Verse 5, Greenhorn

Kembali ke area yang sama dengan Verse 4, yaitu area Boklan dan Splinter. Sejauh ini Sheizan, Mina, dan Seiren, telah sampai ke tingkat 7, dan tugas mereka setelah menyelesaikan tugas Boklan, seharusnya dan sebenar-benarnya adalah tugas untuk memusnahkan Block Lunker dan Arghol.

Untuk saat ini, mereka masih berurusan dengan Boklan, yang seperti telah dijelaskan sebelumnya, monster kadal berjumbai antromorphic berwarna abu-abu yang tubuhnya tampak seakan berotot, berwarna biru dengan garis-garis kuning di kedua tangan dan kakinya. Boklan biasanya menyerang dengan cakar mereka yang tajam atau kaki mereka yang kuat. Mereka berdiri agak bungkuk.

"Thrust!" teriak Seiren lantang sambil melancarkan sebuah Thrust yang dua serangan diantaranya mendarat di bagian toraks dari Boklan yang menjadi targetnya, sementara satu lagi jatuh di lengan kiri Boklan itu. Boklan itu membalas serangan Seiren, dan tangannya kini tengah menahan Injurer Harpoon yang digunakan Seiren. Sebuah tendangan diluncurkan Boklan, mengenai Seiren di pahanya dan membuatnya terdorong mundur cukup jauh.

Seiren kembali mengambil posisi, kaki kanannya dimiringkan 90 derajat dan berada dibelakang kaki kirinya, yang posisinya lurus dengan arah Harpoon milik Seiren.

Ia menunggu kesempatan dimana Boklan itu akan maju untuk menyerangnya, karena Boklan itu sudah ia serang sebelumnya, ia yakin kalau monster itu akan mengejarnya tanpa berhenti kecuali ia masuk ke daerah aman, pindah area, atau, pingsan kehabisan tenaga.

Biasanya, seseorang yang pingsan karena kehabisan tenaga akan secara otomatis ditransfer oleh Sensor yang juga memiliki kemampuan teleportasi. Dalam beberapa menit, orang tersebut akan muncul di ruang perawatan. Dalam beberapa kasus, bagaimanapun, ini hanya berlaku sebelum sang prajurit mencapai level tertentu, setelah itu, ia dianggap tidak memerlukan hal ini dan hidup matinya semuanya tergantung pada dirinya dan teman-teman seperjuangannya, terutama dalam Chip War.

Boklan itu mendekati Seiren, yang dengan sigap melancarkan Shining Cut saat Boklan itu tiba di jarak jangkauan senjata itu dan Extend Range miliknya. Shining Cut itu dan penggunanya adalah pemandangan terakhir yang dilihat Boklan itu di Novus, karena ia segera tumbang.

Beberapa barang dijatuhkan oleh Boklan itu, barang-barang yang berguna bagi seorang Specialist untuk membuat senjata. Mulai dari Gli... oh maaf, salah, itu barang farming Lures. Maksud saya, mulai dari BliDend, Zid, dan barang tingkat rendah lainnya yang tidak dapat dipecah menggunakan Hammer yang dapat dibeli di Sundries.

Sama halnya dengan Sheizan, yang bukan hanya menemukan barang-barang seperti itu tapi juga barang seperti senjata dan perisai, yang kurang berguna baginya.

"Shei, simpan saja Buckler itu..." saran Seiren dari jauh.

"Hee? Untuk apa memangnya...? Aku kan Ranger? Bukannya tidak berguna bagiku ya?"

"Nanti, tingkat 30 keatas, kau akan bisa memakai senjata jenis Pisau Lempar yang merupakan senjata satu tangan, dan memakai perisai di tangan yang lain...*duk!* Uh! Sejak kapan kita berdua jadi sedekat ini...?" Tanpa mereka sadari, saat berbicara, mereka berdua yang fokusnya tengah terbagi antara pembicaraan dan Boklan yang mereka lawan, bertabrakan. Kini mereka berdua tidak bisa mundur lebih jauh, Sheizan tepat dibelakang Seiren, dan Seiren tepat dibelakang Sheizan.

"Wah, harus kesamping, ya? Hua!" pada detik terakhir, Sheizan masih sempat menghindari serangan Boklan yang menjadi lawannya dengan berguling ke kiri, namun cakar Boklan tersebut mengenai Seiren yang ada dibelakangnya, membuat ia terdorong kedepan dan terlalu dekat dengan Boklan lawannya. Ia bereaksi cepat dengan mengangkat Injurer Harpoon miliknya untuk menahan serangan cakar Boklan didepannya, namun sebuah bola petir menghantam Boklan itu, mengirimkannya pada tidur yang abadi.

"Seiren! Kau tak apa...?" Lightning Ball tadi rupanya berasal dari Mina yang baru saja menghabisi targetnya.

"Fiuh... thanks... kukira itu akhirku..."

"Hei, jangan berpikir begitu!*tuk!*"

"Aw! Iya... iya deh..." dengan ujung tongkatnya, Mina tadi mengetuk dahi Seiren cukup keras.

"Hei, lihat dia..." Seiren menoleh mencoba mencari tahu apa yang dimaksud Mina.

Sheizan, tengah bertarung menggunakan sebuah pisau dan perisai.

"Slasher!" serunya seraya melancarkan tiga tebasan beruntun pada Boklan yang ada didepannya, menjatuhkannya.

"Wow, Shei, kau bisa melakukannya juga..." Mina berdecak kagum melihatnya.

"Sebagai info... kemampuan memakai semua jenis senjata itu penting, beberapa jenis perlengkapan tidak bisa dipakai hanya dengan kemampuan memakai satu jenis senjata saja... begitu juga dengan perisai, untuk tingkat lebih tinggi, ada syarat untuk memakainya, kan? Kemampuan kita dicatat oleh Sensor, dan persyaratan kemampuan itu semakin tinggi sesuai dengan tingkat senjata atau perlengkapan yang ingin digunakan. Itulah alasan kenapa kita harus melatihnya mulai tingkat kecil, di tingkat tinggi nanti, akan sulit untuk kita menaikkan tingkat kemampuan senjata yang masih lemah, karena senjata untuk tingkat rendah yang bisa kita pakai dengan tingkat kemampuan senjata yang masih rendah tidak cukup untuk membuat Sensor mengakui kemampuan kita melukai monster tingkat tinggi."

Ia menjelaskan cukup panjang, entah ada yang diulang atau tidak. Pelajaran yang bisa dipetik oleh pembaca: NAIKKAN SEMUA PT, maka anda akan selamat di level 30++ (jangan seperti saya), Warrior butuh PT jauh tuh untuk pakai baju jauh. Minimal damage 2% ke monster kalau mau persenan PT naik...

Kembali ke cerita...

Mina dan Seiren mengangguk-angguk mendengar penjelasan Sheizan, mata keduanya tampak kosong, keduanya tidak mengerti sekitar 70% penjelasan yang tadi diutarakan Sheizan, namun memahami inti pembicaraan tentang kebutuhan Point Kemampuan yang menjadi persyaratan perlengkapan.

"Nah, sekarang, lanjutkan perburuan... terserah mau menghantam musuh pakai apa, yang pasti jangan lupakan job utama kalian, prioritaskan kemampuan senjata utama kalian." Segera setelah berhenti berbicara, Sheizan kembali mencari Boklan untuk dihantam.

"Mina." Panggil Seiren pelan.

"Ya...?"

"Ehm... aku lebih mudah menyebut poin kemampuan persyaratan sebagai PT... PT kemampuan Force itu cukup mudah dinaikkan, tapi hati-hati dengan PT Skill Force Basic, karena nanti kau akan butuh minimal 30 di elemen yang bersangkutan untuk membuka Force Expert nya. Aku sendiri nanti juga harus memiliki minimal 30 di PT Skill Jarak Dekat untuk membuka skill Expert."

"Begitu ya...? Baiklah, terima kasih banyak, Seiren! Akan kuingat baik baik!."

Di bab ini banyak penjelasan tentang PT, ya? Yah, karena inilah yang membedakan RF dengan game lainnya, yang menggunakan Status Point.

Sekarang benar-benar kembali ke pertarungan, AND I MEAN IT!

Mina yang belum memiliki senjata jarak jauh, memilih untuk menaikkan PT jarak dekat miliknya. Ia menggunakan tongkatnya untuk menghantam Boklan targetnya dengan serangan seadanya.

Sedikit demi sedikit, ia merasakan kalau serangan itu semakin mudah dilakukan, dan ia juga merasakan kalau ia bisa menggunakan tongkatnya lebih efektif untuk memukul, dengan sedikit tenaga yang difokuskan ia bisa menghantam musuhnya dengan cukup kuat.

[i]"Fokuskan tenaga... mungkin Seiren juga seperti ini, ya? Serangan fisik miliknya kuat."[/i] pikir Mina dalam hati. Ia mencoba memfokuskan tenaga pukulannya di ujung tongkatnya, sambil bergerak pelan menjauhi Boklan yang ada di depannya, ia memfokuskan kekuatannya di ujung tongkatnya, bagian yang paling banyak mengenai targetnya apabila ia menghantamnya. Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya.

[i]"Ah, bagaimana kalau aku mencoba memfokuskan Force di ujung tongkatku, ya...?"[/i]

Pelan-pelan, ia membentuk seuah Prism Beam, namun tidak layaknya Prism Beam biasa yang ditembakkan dari kristal prisma yang dibentuk memakai Force untuk memfokuskan kekuatan api, Prism Beam ini dibentuk tepat di ujung Wand yang dipakainya, membakar ujung Wand tersebut. Tangan Mina gemetar menahan Wand yang membara itu.

"Ungh..."

Saat itu, Seiren menoleh untuk memeriksa yang lain, dan melihat Mina yang menggunakan Force miliknya secara tak lazim.

"DEMI DECEM! MINA!"

Teriakan itu juga menarik perhatian Sheizan, dan prajurit lain yang tengah berburu disana. Pertarungan antara Mina dan Boklan didepannya kini mendapat perhatian penuh dari semua prajurit disitu, bahkan mereka yang hanya lewat.

"Uaah!" Mina berteriak kesakitan, sepertinya Wand itu mengalirkan panas Prism Beam yang berlebih itu ke tangannya juga. Boklan yang ia hadapi sudah dekat, ia tidak kuat menahan Prism Beam itu lebih lama lagi. Tanpa menunggu lebih lama, ia mengayunkan Wand nya secara horizontal, menyebabkan ujungnya tepat menghantam perut Boklan lawannya.

"*BLAM!* UWAAAAHHH!" Tongkat itu meledak hebat di perut Boklan itu. Mina dan Boklan lawannya sama-sama terpental jauh satu sama lainnya. Keduanya tersungkur dan tak bergerak lagi.

"MINA!" Seiren dengan cepat menghampiri Mina dan memeriksa keadaannya. Sepertinya, kekuatan ledakan tadi teramat besar, kaki dan tangan Mina dipenuhi luka bakar, dan di beberapa bagian perutnya terdapat lebam.

"Jantungnya masih berdenyut, namun lemah."

Sheizan juga mendekati Mina, dan memegang tangannya. Sementara itu, para prajurit disitu tidak ada satupun yang bisa melakukan apa-apa.

"Minggir."

Suara dalam seorang pria terdengar dari belakang para prajurit yang tengah menonton, mereka lantas memberi jalan pada pria itu.

Pria itu memakai satu set baju Elixir dan menggunakan sebuah Hora Staff. Dengan cepat, Pria ini mendekati Mina, dan berjongkok untuk melihat keadaannya. Pria itu lalu mengeluarkan Inanna.

"Sembuhkan dia, Inanna." dan Inanna milik pria itu dengan cepat menyembuhkan luka Mina yang terlihat dari luar.

"Masih banyak luka dalam... ia harus segera dirawat..." Pria itu lantas mengangkat Mina.

"Aku akan membawanya ke Headquarters..."

"Kami ikut!" seru Seiren pada pria itu, yang kemudian melihat Seiren dan Sheizan. Ia mengangguk.

...

...

Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di area perawatan Cora Headquarters. Mina dirawat di salah satu ruang standar, karena lukanya sudah tak terlalu parah, namun ia belum sadarkan diri. Seiren juga menggunakan kesempatan ini untuk menjenguk kakaknya, yang masih koma.

Kini tinggal Sheizan dan pria itu. Keduanya tengah menunggu di lorong berwarna abu-abu, yang lantainya dilapisi karpet, dan di kedua sisinya terdapat beberapa kursi hitam untuk para pengunjung pasien.

Lorong itu sepi, hanya sedikit orang yang lewat sana. Padahal cukup banyak kejadian gawat akhir-akhir ini, yang terakhir tercatat adalah Insiden Ether yang nyaris menewaskan Wakil Archon Carina 'Fair Lady' Artemis dan juga kemunculan monster raksasa di area Pantai Crimson di Haram. Chip War akhir-akhir ini tidak menimbulkan terlalu banyak korban, intensitas korban yang terluka dalam pertempuran sudah jauh berkurang.

"Sepi, ya?"

Pria tadi memulai pembicaraan, yang mengagetkan Sheizan.

"Ah, iya..."

"Aku belum mengenalkan diri, ya? Namaku Garland Impreza, panggil saja Garland. Aku seorang Dark Priest."

"Dark Priest!" seru Sheizan cukup keras, sampai ia diperingatkan oleh salah satu perawat disana.

"Kenapa? Kau sepertinya kaget sekali...?"

"Kukira... kau..." saat Sheizan belum selesai dengan kalimatnya, Garland sudah memotongnya.

"Seorang Grazier, ya kan? Hahaha... tak apa... banyak orang yang berpikir seperti itu... Lalu... siapa namamu?" saat itu, Sheizan baru ingat kalau ia belum memperkenalkan diri.

"Ah, aku lancang, aku belum memperkenalkan diriku... aku Sheizan Skyline Chandelier, biasa dipanggil Sheizan... seorang Ranger yang berharap akan menjadi Adventurer... Garland?"

Garland nampak sedikit terkejut, namun dia dengan cepat menguasai dirinya.

"Ah... tidak... tidak apa-apa... Lalu... apa hubunganmu dengan kedua gadis tadi...?"

"Kami... hanya teman biasa... Ada apa...?" Sheizan menyadari sesuatu, gerak-gerik yang tak biasa dari Garland.

"Emm... begini... temanmu itu, ia hebat. Tak pernah ada yang mencoba menggunakan Force seperti itu. Sayangnya serangan itu juga sebuah pedang bermata dua... Gadis itu hebat."

Sheizan diam, tidak merespon kata-kata Garland, seakan kata-kata itu masuk melalui telinga kirinya dan keluar melalui telinga kanannya tanpa diproses terlebih dahulu. Ia menatap Garland tajam dan bertanya.

"Lalu...?"

"Yah... tak apa, hanya saja seorang spiritualist seperti itu jarang sekali ditemukan.."

Sheizan masih menatapnya tajam selama beberapa menit, sebelum akhirnya menoleh kearah lain.

"Ah, sudahlah, tak apa, haha, tadi aku sempat mendapat perasaan tidak enak... tapi sudahlah..." ujarnya sambil tertawa. Garland juga bernafas lega, ia lalu berdiri dan membersihkan bajunya.

"Nah... aku masih punya urusan lain... sekarang aku pergi dulu... sampai jumpa, Skyline! Deliverence!" tanpa berlama-lama, Garland langsung menghilang begitu saja, mungkin ke tempat simpan posisinya. Tempat simpan posisi adalah tempat dimana orang-orang yang masih dianggap belum mampu diteleportasikan apabila ia pingsan di medan pertarungan.

"Ho... dia sudah pergi... Force tadi... memang milik seorang Dark Priest..." gumam Sheizan dalam hati.

Ia lagi-lagi menunggu sendiri, dalam sepi. Kadang beberapa perawat dan dokter berjalan melintasi tempat itu, entah menuju ruang staff, menuju kamar pasien mereka untuk pemeriksaan rutin, atau tengah bergegas untuk menemui pasien yang keadaannya memburuk. Sheizan kini sedang termenung, memikirkan sesuatu yang ia tak ia dapatkan jawabannya.

"Ah, sudahlah..." gumamnya dalam hati. Ia lalu berpikir tentang beberapa hal yang akan ditemuinya nanti saat menjalankan tugas lagi: Arghol dan Block Lunker. Kedua monster itu sering ia dengar dari mulut seniornya yang berada beberapa tingkat di atasnya saat mereka bercakap-cakap di sekitar Pos Cora. Satu adalah monster evolusi Lunker yang berwarna abu-abu dan yang lainnya monster serangga berwarna coklat. Kadang ia melihatnya diantara Warbeast dan Ratmoth, karena mereka memenuhi area disekitar tempat kedua moster itu, namun jaraknya lebih dari pos Cora daripada Warbeast dan Ratmoth.

"Hei." Sebuah suara membuyarkan lamunan Sheizan, ia mengangkat kepalanya dan menghantam sesuatu yang... empuk?

"Kyaa! *plakk!*" sebuah hantaman mendarat di pipi kanan Sheizan, dan ia terjengkang ke kiri, menimpa kursi-kursi yang ada di sebelah kirinya. Walau begitu, ia mengenali suara tadi, suara Seiren.

"Hua! Kau mesum!" seru Seiren cukup keras, sampai beberapa orang didekat sana menyuruhnya untuk tidak rebut.

"Ah, maaf..." ujarnya sambil menunduk ke orang-orang tersebut. Sheizan lalu kembali ke posisinya semula dan menyadari kalau dirinya yang duduk tadi amat dekat dengan Seiren yang tengah berdiri(kurang lebih 5 cm), dan dengan segera menyadari apa benda empuk yang dihantam kepalanya tadi.

"Ow... Seiren... sakit... kemampuan jarak dekat juga mempengaruhi kekuatan pukulanmu, tahu?" ujarnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Jangan bilang begitu padaku, mesum!" seru Seiren pelan, mukanya sedikit merah, entah karena malu atau marah, atau mungkin keduanya.

"Aduh, aku tak bermaksud untuk melakukan itu... salahmu sendiri kenapa berdiri sedekat itu denganku?" balas Sheizan, membela diri.

"Tapi kau yang melamun! Tadi aku sudah memanggilmu, tapi kau baru sadar saat aku memanggilmu sedekat itu! Huuh!" ujar Seiren kesal, namun dengan volume suara yang dikurangi drastis. Ia lalu duduk disebelah Sheizan, dan diam tak bersuara. Walau sedikit, Sheizan tetap merasa bersalah, mengingat Seiren baru saja mengunjungi kakaknya yang belum sadar, dan ia melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan. Ia mencoba bertanya untuk mengalihkan mood.

"Em... Seiren... bagaimana keadaan kakakmu...?" tanyanya pelan. Seiren lalu menoleh padanya, dan mengubah posisi duduknya menjadi sedikit lebih santai.

"Masih koma." Jawabnya lirih. Ia tersenyum lemah. Melihatnya yang seperti ini, Sheizan benar-benar merasa iba dan kasihan.

"Erm... kau sendiri...?" tanya Sheizan lagi.

"Ah, aku sih tak apa, kenapa memangnya?"

"Tidak... tak apa..." gumam Sheizan pelan sambil menggeleng.

"Lalu... setelah Mina sembuh, kita melanjutkan tugas, kan?"

Dan percakapan mereka selanjutnya, mencakup tentang tugas-tugas yang sering dibicarakan orang-orang beberapa tingkat diatas mereka, yang masih berupa misi untuk menghabisi beberapa monster yang ada di sekitar Pos Cora. Mereka juga membicarakan senjata Tipe B yang mereka dapatkan setelah menyelesaikan tugas Splinter, dan merasakan kalau senjata-senjata tersebut benar-benar sangat efektif untuk dipakai pada target-target mereka. Sheizan berbicara bagaimana Intense Long Bow miliknya terasa lentur dan sejenis tenaga terasa mengalir di busur itu, memberikan dorongan lebih kuat pada anak panah yang akan ditembakkan olehnya, dan juga membuat tali busurnya lebih elastis dan lebih kuat menahan beban, juga bagaimana Intense Assemble Long Bow itu begitu stabil. Seiren bercerita bagaimana Intense Twin Great Axe miliknya terasa jauh lebih ringan dan lebih mudah digenggam di tangannya daripada Injurer Harpoon yang sebelumnya dipakainya, walau kakinya terasa lebih berat daripada saat ia memakai Injurer Harpoon. Selain itu, ia juga merasakan energi yang berlebih dari senjata tersebut, membuatnya bisa menyerang lebih baik dengan mengeluarkan lebih sedikit tenaga.

Tanpa mereka sadari, satu jam telah berlalu. Mereka berdua masih asyik mengobrol mengenai tempat-tempat yang mereka temukan di daerah Cora Headquarter yang mereka lewati. Sheizan kini tengah bercerita tentang jalan masuk Gua Pemburu, yang tak sengaja ia temukan saat tengah berjalan-jalan pada malam hari.

"Dan, kau tahu? Didepan tempat itu, ada dua jenis monster besar yang berkeliaran! Dari Sensor, aku tahu kalau salah satu monster itu, yang tampak bulat, adalah Lizard, monster elemen api yang juga ada di daerah Dataran Gelap. Satu monster lagi adalah Bulky Lunker, dan monster itu besar! Dari Sensor, aku tahu kalau monster itu adalah tipe Ace, dan, dan... heh? Apa?"

Seiren dari tadi memberi isyarat pada Sheizan untuk diam, namun tidak didengarkan. Baru setelah beberapa saat, Sheizan sadar kalau Seiren menyuruhnya diam, ada seseorang yang berdiri didepan kursi mereka berdua.

Seorang wanita Cora berpakaian jubah putih sedang menatap mereka berdua, meminta perhatian dari mereka berdua.

"Ah, akhirnya... maaf kalau saya mengganggu, tapi, apa anda berdua teman dari Mina Reisha Arkbird?" tanyanya lembut.

"Ya!" Seiren menjawab cepat, ia lalu berdiri.

"Tenang, nona, teman anda tak apa, ia hanya butuh istirahat saja. Mungkin dua atau tiga hari lagi ia sudah boleh keluar rumah sakit." katanya pelan sambil tersenyum menenangkan.

"Dokter, apa kami sudah boleh menjenguknya...?" tanya Sheizan yang ikut berdiri.

"Ah, ya, sekarang ia sudah bangun, kalian boleh mengunjunginya. Sekarang, aku harus permisi, ada sesuatu yang perlu kulakukan." Wanita itu membungkuk anggun dan meninggalkan Seiren juga Sheizan. Tanpa mengatakan apa-apa, Seiren langsung berjalan menuju kamar Mina.

"He..hei! Jangan cepat-cepat..." pinta Sheizan, namun Seiren tidak mengacuhkannya, dia sekarang sudah melewati belokan, dan sudah ada di kamar Mina. Sheizan akhirnya menyusul dan melihat Mina yang tengah tersenyum lemah.

"Hai, Shei... bagaimana keadaanmu...?" tanyanya lirih. Sheizan mendekatinya dan melihat keadaannya, luka bakarnya sudah sembuh total, namun entah dengan lebamnya.

"Kau... sudah tak apa...?"

"Kata dokter aku bisa pulang beberapa hari lagi, tapi aku masih harus istirahat, tubuhku tidak merespon baik terhadap kekuatan Force yang kukeluarkan saat memfokuskan Prism Beam di Wand ku, beberapa aliran Force didalam tubuhku agak rusak, jadi untuk memulihkannya aku butuh istirahat..." ujar Mina lemah, suaranya sedikit serak.

Angin semilir berhembus di ruangan itu, jendela di ruangan itu menghadap ke arah barat, tempat matahari Novus kini tengah bersinar. Sinar jingga matahari sore memenuhi ruangan itu dari jendela, memberikan kesan kalau semua benda didalam ruangan itu bernuansa oranye, dimana nuansa aslinya berwarna biru-hijau. Mina menatap keluar jendela, seakan melihat matahari yang akan tenggelam entah berapa lama lagi.

"Aku sudah lama disini ya...?" tanya Mina.

"Ya... kami menungguimu selama kurang lebih tiga jam..." jawab Seiren singkat, Mina mendekap mulutnya, terkejut.

"Ah, aku sudah merepotkan kalian... seharusnya kalian bisa menyelesaikan tugas hari ini, kan? Kalau begini, kalian hanya akan memperlambat kemajuan kalian, kan?"

"Tapi, Mina, kami khawatir!" seru Seiren dengan suara rendah. Ada beberapa pasien disekitar kamar Mina, dan Seiren tak ingin mengganggu mereka.

"..." Mina tidak bicara apa-apa, ia tidak ingin mengganggu perkembangan mereka dan ingin mereka cepat-cepat naik tingkat, namun di sisi lain, ia juga ingin terus diperhatikan seperti ini. Ia kembali melihat keluar jendela.

"Anginnya lembut ya...?" tanyanya meminta pendapat kedua temannya, yang tidak mengira kata-kata itu akan keluar di saat seperti itu.

"Iya, anginnya lembut..." jawab Sheizan datar.

"Musim ini sepertinya cuacanya tidak ganas, ya...?" tanya Mina lagi.

"Iya, Mina... cuacanya juga bersahabat..." jawab Seiren. Mina lalu melihat Seiren dan Sheizan, bergantian.

"Kalian, pulanglah... kalian pasti perlu istirahat, kan? Aku juga sebentar lagi mau istirahat kok..." ujar Mina pelan dengan senyuman lemah menghiasi wajahnya. Sheizan melihat wajah itu diterangi cahaya senja dari satu sisi, dan membuat Mina tampak amat elegan di matanya. Wajah Sheizan, tanpa ia sadari, sedikit memerah. Ia secara tak sadar mengakui bahwa Mina yang setiap hari terlihat biasa saja bisa secantik ini.

"Shei...?" suara Seiren membuyarkan lamunan Sheizan untuk yang kedua kalinya, Mina juga memperhatikan Sheizan.

"Kenapa wajahmu memerah...? Jangan-jangan... karena Mina, ya...?" tanya Seiren pelan, dengan maksud menggoda Sheizan.

"Eh, bu...bukan... bukan karena Mina... er... ya... bukan..." kata Sheizan terbata-bata, ia tengah gugup tentang apa yang secara tak sadar dipikirkannya.

"Shei...?" tanya Mina pelan. Sheizan melihatnya sebentar, lalu memalingkan muka. Mina tersenyum.

"Hee... kenapa, Shei...?" tanya Mina lagi, ia geli melihat Sheizan yang seperti ini.

"Ah, ti...tidak apa..." jawabnya terputus-putus, ia gugup.

"Nah, kalau begitu, kami permisi dulu, Mina." Ujar Seiren sambil mencium pipi kiri dan pipi kanan Mina yang terbaring di tempat tidurnya.

"Yaaa... oh iya, kalian lanjutkan tugas saja, nanti aku menyusul kok." balas Mina sambil tersenyum manis pada keduanya.

"A...aku duluan..." kata Sheizan pamit, dan dia langsung berjalan menuju pintu keluar.

"Yaah... dia pergi duluan..." ujar Seiren sedikit kecewa

"Ya sudah, aku juga pulang, istirahat ya! Cepat sembuh agar kita bisa berburu bersama lagi!" seru Seiren dari luar pintu kamar Mina. Mina mengangguk lemah dan tersenyum. Seiren lalu menyusul Sheizan yang sudah berada di luar lebih dulu.

Mina kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela, dan menatap matahari senja. Ia menghela nafas pelan, namun...

"Hhh... *krik!* Auh! Ungh..." jeritnya pelan. Tangannya serasa ditusuk-tusuk oleh beberapa jarum.

"Apa ini seperti kata dokter...? Efek samping menggunakan Force yang tidak stabil seperti saat itu...?" gumamnya dalam hati. Ia lalu menutup matanya, mencoba melupakan rasa sakitnya dan tidur.

End of Verse 5