Keputusan membaca ada ditangan anda -evil laugh-

WARNING !! (Warning penting untuk mengetahui apa saja yang tersaji dalam fict ini) :

Straight Pair (Pair normal, chapter awal belum ada pair utama), OOC (Perubahan sifat salah satu chara), Character PoV (Sudut pandang salah satu karakter), Songfic (Alunan lagu/lirik/salah satu karakter menyanyi) , Disini Pain wajahnya tidak bertindik (mulus) dan Naruto tidak mempunyai kumis kucing di pipinya, lalu Sakura berponi jadi dahinya yang lebar itu tidak terekspose plus rambutnya yang hanya sepunggung (tanpa bando).

Summary :

Sakura Haruno, murid KHS yang mempunyai kemampuan beladiri yang cukup tinggi. Kakaknya, Sasori Haruno adalah anggota kelompok yang paling ditakuti di seluruh sekolah yaitu Akatsuki. Sakura yang sama sekali tidak takut atau terkesan menantang kelompok tersebut dimasukkan ke dalam daftar Blacklist Akatsuki, itu berarti Sakura adalah musuh seluruh murid KHS. Apakah Sakura akan selamat dari Akatsuki ? Enjoy ! ;D

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Blacklist © Ryuku Zhan(k)

Walau Habis Terang © Peterpan

Blacklist, Chapter 1 : Welcome To My Life

- - -

Sakura's PoV

Perkenalkan ! Namaku Sakura Haruno, murid tingkat 2 di Konoha High School. Aku mempunyai kakak yang berada ditingkat tiga bernama Sasori. Dia bergabung dalam organisasi yang paling ditakuti di sekolah ini, yaitu Akatsuki atau Bulan Merah. Aku benci kelompok itu ! Ketuanya menyebalkan ! Selain itu mereka semua menjadi anggota OSIS sejak terbentuknya organisasi mereka, mungkin semenjak masuk ke sekolah ini. Mereka semua ada Sembilan orang termasuk kakakku. Cara mereka menghukum siswa yang tidak menuruti atau tidak takut dengan mereka dengan cara memasukkan nama mereka ke dalam Blacklist dan yang masuk akan menjadi musuh murid satu sekolah. Dan jangan harap nama kalian bisa terhapus dari daftar nista tersebut.

Aku melangkahkan kakiku dengan mantap masuk ke gerbang sekolah. Lapangan bagian kiri ataupun kanan sudah penuh dengan siswa-siswa yang sedang berolahraga walaupun pelajaran belum mulai.

Aku masuk kemudian berbelok ke kanan menuju lokerku yang ada di ujung koridor.

"Ohayoo Sakura-chan !" sapa Naruto ketika melihatku datang.

Yah... Aku hanya bisa pasrah saat lokerku bersebelahan dengan Namikaze terhormat ini.

"Ohayoo Naruto-sama." Balasku sedikit sinis.

"Akh... ! Aku tidak mau dipanggil seperti itu walaupun aku ini anak kepala sekolah !" tegasnya.

Aku menghela nafas kemudian membuka lokerku. Isinya sangat ramai ! Banyak tempelan sana-sini. Saat mengambil beberapa buku, Naruto melongo kearah lokerku.

"Masih menyukainya ?" tanyanya saat melihat foto yang terpampang cukup besar di dalam lokerku.

"Sedikit." jawabku lirih.

Naruto menepuk pundakku ringan dan tersenyum.

"Aku suka kesetiaanmu tapi jangan terlalu dibawa ke hati yang paling dalam. Aku yakin dia ingin melihatmu bahagia dengan pria lain. Percayalah !" hiburnya.

Aku memandangi foto itu kemudian menatap Naruto dan tersenyum padanya. Saking salah tingkahnya, wajahnya menjadi memerah.

"Hihihi. Kalau begitu aku mau mencari Hinata-chan dulu ya ! Ja !!" Pamitnya kemudian pergi dari hadapanku.

Aku mengambil satu buku paket dan satu buku tulis lalu kembali menutup lokerku dan menguncinya. Sesaat aku mendengar para siswa mulai gelisah dan semua yang berjalan tiba-tiba saja menepi kemudian menunduk.

"A-akat-suki." Eja seorang murid.

"A-awas !!"

"Mereka datang..."

Aku melongo untuk melihat orang-orang itu. Mereka berjaket hitam dengan corak awan merah. Semuanya angkuh serta menyebalkan, kecuali kakakku. Mereka berjalan dengan tenang seakan-akan sekolah ini milik mereka. Naruto saja yang anak kepala sekolah tidak sombong seperti mereka. Oh iya ! Satu-satunya yang mereka takuti hanya Naruto dikarenakan statusnya sebagai anak kepala sekolah.

Aku menghiraukan mereka semua. Dengan santainya aku berjalan menuju kelasku. Bisa dibilang arah berjalanku kearah mereka. Aku terus berjalan tanpa memperdulikan berpasang-pasang mata yang kaget, bengong ataupun yang pingsan. Aku menerobos mereka tanpa ampun, sampai kurasakan salah satu tangan menepuk pundakku kencang. Aku berhenti tanpa menengok.

"Kau tidak lihat kami sedang berjalan ?" tanya salah satu dari mereka.

Aku tersenyum sungging. Kemudian menoleh kearah orang menepuk pundakku.

"Kalian juga tidak lihat kalau aku sedang jalan ? Seakan-akan sekolah ini milik kalian." Jawabku ketus.

Aku bisa melihat kakakku diposisi paling depan tersenyum padaku seakan bilang "Adikku hebat !".

"KAU !!" geramnya.

Cowok berambut abu-abu bermata ungu itu mencengkram kerah bajuku dengan kasar. Aku menatapnya tanpa takut walaupun jantungku berdegup kencang.

"Mau menantang kami ?!" tanyanya.

"Tidak." Jawabku santai.

"Tenanglah Hidan." Cegah seseorang yang posisinya di paling depan.

"Leader-sama ?" tanyanya tanpa melepas cengkraman bajuku.

"Sudahlah. Ayo pergi." Ucapnya datar.

Rambutnya oranye dengan pola mata yang aneh. Ketua OSIS KHS, Pain Rikudo. Cowok yang bernama Hidan kemudian melepaskan cengkramannya dariku sambil menggerutu.

Aku senang bisa menantang kelompok paling ditakuti disekolah. Setelah ini namaku pasti akan masuk di daftar Blacklist. Penyesalan sih ada, tetapi untuk apa menyesali perbuatan yang sebenarnya tidak bersumber pada kita.

- - -

Normal PoV

- - -

Akatsuki berjalan dengan wajah angkuh seperti biasa. Sang ketua melirik wanita yang lebih tepatnya wakilnya dalam organisasi yang ia pimpin.

"Konan. Masukkan nama Sakura Haruno dalam daftar Blacklist. Dan Sasori, Sepertinya aku tidak perlu meminta izin untuk mencelakakan adikmu." Katanya ketus.

Sasori mendelik menatap sang ketua dengan tatapan benci.

"Lakukan sesukamu. Asalkan dia tidak mendapat gangguan sepulang sekolah." Balas Sasori.

"Kau bisa pegang ucapanku."

Sasori terdiam dan tetap berjalan mengikuti arah sang ketua berjalan dari belakang. Sementara orang yang ada disebelahnya menyikut lengan kanan Sasori.

"Tidak apa-apa Sasori ?" tanyanya.

"Tidak apa, Deidara. Sakura bisa melindungi dirinya sendiri."

- - -

'TING-TONG-TING'

- - -

Sakura's PoV

- - -

Aku mendudukkan diriku dengan tenang dikursi paling depan. Beberapa teman sekelasku yang melihat aku datang langsung menggerubungiku.

"Sakura kau menantang Akatsuki ya ?!" tanya mereka bersamaan.

"Kalau iya kenapa ?"

"Nekat !" ucap mereka serempak.

'SREEEEKK'

Pintu kelas terbuka dan memunculkan guru yang paling porno disekolah ini. Sebut saja Kakashi Hatake. Kalau kalian berada dikelasku pasti akan sweatdrop saat melihat guru itu masuk kekelas dengan majalah porno terpampang di wajahnya atau sedang dibaca.

"Ohayoo anak-anak !" sapanya sambil tetap fokus pada majalah haram tersebut.

Para murid yang menggerubungiku tadi segera kembali ke mejanya masing-masing.

"Kita belajar apa ya hari ini ?" tanyanya.

'Baka sensei !!' batinku sambil menatapnya jengkel.

Akhirnya dia menutup majalah haram itu dan mulai mengambil spidol papan tulis. Aku tidak bisa melihat apa yang ia tulis karena tubuhnya menutupi papan tulis. Ketika dia meletakkan spidol dan menggeser tubuhnya, terlihat dengan jelas dan mengejutkan disana.

Tertulis...

'KITA ULANGAN SAJA YA !!'

Ulangan ?

-

-

-

-

-

-

Nani ?

-

-

-

-

-

-

Mendadak ?

-

-

-

-

-

-

"AAAPPPPAAAAAA ??????!!!!"

- - -

Break Time...

- - -

"Kakashi-sensei adalah makhluk terporno yang menyebalkan yang pernah kutemui !" umpat Naruto ketika keluar dari kelas dalam keadaan kusut. Rambut pirangnya berantakkan dan bajunya acak-acakkan.

Aku menghela nafas berat. Kakashi-sensei memang guru yang sebenarnya (tidak) bisa dihormati dengan baik, tetapi kalau menyangkut belajar terutama ulangan dia sangat pelit memberikan nilai, kecuali jika disogok dengan majalah porno.

"Sakura kau mau ke kantin untuk menenangkan diri ?" Tanya Ino.

"Malas..." Jawabku tidak bersemangat.

"Aku mau ke atap saja." Ucapku lalu meninggalkan Ino.

Aku menaiki tangga terus-menerus menuju atap sekolah. Satu-satunya tempat dimana aku bisa menenangkan pikiranku dari beratnya pelajaran dan tempat dimana aku bertemu dengannya pertama kali... Orang yang kucintai...

Ketika aku meraih kenop pintu, aku mendengar alunan lagu dan petikkan gitar dari sana. Aku membuka pintu dan melihat seseorang yang duduk membelakangi pintu sambil memegang gitar. Perlahan aku keluar dan menutup pintu pelan agar orang itu tidak mendengar aku masuk.

"Ku terbiasa,

Tersenyum tenang walau, arrgghh...

Hatiku menangis"

'Menyanyi ?' batinku

"Kaulah cerita, tertulis dengan pasti selamanya,

Dalam fikiranku

Hmmm... Selamanya...

Peluk tubuhku untuk sejenak dan biarkan kita memudar dengan pasti

Biarkan semuanya seperti seharusnya,

Takkan pernah menjadi milikku"

Sesaat aku melihat siluet orang yang kusayangi berada tepat disamping cowok pirang panjang yang sedang bernyanyi itu. Orang yang kusayangi yang telah tiada... Sasuke Uchiha.

"Lupakan semua, tinggalkan ini

Ku kan tenang dan kau kan pergi...

Berjalanlah walau habis terang,

Ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu di...

Antara beribu lainnya,

Kau tetap

Kau tetap

Kau tetap

Benderang..."

Aku bertepuk tangan setelah ia selesai bernyanyi. Spontan dia kaget dan menoleh kearahku.

"Aku tidak tahu kalau anggota Akatsuki ada yang bisa bernyanyi." Sindirku.

Rupanya itu adalah Deidara anggota Akatsuki sekaligus teman kakakku. Aku mengenalnya karena kakak sering membawanya kerumah.

"Sa-Sakura ?"

Aku melangkah ketempatnya kemudian duduk disebelahnya. Dia menatapiku dengan heran.

"Ada apa ? Tidak senang ?" Tanyaku.

Sekilas wajahnya terlihat memerah. Aku terkikik melihat wajahnya itu.

"Sampai merah begitu." Sindirku lagi.

"Bi-biasa sa-ja." Balasnya terbata.

"Aku boleh minta tolong ?" Tanyaku.

Dia meletakkan gitarnya dan menatapku.

"Katakan..."

"Sampaikan pada Itachi-san aku mau ke makam Sasuke. Aku mau minta ditemani, tolong ya ?"

"Baik. Akan kusampaikan."

Aku berdiri membelakanginya.

"Terima kasih."

Kemudian kembali ke dalam menuju kelas.

- - -

- - -

Dari kejauhan aku melihat para murid memadati papan pengumuman milik OSIS tepatnya milik Akatsuki. Aku mendekati kerumunan itu. Beberapa murid yang melihatku segera menyingkir dan mulai berbicara yang tidak sopan. Aku membaca pengumuman yang terpasang disitu.

'Sakura Haruno. Daftar nomor satu Blacklist kami, harap jauhi dia kalau kalian ingin selamat dari kami

Pain'

Itulah isi pengumuman tersebut. Aku menggeram dan mengepalkan kedua tanganku. Dengan marah aku melaju ke kantor mereka yang berada di lantai 2. Aku kembali menaiki tangga. Saat sampai didepan ruangan mereka yang tertulis 'Welcome To The Hell' tanpa berfikir panjang aku mendobrak pintu tersebut dengan kakiku membuat pintu hitam bercorak awan merah itu terlepas dari engselnya. Pandanganku tertuju pada ketua mereka. Nasib baik untukku karena dia hanya sendiri di dalam ruangan ini.

Aku mendekatinya dan mencengkram kerah jaketnya.

"Apa maumu ?!" tanyaku kasar.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu..." Katanya.

Aku sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Kuhajar pipi kirinya hingga lebam.

"Aku memintamu menghapus namaku." Geramku.

"Itu tidak mungkin." Katanya datar.

Aku kembali memukulnya.

"Aku tidak main-main !"

"Aku juga, Sakura." Katanya.

Tangannya meraih pipiku.

"Kau cantik juga..."

'BUAAAKKHH !!'

Aku melepas cengkramanku darinya.

"Dengar ! Aku akan terima semua perlakuan Akatsuki padaku tapi tidak perlu kau menyuruh semua orang menjauhiku !" Tegasku.

Pain berdiri sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.

"Tidak perlu kuminta, mereka juga akan menjauh." Katanya.

"Bagaimana kalau teman-temanku tidak ?"

"Mereka juga akan bernasib sama."

"Aku tidak ingin mereka terlibat."

"Baiklah. Asalkan kau tidak pernah menghindar dari kami, terutama aku."

"Tentu."

Aku beranjak keluar dari ruangan yang sudah ku porak-porandakan.

- - -

'TING-TONG-TING'

- - -

Jam sekolah usai juga. Pelajaran terakhir memang berat. Apalagi kalau Kurenai-sensei mulai memberikan soal, pastinya akan membuat kami kewalahan. Aku keluar kelas menuju lokerku. Saat aku berjalan, beberapa murid mulai menepi seperti tadi. Sambil melihat sekeliling dengan curiga, perlahan aku membuka lokerku.

'YOU WILL DIE, BABY...

With love, Pain'

Kurang ajar ! Beraninya dia menempel tulisan itu ditempat aku menempel foto Sasuke. Aku tidak perduli dengan tulisannya, tapi letaknya. Sudahlah apapun yang terjadi nanti harus kuhadapi. Kuharap Deidara-senpai tidak lupa menyampaikan kata-kataku tadi pada Itachi-senpai.

Setelah kucabut kata-kata sial itu dan membuangnya, aku melengganggkan kakiku keluar dari gerbang sekolah menuju arah kiri... ke Pemakaman.

- - -

At Cemetery...

- - -

"Sakura tumben kau lama."

"Maaf Itachi-san."

"Aku tahu kau tadi melabrak Pain. Apa kau baik saja ?"

"Aku baik."

"Sasori juga khawatir lho."

Aku hanya tersenyum. Kami berdua menuju kuburan Sasuke yang berada tepat dibawah pohon Sakura. Saat sampai aku duduk berjongkok sambil mengelus batu nisan Sasuke. Sasuke meninggal beberapa bulan Februari tahun kemarin tepat saat hari Valentine karena kecelakaan. Seminggu sekali aku dan Itachi-san selalu kemari. Walaupun dia anggota Akatsuki, dia, kakak, dan Deidara adalah pengecualian karena mereka baik padaku.

"Sasuke memang beruntung mengenalmu Sakura." Puji Itachi-san. Aku jadi malu mendengarnya.

"Bisa saja." Balasku.

Aku berdiri sambil mencolek nisan Sasuke.

"Sudah ? Cepat juga."

"Iya. Hari ini aku banyak tugas."

Kami berdua berjalan meninggalkan pemakaman tersebut.

"Kau masuk daftar Blacklist kami, berarti kau dalam bahaya. Apa perlu ku minta Pain menghapus namamu ?"

"Tidak perlu."

"Memang Sasori meminta agar kau tidak diganggu sepulang sekolah. Tapi Pain bisa saja mencelakaimu kapan saja."

"Aku akan baik-baik saja."

Saat sampai digerbang pemakaman aku membungkuk hormat dan pamit padanya.

"Arigatoo, Itachi-san."

"Kalau mau kesini lagi akan kutemani." Ucapnya ramah.

"Baiklah."

Kami memisahkan diri ke arah yang berlainan.

- - -

- - -

Diperjalanan pulang aku bernyanyi-nyanyi kecil. Langkahku terhenti didepan kafe kue khusus coklat. Kupikir tak ada salahnya aku membawakan oleh-oleh untuk Sasori-nii. Aku melangkahkan kakiku dan masuk kedalamnya.

'Triing ! Triing !!'

"Konnichiwa !! Ada yang bisa kami bantu ?" Tanya pelayannya ramah dari belakang meja pesanan.

Aku melihat daftar menu yang tertempel dimeja itu sambil sesekali menunjuk-nunjuk.

"Mungkin aku mau yang ini. Yang Choco Red-Mint, aku minta satu kotak penuh yang besar ya !" kataku pada sang pelayan.

"Baiklah. Semuanya menjadi 35.000, nona !" Sakura menyerahkan beberapa uang lembar dan memberikannya pada pelayan tersebut.

"Kalau begitu silahkan tunggu disana." Katanya ramah sambil menunjuk tempat khusus untuk menunggu disudut ruangan.

Aku menunggu pesananku sambil mengutak-atik handphone milikku. Yah, karena disini aku menunggu sendirian pastinya pesananku tidak akan lama.

"Nona, ini pesananmu."

Aku mendongakkan kepalaku untuk menatap pelayan yang sepertinya laki-laki.

"De-deidara ?"

"Sakura ? Sedang apa disini ?"

Aku memasukkan hp-ku kedalam saku seragam dan berdiri.

"Tentu saja membeli makanan kan. Kau sendiri ?" Tanyaku balik sembari mengambil bungkusan pesananku.

"Aku kerja sambilan disini. Setiap pulang sekolah aku langsung kemari."

"Oh, begitu. Ya sudah, aku pulang dulu ya."

Aku membungkuk hormat dan Deidara hanya tersenyum padaku. Aku menuju pintu keluar sampai...

"Sakura !"

Aku menoleh kearah Deidara. Sekilas ku lihat wajahnya memerah, entah kenapa.

"Ya ?"

"Ku antar pulang ya. Aku takut dijalan nanti kau kenapa-kenapa." Katanya sambil tersenyum manis.

"Apa boleh ? Nanti pekerjaanmu terganggu."

"Tidak apa-apa."

Deidara berlari kecil kearahku sekaligus membukakan pintunya. Samar-samar kudengar Deidara mengucapkan 'tolong ya' pada pelayan yang lain entah yang mana. Aku keluar dan menunggunya.

"Ayo Sakura."

Selama perjalanan kami hanya membisu seribu kata. Sebenarnya aku tidak ingin seperti ini, tapi aku juga bingung harus membicarakan apa padanya. Lagipula dia ini kan seniorku di sekolah.

"Sakura."

"Deidara-san."

"...!"

"Bicara saja Sakura."

"Dei-san saja."

"Umm... Baiklah. Aku mau tanya kau tidak apa-apa mengenai yang tadi ?"

"Eh ? Aku yakin aku akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."

"Tapi Sakura, Pain itu berbahaya. Apa kau ingat korban terakhir Pain ?"

"Err... Seingatku dia langsung keluar dari sekolah ini setelah mengalami depresi dan gangguan mental."

"Aku takut nanti kau seperti dia." Tanggapnya.

Deidara memang orang yang perhatian. Berbeda dengan Pain yang menyebalkan dan sok berkuasa itu.

"Ya ampun. Aku tidak akan menjadi seperti itu kok !" Ucapku mencoba menenangkannya.

Sampai dipertigaan, aku menghentikan langkahku hingga membuat Deidara bingung.

"Terima kasih telah mengantarku. Tapi sampai sini saja." Kataku.

"Yakin tidak perlu sampai kedepan rumah ?"

"Sangat yakin."

"Baiklah Sakura. Hati-hati ya !" Katanya setelah itu pergi meninggalkan aku.

Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju rumah yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh.

- - -

Normal PoV

- - -

"Tadaima !!"

"Sakurrraaaa !! Kau ini kemana saja ??!!" Tanya Sasori panik.

"Aku tadi mampir dulu untuk membeli kue." Jawab Sakura sambil mengangkat bungkusannya.

"Untuk apa beli kue kalau kau ini kerja sambilan di toko kue juga ?"

Sakura melepaskan sepatunya dan menyerahkan bungkusan tersebut ke Sasori.

"Bukan toko kue tapi Maid Café, baka." Balasnya dengan penekanan pada kata terakhir.

"Dasar payah ! Kalau tiba-tiba Pain mengganggumu bagaimana ?"

"Yah aku hadapi."

"Seenaknya bilang begitu. Kalau nenek Chiyo tahu, aku bisa dibakar olehnya."

"Terserahlah. Aku mau mandi dulu."

"Oi dasar tidak sopan !!"

- - -

- - -

Sakura keluar dari kamarnya menuju dapur. Keringat besar turun dari atas kepalanya.

'Dia habiskan sendiri kuenya ?'

"Saso-nii, kenapa kuenya dimakan semua ?!!" Tanya Sakura dari dapur.

"Habis enak !!!!" Sahut Sasori entah darimana.

Sakura mendengus menuju halaman belakangnya. Terpampanglah Sasori dengan menggunakan celemek dan sedang menjemur baju. Dilihat dari keadaan, sepertinya dia habis mencuci baju.

"Ku kira mencucinya besok."

"Sekarang saja. Kau tahu kan semenjak Ayah dan Ibu meninggal aku yang menggantikan tugas-tugas berat. Seperti mencuci, menggosok dan memasak. Kau cukup mengangkat jemuran, menyapu atau mengepel, dan kerja sambilan. Jadi tidak perlu heran dengan tugasku."

"Hmm...? Begitu. Baiklah aku berangkat dulu ya !"

"Ini masih jam 3, apa kau tidak ada PR ?" Tanya Sasori sambil tetap fokus pada kerjaannya.

"Sudah dikerjakan. Sudahlah nanti aku telat ! Ja-ne !! Mmuach !!"

"Ya ! Bawa kue lagi ya !!"

"Iya iya !!"

Sakura melangkahkan kakinya penuh semangat menuju tempat kerjanya. Tempat kerjanya unik, selain itu upahnya disesuaikan dengan status para pegawainya. Misalnya saja Sakura, upahnya sebesar uang SPP sekolahnya. Kira-kira 250.000 ribu, seratus ribu untuk jajannya dan seratus lima puluh ribu untuk uang SPP-nya. Makanya Sakura betah sekali disini, apalagi setiap ada lebih pendapatan dari penjualan ataupun lebih kue, Sakura dan pegawai lainnya selalu dibagi. Walaupun bos mereka menyeramkan.

"Ha... Waaahhh ??"

Sakura masuk dan menemukan keadaan Café yang penuh sesak. Yang mengantri banyak juga teman-temannya sesama Maid, sibuk melayani pelanggan dengan berpindah sana-sini. Maklumi saja yang menjadi Maid hanya empat orang, kokinya juga hanya dua.

"Sakura !! Cepat !! Kita kerepotan nih !!" Ujar gadis seumurannya dengan rambut hitam pekat panjang menjuntai indah kebawah yang dipitai dibagian ujung rambutnya. Memakai seragam Maid berwarna hitam gelap campur coklat terang (liat seragam Maid di anime Tokyo mew-mew).

"Ok !"

Sakura segera berlari menuju ruang ganti. Dengan cepat dia mengambil seragamnya yang berwarna merah, pita belakang berwarna pink terang, topinya yang berbentuk setengah lingkaran berwarna merah, kaos kakinya berwarna pink gelap. Dan Sakura tentunya terlihat manis dengan seragam itu.

"Sakura berikan ini di meja 6 dan 9." Perintah laki-laki berkacamata berambut perak dengan seragam Maid khusus laki-laki (tentunya tidak ber-rok).

"Baik Kabuto-san !!"

Sakura segera melesat menuju meja-meja tadi. Keadaan Café amat sangat ramai. Memang keadaan ini tidak pernah berubah dari hari ke hari dikarenakan harga makanannya murah dan enak, ditambah lagi para maid-nya yang cantik-cantik.

"Ini silahkan !!" Ujar Sakura ramah.

Sementara...

'BRUUUK !!'

"Silahkan..."

Salah seorang Maid membanting secara halus nampan berisi kue-kue yang lezat. Kuenya memang tidak bergeming dari nampannya tapi yang memesan jelas langsung ketakutan. Siapa lagi kalau bukan Temari. Maid wanita yang satu tahun lebih tua dibandingkan Sakura itu memang cuek dan terkesan kejam pada pelanggan. Toh tetap saja, bagi pelanggan yang sudah lama mengenal toko ini Temari hanyalah tontonan biasa.

'Temari-nee payah' Batin Sakura.

"Sakura jangan melamun ! Masih banyak !!" Seru gadis berambut hitam pekat yang tadi.

Dia adalah Kin. Dia sama seperti Sakura. Enerjik, ceria, tapi lebih berisik dari Sakura. Seumuran dengan Sakura tetapi berbeda sekolah.

"Iya !!"

Sakura kembali menuju tempat Kabuto dan kembali mengambil nampan berisi kue-kue.

"Ini meja 1 dan 7." Ujarnya.

"Aye !!"

Sakura kembali melaju. Temari sedang mengantarkan nampan dengan gaya khasnya sementara Kin, dia sedang diganggu (digombali) oleh beberapa mahasiswa.

"Meja 1 silahkan !!"

"Terima kasih !!"

Sakura melesat lagi ke meja 7. Dengan tampang ceria dia meletakkan nampan tersebut diatas meja. Orang yang memesan memakai topi sehingga Sakura tidak bisa melihat wajahnya.

"Silahkan !!"

Orang itu membuka topinya dan membuat Maid Café gempa karena...

"PAAAAIIIIIIIIIINNNNN !!!!!"

- - -

- - -

"Apa yang kau lakukan disini ??!!" Teriak Sakura histeris.

"Aku kesini untuk makan. Sopanlah sedikit pada pelanggan, pelanggan itu raja."

"Grrrr... Tidak puas kau menggangguku disekolah ?!"

"Mana kutahu kau bekerja disini." Balas Pain sambil memakan kuenya.

"Menyebalkan..."

Sakura berbalik dan meninggalkan meja Pain menuju meja Kabuto. Kin dan Temari menghampirinya karena khawatir.

"Siapa itu ?"

"Dia adalah Pain. Orang yang menyebalkan yang pernah kutemui." Jawab Sakura.

"Sudahlah. Kembali bertugas ! Ini." Kata Kabuto dingin sambil menyerahkan empat nampan. Masing-masing dua untuk Temari dan Kin.

"Aku ?" Tanya Sakura.

"Kosong, mungkin sebentar lagi. Kau bersihkan dulu meja yang kosong."

"Ok !"

Sakura mengambil peralatan bersih-bersih dari belakang meja Kabuto. Karena Maidnya sedikit mereka menjadi kalangkabut sendiri.

"Maaf jangan mengganggu aku ya !" (Kin)

"(braaak !) Nikmatilah..." (Temari)

"Sakura !"

Sakura menengok kearah Kabuto yang memanggilnya. Kabuto menunjuk-nunjuk meja Pain, Sakura yang penasaran memindahkan kepalanya kearah meja Pain.

'Aku menderita'

Dengan memasang senyum terpaksa Sakura menghampiri meja Pain.

"Ada apa ?" Tanya Sakura berusaha ramah.

"Aku sudah selesai."

"Apa sudah bayar ?"

Pain berdiri dari kursinya dan menuju meja Kabuto. Sakura memandangi pria oranye itu dengan bingung.

"Yah sudahlah."

Sakura membersihkan meja Pain. Saat Sakura berbalik, saat itu jugalah matanya dengan mata Pain bertemu. Merah dengan hijau...

'Menatap matanya bisa membuatku jadi gila' Batin Sakura.

Dia menggelengkan kepalanya dan berlari kedalam menuju dapur. Disana ada Ayame dan Yamato yang sibuk dengan kuenya.

"Ada apa Sakura-hime ?" Tanya Yamato.

"Yamato-san, jangan panggil aku hime lagi !"

"Ok ok ! Ada apa Sakura ?"

"Tidak ada."

"Kenapa kesini ?" Tanya Ayame sembari menghias kue yang dibuatnya.

"Ahh ? Oh ! Aku kesini hanya ingin bilang kalau aku meminta dibuatkan kue coklat lapis keju untuk kakakku. Ahahahaha..." Eles Sakura.

Yamato dan Ayame hanya memandangnya dengan bingung. Sakura yang salah tingkah pun pergi meninggalkan mereka.

"Fiuuuhh..."

"Ehem ! Sakura kau ini." Ketus Kabuto. Sontak membuat Sakura berkeringat dingin.

"Hehehe, jangan begitu dong Kabuto-san."

- - -

Closing Hour

- - -

"Lelah sekali hari ini..." Eluh Sakura dan Kin bersamaan. Sementara Temari hanya tenang-tenang saja.

Tiba-tiba saja Ayame datang dengan nampan besar kue tart diatasnya. Membuat tenaga dan semangat Sakura maupun Kin kembali terisi.

"Waaaaaahhh !!"

Mereka semua memakan kue tersebut hingga habis. Setelah selesai Sakura berganti baju dan mengambil kue pesanannya. Dengan wajah ceria, dia melangkahkan kaki menuju rumahnya.

"Setiap hari begini terus. Seandainya ada maid lain, pasti kami tidak akan repot."

Gadis itu tetap berjalan walaupun matahari semakin lama semakin turun. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Keadaan sangat sepi. Terkadang beberapa mobil ataupun motor berlalu-lalang dijalan raya.

"Sepi sekali."

Sakura mulai ketakutan sendiri. Bulu kuduknya berdiri dan tak kunjung turun.

'Pluk'

Sakura dengan perlahan membalikkan tubuhnya karena seseorang menepuk pelan pundaknya. Saat berbalik dengan sempurna dia menemukan mata merah yang menyala terang ditengah gelapnya malam.

"HANTUUUUUUUUUUUUUUUUUUU !!"

- - -

- - -

To Be Continued...

- - -

- - -

Hahaha... ! Ryu kembali dengan format fict yang berbeda !!

Yap ! Chappie-nya memang panjang, fict ini akan jadi konsentrasiku yang penuh !!

Kritik dan saran !! Silahkan direpiew !!

Ryu pergi !! Mmmuaaaaccchhh !! -reader muntah"-