Holla, pembaca~ XD

Tebak sudah berapa lama fic ini hiatus? XD –PLAKK-

Ohohohoo... Ya udah deh! Langsung aja, final chap! Tidak ada OC di sini (setidaknya itulah menurut saya). Luchi disini adalah 'Dark Rukia' (karena saya tak mungkin memberi nama dia 'Dark' karena ini AU, jadi saya beri dia nama begitu). Jelas?

Oke, langsung aja! Here we go~ :D

~#~#~#~#~#~

+++ Chapter III : Open The Secret Box! +++

Disclaimer: BLEACH punya Kubo Tite!

Tapi fic ini punya keponakannya, namanya FuzzyStrange Musume31! Hehehe... –slapped (berkhayal deh~ =.=)

AN: OOC, AU, Gaje, Rukia's POV

Don't Like, Don't Read!

Happy Reading! ^o^

~#~#~#~#~#~

Tepat hari ke-duapuluh delapan setelah aku menjalani hukumanku...

Tepat hari ke-duapuluh delapan pula kejadian aneh beruntun menimpaku...

Aku lelah... Sudah lelah diikuti Kurosaki-senpai, egghh... Bukan. Maksudku, orang yang menyerupai Kurosaki-senpai.

Orang yang selalu mengikutiku dengan tatapan pembunuh...

Orang yang seolah-olah ingin menyeretku ke neraka...

Orang yang sengaja membuat jiwaku kalang kabut...

Orang yang sebenarnya Kurosaki-senpai ketahui...

Dia itu siapa sih?

Terhitung sejak kejadian di matsuri waktu itu. Aku terus mengamati tulisan di lembaran daun sakura dengan ukiran itu. Terus terang aku tidak tahu maksudnya.

Aku jadi memikirkan... Keinginanku sebenarnya itu apa?

Aku ingin hidup bahagia, tenang, tanpa ada yang mengganggu. Kemudian menghabiskan waktu dengan orang yang kusayangi. Itu saja.

Tapi rasanya susah sekali mewujudkannya. Kenapa? Hhh... Hidupku selalu susah gara-gara penguntit aneh berwajah mirip Kurosaki-senpai.

Aku berjalan di koridor sepi. Huh, aku benci di suruh kembali ke ruang musik! Aku merasa semua kegalauanku berakar dari ruang ini. Sepertinya tempat itu tabu sekali untukku. Tapi mau bagaimana lagi? Akhh... Dua hari lagi... Dua hari lagi... Dua hari lagi aku bebas dari hukuman, dan aku 'Tidak-Akan-Pernah' kembali ke tempat ini lagi!

Setelah kupastikan semua barang sudah beres, aku keluar ruang musik dengan lunglai.

Sekarang hari Jumat. Karena tidak punya kerjaan, aku menghabiskan soreku di kedai roti milik Bibi Mila Rose. Hmm, sore yang tenang... Aku merindukan suasana seperti ini.

Aku ingin keluar dari kehidupanku yang sibuk dan ruwet.

Aku merasa ada seseorang memandangku dari meja sebelah.

Kurosaki-senpai?

Bukan! Pasti itu orang lain! Aku lelah diikuti orang yang entah seenaknya sendiri menjiplak wajah Kurosaki-senpai yang kukagumi itu!

Eh, tidak! Orang ini tidak memandangku dengan tatapan pembunuh (yeahh... Itu sebutanku pada mata itu!), tatapan matanya sayu. Memandang sendu pada diriku ini...

Tidak. Ini Kurosaki-senpai yang asli!

"Kuchiki," Dia memanggil namaku.

"S- senpaii..?" Aku terbata-bata.

Tiba-tiba saja dia memegang tanganku. "Kita perlu bicara. Ini rahasia. Jangan katakan pada siapapun! Datang ke ruang musik besok sore sepulang sekolah seperti biasanya! Ada sesuatu yang harus kutunjukkan padamu... Ini penting..." Kurosaki-senpai berbicara sepelan mungkin, kemudian dia meninggalkanku.

"Tunggu!" Aku menahan tangannya.

"Tak bisakah kita bicara saat ini juga?" Aku memelas padanya.

"Tidak. Maaf. Ini penting. Besok aku akan menjawab apapun pertanyaanmu. Aku bisa saja memberitahumu sekarang, tapi... 'Dia' belum muncul..." Kurosaki-senpai berbisik pelan tapi aku jelas mendengarnya...

Dia siapa?

~#~#~#~#~#~

Aku tertegun.

Aku tidak bisa tidur nyenyak. Masih memikirkan kalimat terakhir dari ucapan Kurosaki-senpai. Eh, aku tiba-tiba menjadi tidak sabar menunggu besok Senin. Akan ada kejadian apa, ya? Siapakah 'dia' itu? Kenapa aku harus bertemu 'dia'? Apakah itu 'dia' yang biasa menatapku dengan tatapan pembunuh?

Aku terlalu lelah memikirkannya...

Perlahan-lahan aku menutup mataku... Oyasuminasai!

~#~#~#~#~#~

.

.

.

"Luchia? Luchia, kau berbohong padaku 'kan?"

"Kau...? Kenapa kau terus mengikutiku? Kau begitu menyedihkan! Pergilah! Aku punya kehidupan. Kau juga. Berhentilah mengejarku. Jangan melakukan hal yang tidak mungkin!"

"Luchia, tunggu aku! Aku mencintaimu! Luchia, tunggu!"

"Belum cukupkah aku menjelaskannya padamu! Aku tidak bisa mencin-..."

Brrmmm... CKIIITTTTTT! BRAKK!

"LUCHIAAAAA!"

.

.

.

"AKH!" Aku tersentak kaget. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Lagi-lagi aku mimpi aneh. Huuhh... Apa-apaan sih! Mengganggu tidur saja.

Aku menyandarkan kepalaku pada bantal.

Tadi itu mimpi apa 'sih? Kenapa kacau begitu? Atau jangan-jangan ini cuma perwujudan isi otakku yang sudah kacau saja?

Eh, di mimpi itu aku seperti melihat refleksi diriku. Hmm, bukan, bukan! Maksudku, wanita di mimpi itu, yang bernama... Err... Kalau aku tidak salah dengar namanya L... Luc.. Luchi... Luchia? Eh, ya kalau tidak salah namanya Luchia itu mirip denganku. Sedangkan laki-laki yang berbicara pada Luchia... Hnn, aku tidak tahu. Tapi aku sepertinya pernah bertemu dengannya. Kapan ya?

Semakin ku mencoba mengingatnya, kepalaku terasa semakin sakit. Uukkhh... Aku ini kenapa, sih?

Aku memutuskan untuk mencuci muka. Hmmph... Pagi yang indah. Tidak terlalu panas, sedikit berawan. Aku bersiap ke sekolah. Entah mengapa aku merasa sangat tidak bertenaga. Aku berjalan di persimpangan jalan dekat halte bus tanpa memperhatikan jalan.

BRAKK!

Aku menabrak seseorang.

"Hei! Kalau jalan pakai ma-... Kurosaki-senpai?"

Aku terkejut. Yang kutabrak ternyata Kurosaki-senpai (hnn, aku heran, kenapa Kurosaki-senpai tidak menggunakan seragam sekolah?). Ketika aku memanggilnya, ia tidak bergeming sedikitpun. Ini aneh. Ia hanya menatap kosong persimpangan jalan yang ada di hadapannya. Semenit kemudian ia baru berpaling menatapku dengan tatapan lemah. Kemudian meninggalkanku yang masih terbengong dengan sikapnya...

~#~#~#~Time Skip~#~#~#~

Teng... Teng...

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring.

Aku segera berlari ke ruang musik dengan terburu-buru tanpa peduli orang-orang yang kutabrak.

Akhirnya aku sampai. Aku membuka pintu dengan perlahan. Hari ini tidak ada jadwal latihan, jadi ruangan ini sunyi sekali. Aku menghela nafas. Kemudian duduk di kursi.

Iseng-iseng aku memainkan 'Ode to Joy' dan 'Canon in D minor' dengan piano. Tapi aku terhenti ketika ada seseorang masuk lewat jendela.

Eh, tunggu! Ini 'kan lantai tiga?

Dia Kurosaki-senpai. Hmm? Sepertinya bukan! Dia berkulit sangat pucat dan tidak memakai seragam. Dia memakai jaket bertudung yang menutupi rambutnya. Eh, jadi itu siapa?

"Ku- Kurosaki...-senpai?" aku menyapanya gugup.

Ia menunduk, kemudian menyeringai lebar.

Ia berjalan ke arahku. Aku mundur... Mundur... Hingga terpojok di sudut ruangan. Aku tidak tahu apa yang mendorong orang ini berbuat begitu padaku. Yang jelas aku terpojok. Aku ketakutan. Kakiku bergetar. Rasanya aku sudah tidak kuat berdiri lagi.

Akhirnya aku terduduk lemas.

Orang membuka tudung jaket yang menutupi rambut dan sebagian wajahnya, menunjukan rambutnya yang... putih?

Orang itu membisikkan sesuatu di telingaku "Kau berbohong padaku, hmm?". Aku dapat merasakan desiran kasar nafasnya di telingaku. Aku mencium bau karbol yang sangat wangi. Persis seperti parfum yang kucium sesaat sebelum aku pingsan waktu itu! Benar-benar membuatku merinding!

Ia menyentuh daguku kemudian mengangkatnya. Ia menyeringai makin lebar menunjukkan deretan gigi putihnya. "A- aku... a-" Mulutku tak sanggup bicara. Badanku bergetar hebat. Dia menyeringai lebar, "Aku tidak bisa membiarkanmu. Kau memaksaku mengingatnya..." Pelan-pelan dia menyentuh leher indahku, kemudian perlahan tapi pasti dia mulai mencekikku...

Draapp... Draappp... Draappp...

Terdengar suara langkah kaki seseorang dari luar sana. Ia memutar bola matanya, "Tch, ada pengganggu rupanya!" keluhnya.

Ia melepaskan tangannya dari leherku, kemudian ia berjalan santai ke dekat jendela.

"Aku tidak bisa. Maaf, aku tidak akan mengganggumu lagi... Sayonara, Luchi..."

Lelaki itu melompat dari jendela. Hei! Dia gila! Ini lantai tiga!

Aku terkejut setengah mati melihat aksinya yang gila dan sangat nekat itu. Aku memejamkan mataku. Sebentar lagi pasti terdengar suara debuman tubuhnya yang jatuh dari lantai tiga.

...

Hnn?

Mana? Kenapa tidak ada bunyi apapun?

Aku melongokkan kepalaku dari jendela.

Eh, lho? Di mana lelaki itu? Aku mencari-cari lelaki itu di setiap sudut pandanganku. Tapi hasilnya nihil.

BRAAAAKK!

Pintu ruang seni musik terbuka dengan kasar "AKHH!" jeritku kaget.

"Rukia, kau tidak apa-apa? Apa terjadi sesuatu padamu? Apa ada seseorang yang mendatangimu?" Kurosaki-senpai (yang membuka pintu dengan kasar) memberondongiku dengan banyak pertanyaan. Aku terhenyak...

Ini Kurosaki-senpai. Lalu yang tadi siapa?

Aku terkejut. Kurosaki-senpai berjalan ke arahku lalu menggenggam tanganku. Aku refleks menepisnya.

"Sudah kuduga, aku terlambat... Syukurlah, kau baik-baik saja, Kuchiki..." Kurosaki-senpai menghela nafas panjang. Aku mengernyitkan alis tanda tak mengerti.

"Maaf, senpai. Aku tidak tahu apa maksudmu..."

Kurosaki-senpai mengajakku duduk di kursi di sudut ruangan. Ia mulai membuka mulut.

"Apa kau... Pernah diikuti seseorang yang mirip denganku?"

Deegg!

Pertanyaan bagus, senpai! Aku segera mengangguk.

"Haahh... Benar kalau begitu. Rukia, aku minta maaf sebelumnya, 'dia' memang sangat mengganggu,"

"Hnn? 'Dia' itu siapa, senpai?" Aku mengerutkan dahi.

"Dia... Dia itu... Hichigo. Kakakku yang meninggal tiga tahun yang lalu..."

Aku terkejut. "... Meninggal... Ti- tiga tahun yang lalu...?"

Kurosaki-senpai mengangguk, "Kau tahu, aku memiliki kemampuan melihat arwah yang sudah meninggal. Dan aku tahu, kakakku sedang mencari... Luchia..."

Lu- Luchia?

~#~#~#~#~#~

Flashback

"Ichigo, Ichigo!" Hichigo, kelas satu SMA, berlari-lari ke kamar adiknya dengan girang sepulang sekolah.

"Hmm, ada apa, kak?" Adiknya hanya menjawab singkat.

"Tadi di Sekolah ada murid baru, namanya Luchia Kvcsiky. Anak bangsawa Russia yang cantik dan kaya raya. Dia juga ramah. Pokoknya sempurna!" Jelas Hichigo panjang lebar.

"Jadi kau menyukainya?" Tanya adiknya tepat sasaran. Muka Hichigo berubah menjadi merah seketika, kemudian ia tersenyum, "Ya... mungkin kau benar!"

Sudah dua tahun setelah Hichigo mengenal Luchia, Hichigo berniat menyampaikan perasaannya pada Luchia. Luchia memiliki perasaan yang sama dengan Hichigo. Akhirnya mereka resmi menjalin hubungan.

Suatu hari Luchia mengajak Hichigo bertemu di taman dekat persimpangan jalan. Ada hal penting yang harus ia sampaikan...

"Ayahku menjodohkanku dengan seorang anak bangsawan. Kami akan bertunangan bulan depan. Maaf, kita akhiri saja hubungan kita. Aku sudah tidak bisa menyayangimu... Maaf..."

Hichigo tertegun mendengar pernyataan Luchia.

"Kau... Aku tidak salah dengar, kan?" Hichigo tetap tidak percaya.

Luchia hanya menunduk. "Aku pergi! Maafkan aku!" Suara Luchia bergetar. Ia berbalik kemudian beranjak meninggalkan taman.

"Kau berbohong! Kau berkata begitu karena kau tidak ingin mengecewakan orang tuamu saja. Iya, kan? Luchia!" Hichigo berusaha menahan Luchia, tapi Luchia terus berjalan meninggalkan Hichigo. Hichigo terus mengejar Luchia, akhirnya ia berhasil menggapai tangan Luchia.

"Luchia? Luchia, kau berbohong padaku 'kan?"

"Kau...? Kenapa kau terus mengikutiku? Kau begitu menyedihkan! Pergilah! Aku punya kehidupan. Kau juga. Berhentilah mengejarku. Jangan melakukan hal yang tidak mungkin!" Luchia berbalik menunjukan matanya yang telah basah. Kemudian Luchia berlari meninggalkan Hichigo.

"Luchia, tunggu aku! Aku mencintaimu! Luchia, tunggu!"

"Belum cukupkah aku menjelaskannya padamu! Aku tidak bisa mencin-..."

Brrmmm... CKIIITTTTTT! BRAKK!

"LUCHIAAAAA!"

Sebuah truk menabrak Luchia. Luchia terpental ke sisi jalan dengan berlumuran darah. "Hi- Hichi..." Panggil Luchia lirih.

"Luchia... Bertahanlah!" Hichigo menggenggam tangan lemah Luchia.

"Maafkan aku... Aku menyayangimu..." Luchia menutup matanya.

"Sayonara, Luchi..."

Flashback End

~#~#~#~#~#~

Aku terpana mendengar penjelasan panjang lebar tentang masa lalu Hichigo dan Luchia.

"Setahun kemudian, kakakku ditemukan meninggal karena tabrak lari di tempat yang sama dengan tempat dan di tanggal yang sama dengan kematian Luchia. Ironis..." Senpai menghela nafas panjang.

Aku menahan kalimatku. Menerawang sejenak ke jendela. "Jadi begitu, ya..." Aku bergumam pelan. Tubuhku bergetar.

"Eh, iya," Aku teringat sesuatu. Aku membuka kantung tas sekolahku, kemudian mengeluarkan daun sakura dengan ukiran itu, "Senpai mengenal benda ini?".

Kurosaki-senpai tersenyum simpul. "Fuyuzakura... Haha..." Ia tertawa hambar. "... Tentu saja. Aku mengenal benda ini..."

Flashback

"Luchi..."

"Hei!"

"Sedang apa? Kenapa duduk sendirian... di ruang seni musik?"

Luchia tersenyum kecil, "Iya... Aku suka duduk di sini kalau sedang merenung. Tempat ini bagaikan memiliki kekuatan magis… bisa membuatku tenang... Entah mengapa, aku tidak menyukai dilahirkan di tengah keluarga kaya. Jika bisa memilih, aku ingin pergi menjadi orang –diriku yang lain. Aku... tertekan..." Sebutir air mata menggantung di sudut pelupuk mata Luchia.

Hichigo menatapnya lembut, "Tidak apa-apa. Luchi melakukan semua ini demi orang tua, bukan? Aku yakin, segala yang kita perbuat tidak ada yang sia-sia..."

Luchia tersenyum, "T-terima kasih! Aku jadi sedikit terhibur,". Hichigo mengusap-usap kepala gadis manis itu. Gadis itu menangkap sebuah pemandangan indah dari jendela tempatnya berdiri. "Itu... Fuyuzakura!" Luchia melonjak senang. Angin semilir meniup daun fuyuzakura hingga berterbangan dengan gemulai. Hichigo menangkap sebuah daun itu. Ia tampak mengukir tulisan-tulisan dengan huruf kanji di daun itu dengan pena.

Luchia menengok fuyuzakura di tangan Hichigo. "Kau menulis apa?" Luchia mengernyitkan dahinya.

Hichigo tersenyum menyeringai, "Sesuatu...".

Luchia hanya bisa memutar bola matanya lantas mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti.

"Haah..." Hichigo merenggangkan ototnya seusai mengukir daun itu. Luchia tampak tidak tertarik dengan kegiatan Hichigo. Hichigo menyeringai, "Ini. Untukmu.".

Luchia kebingungan. Ia meraih daun itu dari tangan Hichigo kemudian mengamati dan membaca tulisan yang terukir di atasnya:

'Ya.

Tempat itu bagaikan memiliki kekuatan magis…

Hanya yang berkemauan kuat yang mendapatkannya.

Kebenaran akan terbongkar dan semuanya akan keluar!

Di sana kamu dapatkan…

Apa yang kau inginkan…?'

Luchia mengerutkan dagunya. "Apa maksudnya?" Ia mengalihkan pandangannya ke arah Hichigo. "Di mana tempat 'ini'?" Ia bertanya sekali lagi.

Hichigo tersenyum, "Artinya... Ya~ seperti yang bisa kau baca. Itu semacam teka-teki. Kalau bisa menjawabnya, kau dapat hadiah!".

Luchia tampak berpikir sejenak. "Memangnya hadiahnya apa?" Ia melirik Hichigo.

Hichigo menunjukkan cengir lebarnya, "Apa saja boleh! Mau hadiah apa? Ciuman panas dariku, tiket sehari bersama Hichigo, atau-... Wakks!" Kalimat Hichigo terputus karena sebuah bogem mentah dari Luchia.

"Bodoh! Aku tidak suka hadiah seperti itu! Aku mau... Emm... Ah, aku minta kau memainkan lagu untukku!" Ia mengerling.

Hichigo manggut-manggut. "Boleh. Sekarang apa jawabanmu?" Hichigo menunjukkan cengirnya sekali lagi.

"Sebuah tempat bernama hati, dimana kemauan adalah sumber kekuatannya. Apakah jawabanku cukup?" Luchia mengerling.

Hichigo menghela nafasnya, "Tidak ada gunanya bermain tebak-tebakan dengan orang Rusia...".

Luchia mengerutkan dagunya, "Memangnya apa hubungannya?".

Hichigo tersenyum lebar, "Tidak ada. Hahaha... Lagu apa yang kau inginkan?".

Luchia memejamkan matanya sambil berpikir, kemudian ia membuka matanya, "'Sergei Rachmaninoff Piano Concerto No.2' (*) bagaimana?" Luchia tersenyum penuh kemenangan.

Hichigo menghela nafas panjang, "Rachmaninoff, ya... Selera orang Rusia memang susah ditebak." Jari-jari Hichigo lantas bermain dengan lincah di atas tuts piano.

Daun itu terbang mengikuti angin seiring lantunan piano dari ruang musik ini. Siapa yang tahu kalau suatu hari daun ini akan sampai ke tangan seorang Kuchiki Rukia...?

~#~#~#~#~#~

Aku terdiam.

"Lantas bagaimana dengan cello dan klarinetnya?" Aku menoleh lantas bertanya lagi.

Kurosaki-senpai hanya tertawa kecil. "Oh. Itu aku. Hahaha... Habis melihat wajahmu seperti itu aku jadi tidak tega. Kakakku benar-benar membuatmu seperti diteror. Anggap saja itu permintaan maafku!" Kurosaki-senpai mengibaskan tangannya santai.

Aku menggeleng pelan, "Mmm... Tidak juga!" Aku berusaha mengelak.

Kurosaki-senpai memutar bola matanya, "Bodoh. Kau tidak pandai berakting, ya! Aku tahu dari ekspresimu, lho!". Kurosaki-senpai beranjak dari tempat duduknya. "Aku juga pernah diikuti Luchia –karena alasan yang persis. Ah, mereka berdua benar-benar merepotkan!" Kurosaki-senpai mendengus kesal. Aku hanya mengangguk kecil.

"Hei! Mau ikut aku tidak?" Kurosaki-senpai menegurku.

Aku mengernyitkan dahiku, "Pergi ke mana?".

Kurosaki-senpai menyeringai, "Kau akan tahu."

~#~#~#~#~#~

Kelopak terakhir telah ditaburkan. Kami duduk di depan sepasang makam bernisan batu berwarna putih.

"Yo! Aku datang!" Kurosaki-senpai melambaikan tangannya santai.

Kami tidak berlama-lama di makam itu. Hanya beberapa menit saja. Cukup singkat, tapi begitu menyenangkan untukku. Terlebih aku diizinkan menaburkan bunga di atas makam itu.

Langit sore dan angin semilir juga menambah khidmat sore itu.

Kami berjalan pulang setelah beberapa saat.

"A-anou... Kurosaki senpai," Aku membuka suara memecah keheningan. "Apakah tidak apa-apa sekarang? Aku sudah tahu semuanya. Emm... Maksudku... Hichigo?".

Kurosaki-senpai tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Sepertinya mereka sudah puas. Biarlah mereka selamanya menjadi pasangan kekasih yang saling mengejar..." Kurosaki-senpai mengulurkan tangannya kepadaku.

Aku menyambut uluran tangannya, kemudian berjalan di bawah langit jingga yang hangat.

~#~#~#~#~#~

Dan jika suatu hari kalian menemukan seseorang sepertiku duduk bersama kekasihnya, jangan pernah usik mereka. Biarlah mereka bersatu-... walau dengan cara yang berbeda mungkin?

Dan selama musik masih mengalun dalam ruangan itu, tidak ada yang bisa memutuskan tali yang menghubungkan mereka. Karena mereka akan saling mengejar satu sama lain dengan cara mereka sendiri...

~#~#~#~ END? ~#~#~#~

*Rachmaninoff: Komponis kelahiran Rusia yang menggabungkan gemerlap karya Chopin dan Liszt dengan keagungan Rusia dalam komposisi lagu-lagunya yang kebanyakan beraliran romantik. 'Piano Concerto No.2' merupakan salah satu gubahannya. Karena dia kelahiran Rusia, makanya Hichigo bilang 'Selera orang Rusia' ^^ (thanks to 'Nodame Cantabile'-nya Tomoko Ninomiya. Manga-nya sugoi! ^^)

AN:

Author: Dipersilahkan bagi yang mau ngirimin saya timpukan bantal, saya terima dengan senang hati! T_T

Ao: KENAPA ENDINGNYA ABAL BANGET? Hah?

Author: Nah, lho! Itu dia! Maafkan saya pembaca! Mungkin yang kali ini abal (banget). Tapi paling tidak sudah saya panjangin. Hehehehe... (PLAK). Oh, ya! Di chap kemarin ada yang diberi angka tapi nggak saya kasih penjelasan ya? Itu lagi 'Yureru Soul Society'-nya Rock Musical Bleach. Lah, keren abis deh lagu itu! XD Hehehe...

Ao: Mengenai Luchia alias Dark Rukia... Yaa~ Namanya saya ambil dari sebuah fanart Rukia, tapi nama keluarganya agak saya rubah ^^'. Ohooho... Dan lagi Ichigo kini saya masukkan ke peran utama karena dia sudah punya peran besar ^^

Author: Yup! Yasud, segitu aja! Akhirnya fic ini complete juga ^^ terima kasih sudah membaca!

All: REVIEW PLEASE! ^o^

~#~#~#~ RnR? ~#~#~#~