Disclaimer: Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya, sedangkan Fatal Frame belongs to TECMO.

Warning: GAJE, aneh, dan hal jelek lainnya. Ada sedikit Yaoi hint disertai Incest. Bagi yang tidak suka hal-hal diatas, dimohon untuk tidak membaca fic ini karena dikhawatirkan malah akan mengirim 'flame'

Chapter 4: Camera Obscura

***

"Ngomong-ngomong, bukannya mereka bulan July yah?"

"Apa?" Indonesia yang tadinya berjalan, berhenti ketika mendengar perkataan Netherlands barusan.

"Mereka ulang tahun bulan July." ulang Netherlands lagi.

"July?"

"Ya, dan itu tandanya..."

"GUE SALAH KASIH UCAPAN DONG???" teriak Indonesia, kaget. Sedangkan Netherlands hanya senyam-senyum nakal saja.

"Tenang, France juga salah kok." hibur Netherlands, "Lagian itu doang."

"Tapi gue malu!!!!" teriak Indonesia lagi, sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Jadi gini yah, reaksi Indonesia kalau lagi malu? Hihi... cute juga." pikir Netherlands, masih dengan senyum nakalnya.

"Tunggu, Netherlands..."

"Ada apa, Indo-chan." jawabnya, dengan seringai 'nakal' nya.

"Ada sepotong tangan, me-menggenggam bahumu..."

***

"Sudah berapa lama kita mengelilingi rumah ini?"

"Aku tak tahu..." jawab Canada sambil melihat jam tangannya.

Jarum jam tangannya tidak bergerak, menunjukkan bahwa jam tersebut sama sekali tidak hidup. Canada mengangkat sebelah alisnya...

"Seingatku, aku sudah mengganti baterainya?" bisiknya.

"Terserahlah, jadi... apa saja yang kita dapat dirumah ini?" ujar America sambil menghampiri saudaranya.

"Well, tidak banyak. Cuma kumpulan buku catatan berwarna merah ini. Dan, dilihat dari keadaan kertasnya... buku ini masih baru." jelas Canada sambil membolak-balik buku catatan itu.

"Berarti, ada seseorang sebelum kita yang juga pernah datang kesini..." tebak America sambil memegang dagu-nya.

"Tepat sekali! Dan ini tulisan wanita..."

"Benar!" balas America sambil menjentikkan jarinya.

"Hmm... Ngomong-ngomong, ruangan yang dilantai atas terkunci. Menurutmu, dimana kita bisa mencari kuncinya?" ujar Canada sambil menaruh buku catatan itu kedalam tas hitam yang mereka temukan tadinya.

"Ayo, kita keliling rumah ini lagi!" usul America, tapi tanpa nada 'I'm a hero'-nya.

"Kenapa kau tidak bersemangat begitu?" seru Canada, heran.

"Tempat ini mengerikan…"

Dan Canada memutuskan untuk memimpin perjalanan kali ini…

***

Beberapa kali mereka menelusuri tiap sudut rumah sekali lagi, tapi hasilnya nihil. Tidak ada petunjuk-petunjuk baru yang mereka temukan. Pintu yang berada dilantai atas pun terkunci, dan mereka juga tidak berhasil menemukannya.

"Matt, ayo kita istirahat sebentar..." ujar America.

Tidak ada jawaban.

"Ada apa, Matt?" seru America sambil berlari ketempat saudaranya itu.

Canada sedang berdiri disebuah pintu geser yang letaknya cukup tersembunyi. Sambil menggenggam tangannya sendiri, ia berkata...

"Ada seseorang didalam sini..."

***

"SINGKIRKAN! SINGKIRKAN DARI GUE!!!!!!!!"

"Aku mencoba, Holland. Tapi, aku nggak bisa nyentuh hantu..."

"Ya iyalah! PAKE CARA LAIN GITU!!!!!!!!!!"

"Memangnya pake apa?"

"Kamera…kamera Nihon!" seru Netherlands, sementara sepotong tangan abruzan terus saja menggenggam bahunya. Bahkan, cengkramannya menguat!

"Ah, betul juga!" seru Indonesia, sambil mengeluarkan Kamera tua milik Japan.

Sinar Blitz kamera langsung menyinari bagian bahu Netherlands, sepotong tangan yang tadinya mengenggam bahu Netherlands langsung terjatuh ketanah. Menggeliat layaknya orang yang kesakitan, dan menghilang dengan sendirinya.

"Wow, aku baru tahu kamera ini bisa ngusir setan. Haha..." seru Netherlands sambil mengurut dadanya. Masih shock dengan kejadian barusan.

"Lho, kau baru tahu? Tadi kan lo yang bilang nyuruh make ini kamera."

"Gue panik, neng. Yang ada dipikiran gue cuma itu kamera." balas Netherlands, masih mengurut dadanya.

"Hmm..." Indonesia meneliti seluruh sisi kamera tersebut. Tidak ada yang berbeda dengan kamera ini. Sekilas memang terlihat seperti kamera tua biasa, dengan warna coklat tua dan lensa. Perbedaannya, disekitar lensa kamera tersebut dikelilingi sejenis tulisan kanji. Indonesia berasumsi, tulisan tersebut pastilah sejenis mantra atau sejenisnya.

Indonesia menyadari, ada tulisan kecil disudut kiri bawah kamera tersebut. Dengan jari mulusnya, Indonesia menelusuri ukiran-ukiran kecil yang membentuk tulisan tersebut.

"Hmm... Obsu... Obscura? Kamera Obscura?"

"Apa?" tanya Netherlands.

"Kamera Obscura. Nama kamera ini Kamera Obscura..."

***

America mencoba membuka pintu geser yang dimaksud Canada barusan. Awalnya, pintu ini cukup sulit untuk digeser. Mungkin karena sudah terlalu tua. America pun menambah kekuatannya dan berhasil membuka pintu tersebut.

Tidak ada yang istimewa disini. Disudut kanan ruangan, ada sebuah meja yang cukup besar dan kertas yang berserakan. America berasumsi, seseorang pastilah tinggal diruangan ini sebelumnya. Atau, hanya menetap.

Didekat meja, ada sebuah altar persembahan. Persis seperti yang ada dirumah Japan. Diseberang ruangan, (tepatnya sebelah disebelah kiri) ada sebuah jendela kecil dengan sebuah pot berisikan setangkai bunga yang sudah layu. Tak jauh dari sana juga ada sebuah pintu yang sudah rusak. Canada mencoba membuka pintu tersebut, tapi gagal. Pintu tersebut benar-benar sudah rusak parah.

America memandangi daerah disekitar meja besar tersebut. Sesuatu menangkap matanya, sebuah kamera usang?

"Ada apa, America?" tanya Canada.

"Disana, ada sesuatu..."

Sambil menyingkirkan tumpukan-tumpukan kertas yang ada disekitarnya, America berusaha mengambil kamera tua tersebut.

***

"Kamera Obscura..."

"Kamera yang membuat kita dapat melihat sesuatu yang seharusnya tak bisa kita lihat..."

"Bahaya...benda ini sangat berbahaya..."

***

"Kamera...Obscura...?"

"Ada apa, Al?" tanya Canada sambil menyentuh pundak saudaranya itu...

"Tidak...tidak ada apa-apa." Jawabnya, singkat.

tok...tok...tok...

suara ketukan barusan mengagetkan America dan Canada. Suara ketukan dipintu geser tadi (pintunya dari kayu) cukup kuat sehingga hampir menyerupai bunyi pukulan. Bukan ketukan.

"Kau yakin yang mengetuk pintu itu… seseorang?" tanya Canada sambil menggaet lengan saudaranya.

"Aku-aku tak tahu…"

Tok…tok…tok…

"Haruskah kita… buka pintu itu?"

"Ja-jangan. Ba-bagaimana kalau yang diluar itu...Hantu?"

Tok...tok...tok... Bunyi ketukan tersebut menguat...

"Apa yang harus kita lakukan, Al?"

"Le-lebih baik kita diam disini sebentar..."

"Ak...aku takut..." bisik Canada sambil menguatkan gaetannya.

Tok...tok...tok...

Pada akhirnya, bunyi ketukan tersebut mereda juga. Dengan sedikit keberanian, America berusaha membuka pintu geser tersebut dengan Canada mengikuti dibelakangnya.

"Kenapa?"

Tangan America terhenti, seketika wajahnya terpucat. Aura disekelilingnya berubah menjadi kengerian. Mungkinkah? Hantu?, pikirnya.

Benar saja! sesosok wanita dengan rambut panjang dan tubuh tembus pandang, sedang berdiri disampingnya. Canada yang juga melihat hantu tersebut langsung menarik America yang tiba-tiba jatuh terduduk. Terkejut. Tubuh mereka bergetar hebat melihat pemandangan dihadapan mereka sekarang.

"Kamera Obscura..."

Perkataan seorang pria yang ada dipikirannya barusan tiba-tiba terlintas, Kamera! Kamera itu...

Dengan sigap, America segera meraih Kamera tua yang terlepas dari genggamannya barusan. Mengarahkannya pada sosok hantu tersebut. Menghujamnya dengan sinar Blitz yang keluar dari kamera itu...

Layaknya orang yang kesakitan, hantu tersebut merintih sambil memegang wajahnya yang terkena sinar Blitz barusan. Terjatuh, dan menghilang dengan sendirinya.

America terdiam. Sambil menghadap kearah kamera tua yang ada ditangannya tersebut.

Inikah... Inikah kekuatan Kamera Obscura itu?

***

Akhirnya, Ujian Nasional selesai juga, kawan.

Soal Kamera Obscura (aslinya sih, Camera Obscura), antara punya Japan sama yang ditemuin America itu pada dasarnya sama. Karena Kamera Obscura sendir ada beberapa buah, dan tersebar diseluruh pelosok Jepang. Jadi, Kamera yang ada pada Indonesia itu kamera milik Japan, sedangkan yang ditemui America itu milik orang lain. :D

Oh ya, hantu yang dijumpai America dan Canada barusan bernama Miyako Sudo. Buat yang ga tau, ada yang mau saya tag gambar dia? :D –nawar-

Kalau soal hantu sepotong tangan sih, itu cuma karangan saya doang kok. Lagi pingin ngejahilin Netherlands sih.

Dan soal tanggal lahir, DUH! Itu bener-bener murni karena kelupaan! Saya lupa kalau bulan lahir North American itu July. (Dan ujung-ujungnya, saya malah ingat ultah Canada jadi tanggal 1 April) Mungkin, karena pikiran saya waktu itu masih dibayang-bayang tanggal berakhirnya Ujian Nasional. XDD

Oh ya, review minna-san. Kalau nggak, ini fic bakal saya discontinued. :D –ngancem mode: ON-