Disclaimer: Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya, sedangkan Fatal Frame belongs to TECMO.

Warning: GAJE, aneh, dan hal jelek lainnya. Ada sedikit Yaoi hint disertai Incest. Bagi yang tidak suka hal-hal diatas, dimohon untuk tidak membaca fic ini karena dikhawatirkan malah akan mengirim 'flame'.

***

Japan sedang duduk sambil menjamu beberapa tamu dunianya. Dihadapannya, Netherlands sedang mencicipi teh jepang sambil sedikit berdiskusi tentang masalah kawasan Minakami yang dibatalkan untuk diubah menjadi Minakami Dam terkait hilangnya seorang Peneliti Daratan yang tidak ditemukan hingga sekarang jasadnya. Entah masih hidup, maupun tewas. Namun, hal ini sudah membuat warga sekitar memprotes pembangunan Dam di kawasan tersebut.

"Nihon, soal Peneliti Daratan yang hilang tersebut. Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Netherlands sambil menghirup teh jepangnya.

Japan hanya menghela nafas, "Belum ditemukan sama sekali, para warga terus melarang tim SAR untuk mencarinya." ujar Japan.

"Hmm... kenapa warga sebegitu tidak mengizinkan pemerintah untuk membangun Dam didaerah tersebut? Daerah ini rawan banjir, lagipula ini untuk kebaikan mereka sendiri kan?" ujar Netherlands lagi.

Japan menghirup tehnya, sambil berkata "Karena mereka beranggapan, daerah tersebut dihuni oleh 'sesuatu'."

***

"Yah, benar kata Nihon. Daerah disekitar sini memang rawan banjir, dilihat dari keadaan sekitarnya. Padahal, tempat ini cukup indah."

America dan saudara kembarnya, Canada sedang meneliti kawasan Minakami yang –rencananya- akan dijadikan sebuah Dam.

Pepohonan masih memenuhi daerah ini, dilengkapi dengan sungai kecil yang mengalir tenang. Bau segar pepohonan, juga kilauan sinar matahari dipermukaan sungai cukup mempercantik daerah ini.

"Ya. Akupun berpikir begitu, Al." ujar Canada pelan.

America menoleh kearah saudara kembarnya itu. Mereka berdua sangat mirip, Bahkan Cuba pun sulit untuk membedakan mereka berdua.

Hubungan Cuba dan America memang tidak harmonis, namun kemiripan antara America dan Canada terkadang membuat Canada sedikit (atau banyak?) terganggu. Cuba yang tidak terima dengan sikap America kerap memukuli Canada hingga babak belur. Mengira cowok itu adalah America.

Dan berakhir dengan Canada yang pulang kerumah America, terisak. Dilengkapi dengan beberapa benjol dikepalanya.

"Mattie, aku jadi ingat waktu kita berdua kabur dari scone buatan England dan bermain di sungai kecil didekat rumah. Saat-saat itu menyenangkan ya?" kenang America sambil tertawa kecil

"Ya, dan pada akhirnya kau meninggalkanku sewaktu England menemukan kita. England memaksaku untuk memakan scone menjijikan itu tau. Untunglah ada France." cetus Canada sambil memasang muka masam.

"Ahaha, ya. Dan satu itu." ujar America sambil tertawa terbahak. Sedangkan Canada hanya bisa terus memasang muka masamnya.

"Kau dulu juga menyembunyikan Kumajirou ku sampai bulu-bulunya menjadi coklat. Bayangkan, COKLAT? Butuh waktu seminggu bagiku untuk membersihkannya tau." Ucap Canada dengan nada marah.

"Hahaha... habis, menyenangkan lihat wajahmu yang hampir nangis sewaktu menemukan si Beruang Kutub itu menjadi warna coklat. Kesannya, umm... imut gitu." Goda America sambil terbahak.

Canada sama sekali tidak menjawab, suara gemericik air sungai terdengar nyaring ditelinga America. Sampai akhirnya, dia merasakan sesuatu yang janggal...

"Mattie?"

Tak ada jawaban, bahkan sama sekali tidak terasa sedikitpun aura kehadiran dari saudaranya itu (walaupun biasanya memang tidak terasa sih).

America pun berbalik, menghadap kearah tempat dimana seharusnya Canada berdiri tadi...

Hanya untuk menemukan bahwa, saudara kembarnya itu sudah tak ada lagi disana...

***

"Minakami Village, huh?"

Japan mendongak, menatap seorang anak perempuan berambut panjang hitam menggumamkan suatu kalimat. Gadis itu mengenakan setelan baju kasual, dengan lambang 'burung garuda' tersemat didadanya.

"Indonesia-san, ada apa?" tanya Japan sopan.

"Kelihatannya, mengirim America dan Canada untuk memeriksa keadaan disekitar wilayah bekas Desa Minakami atau Kawasan Minakami bukanlah hal yang tepat." Ujar gadis itu, jelas.

Japan dan Netherlands hanya menunjukkan raut wajah bingung.

"Apa maksudmu, Nesia?" tanya Netherlands.

"Err... aku barusan membaca sedikit sejarah tentang Desa Minakami itu..." jawab Indonesia.

"Lalu?"

"Yang 'Muda' dikorbankan, dan yang 'Tua' harus mengorbankan."

"Kita tidak punya waktu untuk bermain teka-teki, Indonesia-san. Katakan saja." ujar Japan, tegas.

Indonesia hanya menatap lekat kepada Japan dan Netherlands sambil mengucapkan satu kalimat.

"Kalian pernah dengar soal Kupu-kupu Merah?"

***

Pertama, fic apa ini?

Ini fic hasil pikiran gila saya menggabungkan Hetalia dengan latar cerita Fatal Frame II: Crimson Butterfly, karena saya beranggapan 'seru juga nih, kalo chara digantiin chara Hetalia'. Ya, saya tahu fic ini gaje, aneh, ga jelas, dll.

Kedua, kenapa justru American Brothers yang dipakai? Kenapa tidak Italian Brothers yang justru lebih mendekati 'Kembar'?

Karena saya jauh lebih suka American Brothers dibandingkan dengan Italian Brothers. Lagian, Al sama Matt hampir memiliki beberapa kesamaan –walaupun ga satu wilayah- juga lebih punya kesan 'serius' (iya, di manga nya ga keliatan sama sekali. Efek doujin mungkin?) sedangkan dan sudah punya kesan Humoris diwajah mereka. Ga enak rasanya tiba-tiba bikin yang sudah punya aura Humoris diubah jadi serius.

Apakah ada pairing di fanfic yang ini?

Mungkin, saya juga bingung bagaimana akhir fic ini nantinya. Entah jadinya bener-bener Family, Friendship, Horror, ato malah kemasuk Yaoi plus Incest. XD

Tapi, ada rencana mau bikin HollandIndo sih. Haha…

Tambahan, Judul Chou –yang artinya kupu-kupu- diambil dari Soundtrack Fatal Frame II sendiri.

Review, minna-san. ^^

Created on: Tuesday, 9th February 2010. 21.30