengajakmu kesini, aku ingin mengukur kemampuanku dengan kemampuanmu yang telah meningkat," Sasuke berdiri. "Besok aku akan ke markas utama Anbu. Aku ingin mengabdi pada Anbu, untuk membuktikan eksistensi Uchiha."

"Tapi Sasuke-kun!!"

"Terima kasih latihannya. Kau cukup berkembang, Sakura."

Srekt!!

Sakura tak bisa lagi mencegah. Sepertinya Sasuke telah bulat akan tekadnya.

Bagaimana ini? Masuk ke Anbu sama saja dengan mengurangi lebih dari separuh waktu mereka bersama. Ups? Bersama? Tidak, kurang tepat, mereka bukan sepasang kekasih. Lebih tepatnya, mengurangi waktu Sakura untuk terus melihat dan memuji Sasuke dari balik bayangan lelaki itu.

Kabarnya, untuk anggota baru yang masuk, akan ada pelatihan khusus selama beberapa minggu, Sakura juga tidak tahu persis. Dan siap untuk dipanggil kapan saja, entah itu malam, baru terlelap, atau dini hari dimana mata bahkan sangat malas untuk membuka. Mengingat Anbu adalah pasukan tentara terkuat Konoha, desa mereka, yang harus selalu bersiaga di era peperangan yang bergejolak seperti ini.

Awalnya Sakura memang berniat masuk ke sana, tapi ia mundur. Ia adalah wanita, dan jika seorang wanita yang berani masuk Anbu berarti ia siap meresikokan hidup dan masa depannya hanya untuk mengabdi untuk negara. Karenanyalah, anggota Anbu kebanyakan adalah laki-laki.

Sakura tidak mau, karena dua hal. Salah satunya, yang barusan diutarakan, dan yang kedua, jujur, ia tak bisa meninggalkan Sasuke sendirian jika ia menjadi seorang Anbu.

Tunggu, sekarang bukannya Sasuke yang akan meninggalkannya? Semudah itukah? Apa Sakura tidak berharga untuknya sehingga dengan mudahnya ia mengatakan ingin menjadi Anbu?

"Sasuke-kun...." Sakura menggumam, mengalirkan sedikit butiran yang tadi membeku di sudut matanya, menjadi segaris air terjun mungil di pipinya.

Oke, ia tahu, ia terlalu cengeng untuk hal sepele ini. Tapi jika dilihat dari sudut pandang cinta pertama, ini sakit, bukan?

Sakura telah bersabar sekian lama untuk menahan rasa hatinya yang tak kunjung ditanggapi Sasuke. Sekarang, ia akan pergi?

xxx

Sakura telah terjaga semenjak sepertiga malam. Dari tadi hanya tiga kata yang mendominasi pikirannya, yang memenuhi otaknya hingga menurunkan hasratnya untuk kembali tidur melelapkan tubuhnya yang lelah; Sasuke-kun akan pergi; Sasuke-kun akan pergi; Sasuke-kun akan pergi....

Ia rasa ia tak bisa lagi tidur. Sudahlah, lebih bangun dan melakukan hal yang bermanfaat daripada melamun tak karuan.

Ia bangkit, membersihkan diri sebentar, dan menuju ke dapur. Membuka pintu lemari kayu kecil penyimpanan bahan makanannya.

Cuma ada beberapa bahan makanan dengan porsi masing-masing yang sedikit. Tapi... Ada beberapa buah tomat! Ah, ya, ide bagus!

xxx

"Sasuke-kun...."

Lama, Sakura harus bersabar lagi di depan pintu itu.

"Sasuke-kun...."

Masih, tak ada jawaban. Memang masih pagi, matahari baru terbit, tapi Sasuke bukanlah orang yang senang bangun terlambat. Bahkan jika diajak berlomba dengan matahari pun, pasti waktu Sasuke bangun lebih cepat daripada bangkitnya Raja Siang di horizon timur sana.

Sakura menengk ke arah kiri.

Jendela kelima dari depan tertutup rapat. Padahal, Sasuke selalu membuka jendela itu sesaat setelah ia bangun, karena itu adalah jendela kamarnya.

Aroma wangi masakan dari olahan tomat itu masih mengepul di depan wajah Sakura.

"Sasuke-kun...."

Ia berusaha memanggil lagi, siapa tahu Sasuke belum berangkat ke markas Anbu seperti perkataannya kemarin.

.

.

Tidak. Sepertinya pemuda itu benar-benar serius dengan tekadnya hingga pergi sepagi itu.

Sakura mundur. Sepertinya sosok Sasuke tak akan ia lihat untuk beberapa hari ini....

- To Be Continued -



Rencana awal saia adalah bikin one-shot. Tapi karena saia pikir kepanjangan, ya udahlah, dipotong aja. Tenang aja, ini gak bakal makan chapter banyak. Mungkin dibawah 5 chappie.

Mohon apresiasinya ya.... Tanggapan, pujian (halah! tabok aja author gaje ini!), bahkan flame pun saia terima.

Makasih banyak ya.... *sembah sujud*

.

.

.

Help me in review, ne?